06 Februari 2022

Spesifikasi Kapal Perang Fregat Buatan Italia, Calon Armada TNI AL

06 Februari 2022

FREMM Bergamini class (photo : MN)

KOMPAS.com - Kementerian Pertahanan (Kemenhan) beberapa waktu lalu telah menandatangani kerja sama dengan perusahaan pembuat kapal asal Italia, Fincantieri. 

Dalam kerja sama itu, Fincantieri akan menyuplai enam fregat kelas FREMM dan dua fregat bekas kelas Maestrale.

"Fincantieri akan menjadi kontraktor utama untuk keseluruhan program," demikian informasi dari laman Fincantieri dikutip Kompas.com, 11 Juni 2021.

Kedua jenis fregat menggunakan meriam utama Otobreda 127 mm, akan menjadi yang terbesar di kapal TNI AL (photo : Leonardo)

SPESIFIKASI FREGAT KELAS FREMM

Dilansir dari Naval Technology, fregat kelas FREMM memiliki panjang 140 meter dan lebar 20 meter, serta dapat menampung 108 perwira dan awak. 

Kontraktor utama untuk program FREMM adalah Armaris dari Perancis dan Orizzonte Sistemi Navali dari Italia. 

Armaris adalah anak perusahaan bersama DCN dan Thales dan sekarang dimiliki sepenuhnya oleh DCNS, sedangkan Orizzonte Sistemi Navali Italia adalah perusahaan patungan antara Fincantieri dan Finmeccanica.

Fregat FREMM menggunakan rudal permukaan ke udara jenis Aster 15/30 buatan MBDA (image : MBDA)

Amaris dan Orizzonte memainkan peran utama dalam spesifikasi sistem dan pengembangan subsistem utama dan sistem tempur. 

Fregat kelas FREEM dipersenjatai dengan sistem rudal SAAM Aster 15 untuk kemampuan pertahanan udara dan juga rudal anti kapal skimming laut Teseo Mk2.

Teseo Mk2 menggunakan panduan inersia yang diperbarui dan memiliki jangkauan hingga 55 kilometer. 

Torpedo ringan asli fregat FREMM adalah MU-90 (photo : Thales)

Dua sistem peluncuran vertikal DCNS Sylver A43 dipasang di setiap kapal.

Fregat kelas FREMM dibekali senjata anti kapal selam 

Fregat FREMM juga dilengkapi dengan sistem senjata anti kapal selam segala cuaca, Milas. 

Milas dapat membawa dan melepaskan torpedo ringan seperti MU-90 di dekat kapal selam musuh yang ditentukan. 

Senjata anti kapal selam MBDA MILAS (image : MBDA)

Untuk kemampuan anti-kapal, FREMM dipersenjatai dengan rudal anti-kapal Exocet MM40 blok tiga milik MBDA. Ini akan dikendalikan melalui konsol multifungsi CMS oleh sistem kontrol senjata Mer-Mer.

Blok tiga rudal in memiliki jangkauan yang lebih jauh dan sistem navigasi yang ditingkatkan untuk memberikan kemampuan serangan pesisir.

Sistem rudal pertahanan udara MBDA Aster 15 untuk fregat memberikan perlindungan terhadap ancaman supersonik dan subsonik. 

Sistem kerja senjata anti kapal selam MBDA MILAS (image : MBDA)

Aster 15 memiliki jangkauan minimum 1,7 kilometer dan jangkauan maksimum 30 kilometer terhadap ancaman udara subsonik.

SPESIFIKASI FREGAT KELAS MAESTRALE 

Masih dari sumber yang sama, fregat kelas Maestrale dibangun oleh Fincantieri untuk Angkatan Laut Italia (Marina Militare). 

Fregat kelas Maestrale dilengkapi untuk perang anti-kapal selam (ASW). Namun, mereka juga memiliki kemampuan perang anti-pesawat (AAW) dan anti-permukaan (ASuW).

Untuk versi Indonesia, rudal anti kapal disebut-sebut akan menggunakan Exocet II Block 3 buatan MBDA (photo : MBDA)

Kapal pertama di kelasnya, Maestrale (F570), diluncurkan pada Februari 1981 dan ditugaskan pada Maret 1982. Empat frigat ditugaskan pada 1983 dan armada lainnya ditugaskan pada Mei 1985.

Kelas Maestrale berasal dari fregat kelas Lupo, tetapi memiliki beberapa perbedaan dalam perpindahan dan kecocokan senjata. 

Dua stabilisator sirip yang tidak dapat ditarik memberikan stabilitas pada kapal dan mengurangi body roll sebesar 30 derajat hingga 3 derajat pada kecepatan 18 knot. 

