02 November 2024

KRI Teluk Hading - 538 Resmi Selesai Bertugas dari Dinas Aktif TNI AL

02 November 2024

KRI Teluk Hading 538, LST kelas Frosch (photo: TNI AL)

Berita Kolinlamil TNI AL ------- Bertempat di Dermaga Layang Mako Lantamal VI Makassar, dilaksanakan Upacara Penurunan Ular-ular Perang dan Pelepasan KRI Teluk Hading–538 dari dinas aktif TNI Angkatan Laut yang dipimpin Inspektur Kolinlamil Laksma TNI Kunto Tjahjono, S.E., M.Han., M.Tr.Opsla., CRMP., bertindak sebagai Inspektur Upacara dengan Komandan Upacara Letkol Laut (P) Rifki Najib, S.T. (Komandan KRI KBI-971) dan diikuti oleh Prajurit Lantamal VI Makassar dan Satlinlamil 3 Makassar, Kamis (31/10).

Sebagai informasi, KRI Teluk Hading–538 adalah Kapal Jenis Frosch yang dibangun pada tahun 1977 oleh Veb Peenewerft, Wolgast, Jerman Timur. Kemudian pada tahun 1994 masuk dalam jajaran TNI Angkatan Laut dan pada tahun 1996 berdinas secara aktif sebagai Kapal Angkut Tank Frossch (ATF) dibawah pembinaan Kolinlamil. 

KRI Teluk Hading 538 tergolong LST kelas ringan (photo: Javier Bueno Iturbe)

Sepanjang pengabdiannya, KRI Teluk Hading–538 ini telah banyak berjasa bagi bangsa dan negara di dalam pelaksanaan tugas operasi baik dalam operasi militer perang maupun operasi militer selain perang serta operasi bakti lainnya. Dari kondisi yang ada, KRI Teluk Hading–538 telah jauh melebihi batas usia pakainya oleh karena itu sudah saatnya KRI Teluk Hading–538 untuk diistirahatkan atau dinonaktifkan dari jajaran Kolinlamil/TNI Angkatan Laut.

Inspektur Kolinlamil dalam amanatnya mengatakan sehubungan dengan keputusan penghapusan KRI Teluk Hading–538 ini, pemimpin TNI Angkatan Laut telah mempertimbangkan secara matang berdasarkan efisiensi dan efektifitas, baik dari segi operasi maupun pemeliharaan. “Saya menyadari, bagi Para Prajurit Jalasena yang mengawaki KRI Teluk Hading–538 akan merasa berat dengan dihapuskannya KRI Teluk Hading–538. Namun demikian saya yakin juga terdapat rasa bangga manakala para prajurit KRI Teluk Hading–538 ini dapat mengantar dan melepas KRI Teluk Hading–538 sampai pada pengabdian yang terakhir”, ujar Inspektur Kolinlamil diakhir amanatnya. 

First Leopard 2 with TROPHY Active Protection System was Lauched

02 November 2024

Leopard 2 MBT with Trophy APS (photos: German MoD, Rafael)

Historic Ceremony in Germany Marks the Launch of the 1st Leopard Tank Equipped with TROPHY® APS

Israel’s Ministry of Defense Spokesperson’s Statement: Historic Ceremony in Germany Marks the Launch of the First Leopard Tank Equipped with Israeli TROPHY Active Protection System

In a landmark ceremony held today 29.10.2024, the Israel Ministry of Defense and the German Ministry of Defense inaugurated the first Leopard 2 tank upgraded with the Israeli TROPHY Active Protection System, developed by RAFAEL Advanced Defense Systems. This deployment follows a 2020 agreement, spearheaded by the Ministry’s R&D Department in the Directorate of Defense Research and Development (DDR&D), to equip Germany’s Leopard 2 tank fleet with Israel’s premier active protection technology.


The ceremony, attended by Viceadmiral Carsten Stawitzki, National Armaments Director in the German Ministry of Defense, highlights the deepening defense ties between Germany and Israel. This milestone adds to a series of recent high-value defense agreements, including Germany’s purchase of Israel’s Arrow missile defense system, reflecting a shared commitment to advancing defense capabilities.


The TROPHY system was developed in collaboration with the IMoD’s DDR&D, the Tank and APC Administration, and RAFAEL and is the world’s only operational and most advanced active protection system of its kind. 


