27 Maret 2021

Five Companies Announced for RAN Maritime UAS

27 Maret 2021

Northrop Grumman Australia has announced it will team with Leonardo to offer the AWHero vertical take off UAS (photo : Northrop Grumman)

Morrison Government equipping Navy with cutting edge intelligence capability

The Morrison Government is boosting the Royal Australian Navy’s intelligence capability through Defence’s Maritime Unmanned Aircraft System Continuous Development Program.

The Program has reached a new milestone following the selection of five respondents to progress to the next phase of the procurement process.

Raytheon Australia teams with Camcopter offer Schiebel S-100 (photo : ADF)

The Acting Minister for Defence, Senator the Hon Marise Payne today announced that BAE Systems Australia, Insitu Pacific, Northrop Grumman Australia, Raytheon Australia, and Textron Systems Australia had been shortlisted for Block One of SEA129 Phase 5.

“This Program will acquire maritime unmanned intelligence, surveillance, reconnaissance and targeting aircraft systems which will complement current sensors and systems on Navy’s ships, while boosting a ship’s area of surveillance,” Minister Payne said.

An Aerosonde by Textron Systems Australia on board a US Navy vessel (photo : US Navy)

“Today’s milestone is a result of the Morrison Government’s unprecedented $270 billion investment in defence capability over the next decade, which is equipping the Australian Defence Force with world-class, cutting edge capability.”

Block One of the program is the first phase of a 30-year continuous development program, with five-year rolling block upgrades, which will incorporate new technology upgrades.

BAE Systems teams with Skedar for Sea 129 (photo : Skeldar)

Minister for Defence Industry Melissa Price said the project was delivering on the Morrison Government’s commitment to maximise Australia’s defence industry involvement in the acquisition, operation and sustainment of defence capability.

“By incorporating new technology through block upgrades every five years, the program supports the development of Australia’s Unmanned Aircraft System industry, and provides the Navy with a leading edge maritime surveillance capability,” Minister Price said.

Insitu Pacific offer RQ-21/Integrator (photo : Insitu)

“This process will allow Australian businesses to be directly involved in providing greater situational awareness for the Fleet, in particular the new Arafura Offshore Patrol Vessels, while strengthening long-term job growth and security.”

Future opportunities will be available in forthcoming Blocks of SEA129 Phase 5 from 2024.

Kadislitbangad Tinjau Produksi Rantis P6 ATAV Gen III

27 Maret 2021

Kunjungan ke wokshop produksi PT SSE (all photos : Dislitbangad)

JAKARTA - Kepala Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AD  Brigjen TNI Terry Tresna Purnama.,S.I.Kom.,M.M, didampingi Perwira Ahli Material Utama Kolonel  Inf Slamet Riyanto.,S.Ag.,M.M.  meninjau Workshop  produksi  kendaraan taktis (Rantis)  P6 ATAV Generasi III yang diproduksi oleh  PT. Sentra Surya Ekajaya,  di Tanggerang pada hari tanggal 25 Kamis (25/3/2021). 

Dalam sambutanya, Kadislitbangad Brigjen TNI  Terry Tresna Purnama.,S.I.Kom.,M.M, merasa kagum dan bangga bahwa begitu pentingnya penelitian dan pengembangan secara adaptif. Disampaikan Kadislitbangad  bahwa Dislitbang TNI AD  memiliki 150 alat uji yang canggih dan telah disiapkan oleh pimpinan TNI AD, dimana dalam proses pengujianya melalui mekanisme dan prosedur yang berlaku dan telah ditentukan apapun bentuk bahan yang akan diuji. 

Dengan tersedianya alat uji yang ada di Dislitbangad dalam pengembanganya tidak bisa lepas dari mitra, terlebih mitra PT Sentra Surya Ekajaya (PT SSE), industri pertahanan (Idhan) alutsista bidang kendaraan militer yang merancang dan memproduksi Ranpur, Rantis dan Ransus yang selalu bernovasi tanpa henti dan mengikuti perkembangan teknologi pada setiap tahunya. 

Kadislitbangad mengatakan, perkembangan teknologi ini  agar senantiasa dapat mengikuti perkembangan jaman dan kebutuhan tuntutan serta tantangan tugas ke depan. Dislitbangad  yang bersinergi dengan mitra akan dapat mengakselerasi kemajuan dan kemampuan industri militer di dalam negeri.


“Dengan demikian, hasil penelitian Dislitbang tidak hanya sebatas penelitian dan pengembangan tanpa adanya tindak lanjut sedangkan kebutuhan alutsista militer semakin berkembang mengikuti perkembangan jaman sesuai tuntutan dan tantangan tugas kedepan yang semakin komplek dan adaptif, “ ujar Kadislitbangad. 

Dalam penerimaan kunjungan yang dihadiri oleh Direktur  Utama PT SSE,  Eka Suryajaya, menyampaikan apresiasinya kepada Kadislitbangad atas waktunya dapat berkunjung ke PT.SSE ini. 

