31 Juli 2018
Skuadron helikopter Koopsau III akan ditempatkan di Jayapura (photo : Jeff Prananda)
KSAU Marsekal TNI Yuyu Sutisna menegaskan, dalam waktu dekat Lanud Jayapura akan banyak mengalami perubahan.
Penegasan itu disampaikan KSAU saat memberikan pengarahan kepada segenap warga Lanud Jayapura di gedung Serbaguna Lanud Jayapura, Rabu (25/7/2018).
Berdasarkan keputusan validasi organisasi TNI AU, status Lanud Jayapura dinaikkan dari tipe B menjadi tipe A.
Konsekuensinya, akan banyak perubahan mengiringinya. Mulai jabatan komandan dan jabatan lainnya, fasilitas dan sarana pendukung juga akan disesuaikan.
Menyikapi hal tersebut, Yuyu minta agar seluruh prajurit dan PNS Lanud Jayapura segera mempersiapkan diri.
“Saya harap seluruh prajurit dan PNS Lanud Jayapura segera merespon rencana peningkatan Lanud, sehingga pada saatnya semua sudah siap sesuai yang direncanakan,” kata KSAU.
Seiring peningkatan status, bila sesuai kajian, di Lanud Jayapura akan ditempatkan skadron helikopter. Selain itu juga akan dibangun shelter pesawat tempur.
(MyLesat)
30 Juli 2018
Resolution Urging Duterte to Increase Defense Spending to 2% GDP Pending at House
30 Juli 2018
M113 of the PA (photo : rhk111)
House Resolution 1379, a resolution urging President Rodrigo Duterte to allot a budget equivalent to 2% of the country’s gross domestic product (GDP) to effectively increase the country’s defense spending at par with ASEAN neighbors, is currently pending at the House of Representatives.
The resolution was proposed by Magdalo Part-list Representative Gary Alejano in October 2017.
“Mandato ng Sandatahang Lakas ang protektahan ang tao at ang estado. Tungo dito, inihain ng representanteng ito ang HR 1379 noong Oktubre 2017, na layuning itaas ang budget para sa defense spending ng bansa,” ALejano said.
“Kasalukuyan itong inaaral ng Committee on National Defense and Security ng House of Representatives,” he added.
“[D]espite the enactment of Republic Act No. 7898 in 1995 or the “AFP Modernization Act”, and the passage of Republic Act No. 10349 or the “Revised AFP Modernization Act” in 2012, the procurement of crucial defense materials were insignificant and, sadly, the Armed Forces of the Philippines still remains among the least capable militaries in the region,” says in the proposed resolution.
(Mintfo)
M113 of the PA (photo : rhk111)
The resolution was proposed by Magdalo Part-list Representative Gary Alejano in October 2017.
“Mandato ng Sandatahang Lakas ang protektahan ang tao at ang estado. Tungo dito, inihain ng representanteng ito ang HR 1379 noong Oktubre 2017, na layuning itaas ang budget para sa defense spending ng bansa,” ALejano said.
“Kasalukuyan itong inaaral ng Committee on National Defense and Security ng House of Representatives,” he added.
“[D]espite the enactment of Republic Act No. 7898 in 1995 or the “AFP Modernization Act”, and the passage of Republic Act No. 10349 or the “Revised AFP Modernization Act” in 2012, the procurement of crucial defense materials were insignificant and, sadly, the Armed Forces of the Philippines still remains among the least capable militaries in the region,” says in the proposed resolution.
(Mintfo)
TNI AU: Su-35 dan C-130J Dikirim ke Indonesia Tahun 2019
30 Juli 2018
Su-35 Flanker-E (photo : KNAAPO)
ANGKASAREVIEW.COM – Pesawat tempur Su-35 yang dibeli Pemerintah Indonesia dari Rusia dijadwalkan akan mulai dikirim ke Indonesia tahun depan (2019). Pembelian 11 Su-35 oleh Kementerian Pertahanan ini sebagai realisasi kelanjutan pembangunan kekuatan pokok minimum (MEF) TNI. Su-35 akan menggantikan peran F-5E/F Tiger II yang sudah purnatugas di Skadron Udara 14, Lanud Iswahjudi, Magetan.
