25 Januari 2016

PT DI Kembangkan MALE UAV

25 Januari 2016


 Konsep MALE UAV rancangan PT DI (images : Detik)

'MALE', Drone Canggih Buatan PTDI Bisa Terbang 24 Jam Non Stop

Jakarta -PT Dirgantara Indonesia (PTDI) akan masuk pengembangan drone atau Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) kelas Medium Altitude Long Endurance (MALE). Drone kelas ini dirancang mampu terbang non stop 24 jam dengan ketinggian jelajah sampai 23.000 kaki (feet).

"Saat ini dirancang mampu terbang 24 jam di udara," kata Chief Engineer untuk PTTA, PTDI, Bona P. Fitrikananda, kepada detikFinance, Senin (25/1/2016).

Dengan kemampuan terbang 24 jam tanpa jeda, drone canggih jenis ini memang dirancang untuk misi terbang jarak jauh, yakni bertugas hingga ke pulau-pulau terluar.

Bila pergerakan pasukan memerlukan waktu sampai ke lokasi, drone jenis ini bisa melakukan pengintaian lebih awal bahkan penindakan langsung kepada obyek sasaran yang dinilai berbahaya. Drone bisa langsung menembak sasaran dengan roket.


"Ini permintaan TNI supaya bisa penindakan. Kalau ada sesuatu berbahaya yang istilahnya sebelum tentara atau bantuan datang, maka kita bisa melakukan penindakan," sebutnya.

Dalam fase pengembangan ini, PTDI berencana menggandeng PT LEN (Persero) untuk mendukung pembuatan sistem elektronik. Langkah ini juga dilakukan dalam misi untuk meningkatkan konten lokal.

"Kita kolaborasi dengan PT LEN untuk pengembangan electronic mission system," ujar Bona.

Ditargetkan, drone canggih jenis ini bisa uji terbang (test flight) mulai 2018.

"Tahun ini preliminary design, tahun depan masuk detail design dan prototype, kemudian uji terbang baru bisa dilakukan pada tahun 2018," tambah Bona. (Detik)



Saingi AS dan China, PTDI Rancang Drone yang Bisa Tembakkan Roket

Jakarta -Pengembangan drone atau pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI) tak berhenti sampai di Wulung. PTDI sedang merancang drone yang memiliki kemampuan dan ukuran lebih besar.

Drone tersebut masuk kelas Medium Altitude Long Endurance (MALE). PTTA jenis ini mengikuti drone sekelas buatan Amerika Serikat (AS), MQ-1 Predator dan China, CH-4. Dengan kemampuan serupa, PTDI akan merancang drone yang dilengkapi sistem persenjataan.

Artinya, drone tersebut bisa dilengkapi roket untuk misi perang. Drone jenis direncanakan bisa membawa 2 sampai 4 unit roket.

"Jadi kita rencana buat drone yang mirip dengan drone buatan Amerika dan China. Drone ini nantinya dilengkapi senjata," kata Chief Engineer untuk PTTA, PTDI, Bona P. Fitrikananda, kepada detikFinance, Senin (25/1/2016).

Drone sejenis seperti MQ-1 Predator biasa dipakai oleh AS untuk menjalankan misi di Irak hingga Afganistan. Lanjut Bona, PTDI sekarang sedang masuk tahap preliminary design untuk pengembangan MALE.

Roket RD702 buatan PT DI (photo : pr1v4t33r)

"Tahun depan masuk detail design dan prototype, kemudian uji terbang baru bisa dilakukan pada tahun 2018," tambahnya.

Hingga saat ini, PTDI belum memberi nama drone yang dirancang ini. Meski demikian, PTDI telah memiliki gambaran tentang kemampuan dan bentuk dari drone kelas MALE ini.

Nantinya, drone ini mampu terbang dengan ketinggian maksimal 23.000 kaki dan radius terbang dari pusat kendali ialah 250 kilometer (km). Saat menjalankan misi, drone jenis ini bisa terbang non stop selama 24 jam.

"Saat ini dirancang mampu terbang 24 jam di udara karena didesain untuk jaga perbatasan terluar yang jauh," tambahnya.

Sejalan dengan pengembangan drone jenis MALE, PTDI juga sedang melakukan pembuatan roket untuk mendukung operasional drone. Roket jenis ini dirancang mampu menembak sasaran dengan radius efektif 5-6 km.


