Pemasangan meriam utama kapal LCS-2 (photo: LUNAS)
Efek ledakan amunisi cerdas Bofors 3P (photo: BAE Systems)
Pada 28 Oktober lalu Lumut Naval Shipyard (LUNAS) melakukan unggahan pemasangan meriam utama pada kapal LCS-2 yang diperuntukkan bagi Tentera Laut Diraja Malaysia.
Kapal yang akan diberi nama KD Raja Muda Nala yang akan menyandang nomor lambung 2502 ini kini telah dipasangi meriam Bofors 57mm Mk3 Naval Stealth Gun sama seperti pendahulunya KD Maharaja Lela.
Amunisi cerdas Bofors 3P (infographic: BAE Systems)
Teknologi meriam dan amunisi cerdas 3P
Meriam dengan kubah siluman (stealth cupola) ini memiliki pantulan radar rendah (low signature/stealth). Jangkauan tembakan sekitar 17 km dengan kecepatan tembak berkisar antara 200 hingga 220 putaran per menit (sekitar 4 proyektil per detik).
Meriam ini dikenal mempunyai Amunisi Cerdas 3P (Prefragmented Programmable Proximity), adalah teknologi peluru pintar kaliber 57 mm buatan BAE Systems Bofors yang dirancang untuk memberikan fleksibilitas penuh dalam menghadapi berbagai jenis ancaman dengan satu jenis peluru saja.
Sebelum peluru ditembakkan, komputer sistem pengendali tembakan (Fire Control System) kapal akan menghitung data target secara instan. Saat peluru melewati laras meriam, sebuah alat pemrogram elektronik (fuze programmer) akan mentransfer data waktu atau mode ledak secara induktif ke sekring di dalam peluru. Peluru kemudian tahu persis kapan dan bagaimana ia harus meledak di udara.
Kelebihan utama amunisi 3P adalah kemampuannya diubah menjadi 6 mode operasional yang berbeda tergantung targetnya:
*Mode Proximity Terbimbing (Gated Proximity): Digunakan untuk merontokkan rudal anti-kapal yang terbang sangat rendah di atas permukaan laut (sea-skimming missiles). Sekring hanya aktif pada jarak tertentu untuk menghindari deteksi palsu akibat ombak.
*Mode Proximity Standar: Menghancurkan pesawat jet atau helikopter musuh yang bergerak cepat.
*Mode Proximity Prioritas Target Rendah: Efektif untuk menghancurkan pesawat nirawak (UAV) atau helikopter yang bersembunyi di balik perlindungan.
*Mode Efek Waktu (Time Mode): Peluru meledak persis di atas target permukaan. Sangat mematikan untuk menghancurkan kapal cepat kecil (fast attack craft) atau pasukan musuh di pantai.
*Mode Dampak (Impact Mode): Peluru meledak langsung saat menyentuh bodi target (seperti kapal atau kendaraan lapis baja ringan).
*Mode Penetrasi Armor (Armor Piercing / Delay): Peluru menembus lambung kapal atau dinding pertahanan terlebih dahulu, baru kemudian meledak di dalam ruang interior untuk kerusakan maksimum.
Hulu ledak peluru 3P dirancang dengan teknologi pra-fragmentasi. Di dalam badan peluru, terdapat lebih dari 8.000 bola tungsten kecil berkepadatan tinggi. Ketika sekring memicu ledakan di udara (mode proximity atau time), bola-bola tungsten ini menyebar membentuk awan pecahan (fragment cloud) yang sangat padat. Awan pecahan inilah yang merobek badan rudal, pesawat, atau kapal cepat musuh, memberikan tingkat keberhasilan kehancuran (kill probability) yang sangat tinggi dibandingkan peluru konvensional.




Awowokwkwkw Kapal MaharajaMANGKRAK
BalasHapusBerita tak bermutu. 👎👎
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
BalasHapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
RICE CRISES =
1972-73
1999
2008
2020-21
2023
2025
2026
Malaysia has experienced recurring rice crises—notably in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, 2023, 2025 and 2026—which are primarily driven by severe supply and demand imbalances and exacerbated by market speculation. These crises stem from climate vulnerabilities like flooding and temperature spikes that drastically cut crop yields, alongside distortionary protectionist policies, poorly targeted subsidies, and sudden international import restrictions. Consequently, the country continues to face severe food insecurity, stagnant agricultural productivity with its self-sufficiency ratio dropping to a critical 52%, and entrenched poverty among local paddy farmers who are trapped by high production costs and inefficient market structures.
-
Daftar Sumber Referensi
• Arshad, F. M. (2025). "My Say: Rice sector needs structural improvements, not quick fixes". The Edge Malaysia. Diakses dari The Edge Malaysia.
• Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan (KPKM) Malaysia. Data Statistik Sektor Padi & Rasio Swasembada Beras (SSR) Nasional Periode 2024–2026. Laporan Resmi Pemerintah Malaysia.
AESA = FA50MOGOK 85 KM VS M346FA 157 KM
BalasHapusLCS DELAY 2035-2011 : 24 TAHUN
-
FA50M : MOGOK = LMS B2 NO SONAR NO TORPEDO
-
⚓ HARGA LCS MALAYSIA VS DESTROYER
Type 052D Class: USD 500–600 Juta / unit.
KDX III Class (Sejong): USD 900 Juta / unit.
Type 055 Class: USD 920 Juta / unit.
LCS Malaysia (Maharaja Lela): USD 948 Juta / unit (Total USD 4,74 Miliar / 5 unit). Status delayed (tertunda) & kosongan (FFBNW/belum termasuk amunisi), tanpa NSM, tanpa VL Mica, tanpa torpedo ringan, tanpa secondary guns,
--------------------------------
🚁 SEWA VS BELI AW149
Sewa: USD 3,7 Miliar (RM 16,8 M) / 28 unit / 15 tahun.
Beli: USD 868 Juta (RM 3,954 M) / 28 unit (USD 31 Juta/unit).
Rasio: Sewa 4x lebih mahal (setara 119 unit baru).
--------------------------------
🚢 LMS B2 Korvet (Ada Class)
Malaysia (Hisar/LMS B2): USD 176,7 Juta / unit (Total USD 530 Jt / 3 unit — downgrade).
Pakistan (Ada Class): USD 250 Juta / unit (Total USD 1 Miliar / 4 unit).
Ukraina (Ada Class): USD 250 Juta / unit (Total USD 1 Miliar / 2 unit + UCAV).
---------------------------------
🛩️ JET TEMPUR FA-50
FA-50M (Malaysia): USD 51,1 Juta / unit (Total USD 920 Jt / 18 unit — varian termurah).