“Mudah-mudahan dapat meningkatkan kerjasama dibidang penelitian dan pengembangan terutama bidang Indhan alut sista kendaraan militer pada perancangan dan produksi Ranpur, Rantis dan Ransus secara inovatif dan kreatif dengan menggunakan tenaga ahli orang Indonesia asli yang mayoritas lulusan ITB, “ tuturnya. 

PT Sentra Surya Ekajaya merupakan  perusahaan produsen kendaraan Armored milik swasta terkemuka yang  berkomitmen dalam mengembangkan keahlian dan teknologi bidang produk militer Indonesia.


Sejak didirikan  PT. Sentra Surya Ekajaya telah berkomitmen dan  berhasil memproduksi dan  mengembangkan berbagai jenis kendaraan tempur dan taktis multi misi untuk  memenuhi kebutuhan kendaraan militer baik konsumsi untuk TNI AD khususnya, juga untuk TNI pada umumunya secara adaptif.  

PT Sentra Surya Ekajaya (PT SSE) adalah Indhan alut sista di bidang  Kendaraan Militer yang merancang dan memproduksi Ranpur, Rantis dan Ransus diantaranya type P2 Komando, P2 APC serta P2 KM dan P6 ATAV dengan aneka variantnya yang kini sudah dipergunakan serta  menjadi peralatan pertahanan TNI. 

Dalam kegiatan kunjungan tersebut PT SSE memaparkan aktifitasnya serta berdiskusi mengenai pencapaian saat ini serta pengembangan untuk menuju industri pertahanan dalam negeri masa depan yang maju serta strategis.. 

Usai paparan, Kadislitbangad berkesempatan  mengunjungi  fasilitas engineering, berdiskusi mengenai engineering and design method, product development processes hingga implementasinya pada fase analisis dan perancangan serta pengolahan data untuk proses manufacturing.


Selanjutnya  peninjauan fasilitas manufakturing PT SSE, yang meliputi peninjauan keseluruhan kegiatan fabrikasi mulai dari parts inspection, pembuatan komponen, perakitan akhir hingga quality inspection produk jadi.  Di dalam rangkaian kunjungan fasilitas itu pula Kadis Litbang meninjau beberapa prototipe P2 APC, P2KM, P6 ATAV V3 serta melihat proses pengembangan P2 APC dalam fase full scale mock-up.

Harapan ke depan produk unggulan untuk  produk unggulan - P6 ATAV, - P2 Rantis/APC, - P2 KM, dimana P6 – ATAV All Terrain Assault Vehicle merupakan  kendaraan militer pasukan khusus yang mampu melakukan berbagai misi cross over. P6 ATAV dirancang untuk memungkinkan awak bersenjata dengan kecepatan tinggi, kuat dan cepat intervensi kendaraan jarak jauh 4x4 untuk respon cepat terhadap situasi taktis dengan keunggulan kritis di semua medan penaklukan dan dapat diangkut dengan Helikopter underslung atau di dalam Hercules C130. serta   P2 – KM Armoured Reconnaissance Vehicle merupakan kendaraan pengintai lapis baja kemampuan manuver luar biasa, dilengkapi dengan stasiun senjata jarak jauh untuk senapan mesin 7,62 mm - 12,7 mm dan berbagai optronic untuk misi pengintaian.

Hadir dalam kunjungan Kadislitbang TNI AD di PT SSE. Eka Suryajaya - Direktur Utama, Yusuf Nurdin - Direktur Technologi. Billy Sanjaya - Manager Procurement. Budhi Murniawan – Engineer

Lawmaker Says Navy Should Get All 16 Warships By 2025

27 Maret 2021

Philippine Navy frigate (photo : PN)

Surigao del Sur Representative Johnny Pimentel is calling on the Congress to provide the additional appropriations needed for the Philippine Navy’s expedited acquisition of the new warships in the annual national budgets from 2022 to 2025.

The lawmaker said the Philippine Navy should get all 16 warships, 4 frigates and 12 corvettes, by 2025 an not 2028.

“Coupled with strong diplomacy, we need highly visible warships to demonstrate our readiness to protect and enforce our rights over our 200-nautical mile exclusive economic zone,” Pimentel said in a statement as quoted by Inquirer.net.

“Instead of getting these 16 new combat ships in phases between now and 2028, the Navy should get them all by 2025,” he said.

The lawmaker said the Department of National Defense should advance by 3 years the acquisition 6 new warships following China’s repeated incursions in the West Philippine Sea.

26 Maret 2021

New RAN ASW Capability to Include Towed Arrays for Anzac-class Frigates

26 Maret 2021

Anzac-class frigate currently equipped with Spherion B hull-mounted bow sonar, fitted for but not with towed-array sonar (image : GD)

The Royal Australian Navy’s (RAN’s) eight Anzac-class frigates are, about 16 to 21 years after commissioning, to be equipped with towed array sonar systems, the Australian Department of Defence (DoD) has disclosed.

