02 Juni 2021

Australia Considers German Submarine Option as Tensions with French Company Grow

02 Juni 2021

TKMS Type 214 submarine (photo : Arnekiel)

The Navy has begun quietly examining whether German-made submarines could provide an interim capability for Australia before a future $90 billion French-designed fleet is due to enter service in over a decade.

The Defence Department is also considering several other drastic options, including faster upgrades to Australia's existing Collins Class fleet, which would mean lucrative submarine maintenance work would likely remain in Adelaide.

Department sources said Navy's Director-General of Submarines, Commodore Timothy Brown, recently began a preliminary study of Type 214 submarines manufactured by German company TKMS, although Defence is refusing to confirm or deny the activity.

The Type 214 is a diesel-electric submarine operated by several navies, including South Korea, Portugal and Greece, but does not meet Australia's full requirements for a future fleet to eventually replace the ageing Collins Class submarines.

One Defence figure, who spoke to the ABC on the condition of anonymity, said Commodore Brown's scoping study was being conducted solely by the Navy and separate from the department's Capability and Sustainment Group (CASG), which oversees Australia's military acquisitions.

It is understood Commodore Brown is exploring if it would be possible for the Navy to modify a Type 214 submarine for Australian purposes, well ahead of when the future French submarines are expected to be delivered.

A spokesman for the Defence Department refused to say whether Commodore Brown had been tasked with exploring possible German submarine options for the Australian Navy.

See full article ABC

Jepang Jajaki Ide Tawarkan Kapal Selam ke Indonesia

02 Juni 2021

Kapal selam kelas Soryu mempunyai baterai jenis Lithium-ion dan dilengkapi AIP, mempunyai kecepatan 20 knot ketika menyelam (photo : The War Zone)

Indonesia ingin melipatgandakan armada kapal selam setelah penerobosan kapal China

JAKARTA - Indonesia bertujuan untuk memperluas armada kapal selamnya sebanyak tiga kali lipat dari jumlah saat ini menjadi 12 kapal, berbagai sumber pertahanan di sini mengatakan, hanya sebulan setelah salah satu kapal selamnya dipastikan hilang, menewaskan 53 awaknya.

Langkah itu dilakukan sebagai tanggapan atas penerobosan secara berulang-ulang kapal China ke perairannya. Jakarta juga akan menambah armada korvetnya.

Negara itu telah mengerahkan lima kapal selam, tetapi kehilangan satu, KRI Nanggala-402. Indonesia menempati urutan ketiga di dunia dengan luas perairan yang termasuk dalam zona ekonomi eksklusif, namun ukuran armada kapal selamnya sangat kecil jika dibandingkan dengan negara seperti Jepang yang menempati urutan keenam dan memiliki 20 kapal selam.

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto telah mengindikasikan bahwa negara akan meningkatkan investasi dalam peralatan militer setelah terjadinya musibah kapal selam. Untuk kapal selam, Indonesia sedang mengejar perjanjian produksi bersama dengan Korea Selatan, sementara Prancis, Rusia dan Turki telah menawarkan untuk mengekspor kapal selamnya. Jepang sedang menjajaki ide menjual kapal selam ke Jakarta.

KRI Nanggala-402 tiba-tiba menghilang pada 21 April saat mempersiapkan latihan torpedo di Bali. Kapal tersebut dibuat pada tahun 1977 di Jerman dan diakuisisi oleh Indonesia pada tahun 1981. Militer negara mengatakan kapal selam tersebut kemungkinan besar terkena gelombang bawah laut besar yang membuatnya lepas kendali.

Soryu class memiliki panjang 84m dengan bobot 2.900 ton di permukaan dan 4.200 ton ketika menyelam, dilengkapi 6 peluncur torpedo 533mm dan disebut mampu membawa 30 torpedo (image : Secret Projects)

Insiden itu memicu rasa urgensi di negara itu tentang keadaan armada kapal selamnya. 'Sembilan garis putus' China memotong sebagian ZEE Indonesia di sekitar Kepulauan Natuna. Kapal penangkap ikan China beroperasi di sana, dan Beijing juga telah mengerahkan kapal penjaga pantainya, yang pada Februari diberi wewenang untuk menggunakan senjata. Jakarta bersiap untuk kemungkinan peningkatan aktivitas di daerah tersebut.

Jika jumlah kapal selam dapat ditingkatkan ke tingkat target, mereka dapat melakukan pengawasan intensif di daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh kapal patroli, kata Khairul Fahmi dari Institute for Security and Strategic Studies, sebuah think tank Indonesia, mengindikasikan ini akan mengurangi keberadaan kapal asing di sekitar Natuna.