"Senjatanya masih open, tapi kita rencanakan yang dibuat oleh PTDI yakni RD 702. RD 702 ini bisa menembak dengan radius 5-6 km," sebutnya. (Detik)

South Korean Navy Decommissions Six Ships

25 Januari 2016


Six decommissioned South Korean Navy ships, pictured at Jinhae naval base. From left to right, four Chamsuri patrol boats, the Po Hang-class corvette ROKS Kim Chon, and the Ulsan-class light frigate ROKS Seoul. Philippine Navy set to receive Mokpo (PCC 759)  (photo : RoK MoD)

The Republic of Korea Navy (ROKN) has decommissioned six ships, comprising a light frigate, a corvette, and four Chamsuri fast attack patrol boats. The decommissionings took place on 31 December 2015 at Jinhae naval base.

ROKS Seoul (FFG 952), a 102 m, 1,500-tonne Ulsan-class light frigate, was withdrawn after 34 years of service. According to an ROKN statement, Seoul - which was assigned to the ROKN's Third Fleet Command when in service - is scheduled for use as a platform for security education.

The Ulsan class entered service from 1981 onwards, as part of an programme to build indigenous ships, and served as the navy's primary surface ships until the KDX-series destroyers began entering service in the late 1990s. Seven Ulsan frigates remain in service.

The navy also decommissioned the 88 m, 1200-tonne Po Hang-class corvette Kim Chon (PCC 761). The ship, which entered service in 1986, may be used as a training platform or could be transferred to another navy, according to the ROKN statement. Eighteen of the 24 ships-in-class remain in service.

Two of the already-decommissioned corvettes have been transferred to other navies, with the Philippine Navy set to receive Mokpo (PCC 759), while the Peruvian Navy received Kyong Ju (PCC 758) - since renamed BAP Ferré - in October 2015.

The four decommissioned Chamsuri patrol boats - 283, 285, 288, and 291 - appear to be 33 m, 147-tonne variants. The future of the four boats is unclear, although a number of similar hulls have been transferred to other navies after decommissioning. More than 60 of the class remain in service.

(Jane's)

Wulung, Drone Pertama di ASEAN yang Berstandar Industri Pesawat

25 Januari 2016


 Wulung UAV produksi PT Dirgantara Indonesia (all photos : Detik)

Tak tanggung-tanggung, PTDI melibatkan 100 insinyur hingga mekanik pesawat untuk melahirkan drone siap produksi.

Selama proses ujicoba hingga sertifikasi, PTDI memakai 5 unit drone. Bila berhasil mengantongi sertifikat dari IMAA, Wulung akan menyerahkan 3 unit kepada Kementerian Pertahanan pada Februari 2016, sedangkan sisanya dipakai untuk tahap pengembangan drone fase berikutnya.

"Kami sudah buat 5 pesawat, yakni 3 diserahkan ke Kemhan, 1 kita diserahkan ke Balitbang (TNI), 1 sebagai pesawat untuk development," tambahnya.

Setelah masuk fase produksi, PTDI mampu melahirkan 1 unit drone jenis Wulung siap terbang dalam waktu 5 minggu. PTDI mengaku komponen lokal pada drone jenis Wulung telah mencapai 75%.



"Komponen lokal di atas 75%. Airframe bikin sendiri, yang belum komponen elektronik, pilot control, dan kamera belum ditemukan (diproduksi) di Indonesia," sebutnya.

Jakarta -Wulung merupakan pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) atau drone yang diproduksi oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Dalam waktu dekat, Wulung akan mengantongi sertifikat tipe siap produksi dari Indonesian Military Airworthiness Authority (IMAA).

Bila sertifikat terbit, Wulung diklaim sebagai drone pertama di Asia Tenggara yang mengikuti standar industri penerbangan, yakni mulai material, proses hingga kualitas.

"Di Asia Tenggara yang mengikuti standar pesawat baru Indonesia," kata Chief Engineer untuk PTTA, PTDI, Bona P Fitrikananda, kepada detikFinance, Senin (25/1/2016). (Detik)

Ini 'Si Wulung', Drone Buatan PTDI yang Terbang Hingga Radius 120 Km



Jakarta -PT Dirgantara Indonesia (PTDI) memperoleh penugasan pemerintah untuk melakukan proses produksi Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) atau drone. Tahap awal, PTDI hampir menyelesaikan sertikat tipe (type certificate) PTTA Wulung. 

