04 November 2024

TNI AL dan Angkatan Laut China Bahas Latihan Bersama "Heping Garuda"

04 November 2024

Delegasi TNI Angkatan Laut dan delegasi Angkatan Laut China (PLA) membahas sejumlah kerja sama bidang operasi, pendidikan, dan latihan dalam pertemuan Navy-to-Navy Coordination Meeting di Beijing, China, pada 28–30 Oktober 2024 (photo: Antara)

Jakarta (ANTARA) - TNI Angkatan Laut dan Angkatan Laut China (PLA) membahas berbagai kerja sama bidang operasi, pendidikan dan latihan bersama, termasuk di antaranya Latihan Bersama (Latma) "Heping Garuda 2024" di Jakarta pada Desember 2024.

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI I Made Wira Hady Arsanta Wardhana saat dihubungi di Jakarta, Jumat, menjelaskan latihan itu dibahas dalam pertemuan koordinasi antarangkatan laut (NTNCT) di Beijing, China, pada 28–31 Oktober 2024.

“Delegasi TNI AL dipimpin oleh Kepala Kelompok Staf Ahli (Kapoksahli) Komandan Pusat Hidro-Oseanografi TNI AL (Danpushidrosal) Laksamana Pertama TNI Dyan Primana S, Staf Operasi TNI AL (Sopsal) Kolonel Laut (P) Alfred D. Matthews, dan Atase Pertahanan Laut RI di Beijing, staf Intelijen TNI AL, perwira dari Dinas Pendidikan TNI AL, dan perwakilan dari Satuan Kapal Selam Koarmada II,” kata Kadispenal.

Destroyer Type 052D Luyang III class yang ditawarkan China ke Indonesia bisa jadi dibawa untuk latihan (photo: Shipshub)

Sementara itu, Angkatan Laut China diwakili oleh Asisten Kepala Staf PLA Laksamana Muda Li Wei yang didampingi tujuh staf dari Angkatan Laut China.

Dalam pertemuan itu, delegasi TNI AL juga mengundang secara langsung Angkatan Laut China untuk mengikuti Latihan Bersama Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) Ke-5 di Bali pada Februari 2025, dan ASEAN Plus Cadet Sail 2025 yang diperuntukkan kepada taruna akademi Angkatan Laut China.

Delegasi Angkatan Laut China, dalam pertemuan yang sama, juga mengundang TNI AL menghadiri forum internasional bertajuk “Maritime Community with A Share Future” yang dijadwalkan berlangsung pada November 2024.

TNI AL dan Angkatan Laut China juga membahas rencana untuk latihan bersama (passing exercise) saat kapal perang dari masing-masing negara melewati satu sama lain dalam kunjungan persahabatan ke perairan Indonesia ataupun China.

Komitmen untuk meningkatkan kerja sama antara militer dua negara pernah disampaikan oleh Menteri Pertahanan (Menhan) RI Letjen TNI (Purn.) Sjafrie Sjamsoeddin saat dia menerima kunjungan Duta Besar China untuk Indonesia Wang Lutong di Kantor Kementerian Pertahanan RI, Jakarta, bulan lalu (24/10).

Menhan Sjafrie menyampaikan langsung keinginannya agar Indonesia dan China ke depan dapat menggelar latihan militer bersama.

Austal Australia Delivers 8th Evolved Cape-class Patrol Boat to Royal Australian Navy

03 November 2024

The eighth of ten Evolved Cape-class Patrol Boats ADV Cape Schanck (313) (photos: Austal)

Austal Australia has delivered the eighth of ten Evolved Cape-class Patrol Boats (ECCPB’s) under contract to the Royal Australian Navy.

The vessel, ADV Cape Schanck (313), is the eighth ECCPB to be constructed at Austal’s Henderson, Western Australia shipyard in four and half years.

Austal Limited Chief Executive Officer Paddy Gregg said Cape Schanck highlights Western Australia’s naval shipbuilding capability, productivity and reliability, and Austal Australia’s successful collaboration with industry and project partners to deliver eight patrol boats in four and half years.

“Austal Australia, with the help of our valued supply chain, industry and project partners, have now delivered eight Evolved Capes to the Royal Australian Navy in just four and half years. That’s an outstanding track record of productivity, with one 58 metre patrol boat delivered (on average) every 6 to 7 months, Mr Gregg said.