Indonesia telah bekerja sama dengan Korea Selatan dalam pembuatan kapal selam dalam beberapa tahun terakhir dan sedang mengupayakan kerjasama teknis dengan Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering. Dari empat kapal selam yang saat ini beroperasi, dua dibuat di Korea Selatan dan satu diproduksi di dalam negeri menggunakan teknologi dari Korea Selatan. Kapal selam naas yang tenggelam sepenuhnya diperbarui di Korea Selatan pada tahun 2012.

Ketika mengimpor perlengkapan pertahanan, Indonesia meminta transfer teknologi untuk meningkatkan kemampuan teknisnya sendiri dan untuk mengamankan pekerjaan. Korea Selatan telah menawarkan persyaratan yang menguntungkan bersama berikut harganya. Namun pihak Indonesia belum puas dengan kemampuan kapal-kapal ini, dengan alasan masalah pasokan daya yang terhubung ke baterai, di antara masalah lainnya.

Kapal selam dari Jepang akan lebih canggih, jauh lebih senyap dan menawarkan lebih banyak waktu operasi di bawah air. Tetapi harga akan lebih tinggi dan kondisi transfer teknologi akan lebih sensitif.

TUDM Kirimkan Jet Tempur untuk Pintas 16 Pesawat Militer China

02 Juni 2021

16 Pesawat PLAAF memasuki zona udara Malaysia (all photos : TUDM)

Kenyataan Media Panglima Tentera Udara Berkenaan Pengesanan Penerbangan Mencurigakan 16 Buah Pesawat Tentera Udara Republik Rakyat China/People's Liberation Army- Air Force (PLAAF) Memasuki Ruang Udara Zon Maritim Malaysia (ZMM), Kota  Kinabalu Flight Information Region (FIR) dan Menghampiri Ruang Udara Nasional pada 31 Mei 2021

TUDM telah mengesan penerbangan mencurigakan sebanyak 16 buah pesawat Tentera Udara Republik Rakyat China/ People’s Liberation Army- Air Force (PLAAF) memasuki ruang udara ZMM, Kota Kinabalu FIR dan menghampiri ruang udara nasional pada 31 Mei 2021. Penerbangan pesawat-pesawat PLAAF tersebut telah dikesan oleh Radar Pertahanan Udara TUDM daripada Pusat Pertahanan Udara (CRC 2) di Sarawak pada jam 1153H. Pesawat- pesawat tersebut  telah dikesan terbang secara formasi taktikal in-trail pada jarak 60 batu nautika di antara satu sama lain. Formasi panjang tersebut juga telah terbang dengan paten dan haluan yang sama menggunakan satu titik laluan masuk dan keluar. Mereka kemudiannya didapati mengubah arah penerbangan di ruang udara Beting Patinggi Ali yang berkepentingan kepada negara.

Pesawat-pesawat tersebut telah dikesan terbang pada ketinggian di antara 23,000 kaki sehingga 27,000 kaki dengan kelajuan 290 knots melalui Singapore FIR sebelum memasuki ruang udara ZMM, KK FIR dan seterusnya terbang menghala menghampiri 60 batu nautika daripada pesisir pantai Wilayah Sarawak yang dikhuatiri akan mengancam KEDAULATAN NEGARA. Pihak TUDM telah meletakkan pesawat Hawk 208 daripada No. 6 Skuadron, Pangkalan Udara Labuan di dalam keadaan siap sedia melalui Operasi Curiga TUDM. 

Pemantauan menerusi radar pertahanan udara diteruskan ke atas pesawat-pesawat tersebut disamping beberapa percubaan untuk mengarahkan mereka menghubungi kawalan trafik udara KK FIR. Apabila arahan tidak dipatuhi dan didapati melangkaui persempadanan KK FIR menghala ke ruang udara nasional, TUDM telah melancarkan pesawat-pesawat pemintas pada jam 1333H untuk melakukan identifikasi visual. Hasil daripada pemintasan udara yang dilaksanakan, TUDM telah mengenalpasti pesawat-pesawat tersebut adalah daripada jenis Ilyushin Il-76 dan pesawat Xian Y-20. Pesawat-pesawat jenis ini merupakan pesawat pengangkut strategik dan berupaya melaksanakan pelbagai misi.

Insiden ini merupakan perkara yang serius terhadap ancaman KEDAULATAN NEGARA dan KESELAMATAN PENERBANGAN berdasarkan kepadatan trafik udara di dalam laluan penerbangan (Airways) di dalam KK FIR. Insiden ini telah dikendalikan oleh TUDM khasnya dan ATM amnya berlandaskan undang-undang dan peraturan penerbangan antarabangsa International Civil Aviation Organization (ICAO) serta Strategi Pertahanan Udara Nasional (SPUN). Kementerian Luar Negeri telah mengambil maklum tentang perkara ini melalui Kementerian Pertahanan.

