29 September 2024

TNI AU Siapkan Satuan Antariksa, KSAU: Belajar dari AS, Australia, dan Perancis

29 September 2024

Patch Angkatan Udara dan Antariksa Prancis (photo: snake patch)

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI M. Tonny Harjono menegaskan bahwa TNI AU perlu belajar dari negara-negara yang telah lebih dulu membentuk Satuan Antariksa. 

Pernyataan ini disampaikan Tonny saat menjadi keynote speaker dalam Seminar Nasional Sains Teknologi dan Inovasi Indonesia Ke-6 di Akademi Angkatan Udara, Yogyakarta, pada Kamis (26/9/2024). 

Acara yang mengusung tema "Space Capability Development dalam Memperkuat Pertahanan NKRI Melalui Pembentukan Satuan Ruang Angkasa" ini juga disiarkan secara langsung melalui Youtube Airmen TV Dispenau.

Menurut Tonny, pengalaman dari Amerika Serikat, Australia, dan Prancis sangat penting bagi TNI AU dalam mempersiapkan pembentukan Satuan Antariksa untuk menjaga dan melindungi wilayah udara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

"Kita juga harus belajar dari pengalaman negara lain yang telah lebih dulu membentuk satuan antariksa seperti Amerika Serikat, Australia, dan Perancis untuk mendapatkan insight dan memahami best practice untuk implementasi lebih lanjut di Indonesia," jelasnya, yang diwakili oleh Gubernur Akademi Angkatan Udara Marsekal Muda TNI Purwoko Aji Prabowo.

Patch US Space Force (photo: US DoD)

"Negara-negara tersebut telah menunjukkan bagaimana ruang angkasa menjadi bagian integral dari strategi pertahanan modern," ucapnya.

KSAU mengakui bahwa pembentukan Satuan Antariksa TNI AU akan memerlukan waktu yang cukup lama. 

Dia menjelaskan bahwa beberapa negara maju pun belum sepenuhnya mandiri dalam mengembangkan teknologi ruang angkasa, dan masih perlu berkolaborasi dengan lembaga lain, terutama terkait anggaran, mengingat biaya yang dibutuhkan sangat besar. 

"TNI Angkatan Udara saat ini masih dalam tahap menguasai persiapan, baik dari segi regulasi maupun organisasi, serta penyiapan sumber daya nasional yang andal dan profesional melalui pendidikan dan pelatihan yang sesuai dengan pengembangan satuan antariksa," ungkap Tonny.

Penyediaan infrastruktur ruang angkasa, seperti fasilitas peluncuran satelit dan pusat kendali, juga dinilai penting dalam pembentukan satuan tersebut. 

"Tanpa adanya infrastruktur yang memadai, maka upaya untuk mengoptimalkan kapabilitas antariksa akan terhambat," ucapnya. 

Patch Space Force Australia (photo: ebay)

Tonny menjelaskan bahwa dunia pertahanan saat ini bergerak sangat cepat, terutama dalam penguasaan antariksa.

Ruang angkasa tidak hanya digunakan untuk eksplorasi ilmiah, tetapi juga menjadi domain strategis yang menentukan posisi dan kekuatan suatu negara dalam menjaga kedaulatan. 

"TNI Angkatan Udara sangat menyadari bahwa untuk melindungi wilayah udara nasional, kita juga harus menguasai ruang angkasa yang tepat berada di atasnya," tambah Tonny. 

Dia juga mencatat bahwa negara-negara maju seperti Amerika Serikat, India, dan Tiongkok telah berinvestasi besar-besaran dalam teknologi antariksa, menggunakan ruang angkasa untuk keperluan intelijen, pengamatan, dan pengintaian.

Menurutnya, negara-negara tersebut juga mempersiapkan kemungkinan menghadapi konflik yang dapat mengubah antariksa menjadi medan pertempuran di masa depan. 

"Situasi ini jelas memberikan tantangan tersendiri bagi Indonesia, khususnya bagi TNI Angkatan Udara sebagai garda terdepan dalam menjaga kedaulatan udara," tutup Tonny. 

"Situasi ini jelas memberikan tantangan tersendiri bagi Indonesia, khususnya bagi TNI Angkatan Udara sebagai garda terdepan dalam menjaga kedaulatan udara," imbuhnya.

