30 September 2024

Melihat PT DI Lakukan Produksi dan Perawatan Pesawat NC 212i di Bandung

30 September 2024

Produksi pesawat NC212i untuk TNI AU (photos: Antara)

Produksi Pesawat NC 212i untuk TNI AU di PT DI Bandung

Esposin, BANDUNG -- Pekerja mengecek pesawat NC 212i milik TNI AU yang telah selesai di produksi di Hanggar PT Dirgantara Indonesia (PT DI) di Bandung, Jawa Barat, Jumat (27/9/2024).


PT DI memproduksi sebanyak sembilan unit pesawat NC 212i dengan kapasitas 21 orang untuk TNI AU. Pesawat ini memiliki kegunaan sebagai alat transportasi dan modifikasi cuaca serta memiliki teknologi terbaru seperti digital cockpit dan auto pilot.

Dikutip dari situs resmi PT Dirgantara Indonesia, pesawat NC212i merupakan pesawat angkut ringan dengan sistem avionik modern full glass cockpit dan autopilot, yang dilengkapi dengan winglet, ramp door dan memiliki ukuran kabin yang luas dibandingkan pesawat sekelasnya.


Sejak tahun 2014, PTDI merupakan satu-satunya industri manufaktur pesawat terbang di dunia yang memproduksi pesawat NC 212i. (Solopos)

Intip Perawatan Pesawat Militer di Bandung

Bandung - Pesawat militer milik Filipina melakukan perawatan di Bandung. Perawatan meliputi struktur, sistem dan pemasangan air conditioner (AC).


Pekerja memperbaiki bagian sayap pesawat NC 212i milik Militer Filipina di Hanggar PT Dirgantara Indonesia (PT DI) di Bandung, Jawa Barat (photos: Antara)


PT DI melakukan perawatan dua pesawat NC 212i milik militer Filipina yang meliputi perawatan struktur, sistem dan pemasangan air conditioner (AC) pada pesawat.


Perbaikan ini ditargetkan akan selesai pada akhir Oktober 2024 mendatang. (Detik)

Pengembangan Drone Tempur Elang Hitam Masih Berlanjut

30 September 2024

Drone tempur/UCAV Elang Hitam menunggu diterbangkan (photo: istimewa)

PTDI Bicara Kabar Drone Tempur Elang Hitam, Sebut Pengembangan Masih Berlanjut

TEMPO.CO, Bandung - PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menyatakan masih terus mengembangkan Pesawat Udara Nirawak Medium Altitude Long Endurance (PUNA MALE) Elang Hitam yang pernah masuk daftar prioritas riset nasional. PUNA MALE Elang Hitam adalah pesawat nirawak jenis drone tempur atau kombatan yang hingga akhir 2021 lalu masih dikerjakan konsorsium besar Kementerian Pertahanan, TNI AU, PTDI, Institut Teknologi Bandung, PT Len Industri, dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional.

"Saat ini fase pengembangan dalam tahapan untuk percobaan penerbangan pertama,” kata Direktur Produksi PTDI, Batara Silaban, di sela-sela media gathering PTDI dan Kementerian Pertahanan di hanggar PTDI di Bandung, Jumat 27 September  2024. Batara tidak merinci kapan pengujian penerbangan itu dijadwalkan. Dia hanya menyebutkan sedang berusaha menyelesaikan perhitungannya. "Tentu kalau secara plan kami harapkan bisa diterbangkan dalam waktu tidak terlalu lama,” kata dia.

Batara menegaskan kalau proyek PUNA MALE Elang Hitam ini tetap berjalan meski saat ini tengah berjalan pula kerja sama transfer teknologi dari UAV Atak milik Turkish Aerospace Industry. Pemerintah lewat Kementerian Pertahanan pada tahun lalu telah meneken kontrak pembelian sebanyak 12 unit drone tempur yang berada di kelas yang sama dengan yang dituju Elang Hitam tersebut.

Perakitan drone tempur Anka di TAI, Turkiye (photo: Cemal)

Menurut Batara, Elang Hitam dirancang menjadi pesawat nirawak yang mengusung misi surveilance. Pesawat mampu beroperasi 12-24 jam dalam sekali penerbangan dengan ketinggian maksimum terbang hingga 20 ribu kaki dan jangkauan terbang hingga 250 kilometer. “Salah satu kemampuannya bisa melakukan surveilance hampir 24 jam. Roadmap pengembangannya memang itu, kemampuan surveilance, apa lagi negara kita kepulauan maritim,” tutur Batara.  

