21 Maret 2018

Air Force Declares Initial Operating Capability for the P-8A Poseidon

21 Maret 2018



RAAF P-8A Poseidon (photo : Nathan Rundle)

Australia’s new maritime surveillance aircraft the P-8A Poseidon has achieved Initial Operating Capability (IOC), five months ahead of the original schedule.

Minister for Defence, Senator the Hon Marise Payne, congratulated Air Force and CASG on the significant milestone that has been achieved.

“Together the P-8A Poseidon and the future MQ-4C Triton aircraft will provide Australia with one of the world’s most advanced maritime patrol and surveillance capabilities,” Minister Payne said.


RAAF P-8A Poseidon (photo : Darren Crick)

“The P-8A is a very capable and effective successor to the AP-3C Orion, which will soon retire from the role after nearly 40 years of distinguished service.

“The Poseidon will improve Defence’s ability to conduct Anti-Submarine warfare, maritime patrol and surveillance of Australia’s maritime approaches.”

Chief of Air Force, Air Marshal Leo Davies, said declaring IOC was a significant milestone because the P-8A is a fundamental element of Australian Defence Forces future maritime strategy.

“The arrival of the P-8A has allowed Air Force, under Plan Jericho, to develop and evolve new operating concepts, support arrangements and sustainment options," Air Marshal Davies said.


RAAF P-8A Poseidon (photo : JR Mooing)


“These will best exploit the P-8A’s sensors and networking as part of integrated Navy and Air Force integrated Maritime Intelligence, Surveillance and Reconnaissance Family of Systems. 

“The acquisition of the P-8A represents a $5 billion investment in Australia’s maritime patrol capability and along with the MQ-4C Triton, will be a very capable and effective successor to the AP-3C Orion.”

To date, six of Australia’s 12 P-8As have arrived in Australia, operated by Number 11 Squadron from RAAF Base Edinburgh in South Australia. 

(RAAF)

38 komentar:

  1. Ini juga jadi inceran tni au kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas,
      Paling layak buat gantiin trio Boeing Camar Emas.. :)

      Gak lucu kan kalo digantiin yg lebih kecil...?

      Cantik nih pesawat...njirr.. :)

      Hapus
    2. Tapi harga muahall mas @PS,. klo d belikan CN 295 versi MPA/ASW mungkin bisa dpt 3 ato 4 biji complit. kita masih ngejar MEF soalnya

      Hapus
    3. Prefer CN mas...

      Bisa disebar2 tiap pangkalan

      Hapus
    4. Kl aq sih pilih CN-235 MPA/ASW

      Hapus
    5. Sebenarnya sih saling melengkapi, kayak sekarang trio Surveilance kombo CN MPA... :)

      Mereka punya peran berbeda sesuai spek/endurance nya, tergantung misi..

      Hapus
    6. CN235 MPA, helikopter ASW, korvey ASW dan kapal selam untuk AL.

      Poseidon untuk AU.

      Poseidon lebih luas jangkauannya, lebih cepat sampai lokasi, lebih banyak sonobuoy dan torpedo yang bisa diangkut dan ditebar ke laut.

      Poseidon lebih mendukung sebagai sarana untuk pre-emptive strike.

      Hapus
    7. @mas WO-WO

      Lha itu AU beli Rainbow kan biar irit biaya operasional pengawasan maritimnya to mas Wo-Wo...mosok malah mau beli poseindon?

      Hapus
    8. beda tupoksi om smilikity, poseidon kan pemburu hantu laut haha!😊😊😊

      dengan harga setara kasel, kyknya sebatas wacana. guwe rasa tni lbh pilih kasel dari pose. kasel lbh tinggi deterennya sich haha!πŸ‘»πŸ‘»πŸ‘»

      mungkin setelah mef3, baru kebeli pesawat model pose gini

      Hapus
  2. Barang wong sugih..ngak usah di mimpikan..TNI bakalan pake CN, Erieye plus MALE UAV untuk ISTAR, AEW, dan MPA.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Uupss ternyata Erieye sudah tidak ada..diganti dg Globaleye..
      Poisedon bukan prioritas krn fungsinya bisa dijalankan dg platform yg lebih ekonomis untuk kepentingan Indonesia. Beli satu Poisedon bisa beli 3 platform MPA dg Bombardier based atau 5 platform MPA dn CN based.

      Jgn mimpi..krn negeri ini lebih mentingkan kuantitas kalau urusan patroli.

      Hapus
    2. Dan Global eye sama mahalnya..
      :D

      Yaah, kalo gitu selepas Surveilance pensiun pilotnya jg gampang ini kok pindah pindah ke maskapai...hihihi..