28 September 2024

Pesawat N219 Sudah Masuki Tahap Produksi, Target Perdana untuk Versi Amphibi

28 September 2024

Versi amfibi N219 (image: PT DI)

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) Gita Amperiawan mengatakan, pesawat N219 sudah memasuki tahap serial produksi. “Sudah, karena kontrak sudah berjalan,” kata dia di sela Media Gathering dengan Kementerian Pertahanan di Hanggar PTDI di Bandung, Jumat, 27 September  2024.

Gita mengatakan, kontrak perdana yang sudah masuk dalam tahap pengerjaan adalah 6 unit pesawat N219 pesanan Kementerian Pertahanan untuk TNI Angkatan Darat. Dari 6 unit itu, salah satunya adalah varian N219 Amphibi. “Mudah-mudahan yang pertama di delivery itu Amphibi,” kata dia.

PTDI menargetkan pada akhir 2026 sudah memasuki proses sertifikasi. Targetnya pada 2027 proses sertifikasi rampung dan produksi perdana N219 Amphibi diserahkan pada Kementerian Pertahanan.

Gita mengatakan, pesawat N219 akan menjalani serangkaian proses sertifikasi agar bisa memenuhi persyaratan pesawat militer, termasuk untuk versi Amphibi. Pesawat N219 basic yang ada saat ini baru mengantongi sertifikasi TC (Type Certificate) yang diterbitkan Direktorat Kelaikudaraan & Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kementerian Perhubungan pada Desember 2020 lalu.

“Kalau kemudian kita menjual ke Angkatan Dareat, maka kita melakukan verifikasi namanya. Verifikasi dari semua dokumen yang sudah kita submit yang kita selesaikan dengan DKKPU, kemudian diverifikasi oleh Indonesia Defence Airworthiness Authority (IDAA), itu dikerjakan untuk bisa dijual ke militer,” kata Gita.

Gita mengatakan, selanjutnya untuk proses sertifikasi N219 Amphibi di DKPPU tidak perlu mengulang dari awal. “Akhir 2025 atau awal 2027 Insyaallah kita akan menyelesaikan (sertifikasi) Amphibi, tapi hanya amandemen TC (Type Certificate),” kata dia.  

Sebelum memasuki fase tersebut, PTDI akan melakukan serangkaian peningkatan kemampuan pesawat N219 Basic menjadi pesawat N219 Basic Amphibious. “Itu belum dipasang Float (pengapung) di bawah, tapi performance dia sudah Basic Aircraft Amphibious, itu sekaligus akan meningkatkan performance N219 Basic karena akan membawa Float,” kata Gita.

Gita mengatakan, yang terpenting dari fase pengembangan N219 adalah masuk ke pasar. “Kita harus masuk ke market, karena dari market-lah sebenarnya feedback customer itu terjalin. Jadi improvement itu harus berdasarkan requirement customer di pengoperasian, jadi kita akan lihat,” kata dia.

N219 untuk TNI AD (photo: Airspace Review)

Direktur Produksi PTDI Batara Silaban mengatakan, pengembangan N219 Amphibi tersebut mendapat bantuan pembiayaan dari Bappenas sebesar Rp 300 miliar. “Rp 300 miliar dari Bappenas untuk Amphibi,” kata dia di sela Media Gathering tersebut, Jumat, 27 September 2024.

Batara mengatakan, proses pengembangan N219 Amphibi tersebut akan dikerjakan sekaligus masuk ke serial produksi. “Dalam development kali ini betul-betul ujungnya serial produksi,” kata dia.

Pengembangan yang sedang dilakukan saat ini, kata Batara, tujuannya untuk menaikkan kemampuan pesawat N219 Basic. Dia mencontohkan desain sayap yang rancangan awalnya memiliki daya angkut 6.300 kilogram akan ditingkatkan menjadi 7 ribu kilogram. “Itu sendiri sudah jalan sekarang dengan kemampuan PTDI. Kita punya kemampuan dan fasilitas,” kata dia.

Batara menambahkan, dari 6 unit pesawat N219 pesanan Kementerian Pertahanan untuk TNI Angkatan Darat tersebut satu di antaranya N219 Amphibi. “Jadi dari 6 itu, satu konfigurasinya Amphibi. Sisanya itu militarry transport. Kalau Amphibi itu ada floating-nya,” kata dia.  

Saat ini pengembangan N219 Amphibi sudah mencapai 34 persen. “Target kita first flight itu (Semester 2) 2026, sertifikasi 2027,” tambah Batara.