“We were awarded the Evolved Capes contract in May 2020 and now, less than 5 years later, we have delivered eight boats, despite the challenges of the COVID pandemic and in addition to the (now) 24 Guardian-class Patrol Boats we’re also delivering to the Commonwealth of Australia.

“The Western Australian naval shipbuilding industry should be incredibly proud of this impressive performance, which clearly demonstrates the Henderson Defence Precinct’s capability, productivity, and reliability. Austal Australia, and our 200+ supply chain partners are successfully contributing to the National Naval Shipbuilding Enterprise and Australia’s sovereign capability through the delivery of Evolved Cape-class Patrol Boat Project.

“Our congratulations to the Royal Australian Navy on the delivery of ADV Cape Schanck and sincere thanks to the Austal Australia team, the Department of Defence and our supply chain partners in Western Australia and across the country, for their continued support.”

The SEA1445-1 Evolved Cape-class Patrol Boat (ECCPB) project, initially constructing six 58-metre aluminium monohull patrol boats for the Royal Australian Navy from May 2020, was extended by two vessels in April 2022 and a further two vessels in February 2024, bringing the total to ten vessels. Two ECCPB’s have now been delivered in CY2024 and two remain under construction at Austal’s Henderson, Western Australia shipyard.

The Evolved Capes feature new, larger amenities to accommodate up to 32 people, improved quality of life systems and advanced sustainment intelligence systems that further enhance the Royal Australian Navy’s ability to fight and win at sea. The patrol boats will be utilised for a wide variety of constabulary and naval missions and play a critical role in Australia’s national security, as a high-performing, reliable and effective maritime asset.

In-service support for the Cape, Evolved Cape and Guardian-class Patrol Boat fleets operated by the Australian Border Force, Royal Australian Navy and Pacific Island nations is provided by Austal Australia through dedicated service centres located in Henderson, Western Australia; Cairns, Queensland; and Darwin, Northern Territory.

Austal Australia is also contracted to deliver 24 steel Guardian-class Patrol Boats to the Commonwealth of Australia under the Pacific Patrol Boat Replacement Project (SEA3036-1) and has delivered 21 vessels since 2018.

(Austal)

PT Lundin Perlihatkan Bentuk Nyata Kapal Serbu Ringan (KSR)

03 November 2024

Model Kapal Serbu Ringan yang dipamerkan di Indo Defence 2022 lalu (photo: Jaas)

Pada pameran pertahanan Indo Defence 2022 lalu telah dilakukan penanda-tanganan MOU antara PT PAL bersama Kongsberg Norwegia dan juga PT Lundin Industry Invest (North Sea Boats sebagai nama global). Dengan penanda-tanganan kerjasama tersebut maka PT Lundin Industry Invest akan menyiapkan kapalnya, Kongsberg akan memasok rudal anti-kapal (permukaan-ke-permukaan) NSM, dan PT PAL akan bertindak sebagai Lead Integrator. Adapun produknya adalah Kapal Serbu Ringan (KSR) yang saat itu dipajang mock-up nya pada pameran.

Lambung Kapal Serbu Ringan (KSR) saat proses pembuatan di Lundin (photo: North Sea Boats)

Kapal Serbu Ringan (KSR) yang dikembangkan 3 perusahaan tersebut adalah kapal dengan ukuran 20m, lebar 4m dan bobot perpindahan (displacement) 33 ton, kapal ini disebut-sebut akan memiliki kecepatan 55 knot, akan menjadi kapal serbu bersenjatakan rudal yang tercepat di TNI AL. Untuk rudal yang melengkapinya adalah 2 rudal anti-kapal NSM yang ditempatkan di sisi kiri dan kanan kapal.

Bentuk Kapal Serbu Ringan (KSR) hasil kolaborasi PT PAL-Kongsberg-Lundin (photo: North Sea Boats)

Kini progres Kapal Serbu Ringan (KSR) telah dapat dilihat dari foto-foto yang diunggah melalui akun North Sea Boats pada tanggal 1 November 2024. Tampak lambung kapal dalam ukuran sebenarnya bila dibandingkan dengan ukuran manusia dan bentuk utuh KSR bila telah dilengkapi dengan mast dan dua tabung peluncur rudal. 

