06 September 2026

Thailand Sukses Uji Coba Drone Kamikaze K-18M

06 September 2026

Drone Kamikaze K-18M (photos: RVConnex)

Kendaraan udara nirawak/unmanned aerial vehicle (UAV) K-18M, yang dirancang untuk misi loitering munition dan serangan sekali pakai (one-way attack atau OWA), pertama kali diperkenalkan oleh perusahaan Thailand, RV Connex, dan dipamerkan dalam acara Royal Thai Army Innovation Day 2026 pada tanggal 22 Juli 2026.


Sebuah video yang dirilis pada 4 Agustus 2026 memperlihatkan UAV serangan bunuh diri K-18M melakukan penerbangan perdananya—diluncurkan menggunakan katapel—serta uji coba serangan terhadap target berupa kendaraan di lokasi dan waktu yang tidak diungkapkan.


Wahana ini memiliki berat lepas landas maksimum 55 kg, rentang sayap 2 meter, durasi operasional 5 jam, jangkauan lebih dari 600 km, kecepatan maksimum 100 knot, kecepatan jelajah 80 knot, serta mampu membawa hulu ledak seberat 5 kg.


Selanjutnya, pada 7 Agustus 2026, RV Connex juga mengumumkan kerja sama dengan Sammitr Motors Manufacturing PCL asal Thailand untuk merancang dan memproduksi sistem peluncuran katapel bagi berbagai ukuran sistem pesawat nirawak (UAS). 

Drone Kamikaze K-18M (video: RVConnex)

Hal ini menandai kemajuan signifikan dalam industri pertahanan Thailand.

(AAG)

HD Hyundai dan Hanwha Ocean Bersaing Sengit untuk Pesanan Kapal Selam Filipina Senilai 2 Triliun Won

06 Agustus 2026

Hanwha KSS-III PN (image: Hanwha Ocean)

HD Hyundai Heavy Industries dan Hanwha Ocean, dua pilar utama industri galangan kapal Korea, telah memasuki persaingan sengit dalam tender proyek pengadaan kapal selam generasi terbaru untuk Angkatan Laut Filipina, yang bernilai sekitar 2 triliun won.

Menurut media maritim dan pertahanan Polandia 'Gospodarka Morska' serta sumber-sumber lokal pada tanggal 31 Agustus (waktu setempat), persaingan ketat sedang memanas antara perusahaan-perusahaan Korea dan galangan kapal pertahanan utama Eropa. Hal ini terjadi menjelang akhir tahun, saat pemilihan akhir model untuk proyek pengadaan kapal selam pertama Angkatan Laut Filipina—yang saat ini belum memiliki armada kapal selam—akan segera diputuskan.

Setelah melewati tahap koordinasi untuk inisiatif 'Export One Team' yang digagas oleh Defense Acquisition Program Administration (DAPA), kedua galangan kapal kini berupaya memenangkan dukungan otoritas Manila melalui proposal independen yang menonjolkan keunggulan masing-masing.

HD Hyundai Heavy Industries mengandalkan reputasi kepercayaan militer yang tak tertandingi, yang dibangun melalui keberhasilan pengiriman berturut-turut kapal permukaan kepada Angkatan Laut Filipina, termasuk fregat kelas Jose Rizal, kapal patroli kelas Miguel Malvar, dan kapal patroli lepas pantai (OPV) kelas Rajah Suleyman. Selain itu, perusahaan ini menawarkan platform 3.000 ton yang disesuaikan berdasarkan rekam jejak pembangunan kapal ketiga KSS-III Batch-I (Shin Chae-ho), serta model ekspor 2.300 ton miliknya sendiri, 'HDS-2300', yang dioptimalkan untuk operasi di perairan dangkal Asia Tenggara.

Hanwha Ocean, yang mengandalkan keunggulan teknologi dari keberhasilan pembangunan dan pengiriman kapal Dosan An Chang-ho (No. 1) dan Anmu (No. 2), mengajukan model terbaru 'KSS-III Batch-II'. Model ini memiliki daya tahan menyelam terlama di antara kapal selam diesel yang ada saat ini, berkat kombinasi baterai litium-ion dan sistem Air Independent Propulsion (AIP). Keunggulan yang ditawarkan mencakup solusi menyeluruh (turnkey), mulai dari pembangunan pangkalan khusus kapal selam dan infrastruktur MRO (pemeliharaan, perbaikan, dan perombakan) hingga paket pelatihan awak, yang disesuaikan dengan kondisi Angkatan Laut Filipina yang baru pertama kali mengoperasikan kapal selam.

