27 Juli 2018
3 skuadron baru akan berdiri tahun depan di Papua (photo : Antara)
Tahun Depan Papua Miliki Skuadron Tempur, Hercules, Pesawat tanpa Awak
Bisnis.com, JAKARTA – Tentera Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) tengah menyiapkan pembangunan tiga skuadron udara (tempur,hercules,pesawat tanpa), yang direncanakan mulai beroperasi 2019.
Kepala Staf TNI AU (KSAU) Marsekal TNI Yuyu Sutisna mengatakan pihaknya menyiapkan pembentukan tiga skuadron di wilayah Timur Indonesia dalam upaya menjaga kedaulatan serta meningkatkan pengamanan wilayah udara Negara Kesatuan Republik Indonesia, khususnya Provinsi Papua dan Papua Barat.
"Program TNI AU untuk pembetukan tiga satuan Skuadron terdiri Skuadron Tempur, Skuadron pesawat angkut Hercules serta Skuadron pesawat tampak awak (UAV)," ujarnya di Biak, Papua Kamis (26/7/2018), seperti dilaporkan Antara.
Yuyu mengatakan pengembangan tiga Skuadron TNI AU di wilayah Papua sebagai pengembangan kebijakan strategis alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI Angkatan Udara.
"Kedaulatan wilayah udara NKRI dari Sabang hingga Merauke harus tetap terjaga melalui kehadiran satuan prajurit TNI Angkatan Udara. Mabes TNI AU sangat berharap pembentukan tiga skuadron bisa terealiasi tahun 2019," ujarnya.
Untuk lokasi Skuadron baru TNI AU di Papua, lanjut KSAU, sampai sekarang sedang dilakukan kajian tim Mabes TNI Angkatan Udara.
Kehadiran skuadron baru TNI di Papua, lanjut KSAU Marsekal Yuyu, sudah sangat mendesak untuk dapat direaliasikan guna meningkatkan kekuatan sistem pertahanan udara di wilayah Timur Indonesia, khususnya Provinsi Papua.
Menyinggung Lanud mana yang akan dijadikan base operasional pembentukan Skuadron baru, menurut KSAU Yuyu, hingga saat ini sudah ada yang disiapkan di wilayah Papua.
"Untuk lokasi Lanud mana yang siap membentuk Skuadron baru akan menjadi prioritas Mabes TNI Angkatan Udara melalui Koopsau III," katanya.
Kunjungan kerja KSAU Marsekal Yuyu Sutisna di Lanud Manuhua Biak untuk memimpin sertijab Komndan Lanud Silas Papare Jayapura, dan peresmian peningkatan status type A Lanud Manuhua Biak dan Lanud Jayapura serta peresmian pergantian delapan nama Lanud di Indonesia berlatar belakang nama pahlawan Nasional. (Bisnis)
Pasir VI, Angkasa, Jayapura(image : GoogleMaps)
Kasau: Pembangunan Satrad Jayapura Bagian Dari Pengembangan Organisasi TNI AU
Mengawali kunjungannya ke Pangkalan TNI AU (Lanud) Jayapura, Papua, Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Yuyu Sutisna, meninjau lokasi pembangunan Satuan Radar (Satrad) Jayapura, di daerah Pasir VI kawasan Angkasa Jayapura, Rabu (25/7/2018).
Kasau yang didampingi beberapa pejabat TNI AU menyatakan, lokasi pembangunan Satrad sudah sangat representatif, selain posisinya yang berada di ketinggian, juga langsung mengarah ke samudera pasifik.
“Lokasinya sudah bagus, pembangunan sarana dan prasananya juga sudah lumayan, oleh karena itu untuk tahap awal bila peralatan sudah datang, Satrad Jayapura menjadi prioritas pertama” ujar Kasau.
Kasau melanjutkan, pembangunan Satrad Jayapura merupakan bagian dari pengembangan organisasi TNI AU yang secara bertahap juga akan diikuti dengan penambahan Alutsista, baik radar maupun pesawat di wilayah timur Indonesia.
Sesuai rencana strategis (Renstra) TNI AU, hingga 2024 TNI AU akan menambah beberapa Satrad untuk memperkuat pertahanan udara nasional di beberapa wilayah tengah dan timur Indonesia, termasuk di daerah Papua.
Seusai meninjau lokasi pembangunan Satrad, Kasau dan Ketua Umum PIA Ardhya Garini Ayu Yuyu Sutisna meresmikan Taman Kanak-Kanak Angkasa di Lanud Jayapura.
