24 Juli 2024

PH Eyes Defense Pacts with 3 More Countries

24 Juli 2024

FAIC-M squadron of Philippine Navy (photo: PN)

MANILA – The Philippines is looking to sign a Reciprocal Access Agreement (RAA) with Canada, France, and New Zealand. Department of National Defense (DND) Secretary Gilberto C. Teodoro Jr. has said.

"We are going to work on an RAA hopefully with Canada, with France, (also) with New Zealand and with other countries that escaped my memory," Teodoro said in an interview with ABS-CBN News Channel on Monday afternoon.

The DND chief also said a similar pact with these countries will center on interoperability between their military forces.

"They will all look the same, they will allow (the) Armed Forces of these different countries to operate with the Philippine Armed Forces within the Philippine territorial jurisdictions and vice versa so it will increase interoperability between these countries," he added.

The country's first RAA signed with Japan last July 8, aims to lift restrictions on military-to-military exchange between the Armed Forces of the Philippines and Japan Self Defense Force.

The DND chief said he hopes to start talks with these countries on a possible RAA by next year.

"Hopefully by next year, it is not easy to negotiate the RAA, and that's why we want a Defense Transformation Bill to come out because our staff is limited," he added.

However, despite the DND only having 267 employees, Teodoro said that negotiating and finishing the RAA with Japan is a big accomplishment.

"I'm very proud with what everybody is doing in this department despite its handicap so I hope our legislators listen and capacitate us so that we can do more," he added. 

(PNA)

Tawaran Kapal Selam S26 Made in China dan Dinamika Geopolitik Global

24 Juli 2024

Kapal selam diesel AIP S26 (photo: Sinodefence)

Kementerian Pertahanan bersama dengan Mabes TNI dan Mabes Angkatan saat ini sedang melakukan evaluasi terhadap usulan rencana kebutuhan anggaran pengadaan sistem senjata untuk periode 2025-2029 yang dibiayai oleh skema Pinjaman Luar Negeri (PLN) dan Pinjaman Dalam Negeri (PDN).

Ketiga Angkatan TNI sudah mengajukan rencana kebutuhan anggaran akuisisi sistem senjata kepada Kementerian Pertahanan sejak beberapa bulan lalu. Setelah kegiatan evaluasi di Kementerian Pertahanan selesai, usulan itu akan diajukan kepada Menteri Pertahanan untuk disetujui sebelum diusulkan kepada Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas.

Apabila mendapatkan persetujuan dari Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, usulan rencana kebutuhan anggaran pembelian sistem senjata akan dicantumkan dalam Daftar Rencana Pinjaman Luar Negeri Jangka Menengah (DRPLN-JM) 2025-2029 dan Daftar Kegiatan Pinjaman Dalam Negeri (DKPDN) 2025-2029.

Berapa nilai alokasi Blue Book 2025-2029 untuk Kementerian Pertahanan sampai saat ini masih misteri, sebab hal demikian merupakan kewenangan pemerintahan baru. Namun terdapat spekulasi bahwa nilai alokasi Pinjaman Luar Negeri (PLN) bagi belanja sistem senjata akan berkisar antara US$ 25 miliar hingga US$ 35 miliar.

Menurut perkiraan, TNI Angkatan Udara akan menjadi penerima terbesar PLN, disusul oleh TNI Angkatan Laut dan TNI Angkatan Darat. Apabila perkiraan demikian benar, konfigurasi demikian tidak berubah dari alokasi penerima PLN pada periode 2020-2024 di mana alokasi final PLN senilai US$ 25 miliar.

Pada pembangunan kekuatan pertahanan kurun masa 2025-2029, TNI Angkatan Laut diperkirakan akan mendapatkan alokasi belanja pengadaan sistem senjata utama seperti kapal fregat dan kapal selam dari Kementerian Pertahanan. Akuisisi kedua sistem senjata merupakan lanjutan dari kegiatan serupa pada MEF 2020-2024.

Luyang III/Type 052D DDG (photo: USNI)

Sebab, TNI Angkatan Laut memerlukan lebih banyak kapal selam dan fregat baru guna menggantikan kapal selam dan fregat lama yang usia operasionalnya sudah melebihi 30 tahun.