Batara mengatakan, PUNA MALE Elang Hitam akan menggunakan mesin penggerak propeller. Saat ini, dia menambahkan, tengah dikejar dalam waktu dekat adalah membuktikan konsep pesawat tersebut memang bisa terbang.

Sebelumnya, dalam keterangannya pada tahun lalu, Kepala Pusat Riset Teknologi Penerbangan BRIN, Fadilah Hasyim, mengungkap kalau PUNA MALE Elang Hitam tak lagi menjadi prioritas riset. BRIN, kata Fadilah, beralih menerapkan skema riset berbeda yang lebih mengarah pada teknologi pesawat udara nirawak. Konsekuensinya, Elang Hitam dipinjamkan secara utuh dan lengkap kepada PTDI. 

Anduril Signs Three Year Contract with RAAF to Deliver Autonomous Security Capabilities to Enhance Protection of Australia's Northern Bases

30 September 2024

Anduril's autonomous security capabilities provide 24x7 coverage against an extensive range of threats (photo: Anduril)

Defence technology company Anduril Australia today has announced it has closed a contract for a three-year trial with the Royal Australian Air Force (RAAF) to demonstrate Anduril's air and ground defence capabilities at RAAF Base Darwin which will support the defence of Australia's northern Defence bases against drones and other threats.

Anduril's base protection capability takes a Family of Systems approach, deploying a range of active and passive sensors, and kinetic and non-kinetic effectors. The system is tailored to RAAF Base Darwin's specific security requirements and Darwin's unique environment.

The system is powered by Lattice, an open architecture software platform that allows for effective integration and command and control of Anduril and third party sensors and effectors. Lattice enables 24/7 persistent awareness and autonomous detection, classification, and tracking of objects of interest. It alerts users to potential ground or airborne threats and prompts users with options for mitigation or engagement.

The contract with the Royal Australian Air Force will allow Anduril Australia to deliver counter drone and counter intrusion as a capability-as-a-service. Anduril Australia will maintain continuous hardware and software system updates, and develop and deploy new capability to ensure the system remains relevant and effective against the rapidly changing threat landscape. This future-proofs the system at no additional cost to the customer.

Anduril Australia Executive Chairman and CEO, David Goodrich OAM, said: "Current conflicts have shown us how rapidly warfare has developed. It is critical that advanced technology is in place to protect Australian Defence Force (ADF) personnel and equipment against air and ground attacks - now and into the future. Our capability-as-a-service approach is designed to anticipate and respond to rapid technological developments."

"Capability-as-a-service is new to defence industry, but frequently used in the tech industry where fast-moving developments need to be rapidly deployed. Hardware and software are regularly updated and upgraded as new developments are available. This is different to the traditional block upgrade process used in Defence where upgrades may only happen annually or even less frequently."

"Anduril's autonomous security capabilities provide 24x7 coverage against an extensive range of threats."

"Anduril is well known in Australia for its Ghost Shark maritime capability, but we are a multi-domain, multi-product company and I'm delighted to announce this contract with RAAF Base Darwin to share our proven counter UAS solution to provide the best technology to enhance protection of Australia's northern bases."

A spokesperson for the Royal Australian Air Force said: "The National Defence Strategy prioritises strengthening of our northern bases. This system will bring advanced technology to counter and deter intrusion of RAAF Base Darwin while building Defence's understanding of emerging capabilities that can help the ADF to meet future threats."

PT DI Tekankan RI Perlu Kuasai Teknologi Kunci dalam Pengadaan Rafale

30 September 2024

Rafale dengan skema warna TNI AU pada Bali International Air Show 2024 (photo: istimewa)

Kota Bandung (ANTARA) - PT Dirgantara Indonesia menekankan Indonesia perlu menguasai teknologi kunci dalam kerja sama pengadaan 42 unit pesawat tempur Rafale buatan Dassault Aviation Perancis.

Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Gita Amperiawan saat sesi tanya jawab dengan wartawan di fasilitas produksi PT DI, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat, menjelaskan penguasaan terhadap teknologi kunci membuka jalan bagi Indonesia untuk membangun pesawat tempur di dalam negeri.

“Ada beberapa teknologi kunci yang justru kami harapkan ini menjadi komplementer pada saat kita membangun kemampuan (produksi) fighter (pesawat tempur) di tanah air,” kata Gita Amperiawan.

