04 April 2021

Menristek: Pandemi Tak Menghalangi Pengembangan 4 Produk Super Prioritas Riset Nasional

04 April 2021

Drone Elang Hitam (photo : BPPT)

Liputan6.com, Jakarta - Menristek (Menteri Riset dan Teknologi) Bambang Brodjonegoro mengatakan pengembangan empat inovasi produk prioritas riset nasional 2020-2024 masih sesuai dengan rencana awal, meski Indonesia kini tengah dilanda pandemi.

"Kalau bicara perkembangan, sampai saat ini tidak terjadi perbedaan mendasar antara apa yang direncanakan dengan apa yang sudah atau sedang dilakukan," tuturnya dalam acara Bincang Editor yang diadakan Liputan6.com, Rabu (31/3/2021).

Adapun empat produk super prioritas yang dimaksud adalah pesawat amfibi N219, garam terintegrasi, katalis merah putih, dan drone tempur elang hitam. Bambang menjelaskan, empat produk super prioritas ini dikembangkan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia akan produk impor.

"Misalnya, mengenai pesawat N219. Pertama, kita punya versi biasa dan sekarang punya versi amfibinya. Kenapa? Karena kondisi negara kita itu kepulauan dan tidak semua daerah tidak punya bandara atau bahkan landasan yang memadai," tuturnya menjelaskan.

Oleh sebab itu, dibutuhkan solusi berupa pesawat yang bisa mendarat di landasan pendek atau bahkan di perairan jika wilayah tersebut memang tidak memiliki landasan. Pesawat dipilih sebab jika bergantung pada angkutan laut akan memakan waktu sangat lama untuk melakukan perpindahan.

"Maka muncul N219 amfibi, sehingga kita bisa tetap menjaga konektivitas tanpa harus membeli pesawat sejenis dari luar negeri," tuturnya melanjutkan. Dia pun mengatakan, N219 versi reguler sudah mendapat sertifikasi, sedangkan versi amfibi saat ini tengah dikembangkan.

Mengenai garam terintegrasi, Bambang mengatakan Indonesia saat ini memang masih mengimpor garam industri. Karenanya, sistem garam terintegrasi diharapkan dapat meningkatkan NaCL garam rakyat dari di bawah 90 persen hingga di atas 97 persen.

Hal ini dilakukan agar garam tersebut dapat diserap oleh industri dan mengurangi ketergantungan pada produk impor. Sementara untuk kebutuhan garam rumah tangga, dia memastikan Indonesia sebenarnya tidak memiliki masalah.

Saat ini, Bambang menuturkan, pemerintah sudah memiliki unit contoh pertama sistem garam terintegrasi di Gresik. Harapannya, unit tersebut dapat diperluas ke unit lain yang sejenis.

Konsorsium Pesawat N219 Amfibi (image : Lapan)

Katalis Merah Putih

Dalam kesempatan itu, Bambang turut menjelaskan mengenai Katalis Merah Putih yang juga masuk dalam daftar produk super prioritas ini. Bambang menjelaskan, Katalis Merah Putih diharapkan bisa mengurangi impor BBM yang selama ini masih dilakukan Indonesia.

"Dengan Katalis Merah Putih, impiannya kami bisa mengurangi impor BBM. Karena katalis ini bisa mengolah atau mengubah minyak inti sawit menjadi bahan bakar nabati menjadi bentuk diesel, bensin, dan avtur," ujar Bambang menjelaskan.

Lebih lanjut Bambang menuturkan, Katalis Merah Putih ini masih dalam tahap uji coba dalam skala besar di Pertamina. Kendati demikian, untuk Katalis Merah Putih ini, pemerintah masih menghadapi tantangan.

Alasannya, apabila harga minyak bumi sedang murah, harga bahan bakar nabati akan terasa lebih mahal dibandingkan bahan bakar minyak. "Ini hal yang masih harus kami perbaiki supaya keekonomiannya lebih baik," ujarnya melanjutkan.

Drone Elang Hitam

Terakhir, produk riset super prioritas yang juga sudah dikembangkan adalah drone tempur elang hitam. Bambang menuturkan, pengembangan drone dilakukan sebab arah pertahanan Indonesia kini lebih mengarah pesawat nirawak semacam ini, bahkan lebih dibandingkan jet fighter.

