06 Juli 2016

Singapore Army Unveils New PCSV Armored Vehicle

06 Juli 2016

PCSV armored vehicle (photo : Mindef)

The Singapore Armed Forces (SAF) unveils new Protected Combat Support Vehicle (PCSV) for for the motorised infantry forces.  The PCSV will be commissioned by 2017.

The PCSV will provide improved firepower, protection and situational awareness for motorised infantry combat support and combat service support forces.

The key features of the PCSV include:

Increased Payload. The protected vehicles can carry a payload of up to 4,000kg. This allows the PCSV to be configured to carry modular load such as mortar systems, battalion casualty stations and combat supplies for different combat support and combat service support functions.

Stronger Firepower. The protected vehicles are equipped with a 7.62mm Remote Machine Gun, which is operated from within the cabin, thereby protecting soldiers who are operating the weapon from exposure to hostile fires.

Better Protection. The vehicles have ballistic and mine protection features to protect soldiers and to fulfil operational requirements.

Enhanced Situational Awareness and Coordination. The onboard C4 (Command, Control, Communications and Computers) suite of systems allow rapid information exchange with all friendly forces, increasing command and control and survivability on the battlefield. The recently commissioned Army Battlefield Internet will allow the Protected Combat Support Vehicles and Terrex Infantry Carrier Vehicles to operate on a common network, enabling the SAF’s motorised infantry forces to fight together in an integrated manner.



(Defence Blog)

05 Juli 2016

Thailand Pertimbangkan Tawaran Kendaraan Tempur Cina

06 Juli 2016


Norinco VN1 8x8 dalam pameran Defense & Security di Bangkok (photo : AAG)

Progres Pengadaan Kendaraan Tempur Thailand 2016-2021


Angkatan Darat Thailand

Untuk proyek kendaraan lapis baja beroda baru bagi Angkatan Darat Thailand, data terbaru yang muncul telah ada lagi pilihan untuk dipertimbangkan, yaitu kendaraan lapis baja beroda 8x8 VN1 dari NORINCO Cina. Tawaran ini melengkapi beberapa penawaran sebelumnya yang berasal dari Rusia yang menawarkan kendaraan lapis baja beroda BTR-82A, kemudian juga Ukraina yang menawarkan BTR-3 dan BTR-4. Dengan demikian ada tiga negara yang sudah menawarkan kendaraan mereka di Angkatan Darat Thailand.

VN1 Kendaraan infanteri amfibi beroda 8x8, merupakan versi ekspor dari kendaraan tempur infanteri beroda ZBL-09 atau Type 07 dari Tentara Pembebasan Rakyat Cina, mempunyai bobot 21 ton, panjang 8 m, lebar 3 m, tinggi 2.1 m, dan ground clearance 0.45m. Kendaraan menggunakan mesin 440 hp diesel Deutz BF6M1015C,  kecepatan di jalan mencapai 100km/h dan ketika berenang di air 8km/jam. Jelajah hingga 800km, untuk mendaki lereng curam hingga 30%, halangan parit lebar 1,8m dan lintas barikade 0.55m. Persenjataan meriam 30mm dan senapan mesin 7.62mm co-aksial dan rudal anti-tank HJ-73D dipandu sistem SACLOS dengan jangkauan 3.000 m (HJ-73 berbasis dari 9M14 Malyutka Rusia, kode NATO AT-3 Sagger sistem). HJ-73d hulu ledak tandem HEAT untuk daya ledakan dengan kemampuan menghancurkan ERA. 


ZBL-09 8x8 (photo : sinodefence)

Dengan tiga kru dan membawa tujuh pasukan infanteri (jumlah pasukan yang dapat dibawa pada kendaraan jenis IFV adalah 7, sedangkan pada tipe pengangkut pasukan atau APC bisa 10-11 tergantung kebutuhan pelanggan). Korps Marinir Angkatan Laut Venezuela adalah pelanggan pertama untuk dipasok kendaraan tempur infanteri beroda VN1 dengan pesanan sekitar 60 kendaraan infanteri amfibi VN18 (ZBD-05 versi ekspor) dan tank ringan, amfibi VN16 (ZTD-05 versi ekspor) dengan nilai total $ 500 juta. Argentina juga dilaporkan akan segera memiliki kendaraan lapis baja VN1 dengan jumlah pesanan 110 unit.