Selain Korea Selatan, galangan kapal angkatan laut terkemuka dari Eropa juga turut bersaing dalam proyek kapal selam Filipina, sehingga menciptakan lanskap persaingan yang melibatkan berbagai pihak.

Hyundai HDS-2300 (image: HD HHI)

Naval Group asal Prancis memanfaatkan dominasinya di pasar Asia Tenggara, berbekal pengalaman mengekspor kapal selam kelas 'Scorpène' secara berturut-turut ke Malaysia dan Indonesia, serta rekam jejak pembangunan kapal secara lokal di India.

Fincantieri dari Italia mengajukan kapal selam kelas U212NFS melalui kemitraan teknis dengan TKMS asal Jerman, sembari memanfaatkan rekam jejak ekspor kapal patroli ke Indonesia baru-baru ini dalam penawaran tersebut. Navantia dari Spanyol juga mengajukan kelas S-80 Plus, namun riwayat keterlambatan pengiriman domestik dan kegagalan mendapatkan pesanan luar negeri dianggap sebagai kelemahan mereka.

Alasan utama Filipina berupaya keras untuk mengakuisisi kapal selam pertamanya adalah untuk membendung tindakan China yang semakin terang-terangan melanggar kedaulatan maritim dan melakukan provokasi bersenjata di wilayah Kepulauan Spratly, Laut China Selatan (Laut Filipina Barat). Para ahli militer meyakini bahwa pengerahan satu atau dua kapal selam siluman canggih saja di perairan Filipina—yang memiliki karakteristik perairan dangkal dan dalam—dapat memberikan efek gentar (deterrence) secara psikologis maupun taktis terhadap manuver kapal permukaan dan kapal selam Angkatan Laut China.

Bersamaan dengan proyek kapal selam besar NATO di Polandia (Eropa) dan Kanada (Amerika Utara), keberhasilan mendapatkan pesanan kapal selam dari Filipina—sekutu penting di Asia Tenggara dengan kedekatan geografis—diharapkan menjadi titik balik krusial bagi perluasan pasar ekspor kapal selam industri pertahanan maritim Korea (K-maritime) di kawasan Asia-Pasifik di masa depan.

05 September 2026

Kapal Cepat Rudal HQ-381, Satu-satunya Kapal dari Kelas BPS-500

05 September 2026

Kapal Cepat Rudal HQ-381 (photo: ThanhNien)

Kapal cepat rudal 381, dari kelas BPS-500, saat ini ditugaskan ke Skuadron 412, Brigade 162, Wilayah 4 Angkatan Laut Vietnam dan merupakan satu-satunya kapal dari kelas ini.

Kapal Cepat Rudal HQ-381 (photo: VTC News)

Kapal ini dibangun antara tahun 1996 dan 2001 di galangan kapal Ba Son di Kota Ho Chi Minh. Kapal 381 adalah kapal rudal anti-kapal pertama yang dibangun di dalam negeri menggunakan teknologi yang ditransfer dari Federasi Rusia.

Kapal Cepat Rudal HQ-381 (photo: PhuNu Today)

Kapal ini memiliki panjang 62 meter, lebar 11 meter, bobot muat penuh 600 ton, dan dilengkapi dengan sistem propulsi waterjet untuk kecepatan maksimum 30 knot dan jangkauan jelajah 30 hari. Awak kapal terdiri dari 50 orang.

Kapal Cepat Rudal HQ-381 (photo: Sputnik)

Sistem elektronik kapal termasuk radar multi-fungsi Pozitiv ME, yang mampu mendeteksi target udara dan laut dengan jangkauan lebih dari 100 km. Kapal ini mampu mendeteksi target terbang dengan penampang radar (RCS) 1 m² pada ketinggian 1000 m dari jarak 11 km, dan mendeteksi rudal anti-kapal dengan RCS 0,03 m² pada ketinggian 15 m dari jarak 15 km. Radar ini juga dapat melacak 15 target secara bersamaan, dan menyerang 3 hingga 5 target sekaligus. Kapal ini juga dilengkapi dengan sistem radar pengendali tembakan dan sistem komunikasi modern.

Kapal Cepat Rudal HQ-381 (photo: Sputnik)

Dari segi persenjataan, kapal ini dilengkapi dengan meriam laut AK-176, dua peluncur miring dengan delapan rudal jelajah anti-kapal Kh-35 Uran-E (jangkauan 130 km), meriam anti-pesawat berkecepatan tinggi AK-630, sistem rudal anti-pesawat jarak pendek Igla, dan dua senapan mesin 12,7 mm.