Untuk CIWS fregat FREMM menggunakan OtoMelara DART/STRALES 76mm (photo : OtoMelara)

Kelas Maestrale dipersenjatai dengan peluncur octuple Albatros yang mampu menembakkan rudal udara-ke-udara dan permukaan ke udara jarak menengah Aspide.

Peluncur rudal dan meriam pada Fregat Maestrale 

Fregat Maestrale dapat membawa 16 rudal tambahan. Empat peluncur rudal TESEO Mk2 yang dipasang di atas hanggar dapat meluncurkan rudal anti-kapal TESEO. 

Rudal itu dapat menyerang target dalam jarak 160 kilometer, sambil membawa hulu ledak 210 kilogram. 

Untuk CIWS Maestrale class saat ini menggunakan 2x OtoMelara 40L70 DARDO (photo : Seaforces)

Meriam utama yang dipasang di dek depan adalah meriam Otobreda 127 mm. Itu bisa menembakkan 40 peluru per menit pada jarak 30 kilometer. 

Kelas Maestrale juga dilengkapi dengan dua set tabung torpedo rangkap tiga 324 mm untuk torpedo Mk32. 

Sementara itu, rangkaian sensor mencakup radar pencarian udara dan permukaan RAN10S, radar navigasi SPN703, radar kontrol tembakan RTN-10X, dan dua radar RTN-20X untuk sistem DARDO.

Fregat Maestrale class (photo : Seaforces)

Sonar kedalaman variabel DE 1164 dan sonar yang dipasang di lambung DE1160B dipasang untuk mendeteksi dan melacak kapal selam. 

Kelas Maestrale memiliki dek penerbangan berukuran lebar 27 meter, sehingga memungkinkan untuk pengoperasian helikopter AB-212. Hanggar tersebut dapat menampung dua helikopter.

Australia Received Third Bell 412 for NSW RFS

06 Februari 2022

The New South Wales Rural Fire Service’s newly acquired Bell 412 helicopter is unloaded from a RAAF C-17A Globemaster III at RAAF Base Richmond (photos : Aus DoD)

Third Bell’s the charm

A third Bell 412 helicopter for the New South Wales Rural Fire Service (NSW RFS) has arrived courtesy of Air Force’s No. 36 Squadron.

On January 25, a No. 36 Squadron C-17A Globemaster III aircraft touched down at RAAF Base Richmond after ferrying the helicopter from the United States.

It will join a fleet of NSW RFS aircraft that includes two Bell 412s that were delivered by the RAAF in 2020.

Previously operated by the Miami-Dade Fire Rescue Department, the latest Bell 412 to arrive in Australia came courtesy of an existing RAAF C-17A task on its way home from the United States.

Commander Air Mobility Group, Air Commodore Carl Newman, said the use of a RAAF C-17A would allow the helicopter to support Australian communities sooner.

“The RAAF’s delivery of these helicopters is a good illustration of how Defence capability can enable other government agencies and state emergency services,” Air Commodore Newman said.

“As well as delivering these helicopters, we have previously carried fire retardant and other essential supplies that were time-critical for our emergency services.

“In recent years at RAAF Base Richmond, we’ve provided airbase support to these emergency services, and witnessed firsthand the benefit these aircraft make to disaster-relief operations.”


Carrying the Bell 412 on the C-17A required its rotor blades to be carefully disassembled and loaded on-board separately, while the helicopter was restrained to the cargo bay floor using a Defence-approved pattern.

For unloading, the Bell 412’s landing skids were attached to a wheel-dolly, allowing it to be ‘rolled off’ the C-17A cargo ramp with the assistance of wooden shoring.

This is carefully measured to ensure parts of the helicopter’s fuselage do not scrape the tarmac or C-17A.

No. 22 Squadron air movements personnel worked with NSW RFS personnel to unload the Bell 412, which will have its rotor blades reattached before conducting a test flight at RAAF Base Richmond.

The three-tonne Bell 412 can carry up to 13 passengers, and is equipped with an external hoist for winching emergency service personnel or evacuees.

Assistant Commissioner for NSW RFS, Ben Millington, said the Bell 412 would be used for rapid aerial response for regional communities in the state.

“It will not only support the NSW RFS during firefighting operations, but also provide other regional emergency services with real-time, high-definition video streams and assist in search-and-rescue missions,” Assistant Commissioner Millington said.

“The aircraft will now be reconfigured for our needs before becoming operational ahead of the next fire season.”

Harwat Ranpur di Yonranratfib 1 Marinir

05 Februari 2022

Ranpur LVTP-7 di Yonranratfib 1 Marinir (photos : PasMar1)

Batalyon Kendaraan Pendarat Amfibi 1 Marinir (Yonranratfib 1 Mar) laksanakan Pemeliharaan dan Perawat Kendaraan Tempur (Harwat Ranpur) yang dilaksanakan di Garase Ranpur Yonranratfib 1 Mar, Kesatrian Marinir Hartono Cilandak, Jakarta Selatan, Senin (31/01/2022).

