09 Agustus 2026

Angkatan Laut Kamboja Mulai Pelayaran dengan Fregat Barunya

09 Agustus 2026

Fregat RCNS Koh Kong Senchey 622 (photos: TV Siam Rep)

Sabtu, tanggal  8 Agustus 2026 Yang Mulia Jenderal Tea Seiha, Wakil Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan Nasional, meninjau pelatihan para pelaut Angkatan Laut Kerajaan Kamboja. 

Pelatihan Angkatan Laut berlangsung dengan kapal fregatnya, No. 622 (Koh Kong Senchey), sedang berpatroli di perairan Kamboja—di bawah arahan Yang Mulia Samdech Pichey Sena, Jenderal Bintang Lima (Bintang Emas), Tea Banh, Penasihat Tertinggi bagi Raja Kamboja.

(TV Siam Rep)

08 Agustus 2026

Australia Successful First Flight-test of KR3.0 Solid Rocket Motor

08 Agustus 2026

Koonibba Rising 3.0 solid rocket moto (photos: Aus DoD)

The first successful test flight of a fully Australian-designed and manufactured advanced solid rocket motor has taken place at the Koonibba Test Range near Ceduna, South Australia.

This milestone marks another significant step towards Australia’s sovereign guided weapons capability, demonstrating the ability of Australian industry to design, manufacture, integrate and test rocket motor technologies relevant to future tactical missile systems.

Key facts about the Koonibba Rising 3.0 solid rocket motor: 
-A 100kg-class solid rocket motor.
-Incorporates technologies and design features required for high-performance, military-relevant applications.
-Launched in a flight test conducted by Southern Launch, a South Australian industry partner.
-Rocket motors are a critical component of most missile systems, providing propulsion during flight. 
-Solid rocket motors are generally used for military applications due to their simplicity, high energy density and ability to be stored for extended periods while remaining ready to launch at short notice.


Post-flight analysis confirmed the rocket motor performed as designed throughout the test. The test also successfully demonstrated real-time monitoring of flight vehicle and rocket motor performance data and enabled the recovery of the flight vehicle for inspection and data validation.

This test builds on the successful static firing of the larger-scale DRACO solid rocket motor at Woomera in February 2026.

Koonibba Rising 3.0 was developed through the Advanced Rocket Motor Technology Demonstrator Program program, a partnership between the Defence Science and Technology Group and Thales Australia. The program brings together a network of Australian industry partners involved in component design and manufacturing.


This achievement demonstrates a viable pathway for the domestic development, manufacture, testing and evaluation of future rocket motors, reinforcing Australia’s sovereign industrial capabilities and supporting the delivery of advanced defence technologies.

Quotes attributable to Minister for Defence Industry Pat Conroy:
“This is a significant achievement for Australia’s defence industry and a major step forward in our ability to design, develop and test advanced rocket motor and missile system technologies right here in Australia.

“It showcases the strength of collaboration between Defence, Australian industry and research organisations in delivering cutting-edge capabilities that support our national security and sovereign industrial resilience.”

Lembing Sakti 2026 Bermula: Kesiagaan dan Kecekapan Warga Briged Artileri Roket Diuji

08 Agustus 2026

Eksesais LEMBING SAKTI Tahun 2026 (all photos: TDM)

GEMAS – Panglima Briged Artileri Roket, Brig Jen Dato’ Mohd Tawil bin Haji Daud telah menyempurnakan Upacara Pembukaan Eksesais LEMBING SAKTI Tahun 2026 yang berlangsung mulai 1 hingga 6 Ogos 2026. Upacara tersebut telah diadakan di perkarangan Garaj B Bateri, Rejimen Ke-51 Artileri Diraja (51 RAD). Perbarisan yang melibatkan seramai 28 pegawai dan 200 anggota Lain-lain Pangkat (LLP) telah diketuai oleh Mej Mohamad Yusri bin Maliki, Penolong Pegawai Memerintah 51 RAD.


Upacara diteruskan dengan pemakaian toha kepada barisan kepimpinan dan pegawai utama eksesais, melibatkan Lt Kol Hanasrul Imran bin Ghazali sebagai Pengarah Eksesais/Pelaku; Lt Kol Affandi bin Hussain sebagai Exercise Controller (EXCON); Lt Kol Eugene Gnanaratchagar Gnanakkan sebagai Ketua Tim Keselamatan; Lt Kol Yunos bin Abu Bakar sebagai Ketua Real Life Support (RLS); Mej Mohamad Yusri bin Maliki sebagai Ketua Tim Staff Planning Exercise (SPE) dan Mej Faizan bin Mohd Sapri sebagai Ketua Tim Evaluasi.