Selama MEF 2020-2024, Kementerian Pertahanan melakukan pembelian dua kapal selam kelas Scorpene Evolved dan dua kapal fregat Thaon Di Revel. Walaupun pada MEF 2010-2014 Kementerian Pertahanan mengimpor tiga kapal selam DSME 209/1400 dari Korea Selatan, kinerja kapal selam tersebut tidak sesuai dengan yang diharapkan dan cenderung menjadi beban bagi TNI Angkatan Laut.

Walaupun pembangunan kekuatan pertahanan era 2025-2029 belum dimulai, China kini gencar menawarkan kapal selam S26 yang sebelumnya gagal dibeli oleh Thailand karena pihak pertama gagal memenuhi kebutuhan pihak terakhir.

Saat itu China menjanjikan bahwa kapal selam AIP tersebut akan dilengkapi sistem pendorong MTU 396 buatan MTU, Jerman. Akan tetapi pemerintah Jerman menolak menerbitkan lisensi ekspor kepada China untuk sistem pendorong yang dikenal andal tersebut karena alasan embargo terhadap Cina sejak peristiwa pembantaian Tiananmen pada 1989.

Penolakan pemerintah Jerman tidak mengejutkan, antara lain karena Jerman dan negara-negara Barat berupaya mempertahankan keunggulan teknologi mereka, sementara di sisi lain China dikenal kerap melaksanakan reverse engineering tanpa izin dari negara produsen.

Penawaran kapal selam S26 merupakan satu paket dengan penawaran kapal perusak Type 052D dengan harga murah apabila Indonesia membeli keduanya. Baik penawaran S26 maupun Type 052D sebenarnya sudah dilakukan sejak beberapa tahun silam, akan tetapi Indonesia lebih tertarik dengan penawaran dari Naval Group dan Fincantieri.

Nampaknya China tidak putus asa dengan penawaran tersebut dan kembali menyodorkan paket kapal selam dan kapal perusak menjelang dimulai pembangunan kekuatan pertahanan periode 2025-2029. Terhadap penawaran kapal selam maupun kapal perusak dari China, terdapat beberapa hal yang sebaiknya harus diperhatikan oleh Indonesia.

Mesin MTU 396 buatan MTU Jerman (photo: MTU)

Pertama, pertimbangan geopolitik. China memang salah satu kekuatan besar ekonomi dunia sekaligus anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Namun perlu diingat pula bahwa China sedang berupaya membangun tatanan dan norma sendiri dalam hubungan antar bangsa, khususnya di kawasan Indo Pasifik, yang cenderung tidak sesuai dengan kepentingan nasional Indonesia dan hukum internasional.

Selain melakukan bullying kepada negara lain, China pun berupaya mengubah hukum internasional dengan memaksakan penafsiran-penafsiran sepihak yang ditolak oleh-negara lain. Cara China memajukan kepentingan nasionalnya tidak lebih baik daripada yang dilakukan oleh Amerika Serikat, walaupun China mengeklaim sebagai kekuatan alternatif terhadap Amerika Serikat.

Kedua, potensi konflik di Laut China Selatan. Walaupun tidak mengakui klaim nine dash line China di Laut Cina Selatan, Indonesia hendaknya tidak naif bahwa Indonesia tidak memiliki potensi konflik dengan China hingga 20 tahun ke depan.

Apakah pelanggaran kapal-kapal pemerintah China terhadap wilayah Zone Ekonomi Eksklusif dan perairan teritorial Indonesia selama 20 tahun terakhir tidak cukup untuk meyakinkan Indonesia bahwa China memiliki ambisi teritorial terhadap hak berdaulat dan wilayah kedaulatan Indonesia?

Meskipun Amerika Serikat juga melakukan pelanggaran terhadap hak berdaulat dan wilayah kedaulatan Indonesia, akan tetapi negara itu tidak mempunyai ambisi teritorial terhadap Indonesia.

Ketiga, integrasi sistem. Indonesia selama ini mengakuisisi beragam sistem senjata utama dari negara-negara Barat, di mana integrasi antar sistem senjata tersebut lebih mudah apabila Indonesia berniat melakukannya.

Seandainya Indonesia membeli kapal selam S26 dan kapal perusak Type 052D, integrasi dengan sistem senjata buatan Barat akan penuh tantangan dari aspek politik maupun teknis. Integrasi antarkedua sistem harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari pemerintah negara-negara Barat, sebab Indonesia terikat dengan lisensi ekspor yang telah diterbitkan sebelumnya.