Perundingan mengenai alih teknologi/ofset pengadaan 42 unit Rafale antara Pemerintah RI dan Dassault Aviation dan Pemerintah Perancis saat ini masih berjalan.

Ingin jadi bagian dari rantai produksi global Rafale
PT DI juga telah mengusulkan adanya paket pekerjaan produksi (production work package) untuk beberapa komponen Rafale. Dia menyebut bentuk ofset itu memungkinkan PT DI untuk memproduksi beberapa komponen Rafale.

“Ini bagus, karena kami disertifikasi, dan ke depannya kami bisa menjadi bagian dari rantai produksi globalnya mereka. Di luar itu, pemeliharaannya tentu di kami juga, karena kita harus bisa mengambil kemampuan MRO (pemeliharaan, perawatan, dan perbaikan),” kata Gita.

Di lokasi yang sama pada kesempatan berbeda, PT DI saat ini mencanangkan dirinya untuk memiliki kemampuan memproduksi pesawat tempur (fighter jet).

Lini produksi pesawat tempur Rafale (photo: shutterstock)

Oleh karena itu, dalam proyek kerja sama membangun pesawat tempur KF-21 Boramae buatan Korea Aerospace Industries (KAI) antara Pemerintah RI dan Pemerintah Korea Selatan, PT DI juga menegaskan berbagai macam ofset yang diajukan Pemerintah RI dalam proyek itu harus diarahkan untuk membangun kemampuan memproduksi pesawat tempur di dalam negeri.

“Apapun programnya di berbagai macam ofset, tujuannya cuma satu, bagaimana PT DI mampu ke depannya membangun fighter,” kata Gita Amperiawan.

Terkait pengadaan Rafale, PT Dirgantara Indonesia dan Dassault Aviation pada 2022 menyepakati nota kesepahaman kerja sama (MoU) offset dan ToT pengadaan jet tempur Rafale pesanan Indonesia. Dokumen kerja sama itu diteken oleh Direktur Utama PT DI Gita Amperiawan dan CEO Dassault Aviation di Jakarta. Acara penandatanganan dokumen itu pun disaksikan oleh Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto dan Menteri Pertahanan Perancis Florence Parly.

Kementerian Pertahanan RI resmi memborong 42 jet tempur Rafale buatan Dassault Aviation Perancis, setelah kontrak pembelian tahap ketiga untuk 18 unit terakhir efektif, pada Januari 2024.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Edwin Adrian Sumantha saat dihubungi di Jakarta, pada 9 Januari 2024, menyebut pesawat Rafale pertama pesanan Indonesia dijadwalkan tiba di Tanah Air pada awal 2026.

“Kedatangan pesawat tempur Rafale beserta persenjataan dan perangkat pendukungnya dalam beberapa tahun mendatang diharapkan akan meningkatkan kekuatan dan kesiapan TNI Angkatan Udara secara signifikan dalam menjaga kedaulatan negara di udara,” kata Brigjen Edwin.

29 September 2024

Kapal BHO Buatan Dalam Negeri Bakal Perkuat TNI AL Pada Akhir 2025

29 September 2024

Kapal BHO 105 TNI AL (image: Abeking & Rasmussen)

Jakarta (ANTARA) - Kapal Bantu Hidro-Oseanografi (BHO) Ocean Going buatan galangan kapal dalam negeri PT Palindo Marine Batam bekerja sama dengan galangan kapal Jerman Abeking & Rasmussen bakal memperkuat armada TNI AL pada akhir 2025.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat (Karo Humas) Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan RI Brigjen TNI Edwin Adrian Sumantha saat dihubungi di Jakarta, Selasa, menjelaskan bahwa prosesnya saat ini platform kapal telah rampung dibuat oleh Palindo dan kapal itu selanjutnya bakal berlayar ke Jerman untuk pemasangan alat-alat survei dan pemetaan, sensor, dan perlengkapan lainnya.

Gambar kapal BHO 105 muncul saat acara peletakan lunas kapal pada Desember 2023 (photo: Robe87)

"Delivery kapal dijadwalkan pada bulan Desember 2025," kata Brigjen TNI Edwin.

Pada hari ini di galangan kapal Palindo, Batam, Kepulauan Riau, Staf Ahli Menteri Pertahanan Bidang Ekonomi Mayjen TNI Steverly C. Parengkuan memimpin upacara peluncuran platform kapal BHO Ocean Going.

