05 Juli 2023
Kapal Perang Eks Jerman Timur Dan Pesawat Udara Puspenerbal Akan Jalani Peremajaan
04 Juli 2023
Kemhan Perkirakan 13 Radar GCI Buatan Thales dan PT LEN Rampung 2026
04 Juli 2023
Radar darat TNI AU (photo : KompasTV)JAKARTA - Kementerian Pertahanan ( Kemhan ) menandatangani kontrak jual beli dengan PT Len Industri (Persero) untuk pengadaan 13 unit sistem radar Ground Control Interception (GCI) GM-403 dari Thales, Prancis. 13 unit sistem radar GCI GM-403 dijadwalkan dikirim dari Prancis dalam waktu 48 bulan atau 4 tahun setelah kontrak efektif.
"Kontrak ditandatangani pada tanggal 20 April 2022 dan pengiriman dilakukan dalam waktu 48 bulan setelah tanggal efektif kontrak. Selain itu, periode garansi untuk sistem radar ini adalah 36 bulan,” kata Kepala Biro Humas Setjen Kemhan Brigjen TNI Edwin Adrian Sumantha saat ditemui di Lanud Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Rabu (28/6/2023).
Dia menuturkan, jika tidak ada halangan, maka pengiriman 13 sistem unit radar GCI GM-403 berlangsung sesuai jadwal. Sebagai informasi, pengadaan 13 unit radar GCI itu dilakukan melalui diplomasi antara Menhan Prabowo Subianto dengan Prancis pada 2022.
Kemudian ditandatangani oleh Direktur Utama Len Bobby Rasyidin, dan SVP Latin America & Asia of Thales International SAS, Guy Bonassi, di Prancis. "Kontrak ditandatangani pada tanggal 20 April 2022 dan pengiriman dilakukan dalam waktu 48 bulan setelah tanggal efektif kontrak. Selain itu, periode garansi untuk sistem radar ini adalah 36 bulan," tulis keterangan resmi Kemhan, dikutip Rabu (28/6/2023).
Pengadaan 13 unit sistem radar GCI ini juga merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memodernisasi dan memperkuat kemampuan pertahanan negara, serta alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI. Dikutip dari laman resmi www.len.co.id, radar GCI Dilengkapi dengan command and control, dan merupakan salah satu alutsista yang berfungsi bagaikan 'mata' pertahanan.
Dengan jangkauan mencapai 450 km, radar GCI berperan untuk memberikan pengawalan pada pesawat pencegat maupun pesawat buru sergap dalam menjalankan misinya. Keterlibatan PT Len Industri (Persero) dalam proses pengadaan diharapkan dapat meningkatkan kemampuan industri pertahanan dalam negeri, meningkatkan kesempatan kerja lokal, dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional.
Malaysia Rebut Peluang Sebagai Pusat Selenggaraan Serantau Pesawat FA-50 – Tok Mat
04 Juli 2023
KUALA LUMPUR – Menteri Pertahanan, Dato’ Seri Utama Mohamad Hasan hari ini menyatakan Malaysia perlu mengambil peluang keemasan untuk menjadi hub MRO (pemeliharaan, penyelenggaraan, dan pembaikan) untuk pesawat tempur keluaran Korea Selatan.
Beliau menyatakan, perolehan FLIT/LCA dari Korea Aerospace Industries (KAI) yang dilakukan oleh negara baru-baru ini akan memberikan impak tersendiri kepada industri pertahanan tanah air.
“Kita menandatangani pembelian LCA FA-50 daripada Korea. Kita sedang meneliti program offset dan juga LCP (local content product) yang mana kita mahu supaya aktiviti MRO mesti diadakan di negara kita,” katanya.
Kementerian Pertahanan Malaysia telah meterai Surat Setuju Terima (SST) bagi tujuan perolehan 18 buah FA-50 pada 24 Februari lalu.
Pembelian yang berjumlah RM3.8 bilion ini merupakan sebahagian daripada pelaksanaan program Capability 2055 (CAP55) Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) yang menggariskan 36 buah pesawat FLIT/LCA.
FA-50 merupakan derivatif tempur untuk pesawat latihan T-50 Golden Eagle. Kedua-dua pesawat ini telah digunakan secara meluas di rantau Asia Tenggara termasuk di Indonesia, Filipina dan Thailand.
Mengulas perkara tersebut, Tok Mat menyatakan masih belum terdapat pusat MRO khusus bagi T-50 dan FA-50 di mana-mana negara pengguna di rantau ini.
“Jadi kita nak ambil peluang supaya Malaysia menjadi sebagai regional centre MRO untuk LCA FA50 ini,” kata Menteri Pertahanan menjawab soalan tambahan oleh Senator Datuk Wira Dr. Mohd Hatta Md. Ramli di Dewan Negara, hari ini.