Namun memang drone semacam ini biasanya diimpor penuh, sehingga pemerintah melalui Kementerian Riset dan Teknologi tengah mencoba drone militer buatan sendiri. Adapun proyek pengembangan drone ini dipimpin oleh BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi).

"Rencananya, tahun ini first flight bisa dilakukan sekitar Agustus. Mudah-mudahan tahun depan atau paling lambat dua tahun lagi produksi massal, karena jika sudah first flight masih dibutuhkan sertifikasi dari Kementerian Pertahana sebelum bisa diproduksi massal," ujar Bambang menutup pernyataannya.

Penghantaran Pesawat Terakhir CN235-220M (M44-01) Bagi Projek Naik Taraf

04 April 2021

Penghantaran pesawat CN235 nomor M44-01 TUDM (photos : TUDM)

BANDUNG – Tentera Udara Diraja Malaysia telah menghantar pesawat ketiga dan juga yang terakhir bagi naik taraf pesawat Maritime Surveillance Aircraft (MSA) di bawah program Maritime Security Initiative (MSI) bagi pesawat CN235-220M. Pesawat tersebut yang berpangkalan di No 1 Skuadron, Pangkalan Udara Kuching telah menjangkau usia 20 tahun sejak mula beroperasi dari tahun 1999.

Pesawat yang diterbangkan dari Pangkalan Udara Subang pada 22 Mac 21 yang lalu oleh Mej Meor Ahmad Ali bin Dato’ Meor Abdul Wahab TUDM, dibantu oleh Kapt Mohamad Syahmi bin Dato’ Mohamad Ali TUDM selaku pembantu juruterbang serta Sjn U Faizol bin W Mohd Omar sebagai Kuatermaster Udara telah selamat mendarat di Lapangan Terbang Hussein Sastranegara, Bandung.

Proses induksi telah dilaksanakan oleh Pegawai Kejuruteraan No 1 Skn, Lt Arun Kumar Devan TUDM dan dibantu oleh Juruteknik No 1 Skn, Sjn U Rasman Anak Ato dan serah menyerah pesawat secara rasmi di antara pihak Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) telah berjaya dilaksanakan dengan jayanya sebelum pesawat ini diteruskan bagi program naik taraf Maritime Surveillance Aircraft (MSA).


Terdahulu pada 2 Sep 20, TUDM telah menghantar pesawat CN235-220M yang pertama dan pada 30 Sep 20, pesawat kedua di bawah program naik taraf yang sama telah berjaya dihantar ke Bandung. Ketibaan pesawat M44-01 di Bandung telah melengkapkan keseluruhan proses penghantaran pesawat khusus bagi menyokong usaha TUDM dalam melaksanakan Program Maritime Security Initiative (MSI) dan meningkatkan keupayaan negara dalam melindungi kepentingan strategik negara amnya.

TUDM juga telah menempatkan dua pegawai yang diketuai oleh Mejar Raja Ismail Fahmi bin Raja Ibrahim TUDM dan Mej Jaffar bin Mohamed Taib TUDM yang berperanan sebagai Field Technical Representative (FTR) sejak penghantaran pesawat pertama bagi menjayakan program naik taraf ini. Syabas dan sekalung penghargaan diucapkan kepada krew serta wakil TUDM yang terlibat.

03 April 2021

Lanud Iswahjudi Gelar Hot Pit Refueling

03 April 2021

Hot Pit Refueling pesawat TNI AU (photo : TNI AU)

TNI AU - Guna melatih kesiapsiagaan Satuan Pesawat Tempur dan Satuan Tugas Dukungan Operasi Lanud Iswahjudi dalam pelaksanaan operasi udara, Lanud Iswahjudi gelar Hot Pit Refueling di main apron Lanud Iswahjudi, Rabu (24/3/21)

 Hot Pit Refueling ini melatihkan kesiapan satgas dukops Lanud Iswahjudi dalam proses pengisian bahan bakar pesawat dengan kondisi mesin masih menyala sehingga pesawat dapat melanjutkan misi selanjutnya dengan segera.