“Su-35 akan datang akhir tahun 2019. Akan mulai berdatangan juga C-130J. Unitnya bertahap, tidak sekaligus,” ujar Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara Marsekal Pertama (Marsma) TNI Novyan Samyoga kepada media termasuk Angkasa Review di Yogyakarta, Minggu (29/7/2018).
Dikatakan lebih lanjut oleh Samyoga, tidak ada kendala dalam hal pembelian Su-35. Proses pembelian agak tertunda karena menyangkut kesepakatan jumlah pesawat. “Yang tadinya delapan pesawat, menjadi 11 pesawat. Dan untuk pesawat kita itu full combat semua, dengan persenjataannya” lanjutnya.
Sebelumnya, pada kesempatan yang sama di Yogyakarta, KSAU Marsekal TNI Yuyu Sutisna menjabarkan, pembangunan kekuatan Koopsau III mulai dilaksanakan. Saat ini pembangunan gedung untuk Markas Koopsau III dan perumahan prajurit di Biak mulai dilaksanakan.
Dalam rangka perkuatan Koopsau III, dua Pangkalan TNI AU (Lanud) di Papua juga sudah ditingkatkan dari Tipe B (dipimpin kolonel) menjadi Tipe A (dipimpin bintang satu). Yaitu Lanud Manuhua Biak dan Lanud Silas Papare Jayapura.
Tidak hanya itu, beberapa skadron baru akan dibangun TNI AU di Papua ini. “Ke depan secara bertahap kita rencanakan penempatan skadron tempur, skadron angkut, dan skadron helikopter di Papua,” ujar Yuyu.
(AngkasaReview)
Su-35 Flanker-E (photo : KNAAPO)
ANGKASAREVIEW.COM – Pesawat tempur Su-35 yang dibeli Pemerintah Indonesia dari Rusia dijadwalkan akan mulai dikirim ke Indonesia tahun depan (2019). Pembelian 11 Su-35 oleh Kementerian Pertahanan ini sebagai realisasi kelanjutan pembangunan kekuatan pokok minimum (MEF) TNI. Su-35 akan menggantikan peran F-5E/F Tiger II yang sudah purnatugas di Skadron Udara 14, Lanud Iswahjudi, Magetan.
“Su-35 akan datang akhir tahun 2019. Akan mulai berdatangan juga C-130J. Unitnya bertahap, tidak sekaligus,” ujar Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara Marsekal Pertama (Marsma) TNI Novyan Samyoga kepada media termasuk Angkasa Review di Yogyakarta, Minggu (29/7/2018).
Dikatakan lebih lanjut oleh Samyoga, tidak ada kendala dalam hal pembelian Su-35. Proses pembelian agak tertunda karena menyangkut kesepakatan jumlah pesawat. “Yang tadinya delapan pesawat, menjadi 11 pesawat. Dan untuk pesawat kita itu full combat semua, dengan persenjataannya” lanjutnya.
Sebelumnya, pada kesempatan yang sama di Yogyakarta, KSAU Marsekal TNI Yuyu Sutisna menjabarkan, pembangunan kekuatan Koopsau III mulai dilaksanakan. Saat ini pembangunan gedung untuk Markas Koopsau III dan perumahan prajurit di Biak mulai dilaksanakan.
Dalam rangka perkuatan Koopsau III, dua Pangkalan TNI AU (Lanud) di Papua juga sudah ditingkatkan dari Tipe B (dipimpin kolonel) menjadi Tipe A (dipimpin bintang satu). Yaitu Lanud Manuhua Biak dan Lanud Silas Papare Jayapura.
