30 Mei 2021

Rafale Bidikan Prabowo & Kemampuan Lenders Belanja Pertahanan

30 Mei 2021

Pesawat tempur Dassault Rafale (photo : Economic Times)

Indonesia tidak akan mampu membiayai akuisisi 36 jet tempur Rafale buatan Dassault Aviation tahun ini apabila mengacu pada Penetapan Sumber Pembiayaan (PSP) yang dikeluarkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada, akhir April 2021. Dari Daftar Rencana Prioritas Pinjaman Luar Negeri (DRPPLN) senilai US$ 9,3 miliar (Rp 133 triliun).

Sri Mulyani hanya menyetujui 31 kegiatan yang akan mendapatkan fasilitas pendanaan, baik dari Lembaga Pembiayaan Kredit Ekspor (LPKE) maupun Kreditor Swasta Asing (KSA), senilai US$ 5,8 miliar (Rp 83 triliun) dari usulan 87 kegiatan. Program Interim Multirole Combat Aircraft dan dukungannya mendapatkan alokasi pembiayaan senilai US$ 1,1 miliar (Rp 15,75 triliun) dalam PSP, suatu nilai yang tidak akan cukup untuk 36 unit Rafale.

Isu pembiayaan Rafale adalah bagian dari ambisi Kementerian Pertahanan (Kemenhan) di bawah kepemimpinan Menteri Pertahanan Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto Djojohadikusumo untuk melakukan percepatan pembangunan kekuatan melalui pengadaan senjata, apalagi setelah mengusulkan Rancangan Peraturan Presiden tentang Rencana Strategis Pertahanan 2021-2045. Rancangan perpres itu ambisius karena meskipun merupakan pembangunan kekuatan pertahanan hingga 2045. Namun, namun terdapat pemikiran untuk mengkonsolidasikan akuisisi alutsista dalam satu tahapan rencana strategis (renstra) saja, yaitu 2020-2024. Pemikiran demikian beberapa waktu silam melahirkan kontroversi tentang biaya yang dibutuhkan, khususnya dalam bentuk Pinjaman Luar Negeri (PLN).

Berdasarkan Daftar Pinjaman Luar Negeri (DRPLN) 2020-2024 yang diterbitkan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, nilai kebutuhan pembelian senjata bagi Kemenhan sangat besar yang tidak dapat disebutkan di sini. Namun, terdapat proses penyaringan dari DRPLN menjadi DRPPLN, begitu pula DRPPLN menuju PSP. Semua itu tergantung pada kemampuan fiskal pemerintah dalam membiayai utang luar negeri, terlebih di masa pandemi Covid-19 saat ini di mana berbagai sektor memperebutkan sumber daya finansial yang terbatas.

Pengadaan major weapon system dari luar negeri sepenuhnya dibiayai oleh PLN. Sebab rupiah murni tidak akan sanggup membiayainya. Penentuan LPKE maupun KSA yang akan membiayai pembelian senjata diputuskan oleh Kementerian Keuangan berdasarkan berbagai pertimbangan teknis. Terkait kontroversi kebutuhan pembiayaan pengadaan alutsista dalam rancangan perpres tentang Rencana Strategis Pertahanan 2021-2045 maupun DRPLN, hal yang tidak banyak disorot adalah lenders yang menawarkan jasanya kepada Indonesia. 

Indonesia membutuhkan beberapa fregat baru berkemampuan ocean going (photo : DefenseNews)

Lenders Belanja Pertahanan

Terdapat dua hal yang patut dicermati tentang lenders yang diharapkan membiayai belanja alutsista oleh Kemenhan.