Eksesais LEMBING SAKTI Tahun 2026 merupakan latihan tembakan Sistem Roket Lancar Berganda (SRLB) ASTROS II serta pengoperasian aset FLYEYE UAS oleh Trup Pesawat Tanpa Pemandu. Eksesais ini bertujuan menguji dan menilai tahap kesiagaan, kecekapan serta kompetensi anggota dalam pengendalian sistem berkenaan berpandukan Sistem Latihan dan Penilaian Tentera Darat (ARTEP).


Dalam ucapan pembukaannya, Panglima Briged Artileri Roket menekankan aspek Force Protection dengan mengingatkan seluruh peserta agar sentiasa mengutamakan keselamatan diri, anggota dan peralatan sepanjang eksesais berlangsung. Beliau turut menyeru semua peserta supaya mengekalkan sikap profesional, saling membantu serta memanfaatkan peluang yang tersedia untuk bertukar ilmu, pengalaman dan Taktik, Teknik dan Prosedur (TTP).


Seusai upacara pembukaan, Panglima Briged Artileri Roket menghadiri sesi penyampaian Perintah Pegawai Memerintah, Perintah Ketua Bateri dan Perintah Trup Pesawat Tanpa Pemandu yang diadakan di garaj. Sesi tersebut bertujuan menilai tahap kesiagaan setiap elemen serta memastikan semua perancangan, penyelarasan dan persiapan akhir telah dilaksanakan dengan teratur sebelum memasuki fasa utama eksesais.

(TDM)

07 Agustus 2026

PT PAL Mulai Bangun Kapal Selam Scorpene yang Bisa Nyelam Lebih Lama

07 Agustus 2026

Seremoni first steel cutting dimulainya pembangunan membangun kapal selam Scorpene oleh PT PAL Indonesia di Surabaya (photos: PAL, Antara)

Surabaya (ANTARA) - PT PAL Indonesia mulai membangun kapal selam Scorpene untuk Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) melalui seremoni first steel cutting di Surabaya, Jawa Timur, dengan target penyelesaian selama 96 bulan atau sekitar delapan tahun.

"Alhamdulillah berjalan lancar dan pembangunan kapal selam ini akan berlangsung selama 96 bulan, kurang lebih delapan tahun," kata Kepala Staf TNI  Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Muhammad Ali di Surabaya, Jumat.

Ali mengatakan first steel cutting dilakukan sekitar 12 bulan setelah kontrak pembangunan kapal selam tersebut efektif. Saat ini progres pembangunan kapal selam Scorpene telah mencapai sekitar 20,5 persen.

Kasal berharap pembangunan kapal selam Scorpene dapat selesai sesuai jadwal sehingga proses penyerahan kepada TNI AL juga berlangsung tepat waktu.

"Kami berharap ini bisa terbangun dengan tepat waktu. Jadi, delivery time-nya bisa tepat waktu," ujarnya.

Ali menegaskan pembangunan kapal selam Scorpene melibatkan putra-putri terbaik Indonesia dengan dukungan dan pendampingan dari Naval Group Prancis.

Menurut dia, kapal selam yang dibangun di Indonesia merupakan generasi terbaru Scorpene.

"Scorpene yang kita bangun ini lebih maju dibandingkan dengan Scorpene-Scorpene sebelumnya yang dibangun di beberapa negara. Ini yang terakhir, keluaran terakhir," katanya.

Ia menjelaskan kapal selam Scorpene memiliki panjang hampir 72 meter atau sekitar 10 meter lebih panjang dibandingkan kapal selam TNI AL sebelumnya. Kapal selam tersebut juga memiliki kemampuan menyelam lebih lama dan lebih dalam.

Dari sisi persenjataan, Scorpene tidak hanya dilengkapi torpedo, tetapi juga peluru kendali.

"Selain torpedo, ia dilengkapi juga dengan peluru kendali. Ini merupakan hal yang baru mungkin bagi kita untuk menembakkan peluru kendali dari bawah air," katanya.

Ali menambahkan TNI AL telah menyiapkan satuan tugas pengawak kapal selam tersebut, termasuk mengirim personel secara bertahap ke Prancis untuk mengikuti pelatihan bersama Angkatan Laut Prancis dan Naval Group.

Menurut dia, pembangunan kapal selam Scorpene di dalam negeri merupakan langkah penting untuk memperkuat kemandirian industri pertahanan Indonesia.

"Ini merupakan hal yang sangat bagus sekali. Ini pertama kali kita membangun kapal selam dari awal, dari awal di Indonesia. Di negara-negara ASEAN mungkin kita yang pertama kali membangun kapal selam di dalam negerinya," ucapnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT PAL Indonesia Kaharuddin Djenod mengatakan first steel cutting menjadi bukti kerja sama konsorsium antara PT PAL Indonesia dan Naval Group Prancis berjalan baik.