TK Angkasa yang menempati lokasi di dalam kompleks Lanud itu, saat ini menampung 20 siswa/siswi serta 4 tenaga pendidik.
Dalam amanat singkatnya, Kasau berharap TK Angkasa Lanud Jayapura dapat menjadi awal tempat pembinaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.
“Saya sangat mengapresiasi upaya Komandan Lanud yang telah membangun TK Angkasa, hal ini selaras dengan komitmen TNI AU untuk terus meningkatkan kualitas prajurit dan keluarganya sejak dini melalui pendidikan” ujar Kasau. (TOL)
27 Juli 2018
26 Juli 2018
PH Navy: Delivery of 2 Anti-Sub Helicopters Set in March 2019
26 Juli 2018
AW159 Wildcat ASW helicopter (photo : Crown)
MANILA -- The Philippine Navy (PN) will receive its first two anti-submarine helicopters, AgustaWestland AW159 "Wildcat", in March next year.
"Siguro sa March ang delivery (The delivery is probably in March 2019)," PN flag-officer-in-command Vice Admiral Robert Empedrad said when asked about the delivery dates for the two aircraft, during an interview with reporters Monday.
The AW159s, to be sourced from the Anglo-Italian aircraft manufacturer AgustaWestland, will help the two missile-armed frigates being constructed by Hyundai Heavy Industries for PHP18 billion, against submarine attacks.
"Itong anti-submarine warfare will (help the frigates against submarine attacks) kasi yun submarine ang magpapalubog ng mga barko (These anti-submarine helicopters will help the frigates against submarine attacks because submarines sink ships). So this will help in the defense of the frigates," Empedrad added.
The contract for the two anti-submarine helicopters is worth PHP5.4 billion and includes munition, mission essential equipment, and integrated logistic support. The AW159, previously called the Future Lynx and Lynx Wildcat, is an improved version of the Westland Super Lynx military helicopter.
The helicopter, which has been ordered for the Royal Navy and British Army, is capable of speeds of 291 km/h, has a range of 777 km., a ferry range of 963 km., and an endurance of one-and-a-half hours (four hours and 30 minutes if fitted with auxiliary fuel).
The AW159 can be fitted with forward firing CRV7 rockets and machine guns, pintle-mounted machine gun, Sea Skua missiles, and Sting-Ray torpedoes and depth charges.
(PNA)
AW159 Wildcat ASW helicopter (photo : Crown)
MANILA -- The Philippine Navy (PN) will receive its first two anti-submarine helicopters, AgustaWestland AW159 "Wildcat", in March next year.
"Siguro sa March ang delivery (The delivery is probably in March 2019)," PN flag-officer-in-command Vice Admiral Robert Empedrad said when asked about the delivery dates for the two aircraft, during an interview with reporters Monday.
The AW159s, to be sourced from the Anglo-Italian aircraft manufacturer AgustaWestland, will help the two missile-armed frigates being constructed by Hyundai Heavy Industries for PHP18 billion, against submarine attacks.
"Itong anti-submarine warfare will (help the frigates against submarine attacks) kasi yun submarine ang magpapalubog ng mga barko (These anti-submarine helicopters will help the frigates against submarine attacks because submarines sink ships). So this will help in the defense of the frigates," Empedrad added.
The contract for the two anti-submarine helicopters is worth PHP5.4 billion and includes munition, mission essential equipment, and integrated logistic support. The AW159, previously called the Future Lynx and Lynx Wildcat, is an improved version of the Westland Super Lynx military helicopter.
The helicopter, which has been ordered for the Royal Navy and British Army, is capable of speeds of 291 km/h, has a range of 777 km., a ferry range of 963 km., and an endurance of one-and-a-half hours (four hours and 30 minutes if fitted with auxiliary fuel).
The AW159 can be fitted with forward firing CRV7 rockets and machine guns, pintle-mounted machine gun, Sea Skua missiles, and Sting-Ray torpedoes and depth charges.
(PNA)
8 Helikopter Sudah Lengkapi Skadron 13/Serbu Penerbad
26 Juli 2018
Helikopter Fennec TNI AD (photo : Penerbad)
Mengenal Jenis-Jenis Helikopter di Skadron 13/Serbu: Fennec AS555AP
PROKAL.CO, Sejak bermarkas di Berau pada 25 Agustus 2016 lalu, Skadron 13/Serbu terus kedatangan helikopter-helikopter canggih. Salah satunya Helikopter Fennec AS555AP yang dibuat oleh kolaborasi PT Dirgantara Indonesia dengan Airbus Helicopters, Prancis.
