04 Februari 2022

Satkopaska Koarmada II Laksanakan Latihan Operasi Peperangan Laut Khusus

03 Februari 2022
Latihan Operasi peperangan laut khusus (photos : KoArmada2)

TNI AL. Koarmada II. Surabaya -- Sebagai salah satu pasukan khusus TNI AL, personel Komando Pasukan Katak atau Kopaska dituntut untuk selalu menjaga profesionalisme termasuk kemampuan kualifikasi mereka.

Dalam rangka menjaga kemampuan kualifikasi personel, Satuan Komando Pasukan Katak (Satkopaska) Koarmada II melaksanakan pembinaan rutin setiap minggunya yang disebut Latmi (Latihan Mingguan) ,yang digelar di Markas Satkopaska Koarmada II pada Kamis (03/02).


Dalam latmi yang dilaksanakan secara bertahap, bertingkat dan berkelanjutan tersebut, para peserta mengikuti sesi Latihan Peperangan Laut Khusus. Dimana personel Kopaska mempunyai Spesialisasi Peperangan Laut Khusus, yakni operasi khusus yang dilaksanakan oleh TNI-AL dalam rangka Operasi Militer Perang yang berupa peperangan non konvensional.

Di minggu ke-1, peserta latihan khususnya prajurit Detasemen melaksanakan latihan Infiltrasi dari bawah permukaan. Latihan infiltrasi bertujuan mematahkan pusat konsentrasi kekuatan lawan, dan menyabotase kekuatan musuh. Infiltrasi dilakukan dengan beberapa kemampuan yang dimiliki personel Kopaska, salah satunya operasi dengan menggunakan metode SRDX (semi rapid deployment extreme) dan Ship Boarding.


Secara terpisah, Komandan Satkopaska Koarmada II Kolonel Laut (P) Agus Yudho K., M. Tr. Hanla., M.M., menekankan kepada seluruh prajurit Kopaska agar mempertajam kemampuan naluri tempur khususnya di air. " Baik di atas permukaan maupun di bawah permukaan air, kalian harus selalu siap untuk bertempur," tegas Agus Yudho- sapaan karibnya.

Hal tersebut menurut Agus Yudho penting untuk menjaga kemampuan kualifikasi dan naluri tempur setiap personel Satkopaska, sebagai pasukan khusus TNI AL serta mewujudkan arahan pimpinan.


"Hal ini juga menindaklanjuti arahan Pangkoarmada II, Laksamana Muda TNI Iwan Isnurwanto sekaligus sebagai implementasi dari program prioritas Kasal Laksamana TNI Yudo Margono di bidang pengembangan SDM TNI AL yang unggul dan profesional, " tegasnya.

Strict Standards to Become a "Frogman" Commando in Vietnam

04 Februari 2022

Frogman training of the Vietnam People's Army (all photos : Kien Thuc)

Vietnamese special forces are one of the most skilled special forces in the world, to become a commando soldier must practice very hard.

The Special Forces are the elite special combat forces of the Vietnam People's Army, directly managed and directed by the General Staff of the Vietnam People's Army.


The Special Forces Army has the task of focusing on researching and advising the Vietnamese Ministry of National Defense to build and develop Special Forces forces in the direction of lean - compact - high quality.


This is an elite special force, soldiers are organized, equipped and specially trained, have flexible, daring and unexpected combat methods, often used to make surprise attacks on dangerous targets. Weakness lies deep in the battle formation, campaign arrangement and rear of the enemy.


To become a true frogman commando, soldiers have to go through extremely strict standards. The height of the frogman's commando is not less than 1.65m; body weight not less than 52kg; The weakest hand squeeze force is not less than 35kg; traction not less than 200% of body weight.


To be able to be a clone commando, the "candidate" must also meet the physiological function standards of the cardiovascular system, respiratory system, eyes, digestive system, etc. And to become a real clone commando soldier, the training takes 2 years.


The most basic skills of a clone commando must have. Swim silently at least 10km continuously, dive up to 1,000m, withstand the waves very well to be able to dive deeply and fly by plane or submarine.


Vietnamese frogmen also have to know how to master the use of heavy weapons to attack when a foreign country invades territorial waters, in the most difficult situation can camouflage in just 1-2 minutes.


To be able to swim continuously from 12-15km in the sea, the soldiers have to spend a lot of effort training both physically and mentally. Officers at all levels regularly follow up, practice together, dive together, swim together with soldiers.