"First steel cutting ini juga menunjukkan bagaimana konsorsium kerja sama antara Naval Group dan PT PAL Indonesia berlangsung dengan sangat baik," kata Djenod.

Ia menilai kerja sama tersebut tidak hanya terkait pembangunan alat utama sistem persenjataan (alutsista), tetapi juga menjadi sarana transfer teknologi antara Indonesia dan Prancis.

(Antara)

Pesawat Tempur Rafale dan A400M Unjuk Taring di Langit Dabo Singkep, Babak Baru Kekuatan TNI AU

07 Agustus 2026

Pesawat tempur Rafale dan pesawat angkut A400M uji kemampuan di Langit Dabo Singkep (all photos: TNI AU)

Langit Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, mendadak menjadi wahana unjuk kekuatan udara Tentara Nasional Indonesia (TNI). Di tengah latihan gabungan tiga matra TNI, formasi pesawat tempur generasi terbaru milik TNI Angkatan Udara (TNI AU) membelah angkasa, menandai babak baru modernisasi pertahanan udara Indonesia.

Sorotan utama tertuju pada kehadiran empat pesawat tempur Rafale buatan Prancis yang terbang mengawal pesawat angkut strategis A400M. Pemandangan itu menjadi simbol kemampuan baru TNI AU yang kini mulai mengoperasikan alutsista berteknologi tinggi hasil program modernisasi pertahanan.


Dalam foto dokumentasi resmi TNI AU, A400M—pesawat angkut terbesar yang kini dimiliki Indonesia—terlihat terbang di udara dengan dua Rafale mengawal di sisi kanan dan kiri bagian belakang. Formasi itu bukan sekadar atraksi udara, melainkan simulasi operasi tempur terpadu yang menguji koordinasi antarpesawat dalam berbagai skenario operasi militer.

Latihan gabungan terintegrasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kekuatan pertahanan yang mampu bergerak cepat, presisi, dan saling terhubung antarmtara. Di sinilah kemampuan tempur udara, laut, dan darat diuji dalam satu kesatuan operasi.


Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama TNI I Nyoman Suadnyana menjelaskan, latihan ini dirancang untuk memperkuat interoperabilitas seluruh unsur TNI.

Menurutnya, pengerahan alutsista terbaru bukan hanya menunjukkan kesiapan operasional, tetapi juga menjadi ajang menguji performa pesawat beserta personel yang mengawakinya dalam berbagai kondisi operasi.


Namun kekuatan yang ditampilkan tidak berhenti pada Rafale dan A400M.

TNI AU juga mengerahkan sejumlah aset tempur andalan lainnya, mulai dari pesawat tanpa awak (UAV), pesawat angkut Hercules C-130, pesawat intai, hingga Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat). Seluruh elemen tersebut memainkan peran berbeda dalam simulasi operasi militer yang dirancang menyerupai situasi nyata di medan tempur.


Bagi TNI AU, latihan seperti ini menjadi laboratorium untuk memastikan seluruh sistem senjata, teknologi, hingga sumber daya manusia mampu bekerja dalam satu komando yang terintegrasi. Kehadiran Rafale dan A400M pun menjadi penanda bahwa proses transformasi kekuatan udara Indonesia tidak lagi sebatas rencana, melainkan mulai diuji langsung dalam operasi lapangan.

Menurut I Nyoman, seluruh rangkaian latihan berlangsung aman dan lancar. Ia berharap latihan terpadu ini semakin memperkuat kesiapan tempur TNI AU sekaligus meningkatkan kemampuan pertahanan nasional dalam menjaga kedaulatan wilayah udara Indonesia.


Di tengah dinamika keamanan kawasan yang terus berkembang, kemunculan Rafale dan A400M dalam latihan gabungan bukan hanya menjadi demonstrasi kekuatan, tetapi juga pesan bahwa Indonesia terus membangun postur pertahanan yang modern, adaptif, dan siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

Become the First Export Customer, Australia Acquires the AIM-260 Joint Advanced Tactical Missile (JATM)

07 Agustus 2026

A close-up look at the AIM-260 JATM (photo: Flightline Visuals)

The Albanese Government is acquiring the AIM-260 Joint Advanced Tactical Missile (JATM), investing almost $736 million to equip the Royal Australian Air Force with new high speed, long-range air-to-air missiles. 

The Deputy Prime Minister and Defence Minister, Richard Marles, made the announcement today at Exercise Pitch Black in Darwin, which is Australia’s premier international air combat exercise. 