PTTA Wulung merupakan hasil pengembangan drone yang awalnya dirancang oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Setelah keluar hasil prototype drone bernama Wulung, selanjutnya PTDI diberi tugas oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan) untuk melakukan tahap sertifikasi hingga produksi.

Secara bentuk PTDI tidak melakukan perubahan, namun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) produsen pesawat terbang ini melakukan perombakan dari material hingga sistem drone tersebut.



"Pesawat ini bentuk luar luar mirip dengan dikembangkan oleh BPPT, tetapi secara dalamannya sudah jauh berbeda yakni mulai dari material dan proses pembuatan. Kemudian sistem itu sudah jauh berbeda dengan yang dipakai dan dikembangkan teman-teman BPPT," kata Chief Engineer untuk PTTA, PTDI, Bona P Fitrikananda, kepada detikFinance, Senin (25/1/2016).

PTDI melakukan persiapan proses produksi untuk Wulung sejak 2014. Wulung sudah menjalani berbagai uji agar bisa mengantongi sertifikat tipe. Pada akhir Januari 2016, Wulung ditargetkan bisa memperoleh sertifikat tipe dari Indonesian Military Airworthiness Authority (IMAA). 

Bila proses sertifikasi tuntas, Wulung telah memenuhi standar industri penerbangan dan siap diproduksi massal. Rencananya, 3 unit Wulung bakal diserahkan kepada pemesan, yakni Kementerian Pertahanan (Kemhan) mulai awal Februari 2016, setelah sertifikat tipe terbit.



Selain itu, Bona juga menjelaskan, fungsi drone made in Bandung ini yakni dirancang untuk melakukan misi pengawasan, pemantauan, hingga intelijen alias mata-mata. Saat terbang, Wulung mampu terbang dari pusat take off hingga radius 100-120 kilometer (km), dan mampu terbang selama 4 jam non stop. Wulung mampu terbang dengan ketinggian 8.000 kaki (feet).

"Wulung bisa terbang sejauh 100-120 km," sebutnya. (Detik)

Kandungan Lokal 75%, Wulung Si Mata-mata Dikerjakan 100 Insinyur RI



Jakarta -PT Dirgantara Indonesia (PTDI) mengerahkan 100 insinyur dalam proses pengembangan dan sertifikasi Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) atau drone bernama Wulung. Para insinyur dan mekanik pesawat itu bekerja dari tahun 2014, agar drone yang awalnya dikembangkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bisa diproduksi, dan mengikuti standar industri penerbangan.

"Ini melibatkan 100 insinyur untuk pengembangan drone," kata Chief Engineer untuk PTTA, PTDI, Bona P Fitrikananda, kepada detikFinance, Senin (25/1/2016).

Bona menjamin, para insinyur dan mekanik tersebut merupakan putra-putri Indonesia yang bekerja di PTDI.

"Kita menggunakan insinyur PTDI dan nggak ada yang asing," tambahnya.



Kerja keras 100 insinyur dan mekanik pesawat tersebut membuahkan hasil. Akhir Januari 2016 ini, drone yang memiliki tugas mata-mata ini ditargetkan akan memperoleh sertifikat tipe dari Indonesian Military Airworthiness Authority (IMAA). Dengan dikantonginya sertifikat tipe, Wulung telah siap diproduksi massal.

"Sertifikat tipe akhir bulan dapat," sebutnya.

Pesawat tanpa awak tersebut diklaim memiliki komponen lokal sampai 75%. PTDI masih mengimpor peralatan elektronik, pilot control hingga kamera. Ke depan, PTDI akan menggandeng BUMN lainnya yakni PT LEN untuk meningkatkan komponen lokal.

"Sekarang komponen lokal di atas 75%. Dari airframe bikin sendiri, terus kita uji," tambahnya. (Detik)

Hasil Foto Mata-mata 'Si Wulung', Drone Made In Bandung



Jakarta -PT Dirgantara Indonesia (PTDI) pada awal Februari 2016 akan menyerahkan Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) atau drone bernama Wulung, kepada Kementerian Pertahanan (Kemenhan). 

Saat diserahkan, selanjutnya Wulung akan dioperasikan oleh TNI AU untuk menjalankan misi intelijen, pemantauan, dan pengawasan.

Wulung, saat bertugas, bisa terbang dengan radius 120 kilometer (km) dari pusat take off dengan ketinggian jelajah maksimal 8.000 kaki. Sebelum menjalankan misi mata-mata, pusat pengendali telah menyusun rencana rute atau terbang.