Tidak hanya itu, beberapa skadron baru akan dibangun TNI AU di Papua ini. “Ke depan secara bertahap kita rencanakan penempatan skadron tempur, skadron angkut, dan skadron helikopter di Papua,” ujar Yuyu.
(AngkasaReview)
Label:
ANGKATAN UDARA,
INDONESIA,
Pesawat Angkut,
Pesawat Tempur,
TNI-AU
China Donates Four Patrol Boats to PH Navy
30 Juli 2018
four patrol boats donated from China (photo : The rhk111)
The Chinese government has donated four patrol boats to the Philippine Navy as Manila seeks closer ties with Beijing despite a sea dispute.
“The Philippine Navy thru the AFP (Armed Forces of the Philippines) General Headquarters has accepted the donation from the PRC (People’s Republic of China) four patrol boats,” Navy spokesperson Cdr. Jonathan Zata said Sunday.
The donation came with 30 units of rocket propelled grenade launcher (40 mm) with corresponding ammunition.
Zata said they are assessing how the new boats can be integrated into the organization and supported in the long term in terms of logistics.
“We have assigned personnel to train on its operation and maintenance,” he said.
Other details of the patrol boats were not immediately available.
In late 2016, China has offered military assistance of $14 million worth of small arms and fast boats to the Philippines for free.
Photos of the blue patrol boats being transported along Roxas Boulevard in Manila circulated on social media last Friday.
China had also previously donated thousands of rifles and ammunition to the Philippine police and military as it battled Islamic State-linked terrorists in Marawi City.
President Rodrigo Duterte chose to seek warmer ties with China after a sour territorial dispute in the West Philippine Sea during the previous administration. He pursued an independent foreign policy and sought closer ties with China as it distanced itself from the US.
Despite the friendly relationship between the two countries, China continues to assert “indisputable sovereignty” over the South China Sea with its nine-dash line claim. It was invalidated by the Permanent Court of Arbitration in the Hague in 2016 but China has refused to acknowledge the ruling.
The Philippine government has also played down the ruling in exchange of economic investments and friendly ties with China.
(Inquirer)
“The Philippine Navy thru the AFP (Armed Forces of the Philippines) General Headquarters has accepted the donation from the PRC (People’s Republic of China) four patrol boats,” Navy spokesperson Cdr. Jonathan Zata said Sunday.
The donation came with 30 units of rocket propelled grenade launcher (40 mm) with corresponding ammunition.
Zata said they are assessing how the new boats can be integrated into the organization and supported in the long term in terms of logistics.
“We have assigned personnel to train on its operation and maintenance,” he said.
Other details of the patrol boats were not immediately available.
In late 2016, China has offered military assistance of $14 million worth of small arms and fast boats to the Philippines for free.
Photos of the blue patrol boats being transported along Roxas Boulevard in Manila circulated on social media last Friday.
China had also previously donated thousands of rifles and ammunition to the Philippine police and military as it battled Islamic State-linked terrorists in Marawi City.
President Rodrigo Duterte chose to seek warmer ties with China after a sour territorial dispute in the West Philippine Sea during the previous administration. He pursued an independent foreign policy and sought closer ties with China as it distanced itself from the US.
Despite the friendly relationship between the two countries, China continues to assert “indisputable sovereignty” over the South China Sea with its nine-dash line claim. It was invalidated by the Permanent Court of Arbitration in the Hague in 2016 but China has refused to acknowledge the ruling.
The Philippine government has also played down the ruling in exchange of economic investments and friendly ties with China.
(Inquirer)
Indonesia Reveals Details of Chinese Sensors Installed Onboard KCR-60M Vessels
30 Juli 2018
Parallel with the installation of Type 630 30 mm close-in weapon system (CIWS) turrets,vIndonesia has installed Chinese-made fire-control, search radars on two of its KCR-60M fast attack craft. Equipment provides vessels with a more potent defence against hostile aircraft and precision-guided munitions (photo : TNI AL)
In line with the installation of Type 630 30 mm close-in weapon system (CIWS) turrets, the Indonesian Navy (Tentara Nasional Indonesia – Angkatan Laut: TNI-AL) has also equipped two of its KCR-60M fast attack craft with Chinese-made sensors, consoles, and combat information systems.