LIMA helikopter terparkir rapi di hanggar yang memiliki luasan sekitar 50x20 meter. Lokasinya persis berada di tengah-tengah Markas Skadron 13/Serbu, yang berada di lokasi bangunan eks Bandara Kalimarau, Teluk Bayur.
Saat awak media ini tiba pada Selasa (24/7) siang di markas yang langsung di bawah komando Markas Besar TNI Angkatan Darat itu, beberapa prajurit Skadron tampak santai dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang berjaga di pos gerbang masuk, hingga yang tengah melaksanakan pendidikan penerbangan.
Komandan Skadron 13/Serbu Letkol Cpn Sucipto, terlihat berjalan sambil mengobrol santai dengan salah satu pelatih penerbang dari PT Dirgantara Indonesia menyempatkan bertemu dengan awak media ini. Ia mengatakan, sejak diresmikan pada 25 Agustus 2016 lalu, pihaknya sudah memiliki delapan helikopter.
Delapan helikopter tersebut terdiri dari enam unit helikopter berjenis Fennec dan dua helikopter berjenis Bell 412. “Untuk sementara ini tujuh heli stay-nya di Skadron. Sedangkan satu heli lainnya yaitu Bell 412, difungsikan untuk misi pengaman perbatasan Indonesia dengan Malaysia oleh Kodam VI/Mulawarman,” katanya kepada Berau Post, Selasa (24/7).
Sambil memberi penjelasan, Sucipto mengarahkan media ini untuk menemui Sertu Tiko Pujo Ashari, salah seorang mekanik helikopter jenis Fennec AS555AP yang tengah santai siang itu. Tiko lantas mengajak media ini berkeliling sembari menjelaskan spesifikasi helikopter yang juga biasa digunakan untuk warga sipil itu.
Helikopter Fennec diterangkannya memiliki berat sekitar 1,6 ton dan panjang kurang lebih 10 meter. Salah satu jenis alutsista milik TNI AD tersebut, merupakan helikopter serang ringan yang bisa dipersenjatai. Helikopter tersebut bisa difungsikan sebagai pelindung bagi helikopter pengangkut pasukan dari serangan musuh.
Selain itu, helikopter berwarna hijau khas militer ini juga menggunakan double engine atau mesin ganda. Sehingga, apabila salah satu mesinnya mengalami gangguan, maka mesin lainnya bisa menggantikannya. “Untuk sistem avionik-nya juga sudah canggih dan digital,” ujarnya.
Ia mengatakan, helikopter Fennec ini berkapasitas enam orang. Untuk sekali terbang, helikopter ini mampu menjelajah angkasa selama tiga hingga empat jam setelah mengisi penuh tangki bahan bakar sebanyak 665 liter. Meski demikian, banyaknya barang dan muatan yang dibawa helikopter, cukup memengaruhi kecepatan terbang helikopter.
Saat ini, Fennec AS555AP yang berada di Skadron 13/Serbu ini belum dipasangi persenjataan. Pasalnya, karena masih tergolong baru, persenjataan helikopter inipun masih dalam proses pembuatan di PT Dirgantara Indonesia (DI).
Senjata-senjata yang bisa dipasang pada helikopter serang ini seperti peluncur roket FFAR (Folding Fin Aerial Rocket) dan Door Gunner jenis Gatling dan Mag58. “Cuma kalau senjata Door Gunner ini dipasang, maka tempat duduk di heli harus dilepas,” tuturnya.
(ProKal)
Helikopter Fennec TNI AD (photo : Penerbad)
Mengenal Jenis-Jenis Helikopter di Skadron 13/Serbu: Fennec AS555AP
PROKAL.CO, Sejak bermarkas di Berau pada 25 Agustus 2016 lalu, Skadron 13/Serbu terus kedatangan helikopter-helikopter canggih. Salah satunya Helikopter Fennec AS555AP yang dibuat oleh kolaborasi PT Dirgantara Indonesia dengan Airbus Helicopters, Prancis.
LIMA helikopter terparkir rapi di hanggar yang memiliki luasan sekitar 50x20 meter. Lokasinya persis berada di tengah-tengah Markas Skadron 13/Serbu, yang berada di lokasi bangunan eks Bandara Kalimarau, Teluk Bayur.