Selama terbang, Wulung bisa mengambil gambar sesuai target yang diincar.



"Sebelum terbang sudah diset mau ke mana, namun saat terbang juga bisa berubah rute sesuai perintah (pusat pengendali)," kata Chief Engineer untuk PTTA, PTDI, Bona P Fitrikananda, kepada detikFinance, Senin (25/1/2016).

detikFinance pun memperoleh beberapa gambar sasaran atau saat wulung sedang uji terbang di udara. Meski mampu terbang hingga ketinggian 8.000 dari permukaan, Wulung hanya bisa mengambil foto secara jelas dengan ketinggian antara 3.000-4.000 kaki.

"Ini lumayan tinggi sampai 8.000 kaki. Itu maksimum altitude (ketinggian), kalau kamera punya keterbatasan optimalnya 3.000-4.000 kaki," sebutnya.

Selain terbang siang, Wulung memiliki teknologi infra red, sehingga misi mata-mata tetap bisa dijalankan saat malam hari. Dengan kemampuan itu, Wulung memang akan ditempatkan di daerah perbatasan atau daerah yang rawan kegiatan ilegal.

"Misi utamanya ialah mengawasi perbatasan," tambahnya. (Detik)

First Submarine KD TAR Undergoing Refit

25 Januari 2016

KD TAR submarine during refit at Boustead shipyard Bhd (photos : RMN)

SHAH ALAM: KD Tunku Abdul Rahman, RMN’s first submarine is undergoing its first major refit. Based on the pictures taken by the RMN during the visit of its chief, Admiral Ahmad Kamarulzaman Badaruddin, it is an extensive one though nothing official has been announced on the things to be replaced on the submarine.

By all accounts – a refit or overhaul – extends a submarine’s life by repairing its hull and modernising its combat capability. It involves examining, repairing and even replacing parts of the hull; replacing worn-out cabling and piping ; and replacing or upgrading major weapons, sensors and communication systems.

Boustead DCNS Naval Corp Sdn Bhd, received the RM1.232 billion contract to provide the the refit services to KD Tunku Abdul Rahman and KD Tun Razak, it was announced on Nov 16, 2015. The company is a joint venture between Boustead Heavy Industries Corp Bhd’s (BHIC) with French ship builder DCNS SA.

In a statement released then, BHIC told Bursa Malaysia that Boustead DCNS Naval Corp Sdn Bhd, a 60:40 JV between BHIC’s unit BHIC Defence Technologies Sdn Bhd and DCNS SA, had received and accepted a letter of acceptance (LOA) from the Government at a total dual currency contract price of 169.859 million euros (RM799.28mil) and RM432.404mil (inclusive of goods and services tax).



The contractual refit period for each submarine is 18 months from the respective start dates. BHIC, is 73.15% owned by the Armed Forces Fund Board (LTAT).

It is expected that once KD Tunku Rahman refit was completed, KD Tun Razak will undergo the same programme.As only one submarine will be operational during this time period, no submariner’s training could be conducted, according to a DCI blog. Even at sea days will be limited.

It was for this reason, RMN has always call for an extra submarine or two so its underwater service could be operated optimally. As usual funding is the big hurdle.

Meanwhile, during the visit to the Kota Kinabalu base, Kamarulzaman also accepted the Bunga Mas 5, the auxiliary naval ship gifted by MISC Bhd. Previously Bunga Mas 5 was used by the RMN to escort Malaysian ships in the pirate infested Gulf of Aden. It will now be used as another floating base to augment the Tun Azizan ship already based in ESSCOM.

(Malaysian Defence)

PAF Got Additional P10 bio for New Fighter Jets

25 Januari 2016


With additional P10 billion, PAF could purchase fighter aircrafts (photo : MFH)

P11 billion more for Philippine defense

Sen. Juan Ponce Enrile was able to achieve at a recent meeting of the bicameral conference committee on the National Budget an increase of P10 billion for the Philippine Air Force for the purchase of sorely needed jet aircraft for the country.

The senator, was attending the conference committee meeting along with fellow Senators Ralph Recto and Paolo Benigno “Bam” Aquino and the members of the House contingent, when he deplored the low budget provided for national defense and security, especially in the face of growing challenges in the South China Sea.