Batara mengatakan, sejumlah daerah perairan sudah dibidik untuk menjadi waterbase pengujian perdana N219 Amphibi. Di antaranya Kepulauan Riau serta Karimun Jawa. “Yang sudah siap di Kepulauan Riau,” kata dia.

PTDI menargetkan akhir tanun 2027 pesawat N219 Amphibi sudah diserahkan pada Kementerian Pertahanan. “Akhir 2027 delivery ke customer,” kata dia.

Kebutuhan pesawat N219 Amphibi di Indonesia juga sudah dihitung oleh PTDI. “Ada kebutuhan dan sudah dilakukan kalkulasi untuk jenis N219 Amphibi ini kurang lebih sebanyak 54 unit. Tim PTDI sudah melakukan survei di berbagai tempat di Indonesia. Salah satunya di provinsi yang ada tourism,” kata dia.

Kepala Biro Humas Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Edwin Adrian Sumantha mengatakan, Kementerian Pertahanan berkomitmen untuk mendukung kemajuan industri pertahanan dalam negeri, termasuk PTDI.

“Kita bisa lihat dari apa yang sudah dicapai oleh PTDI ini bukan hanya mandatory tapi memang kita harus mengembangkan industri pertahanan dalam negeri kalau kita mau lebih maju lagi ke depannya,” kata dia di sela Media Gathering tersebut, Jumat, 27 September 2024.

PT DI Bidik Perakitan Akhir, MRO, Uji Terbang dan Sertifikasi KF-21

28 September 2024

KF-21 Boramae versi 2 kursi (photo: KAI)

Kota Bandung (ANTARA) - PT Dirgantara Indonesia (DI) membidik untuk terlibat dalam perakitan akhir, uji terbang, sertifikasi, kemudian pemeliharaan dan perbaikan (MRO) jet tempur KF-21 Boramae hasil kerja sama RI-Korea Selatan (KFX/IFX) manakala prototipe pesawat itu masuk tahap produksi massal.

Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Gita Amperiawan saat bertemu wartawan di fasilitas produksi PT DI, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat, menjelaskan PT DI setidaknya harus berjuang untuk masuk dalam rantai produksi pesawat hasil kerja sama RI-Korsel tersebut.

Oleh karena itu, Gita menyampaikan PT DI saat ini fokus mempersiapkan kemampuannya untuk ikut terlibat dalam produksi massal pesawat tempur generasi 4.5 KFX/IFX KF-21 Boramae.

“Harus ada keseriusan ke depan kita punya kemampuan di bidang produksi fighter (pesawat tempur). Jadi, apapun programnya di berbagai macam ofset, tujuannya cuma satu, bagaimana PT DI mampu ke depannya membangun fighter,” kata Gita Amperiawan.

Kementerian Pertahanan RI sebagai wakil Pemerintah RI menyesuaikan kontribusi dananya terhadap proyek kerja sama membangun pesawat tempur KF-21 buatan Korea Aerospace Industries (KAI) dengan Pemerintah Korea Selatan. Kontribusi yang diberikan Indonesia pun terhadap proyek KFX/IFX itu saat ini sebesar 600 miliar won atau sekitar Rp6,95 triliun dari komitmen awal sebesar 1,6 triliun won atau sekitar Rp18,5 triliun.

Lini produksi pesawat tempur KF-21 Boramae (photo: KAI)

Dari penyesuaian itu, Gita menyebut PT DI pun saat ini dalam tahap menyusun capaian-capaian apa saja yang dapat dilakukan oleh perusahaan plat merah tersebut.

“PT DI itu sedang menyiapkan untuk mampu. Itu yang pertama. Kedua, PT DI perlu menyusun semua capaian-capaian dengan biaya itu sehingga biaya yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah untuk program KFX ini memang bermanfaat (worthy). Pertanggungjawaban kami kepada bangsa dari belanja anggaran untuk KFX ini sedang kami siapkan,” kata Direktur Utama PT DI.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan RI Brigjen TNI Edwin Adrian Sumantha saat ditanya mengenai ofset KFX/IFX yang diterima Indonesia setelah penyesuaian kontribusi itu menyebut Pemerintah RI saat ini berunding soal kerja sama alih teknologi proyek kerja sama pembuatan pesawat tempur itu setelah adanya penyesuaian.