Saat awak media ini tiba pada Selasa (24/7) siang di markas yang langsung di bawah komando Markas Besar TNI Angkatan Darat itu, beberapa prajurit Skadron tampak santai dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang berjaga di pos gerbang masuk, hingga yang tengah melaksanakan pendidikan penerbangan.
Komandan Skadron 13/Serbu Letkol Cpn Sucipto, terlihat berjalan sambil mengobrol santai dengan salah satu pelatih penerbang dari PT Dirgantara Indonesia menyempatkan bertemu dengan awak media ini. Ia mengatakan, sejak diresmikan pada 25 Agustus 2016 lalu, pihaknya sudah memiliki delapan helikopter.
Delapan helikopter tersebut terdiri dari enam unit helikopter berjenis Fennec dan dua helikopter berjenis Bell 412. “Untuk sementara ini tujuh heli stay-nya di Skadron. Sedangkan satu heli lainnya yaitu Bell 412, difungsikan untuk misi pengaman perbatasan Indonesia dengan Malaysia oleh Kodam VI/Mulawarman,” katanya kepada Berau Post, Selasa (24/7).
Sambil memberi penjelasan, Sucipto mengarahkan media ini untuk menemui Sertu Tiko Pujo Ashari, salah seorang mekanik helikopter jenis Fennec AS555AP yang tengah santai siang itu. Tiko lantas mengajak media ini berkeliling sembari menjelaskan spesifikasi helikopter yang juga biasa digunakan untuk warga sipil itu.
Helikopter Fennec diterangkannya memiliki berat sekitar 1,6 ton dan panjang kurang lebih 10 meter. Salah satu jenis alutsista milik TNI AD tersebut, merupakan helikopter serang ringan yang bisa dipersenjatai. Helikopter tersebut bisa difungsikan sebagai pelindung bagi helikopter pengangkut pasukan dari serangan musuh.
Selain itu, helikopter berwarna hijau khas militer ini juga menggunakan double engine atau mesin ganda. Sehingga, apabila salah satu mesinnya mengalami gangguan, maka mesin lainnya bisa menggantikannya. “Untuk sistem avionik-nya juga sudah canggih dan digital,” ujarnya.
Ia mengatakan, helikopter Fennec ini berkapasitas enam orang. Untuk sekali terbang, helikopter ini mampu menjelajah angkasa selama tiga hingga empat jam setelah mengisi penuh tangki bahan bakar sebanyak 665 liter. Meski demikian, banyaknya barang dan muatan yang dibawa helikopter, cukup memengaruhi kecepatan terbang helikopter.
Saat ini, Fennec AS555AP yang berada di Skadron 13/Serbu ini belum dipasangi persenjataan. Pasalnya, karena masih tergolong baru, persenjataan helikopter inipun masih dalam proses pembuatan di PT Dirgantara Indonesia (DI).
Senjata-senjata yang bisa dipasang pada helikopter serang ini seperti peluncur roket FFAR (Folding Fin Aerial Rocket) dan Door Gunner jenis Gatling dan Mag58. “Cuma kalau senjata Door Gunner ini dipasang, maka tempat duduk di heli harus dilepas,” tuturnya.
(ProKal)
Label:
ANGKATAN DARAT,
Helikopter Ringan,
INDONESIA,
TNI-AD
Rheinmetall MAN to Supply New 1,044 Logistics Trucks to ADF
26 Juli 2018
ADF logistic truck (photo : Aus DoD)
New trucks for the ADF
The Australian Defence Force’s land capabilities will be further enhanced with the purchase of 1044 additional new-generation medium and heavy trucks, 872 modules and 812 trailers, worth $1.4 billion.
Minister for Defence Industry, the Hon Christopher Pyne MP said the additional medium and heavy trucks and their associated modules and trailers would facilitate logistics support through the movement of assets and supplies in combat, humanitarian, natural disaster relief and training.
"These modern trucks will be used for a broad range of military contingencies, from resupplying combat operations to supporting the ADF’s assistance to Australian and regional communities after natural disasters such as floods, fires and cyclones, " Minister Pyne said.
“We’ve already got more than 1,000 of these trucks in service and they have proved their value, exceeding user expectations in disaster relief, training and on exercises.
“This project marks the final Government approval for the LAND 121 Program, which is replacing the ADF’s legacy fleet of ageing vehicles and trailers, many of which are in excess of 30 years old and becoming increasingly costly and difficult to maintain.”