FA-50PH B2 (Filipina): USD 58,33 Juta / unit (Total USD 700 Jt / 12 unit — AESA & refueling).
FA-50 GF (Block II): USD 58,75 Juta / unit (Total USD 705 Jt / 12 unit).
FA-50 PL (Polandia): USD 63,89 Juta / unit (Total USD 2,3 Miliar / 36 unit — standar NATO).
--------------------------------
BUKTI HUTANG BAYAR HUTANG
Daftar tren "Hutang Bayar Hutang" MALONYET dari tahun 2018 hingga proyeksi 2025 berdasarkan data Kementerian Kewangan MALONYET (MOF) dan Jabatan Audit Negara:
-
2018: FASE "OPEN DONASI"
Pemerintah meluncurkan Tabung Harapan MALONYET untuk mengumpulkan sumbangan rakyat guna membantu membayar utang negara yang menembus angka RM1 triliun (80% dari PDB).
-
2019: 59% HUTANG BAYAR HUTANG
Laporan Ketua Audit Negara mengungkapkan bahwa 59% dari pinjaman baru digunakan hanya untuk melunasi utang yang sudah ada (gali lubang tutup lubang).
-
2020: 60% HUTANG BAYAR HUTANG
Ketergantungan meningkat; hampir 60% pinjaman baru dialokasikan untuk membayar utang lama, memicu kekhawatiran karena anggaran pembangunan semakin terhimpit.
-
2021: 50,4% HUTANG BAYAR HUTANG
Dari total pinjaman baru sebesar RM194,55 miliar, sebanyak RM98,05 miliar digunakan untuk pembayaran kembali prinsipal utang yang telah matang.
-
2022: 52,4% HUTANG BAYAR HUTANG
Realisasi pembayaran prinsipal mencapai RM113,7 miliar. Total pinjaman meningkat 11,6% dibandingkan tahun sebelumnya akibat pemulihan pascapandemi.
-
2023: 64,3% HUTANG BAYAR HUTANG
Persentase tertinggi dalam periode ini. Dari total pinjaman kasar RM226,6 miliar, sebesar RM145,8 miliar lari ke pembayaran utang lama.
-
2024: 58,9% HUTANG BAYAR HUTANG
Pemerintah mulai melakukan konsolidasi. Pinjaman digunakan untuk melunasi utang matang sebesar RM121,3 miliar dari total pinjaman RM206 miliar.
-
2025: 58% HUTANG BAYAR HUTANG
Berdasarkan Tinjauan Fiskal 2025, pemerintah memproyeksikan pinjaman kasar sebesar RM184 miliar, di mana RM106,8 miliar disiapkan untuk membayar prinsipal utang matang.
-
2026 = HUTANG BAYAR HUTANG
Dokumen Resmi Pemerintah (Kementerian Kewangan MALONYET - MOF)
Data utama berasal dari laporan tahunan yang diterbitkan bersamaan dengan pembentangan anggaran negara:
Laporan Tinjauan Fiskal 2025 & 2026: Memuat angka proyeksi pinjaman kasar (gross borrowing) dan alokasi pembayaran kembali prinsipal utang yang matang.
-
SUMBER DATA RESMI:
Laporan Ketua Audit Negara (LKAN): Mengenai Penyata Kewangan Kerajaan Persekutuan (tahunan).
-
Kementerian Kewangan MALONYET (MOF): Laporan Tinjauan Fiskal dan Estimasi Pendapatan Federal (diterbitkan setiap pembentangan Belanjawan/Budget).
oh ini yak meriam tak ada amunisnya...
BalasHapuslupa beli=bokek haha!👎🍌🤣
AESA = FA50MOGOK 85 KM VS M346FA 157 KM
BalasHapusLCS DELAY 2035-2011 : 24 TAHUN
-
FA50M : MOGOK = LMS B2 NO SONAR NO TORPEDO = LCS DELAY 24 TAHUN
-
⚓ HARGA LCS MALAYSIA VS DESTROYER
Type 052D Class: USD 500–600 Juta / unit.
KDX III Class (Sejong): USD 900 Juta / unit.
Type 055 Class: USD 920 Juta / unit.
LCS Malaysia (Maharaja Lela): USD 948 Juta / unit (Total USD 4,74 Miliar / 5 unit). Status delayed (tertunda) & kosongan (FFBNW/belum termasuk amunisi), tanpa NSM, tanpa VL Mica, tanpa torpedo ringan, tanpa secondary guns,
--------------------------------
🚁 SEWA VS BELI AW149
Sewa: USD 3,7 Miliar (RM 16,8 M) / 28 unit / 15 tahun.
Beli: USD 868 Juta (RM 3,954 M) / 28 unit (USD 31 Juta/unit).
Rasio: Sewa 4x lebih mahal (setara 119 unit baru).
--------------------------------
🚢 LMS B2 Korvet (Ada Class)
Malaysia (Hisar/LMS B2): USD 176,7 Juta / unit (Total USD 530 Jt / 3 unit — downgrade).
Pakistan (Ada Class): USD 250 Juta / unit (Total USD 1 Miliar / 4 unit).
Ukraina (Ada Class): USD 250 Juta / unit (Total USD 1 Miliar / 2 unit + UCAV).
---------------------------------
🛩️ JET TEMPUR FA-50
FA-50M (Malaysia): USD 51,1 Juta / unit (Total USD 920 Jt / 18 unit — varian termurah).
FA-50PH B2 (Filipina): USD 58,33 Juta / unit (Total USD 700 Jt / 12 unit — AESA & refueling).
FA-50 GF (Block II): USD 58,75 Juta / unit (Total USD 705 Jt / 12 unit).
FA-50 PL (Polandia): USD 63,89 Juta / unit (Total USD 2,3 Miliar / 36 unit — standar NATO).
--------------------------------
1. Perang Data SIPRI: Dominasi vs Kelumpuhan
Indonesia (Status: Power House): Memiliki daftar pengadaan "Satu Lembar Penuh" (Rafale, A400M, Khan, PPA). Ini menunjukkan kemampuan Cash/Kredit Sehat yang didukung ruang fiskal lebar (Utang Pemerintah hanya 41,1%). Indonesia membeli sebagai "Owner" dengan kepastian Transfer Teknologi.
MALONYET (Status: Lumpuh/Zonk): Fenomena "2 Tahun SIPRI Kosong" menjadi bukti empiris negara sedang dalam kondisi "Miskin No Shopping". Tidak adanya kontrak baru menunjukkan anggaran pertahanan telah "dimakan" oleh kewajiban pembayaran bunga utang.