Details of the systems, which were revealed on 22 July by a TNI-AL source at the service’s headquarters in Cilangkap, have been corroborated with Indonesian industry sources in Surabaya who are familiar with the matter.
Three KCR 60M class (photo : defence.pk)
Jane’s first reported in January 2018 that the TNI-AL had removed missile launchers and installed the Type 630 CIWS on its lead KCR-60M vessel, KRI Sampari (628), as part of wider plans to reconstitute the class. The CIWS turret is now situated at stern, where a rigid hull inflatable boat (RHIB) used to be positioned. Since then, sister vessel KRI Tombak (629) has been modified in a similar manner.
The Type 630 CIWS is a variant of the Russian-developed AK-630 that has been marketed by China Shipbuilding Trading Company (CSTC) as the “NG-18 30 mm six-barrelled naval gun”. The weapon can engage low-altitude aircraft at distances of up to 2,500 m, sea-skimming projectiles at up to 1,300 m, and can fire between 4,500 and 5,000 rds/min.
It has now been confirmed that the Type 630 CIWS set-up on both Sampari and Tombak include the Type 347G ‘Rice Bowl’ short-range fire-control radar and its associated fire-control console. This sensor has been installed in the aft section of the ships’ superstructure, and can track targets at up to 6 n miles away.
(Jane's)
Parallel with the installation of Type 630 30 mm close-in weapon system (CIWS) turrets,vIndonesia has installed Chinese-made fire-control, search radars on two of its KCR-60M fast attack craft. Equipment provides vessels with a more potent defence against hostile aircraft and precision-guided munitions (photo : TNI AL)
Details of the systems, which were revealed on 22 July by a TNI-AL source at the service’s headquarters in Cilangkap, have been corroborated with Indonesian industry sources in Surabaya who are familiar with the matter.
Three KCR 60M class (photo : defence.pk)
Jane’s first reported in January 2018 that the TNI-AL had removed missile launchers and installed the Type 630 CIWS on its lead KCR-60M vessel, KRI Sampari (628), as part of wider plans to reconstitute the class. The CIWS turret is now situated at stern, where a rigid hull inflatable boat (RHIB) used to be positioned. Since then, sister vessel KRI Tombak (629) has been modified in a similar manner.
The Type 630 CIWS is a variant of the Russian-developed AK-630 that has been marketed by China Shipbuilding Trading Company (CSTC) as the “NG-18 30 mm six-barrelled naval gun”. The weapon can engage low-altitude aircraft at distances of up to 2,500 m, sea-skimming projectiles at up to 1,300 m, and can fire between 4,500 and 5,000 rds/min.
It has now been confirmed that the Type 630 CIWS set-up on both Sampari and Tombak include the Type 347G ‘Rice Bowl’ short-range fire-control radar and its associated fire-control console. This sensor has been installed in the aft section of the ships’ superstructure, and can track targets at up to 6 n miles away.
(Jane's)
4 M-113 Amphibi Arisgator Perkuat Yonif Raider Khusus 732 Ternate
30 Juli 2018
Kapal TNI AD ADRI XLIX Kalaka (photo : IndoTimur)
Kapal ADRI XLIX Kalaka Bawa 4 Unit Kendaraan Tempur Ke Ternate
TERNATE, OT - Sebuah kapal pengangkut logistik dan peralatan tempur, ADRI XLIX Kalaka, Sabtu (28/7/2018) merapat pelabuhan ferry Bastiong Ternate.
Kedatangan kapal ADRI XLIX Kalaka ke Ternate, membawa 4 unit tank Arisgator A2 buatan Italia untuk Sat Batalyon Infanteri Raider Khusus 732/Banau.