Minister Pyne said that while the trucks themselves would be manufactured on an existing production line in Austria, Australian industry would play a vital role in the project with Rheinmetall MAN Military Vehicles Australia partnering with a range of Australia-based companies like Varley in Newcastle, Holmwood Highgate in Brisbane, and ECLIPS in the ACT to supply the modules and trailers.
“Haulmark Trailers Australia, a trusted and proven Australian Defence industry partner, will manufacture and sustain the trailers for the project," Minister Pyne said.
“LAND 121 Phase 5B will sustain over 100 jobs with Haulmark in Brisbane, as well as over 100 more with Rheinmetall, its subcontractors and supply chain across Australia.
“This project presents an exciting opportunity for Australian industry to continue delivery of new-generation capability in support of the ADF.
"Australian industry involvement is in the order of half a billion dollars for acquisition, with ongoing sustainment being carried out by Australian or Australia-based companies.”
(Aus DoD)
ADF logistic truck (photo : Aus DoD)
New trucks for the ADF
Minister for Defence Industry, the Hon Christopher Pyne MP said the additional medium and heavy trucks and their associated modules and trailers would facilitate logistics support through the movement of assets and supplies in combat, humanitarian, natural disaster relief and training.
"These modern trucks will be used for a broad range of military contingencies, from resupplying combat operations to supporting the ADF’s assistance to Australian and regional communities after natural disasters such as floods, fires and cyclones, " Minister Pyne said.
“We’ve already got more than 1,000 of these trucks in service and they have proved their value, exceeding user expectations in disaster relief, training and on exercises.
“This project marks the final Government approval for the LAND 121 Program, which is replacing the ADF’s legacy fleet of ageing vehicles and trailers, many of which are in excess of 30 years old and becoming increasingly costly and difficult to maintain.”
Minister Pyne said that while the trucks themselves would be manufactured on an existing production line in Austria, Australian industry would play a vital role in the project with Rheinmetall MAN Military Vehicles Australia partnering with a range of Australia-based companies like Varley in Newcastle, Holmwood Highgate in Brisbane, and ECLIPS in the ACT to supply the modules and trailers.
“Haulmark Trailers Australia, a trusted and proven Australian Defence industry partner, will manufacture and sustain the trailers for the project," Minister Pyne said.
“LAND 121 Phase 5B will sustain over 100 jobs with Haulmark in Brisbane, as well as over 100 more with Rheinmetall, its subcontractors and supply chain across Australia.
“This project presents an exciting opportunity for Australian industry to continue delivery of new-generation capability in support of the ADF.
"Australian industry involvement is in the order of half a billion dollars for acquisition, with ongoing sustainment being carried out by Australian or Australia-based companies.”
(Aus DoD)
25 Juli 2018
Visiting to 574th Armored Brigade of Vietnamese People's Army
24 Juli 2018
T-54/T-55 tanks (photo : DatViet)
Not only equipped with T-54/55 tanks, the 574th Armored Brigade, Military Zone 5 (TTG 574) was also equipped with special "steel fists" ready to hit critical targets : enemies tank.
Accordingly, in addition to the main T-54/55 and PT-76 tanks included in the 574th Armored Brigade, Army Region 5 was also equipped with SU-100 self-propelled guns and anti-tank guns. Steel armored scissors BTS-4 the " steel punch " of the military forces.
Although the main combat force of TTG 574 is still T-54/55 tanks, but if they are accompanied by the SU-100, this will be a terrifying pair of tanks on the battlefield, despite the relatively old age. High of these two weapons.
Of course, the T-54/55 is capable of fast maneuvering and firepower, while the SU-100 is likely to serve as a support fire similar to PT-76 because of certain restrictions.
This is one of the most powerful firepower of the People's Army of Vietnam. Despite the "age of life" relatively high, but thanks to the "golden hand" of Vietnamese technicians that the SU-100 still retain its inherent form.
About the design of the SU-100 using the base tank medium tank T-34-85, maximum weight 31.6 tons, 9.45 m long, 3 m wide, 2.25 m high, fighting four people. Remarkably, Vietnam still maintains T-34-85 tanks.
SU-100 (Samokhodnaya Ustanovka 100) a tank destroyer armed with a 100 mm anti-tank gun (photo : Kien Thuc)
In terms of main firepower, the SU-100 is equipped with a 100mm D-10S cannon with a 125mm penetration angle to the ground at a distance of 2,000m, penetrating the 85mm tilt armor of the German tank at a distance. Even the SU-100 was so scary that the German army had to nick it "Pizdets vsemu", roughly translated as "the end of everything."