---------------------------------
2. Metodologi Akuisisi: Kedaulatan vs Barter Darurat
Indonesia: Menggunakan kekuatan devisa dan anggaran negara untuk membeli teknologi tingkat tinggi (Tier-1).
MALONYET: Bergantung pada skema Barter Sawit (MKM, Scorpene, FA-50) dan Leasing (Sewa). Ini adalah indikator "Ekonomi Darurat" di mana negara tidak memiliki likuiditas tunai yang cukup untuk membayar Down Payment (DP) alutsista.
---------------------------------
3. Analisis Beban Utang Per Kapita (Mengerikan)
Data 2025 mengungkap beban riil yang harus ditanggung rakyat MALONYET:
Beban Gabungan: Setiap warga MALONYET memikul beban utang (Pemerintah + Rumah Tangga) rata-rata RM 82.000.
Efek Domino: Utang Pemerintah yang menembus 70,5% GDP (melewati batas aman 65%) memaksa negara melakukan pemotongan anggaran sektor publik demi membayar cicilan, yang berujung pada lumpuhnya modernisasi militer.
---------------------------------
4. Risiko Sistemik & Kondisi "Game Over"
Kerentanan Perbankan: Dengan utang rumah tangga mencapai 84,3% GDP (RM 45.859 per orang), MALONYET menghadapi risiko tinggi kredit macet (NPL) yang dapat memicu krisis finansial sistemik.
Indonesia (Safe Zone): Rasio utang pemerintah yang rendah memberikan bantalan makro yang kuat. Indonesia mampu melakukan belanja pertahanan strategis tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi rakyat.
kapal kecil2, meriamnya kecil jugak haha!😆🍌👎
BalasHapusapalagi NORWAY BATAL NSM=N📛T SENDING MISSILES
bner2 penghinaan buat negri🎰kasino semenanjing kuala lumpo, tak dianggap hahah!😋✌️😂
uda NSM BATAL❌️
BalasHapusBanana🍌Repablik kl gak brani tuntut ke arbitrase haha!👎🍌🤭
karna ternyata masi utang, kl takut di tuntut balik macam Kuwait haha!😂🤣😎
LCS KE 2 SIAP DIPASANG SENJATA guys..... HOREYYYYY.... 😎😎🇲🇾🇲🇾🇲🇾
BalasHapusBofors 57mm Mk3 = TANPA AMUNISI
Hapus-
Laporan Laporan Ketua Audit Negara (LKAN) No. 2/2026 serta pernyataan resmi dari Menteri Pertahanan Malaysia, Mohamed Khaled Nordin, rincian detail mengenai ketersediaan amunisi meriam Bofors 57mm Mk3 dan status tempur kapal LCS Malaysia (KD Maharaja Lela dan KD Raja Muda Nala) adalah sebagai berikut:
-
1. Status Kontrak Amunisi 57mm yang Belum Selesai
Pemerintah Malaysia mengonfirmasi adanya keterlambatan dalam penyelesaian kontrak pelengkap (supplementary contracts) untuk pengadaan amunisi.
• Belum Ada Amunisi Pintar 3P: Amunisi utama untuk meriam Bofors 57mm Mk3 adalah tipe 3P (Pre-fragmented, Programmable, Proximity-fused) produksi BAE Systems Bofors. Amunisi pintar ini sangat penting karena bisa diprogram secara digital untuk meledak di dekat target udara/drone. Hingga akhir 2026, kontrak untuk amunisi 3P ini belum difinalisasi oleh Kementerian Pertahanan Malaysia (Mindef).
• Upaya Pengadaan Amunisi Alternatif (Non-3P): Pada April 2025, Malaysia sempat menerbitkan tender pengadaan sekitar 2.415 butir amunisi tipe Pre-Fragmented High Explosive (PFHE) dengan nilai indikatif RM35,61 juta. Amunisi PFHE ini merupakan amunisi konvensional (tidak dapat diprogram/bukan amunisi pintar). Namun, secara keseluruhan stok operasional terintegrasi di dalam kapal masih belum siap.
-
2. Kondisi Kapal yang "Belum Siap Tempur" (Non-Mission Ready)
Laporan Audit Negara memperingatkan risiko besar bahwa kapal pertama (KD Maharaja Lela 2501) yang jadwal penyerahannya diundur ke April 2027 (dari rencana awal Desember 2026), akan diserahkan dalam kondisi belum dilengkapi sistem persenjataan lengkap dan tanpa pelatihan personel yang tuntas. Hal yang sama diproyeksikan terjadi pada kapal kedua (KD Raja Muda Nala 2502).
Ketiadaan kesiapan tempur penuh ini disebabkan oleh:
• Masalah Integrasi Meriam dan Sistem Manajemen Tempur (CMS): Fisik meriam Bofors 57mm memang sudah terpasang pada modul stealth cupola di kapal. Namun, sistem penembakan meriam tersebut harus diintegrasikan secara penuh dengan Combat Management System (CMS) SETIS buatan Naval Group Prancis agar bisa membidik sasaran secara otomatis. Proses integrasi dan uji coba tembak ini belum selesai.
• Keterlambatan Sistem Pengecoh (Decoy): Kontrak pelengkap untuk Integrated Decoy Launching System (sistem pertahanan pengecoh rudal) juga dilaporkan belum selesai dan masih dalam tahap negosiasi langsung.
-
3. Krisis Persenjataan Lain (Rudal) & Fokus Anggaran
Kondisi "belum siap tempur" diperparah oleh hilangnya taring utama kapal, yaitu sistem rudal anti-kapal jarak jauh:
• Pembatalan Rudal NSM: Krisis terbesar terjadi setelah pemerintah Norwegia menolak/menangguhkan izin ekspor persenjataan ke Malaysia, yang berujung pada pembatalan pasokan rudal anti-kapal Naval Strike Missile (NSM) buatan Kongsberg.
• Fokus Pengalihan Anggaran: Karena masalah pasokan rudal NSM dan pembengkakan biaya proyek LCS yang kini mencapai RM11,23 miliar, prioritas utama anggaran dialihkan untuk memastikan kapal bisa berlayar terlebih dahulu (menyelesaikan lambung, mesin, navigasi, dan radar).