“Ada beberapa alih teknologi (ToT) akan didapatkan dari kerja sama pengembangan bersama pesawat tempur KFX/IFX, yaitu kemampuan produksi bagaimana mendesain, membangun pesawat tempur, membuat beberapa komponen meliputi sayap, ekor, beberapa bagian body belakang pesawat, dan beberapa pylon/adapter untuk persenjataan dan sensor, melakukan final assembly (perakitan akhir), uji terbang, dan re-sertifikasi untuk pesawat IFX,” kata Karo Humas Setjen Kemhan RI saat dihubungi di Jakarta pada 20 Agustus 2024.

Dia melanjutkan ToT yang diincar Pemerintah Indonesia dalam proyek gabungan itu juga terkait kemampuan operasi dan pemeliharaan, yang mencakup integrated logistics support, perawatan pesawat tempur KFX/IFX, pengembangan sistem latihan untuk pilot dan teknisi, serta kemampuan untuk menyelesaikan masalah (troubleshooting) saat operasional.

“Kemudian, kemampuan modifikasi dan upgrading, yaitu melakukan desain integrasi dan re-sertifikasi unique requirement berupa drag chute, eksternal fuel tank, dan air-refueling, serta melakukan integrasi sistem persenjataan baru, avionik, sensor, dan elektronik,” sambung Edwin melanjutkan alih teknologi yang diharapkan diterima Indonesia dalam proyek kerja sama itu.

Wakasau Pimpin Rapat Persetujuan Paint Scheme Pesawat Sukhoi 27/30

28 September 2024

Skema warna Su-27/30 TNI AU (photo: Skadron Udara 11)

Wakil Kepala Staf Angkatan Udara (Wakasau), Marsekal Madya TNI Andyawan M.P., S.I.P., M.Tr.Han., memimpin rapat persetujuan Paint Scheme (Skema Warna yang merupakan susunan atau kombinasi warna yang digunakan dalam suatu desain) Pesawat Sukhoi 27/30 di Ruang Rapat Wakasau, Mabesau, Jakarta, Kamis (26/09/2024).

Skema warna Su-30MK2 Angkatan Udara Vietnam (photo: Manhai)

Wakasau dalam sambutannya mengatakan bahwa paint scheme ini bukan hanya tentang estetika, tetapi juga cerminan dari identitas, kekuatan, dan kebanggaan kita sebagai TNI Angkatan Udara. Paint Scheme pesawat tempur juga dapat memainkan peran penting dalam membangun citra Angkatan Udara di suatu negara.

Pesawat tempur TNI AU, lanjut Wakasau, harus menjadi simbol keunggulan, keberanian, dan kesiapan kita dalam menjaga dan mempertahankan kedaulatan Indonesia.

Skema warna Su-30SME Angkatan Udara Myanmar (photo: Myanmar Defence)

Wakasau juga menekankan beberapa aspek yang perlu menjadi perhatian untuk dipertimbangkan, pertama Aspek Keamanan dan Operasional, Kedua Kepatuhan terhadap standar dan regulasi yang berlaku, Ketiga Aspek Estetika dan Keempat Aspek Maintenance.

"Keputusan yang kita ambil hari ini bukan hanya terkait memilih warna, tetapi juga menjadi langkah strategis yang akan berdampak pada efektivitas operasional TNI AU, kebanggaan para Penerbang kita, sekaligus membangun citra TNI AU di mata dunia", Ungkap Wakasau.

Skema warna Su-30MKM Angkatan Udara Malaysia (photo: TK)

Sementara itu diakhir kegiatan Wakasau meminta kepada seluruh peserta rapat yang hadir untuk segera menindaklanjuti hasil keputusan ini dengan langkah-langkah konkret, memastikan bahwa implementasinya berjalan sesuai rencana dan standar yang telah kita tetapkan.

Kita tidak hanya bertanggung jawab pada kondisi saat ini, tetapi juga meletakkan fondasi kuat bagi generasi berikutnya, ujar Wakasau.

Skema warna Su-30MKK Angkatan Udara China/PLAAF (photo: Dmitriy Pichugin)

Turut hadir dalam rapat Asops Kasau, Aslog Kasau, Kapuslaiklambangjaau, Kadisaeroau, Aslog Kaskoopsudnas, Danlanud Hasanuddin, Makassar beserta pejabat TNI AU lainnya.