Pertama, profil lenders. Setidaknya terdapat enam lenders utama yang menawarkan jasa pembiayaan akusisi senjata kepada Indonesia hingga 2024. Saat ini lenders baik LPKE maupun KSA lebih beragam ditinjau dari aspek geografis karena hadirnya lenders asal Timur Tengah dan Asia Timur yang mematahkan dominasi lenders Eropa yang sebelumnya selalu membiayai pengadaan major weapon system. Lenders dari kedua kawasan itu menawarkan diri untuk membiayai pembelian complex weapon system bagi Indonesia dan bukan sistem senjata yang teknologinya tidak kompleks.

Dalam pengadaan senjata 20 tahun terakhir, tidak semua lenders asal Eropa memberikan pendanaan untuk akuisisi complex weapon system. Kehadiran lenders dari Timur Tengah dan Asia Timur terkait pula dengan kepentingan ekonomi dan politik dari kedua negara asal lenders untuk memperkuat pengaruh di Indonesia. Penting pula dicatat peran Kemenhan dalam menghadirkan lender asal Timur Tengah di mana lender tersebut siap mendanai pengadaan alutsista dari Eropa.

Kedua, kemampuan pembiayaan lenders. Setiap lender menawarkan besaran pembiayaan yang berbeda kepada Indonesia untuk pengadaan senjata. Apakah enam lenders utama mempunyai kemampuan membiayai DRPLN? Jawaban yang paling mungkin adalah mereka tidak memiliki kemampuan pembiayaan untuk DRPLN, namun masih mempunyai kemampuan untuk memenuhi DRPPLN yang mendapatkan PSP dari Kementerian Keuangan. Kebanyakan lenders hanya menawarkan jasa pembiayaan pada angka satu digit dalam denominasi miliar dolar dan hanya sedikit lender yang sanggup membiayai pada angka dua digit dalam denominasi yang sama.

Berdasarkan data yang tersedia, keenam lenders utama mampu menyiapkan pembiayaan belanja senjata bagi Kementerian Pertahanan secara total antara US$ 30 miliar hingga US$ 35 miliar. Namun nilai demikian baru potensi. Sebab, penentu akhir besaran PLN yang disetujui untuk pembiayaan pertahanan adalah Kemenkeu. Selain itu, di antara lenders yang menawarkan jasa pembiayaan tidak membatasi diri pada sektor pertahanan, tetapi pada sektor pertahanan dan keamanan. Sebagai contoh adalah UKEF yang tawaran pembiayaannya besar, namun berpotensi dipakai pula oleh instansi pada sektor keamanan.

Rancangan Perpres Alutsista

Terkait kontroversi usulan pembiayaan akuisisi senjata dalam rancangan perpres, realitas menunjukkan bahwa tidak ada lender atau gabungan lenders yang mampu membiayai kebutuhan pembelian senjata di atas US$ 35 miliar hingga tahun fiskal 2024. Apalagi untuk membiayai konsolidasi akuisisi alutsista dalam satu tahapan renstra saja, yaitu 2020-2024, yang menurut kalkulasi kasar berkisar antara US$ 200 miliar hingga US$ 300 miliar.

Meskipun hingga tahun anggaran 2024 Kementerian Pertahanan diharapkan masih akan menerima DRPPLN dan PSP, belum dapat dipastikan berapa pembiayaan lenders yang akan mendapatkan persetujuan dari Kemenkeu. Indonesia dapat tercatat sebagai operator Rafale apabila pada tahun fiskal 2022 program akuisisi pesawat tempur itu tercatat dalam DRPPLN dan mendapatkan PSP dari Sri Mulyani.

Prajurit Menart 2 Mar Pasmar 2 Laksanakan Latihan Operasi Pertahanan Pantai

30 Mei 2021

Resimen Artileri Korps Marinir terdiri dari 1 Batalyon Roket, 1 Batalyon Artileri Pertahanan Udara dan 1 Batalyon Howitzer (all photos : Korps Marinir)

Dispen Kormar (Lumajang). Prajurit Resimen Artileri 2 Marinir menyelenggarakan latihan secara besar-besaran. Kali ini adalah kembali melaksanakan Latihan Operasi Gabungan Pertahanan Pantai yang digelar selama seminggu dengan melibatkan unsur kesenjataan Artileri Korps Marinir TNI Angkatan Laut di laksanakan di Air Weapon Range (AWR) milik TNI Angkatan Udara Lumajang Jawa Timur. Sabtu (29/05/2021).