Keempat, penguasaan teknologi kapal selam. Di mana benang merah antara penguasaan teknologi melalui akuisisi kapal selam kelas Scorpene Evolved dengan kapal selam S26 apabila Indonesia setuju membeli kapal selam buatan China? Apakah tawaran kapal selam S26 akan berkontribusi pada penambahan pengetahuan dan keterampilan insinyur dan teknisi Indonesia dalam penguasaan teknologi kapal selam?

Menurut pengetahuan penulis, diskusi antara Kementerian Pertahanan dengan China Shipbuilding Trading Co, Ltd tentang kapal selam S26 tidak menyentuh tentang kemitraan industri, sementara belum jelas pula apakah China State Shipbuilding Corporation selaku pembuat S26 memiliki rencana untuk melaksanakan alih teknologi kapal selam kepada Indonesia.

Kelima, keandalan teknis. Keandalan teknis kapal selam S26 nampaknya di bawah kapal selam buatan Eropa seperti Scorpene Evolved dan U214. Hal itu bisa dilihat dari nilai indiscretion rate kapal selam Scorpene Evolved sekitar enam persen, sedangkan nilai indiscretion rate S26 ialah 15 persen.

Indiscretion rate yaitu waktu yang dibutuhkan kapal selam untuk melaksanakan isi ulang baterai, di mana semakin besar nilai indiscretion rate maka semakin lama pula waktu yang diperlukan oleh suatu kapal selam untuk melaksanakan isi ulang baterai. (Alman Helvas Ali)

23 Juli 2024

Latihan AMX Pitch Black 2024: TNI AU Jalankan Misi Hancurkan Pusat Kendali Lawan

23 Juli 2024

Air Maneuver Exercise Pitch Black 2024 (photos: TNI AU)

Latihan multinasional Air Maneuver Exercise (AMX) Pitch Black 2024 mencapai fase Large Force Employment (LFE), Senin (22/07/24). Dalam skenario latihan, empat pesawat F-16 Fighting Falcon TNI Angkatan Udara menjalankan misi menghancurkan bangunan pusat kendali lawan di Darwin sebagai bagian dari tim Blue Force.

Latihan ini melibatkan 20 delegasi yang dibagi menjadi dua tim besar, yaitu Blue Force dan Red Force. TNI AU, sebagai bagian dari Blue Force, bergabung dengan Angkatan Udara Australia (RAAF), yang mengerahkan empat pesawat F-35A dan bertindak sebagai Mission Commander.


Tim Blue Force juga diperkuat oleh Angkatan Udara Jepang (JASDF) dengan empat pesawat F-2, Angkatan Udara Korea (ROKAF) dengan empat F-15, dan Angkatan Udara Inggris (RAF) dengan empat Eurofighter Typhoon FGR-4.

Selain itu, Blue Force terdiri dari Aeronautica Militare (Angkatan Udara Italia), yang mengerahkan empat pesawat Eurofighter Typhoon dan empat F-35, Marina Militare (Angkatan Laut Italia) dengan dua pesawat AV-8 Harrier, serta Angkatan Udara Malaysia (TUDM), yang mengoperasikan dua  pesawat F-18 D.


Di sisi lain, Red Force dipimpin oleh RAAF sebagai Mission Commander, yang mengerahkan EA-18G Growler, dua pesawat F-35A, dan dua F-35. TNI AU turut serta dengan dua F-16 Fighting Falcon, serta didukung oleh ROKAF dengan dua pesawat F-15.

Selain misi serangan, latihan juga mencakup Air to Air Refueling (AAR). TNI AU berkesempatan melaksanakan AAR dengan pesawat KC-30A milik RAAF.

PH Army Test-fires Israeli-made Sabrah Light Tank Guns

23 Juli 2024

1st Tank Battalion with Sabrah Light Tank test-fires the 105mm main guns (all photos: PA)

MANILA – The Philippine Army’s (PA) 1st Tank Battalion has test-fired the 105mm main guns of its newly acquired light tanks from Israel.

In a Facebook post Wednesday night, the 1st Tank Battalion said the test fire was held during the familiarization and training exercise for Army personnel on the use of the Elbit Systems' Land Sabrah light tanks at the Col. Ernesto Rabina Air Base target range in Tarlac province on July 8-11.

"This event was a crucial part of maintaining the battalion's combat readiness and operational efficiency, providing both seasoned soldiers and new trainees with invaluable hands-on experience," the 1st Tank Battalion said.