VN1 mempunyai kemampuan amfibi (photo : Joseph Dempsey)

Keluarga dari kendaraan lapis baja beroda VN1 untuk ekspor seperti ZBL-09 beberapa model diantaranya juga digunakan di Tentara Pembebasan Rakyat Cina, sebagai contoh ST1 yang dilengkapi dengan meriam tank dengan turret 105mm (Cina clone berdasarkan meriam L7 105mm Inggris) adalah kendaraan lapis baja berbasis ekspor. Kemudian kendaraan artileri, ZTL-09 atau PLZ-09 ukuran 122mm atau 155mm, peluncur roket beroda PLL-09 ukuran 120mm, sistem anti serangan udara CS/SA5 mencakup artileri 30mm senjata gatling enam laras dan rudal permukaan ke udara, kendaraan komando, kendaraan patroli lapis baja, lapis baja perbaikan, ambulans, dll.


Pintu belakang VN1 (photo : Charly Be)

Membandingkan pilihan kendaraan lapis baja beroda ban yang ditawarkan kepada Angkatan Darat seperti yang sekarang, jika hanya melihat dari desain kendaraan, maka kendaraan roda VN1 China akan menjadi yang paling canggih bila dibandingkan dengan kendaraan BTR-3E1 dari Ukraina yang dipakai militer saat ini. Dan BTR-82A Rusia yang didasarkan pada lapis baja beroda BTR-80, bahwa BTR-82A Rusia memiliki dimensi lebih kecil dari BTR-3E1.

Menurut Angkatan Darat, skuad Infanteri mekanis Thailand dapat meningkat dengan cepat dari tujuh ke sebelas jika tidak terjadi keterlambatan pengiriman kendaraan BTR-3E1.
Umpan balik dari pelatihan beberapa tahun yang lalu, membandingkan pintu masuk seperti BTR-4 dari Ukraina dan VN1 pada pintu belakang. Sebagai lapis baja beroda pintu VN1 seperti juga bila dilihat dari ZBL-09 adalah memiliki pintu belakang tidak besar sehingga tidak dapat terbuka lebar seperti BTR-4 dengan pintu yang dapat membuka ke kiri dan kanan, hal ini membuat mudah untuk bergerak lebih cepat daripada VN1 yang hanya satu pintu.

Norinco ST1 8x8 105mm (photo : Army Recognition)

Sistem senjata, jika dibandingkan pada kendaraan infanteri IFV (Infantry Fighting Vehicle) dengan BTR-82A Rusia setidaknya menara RWS dipasang artileri gun 30mm dan 7.62mm. Pada VN1 IFV seperti yang diekspor ke Venezuela dilengkapi meriam 7.62mm co-aksial dan senapan mesin 30mm dan 1 slot untuk pemasangan rudal anti-tank HJ-73d. Pada sistem senjata ini sistem turret RWS Shturm pada BTR-3E1 dan BTR-4 menjadi pilihan karena mempunyai daya tembak maksimum dengan senapan mesin 30mm, senapan mesin co-aksial 7.62mm, peluncur granat dan peluncur rudal anti-tank berpemandu laser SACLOS dengan jangkauan 5.000 m dibandingkan dengan rudal anti-tank HJ-73d dengan dipandu SACLOS hanya berjangkauan 3.000 m. 

Cina sekarang sedang mengembangkan senjata rudal anti tank generasi 3 seperti HJ-9 rudal berpemandu Laser SACLOS dengan jangkauan menembak 5,500m. Peluncur rudal anti tank ini sudah mencakup pengembangan prototipe turret tank kaliber 100mm dengan kanon artileri 30mm dengan rudal anti tank HJ-8, dll, tetapi tipe ini belum jelas akan diekspor atau tidak.

Korps Marinir Angkatan Laut Thailand

Sejak bulan Mei-Juni lalu Angkatan Laut Thailand telah berhasil megikuti pelatihan : 
- Latihan tahunan Angkatan Laut di 2016,
- Latihan RTN-US Navy Guardian Sea 2016, 
- Latihan RTN-PLA Navy Blue Strike 2016, 
- Latihan gabungan tahunan militer Thailand, 
- Latihan CARAT 2016 antara RTN - US Navy. 