03 November 2024

Disambut Hangat, Satgas Port Visit 2024 Tiba di Negara Fiji

03 November 2024

Fiji, negara di Pasific Selatan (image: GoogleMaps)

TNI AL/Koarmada III -- Setelah menempuh pelayaran selama 5 hari dari Solomon Islands, Satuan Tugas (Satgas) Port Visit 2024 KRI dr.WSH-991 tiba di Negara Fiji tepatnya di Nort Kings Wharf, Suva, Fiji, pada Sabtu pagi waktu setempat. (02/11/24).

Penyambutan Satgas KRI WSH 2024 (photos: Koarmada 3)

Kedatangan Satgas Port Visit 2024 saat akan Sandar di dermaga setempat diiringi marching band Fiji Navy dan disambut oleh Dubes RI untuk Fiji Bapak Dupito D. Simamora, Athan RI untuk Fiji Kolonel Arhanud Dedy Rahmanto berserta istri serta Navy LO the INS visit is SBLT Josefa Navakaroko.


Turut hadir pula Bapak Sandy Darmosumarto Minister Conselor, Victor Sibarani Sekretaris Pertama KBRI, Diplomat Oilong Sarwom Sekretaris ketiga KBRI Diplomat, Saola Twikoro Staf KBRI Suva, Timaima Rayawa Staf KBRI Suva, dan Yosefin Watikyo Staf Athan RI beserta para warga Fiji yang berada dilokasi.


Acara penyambutan diawali dengan pemberian cinderamata berupa topi Satgas oleh Dansatgas Kolonel Laut (P) Arif Prasetyo kepada Dubes RI dan rombongan kemudian dilanjutkan dengan tradisi Valreep diatas KRI.

Supervisi Uji Statis R-450 Roket Jarak 100 KM Ground-to-Ground

03 November 2024

Uji statis akan segera dilaksanakan pada motor roket R-450 (photo: Kemhan)

Puslitbang Alpalhan Balitbang Kemhan Melaksanakan Supervisi Pengembangan Roket Jarak 100 KM Ground-to-Ground R-Han 450 Tahap IIIi-IV Uji Statis

Puslitbang Alpalhan Balitbang Kemhan melaksanakan kegiatan Supervisi Pengembangan Roket Jarak 100 KM Ground To Ground R-Han 450 Tahap III – IV Uji Statis pada hari Kamis 17 Oktober 20024 di ruang rapat PT. Dahana (Persero) Jakarta. Tim Puslitbang Alpalhan dipimpin oleh Laksma TNI Danto Yuliardi Wirawan,S.T, M.T selaku Kapuslitbang Alpalhan Balitbang Kemhan, serta didampingi oleh Kolonel Cpl. Saiful, S.E, M.A Kabid Matra Darat Puslitbang Balitbang Kemhan, para Peneliti/Perekayasa, dan Kasubbid Bidang Matra Darat Puslitbang Alpalhan Balitbang Kemhan beserta Tim Teknis PT Dahana, dan Chief Engeenering Pusat Riset Teknologi Roket. 

Balitbang Kemhan pada tahun 2024 melaksanakan program Pengembangan Roket Jarak 100 Km Ground to Ground R-Han 450 yang merupakan program lanjutan Tahap III dengan Output Roket untuk uji statis.

Kegiatan Supervisi dilaksanakan untuk mengarahkan, mengelola dan mengawasi guna memastikan kesiapan uji statis. Dalam agenda Supervisi juga menyampaikan capaian kegiatan Pengembangan Roket Jarak 100 km Ground to Ground RHan 450 Tahap III-IV Uji Statis, kesiapan pelaksanaan Uji Statis. Serta menyampaikan secara umum pelaksanaan assembling pembuatan struktur motor roket.

Kesiapan uji perlu disiapkan rencana pengamanan, baik secara aministrasi maupun kesiapan personel, sarana prasarana pengamanan kegiatan, mitigasi apabila perlu dilaksanakan evakuasi, koordinasi dengan pihak terkait.

Militer Indonesia Dikritik Ketinggalan Zaman Saat Seteru Laut China Selatan Memanas

03 November 2024

Kapal Coast Guard China di Laut Natuna Utara (photo: Bakamla)

JAKARTA - Para pakar telah mengkritik militer Indonesia yang mereka sebut sudah ketinggalan zaman. Kritik ini bermunculan saat ketegangan di Laut China Selatan sedang memanas. 