Designed to protect tanks and armored personnel carriers, TROPHY offers robust defense against an extensive array of anti-tank threats. Operational in the Israel Defense Forces (IDF) since 2011, it is installed on all newly produced Merkava Mark IV tanks and NAMER APCs. Proven in numerous operational activities, TROPHY has recorded multiple successful intercepts, safeguarding both troops and armored assets on the battlefield.

Singapore and Indian Navies Conclude Annual Maritime Bilateral Exercise

02 November 2024

Singapore-India Maritime Bilateral Exercise (SIMBEX) 2024 (photos: Sing Mindef)

The Republic of Singapore Navy (RSN) and the Indian Navy (IN) conducted the annual Singapore-India Maritime Bilateral Exercise (SIMBEX) from 24 to 29 October 2024. This year’s exercise comprised a shore phase held at Visakhapatnam, India, followed by a sea phase held in the waters off Visakhapatnam and the Bay of Bengal.

The RSN deployed a Formidable-class frigate RSS Tenacious, with an embarked S-70B Seahawk naval helicopter. The IN participated with a Shivalik-class frigate INS Shivalik with an embarked MH-60R Seahawk, a Sindhughosh-class submarine, a P-8I maritime patrol aircraft, and two MiG-29K fighter aircraft.


During the shore phase, both navies participated in joint planning, professional exchanges and sports. Both navies also conducted Subject Matter Expert Exchanges to share best practices related to Submarine Rescue and Maritime Air Operations. At sea, the navies conducted complex warfare serials including gunnery firing, air defence and anti-submarine warfare. The sea phase concluded with a sail-past of participating ships.

The successful conduct of SIMBEX 2024 underscores the enduring partnership between the IN and the RSN. Commanding Officer of RSS Tenacious, Lieutenant Colonel Vincent Chan said, “SIMBEX is a strong testament of the long-standing bilateral ties between the Republic of Singapore Navy and the Indian Navy. Through the years, SIMBEX has not only grown in complexity but also in scope. The exercise is a valuable platform for both navies to hone operational competencies and enhance mutual understanding. It also provides a medium for both navies to exchange professional knowledge.”


First held in 1994, SIMBEX has expanded beyond conventional naval warfare to include elements of maritime security. Apart from SIMBEX, the two navies interact regularly through a range of activities, including professional exchanges, staff talks, and training courses. 

Fourth RNZAF C-130J Arrived in Auckland

02 November 2024

Fourth RNZAF C-130J with registration number NZ7014 (photos: RNZAF)

After a journey of more than 14,000km across the Pacific, our newest C-130J-30 has officially arrived.


NZ7014 landed at Base Auckland, coming from Dobbins Air Reserve Base in Georgia, USA, with stops in California, Hawaii, and American Samoa along the way.


Our fleet is nearly complete - stay tuned for updates on the upcoming arrival of NZ7015, the last of the five new C-130Js.

01 November 2024

Menantikan Program Fregat di Era Kepresidenan Prabowo Subianto

01 November 2024

Dua kapal Thaon Di Revel class yang diakuisisi Indonesia merupakan pengganti kontrak pengadaan 6 fregat FREMM yang ditanda-tangani sebelum covid-19 dengan galangan Fincantieri Italia (photo : Regia Marina)

Prabowo Subianto telah mengucap sumpah/janji sebagai Presiden Republik Indonesia pada 20 Oktober 2024. Ia pun sudah menunjuk Sjafrie Sjamsoeddin dan Sri Mulyani masing-masing sebagai Menteri Pertahanan dan Menteri Keuangan.

Dipertahankannya Sri Mulyani membuat sang menteri harus membereskan beberapa pekerjaan rumah terkait program pengadaan sistem senjata di Kementerian Pertahanan yang selama beberapa bulan terakhir mengalami kemacetan.

Terdapat 26 Penetapan Sumber Pembiayaan (PSP) yang menunggu perpanjangan dan 23 loan agreement yang menantikan penandatanganan atau menyelesaikan perundingan dengan lender yang harus ditindaklanjuti oleh Menteri Keuangan. Terdapat pula 27 program pengadaan yang menunggu kepastian tersedianya lender sebab skema pendanaan menggunakan Kredit Swasta Asing (KSA) alih-alih Lembaga Penjamin Kredit Ekspor (LPKE).