Sebelum Malaysia, Filipina telah terlebih dahulu membeli FA-50 bagi kegunaan tentera udara negara kepulauan republik itu dengan perolehan 12 buah pada tahun 2014. FA-50PH telah digunakan semasa pertempuran di Marawi pada tahun 2017 dan telah mempamerkan keberkesanannya dalam menggempur kedudukan kumpulan pengganas Maute.
Jejak pesawat keluaran Korea Selatan itu di Asia Tenggara bermula dengan perolehan 16 T-50 Golden Eagle oleh Indonesia pada 2011. Perolehan ini dilakukan bagi menggantikan peranan pesawat latihan BAE Hawk dan pesawat penyerang OV-10 Bronco.
Jakarta kemudiannya melakukan perolehan tambahan 6 buah T-50i pada tahun 2021 melalui kontrak bernilai US$240juta.
Thailand telah melakukan perolehan T-50 secara berperingkat pada tahun 2015 dan 2017. Pada permulaan, Bangkok telah membeli 4 buah T-50TH sebelum tambahan 8 buah pada tahun 2017.
(Airtimes)
The Royal Thai Navy Receive 4 New High-speed Patrol Boats of the L.125 series
03 Juli 2023
Townsville to be Home of Apache Helicopters
TNI AU Akan Kedatangan Pesanan Ketiga Pesawat C-130J Super Hercules Bulan Ini
Korean Air South Korea Delivers the First Parts of the Royal Thai Army's AH-6i Armed Reconnaissance Helicopter
03 Juli 2023
Korean Air delivers first AH-6 light attack helicopter fuselage (photo : Korean Air)
Korean Air has delivered the first fuselage of eight AH-6i armed reconnaissance helicopters to US Boeing. Korean Air was awarded a contract from Boeing in December 2021 for the production of eight fuselage components, which will now undergo the final assembly of the airframe in North America.
Korean Air has a comprehensive Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) and aviation division, Korean Air Aerospace Division (KAL-ASD). It has long supported US and Republic of Korea Armed Forces military aircraft in the region.
Korean Air, Republic of Korea, is engaged in its long-term involvement in helicopter production. The MD 500 helicopter was produced in the Republic of Korea during the 1970s-1980s and has produced and exported the fuselage for this model.
“Following the success of this program, Korean Air plans to partner with Boeing to expand its overseas sales and new aircraft development and production business in the future,” Korean Air said in a statement at Seoul International Aerospace & Defense Exhibition 2021(ADEX 2021) in Seoul, Republic of Korea Between 19-24 October 2021 Korean Air, Republic of Korea, has signed an agreement with US Boeing on helicopter upgrade work and the development of new unmanned aerial vehicle (UAV).
Neither Korean Air nor Boeing has provided any further details on which fuselage of the eight AH-6 light attack helicopters is for customers.
But it is understood that the latest export customer announced for the Boeing AH-6i armed reconnaissance helicopter is the Royal Thai Army, which is scheduled for delivery during the year 2024-2025.
Thailand is set to receive eight AH-6i helicopters with delivery for 2024 and 2025 to replace its seven aging Bell AH-1F Cobras (photo : Boeing)The Royal Thai Army has signed a contract for the supply of 8 AH-6i Little Bird armed reconnaissance helicopters. $103,774,884 (approx. 3,342,589,014 baht) was announced by the US Department of Defense on February 18, 2022 after the US Department of State approved the sale to Thailand in 2019.
Proposal for the sale of armed reconnaissance helicopters Eight AH-6i(International) as well as approved weapons systems, equipment, and support including :
-50 Lockheed Martin AGM-114R Hellfire air-to-surface missiles,
-200 BAE Systems APKWS (Advance Precision Kill Weapon System) guided air-to-surface missiles, 10 six-barreled 7.62mm Dillion M134 Mini-Guns,
-Four General Dynamics GAU-19/B Gatling guns, 12.7mm triple-barreled guns, 500 rounds of 70mm Hydra air-to-ground rockets,
-20 sets of night vision goggles (NVG: Night Vision Goggles) and
WESCAM MX-10Di EO/IR (Electro-Optical/Infrared) surveillance and targeting cameras.
The procurement will allow the Royal Thai Army to retire its 7 Bell AH-1F Cobra helicopters that have been used for a long time. “These AH-6i helicopters have reconnaissance and light attack capabilities for close air support to Special Operations Forces, Stryker Armored Infantry and Border Guard units,” the US Defense Security Cooperation Agency (DSCA) said.
Attack helicopter AH-1F Cobra, 3rd Aviation Battalion, Aviation Regiment, Army Aviation Center, Royal Thai Army Aviation Center (AAC), Royal Thai Army with at present, 7 of them, the first 4 entered service in the year 1991 with 1 machine lost in an accident in the year 2000 and provided 4 more machines that were stationed in the US Army in the year 2012.
(AAG)