Indonesia telah melakukan belanja besar-besaran untuk memodernisasi militernya karena tenggat waktu yang ditetapkan sendiri untuk meningkatkan kekuatan pertahanannya semakin dekat.

Di pucuk pimpinan belanja besar-besaran ini: Prabowo Subianto —pensiunan Jenderal Angkatan Darat yang menjadi menteri pertahanan dan sekarang adalah presiden baru Indonesia—telah menandatangani kesepakatan untuk merombak peralatan tempur dan pertahanan yang sudah berusia puluhan tahun. 

Namun, Indonesia dinilai tertinggal dalam memenuhi target modernisasi militernya, bahkan dengan kenaikan belanja sebesar 20 persen untuk perangkat keras militer—menjadi USD25 miliar, yang didanai oleh pinjaman luar negeri—yang disetujui November tahun lalu untuk periode 2020 hingga 2024.

Para anggota Parlemen sebelumnya mengkritik Prabowo atas rencana kesepakatan pengadaan jet tempur bekas dari Qatar. Dia kemudian harus meninggalkan kesepakatan tersebut karena masalah pendanaan. 

Modernisasi militer Indonesia yang dikenal sebagai rencana Minimum Essential Force (MEF)—yang telah berlangsung selama 15 tahun—telah menargetkan kemampuan pertahanan minimal untuk menghadapi ancaman terhadap kedaulatannya. Cetak biru seperti itu sangat dibutuhkan, kata para pakar. 

“Banyak peralatan pertahanan kita yang sudah usang,” kata Khairul Fahmi, seorang analis militer di Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) yang berbasis di Jakarta, seperti dikutip Channel News Asia, Kamis (24/10/2024). 

Hampir setengah dari peralatan militer operasional Indonesia tidak layak untuk peperangan modern, sehingga menimbulkan risiko keamanan, katanya dalam laporan terpisah di sebuah media pada Desember lalu. 

Negara kepulauan terbesar di dunia ini bahkan telah berjuang selama bertahun-tahun untuk mengekang serangan ke perairannya, yang merupakan dua pertiga wilayahnya. 

Meskipun Indonesia mengadakan latihan Angkatan Laut atau menyita dan meledakkan kapal-kapal yang menyusup, para nelayannya telah melaporkan semakin banyak kapal asing—tak hanya dari China tetapi juga Vietnam dan Filipina—yang mengganggu mereka di wilayah penangkapan ikan tradisional mereka. 

“Coast Guard kita seharusnya ada di sana. Kami orang Indonesia yang mencari nafkah di halaman belakang rumah kami sendiri. 

Kami harus dilindungi,” kata Wahyudin, seorang nelayan yang hanya menggunakan satu nama. Klaim “nine-dash line" China di Laut Cina Selatan tumpang tindih dengan zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia di dekat Kepulauan Natuna yang kaya minyak dan gas.

Meskipun China tidak membantah kepemilikan pulau-pulau tersebut, klaim maritimnya di Laut Natuna Utara telah memicu kebuntuan diplomatik, pengerahan jet tempur dan kapal perang Indonesia, serta kunjungan presiden sebelumnya, Joko Widodo (Jokowi), ke pulau-pulau tersebut. 

Kapal Coast Guard China beserta kapal Bakamla RI dan kapal TNI AL (photo: Bakamla)

Penguatan anggaran pertahanan dari 0,8% menuju 1,5% PDB

Untuk memperkuat militer, Indonesia telah meningkatkan anggaran tahunan Kementerian Pertahanan-nya hampir 20 persen, rata-rata, dalam empat tahun terakhir dibandingkan dengan 2019. 

Tahun lalu, anggaran kementerian itu sebesar Rp 144 triliun berada di urutan kedua setelah belanja pertahanan Singapura (SD19,76 miliar) di Asia Tenggara. 

Namun, anggaran pertahanan Indonesia tetap berada di sekitar 0,7 hingga 0,8 persen dari produk domestik bruto (PDB) selama dekade terakhir—terendah di antara enam ekonomi pasar berkembang di kawasan tersebut, berdasarkan data dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI). 

“Seharusnya tidak serendah itu,” kata Julia Lau, peneliti senior ISEAS–Yusof Ishak Institute. 