• Rencana Pengadaan Rudal Pengganti: Untuk rudal pertahanan udara (SAM) VL MICA, Malaysia telah menandatangani Letter of Acceptance (SST) dengan MBDA Prancis. Sementara untuk pengganti rudal anti-kapal NSM, per akhir 2026 Malaysia baru mulai menyaring opsi dari tiga hingga empat negara (seperti Korea Selatan, Turki, dan Prancis). Proses pengadaan rudal baru ini diperkirakan memakan waktu 3 hingga 4 tahun ke depan.
-
Kesimpulan Detail:
Malaysia sudah membeli fisik meriamnya, tetapi belum merampungkan pembelian amunisi pintar 3P-nya. Alhasil, saat KD Maharaja Lela dan KD Raja Muda Nala berlayar nanti, kapal-kapal tersebut hanya memiliki kemampuan tempur permukaan yang sangat terbatas lewat tembakan meriam dengan amunisi seadanya, tanpa dukungan rudal ofensif utama. Laporan Audit bahkan memproyeksikan kapal LCS Malaysia baru akan benar-benar siap tempur dengan persenjataan utuh secara ideal pada Desember 2035
AESA = FA50MOGOK 85 KM VS M346FA 157 KM
HapusLCS DELAY 2035-2011 : 24 TAHUN
-
FA50M : MOGOK = LMS B2 NO SONAR NO TORPEDO = LCS DELAY 24 TAHUN
-
⚓ HARGA LCS MALAYSIA VS DESTROYER
Type 052D Class: USD 500–600 Juta / unit.
KDX III Class (Sejong): USD 900 Juta / unit.
Type 055 Class: USD 920 Juta / unit.
LCS Malaysia (Maharaja Lela): USD 948 Juta / unit (Total USD 4,74 Miliar / 5 unit). Status delayed (tertunda) & kosongan (FFBNW/belum termasuk amunisi), tanpa NSM, tanpa VL Mica, tanpa torpedo ringan, tanpa secondary guns,
--------------------------------
🚁 SEWA VS BELI AW149
Sewa: USD 3,7 Miliar (RM 16,8 M) / 28 unit / 15 tahun.
Beli: USD 868 Juta (RM 3,954 M) / 28 unit (USD 31 Juta/unit).
Rasio: Sewa 4x lebih mahal (setara 119 unit baru).
--------------------------------
🚢 LMS B2 Korvet (Ada Class)
Malaysia (Hisar/LMS B2): USD 176,7 Juta / unit (Total USD 530 Jt / 3 unit — downgrade).
Pakistan (Ada Class): USD 250 Juta / unit (Total USD 1 Miliar / 4 unit).
Ukraina (Ada Class): USD 250 Juta / unit (Total USD 1 Miliar / 2 unit + UCAV).
---------------------------------
🛩️ JET TEMPUR FA-50
FA-50M (Malaysia): USD 51,1 Juta / unit (Total USD 920 Jt / 18 unit — varian termurah).
FA-50PH B2 (Filipina): USD 58,33 Juta / unit (Total USD 700 Jt / 12 unit — AESA & refueling).
FA-50 GF (Block II): USD 58,75 Juta / unit (Total USD 705 Jt / 12 unit).
FA-50 PL (Polandia): USD 63,89 Juta / unit (Total USD 2,3 Miliar / 36 unit — standar NATO).
--------------------------------
BUKTI HUTANG BAYAR HUTANG
Daftar tren "Hutang Bayar Hutang" MALONYET dari tahun 2018 hingga proyeksi 2025 berdasarkan data Kementerian Kewangan MALONYET (MOF) dan Jabatan Audit Negara:
-
2018: FASE "OPEN DONASI"
Pemerintah meluncurkan Tabung Harapan MALONYET untuk mengumpulkan sumbangan rakyat guna membantu membayar utang negara yang menembus angka RM1 triliun (80% dari PDB).
-
2019: 59% HUTANG BAYAR HUTANG
Laporan Ketua Audit Negara mengungkapkan bahwa 59% dari pinjaman baru digunakan hanya untuk melunasi utang yang sudah ada (gali lubang tutup lubang).
-
2020: 60% HUTANG BAYAR HUTANG
Ketergantungan meningkat; hampir 60% pinjaman baru dialokasikan untuk membayar utang lama, memicu kekhawatiran karena anggaran pembangunan semakin terhimpit.
-
2021: 50,4% HUTANG BAYAR HUTANG
Dari total pinjaman baru sebesar RM194,55 miliar, sebanyak RM98,05 miliar digunakan untuk pembayaran kembali prinsipal utang yang telah matang.
-
2022: 52,4% HUTANG BAYAR HUTANG
Realisasi pembayaran prinsipal mencapai RM113,7 miliar. Total pinjaman meningkat 11,6% dibandingkan tahun sebelumnya akibat pemulihan pascapandemi.
-
2023: 64,3% HUTANG BAYAR HUTANG
Persentase tertinggi dalam periode ini. Dari total pinjaman kasar RM226,6 miliar, sebesar RM145,8 miliar lari ke pembayaran utang lama.
-
2024: 58,9% HUTANG BAYAR HUTANG
Pemerintah mulai melakukan konsolidasi. Pinjaman digunakan untuk melunasi utang matang sebesar RM121,3 miliar dari total pinjaman RM206 miliar.
-
2025: 58% HUTANG BAYAR HUTANG
Berdasarkan Tinjauan Fiskal 2025, pemerintah memproyeksikan pinjaman kasar sebesar RM184 miliar, di mana RM106,8 miliar disiapkan untuk membayar prinsipal utang matang.
-
2026 = HUTANG BAYAR HUTANG
Dokumen Resmi Pemerintah (Kementerian Kewangan MALONYET - MOF)
Data utama berasal dari laporan tahunan yang diterbitkan bersamaan dengan pembentangan anggaran negara:
Laporan Tinjauan Fiskal 2025 & 2026: Memuat angka proyeksi pinjaman kasar (gross borrowing) dan alokasi pembayaran kembali prinsipal utang yang matang.
-
SUMBER DATA RESMI:
Laporan Ketua Audit Negara (LKAN): Mengenai Penyata Kewangan Kerajaan Persekutuan (tahunan).
-
Kementerian Kewangan MALONYET (MOF): Laporan Tinjauan Fiskal dan Estimasi Pendapatan Federal (diterbitkan setiap pembentangan Belanjawan/Budget).
AESA = FA50MOGOK 85 KM VS M346FA 157 KM
HapusLCS DELAY 2035-2011 : 24 TAHUN
-
FA50M : MOGOK = LMS B2 NO SONAR NO TORPEDO = LCS DELAY 24 TAHUN
-
⚓ HARGA LCS MALAYSIA VS DESTROYER
Type 052D Class: USD 500–600 Juta / unit.