Di lokasi acara, Parengkuan membacakan sambutan dari Kepala Badan Sarana Pertahanan (Kabaranahan) Kemenhan RI Marsekal Madya TNI Yusuf Jauhari, salah satunya menyebutkan proyek pengadaan kapal BHO Ocean Going itu merupakan kontribusi Kementerian Pertahanan RI mendukung kemandirian industri pertahanan dalam negeri.

Kapal BHO 105 dari arah buritan (photo: istimewa)

"Setelah upacara peluncuran kapal BHO (Ocean Going) akan menuju Jerman untuk menyelesaikan pemasangan seluruh peralatan oseanografi di galangan Abeking & Rasmussen," kata Kabaranahan Kemenhan dalam sambutannya itu.

Kapal BHO Ocean Going yang platformnya dibangun di Batam itu punya spesifikasi panjang 105 meter, lebar 17,4 meter, dan draf kapal 4,5 meter. Kapal itu dirancang untuk dapat berlayar dengan kecepatan 16 knot.

Kapal itu juga didesain untuk mampu memetakan wilayah pesisir, perairan dangkal, dan laut dalam. Rencananya kapal itu juga dilengkapi dengan sensor penginderaan bawah air mulai dari kedalaman 600 meter sampai dengan 11.000 meter.

Peluncuran kapal BHO 105 (photo: Antara)

Kemenhan RI dalam siaran resminya juga menyebutkan kapal BHO Ocean Going itu juga dilengkapi dengan geladak heli dengan kapasitas maksimum 12 ton MTOW, meriam 20 mm dan 12,7 mm, serta teknologi surveillance, manuver, dan station keeping yang andal.

Kapal yang didesain dengan struktur high tensile steel itu berbobot total 3.419 ton, serta mampu mengangkut tambahan beban seberat 200 ton. Kapal itu juga didesain untuk punya daya jelajah selama 60 hari dengan mengangkut maksimal 90 personel.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali di sela-sela kegiatannya di Jakarta pada tanggal 25 Juni 2024 menyebut TNI AL memproyeksikan ada tambahan kapal bantu hidro-oseanografi setiap tahun dengan mempertimbangkan kemampuan anggaran atau jika tidak memungkinkan TNI AL berencana menambah sensor untuk dipasang pada kapal-kapal lama.

Wahana penyelamat SRV-F Mk.3 bakal melengkapi kapal BHO 105 (image: SMP)

TNI AL pada tahun ini, kata dia, menunggu dua tambahan kapal bantu hidro-oseanografi buatan Inggris dan Jerman yang bekerja sama dengan galangan kapal dalam negeri.

Kapal buatan Jerman itu merujuk pada kapal BHO Ocean Going yang dibangun oleh Palindo bekerja sama dengan Abeking & Rasmussen. Sementara itu, kapal buatan Inggris itu merujuk pada SRVS (submarine rescue vehicle system) buatan buatan perusahaan Inggris, Submarine Manufacturing & Products (SMP), yang pengadaannya bekerja sama dengan PT BTI Indo Tekno.

Pengadaan SRVS itu mencakup pembelian SRVS mencakup satu unit kapal selam penyelamat (SRV-F Mk.3), satu unit mothership dan kelengkapan lainnya (decompression chamber, launch and recovery system, air transportability equipment, dan remotely operated vehicle).

(Antara)

TNI AL Mengincar Fregat Buatan Turki

29 September 2024

Kapal dari Turki yang diminati adalah Istanbul class fregat (photo: istimewa)

TNI AL Datangkan Kapal PPA dari Italia dan Fregat Buatan Turki

Jakarta (ANTARA) - Jajaran TNI AL akan memperkuat kekuatan militer dengan mendatangkan kapal perang untuk berpatroli atau yang biasa disebut Pattugliatore Polivalente d’Altura (PPA) dari Italia dan kapal perang jenis Fregat dari Turki.

"PPA nanti mungkin akhir tahun, mudah mudahan bisa hadir dari Italia, kemudian ada beberapa kapal Fregat juga dari Turki itu mungkin tahun depan atau dua tahun yang akan datang sudah bisa hadir," kata Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali saat ditemui di Kolinlamil Jakarta Utara, Selasa.

Tampak depan Istanbul class (photo: Istanbul Maritime & Aviation)

Muhammad Ali menjelaskan pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) itu dilakukan guna memperkuat kekuatan militer TNI AU.