“Setiap negara yang ingin memiliki militer yang berfungsi efektif harus mengalokasikan sekitar 2 hingga 4 persen (pengeluaran sebagai persentase PDB) untuk pertahanan.” 

Kemajuan MEF, yang akan selesai tahun ini, juga lambat. Militer Indonesia telah memenuhi 65 persen dari target modernisasinya seperti tahun lalu. 

Analis mengatakan kepada Insight bahwa agar rencana tersebut berhasil, pengeluaran militer harus antara 1,5 hingga 2,5 persen dari PDB.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Prabowo melakukan serangkaian akuisisi besar. 

Itu termasuk 42 jet tempur Rafale buatan Prancis seharga USD8,1 miliar, 12 pesawat nirawak baru dari Turkikish Aerospace senilai USD300 juta, 24 jet tempur dari Boeing dan 24 helikopter angkut dari Lockheed Martin Amerika Serikat, keduanya dengan jumlah yang tidak diungkapkan. 

Namun tidak semua berjalan lancar baginya, misalnya ketika rencananya untuk membeli 12 jet tempur Mirage 2000-5 bekas senilai €733 juta—yang dikritik terlalu tua oleh anggota Parlemen tahun lalu—dibatalkan pada bulan Februari ini. 

“Prabowo menulis cek yang tidak dapat dicairkan oleh pemerintah,” kata peneliti senior ISEAS–Yusof Ishak Institute, Ian Storey. 

"Dia pergi berbelanja ke seluruh dunia, membeli jet tempur dan kapal selam serta berbagai macam barang lainnya, yang beberapa di antaranya tidak mampu dibeli oleh pemerintah. Dan itu menyebabkan penundaan dan pembatalan," paparnya. 

Pada bulan Juli tahun lalu, Jokowi mendesak kabinetnya untuk mempertahankan "anggaran negara yang sehat" dan menyoroti pengeluaran tinggi oleh badan-badan keamanan termasuk Kementerian Pertahanan. 

Kapal China Coast Guard dipaksa keluar oleh KN Tanjung Datu Bakamla RI (photo: Bakamla)

Rasio utang terhadap PDB

Namun, ambisi pengeluaran Prabowo tampaknya tidak berkurang. Saudara sekaligus penasihatnya; Hashim Djojohadikusumo, mengatakan kepada Financial Times pada bulan Juli bahwa Prabowo bersedia menaikkan rasio utang terhadap PDB negara menjadi 50 persen untuk mendanai program-programnya. 

Dengan rasio utang terhadap PDB sebesar 39 persen, Indonesia merupakan salah satu yang terendah di Asia Tenggara, yang berarti negara tersebut dapat menanggung lebih banyak utang. 

"Saya rasa itu tidak akan menjadi masalah," kata Indra Alverdian, dosen hubungan internasional di President University. 

Ridzwan Rahmat, analis pertahanan utama di Jane’s, memperkirakan Prabowo akan meningkatkan pinjaman luar negeri untuk mendanai akuisisi pertahanan, seperti pengadaan pesawat tempur Rafale. "Yang dilakukan dengan bantuan pinjaman luar negeri dari pemerintah Prancis," katanya. 

Bahkan saat MEF berakhir, Prabowo telah memulai fase modernisasi militer berikutnya. 

Dikenal sebagai Perisai Trisula Nusantara, rencana 25 tahun tersebut ditujukan untuk memperoleh peralatan militer mutakhir, dengan penekanan pada penggabungan kemampuan peperangan di seluruh Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Angkatan Darat serta berinvestasi dalam keamanan siber. 

Proyek tersebut diproyeksikan menelan biaya USD125 miliar, dan Kementerian Keuangan telah menyetujui seperlima dari pendanaannya. 

Namun, sebagai presiden baru, Prabowo harus menyeimbangkan modernisasi militer dengan kewajiban lain, seperti janji kampanyenya untuk menyediakan makanan gratis bagi semua ibu hamil dan anak sekolah di negara dengan populasi keempat terbesar di dunia. 

Inisiatif tersebut, yang akan ditargetkan kepada sebanyak 83 juta penerima manfaat, diproyeksikan akan menghabiskan biaya pembayar pajak sebesar Rp460 triliun setiap tahun setelah berjalan penuh. 