Gelaran Hot Pit Refueling yang melibatkan 4 Pesawat T-50i dari Skadron Udara 15 dan 3 pesawat F-16 dari Skadron Udara 3 ini masih dalam rangkaian manuver lapangan dalam Latihan Elang Gesit Tahun 2021 yang digelar Lanud Iswahjudi dan melibatkan seluruh unsur satuan dan insub di Lanud Iswahjudi.

Tawaran Fregat Siluman 30FFM dari Jepang, Seperti Apa Kemampuannya?

02 April 2021

Fregat siluman FFM30 buatan Jepang (image : daisetsuzan)

Prabowo Beli 8 Frigat Siluman Mogami dari Jepang, Pengamat: Pesan Kuat buat China di Laut Natuna

Situs Janes melansir bahwa dalam pertemuan, Indonesia-Jepang membahas rencana pembelian fregat siluman kelas 30FFM.

Belum ada informasi lebih rinci terkait pembelian alutsista terbaru TNI AL tersebut.

Sebastien Roblin, dalam artikelnya "Japan’s New Mogami-Class Frigates Show What The U.S. Navy’s Littoral Combat Ships Could Have Been" di Forbes, mengungkap Jepang berkeinginan menjual delapan fregat siluman kelas 30FFM pada Indonesia dengan perincian 4 unit dibuat di Jepang dan 4 unit lagi dibuat di Indonesia.

Sebastien Roblin menyebut nilai kontrak penjualan delapan fregat siluman kelas 30FFM pada Indonesia mencapai 2.9 miliar dolar AS atau Rp 42.2 triliun.

Fregat 30FFM panjang 130m bobot standar 3.900 ton dan bobot penuh 5,500 ton (photo : Redditt)

Harga fregat siluman kelas 30FFM mencapai 467 juta dolar AS atau Rp 6.8 triliun.

Penamaan fregat siluman kelas Mogami karena JS Mogami adalah kapal pertama yang dipesan oleh JMSDF di kelas ini.

Namun yang peluncuran JS Mogami mundur karena ada masalah dengan mesin turbin gas hingga fregat siluman kelas Mogami yang pertama meluncur adalah JS Kumano FFM-2 pada 19 November 2020 di galangan Mitsui Engineering and Shipbuilding, Tamano.

Sedangkan peluncuran JS Mogami FFM-1 dilakukan 3 Maret 2021 di galangan Mitsubishi Heavy Industries Nagasaki.

Slot radar fregat siluman 30FFM (photo : NavalNews)

Frigat Mogami Class dilengkapi meriam Mark 45 kaliber 127 mm pada haluan, dua kanon CIWS, sebuah SeaRAM – RIM-116 Rolling Airframe Missile yang ditempatkan di atas hanggar.

Kemudian ada dua kanister, dimana dapat dibawa 8 unit rudal anti kapal Type 17, serta 16 peluncur rudal hanud dalam Mk-41 VLS (Vertical Launch System).

Untuk menghadapi peperangan bawah permukaan, frigat 30DX disiapkan untuk membawa torpedo ringan Type 12 kaliber 324 mm dan beragam perlengkapan untuk misi menebar ranjau.

Tidak lupa, frigat ini dibekali deck dan fasilias hanggar untuk helikopter anti kapal selam sekelas SH-60L.

Kemampuan siluman fregat 30FFM (photo : NavalNews)

Frigat Mogami Class punya panjang 130 meter dan lebar 16 meter.

Meski tergolong besar hingga kadang disebut heavy frigate/destroyer, Frigat Mogami Class hanya diawaki sekitar 90 karena kapal telah memiliki otomatisasi tingkat tinggi.

Sebagai sumber tenaga dipercayakan pada teknologi combined diesel and gas (CODAG), dimana komposisi dapur pacu terdiri dari satu unit mesin turbin gas Rolls-Royce MT30 dan dua unit mesin diesel MAN.

Dengan bobot penuh, frigat ini dapat melaju hingga kecepatan 30 knots.

See full article TribunNews

RTAF Decommissioning F-16A/B and L-39ZA/ART Aircraft

03 April 2021

Royal Thai Air Force (RTAF) was formal decommissioning ceremony for two Lockheed Martin F-16B Block 15 OCU serial 10321 of 103rd Squadron and F-16A Block 15 ADF serial 10207 of 102nd Squadron, Wing 1 Korat in 30 March 2021 (photo : RTAF)

Royal Thai Air Force has performed the decommissioning ceremony of fighter aircraft and training, Aero Vodochody L-39ZA/ART Albatros, Squadron 41, Wing 41, Chiang Mai, the last 5 aircraft on March 31, 2021.