KDX III Class (Sejong): USD 900 Juta / unit.
Type 055 Class: USD 920 Juta / unit.
LCS Malaysia (Maharaja Lela): USD 948 Juta / unit (Total USD 4,74 Miliar / 5 unit). Status delayed (tertunda) & kosongan (FFBNW/belum termasuk amunisi), tanpa NSM, tanpa VL Mica, tanpa torpedo ringan, tanpa secondary guns,
--------------------------------
🚁 SEWA VS BELI AW149
Sewa: USD 3,7 Miliar (RM 16,8 M) / 28 unit / 15 tahun.
Beli: USD 868 Juta (RM 3,954 M) / 28 unit (USD 31 Juta/unit).
Rasio: Sewa 4x lebih mahal (setara 119 unit baru).
--------------------------------
🚢 LMS B2 Korvet (Ada Class)
Malaysia (Hisar/LMS B2): USD 176,7 Juta / unit (Total USD 530 Jt / 3 unit — downgrade).
Pakistan (Ada Class): USD 250 Juta / unit (Total USD 1 Miliar / 4 unit).
Ukraina (Ada Class): USD 250 Juta / unit (Total USD 1 Miliar / 2 unit + UCAV).
---------------------------------
🛩️ JET TEMPUR FA-50
FA-50M (Malaysia): USD 51,1 Juta / unit (Total USD 920 Jt / 18 unit — varian termurah).
FA-50PH B2 (Filipina): USD 58,33 Juta / unit (Total USD 700 Jt / 12 unit — AESA & refueling).
FA-50 GF (Block II): USD 58,75 Juta / unit (Total USD 705 Jt / 12 unit).
FA-50 PL (Polandia): USD 63,89 Juta / unit (Total USD 2,3 Miliar / 36 unit — standar NATO).
--------------------------------
1. Perang Data SIPRI: Dominasi vs Kelumpuhan
Indonesia (Status: Power House): Memiliki daftar pengadaan "Satu Lembar Penuh" (Rafale, A400M, Khan, PPA). Ini menunjukkan kemampuan Cash/Kredit Sehat yang didukung ruang fiskal lebar (Utang Pemerintah hanya 41,1%). Indonesia membeli sebagai "Owner" dengan kepastian Transfer Teknologi.
MALONYET (Status: Lumpuh/Zonk): Fenomena "2 Tahun SIPRI Kosong" menjadi bukti empiris negara sedang dalam kondisi "Miskin No Shopping". Tidak adanya kontrak baru menunjukkan anggaran pertahanan telah "dimakan" oleh kewajiban pembayaran bunga utang.
---------------------------------
2. Metodologi Akuisisi: Kedaulatan vs Barter Darurat
Indonesia: Menggunakan kekuatan devisa dan anggaran negara untuk membeli teknologi tingkat tinggi (Tier-1).
MALONYET: Bergantung pada skema Barter Sawit (MKM, Scorpene, FA-50) dan Leasing (Sewa). Ini adalah indikator "Ekonomi Darurat" di mana negara tidak memiliki likuiditas tunai yang cukup untuk membayar Down Payment (DP) alutsista.
---------------------------------
3. Analisis Beban Utang Per Kapita (Mengerikan)
Data 2025 mengungkap beban riil yang harus ditanggung rakyat MALONYET:
Beban Gabungan: Setiap warga MALONYET memikul beban utang (Pemerintah + Rumah Tangga) rata-rata RM 82.000.
Efek Domino: Utang Pemerintah yang menembus 70,5% GDP (melewati batas aman 65%) memaksa negara melakukan pemotongan anggaran sektor publik demi membayar cicilan, yang berujung pada lumpuhnya modernisasi militer.
---------------------------------
4. Risiko Sistemik & Kondisi "Game Over"
Kerentanan Perbankan: Dengan utang rumah tangga mencapai 84,3% GDP (RM 45.859 per orang), MALONYET menghadapi risiko tinggi kredit macet (NPL) yang dapat memicu krisis finansial sistemik.
Indonesia (Safe Zone): Rasio utang pemerintah yang rendah memberikan bantalan makro yang kuat. Indonesia mampu melakukan belanja pertahanan strategis tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi rakyat.
AESA = FA50MOGOK 85 KM VS M346FA 157 KM
HapusLCS DELAY 2035-2011 : 24 TAHUN
-
FA50M : MOGOK = LMS B2 NO SONAR NO TORPEDO = LCS DELAY 24 TAHUN
-
⚓ HARGA LCS MALAYSIA VS DESTROYER
Type 052D Class: USD 500–600 Juta / unit.
KDX III Class (Sejong): USD 900 Juta / unit.
Type 055 Class: USD 920 Juta / unit.
LCS Malaysia (Maharaja Lela): USD 948 Juta / unit (Total USD 4,74 Miliar / 5 unit). Status delayed (tertunda) & kosongan (FFBNW/belum termasuk amunisi), tanpa NSM, tanpa VL Mica, tanpa torpedo ringan, tanpa secondary guns,
--------------------------------
🚁 SEWA VS BELI AW149
Sewa: USD 3,7 Miliar (RM 16,8 M) / 28 unit / 15 tahun.
Beli: USD 868 Juta (RM 3,954 M) / 28 unit (USD 31 Juta/unit).
Rasio: Sewa 4x lebih mahal (setara 119 unit baru).
--------------------------------
🚢 LMS B2 Korvet (Ada Class)
Malaysia (Hisar/LMS B2): USD 176,7 Juta / unit (Total USD 530 Jt / 3 unit — downgrade).
Pakistan (Ada Class): USD 250 Juta / unit (Total USD 1 Miliar / 4 unit).
Ukraina (Ada Class): USD 250 Juta / unit (Total USD 1 Miliar / 2 unit + UCAV).
---------------------------------
🛩️ JET TEMPUR FA-50
FA-50M (Malaysia): USD 51,1 Juta / unit (Total USD 920 Jt / 18 unit — varian termurah).
FA-50PH B2 (Filipina): USD 58,33 Juta / unit (Total USD 700 Jt / 12 unit — AESA & refueling).
FA-50 GF (Block II): USD 58,75 Juta / unit (Total USD 705 Jt / 12 unit).
FA-50 PL (Polandia): USD 63,89 Juta / unit (Total USD 2,3 Miliar / 36 unit — standar NATO).