Pelaksanaan perawatan dan pemeliharaan dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan sebagai prosedur dan wajib dilaksanakan, pelaksanaan perawatan tersebut dipimpin dan diawasi oleh Letda Marinir M Yuliar Kristianto selaku Danton Perbekalan dan Pemeliharaan (Bekhar) Yonranratfib 1 Mar. Pemeliharaan dan perawatan Ranpur ini tidak dilakukan sendiri-sendiri karena berdampak kerusakan lebih berat akibat tidak pemahaman dan terbatasnya tentang perawatan dan pemeliharaan alutsista.


Disamping itu Danyon Ranratfib 1 Marinir Letkol Marinir Agus Setiyo Budi, M.Tr.Opsla., mengatakan “Kegiatan yang dilakukan selaras dengan himbauan Danmenkav 1 Mar Kolonel Mar Wisnu Syogo, M.Tr.Hanla., yakni wujudkan Zero Accident dalam setiap kegiatan melalui perawatan dan pemeliharaan rutin alutsista, sehingga selalu dalam kondisi prima,“ ungkapnya.


Dalam pelaksanaan kegiatan pemeliharaan dan perawatan kendaraan tempur tersebut dilakukan dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan Covid-19.

05 Februari 2022

Kapal Bakamla RI Berlatih dengan Kapal Japan Coast Guard di Natuna

05 Februari 2022

Latihan bersama KN Pulau Dana dan JCG Echigo (photos : Bakamla)

Passing Exercise Kapal Bakamla RI dengan Kapal Japan Coast Guard

Batam, (Bakamla RI/Indonesia Coast Guard) --- Kapal Bakamla RI KN Pulau Dana-323 gelar latihan bersama dengan Kapal Japan Coast Guard Echigo PLH 08, di perairan Utara Nongsa, pulau Bintan, Batam, Kamis(3/2/2022).

Passing Exercise (PASSEX) merupakan sarana peningkatkan kemampuan personel Bakamla RI maupun Japan Coast Guard dalam mengawaki kapal guna menunjang tugas kamla.


Komandan KN. Pulau Dana-323 Letkol Bakamla Hananto Widhi Nugroho. S.E.,M.Si memimpin langsung jalannya latihan bersama ini. Adapun pelaksanaan latihan passex meliputi Serial latihan Commcheck (Radio Check), Combined Exercise (melaksanakan penghentian kapal perompak), photo session dan farewell (melaksanakan peran parade untuk penghormatan).

Kasubdit Perencanaan Latihan Bakamla RI Kolonel Bakamla Dudik Kuswoyo. S.E.,M.Tr.Hanla yang turut onboard di KN Pulau Dana-323 mengatakan pelaksanaan latihan ini di harapkan dapat mempererat hubungan bilateral antara Japan Coast Guard dengan Bakamla RI dan secara luas antara Indonesia dengan Japan.


Turut serta dalam kegiatan ini yakni Kasubdit Dukungan Latihan Bakamla RI Kolonel Bakamla Ade Prasetia.,S.Kel.,M.Si (Han).,M.Tr.Hanla dan Kasi Latihan Operasi Udara Maritim Bakaml RI Letkol Bakamla Sahlani., S.T.,M.Si (Han).

Australia Interested in Light Weight Torpedo Program by OCCAR

05 Februari 2022

OCCAR programmes in Light Weight Torpedoes (photo : OCCAR)

OCCAR and Australia Signed Framework Agreement Facilitate Australias Participation OCCAR Programmes

A Framework Agreement that provides the legal mechanism for Australia’s participation in OCCAR defence equipment programmes came into force on 25/01/2022.

The OCCAR Director, Admiral Matteo Bisceglia stated: “The Framework Agreement with Australia highlights one of the Baden-Baden founding principles of OCCAR, namely that OCCAR programmes are open to participation by non-OCCAR Nations on fair and open terms. The Agreement also confirms the belief of Nations in OCCAR’s capacities to manage complex cooperative programmes.”

This Agreement will offer opportunities for Australia to collaborate on advanced defence technology with OCCAR’s Programme Participating States and will facilitate greater Australian defence industry integration with European-based primes.

The Australian commitment is most welcome and a clear recognition of OCCAR’s capability in managing complex cooperative armaments programmes. It strengthens OCCAR in its beliefs that cooperation at all international levels is the most appropriate road towards successfully achieving strategic objectives in the most economical way.

Australia is interested in a number of OCCAR Programmes including the Tiger Helicopter Programme, the Boxer Multi Role Armoured Vehicle Programme, and the Light Weight Torpedo Programme.