01 Juni 2021

Vietnamese Amphibious Tank Trained under Army Games Regulation

01 Juni 2021

PT-76 of the Vietnamese Navy (all photos : bao hai quan viet nam)

At the recent Tank Crew Sports Festival of the entire army, Vietnamese tanks trained according to Army Games regulations and achieved high results.


According to the Navy newspaper, in the end, the PT-76 tank crew number 108 belonging to Battalion 1047, Brigade 147, Region 1 of the Navy performed excellently, winning the second prize of the whole army of PT-76 tanks.


To get this result, the crew members made great efforts, overcome difficulties, practiced in the training ground to practice comprehensive skills. The crew of the vehicle took the second prize in the general shooting test, first aid for wounded soldiers and folded canvas, and was awarded the Certificate of Merit by the Tank and Armor Command.


"I have participated in many competitions and sports festivals at all levels, but this contest left the most impressions and memories. I drove the car in the finish line, sometimes reaching 43.6 km/h (transportation), design speed of the vehicle 44 km/h).


The contest contents have close synergies, rhythmic coordination, combining tactical techniques with the strength of physical strength to compete with your unit. My experience in the sports festival is the humility to learn and draw on the experiences of the previous generations," said Captain Tong Duy Tho, the driver.


The mixed driving test - a content applied according to the Army Games' competition rules is really hot. Receiving orders, loading ammunition, entering the firing line to destroy the target and then overcoming natural and man-made obstacles within a distance of 5km, these actions require the skillful coordination and regular practice of the whole crew first when entering the game.


"The tank#108 crew has successfully completed the assigned task. The achievements at the sports festival have reflected the unit's level, ability to use the car as well as the excellent training and emulation movement of the unit over the years.


Experience is a valuable lesson for the unit to apply in training to meet the demand for reinforcement in the direction of the sea and islands," commented Lieutenant Colonel Tran Van Thanh, Head of Tank-Armor Brigade 147.

RSN Conducts Passage Exercise with French Navy & Welcomes Them at Changi Naval Base

01 Juni 2021

(From left to right) FS Tonnerre, RSS Steadfast and FS Surcouf sailing in formation during the exercise (photo : Sing Mindef)

On 27 May 2021, the Republic of Singapore Navy (RSN)'s Formidable-class frigate RSS Steadfast conducted a passage exercise (PASSEX) with the French Navy (FN)'s amphibious assault ship FS Tonnerre and frigate FS Surcouf who are in the Asia-Pacific as part of its Jeanne d'Arc mission. The PASSEX was conducted in the southern reaches of the South China Sea within international waters.

The exercise saw the ships from both navies conducting manoeuvring and communication exercises, and small arms firings. In addition, helicopter cross-deck landing was conducted by the Republic of Singapore Air Force's Super Puma helicopters.

The RSN conducts regular PASSEXes with foreign navies to enhance mutual understanding and strengthen friendships with other navies. These professional interactions at sea have enabled the RSN to keep our ties warm with our navy counterparts, especially amidst the ongoing COVID-19 situation.

FS Tonnerre called into Changi Naval Base following the PASSEX (photo : Sing Mindef)

In addition to the PASSEX, FS Tonnerre is on a port call at Changi Naval Base and will continue with its deployment after. The Commanding Officer of FS Tonnerre Captain Arnaud Tranchant will also conduct a video tele-conference with RSN Commander 1st Flotilla Colonel Ng Xun Xi on 29 May 2021.

As a like-minded partner with common perspectives on freedom of navigation and overflight, we are glad to welcome the French Navy to the region. Our interactions with the French Navy in the maritime sphere allow us to reinforce our strong and broad-based defence relationship and strengthen mutual understanding with France.

Malaysia MINDEF Buys SAAB Weapon

01 Juni 2021

Carl Gustav M4 84mm man portable recoiless gun (photo : Saab Group)

The Malaysian Ministry of Defence (MINDEF) is issuing a tender for the supply of 110 SAAB Carl Gustav M4 84mm man portable recoiless gun which could find its way to all four parachute battalions and two special forces/commando battalions of the 10th Parachute Brigade (10Bgd Para) and 21st Special Forces Group (21GGK).

Already, these Army strategic units have been equipped with various anti armour weapon including the much older and heavier Carl Gustav M2, RPG-7 rocket propelled grenades as well as Nammo M72LAW and Instalaza C90 unguided anti tank launch system.

The Carl Gustav is not the only SAAB made defence product that MINDEF had recently procured. The New Generation Light Anti Tank Weapon (NLAW) was also acquired for the use of the paratroopers and commandos.

These new procurement could mean that weapons like the Carl Gustav M2 and RPG-7 could now being passed down to other formations especially those from mechanised Infantry battalions.