The AIM‑260 JATM, which is being acquired via foreign military sales from the United States Government will be first integrated onto Australia’s F/A-18F Super Hornet, followed by the F‑35A Lightning II and EA-18G Growler.

Through this investment, Australia will be the first country to operate the AIM-260 JATM outside the United States. 

The 2026 National Defence Strategy and Integrated Investment Program reiterated the need to invest in a layered air and missile defence architecture that can detect and counter threats.  

The acquisition of the AIM-260 JATM will provide Air Force platforms with a credible deterrent against airborne targets, complementing existing air-to-air missile capabilities and other surface-based missile capabilities across the Australian Defence Force (ADF). It will also further enhance Australia’s interoperability with the United States. 

AIM-260 JATM (image: ColbyBadhwar)

This decision builds on the Albanese Government’s earlier investments in medium‑range air defence and aerial strike capabilities, ensuring the ADF is capable, equipped and prepared to meet Australia’s strategic circumstances. 

 Quotes attributable to Deputy Prime Minister, Richard Marles: 
“This announcement is the latest milestone in the delivery of long-range, high‑tech capabilities for our Defence Force.

“The Albanese Government continues to deliver critical capabilities that will allow the ADF to strike at a longer range, deter any adversary and protect our national interests. 

“It is fitting to make this announcement at Exercise Pitch Black, which is an important demonstration of Australia’s commitment to the peace, stability and security of our region.”

Quotes attributable to Minister for Defence Industry, Pat Conroy: 
“JATM missiles are some of the most sophisticated air-to-air weapons in the world, and Australia will be the first country to operate them outside the US.

“This investment will deliver the most advanced capability for our ADF to detect and counter threats, and keep Australians safe.  

“This is made possible thanks to the Albanese Government’s record investment in Defence, including up to $36 billion over the next decade for Guided Weapons and Explosive Ordnance.”

06 Agustus 2026

Korps Marinir Adakan Kajian Meriam Howitzer 105mm LG1 MK III

06 Agustus 2026

Presentasi howitzer 105 mm LG1 MK III (photo: Korps Marinir)

Dispen Kormar TNI Angkatan Laut (Jakarta) -- Panglima Korps Marinir (Pangkormar) Letjen TNI (Mar) Dr. Endi Supardi, S.E., M.M., M.Tr.Opsla., CHRMP., CRMP., berkenan menerima Presentasi dan Diskusi Teknis Meriam Howitzer 105 mm LG1 MK III produk KNDS Prancis yang berlangsung di Golf Driving Range Cilandak, Jakarta Selatan, Senin (03/08/2026).

Pada kegiatan tersebut, Pangkormar didampingi Kepala Staf Korps Marinir, Mayjen TNI (Mar) Suherlan, Ir. Kormar, Komandan Pasmar 1 yang diwakili oleh Aslog Danpasmar 1, Asrena Pangkormar, Aster Pangkormar, Sahli A Bidang Operasi Kormar, Waaslog Kormar, Waasrena Kormar, Kadisenlekal Kormar, Danmenart 1 Mar, serta Danyon Howitzer 1 Mar.


Kegiatan diawali dengan pemaparan oleh Direktur PT Lentera Sumber Makmur Mayjen TNI (Purn) Dwi Jati Utomo mengenai kemampuan, spesifikasi teknis, serta perkembangan teknologi Meriam Howitzer 105 mm LG1 MK III. Sistem senjata artileri medan ringan ini memiliki mobilitas tinggi, bobot yang ringan, laju tembak yang optimal, serta dirancang untuk memberikan dukungan tembakan secara efektif dalam berbagai operasi tempur.

Dalam suasana diskusi yang berlangsung interaktif, dibahas berbagai aspek teknis, operasional, hingga dukungan logistik dan pemeliharaan sistem senjata. Kegiatan ini menjadi sarana bertukar informasi dan pengetahuan mengenai perkembangan teknologi alutsista modern yang dapat menjadi bahan kajian dalam mendukung peningkatan kemampuan tempur Korps Marinir TNI Angkatan Laut.


Pada kesempatan tersebut, Pangkormar menekankan bahwa setiap pengembangan kemampuan tempur Korps Marinir harus didukung oleh alutsista yang modern, andal, dan sesuai dengan kebutuhan operasional di lapangan. Oleh karena itu, setiap pemaparan teknologi pertahanan harus dikaji secara komprehensif dengan mempertimbangkan aspek kemampuan tempur, interoperabilitas, dukungan logistik, pemeliharaan, serta efektivitas penggunaannya dalam mendukung pelaksanaan tugas Korps Marinir di masa mendatang.

Melalui kegiatan ini, Korps Marinir terus berupaya mengikuti perkembangan teknologi pertahanan modern sebagai bagian