Latihan-latihan ini menunjukkan ketersediaan potensi kinerja operasi gabungan antara Angkatan Laut Thailand dengan Angkatan Darat dan Angkatan Udara Thailand. Termasuk juga dengan negara sahabat seperti Amerika Serikat dan Cina.

PLZ-07 Self Propelled Howitzer 122mm (photo : sinodefence)

Dalam latihan campuran Blue Strike 2016 tahun ini adalah tahun pertama dengan Tentara Pembebasan Rakyat China telah mengirimkan banyak persenjataan yang digunakan dalam latihan di Thailand.

PLA Navy mengerahkan kapal LPD Type-071 dan beberapa tipe kendaraan infanteri seperti kendaraan artileri PLZ-07 122mm, kendaraan tempur infanteri ZBD-05, dan tank ringan amfibi ZTD-05.

Kendaraan infanteri ZBD-05 dan tank ringan ZTD-05 pada latihan ini melakukan demo untuk menembakkan amunisi bersama dengan kendaraan lapis baja beroda milik Marinir BTR-3E1. Wajar saja untuk kemudian Marinir dan Angkatan Laut Thailand telah menaruh minat pada kendaraan Cina tersebut.

Kekuatan unit kendaraan lapis baja Korps Marinir Thailand, Royal Thai Navy, pada latihan ini diisi oleh : 
- Pasukan tank dengan 5 unit tank Type 69-II yang ditransfer dari Angkatan Darat,
- Resimen Panzer lapis baja V-150 beroda 4x4 dengan senapan mesin berat M2 .50 dan MG3 sebanyak 24 unit dan 12 kendaraan lapis baja beroda 8x8 BTR-3E1.
- Resimen tempur HMMWV kendaraan bersenjata dengan peluncur rudal anti-tank.

Tank ringan Ascod 105 untuk Royal Thai Marine Corps yang akhirnya dibatalkan (image : junglekey)

Pada tahun 1996-1998 Batalyon Tank berencana untuk mengakuisisi tank ASCOD LT-105 yang dilengkapi meriam 105mm, batch pertama sebanyak 15 tank yang dipesan dari Spanyol dengan harga $ 2-3 juta, dengan nilai total sekitar 1.050 juta baht pada saat itu. 

Namun, akibat krisis ekonomi di tahun 1997 menyebabkan devaluasi baht dan memotong anggaran pertahanan. Angkatan Laut membatalkan proyek tersebut. Marinir akhirnya mendapatkan tank Tipe 69-II sebanyak 5 unit yang ditransfer dari Angkatan Darat yang mempunyai 30 tank jenis ini.

Selama beberapa tahun terakhir, RTMC telah mempelajari beberapa kendaraan lapis baja tank/artileri diantaranya adalah dari Swedia jenis CV90105-T dan CV90120-T yang dilengkapi meriam 105mm dan 120mm, kemudian juga dari Korea dengan K21-105/120 yang dipasang meriam ukuran 105mm atau 120mm dari Cockerill XC-8 Belgia.

Anggaran yang diusulkan adalah 2.500 juta baht untuk 1 resimen tank Marinir atau berjumlah 15 unit, namun setelah proyek 12 unit lapis baja beroda BTR-3E1 senilai 420 juta baht untuk Marinir, tidak ada lagi kabar selanjutnya.

Tank ringan ZTD-05 buatan Norinco (photo : AAG)

Dalam penelitian dan pengembangan kendaraan beroda ban untuk Korps Marinir Angkatan Laut menandatangani kerja sama dengan Institut Teknologi Pertahanan di Thailand (sekarang DTI). Studi dan penelitian diperlukan untuk mengevaluasi kebutuhan untuk mengembangkan prototipe kendaraan bagi Korps Marinir. Dibutuhkan waktu dan proses yang lebih lama dari pengembangan kendaraan lapis baja beroda untuk Angkatan Darat, Black Widow Spider.

Selain pengadaan 15 unit tank untuk resimen tank marinir yang telah direncanakan selama bertahun-tahun, Angkatan Laut juga melihat perlunya penggantian 24 unit panser V-150, 12 unit kendaraan lapis baja amfibi LVTP7 12 yang sudah menua dan peningkatan 24 unit AAV7A1 di batalion kendaraan amfibi.