Latihan tersebut menjadi ajang pembuktian akan ketangguhan Korps Marinir TNI Angkatan Laut dalam menggelar operasi pertahanan pantai untuk menggagalkan operasi amfibi yang disimulasikan sebagai musuh. Personel dan material kesenjataan yang diawaki juga melaksanakan manuver lapangan antara lain melaksanakan gerakan artileri medan untuk Baterai Armed yang di dukung oleh meriam Howitzer 105 MM dan Roket MLRS Vampire, steeling lompat ganti sambil memberikan bantuan tembakan kepada kawan dan melaksanakan penghancuran, serta satuan Artileri pertahanan udara (Arhanud) selalu melaksanakan gerakan taktis dengan kendaraan tempur BVP2 untuk menjaga pertahanan dari serangan udara musuh.


Sementara itu, Danmenart 2 Mar Kolonel Marinir Aris Budiadi, S.Pi.,M.M., selaku pimpinan latihan (Pimlat) yang di Dampingi oleh Perwira Pelaksana Latihan (Palaklat) Letkol Marinir Daulat Situmorang mengatakan bahwa Operasi Pertahanan Pantai merupakan salah satu operasi yang sangat penting dalam penyelenggaraan pertahanan negara. Operasi ini adalah operasi tempur yang penyelenggaraannya dilaksanakan dalam bentuk operasi gabungan pada suatu komando tugas gabungan pertahanan pantai yang diorganisir secara integratif dari semua satuan yang tergabung dalam suatu komando gabungan yang dibentuk.


“Daerah operasi pertahanan pantai ditentukan berdasarkan oleh pertimbangan-pertimbangan, antara lain arah datangnya serangan amfibi musuh,” lanjutnya.

latihan manuver lapangan Operasi Pertahanan Pantai kali ini merupakan kelanjutan dari Latihan LSD II TW II Darat dan Laut Tahun 2021 pada hakikatnya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan prajurit Menart 2 Mar di bidang pertahanan pantai, dalam menyamakan pola pikir, pola sikap dan pola tindak serta menguji doktrin dalam pelaksanaan operasi pertahanan pantai.

Hanwha Leaps Ahead with Redback Lifecycle Support

30 Mei 2021

Hanwha joins forces with LEAP for Redback lifecycle support (photo : LEAP)

Melbourne : Hanwha Defense Australia and local engineering technology specialists LEAP Australia have joined forces on a ground breaking advancement that will enhance lifecycle support of the Redback Infantry Fighting Vehicle.

The Redback is under consideration by the Commonwealth under an ongoing tender process for Project Land 400 Phase 3 which is an $18 billion to $27 billion project tasked to acquire up to 450 Infantry Fighting Vehicles for the Australian Defence Force.

Large vehicle fleets are complex and difficult to maintain – especially when the fleet contains several sophisticated variants from the base vehicle – and is expected to be operational for many decades.

Data is one of the keys to effectively managing that complexity; data that outlines exactly the specification each vehicle was built to originally, and what maintenance, repairs or upgrades have been carried out since. Information on replacement parts and analysis of emerging wear patterns or component failures is also useful.

The benefits of easy access to the complete and accurate vehicle data is simple to understand but has proven difficult to achieve in a real-world situation to date.

A break through solution to this has been achieved for the Redback IFV through Hanwha’s selection of the industry-leading PTC Windchill product lifecycle management (PLM) software, supported by local technology company LEAP Australia. With support from LEAP, Hanwha has integrated the PTC Windchill PLM software to make significant progress towards the creation of a precise digital twin for each vehicle in the fleet, where the digital data-based version precisely matches the physical, operational asset.