Delegasi Dislitbangau Kunjungi Industri Pertahanan PT TAG di Bandung

04 September 2026

Rombongan Dislitbangau lakukan kunjungan kerja ke PT Tiara Angkasa Gandiva (TAG) di Bandung Barat (photos: Dislitbangau)

Bandung – Pendislitbangau. Guna memperkuat kemandirian Alpalhankam matra udara, Kepala Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI Angkatan Udara (Kadislitbangau), Marsma TNI Rachmadi Anggoro, S.E., M.Sc., M.S.S. beserta rombongan melaksanakan kunjungan kerja ke PT Tiara Angkasa Gandiva (TAG) Bandung Barat, Selasa (1/9/2026). Kunjungan tersebut merupakan bagian dari agenda kolaborasi strategis dalam rangka penelitian dan pengembangan material mandiri guna memperkuat alpalhankam matra udara.


PT Tiara Angkasa Gandiva merupakan perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang industri pertahanan dan dirgantara. Perusahaan ini dikenal sebagai penyedia suku cadang komponen pesawat terbang, produk militer seperti parasut, serta mitra dalam pengembangan amunisi dan bom pertahanan bersama TNI Angkatan Udara.


Dalam kunjungan tersebut, Kadislitbangau meninjau langsung proses fabrikasi di lini produksi PT TAG. Peninjauan ini bertujuan untuk memastikan standar quality control telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Selain itu, pertemuan juga membahas kelanjutan integrasi teknologi persenjataan yang sedang dikembangkan.


Pembahasan ini menjadi langkah awal sebelum memasuki tahap uji coba operasional di lapangan.“Kolaborasi dengan industri dalam negeri seperti PT TAG merupakan wujud nyata dukungan terhadap program kemandirian alutsista. Sebagai contoh, pada pengembangan teknologi Smoke Generating System (SGS) pesawat KT 1B Woong Bee hasil karya kolaborasi antara Dislitbangau dan PT TAG pada demo udara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di atas Istana Merdeka yang sangat memukau. Kami berharap sinergi ini dapat terus ditingkatkan untuk menghasilkan produk yang berkualitas dan berdaya saing,” ujar Kadislitbangau.


Turut hadir dalam pendampingan, Kasubdis Aero, Kolonel Tek Mohammad Arief, Kasubdis Palsus Kolonel Kal Abidin Abubakar, S.T., dan Perwira Peneliti Bidang Power Plant, Kolonel Tek Gembira Siringoringo, S.T., M.Si. beserta beberapa perwira engineering Dislitbangau.


Pada kesempatan tersebut Kadislitbangau memberikan Sertifikat Penghargaan kepada Presiden Direktur Ibu Tatiana atas keberhasilan kegiatan pengembangan teknologi Smoke Generating System (SGS) dan Smoke Oli System (SOS) sebagai bukti tertulis dan pengakuan resmi atas prestasi, jasa, dedikasi dan kontribusi dalam penelitian, pengembangan, dan penerapan teknologi pertahanan yang inovatif guna mendukung tugas pokok TNI AU.
Dislitbangau berkomitmen untuk terus mendorong dan mendukung industri pertahanan nasional melalui kegiatan penelitian dan pengembangan. Dengan semangat kolaborasi, diharapkan TNI Angkatan Udara dapat memiliki alutsista yang andal, mandiri, dan mampu menjawab tantangan tugas di masa mendatang. (R&D)

G7 Aerospace Kunjungi Infoglobal, Bahas Penguatan Kolaborasi Avionik

05 September 2026

G7 Aerospace Malaysia kunjungi Infoglobal di Surabaya (photos: Infoglobal)

Infoglobal menerima kunjungan G7 Aerospace untuk membahas peluang penguatan kolaborasi di bidang avionik.

Kunjungan ini meliputi diskusi peluang kerja sama jangka pendek, menengah, dan panjang, facility tour dan pemaparan teknologi yang dikembangkan Infoglobal, sebagai bagian dari komitmen bersama dalam menghadirkan solusi avionik yang andal dan berkelanjutan di Asia Tenggara.


Agenda dilanjutkan dengan kunjungan fasilitas dan pemaparan teknologi yang sedang dikembangkan Infoglobal. Melalui pertemuan ini, kedua pihak diharapkan dapat memperkuat sinergi dan mengidentifikasi langkah-langkah kerjasama yang kongkret dalam mendukung ketersediaan, keandalan dan pengembangan sistem avionik pada masa mendatang. Infoglobal berkomitmen untuk terus membangun kolaborasi strategis dengan mitra industri dalam menghadirkan solusi avionik yang andal, relevan dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat rantai pasok avionik di Asia Tenggara.