RTAF decommissioning five L-39ZA/ART, the aircrafts will be replaced by Textron AT-6TH (photo : Jason007)

One day before in addition, there was a ceremony for the withrawal of fighter planes F-16B Block 15, No. 10321 Squadron 103 and Fighter Aircraft F-16A ADF No. 10207, Squadron 102 , which is likely to be the first set of the two batch to withdrawal.

According to the plan of the White Paper Book of the Royal Thai Air Force 2020 there is a need for new fighter jets, 12 substitutes for part 102 squadrons and 12 substitutes for part 103 squadrons, which should begin in a year 2023 if there is no postponement.

(AAG)

BAE Systems Australia Focuses on Hypersonics

03 April 2021

BAE Systems researcher focus on autonomous and hypersonic technologies (photo : BAE Systems)

BAE Systems Australia announced today that it will increase its investment in Australia to support the rapid development of a sovereign high speed weapons capability.

BAE Systems will also draw on the wide-ranging capabilities and expertise across Australian industry and academia to build an Australian high speed weapons eco-system with the aim of demonstrating a sovereign capability over the next four years.

The company’s “Project Javelin” builds on more than three decades of world leading research by BAE Systems in the design and development of Australian weapons, autonomous and hypersonic technologies including the Evolved Sea Sparrow Missile, Nulka and the Advanced Short Range Air to Air Missile (ASRAAM).

BAE Systems has invested more than $11 million in hypersonics and high speed weapon research in Australia in the past decade in collaborative programs with Defence, industry and academia.

Recognising the Australian Defence Force’s requirement for this disruptive technology based capability, the company will spend $5 million fast tracking technology development in 2021 with additional investments planned for the next four years.

“Project Javelin” complements the company’s existing industrial capabilities in advanced manufacturing and prototyping, battlespace management systems and flight vehicle platform technologies.

The development of a sovereign high speed weapons capabilities will create new opportunities for Australian industry and academia, through the investment of new and complementary design, development and manufacturing capabilities and could lead to potential defence exports.

BAE Systems has been assembling weapons in Australia for the ADF and for export to the US and Canada for more than two decades.

As well as hypersonics weapons technologies and capabilities, BAE Systems is also developing technologies to support the nation’s defence against high speed weapons.

Today’s announcement follows the Australian Government’s commitment to the development of long-range strike capabilities at the end of last year. The 2020 Force Structure Plan includes an investment of around $30 billion for both high speed strike and defence capabilities, including hypersonics development, test and evaluation.

(BAE Systems)

02 April 2021

Indonesia, Jepang di Ambang Rekor Kesepakatan Kapal Perang

02 April 2021

Fregat siluman 30FFM (photo : Hunini)

JAKARTA - Menteri Pertahanan Indonesia Prabowo Subianto sedang mempertimbangkan pembelian delapan fregat siluman multi-misi kelas Mogami sebagai bagian dari rencana untuk meningkatkan kemampuan patroli jarak jauh Angkatan Laut dan memperkuat hubungan strategis pertahanan negara dengan Jepang.

Jika pembelian selesai, itu akan mewakili kesepakatan senjata terbesar yang pernah ada antara kedua negara secara signifikan pada saat pemerintahan Biden berupaya membangun aliansi negara-negara yang berpikiran sama untuk menahan ambisi maritim China.

Prabowo dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi berada di Tokyo minggu lalu untuk pertemuan menteri dua-plus-dua pertama sejak 2015 ketika Indonesia diam-diam mencoba mengimbangi sikap China yang semakin agresif di bagian selatan Laut China Selatan.

Mengacu hanya pada transfer kapal pengawas perikanan, Prabowo dan Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi menandatangani kesepakatan tentang transfer peralatan dan teknologi militer, salah satu prasyarat yang ditegaskan Jakarta dalam sebagian besar kesepakatan pertahanan baru.

Fregat Iver Huitfeldt

Sumber pemerintah mengatakan rencana sementara meminta Jepang untuk mengirimkan empat dari kapal fregat 3.900 ton, dimulai pada akhir 2023 atau awal 2024, dan empat sisanya akan dibangun di galangan kapal milik pemerintah di Surabaya.