According to Army Recognition site military analysis, at the present time the SU-100 can not destroy any modern tank but the 100mm bullets are capable of breaking through the light tanks, infantry fighting vehicles and armored vehicles. . AP's SU-100 can penetrate 180mm steel armor at a distance of 1,000m.
BTS-4 "Bronetankoviy Tyagach Sredniy" ARV (photo : Soha)
In addition to the SU-100, the 547th Armored Brigade is also equipped with the BTS-4 armored fighting vehicle, one of the most indispensable means for modern tankers. The BTS-4 was also developed for the T-54/55 tanks. In the photo is a BTS-4 of TTG 547 Brigade.
The mission of BTS-4 on the battlefield is to assist with the recovery or rescue of a malfunctioning or damaged vehicle. The main objects of the BTS-4 are the T-54/55 main battle tanks, the BMP-1/2 infantry fighting vehicles, or similar medium-range armored vehicles.
(KienThuc)
T-54/T-55 tanks (photo : DatViet)
Not only equipped with T-54/55 tanks, the 574th Armored Brigade, Military Zone 5 (TTG 574) was also equipped with special "steel fists" ready to hit critical targets : enemies tank.
Accordingly, in addition to the main T-54/55 and PT-76 tanks included in the 574th Armored Brigade, Army Region 5 was also equipped with SU-100 self-propelled guns and anti-tank guns. Steel armored scissors BTS-4 the " steel punch " of the military forces.
Although the main combat force of TTG 574 is still T-54/55 tanks, but if they are accompanied by the SU-100, this will be a terrifying pair of tanks on the battlefield, despite the relatively old age. High of these two weapons.
Of course, the T-54/55 is capable of fast maneuvering and firepower, while the SU-100 is likely to serve as a support fire similar to PT-76 because of certain restrictions.
This is one of the most powerful firepower of the People's Army of Vietnam. Despite the "age of life" relatively high, but thanks to the "golden hand" of Vietnamese technicians that the SU-100 still retain its inherent form.
About the design of the SU-100 using the base tank medium tank T-34-85, maximum weight 31.6 tons, 9.45 m long, 3 m wide, 2.25 m high, fighting four people. Remarkably, Vietnam still maintains T-34-85 tanks.
SU-100 (Samokhodnaya Ustanovka 100) a tank destroyer armed with a 100 mm anti-tank gun (photo : Kien Thuc)
In terms of main firepower, the SU-100 is equipped with a 100mm D-10S cannon with a 125mm penetration angle to the ground at a distance of 2,000m, penetrating the 85mm tilt armor of the German tank at a distance. Even the SU-100 was so scary that the German army had to nick it "Pizdets vsemu", roughly translated as "the end of everything."
According to Army Recognition site military analysis, at the present time the SU-100 can not destroy any modern tank but the 100mm bullets are capable of breaking through the light tanks, infantry fighting vehicles and armored vehicles. . AP's SU-100 can penetrate 180mm steel armor at a distance of 1,000m.
BTS-4 "Bronetankoviy Tyagach Sredniy" ARV (photo : Soha)
In addition to the SU-100, the 547th Armored Brigade is also equipped with the BTS-4 armored fighting vehicle, one of the most indispensable means for modern tankers. The BTS-4 was also developed for the T-54/55 tanks. In the photo is a BTS-4 of TTG 547 Brigade.
The mission of BTS-4 on the battlefield is to assist with the recovery or rescue of a malfunctioning or damaged vehicle. The main objects of the BTS-4 are the T-54/55 main battle tanks, the BMP-1/2 infantry fighting vehicles, or similar medium-range armored vehicles.
(KienThuc)
3 UAV Wulung Buatan PTDI Siap Berugas di TNI AU
25 Juli 2018
Wulung UAV (photo : Defense Studies)
Mengamati PUNA Wulung di PTDI, Sang Elang Pengawas dari Langit
PUNA Wulung rancang bangunnya dikerjakan oleh BPPT (Badan Pengkajian & Penerapan Teknologi). Sedangkan PTDI bertindak sebagai pabrik manufakturnya yang juga melibatkan PT LEN Industri di Bandung untuk menyediakan teknologi sistem kontrol penerbangannya.
Order untuk memproduksi tiga unit PUNA diberikan oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan) setelah melihat keberhasilan demo terbang Wulung di Lanud Halim Perdanakusuma pada 11 Oktober 2012 yang dihadiri Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono kala itu.