--------------------------------
MALONYET LEMAH =
ANGGARAN MILITER TERBATAS
ANGGARAN MILITER TERBATAS
ANGGARAN MILITER TERBATAS
---------------------------------
Berita dan laporan yang membahas kelemahan anggaran militer MALONYET pada akhir 2024 hingga 2025 =
1. Sumber Media Berita Internasional & Regional
Reuters: Sering menyoroti bagaimana keterbatasan fiskal menghambat ambisi pertahanan MALONYET, terutama dalam pembaruan jet tempur dan penguatan armada maritim di Laut China Selatan.
The Straits Times: Melaporkan bahwa anggaran pertahanan 2025 yang dialokasikan (RM21,1 miliar) hanya mencakup sekitar 1% dari proyeksi PDB, jauh di bawah standar ideal regional.
Asian Military Review: Mengkritik proses penganggaran yang tidak memberikan visi jelas bagi pengadaan militer. Laporan Agustus 2024 menyebutkan bahwa lebih dari 40% anggaran habis untuk gaji, menyisakan sedikit ruang untuk modernisasi aset.
Defence Security Asia: Sumber spesifik industri yang mengulas rincian alokasi antara belanja operasional dan belanja pembangunan untuk tahun 2025-2026.
--------------
2. Lembaga Pemikir (Think Tanks) & Riset
ISIS MALONYET (Institute of Strategic & International Studies): Menyoroti "celah kapabilitas yang melumpuhkan" (crippling capability gap) meskipun ada kenaikan anggaran. Analis di sini menyatakan bahwa kenaikan tersebut sering kali hanya menutupi inflasi, bukan komitmen nyata pada modernisasi.
IISS (International Institute for Strategic Studies): Mengulas tantangan dalam mempertahankan aset lama, seperti jet tempur buatan Rusia, di tengah keterbatasan dana dan sanksi internasional.
Transparency International Defence & Security: Mengkritik kurangnya transparansi dan pengawasan parlemen dalam pengeluaran pertahanan MALONYET, yang berpotensi meningkatkan risiko korupsi.
---------------------------------
3. Poin Utama Kelemahan yang Sering Disebutkan:
Belanja Operasional yang Tinggi: Sebagian besar anggaran (hingga 60-70%) terserap untuk gaji, tunjangan, dan perawatan aset tua, bukan untuk pengadaan baru.
Rasio PDB Rendah: Alokasi pertahanan tetap berada di kisaran 1% dari PDB, jauh lebih rendah dibandingkan tetangga seperti Singapura (3-4%) atau Vietnam (2-2,5%).
AESA = FA50MOGOK 85 KM VS M346FA 157 KM
HapusLCS DELAY 2035-2011 : 24 TAHUN
-
FA50M : MOGOK = LMS B2 NO SONAR NO TORPEDO = LCS DELAY 24 TAHUN
-
⚓ HARGA LCS MALAYSIA VS DESTROYER
Type 052D Class: USD 500–600 Juta / unit.
KDX III Class (Sejong): USD 900 Juta / unit.
Type 055 Class: USD 920 Juta / unit.
LCS Malaysia (Maharaja Lela): USD 948 Juta / unit (Total USD 4,74 Miliar / 5 unit). Status delayed (tertunda) & kosongan (FFBNW/belum termasuk amunisi), tanpa NSM, tanpa VL Mica, tanpa torpedo ringan, tanpa secondary guns,
--------------------------------
🚁 SEWA VS BELI AW149
Sewa: USD 3,7 Miliar (RM 16,8 M) / 28 unit / 15 tahun.
Beli: USD 868 Juta (RM 3,954 M) / 28 unit (USD 31 Juta/unit).
Rasio: Sewa 4x lebih mahal (setara 119 unit baru).
--------------------------------
🚢 LMS B2 Korvet (Ada Class)
Malaysia (Hisar/LMS B2): USD 176,7 Juta / unit (Total USD 530 Jt / 3 unit — downgrade).
Pakistan (Ada Class): USD 250 Juta / unit (Total USD 1 Miliar / 4 unit).
Ukraina (Ada Class): USD 250 Juta / unit (Total USD 1 Miliar / 2 unit + UCAV).
---------------------------------
🛩️ JET TEMPUR FA-50
FA-50M (Malaysia): USD 51,1 Juta / unit (Total USD 920 Jt / 18 unit — varian termurah).
FA-50PH B2 (Filipina): USD 58,33 Juta / unit (Total USD 700 Jt / 12 unit — AESA & refueling).
FA-50 GF (Block II): USD 58,75 Juta / unit (Total USD 705 Jt / 12 unit).
FA-50 PL (Polandia): USD 63,89 Juta / unit (Total USD 2,3 Miliar / 36 unit — standar NATO).
--------------------------------
Perbandingan Strategis: Akusisi vs Sewa (Leasing)
Indonesia (Full Ownership & ToT): Fokus pada kepemilikan penuh dan Transfer Teknologi (ToT). Dengan nilai belanja USD 12-13 Miliar hanya dari Turki, Indonesia membangun kedaulatan melalui PT Pindad (Tank Harimau) dan PT Dirgantara Indonesia (Drone ANKA).
MALONYET (Leasing Mode): Terjebak dalam model "Sewa-Sewa" (25+ item sewa termasuk helikopter, simulator, hingga motor polisi). Ini menandakan ketidakmampuan finansial untuk membayar down payment (DP) atau cicilan kontrak pengadaan baru. Status "2 Tahun SIPRI Kosong" mengonfirmasi tidak adanya kontrak alutsista utama yang masuk dalam radar internasional.
---------------------------------
Analisa Fiskal: Jeratan Utang vs Ruang Belanja
Indonesia (Stable): Utang pemerintah tetap terjaga di bawah ambang batas aman (41,1% terhadap PDB), memberikan kepercayaan bagi lembaga donor/kreditur untuk mendanai proyek strategis seperti Jet KAAN dan Rafale.
MALONYET (Critical):
Rasio Utang: Menyentuh 84,3% terhadap PDB dengan total liabilitas menembus RM 1,79 Triliun pada 2026.
Beban Bunga: Anggaran pertahanan habis untuk membayar bunga utang dan gaji, bukan untuk modernisasi. Kondisi "Hutang Bayar Hutang" memaksa militer beralih ke skema barter (Palm Oil) untuk pengadaan kecil seperti FA-50M.
---------------------------------
Daftar Kegagalan & "Prank" Militer MALONYET
Kondisi ekonomi berdampak langsung pada kesiapan tempur (Operational Readiness):
Mangkrak (Zonk): Proyek LCS (Littoral Combat Ship) tetap menjadi monumen kegagalan sejak 2011.
Grounding Massal: Alutsista utama seperti MiG-29, MB339CM, dan Nuri terpaksa dipensiunkan atau tidak bisa terbang karena ketiadaan biaya perawatan dan suku cadang.