Indonesia sebelumnya telah mempertimbangkan untuk memesan enam fregat kelas Iver Huitfeldt Denmark berdasarkan kesepakatan transfer-of-technology yang awalnya bernilai $ 720 juta, tetapi sumber-sumber tersebut menunjukkan bahwa pemikiran geopolitik Prabowo berada di balik peralihan ke Jepang.

Motegi mengatakan kepada wartawan di akhir kunjungan bahwa Jakarta dan Tokyo mengkhawatirkan situasi di Laut China Selatan. "Kedua negara berbagi keprihatinan yang sama tentang upaya sepihak yang terus berlanjut dan diperkuat untuk mengubah status quo secara paksa," katanya.

Marsudi mengatakan Indo-Pasifik hanya bisa menjadi wilayah damai dan sejahtera "jika kerja sama terus diupayakan dan ketika setiap negara menghormati dan menerapkan hukum internasional," merujuk pada Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS) 1982 yang sering dilanggar China.

Tidak seperti banyak pendahulunya, Prabowo dalam kebijakannya berfokus pada Angkatan Laut dan Angakatan Udara untuk pengadaan militer baru dan lebih sedikit pada Angkatan Darat, yang sering dianggap sebagai matra senior karena peran bersejarahnya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Meskipun ia adalah pensiunan jenderal pasukan khusus, menteri berpendidikan Barat itu menolak untuk dipandu oleh apa yang dimiliki tetangga dalam inventaris mereka dan lebih banyak lagi tentang apa yang dibutuhkan Indonesia sebagai bagian dari rencana strategis keseluruhan yang memperhatikan potensi ancaman eksternal.

Pesawat tempur F-15EX (photo : National Interest)

Indonesia telah memberikan perhatian yang lebih besar pada perbatasan lautnya sejak tahun 2016 ketika sebuah kapal Penjaga Pantai Tiongkok menerobos jauh ke perairan Indonesia untuk merebut kembali kapal pukat yang telah ditahan oleh kapal patroli perikanan Indonesia yang bersenjata ringan.

Sejak saat itu Indonesia telah meningkatkan instalasi militer di pulau terbesar di Kepulauan Natuna dan mengirimkan lebih banyak kapal patroli ke Laut Natuna Utara di mana China mengklaim memiliki hak penangkapan ikan tradisional di dalam zona ekonomi eksklusi (ZEE) Indonesia.

Angkatan Laut dan Badan Keamanan Maritim (Bakamla) juga memiliki akses ke sistem pelacakan satelit, ditambah dengan jaringan informasi dan intelijen yang berkisar dari awak kapal penangkap ikan mereka sendiri hingga armada kecil pesawat pengintai maritim dan drone tak berawak yang baru diperoleh.

Tetapi sudah jelas bahwa Angkatan Laut membutuhkan kelas kapal perang yang lebih besar untuk bertindak sebagai pencegah terhadap armada Penjaga Pantai China yang bersenjata berat, terutama setelah pengesahan undang-undang baru Beijing yang memungkinkan kapalnya menembaki kapal yang masuk ke perairan yang diklaimnya sebagai miliknya sendiri.

Fregat siluman kelas Mogami pertama, dengan harga dibanderol US $ 450 juta, saat ini sedang dibangun oleh Mitsubishi Heavy Industries dan Mitsui Engineering and Shipbuilding untuk Pasukan Bela Diri Maritim Jepang di galangan kapal di Nagasaki dan Tamano.

Dilengkapi dengan rudal anti-kapal dan permukaan-ke-udara, torpedo Tipe 12 dan sonar tarik (towed array sonar) untuk mengendus kapal selam, Mogami memiliki jangkauan operasi 18.000 kilometer, lebih dari dua kali lipat dari armada kapal fregat dan korvet angkatan laut Indonesia yang ada.

Seberapa banyak Prabowo dapat memenuhi program modernisasinya akan bergantung pada kekuatan pemulihan ekonomi pasca-pandemi Indonesia antara sekarang dan 2024, ketika ia secara luas diharapkan untuk membuat upaya ketiga dan terakhirnya untuk menjadi presiden.