KSAL Akan Hapus 9 Kapal Angkut Tank Berusia 40 Tahun

05 Februari 2022

LST TNI AL buatan sebelum tahun 1982 saat ini adalah Teluk Semangka class (ex Tacoma Shipyard Korsel) dan Teluk Gilimanuk class (Frosch class) (photo : TNI)

JAKARTA - Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono akan menghapus 9 kapal angkut tank atau Landing Ship Tank (LST) yang berusia 40 tahun. Penghapusan kapal itu dilakukan secara bertahap. 

Yudo mengatakan, rencana penghapusan kapal-kapal tersebut, bukan hal yang mendadak, sebab telah dimulai sejak 2014 lalu. 

"Kita akan menghapus 9 kapal amfibi kapal angkut tank atau landing ship tank. Itu sudah direncanakan sejak tahun 2014, sehingga sekarang ini secara bertahap kapal-kapal LST kita yang sudah berusia 40 tahun sudah dihapus," ungkap Yudo, Rabu (2/2/2022). 

Yudo menjelaskan, terkini sudah ada empat kapal angkut tank yang sudah dihapus. Dengan demikian, lanjut dia, masih terdapat 5 kapal lagi yang berproses untuk dihapus. 

"Sekarang ini sudah ada 4 yang dihapus. Masih ada 5 lagi dan ini secara bertahap ya akan dihapus," ujarnya.


Yudo menuturkan, ketika pihaknya menghapus 9 kapal, maka akan datang pula 9 kapal baru. Dia memastikan, 9 kapal pengganti itu sudah ada. "Sudah dibangun, sudah jadi. Tinggal dua yang belum jadi di PT DRU Lampung. Nanti dalam tahun 2022 ini jadi, sehingga begitu yang 9 ini dihapus tentunya 9 akan ada gantinya," tuturnya. 

Sebelumnya dalam rapat kerja bersama Komisi I DPR RI dan Menhan Prabowo Subianto, Yudo meninta persetujuan penjualan 2 KRI, yaitu KRI Teluk Mandar 513 dan KRI Teluk Penyu 514 yang sudahtidak layak lagi kondisinya.

Dua kapal perang itu bahkan sudah diistirahatkan sejak 4 tahun lalu, meski persetujuannya baru keluar 15 Desember 2021. Sejauh ini TNI AL sudah mengajukan pengapusan 22 KRI. Keberadaannya sangat mengganggu operasional dermaga karena lebih didahulukan kapal-kapal yang siap beroperasi.

South Korea to Turn Over Pohang-class Corvette to PH This Year

05 Februari 2022

Pohang class corvettes (photo : Naver)

MANILA, Philippines—South Korea will turn over a Pohang-class corvette to the Philippines this year, Defense Secretary Delfin Lorenzana said, in a boost to the country’s capability to conduct maritime patrols around the vast archipelago.

“It was contingent to our ordering two corvettes from them,” Lorenzana told Inquirer.net, referring to the P28 billion contract signed with South Korea’s Hyundai Heavy Industries (HHI) in December for the construction of two corvettes for the Philippine Navy.

“So now that we have pushed through with the corvettes, we expect the Pohang to be transferred to us soon,” he said.

Lorenzana said he hoped that the ship would be delivered “before June 30,” the date President Rodrigo Duterte’s single six-year term ends.

“There are things to be done by the Koreans such as making repairs, removing equipment that are not included, making the ship seaworthy, training the crew. Then the papers,” he said.

Inquirer.net earlier reported that a Philippine Navy delegation conducted a joint visual inspection in South Korea in November last year for the potential transfer of decommissioned Pohang-class corvette ROKS Andong (PCC-771), which served the Republic of Korea Navy for 32 years.

This would be the second Pohang-class corvette from Seoul. In 2019, South Korea donated ROKS Chungju (PCC-762), now called BRP Conrado Yap (PS-39).

The upcoming two brand new 3,100-ton corvettes, meanwhile, are based on HHI’s HDC-3100 design, measuring 116m long and 14.8m wide. Their top speed is 25 knots with a 4,500 nautical mile range.

HHI said the ships will be equipped with active electronically scanned array (AESA) radar that can enhance anti-aircraft detection capabilities, anti-ship missiles, and vertical launching systems. These will be delivered by 2025.

HHI also built the two Rizal-class multi-role frigates that the Philippine Navy is now using in a P16 billion deal in 2016.

The Philippines, an archipelagic state with one of the world’s longest coastlines and most islands, faces an array of maritime security challenges, including incursions of Chinese ships in the West Philippine Sea.

South Korea, currently the world’s ninth largest arms exporter, has been a major source of military hardware for the Philippines— from military trucks to light fighters.

See full article Inquirer