Tidak hanya itu, TNI AL juga tengah menunggu kapal selam Scorpene buatan Prancis. Menurut Ali, pengadaan kapal selam sangat dibutuhkan lantaran saat ini TNI AL baru mempunyai empat unit.

Jumlah itu dinilai Ali terlalu sedikit untuk menjaga teritorial laut Indonesia yang terbilang cukup luas. Di satu sisi, pengadaan kapal selam Scorpene membutuhkan waktu lama lantaran proses perakitan di Prancis yang memakan waktu lima sampai tujuh tahun.

Tampak belakang Istanbul class (image: ArtStation)

Karenanya, Ali dan jajarannya berencana akan membeli kapal selam sementara atau interim yang bertugas memperkuat kekuatan militer selama menunggu Scorpene selesai dirakit.

"Dari Italia sudah menawarkan (kapal selam interim) dari Jerman ada, kemudian dari Turki juga ada kemudian dari negara asia juga ada," kata Ali.

Dengan pengadaan alutsista ini, Ali berharap kekuatan militer TNI AU semakin kuat sehingga mampu menjaga batas wilayah laut NKRI.

Program Kapal Selam Type 212CD Jerman-Norwegia Berhasil Lulus Critical Design Review

29 September 2024

Desain Type 212CD merupakan evolusi substansial dari Type 212A yang saat ini sudah beroperasi, perhatikan bahwa ukuran kapal selam dengan panjang 73m dan bobot penuh 2.800 ton ini jauh lebih besar dari Type 212A (image: NavalNews)

Program kapal selam Type 212CD gabungan Jerman-Norwegia telah berhasil menyelesaikan tonggak tinjauan desain kritis/critical design review (CDR).

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada tanggal 22 Agustus, Kementerian Pertahanan Norwegia (MoD) mengatakan tonggak CDR dicapai pada pertengahan tahun dan telah diselesaikan sesuai dengan rencana yang ditetapkan oleh organisasi pengadaan bersama (JPO) Jerman-Norwegia dan pembuat kapal Jerman ThyssenKrupp Marine Systems (TKMS).

Persenjataan Type 212 CD adalah 4x heavyweight torpedo 533mm DM2A4 Hake, IDAS anti-air missile dan kemungkinan sub-launched NSM anti-ship missile buatan Kongsberg-Norwegia (image: NSM) 

Fase desain melibatkan peninjauan lebih dari 100.000 halaman dokumentasi untuk memastikan desain memenuhi sekitar 6.000 persyaratan kontrak, kata MoD.

Enam kapal selam diesel-listrik (SSK) bertenaga konvensional Tipe 212CD generasi berikutnya sejauh ini telah dipesan dari TKMS untuk memenuhi persyaratan bersama Jerman dan Norwegia berdasarkan kontrak yang diberikan oleh Badan Materiel Pertahanan Norwegia/ Norwegian Defence Materiel Agency (NDMA) dan Kantor Federal Peralatan, Teknologi Informasi, dan Dukungan Dalam Layanan Bundeswehr Jerman/Bundeswehr Equipment, Information Technology and In-Service Support (BAAINBw) pada bulan Juli 2021.


Type 212 CD menggunakan penggerak hybrid lithium-ion battery +  AIP PEM fuel cells (PEM=proton exchange membrane) untuk menggerakkan 2 mesin diesel MTU 4000 (photo: Sener)

Akuisisi tersebut, yang bernilai sekitar EUR5,5 miliar (USD6,1 miliar), mencakup empat kapal untuk Angkatan Laut Kerajaan Norwegia (RNoN) dan dua kapal 'desain umum/common design' yang identik untuk Angkatan Laut Jerman. Menurut Kementerian Pertahanan, pekerjaan desain telah menghabiskan hampir seperempat dari total biaya untuk enam kapal selam dan akan dibagi bersama antara Norwegia dan Jerman.

Kapal pertama dari kelas tersebut, yang ditujukan untuk RNoN, mulai dibangun di galangan kapal TKMS di Kiel pada 12 September 2023. Berdasarkan perencanaan saat ini, kapal utama akan mulai diuji pada tahun 2027 dan diharapkan akan dikirim ke Norwegia pada tahun 2029. Dua kapal untuk Jerman akan dikirim pada tahun 2032 dan 2034.

(Jane's)