Sewa sebagai Solusi Darurat: Penggunaan helikopter sewa (AW139, Blackhawk) dan simulator MKM menunjukkan ketergantungan pada pihak ketiga tanpa membangun aset nasional.
Kapal dr awal salah teknis..ya yg lain termasuk pemasangan meriam ya error..liat je nanti😂😅😝🙉🙈🙊🙉🙈🙊🙉🙈🙊
BalasHapusManakala INDIANESIA.....
BalasHapusHelikopter Mi-17 yang Tangani Karhutla Jatuh di Kalimantan Tengah, 1 Kru Gugur
https://nasional.kompas.com/read/2026/11/04/15472701/helikopter-mi-17-yang-tangani-karhutla-jatuh-di-kalimantan-tengah-1-kru
Bofors 57mm Mk3 = TANPA AMUNISI
Hapus-
Laporan Laporan Ketua Audit Negara (LKAN) No. 2/2026 serta pernyataan resmi dari Menteri Pertahanan Malaysia, Mohamed Khaled Nordin, rincian detail mengenai ketersediaan amunisi meriam Bofors 57mm Mk3 dan status tempur kapal LCS Malaysia (KD Maharaja Lela dan KD Raja Muda Nala) adalah sebagai berikut:
-
1. Status Kontrak Amunisi 57mm yang Belum Selesai
Pemerintah Malaysia mengonfirmasi adanya keterlambatan dalam penyelesaian kontrak pelengkap (supplementary contracts) untuk pengadaan amunisi.
• Belum Ada Amunisi Pintar 3P: Amunisi utama untuk meriam Bofors 57mm Mk3 adalah tipe 3P (Pre-fragmented, Programmable, Proximity-fused) produksi BAE Systems Bofors. Amunisi pintar ini sangat penting karena bisa diprogram secara digital untuk meledak di dekat target udara/drone. Hingga akhir 2026, kontrak untuk amunisi 3P ini belum difinalisasi oleh Kementerian Pertahanan Malaysia (Mindef).
• Upaya Pengadaan Amunisi Alternatif (Non-3P): Pada April 2025, Malaysia sempat menerbitkan tender pengadaan sekitar 2.415 butir amunisi tipe Pre-Fragmented High Explosive (PFHE) dengan nilai indikatif RM35,61 juta. Amunisi PFHE ini merupakan amunisi konvensional (tidak dapat diprogram/bukan amunisi pintar). Namun, secara keseluruhan stok operasional terintegrasi di dalam kapal masih belum siap.
-
2. Kondisi Kapal yang "Belum Siap Tempur" (Non-Mission Ready)
Laporan Audit Negara memperingatkan risiko besar bahwa kapal pertama (KD Maharaja Lela 2501) yang jadwal penyerahannya diundur ke April 2027 (dari rencana awal Desember 2026), akan diserahkan dalam kondisi belum dilengkapi sistem persenjataan lengkap dan tanpa pelatihan personel yang tuntas. Hal yang sama diproyeksikan terjadi pada kapal kedua (KD Raja Muda Nala 2502).
Ketiadaan kesiapan tempur penuh ini disebabkan oleh:
• Masalah Integrasi Meriam dan Sistem Manajemen Tempur (CMS): Fisik meriam Bofors 57mm memang sudah terpasang pada modul stealth cupola di kapal. Namun, sistem penembakan meriam tersebut harus diintegrasikan secara penuh dengan Combat Management System (CMS) SETIS buatan Naval Group Prancis agar bisa membidik sasaran secara otomatis. Proses integrasi dan uji coba tembak ini belum selesai.
• Keterlambatan Sistem Pengecoh (Decoy): Kontrak pelengkap untuk Integrated Decoy Launching System (sistem pertahanan pengecoh rudal) juga dilaporkan belum selesai dan masih dalam tahap negosiasi langsung.
-
3. Krisis Persenjataan Lain (Rudal) & Fokus Anggaran
Kondisi "belum siap tempur" diperparah oleh hilangnya taring utama kapal, yaitu sistem rudal anti-kapal jarak jauh:
• Pembatalan Rudal NSM: Krisis terbesar terjadi setelah pemerintah Norwegia menolak/menangguhkan izin ekspor persenjataan ke Malaysia, yang berujung pada pembatalan pasokan rudal anti-kapal Naval Strike Missile (NSM) buatan Kongsberg.
• Fokus Pengalihan Anggaran: Karena masalah pasokan rudal NSM dan pembengkakan biaya proyek LCS yang kini mencapai RM11,23 miliar, prioritas utama anggaran dialihkan untuk memastikan kapal bisa berlayar terlebih dahulu (menyelesaikan lambung, mesin, navigasi, dan radar).
• Rencana Pengadaan Rudal Pengganti: Untuk rudal pertahanan udara (SAM) VL MICA, Malaysia telah menandatangani Letter of Acceptance (SST) dengan MBDA Prancis. Sementara untuk pengganti rudal anti-kapal NSM, per akhir 2026 Malaysia baru mulai menyaring opsi dari tiga hingga empat negara (seperti Korea Selatan, Turki, dan Prancis). Proses pengadaan rudal baru ini diperkirakan memakan waktu 3 hingga 4 tahun ke depan.
-
Kesimpulan Detail:
Malaysia sudah membeli fisik meriamnya, tetapi belum merampungkan pembelian amunisi pintar 3P-nya. Alhasil, saat KD Maharaja Lela dan KD Raja Muda Nala berlayar nanti, kapal-kapal tersebut hanya memiliki kemampuan tempur permukaan yang sangat terbatas lewat tembakan meriam dengan amunisi seadanya, tanpa dukungan rudal ofensif utama. Laporan Audit bahkan memproyeksikan kapal LCS Malaysia baru akan benar-benar siap tempur dengan persenjataan utuh secara ideal pada Desember 2035
AESA = FA50MOGOK 85 KM VS M346FA 157 KM
HapusLCS DELAY 2035-2011 : 24 TAHUN
-
FA50M : MOGOK = LMS B2 NO SONAR NO TORPEDO = LCS DELAY 24 TAHUN
-
⚓ HARGA LCS MALAYSIA VS DESTROYER
Type 052D Class: USD 500–600 Juta / unit.
KDX III Class (Sejong): USD 900 Juta / unit.
Type 055 Class: USD 920 Juta / unit.