“Hanya ada sedikit diskusi dari mana uang itu berasal,” kata analis militer Australia Bob Lowry, yang telah menulis buku tentang angkatan bersenjata Indonesia. “Saya tidak berpikir Jokowi (Presiden Joko Widodo) akan memberinya lebih banyak dana yang dia butuhkan.”

Rafale dan Helikopter Blachawk

Indonesia juga hampir menandatangani kontrak untuk hingga 20 helikopter serbaguna Sikorsky Blackhawk UH-60 buatan AS. Sumber yang ditempatkan dengan baik mengatakan Prabowo juga akhirnya memilih pesawat tempur multi-peran baru Boeing F-15EX daripada Dassault Rafale buatan Prancis.

Prabowo awalnya berharap untuk memperoleh F-35 Joint Strike Fighter dari Lockheed tetapi dibujuk untuk menerima versi terbaru F-15, yang baru sekarang memasuki layanan di Angkatan Udara AS untuk mengisi celah yang ditinggalkan oleh program pengurangan F-22 Raptor.

Program F-35 senilai $ 1,7 triliun juga bermasalah, komite kongres baru-baru ini mempelajari pembengkakan biaya selama bertahun-tahun dan tantangan operasional yang serius seperti pilot merasa sulit untuk mempertahankan kecepatan supersonik dan juga untuk mempertahankan kendali saat terbang di lebih dari sudut 20 derajat.

Helikopter Blackhawk (photo : Lockheed Martin)

Mengemas mesin kembar yang lebih bertenaga, sistem dan sensor kokpit yang diperbarui, kemampuan fusi data, dan kemampuan untuk membawa persenjataan seberat 29.500 pon lebih dari 2.200 kilometer, F-15EX memiliki umur 20.000 jam yang terkenal dan akan menelan biaya setengah dari harga mengoperasikan F-35.

Ingin mempertahankan Indonesia sebagai pelanggan, direktur operasi keberlanjutan Lockheed Martin Mike Kelly mengatakan kepada portal berita Katadata minggu ini bahwa perusahaan bersedia "menawarkan apa pun" jika Angkatan Udara membeli F-16 Viper terbaru untuk ditambahkan ke tiga skuadron model F-16 sebelumnya yang sudah ada dalam inventarisnya.

Tetapi dengan pandangan yang kuat ke masa depan - dan menunggu pesawat generasi kelima F-22 dan F-35 keluar dari masalah - Prabowo tetap bersikeras pada pesawat generasi keempat canggih dengan avionik superior sebagai pejuang garis depan baru Indonesia.

Tiltrotor MV-22 Osprey

Prabowo diyakini telah menolak usulan pembelian Boeing MV-22 Osprey, pesawat lepas landas dan pendaratan vertikal yang didorong oleh Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Andika Perkasa, karena harganya yang $ 71,3 juta dan biaya perawatan yang tinggi.

Pejabat pertahanan Indonesia mungkin telah mengambil pelajaran dari pembelian delapan helikopter serang AH-64E Apache senilai $ 700 juta yang kontroversial, yang sama sulitnya untuk dipelihara dan jarang terlihat di depan umum sejak pengiriman pertama mereka pada tahun 2017.

Blackhawk senilai $ 21 juta dan mungkin juga pekerja keras CH-47D Chinook dengan rotor ganda selalu dilihat sebagai pembelian yang lebih baik untuk militer Indonesia mengingat kebutuhannya untuk memindahkan pasukan dan peralatan dan, mungkin yang lebih penting, menyediakan bantuan bencana.

P-8 Poseidon

Indonesia juga membutuhkan lebih banyak pesawat pengintai maritim, tetapi Boeing P-8 Poseidon senilai $ 275 juta yang canggih, 12 di antaranya dalam pelayanan di Royal Australian Air Force, tampaknya jauh di luar jangkauan Indonesia.

Analis Angkatan Laut mengatakan, menambahkan lebih banyak CN-235 buatan sendiri ke armada enam pesawat patroli saat ini, dengan jangkauan 1.000 mil laut dan kemampuan untuk berkeliaran untuk waktu yang lama, adalah cara yang hemat biaya untuk meningkatkan cakupannya di laut kepulauan Indonesia yang luas.

(AsiaTimes)