The Royal Thai Navy's New MARCUS-C VTOL Maritime Patrol UAV is being Tested on HTMS Chakri Naruebet

28 September 2024

MARCU-C VTOL Maritime Patrol UAV is being tested on HTMS Chakri Naruebet aircraft carrier (photos: Combat Zones, Panupong Khoomcin)

The airframe of the new MARCUS-B (2024) maritime reconnaissance unmanned aerial vehicle, now known as MARCUS-C, was first unveiled at the 'Navy Research 2024' event at the Chao Phraya Room, Royal Thai Navy Auditorium on July 31, 2024.

The Naval Research and Development Office (NRDO), Royal Thai Navy (RTN), in collaboration with Thai private companies Oceanus Research and Development (Thailand), X-Treme Composites (Thailand), and BJSupply 2017 (Thailand), is the developer of this new MARCUS-C maritime patrol unmanned aerial vehicle.

MARCUS-C is considered a Vertical Take-Off and Landing Unmanned Aerial Vehicle (VTOL UAV) in the MARCUS (Maritime Aerial Reconnaissance Craft Unmanned System) family of maritime reconnaissance UAVs, the third generation following the first MARCUS model that was tested on the floating landing craft, HTMS Angthong (III) 

And the second model, the MARCUS-B maritime reconnaissance unmanned aerial vehicle, which has been tested on the helicopter carrier HTMS Chakri Naruebet in 2021 the project has been approved for a budget in fiscal year 2024 to build 1 system consisting of 4 UAVs and 1 ground control station.

The latest MARCUS-C maritime patrol UAV operationally tested aboard HTMS Chakri Naruebet in a parachute formation with several Royal Thai Navy ships in the Gulf of Thailand on 19 September 2024, marking the first time that a MARCUS-C UAV has been operated from the flight deck of a ship while the ship is at sea, unlike previous tests conducted while the ship is at port.

While the MARCUS-B has a blended wings fuselage with a twin-tail boom, the MARCUS-C uses a conventional high wings fuselage, but still maintains a propulsion system that combines a push-button propeller with four sets of rotary wing propellers that provide vertical lift. Admiral Adung Phan-iam, the commander of the Royal Thai Navy, was informed by the project officer that this prototype system has a production budget of only 36,000,000 baht ($ 1,093,080), while the same foreign VTOL UAV system will cost no less than 300,000,000 baht ($ 9,120,255). 

(AAG)

27 September 2024

Rincian Proposal Offset F-16 Lockheed Martin ke Thailand Terkuak

27 September 2024

RTAF saat ini mengoperasikan tiga skuadron F-16A Fighting Falcons. Setidaknya 12 dari 49 F-16 yang aktif akan pensiun dalam beberapa tahun ke depan (photo: RTAF)

Lockheed Martin telah mengusulkan upgrade teknologi dan investasi industri langsung sebagai bagian dari offset dalam penjualan pesawat tempur F-16V Block 70/72 yang diusulkannya kepada Angkatan Udara Kerajaan Thailand (RTAF), menurut sumber yang mengetahui situasi tersebut.

RTAF berupaya untuk mendapatkan empat pesawat tempur awal untuk menggantikan sebagian F-16A/B Block 15 Fighting Falcons yang sudah tua yang beroperasi dengan Skuadron 102 di pangkalan udara Korat. Pesawat baru tersebut akan diakuisisi dari tahun 2025 hingga 2034.

Untuk mendukung tawaran F-16V kepada RTAF, Lockheed Martin telah mengusulkan untuk memasang sistem data link aman Link 16 dan sistem identifikasi kawan-atau-lawan (IFF) Mode 5, sistem identifikasi berbasis radar, pada pesawat F-16A/B yang akan tetap beroperasi.

Menurut sumber tersebut, ini akan membuat F-16A/B kompatibel dengan pesawat F-16V Block 70/72 yang baru. Menggabungkan sistem IFF Link 16 dan Mode 5 bersama-sama "menciptakan solusi interoperabilitas yang akan memungkinkan kedua armada [F-16] untuk saling berkomunikasi," tambah sumber tersebut.

Lockheed Martin mengajukan proposal offset terbarunya kepada Thailand pada akhir Agustus. Perusahaan tersebut telah menilai proposal offsetnya sebesar USD1,7 miliar, menurut sumber tersebut.

Upgrade ini juga diharapkan dapat meningkatkan interoperabilitas F-16A/B warisan RTAF dalam penempatan dengan pesawat dari angkatan udara regional lain yang juga dilengkapi dengan sistem Link 16, kata sumber tersebut.