“Having a digital twin that effectively mirrors every vehicle in a large complex fleet has been the ‘holy grail’ for engineers, maintainers and logisticians for quite a while,” said Mr Richard Cho, Managing Director of Hanwha Defense Australia, “and I am proud that our partnership between Hanwha and LEAP Australia has been able to make that break through.

“What the digital twin delivers in the real world is more efficient maintenance and support with less down time, and greater reliability and availability across the entire fleet. This saves money while increasing the battle readiness of military vehicles.”

“It has been a rewarding project to apply the Windchill PLM software using a combination of the efficient out-of-the-box functionality and the highly configurable role and task-based apps to help Hanwha create a single and unified digital picture for the IFV program,” said Mr Paul O’Shaughnessy, PTC Business Manager, LEAP Australia.
“The amount of useful information available to enhance fleet maintenance via the digital twin is invaluable to the defence industry. This PLM solution also simplifies configuration management and lays a solid foundation for any future vehicle upgrade programs.

With Hanwha’s PLM solution residing securely in the cloud, in the event that the Redback is selected for Land 400 Phase 3, the solution will provide constantly updated data for Redback fleet maintenance to all those who need it.

Hanwha and LEAP Australia are also exploring opportunities to apply innovative new technology to enhance delivery of armoured vehicle capabilities.

29 Mei 2021

DPR Akan Bahas Pendanaan Pengadaan Alutsista

29 Mei 2021

Defile alutsista saat HUT TNI ke-72 (photo : Bisnis)

TB Hasanuddin: Tidak ada kerugiaan negara terkait pengadaan alutsista baru

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Anggota Komisi I DPR RI dari Mayjen TNI (purn) TB Hasanuddin membantah pihak-pihak yang menuding ada kerugian negara dari rencana Kementerian Pertahanan mengalokasikan anggaran hingga Rp 1.760 triliun untuk melakukan modernisasi alat-alat utama persenjataan (Alutsista).

Sebab, menurut politisi senior PDI-P itu, hal tersebut baru rencana yang disampaikan Kemhan. "Itu kan baru konsep perencanaan awal, belum masuk pada tahap pembelian/pengadaan," kata Hasanuddin dalam keterangan resmi, Sabtu (29/5).

Menurutnya, rencana itu masih dikaji dan tentu disesuaikan dengan keuangan negara. Termasuk skema yang akan dilakukan seperti apa, masih dibahas di Kementerian Keuangan. "Kerugian negara bagaimana, anggarannya saja kan masih dihitung. Bahkan mendapat persetujuan pun belum," tegasnya.

Kendati demikian, Hasanuddin menegaskan, pihaknya mendukung penuh langkah-langkah modernisasi alutsista dalam rangka penguatan sistem pertahanan negara. Sebab, nyaris seluruh alutsista yang dimiliki Indonesia sudah tua, bahkan banyak yang merupakan hibah negara asing.

Ia mengatakan, modernisasi alutsista telah menjadi kebutuhan agar anggaran TNI tidak habis untuk pemeliharaan alutsista yang sudah tak layak pakai.

"Pada  prinsipnya saya setuju untuk memodernisasi alutista TNI yang hampir 70% sudah tua, tetapi memang anggaran yang dibutuhkan cukup besar. Namun karena masih dalam suasana pandemi dan sektor lainnya juga masih membutuhkan anggaran maka silakan Menteri Keuangan untuk mempertimbangkan anggarannya," jelasnya.

Sekadar diketahui, dalam meremajakan alutsista, Kementerian Pertahanan mengalokasikan anggaran hingga Rp 1.760 triliun. Namun rencana itu harus mendapat persetujuan Presiden, Menkeu dan DPR.

Hasanuddin berharap Menteri Keuangan menyetujui rencana pengadaan alutsista ini, meski tak sepenuhnya. Persetujuan Presiden dinilai akan sangat mengakselerasi modernisasi alutsista TNI secara signifikan dan memiliki effeck deterent cukup tinggi.