Mungkin saja kendaraan lapis baja amfibi buatan Cina VN18 (ZBD-05 versi ekspor) dan tank ringan amfibi VN16 (ZTD-05 versi ekspor) dapat menjadi pilihan bagi Angkatan Laut Thailand, seperti halnya yang sekarang digunakan oleh Marinir Venezuela.

ZBD-05 Infantry Fighting Vehicle dengan meriam 30mm (photo : AAG)

Tank ringan amfibi ZTD-05 memiliki awak empat (komandan, pengemudi, penembak dan pengisi munisi), didukung oleh mesin diesel 550 hp dapat melaju di jalan dengan kecepatan 65km/jam dan berenang di air dengan kecepatan 25km/jam. Untuk peningkatan performa dapat menggunakan mesin khusus 1475 hp, dapat dipasang meriam kaliber 105mm (juga dapat menggunakan tipe L7 juga), dapat menembakkan senjata standar NATO termasuk rudal anti-tank yang sedang dikembangkan oleh China sendiri. Juga dilengkapi senapan mesin 7.62mm co-aksial dan senapan artileri 12,7mm.

Kendaraan tempur amfibi (IFV) ZBD-05 dilengkapi dengan meriam 30mm dan memiliki kru tiga (komandan, pengemudi dan penembak), dapat membawa delapan infanteri bersenjata. Senapan mesin dipasang 7.62mm co-aksial dan dapat dipasangi 2 peluncur rudal anti tank HJ-73.

Namun, itu semua tergantung pada anggaran yang ada di masa depan, yang akan cukup untuk memasok proyek ini atau tidak. Hal ini persis sama seperti rudal dari Cina saat ini, meskipun pengembangan efektif dan lebih dapat diandalkan. Namun, harus melihat kinerja sistem ini secara nyata. Dari latihan Blue Strike 2016 terakhir lalu, Thailand juga melihat banyak kekurangan dari sistem senjata Cina yang digunakan dalam latihan ini. 

(AAG)

RAAF Hawk Maintenance

05 Juli 2016


RAAF Hawk 127 Hawk LIFT (photo : Mark Lynam)

Over 100 jobs created as new Hawk sustainment role starts

Williamtown, Australia: BAE Systems Australia has created 116 new jobs as the Company starts providing operational maintenance to the Royal Australian Air Force’s (RAAF’s) Hawk 127 Lead-In Fighter fleet.

The Company is directly supporting the training of Australia’s next combat aircrew, delivering all Hawk maintenance support on the flight line at RAAF Bases Williamtown and Pearce. This work has created 68 jobs at Williamtown, New South Wales, and 48 at Pearce, Western Australia.

BAE Systems Australia Aerospace Director, Steve Drury, said: “For over 15 years, our Company has demonstrated its deeper maintenance know-how for the nation’s fast jet training capability. Now, BAE Systems is the total sustainment provider for the Hawk fleet, managing both deeper and operational maintenance.”

Mr Drury added: “We have expanded our skills and expertise to deliver this combined sustainment role – hiring new aircraft technicians, team leaders and maintenance support staff. We look forward to growing our enduring partnership with the RAAF to ensure Australia’s combat pilots continue to receive the best training possible.”

Under the new arrangement, BAE Systems is responsible for aircraft launch and recovery, rectifications, life support, stores and mission equipment, on-site management support and deployed operations.

Operational maintenance was previously provided by the RAAF’s 76 and 79 Squadrons. Transition to the new arrangement started in October 2015 to ensure a seamless change.

(BAE Systems)

F-5S/T AU Singapura, Macan Tua Sakti yang Paling Siaga

05 Juli 2016

F-5S dengan persenjataan (photo : Yusof)

Pernah ada masa ketika Angkatan Udara negara-negara ASEAN mengoperasikan Northrop F-5A atau F-5E/F Tiger II. Pesawat tempur yang dibagikan sebagai paket bantuan Amerika Serikat tersebut berada di garis depan, dioperasikan oleh AU Thailand, Malaysia, Filipina, Singapura, Vietnam, dan Indonesia. Semua power player di ASEAN menggunakan jet tempur ini. Namun semua kecuali satu mulai meminggirkan sang macan, termasuk TNI AU yang sampai sekarang sudah memilih Su-35 tapi belum jelas kontrak pengadaannya.