Soldiers must participate in practical training day and night, techniques to overcome currents, avoid sea creatures and practice methods of handling scratches to prevent bleeding to attract dangerous animals to follow.


All of these skills must be mastered and handled independently to ensure safety, to complete tasks accurately and efficiently, in the shortest time.


The harshest part of the training course is "forcing imitation". Soldiers are put into a chamber to increase and decrease pressure, adjust the pressure to equal sea pressure at the corresponding depth.


This procedure is strictly followed to train the soldiers' endurance when diving at different depths. This is also the most difficult stage to select the clones that meet the mission requirements.


In the chamber to increase and decrease the pressure, the pressure will make the chest feel like it is about to burst, causing shortness of breath and extreme discomfort. But as a frog, it is necessary to go through this stage to be able to dive at a depth of tens of meters, otherwise you will die at any time when performing a mission at sea.

KRI Pulau Rengat-711 Laksanakan Latihan Pemantapan Operator Multibeam Echo Sounder

04 Februari 2022

KRI Pulau Rengat 711, kapal pemburu ranjau Tripartite class (photos : Medcom, Koarmada2)

TNI AL. Koarmada II -- KRI Pulau Rengat-711 yang sedang melaksanakan Operasi Balat Samodra 22 di bawah Komando Guspurla Koarmada II, melaksanakan Latihan Pemantapan Operator Multibeam Echo Sounder, Kamis (27/01/2022). 

Latihan Pemantapan Operator Multibeam Echo Sounder yaitu survey alur pelayaran Nunukan sepanjang 13 NM , yang dimulai dari dermaga Lanal Nunukan ke arah luar alur, dengan menggunakan peralatan deteksi bawah air yang dimiliki KRI Pulau Rengat-711 yaitu Multibeam Echo Sounder. 

Menurut Komandan KRI Pulau Rengat-711, Letkol Laut (P) Hastaria Dwi Prakoso, sebagai kapal buru ranjau yang berada di bawah jajaran Satuan Kapal Ranjau (Ranjau) Koarmada II , kapal yang dikomandaninya tersebut memiliki tugas pokok melaksanakan pemburuan ranjau dengan cara mendeteksi, mengklasifikasikan dengan mengindentifikasi sasaran bawah permukaan yang menyerupai ranjau.

“Dan apabila diperlukan memusnahkan atau menetralisasi ranjau tersebut dengan sarana yang ada (PAP-104, Penyelam, APR). Disamping pemburuan ranjau, KRI Kelas Pulau Rengat juga memiliki Alat Penyapuan Ranjau yang mampu melaksanakan penyapuan ranjau,“ tutur Letkol Hastaria.

Ia melanjutkan bahwa selain tugas pokok tersebut, KRI Pulau Rengat menmiliki tugas tambahan seperti melakukan Survey bawah permukaan perairan lepas pantai guna membantu proyek pengeboran minyak lepas pantai yang masih dinyatakan sebagai daerah ranjau. Berikutnya membantu pelaksanaan SAR terbatas, khususnya pencarian obyek bawah permukaan (kapal atau pesawat terbang tenggelam) dan pertolongan terhadap kecelakaan penyelam.

“Hasil daripada latihan pemantapan Operator Multibeam Echo Sounder KRI Pulau Rengat-711 dalam melaksanakan survey alur Nunukan yaitu memastikan kontak -kontak bawah air, bahaya navigasi, dan rata- rata kedalaman yang ada di alur pelayaran Nunukan, sehingga aman bagi kapal -kapal dalam bernavigasi di alur pelayaran Nunukan,” tambah Letkol Hastaria.

“Dengan adanya latihan pemantapan ini, diharapkan profesionalisme prajurit dapat terjaga sehingga mampu mewujudkan imbauan Pangkoarmada II Laksda TNI Iwan Isnurwanto, yang selaras dengan program prioritas Kasal Laksamana TNI Yudo Margono yakni Pembangunan SDM TNI AL yang unggul,” tandasnya.

(Koarmada2)

03 Februari 2022

Sea Trials have Started on the 97-meter MRRV of PCG

04 Februari 2022

The upcoming BRP Teresa Magbanua 9701 (photos : Binmei)

The Philippine Coast Guard (PCG)’s largest vessel acquisition to date, Multi-Role Response Vessel (MRRV)-9701 conducted its official sea trials at the vicinity waters off Japan on 25 to 28 January 2022. 