Elemen lain dari paket offset yang diusulkan termasuk tawaran untuk meningkatkan keterampilan melalui kemitraan universitas dan untuk berinvestasi dalam industri penerbangan Thailand, kata sumber tersebut. 

(Janes)

Pembiayaan Program Overhaul Kapal Selam DSME 209/1400

27 September 2024

DSME 209/1400 (image: DSME)

Pengadaan beragam sistem senjata pada MEF 2020-2024 diperkirakan baru akan selesai pada akhir 2025 dengan mempertimbangkan fakta bahwa sejumlah kontrak nampaknya baru akan memasuki tahap efektif pada tahun depan. Proposal indikasi pinjaman dari lender harus terlebih dahulu disetujui oleh Kementerian Keuangan sebelum loan agreement antara lender dan Kementerian Keuangan diteken.

Selain itu, ketersediaan dana Rupiah Murni Pendamping pada APBN Kementerian Pertahanan menentukan pula nasib kontrak yang sudah ditandatangani sebelumnya. Hingga saat ini, terdapat banyak Penetapan Sumber Pembiayaan (PSP) yang menantikan persetujuan perpanjangan masa berlaku oleh Menteri Keuangan.

Sedikitnya terdapat dua skenario perpanjangan PSP untuk Kementerian Pertahanan, yaitu dilakukan oleh Menteri Keuangan saat ini atau dilaksanakan oleh Menteri Keuangan yang baru. Perpanjangan PSP oleh Menteri Keuangan yang baru pasca 20 Oktober 2024 merupakan sebuah keniscayaan karena pembangunan kekuatan pertahanan periode 2020-2024 baru akan berakhir pada 31 Desember 2024.

Seperti penulis pernah jelaskan sebelumnya, ada sejumlah PSP yang masa berlakunya berakhir sebelum negosiasi kontrak di Kementerian Pertahanan tuntas dan atau proses perundingan loan agreement di Kementerian Keuangan selesai.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa alokasi Pinjaman Luar Negeri (PLN) pada periode 2020-2024 untuk Kementerian Pertahanan meningkat lebih dari tiga kali lipat dari US$7,74 miliar pada jangka waktu 2015-2019 menjadi US$25 miliar.

Angka US$25 miliar pun berasal dari pemotongan alokasi PLN yang hingga Mei 2023 bernilai US$34,4 miliar. Demikian pula dengan Pinjaman Dalam Negeri (PDN) yang bertambah tiga kali lipat dari Rp 15 triliun pada periode 2015-2019 menjadi Rp 45,1 triliun dalam masa 2020-2024.

KRI 403 Nagapasa (photo: TNI AL)

Hal yang dinantikan pada tahun depan adalah data penyerapan PLN dan PDN oleh Kementerian Pertahanan yang dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan. Sebab selama ini salah satu perhatian Kementerian Keuangan terhadap peningkatan PLN dan PDN ialah kemampuan penyerapan oleh Kementerian Pertahanan.

Peningkatan alokasi PDN dapat diterjemahkan sebagai upaya pemerintah untuk membelanjakan lebih banyak utang di dalam negeri yang keluarannya adalah meningkatkan kemampuan industri pertahanan nasional.

Namun terdapat kritik dari para pelaku industri pertahanan bahwa sebagian besar kontrak yang dibiayai oleh PDN dinikmati oleh firma-firma BUMN dan hanya sedikit yang diberikan kepada perusahaan pertahanan partikelir. PDN sendiri berasal dari sejumlah bank-bank nasional, khususnya bank-bank milik negara.

Selama ini, PDN yang dialokasikan untuk TNI Angkatan Darat sebagian besar digunakan untuk pengadaan munisi beragam kaliber, senapan serbu, mortir, peralatan optik, kendaraan lapis baja dan perbaikan pesawat terbang dan helikopter.

Adapun PDN bagi TNI Angkatan Laut di antaranya dipakai untuk membeli munisi kaliber kecil, senapan serbu, mortir dan kapal patroli. Sementara TNI Angkatan Udara membelanjakan alokasi PDN bagi pemeliharaan berbagai jenis pesawat terbang dan helikopter berikut subsistemnya, munisi kaliber kecil dan berbagai kendaraan taktis untuk Kopasgat.

Kementerian Pertahanan dan Mabes TNI pun mendapatkan kuota PDN seperti pembelian roket R-Han 122 mm oleh Kementerian Pertahanan dan senapan serbu, munisi kaliber kecil dan kendaraan taktis bagi Mabes TNI.