      :D

      Hapus
    3. Boeing P-08 A Poseidon : $ 130 Mil
      Saab GlobalEye : $ 238 Mil

      Produk PT.DI harga per 2013 lalu :

      NC-212 200 : $ 6 Mil (kayane stop)
      NC-212 400 : $ 7.3 Mil
      NC-212 400 M : $ 7.8 Mil
      CN-235 : $ 22 Mil
      CN-235 MPA : $ 35 Mil
      CN-295 : $ 39 Mil
      CN-295 MPA : $ 51 Mil (kira2)

      CN-235 MPA menggunakan sistem Thales AMASCOS, radar pencari Thales/EADS Ocean Master Mk II , Penjejak panas (thermal imaging) dari Thales, Elettronica ALR 733 radar warning receiver dan CAE's AN/ASQ-508 magnetic anomaly detection system. Pesawat ini juga akan mengakomodasi Rudal Exocet MBDA AM-39 atau torpedo ringan Raytheon Mk 46

      Anggap harga baru naik 10 persen

      CN-235 MPA : $ 53 Mil
      CN-295 MPA : $ 60 Mil

      Pilih punya Poseidon 1 unit dipake wara wiri ampe capek atau pilih punya CN235 MPA 3 biji atau CN295 MPA 2 biji ?...hihihihi

      Hapus
    4. Nek aku ya milih sing paling apik to yaiku Poseidon 8 unit.

      Makane pengadaan kapal selem dikorting dadi 8 wae sebab sing 4 sisane maneh wis diwakili karo 8 Poseidon.

      Alesane sing berwenang ben danane dialihke nang pengadaan kapal permukaan wae, nanging aku curiga alesan sakbenere yaiku Poseidon.

      Buktine nek TNI AU luwih minat karo Poseidon tinimbang mung CN235MPA coba dideleng foto iki :

      https://defence.pk/pdf/threads/indonesia-defence-forum.229571/page-1258#post-10342708


      Hapus
    5. kan duit'e arep go tuku Real Madrid mas.. ehh, Real Fregate:)

      Hapus
    6. Ana alesan siji maneh :

      PTDI khan sibuk banget mengkone, soale line produksine wis kebak karo pesenan 75 unit n219 sing anyar kui lho.

      Nek ditambah produksi CN235MPA kapaaaan mengko dadine si CN235 kui ? Lha wong mung ngrakit maneh helikopter sing wis dadi ing Erbas kanggo tni au wae suine ora jamak.

      Hapus
    7. Wuallah..dari mana Poisedon $ 130 mil..lah yg dipake Murika aja cost'nya udah $ 275 mil. Itu udah cost dari primary users yg beli borongan.

      Globaleye $238 mil kan yg versi lengkap..bisa AEW, ISTAR dan MPA. Terus harga itu termasuk support. Kalo yg hanya untuk MPA $90'an mil..makane ane bilang 1 poisedon bisa 3 MPA bombardier based.

      Ustrali beli USD 3.6 bio untuk 8 biji P8, jadi cost ngebdngkak ke USD 450 mil. Yah wajar aja kalo yg Murika pake dg beli glondongan udah hampir USD 300 million.

      Jadi tetap aje dg budget yg ada..ngk yakin beli P8..he,he..kalo maksain plg cuma bisa kebeli 2 atau mentok2 3 biji. Lah sekarang kan harus muterin laut segede ini..mendingan beli 3 biji P8 atau 8 biji MPA Bombardier atau 15 biji MPA CN ?

      Hapus
    8. 8 unit kapal selem dibantu karo 8 unit poseidon, apa ana maneh kapal selem sing wani mindik-mindik mlebu wilayah RI lewat njero laut ?

      Hapus
    9. Mas WW,
      Ga akan brani masuk lagi laah, dah bisa launch misilnya dari luar wilayah kita kok...

      hwihihi.. :D

      Hapus
    10. Mangkane misil sing mlebu nyang wilayah RI bakal diatasi karo AAW fregat, nek luput bakal diatasi karo nasams, nek luput diatasi karo rudal titik, nek luput bakal diatasi karo AA gun, nek luput bakal diatasi karo ndonga ben misile mejen.

      Nah sakbubare iku, kapal selem sing launching misil mau bakal dioyak karo Poseidon.

      Hapus
    11. Mas woof woof.. saya mau tanya apakah Kapal selam mempunyai rudal pertahanan udara.?? Dan berapa ketinggian poseidon saat melepaskan torpedo.?? Kan ngk mungkin dilepaskan langsung dari ketinggian 10.000 feet. Kalau kapal selam mempunyai kemampuan AAW.. naahh itu kesempatan menembak jatuh poseidon saat terbang rendah diatas permukaan laut.

      Hapus
    12. Oke mas WW

      Saya support lah kalau TNI tetap mau beli Poseidon... Kan udah ngurangin jumlah Kasel tuh dikecilin buat dijadiin Destro dan AEW.. hehehehehhe

      Nang Kasel yang "Ghoib" di Brunei (versi mas @Palu) biar suruh pulang biar genep jumlahnya sesuai MEF 1

      Hahahahahahaha....