He proceeded to cull P4 billion from the budget of the Department of Public Works and Highways (DPWH), P5 billion from the Conditional Cash Transfer (CCT) program of the Department of Social Welfare and Development (DSWD), and P1 billion from the President’s Contingency Fund – for a total of P10 billion. Together with P1 billion which Sen. Loren Legarda had been able to transfer from the Reproductive Health program, a total of P11 billion was added to the PAF budget. The original Department of National Defense budget of P116 billion was thus increased to P127 billion.

For years, critics have lamented that Philippine security is among the weakest in this part of the world. In a desperate attempt to maintain a presence in one disputed part of the South China Sea, we had to use a partly sunken Philippine vessel as a base for a contingent of Philippine Marines. It was only recently that the PAF was able to acquire jet fighters from South Korea to add to its jet trainer planes and its old propeller-driven aircraft.

Perhaps more than the other members of Congress because he once served as defense minister of President Marcos, Senator Enrile saw the need for a stronger defense posture for the country, not just to meet external threats but also to better manage the danger posed by armed separatist groups in Mindanao.

The P11 billion that Senators Enrile and Legarda were able to add to the PAF budget is a welcome boost to the overall defense of the country. We may also be getting some aid from the United States under the Enhanced Defense Cooperation Agreement, which was recently upheld by the Supreme Court, but these should merely supplement our own resources and capabilities which are the pillars of Philippine defense.

(Manila Bulletin)

Norinco WMZ-551: Ranpur APC Tontaipur Kostrad dari Negeri Tirai Bambu

25 Januari 2016


Norinco WMZ-551 kendaraan amfibi 6x6 Taipur Kostrad (photos : Kaskus Militer, Defense Studies)

Mungkin dengan alasan meningkatkan kadar ke-pedean, unit elit dari suatu kesatuan mempunyai koleksi rampur dan rantis yang berbeda dari kesatuan TNI lainnya. Sebagai controh yang unik adalah keberadaan ranpur APC (armored personnel carrier) WMZ-551 buatan Norinco (North Industries Corp) dari Cina yang digunakan unit Taipur (Intai Tempur)/Tontaipur (Peleton Intai Tempur) Kostrad TNI AD.

Berangkat dari platform panser 6×6, WMZ-551 mempunyai banyak turunan varian, jauh lebih beragam dari varian Anoa 6×6 buatan PT Pindad. WZ-551. Selain terbilang mirip dengan Anoa APC, WMZ-551 juga punya rancangan yang mirip dengan panser VAB buatan Renault Truck Defense, Perancis. Namun dari segi tongkrongan WMZ-551 tampak lebih besar ketimbang Anoa, seperti lampu utama terbenam dalam lambung, serta rentang kendaraan yang terasa lebih lebar.

Mengutip dari salah satu liputan di edisi Majalah Commando, debut panser asal Cina ini terendus saat kunjunga media ke Markas Satuan Tontaipur di kawasan Cilodong. Dari penelusuran, pada salah satu WMZ-551 terpatri kode 256WMZ551NB 2004 008, dari situ dapat diketahui bila ranpur buatan Norinco ini dibuat pada tahun 2004. Unit WMZ-551 yang digunakan Tontaipur Kostrad adalah jenis APC yang dilengkapi kubah semi terbuka, mirip kubah pada BTR-40 hasil retrofit TNI AD, plus ada bekal fasilitas winch penarik pada bagian belakang.



Secara keseluruhan, varian WMZ-551 yang ditawarkan Norinco mencakup Armored Personnel Carrier (APC), Infantry Fighting Vehicle (IFV), Self Propelled Howitzer (SPH), Self Propelled Mortar, 105 mm Assault Gun, Air Defense System variant, Recovery Vehicle, Ambulance Variant, dan Commando Post Variant. WMZ-551 APC umumnya menggunakan senjata utama berupa SMB (Senapan Mesin Berat) kaliber 12,7 mm dengan kubah coaxial, namun dalam beberapa kali tampilan, WMZ-551 Kostrad hanya dibekali senapan mesin kaliber sedang, 5,56 mm atau 7,62 mm.