"Kami semua berharap dalam pengadaan nanti tetap memperhatikan  akuntabilitas dan sesuai  dengan kebutuhan user (pemakai) dalam hal ini TNI," tandasnya.

Penggunaan Pinjaman Luar Negeri

Sementara itu menyoal skema pinjaman luar negeri untuk mendukung rencana pengadaan ini, Pengamat Militer Khairul Fahmi berpendapat, hal itu sah-sah saja dilakukan untuk memperkuat pertahanan Indonesia.

Dia menjelaskan, dibandingkan dengan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tahun 2020 sebesar Rp 15.434,2 triliun, angka yang dialokasikan pemerintah untuk alutsista selama 25 tahun itu sejatinya berada pada kisaran 11,4%.

Rancangan Perpres usulan Menteri Pertahanan (image : Uncensored)

"Apalagi jika angka Rp 15.434,2 triliun itu dikalikan 25 tahun sebagai asumsi, maka persentase jumlah yang direncanakan tersebut dari PDB akan tampak makin kecil lagi. Hanya 0,7% setiap tahunnya," jelas Fahmi.

Artinya, kata dia, jika rancangan itu disetujui Presiden,  Indonesia harus mampu mengejar target belanja pertahanan sekitar 1.5 persen dari PDB per tahun. "Asumsinya, sebanyak 0,78% bersumber dari anggaran regular dan sekitar 0,7% bersumber dari pinjaman luar negeri," sambung Co-Founder Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) .

Fahmi berharap, dilema dalam sistem pertahanan Indonesia bisa terjawab dan pembangunan kesejahteraan juga terus berjalan. (Kontan)

Sumber Pembiayaan Pinjaman Luar Negeri

Kementerian Pertahanan membenarkan bahwa rencana pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI akan menggunakan utang luar negeri.

Skema pinjaman yang dibahas dalam Rancangan Peraturan Presiden yang Terkait Kebutuhan Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan (Alpalhankam) tahun 2020-2024 yang ditaksir sekitar US $ 124.995.000.000 atau setara Rp1,7 kuadriliun.

Direktur Jenderal Strategi Pertahanan Kemhan Mayjen TNI Rodon Pedrason menjelaskan skema skema utang itu memang ada, namun pihaknya memastikan pinjaman tersebut tak akan membebani keuangan negara.

Memang ada, tapi dipastikan tidak akan membebani keuangan negara, sebab akan dicicil sesuai dengan alokasi anggaran pertahun, “kata Rodon saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, Sabtu (29/5).

Tak hanya itu dia juga memastikan utang tersebut rencananya dari negara yang bisa memberikan pinjaman dengan jangka waktu di atas 20 tahun serta bunga.

“Negara-negara yang memberikan pinjaman dengan tenor sampai dengan 28 tahun dan bunga yang kurang dari 1 persen,” kata dia. (Dkabari)

Target Sulit Tercapai pada 2024, DPR Minta MEF Alutsista Dibahas Kembali

JAKARTA, KOMPAS — Sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat  mendorong agar target minimum essential force yang merupakan basis kebijakan modernisasi alat utama sistem persenjataan atau alutsista ditinjau ulang. Usulan mengakselerasi capaian dengan meningkatkan anggaran pertahanan dari semula di bawah 1 persen menjadi 1,5 persen dari produk domestik bruto dinilai sulit direalisasikan dengan kondisi ekonomi saat ini.