KRI 404 Ardadedali (photo: TNI AL)

Seperti penulis pernah sebut sebelumnya, terdapat spekulasi bahwa besaran PLN pada pembangunan kekuatan pertahanan periode 2025-2029 antara US$25 miliar hingga US$35 miliar. Lalu bagaimana dengan porsi PDN untuk periode yang sama bagi Kementerian Pertahanan?

Apakah nilai PDN akan mencapai Rp 55 triliun pada kerangka waktu tersebut? Semua spekulasi tersebut diharapkan akan terjawab pada semester pertama 2025 saat Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas menerbitkan Daftar Rencana Pinjaman Luar Negeri Jangka Menengah (DRPLN-JM) 2025-2029 dan Daftar Kegiatan Pinjaman Dalam Negeri (DKPDN) 2025-2029.

Terkait dengan DKPDN 2025-2029, Kementerian Pertahanan nampaknya akan menggunakan skema PDN untuk program overhaul kapal selam DSME 209/1400. Sebelumnya, terdapat usulan agar program upgrade kapal selam buatan Korea Selatan itu pada MEF 2020-2025 dibiayai oleh PLN namun tidak disetujui oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas.

Boleh jadi rencana menggunakan PDN untuk overhaul kapal selam karena prosesnya memang lebih cepat dan mudah daripada skema PLN. Namun di sisi lain belum diketahui berapa besar dana PDN yang nantinya akan berputar di dalam negeri mengingat sebagian anggaran itu harus dibelanjakan di luar negeri untuk pembelian beragam subsistem kapal selam.

Menurut perkiraan, program overhaul kapal selam DSME 209/1400 akan membutuhkan biaya sekitar US$200 juta - US$250 juta (Rp 3,1 triliun - Rp3,9 triliun) dengan asumsi bahwa kegiatan tersebut termasuk peningkatan kemampuan kapal selam dan bukan sekedar mengganti peralatan yang sudah habis masa pakai.

Peningkatan kemampuan yang dimaksud terkait dengan desain, beragam subsistem seperti combat management system maupun perubahan pemeliharaan kapal selam. Memperhatikan perkiraan anggaran yang dibutuhkan, masuk akal apabila pembiayaan kegiatan itu diusulkan menggunakan skema PDN daripada PLN.

KRI 405 Alugoro (photo: TNI AL)

Tantangan dalam melaksanakan program overhaul kapal selam DSME 209/1400 di antaranya adalah kemampuan melakukan root cause analysis, di mana analisis yang obyektif diperlukan untuk dapat mengidentifikasi masalah-masalah yang terjadi sekaligus menentukan solusi yang akan diterapkan.

Root cause analysis hendaknya dilakukan sendiri oleh galangan kapal selam yang ditetapkan oleh Kementerian Pertahanan sebagai kontraktor program tersebut dan tidak mengandalkan pada data yang diberikan oleh pihak ketiga.

Lewat root cause analysis yang obyektif, kontraktor dapat mengindentifikasi masalah-masalah apa saja yang selama bertahun-tahun menghambat kesiapan operasional tiga kapal selam buatan Korea Selatan itu. Sebagai fakta, selama ini masih ada penyangkalan terhadap kondisi ketiga kapal selam itu oleh sejumlah pihak di Indonesia, sehingga root cause analysis yang obyektif perlu dilakukan oleh galangan kapal selam yang ditunjuk oleh Kementerian Pertahanan sebagai kontraktor.

Setidaknya terdapat dua galangan kapal selam yang menunjukkan ketertarikan terhadap program overhaul kapal selam DSME 209/1400. Satu di antaranya ialah Naval Group yang beberapa bulan silam sudah melaksanakan survei terhadap kondisi kapal selam itu.

Galangan kapal asal Prancis ini nampaknya memiliki keyakinan untuk dapat melakukan pekerjaan overhaul sekaligus meningkatkan kemampuan kapal selam yang sudah memiliki banyak isu kesiapan operasional sejak diserahkan kepada TNI Angkatan Laut.

Aspirasi Naval Group untuk mendapatkan kontrak program dari Kementerian Pertahanan nampaknya memiliki keterkaitan erat dengan kontrak dua kapal selam Scorpene Evolved yang akan dibangun di Indonesia, di mana Naval Group berupaya memperkuat kehadirannya di pasar Indonesia. (Alman Helvas Ali)

(CNBC)