WMZ-551 APC punya kemampuan amfibi dengan dukungan dua bilah propeller di bagian belakang. Propeller dapat diayunkan sekitar 180 derajat untuk meningkatkan propulsi saat mengarung di air. Saat mengarungi air, WMZ-551 dapat melaju hingga kecepatan 8 km per jam. Pasokan tenaga panser ini berasal dari mesin diesel buatan Jerman Deutz BF8L413F delapan silinder dengan turbocharger yang disokong transmisi 5S-111 GPA yang mempunyai konfigurasi 9 gigi maju dan 1 gigi mundur. Mesin ini dapat menyemburkan daya sebesar 320HP @2.500 RPM, sehingga dapat diterjemahkan laju maksimum WMZ-551 di jalan raya bisa mencapai kecepatan maksimum 85 km per jam.

Fasilitas standar WMZ-551 yang kebetulan belum ada di Anoa Pindad adalah adanya proteksi Nubika pada seluruh ruang kabin. Kemudian ada fasilitas sistem pemadam kebakaran otomatis, night vision equipment untuk pengemudi, dan run flat tyres, yang artinya jika ban terkena protektil peluru atau pecahan ledakan, maka ranpur masih dapat melaju sejauh 100 km pada kecepatan 40 km per jam. Dari sisi konfigurasi, pengemudi dan komandan ada di depan, yakni komandan di sisi kiri. Seperti halnya Anoa, kompartemen mesin ada di tengah dan penumpang di belakang.



Bila Anoa merujuk pada desain panser VAB, maka WMZ-551 berangkat dari sasis truk Southwest Automobile Works Tienma XC2030 yang merupakan tiruan truk Mercedes Benz 2060. Dari sisi perlindungan, material lapis bajanya sanggup menahan serangan proyektil kecil dan sedang. Kaca depan komandan dan pengemudi dapat ditutup plat baja, sehingga untuk navigasi dapat menggunakan periskop.

Sosok WMZ-551 pertama kali terlihat pada awal tahun 1986, saat itu WMZ-551 menjadi bagian dari 16 prototipe ranpur asal Cina. WMZ-551 dirancang oleh Jiang Hong dari Vehicle Reseach Institute Norinco. Sementara perkenalan panser ini ke publik dilakukan pada suatu pameran persenjataan di bulan November 1986 di Beijing.

Norinco sendiri merupakan mitra supplier alutsista bagi TNI, contohnya pada kanon multi laras Type 730 dan kanon hanud Type 80 Giant Bow 23 mm, dan roket anti tank PF-98 Queen Bee yang kesemuanya buatan Norinco. Terkait WMZ-551, Norinco pada medio 2008 – 2009 sudah aktif memasarkan vairian PTL05 bagi TNI AD. Integrasi dengan Anoa pun telah dijajaki, pasalnya Norinco membuat platform panser ini dengan modular.



Selain Cina dan Indonesia, WMZ-551 dalam beragam varian juga digunakan oleh Argntina, Bosnia, Burma, Burundi, Kamerun, Chad, Kongo, Gabon, Kenya, Pakistan, Nepal, Oman, Sri Lanka, Sudan, Tanzania, Venezuela, dan Zambia.

Spesfikasi Norinco WMZ-551 APC
– Manufaktur: Norinco Corp,Cina
– Awak: 2+9
– Berat: 15,8 ton
– Panjang: 6,63 meter
– Lebar: 2,8 meter
– Tinggi: 2,1 meter
– Ground clearance: 41 cm
– Mesin: Diesel Deutz BF8L413F
– Kapasitas BBM: 400 liter
– Jarak tempuh: 800 km
– Kecepatan maks di jalan raya: 85 km per jam
– Kecepatan maks di air: 8 km per jam

(IndoMiliter)

23 Januari 2016

AFP Allocates Php26-M for Repair of PAF Bell 412 Helicopter

23 Januari 2016


PAF Bell 412 helicopter (photo : pantip)

MANILA (PNA) --- The Armed Forces of the Philippines (AFP) is allocating the sum of Php26,720,550 for the acquisition of spare parts needed for the maintenance and repair of one of its Bell 412 combat utility helicopters.

Submission and opening of bids is on Feb. 2, at 9 a.m. PAF Procurement Center Conference Room, Villamor Air Base, Pasay City.

The PAF has around eight to 13 Bell 412 helicopters in its inventory.

The Bell 412 is capable of carrying 14 passengers and is capable of flying at a maximum speed of 140 knots (around 259 kilometers), cruise speed of 122 knots (226 kilometers per hour) and a range of 402 nautical miles (745 kilometers).

It is powered with an enhanced Pratt and Whitney PT6T-3D Twin Pac.

(PNA)