It added that the rigorous training sessions included a series of realistic combat scenarios designed to test and enhance the accuracy, reliability, and firepower of the Sabrah tanks.

The 1st Tank Battalion said having these light tanks in the PA's inventory would greatly boost its territorial defense capabilities.

Armor Division commander Maj. Gen. Pedro C. Balisi Jr. was also present during the exercise to assess the performance of the Sabrah light tanks.

The Armor Division is expected to receive 20 units of the Sabrah from 2023 to 2024 aside from 10 units of wheeled armored vehicles.

Six to 10 Sabrah units are believed to be in service as of this time.

The PA's light tank acquisition project is under Horizon 2 of the Revised Armed Forces of the Philippines Modernization Program.

The contract is worth PHP9.4 billion and was acquired via government-to-government mode. 

(PNA)

Kapal Selam RSS Invincible Dikirimkan ke Singapura

23 Juli 2024

Proses RSS Invincible ketika masuk ke MV Rolldock Star (photo: DarthFreder)

Kapal selam RSS Invincible yang merupakan kapal selam pertama Type 218 SG buatan Jerman pesanan pemerintah Singapura berangkat untuk pengiriman ke Singapura pada tanggal 18 Juli 2024 lalu demikian unggahan WarshipCam pada tanggal 18 Juli 2024.

Invincible dikirim dengan cara diangkut dengan kapal cargo besar MV Rolldock Star, merupakan 1 diantara 5 kapal RollDock-S-Class milik RollDock shipping company. Kapal cargo ini mempunyai ukuran panjang 151,5m, lebar 25,4m, drfat 5,67m dengan 2 crane masing-masing kapasitas 350 ton.

Proses RSS Invincible ketika masuk ke MV Rolldock Star (photo: DarthFreder)

Kapal selam ini diluncurkan pada Februari 2019, setelah selesai menjalani beberapa tahapan pengujian, kapal ini tetap berada di Jerman agar dapat dilakukan pelatihan bagi para calon awak kapal selam Invincible class.

"Invincible" adalah salah satu dari empat SSK Tipe 218SG yang dipesan berdasarkan dua kontrak terpisah yang ditandatangani antara tkMS dan Kementerian Pertahanan Singapura masing-masing pada tahun 2013 dan 2017.

Invincible ditutup dengan tumpukan kontainer (photo: WarshipCam)

Persiapan perjalanan ke Singapura bagi Invincible dilakukan semenjak 4 Juli 2024, dimana setelah kapal selam memasuki MV Rolldock Star maka  bermacam-macam kontainer logam diletakkan di atas dek kargo Rolldock Star untuk menyembunyikan kapal.

Kontainer ini menutupi dek kapal selam dan memblokir sebagian besar conning tower, yang seharusnya terlihat di atas lambung kapal pengangkut. Cara ini dilakukan persis sama seperti saat pengiriman kapal selam RSS Impeccable yang telah sampai ke Singapura pada Juli 2023 lalu.

Invincible ditutup dengan tumpukan kontainer (photo: WarshipCam)

Tumpukan kontainer logam untuk menutupi bodi kapal selam ini dilakukan sebagai penyamaran kapal cargo ini ketika memasuki Laut Merah (Red Sea) yang rawan dengan aksi pembajakan. 

Kapal selam buatan thyssenkrupp Marine Systems (tkMS) di Kiel, German ini dijadwalkan akan ditugaskan pada Angkatan Laut Singapura/Republic of Singapore Navy (RSN) pada akhir tahun 2024.

22 Juli 2024

Royal Australian Navy Conducts Successful Firing of Naval Strike Missile

22 Juli 2024

HMAS Sydney DDG 42 (photo: dvids)

The Royal Australian Navy has achieved a major milestone in integrating enhanced lethality strike capabilities into the surface combatant fleet as directed by Government.

Hobart class destroyer, HMAS Sydney, has conducted a successful firing of the Naval Strike Missile, Navy’s replacement for the ageing Harpoon weapon system.

The firing was conducted during Exercise RIMPAC 2024, being hosted by the United States Navy off Hawaii, during a simulated activity which tested the sinking of Ex-USS Tarawa LHA1.

Firing of Naval Strike Missile from HMAS Sydney DDG 42 (photos: Aus DoD)

This is a major milestone towards achieving the objectives of the National Defence Strategy by enhancing Defence’s integrated, focused force, and a great example of Defence’s collaboration with industry and international partners.