Turut hadir dalam penjemputan kapal tersebut Danden Bekkang Ternate Letkol Cba Wahyu Nugroho, Dan Kal Adri Kalaka Kapten Cba Sawali, Para Personil Den Bekkang Ternate, para personil Denkesyah Ternate, perwakilan Yonif RK 733/Banau serta Danpos pelabuhan ferrry Bastiong.
Dandenpal letkol Cpl Adi Wibowo saat dikonfrimasi indotimur.com mengatakan senjata tempur ini memiliki keistimewaan dapat dioperasionalkan di darat maupun di laut, sehingga disebut Ranpur Amfibi dengan kecepatan 60 km/jam dan di laut hingga 6 knot (kecepatan) karena didukung oleh 2 buah propeler hidrosatik yang ditempatkan di belakang kendaraan.
Menurutnya, senjata tempur ini dapat dipasangi senapan mesin berat browning M2HB 12,7 mm dan pelontar granat AGL 40 mm MK19.
Senjata tersebut diproduksi oleh perusahaan ARIS asal Italia dan diperbaharui di Belgia. Ranpur Amfibi Arisgator M-113 ke-4 Ranpur tersebut akan disimpan di Kipan ‘A’ Yonif RK 732/Banau. (IndoTimur)
Empat M-113 Arisgator untuk Yonif Raider Khusus 732/Banau (photo : TNI AD)
Yonif RK 732 Banau Kini Diperkuat Dengan Kendaraan Tempur Amphibi Arisgator M-113
Ternate Lindo-Satuan Batalyon Infanteri Raider Khusus 732/Banau kini telah diperkuat dengan alutsista baru yaitu 4 Unit Kendaraan Tempur Amphibi Arisgator M-113 buatan Italia yang baru saja tiba hari ini yang diangkut dengan Kapal ADRI 49 dan berlabuh di Pelabuhan ASDP Bastiong Ternate.pada Sabtu 28/07/2018.
Menurut Dandenpal Ternate Letkol Cpl Adi Wibowo bahwa kedatangan 4 Unit Ranpur ini guna memperkuat satuan Yonif RK 732/Banau, dan ranpur ini memiliki keistimewaan tersendiri yang dapat dioperasionalkan di darat maupun dilaut oleh karenannya disebut Ranpur Amfibi yang dapat meraih kecepatan 60 Km/Jam sementara dilaut hingga 6 Knot.katanya.
Lanjutnya bahwa berkat adanya 2 buah propeler hidrosatik yang ditempatkan dibelakang kendaraan tersebut,dan pada persenjataan ranpur ini juga dapat dipasangi Senapan Mesin Berat Browning M2HB 12,7 mm sedangkan Pelontar Granat AGL 40 mm MK19.
Tambahnya bahwa kendaraan tersebut Diproduksi oleh perusahaan ARIS asal Italia dan diperbaharui di Belgia dan Ranpur Amfibi Arisgator M-113 telah siap memperkuat mobilitas Pasukan Raider Khusus 732/Banau.tagasnya.
Dan Untuk sementara ke-4 Ranpur tersebut akan disimpan di Kipan A Yonif RK 732/Banau dan nantinya kita akan ploting sesuai kebutuhan selepas acara peresmian. (Liputan Indonesia)
Kapal TNI AD ADRI XLIX Kalaka (photo : IndoTimur)
Kapal ADRI XLIX Kalaka Bawa 4 Unit Kendaraan Tempur Ke Ternate
TERNATE, OT - Sebuah kapal pengangkut logistik dan peralatan tempur, ADRI XLIX Kalaka, Sabtu (28/7/2018) merapat pelabuhan ferry Bastiong Ternate.
Kedatangan kapal ADRI XLIX Kalaka ke Ternate, membawa 4 unit tank Arisgator A2 buatan Italia untuk Sat Batalyon Infanteri Raider Khusus 732/Banau.