04 September 2026

PM Thailand Memeriksa Kesiapan Tempur Angkatan Laut Kerajaan Thailand, Termasuk HTMS Chakri Naruebet

04 September 2026

PM Anutin Charnvirakul memeriksa kesiapan tempur Royal Thai Navy (RTN) dalam latihan di provinsi Chonburi. RTN berencana untuk memiliki total 8 unit kapal fregat berkinerja tinggi dalam armadanya hingga tahun 2037, sekarang baru ada 4 (all photos: RTN)

Laksamana Muda Parach Rattanachaiyapan, juru bicara Angkatan Laut Kerajaan Thailand, mengungkapkan bahwa pada hari Kamis, 27 Agustus 2026, Perdana Menteri mengunjungi latihan Satuan Tugas di Teluk Thailand bagian atas dan Lapangan Latihan Angkatan Laut Kerajaan Thailand No. 15 (Haad Yao), Distrik Sattahip, Provinsi Chonburi, untuk menerima pembaruan tentang persiapan dan kesiapan pasukan untuk misi sesuai dengan kebijakan Panglima Angkatan Laut Kerajaan Thailand, yang menetapkan tahun 2026 sebagai "Tahun Kesiapan Tempur Angkatan Laut Kerajaan Thailand."

Inspeksi ini akan menunjukkan kesiapan Angkatan Laut Kerajaan Thailand dalam hal personel, peralatan, dan taktik, serta integrasi kekuatan angkatan laut, kekuatan udara, Komando Korps Marinir, unit perang khusus angkatan laut, dan sistem komando dan kendali, yang memungkinkan misi gabungan yang terkoordinasi dan efektif.


Pada kesempatan ini, Perdana Menteri memeriksa operasi di atas HTMS Chakri Naruebet, menerima pengarahan tentang situasi dan konsep pengerahan pasukan, mengamati dukungan senjata pantai, dan menyaksikan demonstrasi penggunaan pesawat tanpa awak. Latihan ini merupakan bagian dari rencana pengembangan untuk memanfaatkan HTMS Chakri Naruebet sebagai "Carrier UXV," yang berfungsi sebagai basis komando, kendali, dan dukungan untuk operasi pesawat tanpa awak (UAV) multidimensi, termasuk pengintaian, pengawasan, pencarian, dan penunjukan target. Hal ini meningkatkan jangkauan dan kontinuitas operasional, mengurangi risiko terhadap personel, dan meningkatkan efektivitas pasukan tempur utama Angkatan Laut Kerajaan Thailand.

Beberapa UAV yang digunakan dalam latihan ini merupakan hasil penelitian dan pengembangan oleh para peneliti Angkatan Laut Kerajaan Thailand. Mereka telah menggabungkan pengetahuan dan pengalaman dari operasi dunia nyata untuk mengembangkan sistem yang memenuhi persyaratan operasional. Pengujian dalam kondisi pelatihan simulasi akan menghasilkan peningkatan dan pengembangan lebih lanjut dari sistem tersebut, sejalan dengan promosi industri pertahanan dan peningkatan kemandirian.


HTMS Bhumibol Adulyadej, fregat berkinerja tinggi dan salah satu kekuatan tempur utama Angkatan Laut Kerajaan Thailand, berpartisipasi penuh dalam latihan ini untuk menunjukkan kemampuannya dalam pengawasan, identifikasi dan serangan target, komando dan kendali, serta operasi gabungan dengan kapal, pesawat, dan unit lain.

Latihan ini juga mencerminkan peran penting fregat berkinerja tinggi sebagai inti armada, yang mencakup pertahanan udara, peperangan anti-permukaan dan anti-kapal selam, penghubungan data, dan pengendalian operasi maritim. Namun, Angkatan Laut Kerajaan Thailand saat ini memiliki jumlah fregat berkinerja tinggi yang terbatas. Sementara negara-negara tetangga dan berbagai negara di kawasan ini membuat lompatan besar dalam mengembangkan kemampuan angkatan laut dan teknologi militer mereka.


Angkatan Laut Kerajaan Thailand perlu mempercepat peningkatan kemampuannya dengan mengakuisisi fregat berkinerja tinggi tambahan. Hal ini untuk memastikan kapasitas yang cukup untuk misi, rotasi dan pemeliharaan, serta kesiapan berkelanjutan, serta menjaga keseimbangan strategis, melindungi kedaulatan, dan menjaga kepentingan nasional di laut dalam lingkungan keamanan yang berubah dengan cepat.