      Hapus
    13. Bener mas WW

      Ternyata PT.DI tahun ini lagi sibuk

      Ini ada berita January kemaren mas saat penyerahan CN235 MPA, 2 Heli Panther dan 3 Heli Fennec :

      Sementara itu, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto mengatakan pesawat yang diterima TNI saat ini merupakan bentuk keseriusan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia dalam rangka memenuhi kebutuhan Alutsista TNI pada Renstra kedua 2014--2019.
      Ada beberapa pesawat yang sudah masuk dalam pemesanan Kemenhan RI kepada PT DI, diantaranya adalah sembilan pesawat Cassa NC-212i, tujuh hingga sembilan unit helikopter Caracal, enam helikopter serang dan empat pesawat AKS, ujarnya.

      Hapus
    14. Mas Bagaz,

      Lihat ini dulu :

      https://militarymachine.com/boeing-p-8-poseidon/


      The P-8 Poseidon is also uniquely outfitted with the High Altitude Anti-Submarine Warfare Weapon Capability (HAAWC). This allows them to deploy a Mark 54 torpedo from up to 30,000 feet high. Which ensures that the first and last warning for the target is the splash from the torpedo hitting the water.

      Poseidon bisa lepaskan torpedo pada ketinggian 30.000 kaki atau jika dibuat meter =

      1 kaki = 30 cm = 0,3 meter

      30.000 x 0,3 = 9.000 meter

      9.000 meter = 9 km.

      Jadi Poseidon bisa lepaskan torpedo pada ketinggian 9 km.

      Sementara rudal AAW untuk kapal selam yang pernah dikembangkan yaitu IDAS hanya mencapai ketinggian helikopter ASW sekitar 12.000 kaki = 4 km.

      Jadi untuk saat ini Poseidon aman dari terjangan rudal AAW yang diluncurkan dari kapal selam.

      Hapus
    15. Sorry salah,

      12.000 x 0,3 = 3.600 meter = 3,6 km.

      Hapus
    16. 9 km lebih tinggi dari 3,6 km.

      Poseidon aman.

      Hapus
  3. Ya kalau ada niat pasti ada jalan....dahulu hal yg gak mungkin bisa menjadi kenyataan....Apache,Leopard,Sukhoi 35 buktinya bisa ke beli.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakad mas, hampir semua satuan TNI kita punya mimpi masing2 kepengen alutsista terbaik di Dunia saat ini.

      Mimpi TNI-AD = Leopard & Apache (done)
      Mimpi TNI-AU = SU35, F15, MRTT dan AEW (baru SU yg done)
      Mimpi TNI-AL = Kilo Class dan Destroyer (belum done)

      Kita doain sama2 aja yuk 2020 kesampean semuanya :-)

      Hapus
    2. Berani ambil A400, dan niatnya mo dipake angkut sembako, opo ra sugih..? Hwihihi..

      Hapus
    3. Hahahahaha

      Bener2 dah.. di negara lain dieman eman dielus elus di Indonesia malah rencana AKAN dipakai ngangkut beras dan gula pasir... mudah2an produsennya gak baperan..hadeeeehhhh

      Hapus
    4. aq penasaran aj,. sak durunge mutuske A400 ngangkut sembako, sing d ombe miras cap opo??

      Hapus
    5. Ra cukup miras mas..
      Dijampi karo sales'e kuwi.. :D

      Dukune sakti pool.. :D

      Hapus
    6. Masih percaya alesan buat angkut sembako ?... hihihi.. costnya jauh lebih mahal dari pada naik kapal mas..
      lha sampe sana jadi berapa harga beras per kilonya ? hihihihi

      Tetep lah bakalan pakai Kapal Laut mas.. dipake angkut sembako buat ngadem2in yang lain saja biar kesannya bukan untuk militer.. lha emang kita gak punya banyak pesawa angkut yg lain apa ?
      Wakakakakakaka

      Hapus
    7. mungkin TNI AU akan mengulang kisah nostalgia "Operasi Alpha' era 80an yg mengibuli militer luar tentang kehadiran pesawat baru. cuma kali ini yg dtg bkn pespur, tapi pesawat angkut. wouw.. seriuss guys??

      Hapus
    8. @d'boys

      Menurutku sih bukan lantaran habis minum miras mas boy...tapi habis baca komik "Ghost Fleet"

      Hapus
    9. Hahahahaha Ghost Fleet.. katanya anti asing... tapi rujukannya dari pihak asing semua...πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

      Hapus
    10. tapi buku ghost fleet isinya bagus bung
      hipotesis teknologi dan strategi yg digunakan di peperangan masa depan
      mohonlah jngan dianggap angin lalu lantaran ada yg menggunakannya utk politik.

      Hapus
    11. @d'boys
      perasaan operasi alpha pesawatnya bukan baru namun kalo baru botol pulpen memang iya

      Hapus