MRRV-9701 will soon be commissioned into the Coast Guard service as Barko Republika ng Pilipinas (BRP) TERESA MAGBANUA upon its arrival in Manila in February 2022.

Sea trials are initiated to measure a vessel's performance and general seaworthiness. The test included gauging the vessel's speed, maneuverability, functionality of equipment, and safety features.


MRRV-9701 is the first of two 97-meter vessel projects financed by the Japanese government under Phase II of the Maritime Safety Capability Improvement Project (MSCIP) between the Republic of the Philippines through the Department of Transportation - Philippines (DOTr) and Japan in October 2016. The project terms called for the application of Japanese technology, recognizing their notable expertise in shipbuilding.

The sea trials were conducted by the shipbuilder, Mitsubishi Shipbuilding Co., Ltd; Vessel Consultant for MSCIP Phase II project, Japan Marine Science Incorporated; Nippon Kaiji Kyokai (NK) Classification Society; various equipment makers; and the Philippine Coast Guard (PCG) MRRV-9701 officers and crew.

(PCG)

TNI AL Akan Survei Kapal Perang Korvet yang Rencananya Dihibahkan Korea Selatan

03 Februari 2022

Korvet kelas Pohang RoKN (photo : Naver)

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono mengatakan rencana jajaran TNI Angkatan Laut akan melakukan survei terhadap kapal perang kelas korvet yang rencananya dihibahkan Angkatan Laut Korea Selatan.

Yudo mengatakan sebelum melakukan survei tersebut, Kementerian Pertahanan akan membentuk tim meninjau langsung kondisi kapal tersebut.

Ia mengatakan TNI AL juga telah menerima surat dari Kementerian Pertahanan yang pada pokoknya akan melibatkan TNI AL dalam survei tersebut.

"Kemarin (Kementerian Pertahanam) sudah membuat surat ke kita untuk melibatkan angkatan laut untuk meninjau sebagai tim anggota ke sana. Nanti dari tim ini yang akan menilai kapal ini kira-kira layak atau tidak untuk kita terima dengan kondisi yang ada saat ini," kata Yudo di Mabesal Cilangkap Jakarta Timur pada Rabu (2/2/2022).

Yudo mengatakan sejumlah tim survei tersebut akan menilai sejumlah hal di antaranya usia kapal.

"Kalau nanti tidak memungkinkan dan kondisinya sudah tidak meungkinkan ataupun lifetime-nya begitu diberikan kepada kita, hanya berapa tahun, tidak memungkinkan, ya tentunya akan kita laporkan hasilnya peninjauan tersebut," kata dia.

Diberitakan sebelumnya Yudo mengungkapkan bahwa TNI AL akan menyambut kedatangan kapal korvet Angkatan Laut Korea di Indonesia.

Yudo mengatakan siap bekerjasama dalam melaksanakan latihan, operasi maupun pengecekan terhadap kapal tersebut yang rencananya akan dihibahkan ke Indonesia.

Hal tersebut disampaikannya saat melaksanakan pertemuan secara online dengan KSAL Korea Selatan Admiral Kim Jung-Soo di Rupim KSAL Gedung Utama Mabesal, Cilangkap Jakarta Timur pada Rabu (19/1/2022).

"Saya berterima kasih dan mengapresiasi atas perhatian Korea yang berencana untuk menghibahkan 3 kapal perang korvetnya untuk memperkuat TNI AL yang merupakan satuan kapal khusus dari Korea," kata Yudo dalam keterangan resmi Dinas Penerangan TNI AL pada Kamis (20/1/2022).

Dalam pertemuan tersebut dibahas juga kerja sama berbagai bidang antar angkatan laut kedua negara Asia itu.

Yudo menyampaikan terima kasih atas undangan Vicon Courtesy Call Kim ke TNI AL untuk membahas berbagai hal penting terkait kerja sama kedua Angkatan Laut yang perlu ditingkatkan lagi ke depan di berbagai bidang terutama bidang operasi dan latihan termasuk teknologi kapal selam.

"Pemberian hibah suatu kapal perang membutuhkan proses yang panjang dan pertimbangan, apalagi sejumlah 3 buah sehingga KSAL Korea perlu untuk memproses keinginan Laksamana Yudo tersebut, namun usulan permintaan hibah tersebut tetap akan diteruskan kepada Kemenhan," kata Kim.