Selain itu, dia harus menyeimbangkan pengeluaran untuk kebutuhan Indonesia yang terus meningkat, mulai dari infrastruktur hingga pendidikan, ditambah proyek-proyek mahal lainnya yang sedang berlangsung, seperti pembangunan Nusantara senilai USD33 miliar di Kalimantan Timur untuk menggantikan Jakarta sebagai ibu kota negara. 

Khairul mencatat bahwa Prabowo telah menekankan komitmennya untuk secara bertahap meningkatkan anggaran pertahanan, tetapi analis akan menunggu dan melihat apakah politik negara akan mengizinkannya. 

“Ada kekhawatiran bahwa jika anggaran pertahanan dinaikkan menjadi lebih dari 0,8 persen atau di atas angka psikologis 1 persen dari PDB, akan ada masalah dengan akuntabilitas. Bagaimana jika anggaran sebesar itu tidak digunakan secara efisien?” paparnya. 

KRI Sutadi Senoputra 378 TNI AL (photo: TNI AL)

Berharap investasi dari China Rp 239 triliun

Di bawah pemerintahan Jokowi, negara ini juga bertindak hati-hati untuk menghindari memprovokasi China sambil menegaskan “hak maritim yang sah”. 

“Inilah yang telah dilakukan Jokowi. Ini juga yang harus dilakukan Prabowo,” kata Storey. 

“China adalah negara yang sangat penting karena, tentu saja, Jokowi telah mendorong China untuk menginvestasikan banyak uang dalam infrastruktur negara ini.” 

Hingga tahun ini, Indonesia tengah mempromosikan 81 proyek untuk menarik investor China. Total investasi yang dibutuhkan untuk proyek-proyek ini di berbagai sektor mulai dari real estate hingga pariwisata adalah sekitar Rp239 triliun. 

Indonesia juga berupaya mengekspor barang senilai hingga USD70 miliar tahun ini ke China, mitra dagang terbesarnya, naik dari USD64,9 miliar tahun lalu. 

Negara kepulauan ini tidak sendirian dalam dilema geopolitiknya, terutama karena China dan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) masih belum dapat menyetujui tata perilaku di Laut China Selatan. 

Lalu ada AUKUS, kemitraan keamanan antara Australia, Inggris, dan Amerika Serikat yang akan melengkapi Australia dengan kapal selam bertenaga nuklir. 

Konstruksi trilateral inilah yang paling dikhawatirkan oleh para perencana pertahanan Indonesia, menurut Ridzwan. 

"Karena hal ini membuka front lain dalam konflik antara kekuatan besar di kawasan Asia-Pasifik ini," katanya. 

"Jika perang pecah antara China dan AS, sebagian pertempuran, jika tidak (sebagian besar) pertempuran, akan terjadi di perairan Indonesia karena posisi titik panas tersebut," paparnya. 

Ketika AUKUS pertama kali diumumkan pada tahun 2021, Indonesia juga khawatir bahwa hal itu dapat memicu perlombaan senjata di kawasan tersebut, kata Storey. 

Beberapa pengamat mungkin berpikir bahwa peningkatan militer Indonesia sendiri juga dapat menjadi penyebab perlombaan senjata semacam itu. 

“Namun, tidak ada tanda-tanda di antara para pemimpin Indonesia saat ini bahwa mereka mengadopsi politik konfrontatif seperti di masa lalu,” kata Khairul. 

Kerja sama militer antara negara-negara anggota ASEAN, pada kenyataannya, semakin meningkat. 

Tahun lalu, blok tersebut mengadakan latihan militer gabungan pertamanya, latihan lima hari di Laut Natuna Selatan Indonesia, yang difokuskan pada bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana. 

“ASEAN tidak pernah didirikan sebagai aliansi militer. Tetapi ada banyak tekanan eksternal terhadap negara-negara Asia Tenggara,” kata Ridzwan. 

“Jadi saya pikir mereka memutuskan untuk memulai dengan latihan militer yang sedikit kurang sensitif secara politis seperti bantuan kemanusiaan.” 

Pada akhirnya, militer Indonesia yang lebih kuat baik untuk kawasan, menurut Indra. 

Bahkan jika negara ini memodernisasi militernya, dan negara-negara tetangga mengikutinya, katanya, penguatan pasukan pertahanan mereka dapat membantu ASEAN membangun persatuan sehingga kawasan tersebut tetap menjadi zona kebebasan, perdamaian, dan netralitas. 