As the tip of the spear, it is important that both the paratroopers and the GGK commandos being equipped with the best weapon that provide firepower and devastating blows to the enemy.

The Carl Gustav M4 and the NLAW does not only offer mobility and flexibility (due to their light weight) or provide a lethal anti armour capability, they also help these strategic units of the Army to punch through static targets especially those found in urban areas.

(MFH)

Indonesia Ingin Beli F-35? Ini Saran Lockheed Martin

01 Juni 2021

Pesawat tempur Lockheed Martin F-35 (photo : Aeronautica Militare)

Jakarta, Beritasatu.com – Keinginan Indonesia untuk memiliki pesawat tempur generasi ke-5 buatan Amerika Serikat, F-35, sulit terwujud dalam waktu dekat ini. Selain harganya yang sangat mahal, sekitar US$ 100 juta per unit, ada kendala lain yang bisa dikatakan mustahil diatasi sekarang.

F-35 merupakan andalan supremasi udara Amerika Serikat sekarang sehingga hanya sekutu paling dekat seperti Israel atau negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang boleh membelinya.

Butuh proses politik yang rumit dan dana yang sangat besar untuk bisa mendapatkan pesawat tersebut.

Namun, jika pemerintah dan TNI Angkatan Udara memang sangat berkeinginan memiliki F-35 untuk mengamankan udara nusantara, ada jalan tercepat ke sana seperti disarankan oleh Lockheed Martin, produsen jet tempur canggih itu.

“Kami telah melihat berita-berita yang menyebutkan tujuan akhir Indonesia adalah mendapatkan kemampuan generasi kelima yang ada di jet tempur F-35. Lockheed Martin memang memproduksi pesawat tersebut, tetapi pemerintah AS yang akan mempertimbangkan potensi penawaran untuk Indonesia,” kata Mike Kelley, Business Development Director Lockheed Martin, dalam wawancara virtual dengan sejumlah situs berita Indonesia belum lama ini.

Kalau Indonesia berkeras ingin memilikinya, maka cara tercepat ke sana adalah dengan membeli pesawat tempur buatan Lockheed Martin lainnya yang sudah mendapat restu dari pemerintah Amerika Serikat, yaitu F-16, imbuhnya.

“Kemitraan dengan Lockheed Martin dan terknologi canggih dari F-16 Block 72 adalah jalan paling jelas menuju F-35 di masa depan,” kata Kelley.

F-16 Block 72 Viper (image : Lockheed Martin)

Indonesia sudah menggunakan F-16 selama beberapa dekade terakhir, namun dari 33 pesawat itu semuanya adalah produksi era 1980an.

Block 72, atau lebih dikenal sebagai F-16 Viper, memiliki teknologi tercanggih pesawat generasi keempat yang juga diincar oleh TNI AU.

Kelly mengatakan ekspor pesawat tempur dari Amerika harus mendapat persetujuan pemerintah dan Lockheed Martin tidak terlibat sama sekali dalam proses pembuatan keputusan.

“Pemerintah AS adalah pembuat keputusan soal program-program pertahanan yang bisa ditawarkan ke para mitra internasional termasuk Indonesia -- Lockheed Martin tidak menjadi bagian dalam proses pembuatan keputusannya,” paparnya.

“Proses yang disebut Foreign Military Sales atau FMS ini adalah program di mana pemerintah yang membuat semua keputusan, termasuk kontrak aktual dan transfer produk serta program. Pada dasarnya, mitra internasional menjalin kontrak dengan pemerintah AS dalam pengadaan senjata dan pemerintah AS kemudian menangani kontrak itu bersama Lockheed Martin. Hal ini menjamin proses transparan yang menyebutkan dengan jelas semua aspek dalam program dimaksud dan kemitraan yang dijalin,” jelas Martin lebih jauh.

Sedangkan untuk F-16 Block 72, pemerintah AS sudah memberi lampu hijau bagi Indonesia untuk membeli paket lengkap dan terbaru.

Artinya, itu termasuk sistem radar canggih bernama Active Electronically Scanned Array (AESA) yang bisa mendeteksi target dalam jarak yang lebih jauh dari sebelumnya dan melacak target dengan lebih presisi.

Radar ini juga memberi kalkulasi logis target mana yang paling mengancam dan harus didahulukan.

Intinya, untuk F-16 Viper masalahnya tinggal kemauan pemerintah dan dana yang tersedia, setelah itu barang bisa dikirim secepatnya.

“Indonesia sudah mendapat persetujuan dari pemerintah AS untuk mendapatkan semua kemampuan dan senjata yang ada pada Block 72 bagi TNI AU, termasuk radar AESA yang canggih,” tegas Kelley.