PTDI membuat lima unit Wulung di mana tiga telah diserahkan kepada Kementerian Pertahanan, satu kepada BPPT, dan satu lagi di PTDI.
Wulung Ground Control Station (photo : Defense Studies)
Project Manager PUNA atau sering juga disebut PTTA (Pesawat Terbang Tanpa Awak) Wulung PT Dirgantara Indonesia, Nainar, menjelaskan kepada tim AR bahwa program pengembangan PTTA Wulung di PTDI dimulai tahun 2013 dan memakan waktu dua tahun mulai dari proses development hingga sertifikasi.
“Kontrak pembuatan PTTA ini adalah antara PTDI dengan Kementerian Pertahanan RI dan pengiriman tiga unit Wulung kepada Kemhan sudah dilaksanakan,” kata Nainar.
Sebagai mata pengawas dari langit, Wulung dilengkapi kamera video dan foto high definition yang dipasang dalam kubah di perutnya. Data dari perangkat ini dapat dihubungkan secara real time dengan pusat pengendali di darat (GCS) yang ditempatkan dalam unit bergerak berupa minibus ukuran sedang dioperasikan oleh 2-3 orang awak.
Wulung Transporter (photo : Defense Studies)
Sementara itu ketiga unit Wulung ditempatkan dalam satu boks kontainer yang dipasang di atas truk jenis ¾ (truk medium). Dua badan pesawat dibariskan dengan bagian kepala mengarah ke belakang, sedangkan satu unit lagi di tengah dengan kepala menghadap ke kabin depan. Sementara sayap utama dilepas dan disandarkan pada bagian dinding kiri dan kanan boks kontainer.
Kini ketiga NW01 (Nusantara Wulung) bernomor registrasi KX-0003 s/d KX-0005 telah siap menjalani tugas resminya bersama TNI AU. Wulung rencananya akan ditempatkan di Skadron Udara 51 Lanud Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat bergabung dengan Aerostar, drone ISR (Intelligence Surveillance Reconnaisance) penuh yang telah memperkuat skadron intai tanpa awak pertama TNI AU ini sejak 2015.
Memang baru tiga unit ‘Elang Pengawas’ yang dipesan Kemhan untuk TNI AU. Namun ini tentu langkah baik untuk mewujudkan penguasaan teknologi dan kemandirian bangsa dalam pembuatan alutsistanya sendiri. Meski ada wacana untuk melengkapi satu skadron penuh hingga 12-16 unit, tapi belum tahu kapan akan ditindak lanjuti untuk direalisasikan.
See full article Angkasa Review
Wulung UAV (photo : Defense Studies)
Mengamati PUNA Wulung di PTDI, Sang Elang Pengawas dari Langit
PUNA Wulung rancang bangunnya dikerjakan oleh BPPT (Badan Pengkajian & Penerapan Teknologi). Sedangkan PTDI bertindak sebagai pabrik manufakturnya yang juga melibatkan PT LEN Industri di Bandung untuk menyediakan teknologi sistem kontrol penerbangannya.
Order untuk memproduksi tiga unit PUNA diberikan oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan) setelah melihat keberhasilan demo terbang Wulung di Lanud Halim Perdanakusuma pada 11 Oktober 2012 yang dihadiri Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono kala itu.
PTDI membuat lima unit Wulung di mana tiga telah diserahkan kepada Kementerian Pertahanan, satu kepada BPPT, dan satu lagi di PTDI.
Wulung Ground Control Station (photo : Defense Studies)
“Kontrak pembuatan PTTA ini adalah antara PTDI dengan Kementerian Pertahanan RI dan pengiriman tiga unit Wulung kepada Kemhan sudah dilaksanakan,” kata Nainar.
Sebagai mata pengawas dari langit, Wulung dilengkapi kamera video dan foto high definition yang dipasang dalam kubah di perutnya. Data dari perangkat ini dapat dihubungkan secara real time dengan pusat pengendali di darat (GCS) yang ditempatkan dalam unit bergerak berupa minibus ukuran sedang dioperasikan oleh 2-3 orang awak.
Wulung Transporter (photo : Defense Studies)
Kini ketiga NW01 (Nusantara Wulung) bernomor registrasi KX-0003 s/d KX-0005 telah siap menjalani tugas resminya bersama TNI AU. Wulung rencananya akan ditempatkan di Skadron Udara 51 Lanud Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat bergabung dengan Aerostar, drone ISR (Intelligence Surveillance Reconnaisance) penuh yang telah memperkuat skadron intai tanpa awak pertama TNI AU ini sejak 2015.