Turut hadir dalam penjemputan kapal tersebut Danden Bekkang Ternate Letkol Cba Wahyu Nugroho, Dan Kal Adri Kalaka Kapten Cba Sawali, Para Personil Den Bekkang Ternate, para personil Denkesyah Ternate, perwakilan Yonif RK 733/Banau serta Danpos pelabuhan ferrry Bastiong.
Dandenpal letkol Cpl Adi Wibowo saat dikonfrimasi indotimur.com mengatakan senjata tempur ini memiliki keistimewaan dapat dioperasionalkan di darat maupun di laut, sehingga disebut Ranpur Amfibi dengan kecepatan 60 km/jam dan di laut hingga 6 knot (kecepatan) karena didukung oleh 2 buah propeler hidrosatik yang ditempatkan di belakang kendaraan.
Menurutnya, senjata tempur ini dapat dipasangi senapan mesin berat browning M2HB 12,7 mm dan pelontar granat AGL 40 mm MK19.
Senjata tersebut diproduksi oleh perusahaan ARIS asal Italia dan diperbaharui di Belgia. Ranpur Amfibi Arisgator M-113 ke-4 Ranpur tersebut akan disimpan di Kipan ‘A’ Yonif RK 732/Banau. (IndoTimur)
Empat M-113 Arisgator untuk Yonif Raider Khusus 732/Banau (photo : TNI AD)
Yonif RK 732 Banau Kini Diperkuat Dengan Kendaraan Tempur Amphibi Arisgator M-113
Ternate Lindo-Satuan Batalyon Infanteri Raider Khusus 732/Banau kini telah diperkuat dengan alutsista baru yaitu 4 Unit Kendaraan Tempur Amphibi Arisgator M-113 buatan Italia yang baru saja tiba hari ini yang diangkut dengan Kapal ADRI 49 dan berlabuh di Pelabuhan ASDP Bastiong Ternate.pada Sabtu 28/07/2018.
Menurut Dandenpal Ternate Letkol Cpl Adi Wibowo bahwa kedatangan 4 Unit Ranpur ini guna memperkuat satuan Yonif RK 732/Banau, dan ranpur ini memiliki keistimewaan tersendiri yang dapat dioperasionalkan di darat maupun dilaut oleh karenannya disebut Ranpur Amfibi yang dapat meraih kecepatan 60 Km/Jam sementara dilaut hingga 6 Knot.katanya.
Lanjutnya bahwa berkat adanya 2 buah propeler hidrosatik yang ditempatkan dibelakang kendaraan tersebut,dan pada persenjataan ranpur ini juga dapat dipasangi Senapan Mesin Berat Browning M2HB 12,7 mm sedangkan Pelontar Granat AGL 40 mm MK19.
Tambahnya bahwa kendaraan tersebut Diproduksi oleh perusahaan ARIS asal Italia dan diperbaharui di Belgia dan Ranpur Amfibi Arisgator M-113 telah siap memperkuat mobilitas Pasukan Raider Khusus 732/Banau.tagasnya.
Dan Untuk sementara ke-4 Ranpur tersebut akan disimpan di Kipan A Yonif RK 732/Banau dan nantinya kita akan ploting sesuai kebutuhan selepas acara peresmian. (Liputan Indonesia)
Label:
ANGKATAN DARAT,
INDONESIA,
Kendaraan Tempur,
TNI-AD
28 Juli 2018
Menhan Tengok Pesanan Tank Boat di Banyuwangi
28 Juli 2018
Tank boat Antasena (all photos : detik)
Menhan Pesan Tank Boat Pertama di Dunia
Banyuwangi (beritajatim.com) - Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu secara khusus melihat progres pembuatan Tank Boat Antasena 214 di PT Lundin Industry Invest, Banyuwangi. Menurutnya, dirinya merasa bangga karena kapal pertama di dunia itu dibuat oleh anak negeri sendiri.