Kementerian Pertahanan bersama dengan Kementerian Keuangan dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas mempunyai pekerjaan rumah terkait dengan pembangunan kekuatan pertahanan periode 2025-2029. Sebagaimana MEF 2020-2024, salah satu kunci pembangunan kekuatan pertahanan di era kepresidenan Prabowo Subianto ialah akuisisi sistem senjata dengan skema Pinjaman Luar Negeri (PLN).

Terkait hal tersebut, ketiga kementerian akan mendiskusikan tentang kemampuan fiskal untuk mendukung pengadaan peralatan perang sehingga dapat diketahui berapa besaran alokasi PLN untuk Kementerian Pertahanan selama administrasi Presiden Prabowo Subianto.

Diharapkan pada triwulan pertama tahun depan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas sudah menerbitkan Daftar Rencana Pinjaman Luar Negeri Jangka Menengah (DRPLN-JM) 2025-2029 untuk Kementerian Pertahanan sehingga dapat diketahui kegiatan belanja apa saja yang menjadi prioritas pemerintah Indonesia hingga akhir dekade ini.

Salah satu kegiatan akuisisi sistem senjata yang diprediksi akan memerlukan anggaran cukup besar adalah pembelian F-15EX yang telah menjadi komitmen Prabowo Subianto sejak menjadi Menteri Pertahanan. Pengadaan jet tempur buatan Boeing tersebut selain untuk meningkatkan kemampuan tempur TNI Angkatan Udara, juga dimaksudkan guna menjaga hubungan baik dengan Amerika Serikat sebagai salah satu kekuatan global.

Dalam waktu dekat, Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan akan melakukan lawatan ke Amerika Serikat, di mana salah satu agenda adalah bertemu dengan Presiden Joe Biden di Gedung Putih. Kunjungan itu direncanakan akan dilaksanakan setelah pemilu Amerika Serikat dan merupakan bagian dari tur ke beberapa negara setelah resmi menjadi orang nomor satu di Indonesia.

Thaon Di Revel class Italia dengan LOA 143,0m dan displacement 4.912 ton (photo: Regia Marina)

Thaon Di Revel class Italia
TNI Angkatan Laut diperkirakan akan mendapatkan alokasi PLN untuk belanja kapal selam dan kapal fregat. Apabila Kementerian Pertahanan memutuskan pengadaan kapal selam baru sambil menunggu penyelesaian pembangunan kapal selam Scorpene Evolved, dapat dipastikan kapal selam tersebut baru akan diserahkan oleh penerima kontrak kepada Indonesia paling cepat enam tahun setelah kontrak efektif.

Masa pembangunan enam tahun berlandaskan pada asumsi bahwa galangan penerima kontrak tidak mempunyai order backlog dari pembeli lain, di samping mempunyai fasilitas produksi yang cukup untuk mengerjakan pesanan kapal selam secara simultan. Jika Kementerian Pertahanan memutuskan melakukan pembelian kapal selam bekas, tentu saja waktu penyerahan akan lebih cepat namun dengan konsekuensi masa pakai kapal selam tersebut tidak akan sampai 30 tahun.

Akuisisi kapal fregat merupakan program pengadaan yang diperkirakan akan menarik sejumlah galangan kapal untuk menawarkan solusi mereka. Pada MEF 2020-2024, Kementerian Pertahanan menandatangani kontrak pengadaan kapal fregat kelas Thaon Di Revel buatan Fincantieri senilai US$ 1,25 miliar, di mana kontrak kapal perang tersebut diharapkan memasuki tahap efektif pada tahun depan.

Dua fregat kelas Thaon Di Revel yang dibeli oleh Indonesia sebenarnya diperuntukkan bagi Angkatan Laut Italia, akan tetapi pemerintah Italia bersedia mengalihkan kapal perang tersebut kepada Indonesia. Galangan Italia diperkirakan akan kembali mengajukan fregat kelas Thaon Di Revel untuk memenuhi kebutuhan Indonesia pada periode 2025-2029 sesudah sukses memasok dua fregat kelas yang sama pada MEF 2020-2024.