In a 21 March notification on the AusTender website, the DoD said a Request for Information (RFI) would be released “within the month” in relation to Project Sea 1408: a consolidation of Sea 1408 Phase 3 Project - Torpedo Self Defence and Project Sea 5014 Phase 2 Anzac Towed Array Sonar.

(Jane's)

Visits Vietnam Naval Academy Simulator

26 Maret 2021

Vietnam Naval Academy simulator (all photos : VietDefense)

We've seen the Laguna ship simulator at the Vietnam Naval Academy used to train future navy officers...but did you know theres also a Kilo-class submarine simulator that utilizes the same virtual technology?

Not sure if this is an alternative setup for the current simulator at the naval academy or if it's a separate system altogether.

Like the original simulator however it was likely exported from Russia.

(VietDefense)

Kementerian BUMN Ungkap Target Holding Pertahanan pada 2024

26 Maret 2021

Holding industri pertahanan ditargetkan masuk 50 Defence Global Company pada tahun 2024 (photo : Asep Dede)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menargetkan holding industri pertahanan atau Indonesia Defence Club (IDC) dapat masuk dalam top 50 defence global company atau 50 perusahaan teratas dunia di bidang pertahanan pada 2024. Hal itu disampaikan Wakil Menteri BUMN Pahala Mansury saat Focus Group Discussion (FGD) di Gedung Grha Pindad, Bandung, Jawa Barat, Rabu (24/3).

"Target ini akan tercapai melalui peningkatan kapabilitas serta peningkatan revenue dan income melalui strategi bisnis, teknologi, dan keuangan yang terencana dengan lima prioritas Kementerian BUMN," ujar Pahala dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (24/3).

Pahala menyampaikan klaster BUMN industri pertahanan tengah berproses menjadi holding dengan brand Defence Industry Indonesia atau Defend ID yang dipimpin PT Len Industri (Persero) ditunjuk sebagai leader dengan anggota PT Pindad (Persero), PT Dahana (Persero), PT Dirgantara Indonesia (Persero) dan PT Pal Indonesia (Persero).  

"Memiliki visi menjadi industri pertahanan nasional yang maju, kuat, mandiri, berdaya saing dan terkemuka di regional Asia, holding BUMN pertahanan ini ditargetkan rampung pada tahun ini," kata Pahala.

Wakil Menteri Pertahanan Letjen TNI Muhammad Herindra menyambut positif pelaksanaan FGD ini untuk menginventarisir aspirasi pemangku kepentingan industri pertahanan. Kata Herindra, pemerintah telah mempersiapkan landasan hukum yang mencakup industri pertahanan, pembinaan industri pertahanan, pengadaan alat pertahanan dan keamanan di lingkungan Kemhan dan TNI serta UU Cipta Kerja.

"Semuanya harus saling bersinergi antarpemangku kepentingan pertahanan dan BUMN industri pertahanan diharapkan menjadi lokomotif kemandirian industri pertahanan," ungkap Herindra.

Ketua Organizing Committee BUMN industri pertahanan yang juga Direktur Utama PT Len Industri (Persero) Bobby Rasyidin mengatakan, keterlibatan para pemangku kepentingan merupakan bentuk penyelarasan antara kebutuhan alpalhankam dengan kemampuan industri pertahanan guna mencapai Minimum Essential Force (MEF) pada 2024 seperti diamanahkan Rencana Pembangunan Jangan Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

Bobby menyampaikan FGD juga membahas tentang riset, inovasi, dan pengembangan teknologi yang merupakan pilar penting dalam mempertahankan keamanan nasional. "Riset dan inovasi juga tidak terbatas pada pengembangan alpalhankam saja, namun termasuk di dalamnya strategi perang, serta pengumpulan informasi," kata Bobby.

(Republika)

Australia Selects Saab 9LV Combat System for New Vessels

26 Maret 2021

With this announcement means Saab’s CMS will be equipped on six of the RAN’s classes of vessels: Anzac, Canberra, Supply, Arafura, Mine Countermeasures and Military Survey Vessels (image : NavalNews)

Defence Industry Minister Melissa Price has confirmed the selection of the Saab 9LV combat system for the RAN’s planned mine warfare vessels and survey vessels.

To be based on the same Luerssen OPV80 design as that of the Navy’s planned 12 Arafura class offshore patrol vessels, the new vessels will be the fifth and sixth vessel classes in the RAN to operate Saab’s combat system.

“We’re proud this expansion will now see us equip six of the Royal Australian Navy’s classes of vessels: ANZAC, Canberra, Supply, Arafura, Maritime Mine Countermeasures, and Military Survey Vessels,” a SAAB statement on LinkedIn reads. “In addition, we are also delivering the Australian Interface for the Hunter class frigates and Hobart class destroyers.”

The Commonwealth announced in January 2021 that the new mine warfare and survey ships would be based on the same design as that of the Arafura class, although has not yet specified how many of each vessel will be required nor when they will be built.