Satu yang boleh dikatakan luar biasa adalah RSAF (Republic of Singapore Air Force). Walaupun sudah mengoperasikan puluhan F-16 tercanggih dan F-15SG, namun F-5S tetap dipelihara, diupgrade, dan bahkan bisa mencatatkan prestasi. Dalam proyek F-5S, RSAF telah menciptakan varian macan terbang yang paling letal dan tidak kalah dengan pesawat tempur yang lebih baru.


RSAF F5S (photo : Philco)

RSAF mengadakan F-5E/F dalam beberapa kali batch, yang pertama melalui skema Foreign Military Sales (FMS) dari AS pada 1979 yang bila ditotal menjadi 50 unit F5E/F. Stok ini kemudian ditambah dengan pembelian F-5 dari beberapa negara termasuk Yordania dan juga Maroko yang memesan tapi kemudian dibatalkan. RSAF menempatkan F-5E/F ini di tiga skuadron: 141st , 144th, dan 149th.

Pada bulan Desember 1989, MinDef mengambil keputusan untuk melakukan program peningkatan kemampuan F5E/F menjadi suatu standar baru yang disebut F-5S dan F-5T. Hal ini perlu dilakukan mengingat teknologi di F-5E/F sudah berusia tua, mencapai 30 tahun dan tidak lagi sesuai dengan perkembangan situasi geopolitik di kawasan. Kontrak diberikan kepada Singapore Technologies Aerospace (STAe) pada Juli 1991, menunjukkan bahwa pemerintah Singapura percaya kepada industri pertahanannya sendiri. STAe pada gilirannya menunjuk subkontraktor Elbit dari Israel untuk menangani pembuatan F-5S/T tersebut.


F-5S taxiing, perhatikan probe pengisian bahan bakar di udara yang terpasang (photo : clubsnap)

Biaya yang dikucurkan untuk satu unit F-5S/T tersebut berada pada kisaran US$ 6 Juta sebuahnya, bandingkan dengan proyek MACAN dari SABCA untuk F-5E/F TNI AU yang menghabiskan US$ 40 Juta untuk 9 pesawat atau kurang lebih US$ 4,4 Juta. Selisih US$ 1,6 juta, RSAF dapat jauh lebih banyak, bahkan F-5S/T tampil seperti pesawat tempur baru. List perubahan pada F-5S/T yang dilakukan Elbit adalah pemasangan radar baru FIAR Grifo-F, kemudian penambahan HOTAS (Hands on Throttle and Stick), panel instrumen digital, dan wide angle Head Up Display buatan GEC-Marconi. Penambahan avionik pada F-5S meliputi Litton IN-93 laser-inertial navigation system, dan sistem Elisra SPS-200 RWR (Radar Warning Receiver) untuk memberikan peringatan saat F-5S/T dikunci oleh pesawat tempur musuh. F-5S/T pun mendapatkan perkuatan struktur untuk memperpanjang usia pakai plus sistem pengisian bahan bakar di udara dengan batang probe pengisian bahan bakar dengan metode drogue and chute.

Proses integrasi yang dikerjakan STAe-Elbit sendiri mengalami beberapa masalah, sehingga pengerjaan pun molor sampai dua tahun. Untungnya, setelah diberi ultimatum RSAF, Elbit berhasil datang dengan solusi. Integrasi radar Grifo-F yang makan tempat diakali dengan penambahan plug atau segmen tambahan sehingga hidung F-5S terlihat memanjang. Selain itu, satu kanon 20mm yang jadi senjata bawaan F-5E terpaksa dilepas.