Pada saat yang sama, latihan ini mendukung pengembangan Kesadaran Domain Maritim (MDA) dengan menghubungkan data dari kapal, pesawat terbang, dan sistem tanpa awak, memungkinkan komandan untuk memiliki gambaran yang akurat dan tepat waktu tentang situasi maritim, yang mengarah pada pengambilan keputusan dan respons yang efektif.


Lebih lanjut, Perdana Menteri dan delegasinya mengunjungi Pusat Komando Insiden (ICC) untuk bantuan bencana skala besar di Lapangan Latihan Angkatan Laut No. 15, dan mengamati demonstrasi kesiapan peralatan dan integrasi antar unit. Ini menunjukkan bahwa kemampuan Angkatan Laut Kerajaan Thailand dapat diterapkan untuk pertahanan nasional, menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional di laut, dan membantu masyarakat selama bencana atau keadaan darurat.

Juru bicara Angkatan Laut Kerajaan Thailand menyatakan bahwa kunjungan ini tidak dimaksudkan untuk memamerkan kesiapan kapal, pesawat terbang, atau sistem senjata individu, tetapi lebih untuk menunjukkan kesiapan Angkatan Laut Kerajaan Thailand "secara keseluruhan," dimulai dari kesadaran situasional. Komando dan kendali, pengerahan pasukan, dukungan logistik, dan bantuan sipil.


“Kesiapan tempur bukan berarti menunggu situasi terjadi, melainkan mempersiapkan personel, peralatan, dan sistem komando dan kendali agar siap melaksanakan tugas segera ketika negara dan rakyatnya membutuhkannya.”

(RTN)

Koarmada II Latihkan Rencana Pergerakan Unsur Pada Sailing Pass Naval Parade HUT Ke-81 TNI

04 September 2026

Gelar Tactical Floor Game dalam pelaksanaan Sailing Pass Naval Parade yang direncanakan digelar di perairan Teluk Jakarta (photos: Koarmada 2)

TNI AL. Koarmada II, ‎Panglima Koarmada II Laksda TNI I G. P. Alit Jaya, S.H., M.Si., memimpin Tactical Floor Game (TFG) Sailing Pass Naval Parade dalam rangka memperingati HUT Ke-81 TNI, bertempat di Gedung Panti Tjahaya Armada (PTA) Koarmada II, Surabaya, Rabu (2/9).
‎TFG dilaksanakan sebagai bagian dari persiapan dan pemahaman seluruh unsur yang terlibat dalam pelaksanaan Sailing Pass Naval Parade yang akan digelar di perairan Teluk Jakarta. Kegiatan ini membahas secara detail manuver unsur KRI, Pesawat udara serta kesiapan seluruh prajurit pendukung demo laut, udara, dan Pasukan Khusus Laut (Pasusla).

‎Dalam arahannya, Pangkoarmada II menekankan pentingnya seluruh peserta memahami rangkaian kegiatan secara menyeluruh, sekaligus menguasai tugas dan tanggung jawab masing-masing unsur.
‎“Secara umum seluruh kegiatan rangkaian harus dipahami, sehingga setiap unsur mengerti tahapan pelaksanaan dan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik,” tegas Pangkoarmada II.


‎Lebih lanjut disampaikan bahwa setiap tim dan unsur, baik KRI, Pesud maupun unsur pendukung lainnya, harus mempersiapkan diri secara matang sehingga tercipta orkestrasi yang tepat dan mampu bekerja sebagai satu kesatuan. Setiap unsur juga dituntut memahami setiap perubahan situasi dan manuver yang telah direncanakan.
‎Pangkoarmada II juga menekankan aspek keselamatan dan kesiapsiagaan. Seluruh unsur, termasuk pesawat yang terlibat, diminta senantiasa dalam kondisi siap dan memastikan seluruh perlengkapan telah diperiksa serta dipersiapkan dengan baik sesuai waktu yang tersedia.
‎Selain kesiapan unsur, komunikasi menjadi salah satu kunci keberhasilan pelaksanaan Naval Parade.


‎Pangkoarmada II mengingatkan agar jaring komunikasi antara Pengendali Utama dengan seluruh unsur demo laut, udara, dan Pasusla dapat terjalin dengan baik serta tidak mengalami kendala maupun kepadatan komunikasi.
‎“Kunci terakhir adalah komunikasi. Pengendali utama harus yakin bahwa komunikasi benar-benar terjalin dengan seluruh unsur,” tegasnya.