Memang baru tiga unit ‘Elang Pengawas’ yang dipesan Kemhan untuk TNI AU. Namun ini tentu langkah baik untuk mewujudkan penguasaan teknologi dan kemandirian bangsa dalam pembuatan alutsistanya sendiri. Meski ada wacana untuk melengkapi satu skadron penuh hingga 12-16 unit, tapi belum tahu kapan akan ditindak lanjuti untuk direalisasikan.
See full article Angkasa Review
Label:
ANGKATAN UDARA,
INDONESIA,
Industri Pertahanan,
TNI-AU,
UAV
First Two New RAAF Roulettes Pilatus PC-21s Arrive
25 Juli 2018
The first two aircraft for the RAAF Roulettes (photos : Australian Aviation)
The first two aircraft for the Royal Australian Air Force’s (RAAF) acrobatic display team have arrived in Australia.
The pair of Pilatus PC-21s, with registration HB-HWS and HB-HWT, landed in Darwin on Saturday July 21 from Kupang in Indonesia, as these photographs from Sid Mitchell showed.
On Sunday, the PC-21s flew from Darwin to Adelaide via Alice Springs, according to flight tracking website FlightAware. The following day, the two aircraft reached RAAF Base East Sale.
The Air Force Roulettes are replacing the Pilatus PC-9/A, which have been flown since 1989, with the PC-21s.
The Australian Defence Force is acquiring 49 PC-21s as well as simulators and training devices under the AIR 5428 Pilot Training System.
Under AIR 5428, the PC-21 will replace both the ageing Pilatus PC-9/A advanced trainer, which has been in service since 1988, and the CT-4B Airtrainer, which is currently used for basic training. The PC-9/A is due to be withdrawn in 2019 after 30 years of service and more than 500,000 flying hours.
AIR 5428 is an integrated system designed to train all future Royal Australian Air Force, Royal Australian Navy and Australian Army pilots. The project spans flight screening through all phases of pilot training from basic flying training at Central Flying School (CFS) at RAAF Base East Sale through to the advanced flying training at 2FTS (No 2 Flying Training School) at RAAF Base Pearce, north of Perth.
Lockheed Martin is the prime contractor with responsibility for delivering AIR 5428 and is providing the ground-based training environment, with Pilatus providing the PC-21 aircraft and Hawker Pacific providing maintenance support.
The first six PC-21s advanced trainers were formally welcomed into service at RAAF Base East Sale in August 2017.
(Australian Aviation)
The first two aircraft for the RAAF Roulettes (photos : Australian Aviation)
The first two aircraft for the Royal Australian Air Force’s (RAAF) acrobatic display team have arrived in Australia.
The pair of Pilatus PC-21s, with registration HB-HWS and HB-HWT, landed in Darwin on Saturday July 21 from Kupang in Indonesia, as these photographs from Sid Mitchell showed.
On Sunday, the PC-21s flew from Darwin to Adelaide via Alice Springs, according to flight tracking website FlightAware. The following day, the two aircraft reached RAAF Base East Sale.
The Air Force Roulettes are replacing the Pilatus PC-9/A, which have been flown since 1989, with the PC-21s.
The Australian Defence Force is acquiring 49 PC-21s as well as simulators and training devices under the AIR 5428 Pilot Training System.
Under AIR 5428, the PC-21 will replace both the ageing Pilatus PC-9/A advanced trainer, which has been in service since 1988, and the CT-4B Airtrainer, which is currently used for basic training. The PC-9/A is due to be withdrawn in 2019 after 30 years of service and more than 500,000 flying hours.
AIR 5428 is an integrated system designed to train all future Royal Australian Air Force, Royal Australian Navy and Australian Army pilots. The project spans flight screening through all phases of pilot training from basic flying training at Central Flying School (CFS) at RAAF Base East Sale through to the advanced flying training at 2FTS (No 2 Flying Training School) at RAAF Base Pearce, north of Perth.
Lockheed Martin is the prime contractor with responsibility for delivering AIR 5428 and is providing the ground-based training environment, with Pilatus providing the PC-21 aircraft and Hawker Pacific providing maintenance support.
The first six PC-21s advanced trainers were formally welcomed into service at RAAF Base East Sale in August 2017.
(Australian Aviation)
Langganan:
Postingan (Atom)