Latihan Solidaritas ASEAN, yang berlangsung pada bulan September tahun lalu, diadakan di perairan yang tidak diperebutkan di Laut China Selatan. 

Sekarang, giliran Prabowo untuk terus maju dengan kebijakan militer dan luar negeri Indonesia. Namun, mengingat reputasinya sebagai pemimpin yang kuat, para pakar meragukan dia akan mudah menyerah jika konfrontasi terjadi. 

“Saya bisa melihatnya sebagai presiden yang sangat nasionalis ketika dia harus melakukannya,” kata Lau. 

“Jika ada yang mencoba untuk ‘menindas’ Indonesia, maka saya sepenuhnya berharap dia akan tampil sangat kuat.” (Muhaimin)

Kemenhan Ungkap Ofset Dua KCR 70 m Buatan Turki

03 November 2024

Kapal cepat rudal KCR 70 (image TAIS)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI mengungkap kerja sama alih teknologi (ofset) untuk pengadaan dua kapal cepat rudal (KCR) full combat mission 70 meter (m) buatan galangan kapal Sefine Shipyard Turki.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kemenhan RI Brigjen TNI Edwin Adrian Sumantha saat dihubungi di Jakarta, Jumat, ofset itu mencakup sejumlah pelatihan kepada industri pertahanan dalam negeri.

“Pelatihan terkait desain-desain kapal kepada industri pertahanan dalam negeri, pelatihan kemampuan pemeliharaan kapal (material/service supply) kepada industri pertahanan dalam negeri, dukungan pemeliharaan kapal, ToT (transfer teknologi) sistem peralatan sensor, elektronik, dan persenjataan kepada industri pertahanan dalam negeri,” kata Brigjen Edwin menjawab pertanyaan ANTARA.

Kementerian Pertahanan RI meneken kontrak pembelian dua KCR 70 meter dengan TAIS — konsorsium lima galangan kapal Turki. Walaupun demikian, tanggal kontrak itu diteken berikut nilai kontraknya belum dapat diungkap ke publik oleh Kementerian Pertahanan RI.

Gambar 2 KCR 70 yang dijadikan sebagai background acara (image: TAIS)

Dalam prosesnya, Sefine Shipyard pada Rabu (30/10) menggelar acara pemotongan baja pertama (first-steel cutting) KCR pesanan Indonesia di Altinova, Turki. Pemotongan baja pertama merupakan salah satu tahapan penting pembangunan kapal, yang kemudian diikuti dengan peletakan lunas kapal (keel laying), peluncuran kapal, pengiriman dan pemberian nama kapal.

Dalam acara pemotongan baja pertama itu, Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemenhan RI Marsekal Madya TNI Yusuf Jauhari diwakili oleh Staf Khusus Kepala Staf TNI AL Laksamana Muda TNI Retiono Kunto.

Laksda Retiono menandatangani berita acara pemotongan baja pertama kapal bersama petinggi Sefine Shipyard, Suleyman A. Tuzcuoglu. Kemudian, Sefine Shipyard menyerahkan miniatur KCR Full Combat Mission ke perwakilan Laksda Retiono.

Dua kapal yang dipesan Indonesia itu, NB74 dan NB75, memiliki spesifikasi panjang keseluruhan 70 meter dengan lebar 11,7 meter. Kapal itu nantinya mampu berlayar dengan kecepatan maksimal di atas 40 knots, dan mampu mengangkut 43 personel.

TAIS dalam websitenya adalah konsorsium beberapa galangan yang membuat LHD TCG Anadolu (image: TAIS)

Kapal itu kemungkinan menggunakan desain FACM 70 meter Sefine Shipyard yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pengintaian dan pengawasan (ISR), operasi antipermukaan, dan operasi antiserangan udara.

“Saya yakin dengan kemampuan TAIS membangun KCR Full Combat Mission ini dengan kualitas yang baik, dan menyelesaikannya sesuai dengan waktu yang ditentukan,” kata Kabaranahan Kemenhan dalam sambutannya yang dibacakan Laksda Retiono.

Dia menyampaikan terima kasih kepada jajaran pejabat TAIS dan Kementerian Pertahanan Turki, Kementerian Kemaritiman Turki, dan Angkatan Laut Turki.

Dia menekankan kerja sama itu merupakan upaya bersama menjaga stabilitas dan keamanan di kawasan.

(Antara)