Berdasar data Kementerian Pertahanan, pada Oktober 2020 TNI AD memiliki 77 persen kekuatan pokok minimal (minimum essential force/MEF), TNI AL 67,57 persen, dan TNI AU 45,19 persen. Dengan demikian, jika ingin pemenuhan MEF tetap sesuai rencana, yaitu terpenuhi 100 persen pada 2024, Kementerian Pertahanan harus bisa mencapai pembangunan pemenuhan alutsista 36,81 persen dalam lima tahun (Kompas, 8/10/2020). (Kompas)

Pekan Depan, DPR Bahas Anggaran Rp 1.760 Triliun untuk Alutsista

TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin mengatakan anggaran Rp 1.760 triliun untuk pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang dibuat Kementerian Pertahanan, masih sebatas rencana. Meski begitu, ia mengakui rencana itu memang ada.

"Mungkin minggu depan akan didiskusikan saat membahas Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKAK/L)," ujar TB Hasanuddin saat dihubungi Tempo, Sabtu, 29 Mei 2021. (Tempo)

Rheinmetall Chooses Cook Defence Systems Tracks for LYNX IFVs on Trial in Australia

29 Mei 2021

Cook Defence Systems has been selected to provide tracks for Rheinmetall’s LYNX KF41 Infantry Fighting Vehicles for the Australian Army as part of Rheinmetall’s bid for LAND 400 Phase 3 (photo : Cook)

The LYNX is currently undergoing Risk Mitigation Activity trials in Australia after being shortlisted for the $18.1 – $27.1 billion LAND 400 Phase 3 project to acquire tracked IFVs. 

The LYNX is a next-generation networked and highly protected tracked vehicle which meets the Army’s stringent military requirements for close combat – to defeat an enemy in the most dangerous and lethal environments.

Rheinmetall selected the Cook Defence Systems TR40 track for its lightweight, durability and reliability. Similar TR40 tracks are in-service on the British Army’s next-generation AJAX vehicles being built by General Dynamics UK.


Cook Defence Systems is already supplying Rheinmetall with tracks for LYNX vehicles under construction for other customers.  

Mr William Cook, Director of Cook Defence Systems, said, “We are delighted to be working with Rheinmetall Defence Australia as part of its bid for the LAND 400 Phase 3 project. 

“Our proposed TR40 track will have a strong contribution from Australian industry thanks to our long-standing partnership with Mackay Rubber in Victoria.”

Mackay is already a major supplier to Cook Defence Systems for other programmes outside Australia. Mackay’s track pads are made from an advanced rubber formulation and are proven to provide world-leading durability in the most demanding environments. 


“The partnership between Cook Defence Systems and Mackay Rubber is an excellent example of how Rheinmetall is working with its partners in Australia to deliver best of class technology with enduring sovereign capability benefits,” said Rheinmetall Defence Australia Managing Director Gary Stewart.

The LYNX will be displayed with the Cook Defence Systems track fitted at the Land Forces international defence exhibition on June 1-3, a showcase for equipment, technology and services for the armies of Australia and the Indo-Asia-Pacific.

Rheinmetall is already supplying 211 8x8 BOXER Combat Reconnaissance Vehicles to the Army under LAND 400 Phase 2 and is building industrial capability in Australia.

Seoul, Manila Continue Talks on Meeting Philippine Navy's Future Submarine Requirements

29 Mei 2021

DSME offers DSME 1400PN for Philippines (photo : safety4sea)

South Korea and the Philippines have continued co-operation talks aimed at meeting the Philippine Navy's (PN's) future submarine requirements.

South Korea's Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME) announced on 27 May that the Assistant Secretary for Logistics and Acquisition at the Philippines' Department of National Defense (DND), Jesus Rey R Avilla, visited the Republic of Korea Navy's (RoKN's) Submarine Force Command on 12 May to discuss “various areas of co-operation” to enhance the PN's future submarine capabilities.

Among the issues discussed were the transfer of RoKN know-how on operating submarines, the resumption of the RoKN-hosted International Submarine Education and Training Program (ISETP) – which has been put on hold because of the Covid-19 pandemic – and regular navy-to-navy talks on submarines.

Avilla also visited the RoKN's submarine workshops and training sites, as well as DSME facilities. Moreover, he held meetings with representatives of South Korea's Defense Acquisition Program Administration (DAPA) and Export-Import Bank of Korea (KEXIM) to discuss the level of support by the South Korean government and a soft loan.