HMAS Sydney – built at Osborne in South Australia – is a guided missile destroyer that can provide air defence and maritime protection for accompanying ships, land forces and infrastructure in coastal areas.


Quotes attributable to Minister for Defence Industry, Pat Conroy:
“This collaboration between Defence and industry partner Kongsberg Defence Australia, along with local Australian companies such as Marand, Aerobond, Australian Precision Technologies, Nupress Group, Axiom Precision Manufacturing and Stahl Metall, demonstrates the Australian Government’s commitment to working with defence industry to accelerate enhanced lethality capability integration.

“The National Defence Strategy outlined a strategy of denial as the cornerstone of Defence planning to prevent any potential adversary from succeeding in coercing Australia through force, while supporting regional security and prosperity.


“This firing was an excellent example of Defence, our international partners and Australian industry working together to accelerate the delivery of new capability to promote regional stability.

“Australia’s strategic environment is changing rapidly, the introduction of Naval Strike Missile allows our Navy’s surface ships to conduct long range maritime strike and delivers on our promise to increase the capability and lethality of our Navy.”


Quotes attributable to the Chief of Navy, Vice Admiral Mark Hammond, AO, RAN:
“HMAS Sydney’s firing of Naval Strike Missile during RIMPAC 2024 represents a significant increase in the lethality of our surface fleet, and delivers on our commitment to accelerate the introduction of enhanced lethality strike capabilities.

“Naval Strike Missile is a key capability for the lethality enhancement and survivability of our ships and enables our ability to hold an adversary at risk at greater range.

“Multi-domain strike capabilities including Naval Strike Missile are foundational to deterring any potential adversary’s attempts to project power against Australia.”

Malaysia Pertimbangkan Pemberian Denda atau Tender Ulang atas Keterlambatan Pengiriman Black Hawk

22 Juli 2024

Helikopter UH-60M Black Hawk (photo: Lockheed Martin)

Perang berlarutan antara punca kelewatan penghantaran Black Hawk

KUALA LUMPUR - Peperangan berlarutan di Ukraine menjadi antara punca kelewatan perolehan perkhidmatan sewaan helikopter jenis UH-60A Black Hawk, kata Timbalan Menteri Pertahanan, Adly Zahari.

Beliau berkata, perkara itu dimaklumkan pihak Aerotree Defence and Services Sdn Bhd iaitu syarikat yang dipertanggungjawabkan dalam kontrak perolehan perkhidmatan sewaan helikopter berkenaan.

"Proses kelulusan pihak pengawal selia Amerika Syarikat juga telah diperketatkan bagi pemodenan spesifikasi teknikal dan intergrasi sistem avionik ke atas pesawat Black Hawk UH-60A.

"Garis masa program kerja dan jangkaan penghantaran pesawat berkenaan ke Malaysia telah disemak semula dan diperbaharui pihak Slovak Training Academy dan semua yang terlibat berdasarkan kondisi rantaian bekalan terkini serta jangkaan masa kelulusan pihak pengawal selia Amerika Syarikat,” katanya.

Beliau menjawab soalan Datuk Seri Ikmal Hisham Abdul Aziz (PN-Tanah Merah) mengenai punca kegagalan syarikat Aerotree Defence and Services membekalkan UH-60A kepada Tentera Darat Malaysia mengikut waktu ditetapkan dan tindakan susulan kementerian pada sesi soal jawab di Dewan Rakyat pada Selasa.

Adly berkata, syarikat berkenaan dipertanggungjawabkan menghantar dua helikopter pada 30 Oktober 2023 dan dua buah lagi pada 30 Disember 2023.

Beliau berkata, Kementerian Pertahanan memandang serius kelewatan itu kerana ia memberi impak terhadap pengoperasian helikopter Pasukan Udara Tentera Darat (PUTD) seperti yang digariskan dalam kontrak.

"Seterusnya, (jika) berlaku sebarang kelewatan dalam penghantaran helikopter ini, kerajaan telah mengambil langkah melalui kontrak ini, akan mengenakan denda lewat ke atas kelewatan yang disebabkan oleh syarikat.

"Namun demikian, sekiranya syarikat masih gagal membuat penghantaran mengikut tarikh ditetapkan, kementerian juga boleh membatalkan perolehan ini dan menender semula sebagaimana disyaratkan kontrak,” katanya.