Kokpit F-5T

Pengorbanan tersebut ditebus dengan kemampuan Grifo-F yang menurut literatur bahkan lebih canggih dari radar AN/APG-66 milik F-16 block 15 OCU seperti yang digunakan TNI-AU. Grifo-F merupakan radar pulse doppler yang beroperasi pada X band dengan lima moda operasi untuk menjejak sasaran di udara ( range-while- search (normal), range-while-search (adaptive), spot velocity search, single target track, dual target track, situation awareness, track-while scan, air combat, boresight acquisition, HUD acquisition, vertical acquisition dan slew modes) mampu menjejak sampai delapan pesawat tempur secara simultan, dan kemudian memilih satu dari empat moda pertempuran udara. Untuk sasaran permukaan, Grifo-F menawarkan sembilan moda pencarian sasaran di darat ( real beam map, Doppler beam sharpening , sea low, sea high, ground moving target indicator, ground/sea moving target track, air to ground ranging, freeze, expand and beacon modes, Moda lainnya termasuk raid assessment, terrain avoidance, precision velocity update, beacon landing (serupa dengan ILS) dan IFF), termasuk mengaktifkan beam sharpening (mempersempit bidang sapuan sehingga jangkauan radar lebih panjang).


RSAF F-5S pada latihan Cope Tiger (photo : thebaseleg)

Jarak deteksi dari radar ini mencapai 92km, dengan penjejakan mulai dari 72km untuk sasaran dengan radar cross section 5m2. FIAR Grifo-F sendiri dapat diintegrasikan dengan rudal semi aktif dan aktif seperti AIM-120C AMRAAM walaupun RSAF secara resmi tidak pernah mengakui kompatibilitas F-5S/T dengan rudal canggih buatan Amerika Serikat tersebut. Sebanyak 50 radar Grifo-X dibeli oleh Singapura untuk dipasang ke seluruh F-5S/T yang dimodifikasi.

Seusai disempurnakan, F-5S/T ditugaskan sebagai skadron pertahanan udara Singapura. F-5S/T terhitung sangat sering dikirimkan ke latihan berskala regional, mungkin terutama untuk menghindarkan rasa minder dari tetangga-tetangganya yang ego dan gengsinya tinggi dan mungkin malu atau bahkan iri kalau melihat armada F-16D Block-52 dan F-15SG yang canggih diturunkan dalam latihan. Saat ini seluruh F-5S/T di RSAF dalam kondisi siaga dan berdinas aktif di skadron 144 Blackite setelah Skadron 141 dibubarkan dan Skadron 144 dikonversi ke F-15SG. Yang mencengangkan, walaupun F-5S/T boleh dikata pesawat tua, namun Skadron 144 yang mengoperasikannya empat kali mencatatkan prestasi sebagai skadron yang menerima Best Fighter Squadron Award dari RSAF (1995, 2005, 2009, dan 2015) karena tingkat kesiagaannya yang sangat tinggi.

(IndoMil)

04 Juli 2016

Saab Receives First Order Under Australian Warship Agreement

04 Juli 2016


Saab’s Combat Management System, as fitted to the Royal Australian Navy’s ANZAC-class frigates. (photo : Saab)

Defence and security company Saab has received an order from the Australian Government regarding sustainment of the combat system on Australia's ANZAC class frigates. The order value amounts to AUD 37 million (approximately SEK 248 million) and covers services from July 2016 until December 2017. 

This is Saab Australia’s first order under the recently signed Warship Asset Management Agreement (WAMA). WAMA is an asset management organisation which is responsible for the overall performance and delivery of seaworthy ANZAC class warships and support infrastructure to the Royal Australian Navy (RAN). Under the long-term asset management agreement, Saab Australia, which is part of Saab business area Surveillance, will provide on-going engineering support services in both Western Australia and South Australia. 

“The agreement and this order reflect our highly successful and long term commitment to the ANZAC frigate and the Royal Australian Navy” says Dean Rosenfield, Managing Director for Saab Australia. 

“The ANZAC frigates are the trusted workhorse of the navy and Saab has played a major role in evolving the fighting capability of the ships over the last 20 years. We look forward to continue working with our local partners to ensure the ANZACs continue to fulfill Navy’s needs," says Rosenfield. 

Saab is part of the WAMA team charged with ensuring that the ANZAC Class ships remain at a high level of availability and capability for the Royal Australian Navy. 

For three decades, Saab has successfully delivered naval combat systems to the Royal Australian Navy. Together with CEA Technologies, Saab’s Anti-Ship Missile Defence (ASMD) system has delivered one the most advanced naval frigate combat capabilities in the world. 