The shipbuilder told Janes that it has been offering Manila a “total solution package” since 2011 that includes DSME 1400PN diesel-electric submarines – an upgraded and modified version of the Nagapasa (DSME 1400)-class boats currently in service with the Indonesian Navy – along with crew training and a soft-loan to meet the PN's submarine acquisition project.

The latest development comes after Philippine Undersecretary for Finance and Material Raymundo DV Elefante and PN chief Vice Admiral Giovanni Carlo Barcodo visited DSME and the RoKN's Submarine Force Command in November 2020 to discuss the ‘total solution package'.

Jalani Pengujian, Drone Kombatan Elang Hitam Mengangkasa Agustus 2021

29 Mei 2021

Elang Hitam UCAV (all photos : BPPT)

JawaPos.com – Sistem pertahanan Indonesia karya dalam negeri bakal semakin beragam. Di antaranya adalah pesawat nirawak atau drone Elang Hitam inovasi dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Kepala BPPT Hammam Riza menargetkan drone Elang Hitam bisa uji terbang Agustus depan.

Sesuai dengan sifatnya yaitu sebagai drone kombatan, Hammam mengatakan Elang Hitam akan dilengkapi dengan senjata. “Tahun ini BPPT meluncurkan drone Elang Hitam. Sebagai wujud kemajuan teknologi pertahanan dan keamanan,” katanya dalam Media Gathering sekaligus halalbihalal di kantor BPPT Jakarta, Kamis (20/5).

Dia tidak ketinggalan mengharap doa dari seluruh masyarakat Indonesia. Supaya target penerbangan drone kombatan Elang Hitam tersebut sesuai jadwal dan berjalan lancar. Hammam menjelaskan Agustus nanti, drone Elang Hitam akan melakoni dua tes sekaligus. Yaitu ground test dan flight test.


Dia menjelaskan penerbangan drone Elang Hitam nantinya dalam suasana peringatan HUT Indonesia. Sekaligus merayakan ulang tahun BPPT yang ke-43.

Deputi Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa (TIRBR) BPPT Wahyu Widodo Pandoe mengatakan setelah melakoni serangkaian tes, drone Elang Hitam tahun depan diharapkan lolos sertifikasi sistem intelejensi. Kemudian pada 2024 siap untuk diproduksi masal.

Drone Elang Hitam digarap keroyokan. Selain BPPT juga ada keterlibatan dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) serta PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Selain itu juga ada keterlibatan TNI AU, ITB, PT Len Industri, dan lainnya.


Sebelumnya kabar soal proyek drone Elang Hitam sempat mencuat Desember 2019 lalu. Melalui kegiatan roll-out di hanggar PT DI untuk pertama kalinya drone Elang Hitam diperkenalkan ke masyarakat. Penampakan drone tersebut terlihat bongsor. Sebab panjangnya mencapai 8,3 meter dengan bentang sayap 16 meteran.

Saat itu Hammam menuturkan drone tersebut merupakan salah satu inovasi dalam negeri di bidang pertahanan. Drone itu diyakini mampu terbang tanpa henti atau nonstop selama 24 jam. Kemudian juga dilengkapi dengan pengendalian multiple unmanned aerial vehicle (UAV) secara bersamaan. ’’Pesawat tanpa awak MALE ini hasil rancang bangun, rekayasa, dan produksi anak bangsa,’’ tegas Hammam.

Hammam menceritakan proyek PUNA tipe MALE (medium altitude long endurance) atau drone Elang Hitam dimulai sejak 2015 lalu oleh Balitbang Kementerian Pertahanan (Kemenhan). Kemudian dilanjutkan dengan pembuatan engineering document pada 2017 oleh Balitbang Kemenhan bersama BPPT. Pada saat itu juga dibentuk Konsorsium Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) MALE.