"Kita patut berbangga, dan bangsa ini bangga karena sudah mampu membuat kapal ini. Bahkan, dari negeri sendiri sudah banyak dipesan dari negara-negara lain," ungkapnya saat di Banyuwangi, Sabtu (28/7/2018).
Baginya, lanjut Ryamizard, buatan asli anak negeri mampu membuktikan produksinya layak dan setara dengan negara lain. "Banyak di Indonesia industri perkapalan itu ada 30 kayaknya, tapi yang dipakai untuk pertahanan mungkin ada 10 ya. Bayangkan, kalau dalam keadaan darurat dalam 1 hari kita dapat menciptakan 30 kapal perang?," terangnya.
Khusus untuk Antasena, kata Ryamizard, ini akan dipakai di sungai-sungai yang besar. Dan dirinya berpesan, untuk amunisi meriamnya tidak perlu besar, karena kalau besar itu tugasnya Angkatan Laut.
"Saya sudah tahu dari setahun lalu, ini digunakan di sungai-sungai. Seperti Kalimantan, Papua dan daerah lain yang memiliki sungai yang besar,"
"Pertama ini kita pesan satu dulu, dan harus bagus dulu. Coba kalau bagus nanti akan pesan lagi. Dan kalau bagus orang nanti pasti datang dan akan lihat dan pesan juga," terangnya.
Targetnya, tahun depan tank boat pertama di dunia ini akan beroperasi. "Kita pilih di sini karena pas lah. Produknya bagus, tempatnya juga pas. Dekat dengan laut. Kalau mau buat kapal besar langsung aja di sini," pungkasnya.
(Berita Jatim)
Tank boat Antasena (all photos : detik)
Menhan Pesan Tank Boat Pertama di Dunia
Banyuwangi (beritajatim.com) - Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu secara khusus melihat progres pembuatan Tank Boat Antasena 214 di PT Lundin Industry Invest, Banyuwangi. Menurutnya, dirinya merasa bangga karena kapal pertama di dunia itu dibuat oleh anak negeri sendiri.
"Kita patut berbangga, dan bangsa ini bangga karena sudah mampu membuat kapal ini. Bahkan, dari negeri sendiri sudah banyak dipesan dari negara-negara lain," ungkapnya saat di Banyuwangi, Sabtu (28/7/2018).
Baginya, lanjut Ryamizard, buatan asli anak negeri mampu membuktikan produksinya layak dan setara dengan negara lain. "Banyak di Indonesia industri perkapalan itu ada 30 kayaknya, tapi yang dipakai untuk pertahanan mungkin ada 10 ya. Bayangkan, kalau dalam keadaan darurat dalam 1 hari kita dapat menciptakan 30 kapal perang?," terangnya.
Khusus untuk Antasena, kata Ryamizard, ini akan dipakai di sungai-sungai yang besar. Dan dirinya berpesan, untuk amunisi meriamnya tidak perlu besar, karena kalau besar itu tugasnya Angkatan Laut.
"Saya sudah tahu dari setahun lalu, ini digunakan di sungai-sungai. Seperti Kalimantan, Papua dan daerah lain yang memiliki sungai yang besar,"
"Pertama ini kita pesan satu dulu, dan harus bagus dulu. Coba kalau bagus nanti akan pesan lagi. Dan kalau bagus orang nanti pasti datang dan akan lihat dan pesan juga," terangnya.
Targetnya, tahun depan tank boat pertama di dunia ini akan beroperasi. "Kita pilih di sini karena pas lah. Produknya bagus, tempatnya juga pas. Dekat dengan laut. Kalau mau buat kapal besar langsung aja di sini," pungkasnya.
(Berita Jatim)
Label:
ANGKATAN DARAT,
INDONESIA,
Industri Pertahanan,
Tank,
TNI-AD
Langganan:
Postingan (Atom)