FDI class Prancis dengan LOA 122,0m dan displacement 4.460 ton (photo: DGA)

FDI class Prancis
Fincantieri diperkirakan akan bersaing dengan Naval Group yang akan menyodorkan fregat kelas Amiral Ronarc'h yang telah sukses diekspor ke Yunani. Fregat yang memiliki tonase 4.500 ton, panjang 123 meter dan lebar 18 meter merupakan kapal perang yang telah didigitalisasi sehingga tidak memerlukan jumlah awak yang banyak, di mana digitalisasi kapal perang adalah kecenderungan yang tidak dapat dihindari lagi saat ini.

Karena telah didigitalisasi, fregat yang dikenal juga sebagai Frégate de Défense et d'Intervention (FDI) sudah menerapkan keamanan siber untuk menjaga agar dua pusat data yang ada di kapal perang itu aman dari gangguan serangan siber. Kedua pusat data adalah bagian dari arsitektur digital kapal perang itu yang berbasis pada komputasi awan.

Sebagai bagian dari paket penawaran FDI, Naval Group akan bekerja sama dengan PT PAL Indonesia sebagaimana diindikasikan pada awal tahun ini. Rencana demikian merupakan bagian dari upaya memenangkan kontrak sebagaimana dalam program kapal selam kelas Scorpene.

Istanbul class Turki dengan LOA 113,2m dan displecement 3.100 ton (photo: STM)

Istanbul class Turki
Menjadi tantangan bagi Indonesia untuk menyerap teknologi terhadap tawaran itu, di mana teknologi yang dimaksud bukan saja tentang konstruksi kapal perang, namun pula menyangkut integrasi subsistem, teknologi elektronika, keamanan siber dan lain sebagainya. Penting untuk diingat bahwa daya serap teknologi oleh firma-firma Indonesia dalam program akuisisi sistem senjata masih menjadi tantangan besar yang harus diselesaikan.

Turki akan menjadi pesaing bagi Fincantieri dan Naval Group dengan menawarkan fregat kelas Istanbul kepada Indonesia. Dibandingkan dengan fregat buatan Italia maupun Prancis, fregat asal Turki selain memiliki dimensi yang lebih kecil juga belum didigitalisasi.

Dalam beberapa tahun terakhir Turki memang gencar menawarkan beragam sistem senjata ke Indonesia, di mana sebagian besar belum proven dan hanya menjadikan Indonesia sebagai first export customer. Sejak 2010 hingga saat ini, Indonesia telah merasakan dampak negatif status sebagai first export customer bagi beberapa mesin perang buatan negara lain, sebab status tersebut menjadikan Indonesia sebagai laboratorium lapangan bagi sistem senjata yang dibeli.

Perlu digarisbawahi pula bahwa pembiayaan pembelian kapal perang dari Turki akan menghadapi masalah di Kementerian Keuangan. Fakta menunjukkan bahwa inflasi Turki per bulan di atas 60 persen dengan tingkat resiko kredit Turki adalah Level B menurut Fitch Ratings, sehingga sulit bagi Kementerian Keuangan untuk mencari lender yang berbasiskan pada LPKE.

Kalau Kementerian Keuangan menggunakan skema KSA, maka terdapat risk premium yang harus ditanggung oleh Indonesia sehingga biaya utang menjadi lebih mahal daripada memakai skema LPKE. Selama ini Kementerian Keuangan sudah memberikan perhatian khusus terhadap impor sistem senjata dari Turki karena tidak ada lembaga keuangan Barat yang mau menjadi penjamin maupun lender. (Alman Helvas Ali)

Red Cat to Supply FlightWave Edge 130 Blue Systems to Royal Australian Navy

01 November 2024

FlightWave Edge 130 Blue Systems UAV (photos: Red Cat)

SAN JUAN, Puerto Rico (GLOBE NEWSWIRE) -- Red Cat Holdings, Inc. (Nasdaq: RCAT) (“Red Cat”), a drone technology company integrating robotic hardware and software for military, government, and commercial operations, today announced a new contract and order for 12 of its FlightWave Edge 130 Blue system from the Royal Australian Navy. The contract was secured through Criterion Solutions Pty Ltd., an Australian-based distributor of intelligence, surveillance, reconnaissance and information technology solutions.

FlightWave, an industry-leading provider of VTOL drone, sensor and software solutions was acquired by Red Cat in September 2024. The acquisition brought FlightWave’s flagship drone, the Edge 130 Blue into its family of low-cost, portable unmanned reconnaissance and precision lethal strike systems. FlightWave’s size, weight and vertical take off capabilities makes it ideal for maritime operations and littoral environments.