The next generation of Saab’s Combat Management System is building on this pedigree. Commitment to innovation, continuous improvement, local production and support makes Saab the lead contender to provide the combat system for Australia’s future frigate programme. 


(Saab)

Singapore Inches Closer to Chinook and Super Puma Replacements

04 Juli 2016

RSAF CH-47 Chinook helicopter will be upgraded or replaced. (photo ; Jane's)

Singapore's defence minister Ng Eng Hen has reiterated that a decision on the winning bid to supply the Republic of Singapore Air Force (RSAF) with new medium-lift transport helicopters is imminent, with the service's heavy-lift helicopter fleet also due for upgrades or replacement.

In a media interview ahead of Singapore Armed Forces (SAF) Day, which fell on 1 July, Ng told reporters that the Ministry of Defence (MINDEF) is "finalising evaluations for the replacement", and will be announcing it "soon".

Ng did not confirm or deny recent reports claiming that the replacement programme for the RSAF's ageing Aérospatiale AS332M Super Pumas was delayed as a result of a fatal crash of a civilian H225 medium helicopter - which is derived from the same Super Puma range now owned by Airbus Helicopters - in Norway on 29 April, which killed all 13 oil workers and crew on board.

The RSAF currently operates 32 platforms from the AS332 range, comprising 18 AS332M Super Puma and 14 AS532U2 Cougar medium multirole helicopters, which serve as the service's primary tactical lift platforms and were first delivered in 1985 and 1995 respectively. Noting that the Super Puma helicopters have already been in service for around 30 years, Ng said replacements for these platforms will be acquired by 2025.

"Safety is a big issue, obviously; effectiveness is a big issue," Ng said. "And when there are developments, the evaluation committee will look into it. You cannot ignore it, and that goes for every platform."

Press agency Reuters claimed on 3 May that MINDEF has downselected offerings from Airbus Helicopters and Leonardo-Finmeccanica to provide "a dozen" helicopters for land and maritime operations, although a subsequent report indicated that all 32 platforms will be replaced under a tender thought to be worth USD1 billion.

Ng also stated that the RSAF's tandem-rotor Boeing CH-47 Chinook heavy-lift platforms will also be upgraded or replaced.

(Jane's)

Kanwa: Vietnam is Negotiating to Buy 4 Battalion S-400

04 Juli 2016

S-400 Triumf air defence missile (photos ; autolatest)

Hong Kong's Phoenix radio quoted sources from the latest Canada defense magazine Kanwa said, Vietnam is negotiating with Russia to buy air defense systems, anti-aircraft missiles S-400 Triumph.

The source said, Russia and Vietnam are rushing the deal negotiated air defense missile system S-400. If there are no problems, at the end of the Vietnam 2016 will purchase at least four battalions of S-400 Triumph.

According to documents published today Vietnam is already equipped with two missile battalions of S-300. If the negotiations between Russia and Vietnam successful, Vietnam will be classified as a third country are equipped with modern air defense systems S-400 from Russia.


In this 2016, the Vietnam media published the information, said the Vietnam also equipped with SPYDER air defense systems of Israel. Han Hoa quoted analysts said that the air defense system of Russia and Israel will help Vietnam to protect the airspace of sovereign waters.

With four battalions of S-400, Vietnam sky will be protected firmly than ever.

Air defense missile system S-400 by the Department of Design, Almaz-Antey Corporation develops, this is a much improved version with more powerful features range missile systems S-300.

The system can destroy all the objects that appear in the air under control to over 400 km, including aircraft, unmanned aerial vehicles (UAV) or ballistic missiles, at a height of 50 km and a maximum speed of up to 4,800 m/s.

Operational range of the S-300 and S-400. (image: VietTimes)

S-400 is capable of tracking 300 targets simultaneously and shoot down 36 goals. In particular, the S-400 is capable of fighting 4 times the US Patriot system.

Radio Phoenix said that at present around China have been arranged S-400 systems, India has also joined the group of countries with S-400 systems with five battalions, while China only eight battalions.

Vietnam also has been equipped with two S-300 battalions are arranged to protect the city of Hanoi and Haiphong. From the layout area S-300 to the border of Vietnam Vietnam - China is only about 160 km. If Vietnam has four more battalions of S-400, coverage of the Vietnam air defense system could spread over to China.

(DatViet)