Dalam pertemuan tersebut Yudo didampingi Asintel KSAL Laksda TNI Angkasa Dipua, Asops KSAL Laksda TNI Dadi Hartanto dan beberapa staf.

See full article TribunNews

Kemampuan Fregat kelas Hunter Dipertahankan Setelah Laporan Bocor

03 Februari 2022

Desain kelas Fregat Type 26 yang telah disesuaikan dengan permintaan Australia : sistem manajemen tempur Aegis, radar phased array CEAFAR2 dan integrasi helikopter MH-60R (images : Worldwarships)

Menteri Pertahanan Australia, Departemen Pertahanan (DoD), dan Kepala Staf Angkatan Laut telah bergabung dalam membantah Laporan Teknik Angkatan Laut yang bocor yang menilai sembilan frigat masa depan Angkatan Laut Australia (RAN) kelas Hunter dinilai lebih lambat dan lebih berat dari yang direncanakan dan menghadapi banyak kesalahan desain dan masalah dengan pembuat kapal BAE Systems Maritime Australia.

Rincian laporan Penilaian Tim Teknik DoD yang diklasifikasikan, yang dilakukan pada November 2021, diterbitkan di surat kabar nasional The Australian pada 1 Februari, menetapkan apa yang digambarkan sebagai serangkaian masalah serius dengan frigat Inggris Tipe 26 yang 'belum matang', yang menyediakan desain referensi untuk kelas Hunter program RAN senilai AUD44,1 miliar (USD32 miliar).


Menurut surat kabar tersebut, laporan tersebut mengatakan dimasukkannya sistem manajemen tempur AS  Aegis dan radar phased array CEAFAR2 yang dirancang Australia dalam desain referensi telah mendorong marjinal ruang, berat, kekuatan, dan pendinginan kelas Hunter ke batas mereka, sehingga menimbulkan "potensi risiko yang signifikan".

Perubahan tersebut telah menyebabkan masalah desain serius yang mengalir melalui program, menaikkan konsumsi daya listrik dengan "dampak negatif pada kecepatan dan jangkauan", dan menyebabkan masalah dengan pendinginan sistem tempur kapal, kata laporan tersebut.

Ini juga mengkritik umpan balik yang lambat dan penyediaan data yang "membingungkan dan tidak koheren" oleh BAE Systems dan mengatakan proses desain perusahaan "tidak mematuhi praktik rekayasa sistem normal". 

Pengecekan Berkala Ranpur MLRS Pasmar 2

03 Fabruari 2022

Pengecekan Berkala Ranpur MLRS RM 70 Grad dan MLRS Vampire Pasmar 2 (photos : Marinir)

Yon Roket 2 Marinir Terima Kunjungan Tim Dislaikmatal TNI AL Uji Kelaikan Material Tempur

Dispen Kormar (Surabaya). Batalyon Roket 2 Marinir terima Tim uji Kelaikan Material dari Dinas Kelaikan Material TNI Angkatan Laut (Dislaikmatal) Mabesal, untuk uji kelaikan material tempur bertempat di Gunpark Kesatrian Marinir Karang Pilang Surabaya, Jawa Timur, Kamis (27/01/2022).

Tim uji Kelaikan dipimpin Mayor Marinir Bayhaky Chandra Chipta melaksanakan pengecekan verifikasi dan sertifikasi berkala meliputi pengumpulan data teknis dan pengecekan material.

Pada kesempatan tersebut, Komandan Batalyon Roket 2 Marinir Letkol Mar Daulat Situmorang mengatakan bahwa Kegiatan dari tim Dislaikmatal sangat berguna untuk mengetahui kondisi Ranpur satuan, dalam uji kelaikan material RM 70 Grad dan MLRS Vampire kali ini yang meliputi pengecekan kelengkapan Ranpur, Pengecekan Laras, pengecekan loading magazen otomatis dan manual, pengecekan oli gear box, Kelistrikan, Mesin dan Transmisi serta di akhir dengan pengecekan uji gerak serta elektrik material itu sendiri.

Sementara itu, Ketua Tim uji Kelaikan menyampaikan bahwa uji kelaikan ini merupakan salah satu cara untuk mengukur dan menilai performa dan kemampuan dalam menjaga kondisi teknis Ranpur RM 70 Grad dan MLRS Vampire untuk mendukung latihan maupun operasi tempur.