“Our mission is to equip warfighters around the globe with cutting-edge sUAS technology. The Edge 130 Blue, with its advanced long-range surveillance and reconnaissance capabilities, offers a significant advantage in maritime and other challenging environments,” stated Jeff Thompson, CEO of Red Cat. “We are excited to expand our partnership with the Australian defense forces through this initial tranche of Edge 130 units. Their investment in small ISR and precision strike drones is vital for enhancing security and stability in the Indo-Pacific region.”

The Edge 130 Blue is a UAS-certified military-grade tricopter for long-range mapping, inspection, surveillance, and reconnaissance needs. Designed specifically for government and military applications, the Edge 130 Blue can be assembled and hand-launched in just one minute by a single user to capture high-accuracy aerial imagery with medium-range autonomy. Weighing in at only 1200g, the Edge has a 60+ minute flight time in forward mode, an industry-leading endurance among all other Blue UAS-approved drones available.

Earlier this month, Red Cat introduced its ARACHNID™ family of unmanned intelligence, surveillance, and reconnaissance (ISR) and precision strike systems at AUSA 2024 Annual Meeting and Exposition in Washington D.C. As part of its ongoing innovation, Red Cat’s product roadmap includes TRICHON™, which will build upon the FlightWave Edge 130 Blue.

Panglima TUDM Tinjau Pesanan ANKA UAV

01 November 2024

Kunjungan Panglima TUDM ke TAI dan SAHA Expo di Turki (photos: TUDM)

Lawatan Rasmi Panglima Tentera Udara ke Turkish Aerospace Industries (TAI) di Ankara dan SAHA Expo di Istanbul Turkiye

Panglima Tentera Udara (PTU), Jeneral Tan Sri Dato’ Sri Mohd Asghar Khan bin Goriman Khan TUDM telah mengadakan lawatan rasmi ke premis Syarikat Turkish Aerospace Industries (TAI) pada 17 Oktober 2024 bagi melihat perkembangan UAS ANKA TUDM yang dijangka akan diperoleh pada penghujung tahun 2025 akan datang.

Lawatan ini merupakan julung kali dilaksanakan oleh PTU selepas kontrak perolehan di tandatangani di antara Kerajaan Malaysia dan TAI bagi melihat perkembangan terkini proses pembinaan aset baharu TUDM tersebut. Turut mengiringi PTU dalam lawatan rasmi tersebut adalah Panglima Wilayah Udara 2, Mejar Jeneral Ahmad Khusairi bin Ahmad Fadli TUDM dan Tim Projek UAS.


Dalam program lawatan rasmi ini juga, PTU turut berkesempatan mengadakan lawatan ke beberapa syarikat yang berkait secara langsung dan tidak langsung dengan perolehan UAS ANKA TUDM iaitu Syarikat ASELSAN, ROKETSAN, HAVELSAN dan C2TECH. 

Seterusnya, PTU dan delegasi meneruskan program lawatan ke Turkiye dengan menghadiri SAHA Expo yang berlangsung di Istanbul bermula pada 22 hingga 26 Oktober 2024. Program ini dimanfaatkan sepenuhnya oleh PTU  bertemu para delegasi dari negara-negara yang hadir untuk mengukuhkan hubungan diplomasi ketenteraan dan menjemput mereka ke LIMA'25 pada tahun hadapan.


Dalam Expo ini juga, PTU turut mengadakan pertemuan bersama Ketua Setiausaha Pertahanan Turkiye (Udara) dan Turkish Air Force Commander, General Ziya Cemal Kadıoğlu. Pertemuan ini menjurus kepada perbincangan untuk mengukuhkan hubungan ketenteraan dan perancangan kerjasama untuk masa akan datang melibatkan latihan serta pertukaran kepakaran antara kedua-dua negara. PTU turut mengadakan lawatan ke beberapa booth pameran industri pertahanan semasa menghadiri Expo tersebut.

SAHA Expo merupakan acara yang mempamerkan produk-produk dari syarikat-syarikat industri pertahanan Turkiye serta syarikat luar negara yang khusus kepada penerbangan, maritim dan angkasa lepas.