LCS Malaysia (Maharaja Lela): USD 948 Juta / unit (Total USD 4,74 Miliar / 5 unit). Status delayed (tertunda) & kosongan (FFBNW/belum termasuk amunisi), tanpa NSM, tanpa VL Mica, tanpa torpedo ringan, tanpa secondary guns,
--------------------------------
🚁 SEWA VS BELI AW149
Sewa: USD 3,7 Miliar (RM 16,8 M) / 28 unit / 15 tahun.
Beli: USD 868 Juta (RM 3,954 M) / 28 unit (USD 31 Juta/unit).
Rasio: Sewa 4x lebih mahal (setara 119 unit baru).
--------------------------------
🚢 LMS B2 Korvet (Ada Class)
Malaysia (Hisar/LMS B2): USD 176,7 Juta / unit (Total USD 530 Jt / 3 unit — downgrade).
Pakistan (Ada Class): USD 250 Juta / unit (Total USD 1 Miliar / 4 unit).
Ukraina (Ada Class): USD 250 Juta / unit (Total USD 1 Miliar / 2 unit + UCAV).
---------------------------------
🛩️ JET TEMPUR FA-50
FA-50M (Malaysia): USD 51,1 Juta / unit (Total USD 920 Jt / 18 unit — varian termurah).
FA-50PH B2 (Filipina): USD 58,33 Juta / unit (Total USD 700 Jt / 12 unit — AESA & refueling).
FA-50 GF (Block II): USD 58,75 Juta / unit (Total USD 705 Jt / 12 unit).
FA-50 PL (Polandia): USD 63,89 Juta / unit (Total USD 2,3 Miliar / 36 unit — standar NATO).
--------------------------------
LEMAH =
PENGADAAN MILITER MALONYET
PENGADAAN MILITER MALONYET
PENGADAAN MILITER MALONYET
--------------------------------
Berita dan laporan yang membahas kelemahan pengadaan militer MALONYET, diperbarui hingga tahun 2025:
1. Sumber Media Berita Internasional
Reuters: Melaporkan penggerebekan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi MALONYET (MACC) terhadap beberapa perusahaan terkait dugaan suap dalam proyek pengadaan militer pada Desember 2025.
CNA (Channel News Asia): Menyoroti kritik tajam dari Raja MALONYET (Sultan Ibrahim) pada Agustus 2025 mengenai pengadaan yang dianggap "tidak masuk akal" dan kerugian negara akibat keterlibatan agen atau perantara.
SCMP (South China Morning Post): Mengulas kegagalan sistemik dan inkompetensi dalam pengadaan, termasuk keterlambatan pengiriman kendaraan lapis baja AV8 Gempita meskipun pembayaran telah dilakukan penuh.
--------------------------------
2. Sumber Media dan Lembaga Riset Lokal (Versi Bahasa Inggris)
Bernama: Mengutip pernyataan Perdana Menteri Anwar Ibrahim pada Agustus 2025 tentang perlunya sistem pengadaan yang bebas dari praktik komisi yang membebani negara.
New Straits Times (NST): Memberitakan bahwa sistem pengadaan sektor publik MALONYET, khususnya pertahanan, sering kali kurang transparan dan sarat korupsi.
ISIS MALONYET: Analisis lembaga pemikir ini menyebutkan bahwa tanpa reformasi bermakna, pengadaan militer MALONYET hanya fokus pada keberlangsungan aset tanpa mencapai tingkat pencegahan (deterrence) yang kredibel.
--------------------------------
3. Masalah Utama yang Disorot dalam Laporan 2025:
Skandal Korupsi Baru: Penyelidikan MACC pada akhir 2025 melibatkan perwira tinggi militer yang diduga menerima suap dari perusahaan kontraktor pertahanan.
Ketergantungan pada Impor: Laporan pasar menunjukkan ketergantungan tinggi pada penyedia teknologi asing menciptakan kerentanan rantai pasok dan biaya tinggi.
Kegagalan Pengiriman Aset (LCS): Proyek Littoral Combat Ship (LCS) tetap menjadi simbol kegagalan karena keterlambatan pengerjaan pipa dan kabel, mencapai hanya sekitar 73% penyelesaian pada pertengahan 2025.
Intervensi Perantara: Penggunaan "orang tengah" atau agen yang menambah komisi tidak perlu, sering kali dibenarkan dengan dalih "keamanan nasional" untuk menghindari transparansi.
AESA = FA50MOGOK 85 KM VS M346FA 157 KM
HapusLCS DELAY 2035-2011 : 24 TAHUN
-
FA50M : MOGOK = LMS B2 NO SONAR NO TORPEDO = LCS DELAY 24 TAHUN
-
⚓ HARGA LCS MALAYSIA VS DESTROYER
Type 052D Class: USD 500–600 Juta / unit.
KDX III Class (Sejong): USD 900 Juta / unit.
Type 055 Class: USD 920 Juta / unit.
LCS Malaysia (Maharaja Lela): USD 948 Juta / unit (Total USD 4,74 Miliar / 5 unit). Status delayed (tertunda) & kosongan (FFBNW/belum termasuk amunisi), tanpa NSM, tanpa VL Mica, tanpa torpedo ringan, tanpa secondary guns,
--------------------------------
🚁 SEWA VS BELI AW149
Sewa: USD 3,7 Miliar (RM 16,8 M) / 28 unit / 15 tahun.
Beli: USD 868 Juta (RM 3,954 M) / 28 unit (USD 31 Juta/unit).
Rasio: Sewa 4x lebih mahal (setara 119 unit baru).
--------------------------------
🚢 LMS B2 Korvet (Ada Class)
Malaysia (Hisar/LMS B2): USD 176,7 Juta / unit (Total USD 530 Jt / 3 unit — downgrade).
Pakistan (Ada Class): USD 250 Juta / unit (Total USD 1 Miliar / 4 unit).
Ukraina (Ada Class): USD 250 Juta / unit (Total USD 1 Miliar / 2 unit + UCAV).
---------------------------------
🛩️ JET TEMPUR FA-50
FA-50M (Malaysia): USD 51,1 Juta / unit (Total USD 920 Jt / 18 unit — varian termurah).
FA-50PH B2 (Filipina): USD 58,33 Juta / unit (Total USD 700 Jt / 12 unit — AESA & refueling).
FA-50 GF (Block II): USD 58,75 Juta / unit (Total USD 705 Jt / 12 unit).
FA-50 PL (Polandia): USD 63,89 Juta / unit (Total USD 2,3 Miliar / 36 unit — standar NATO).
--------------------------------
Pertahanan: "Full Shopping" vs "Zonk"
Indonesia (Strategic Dominance): Daftar belanja satu lembar penuh dengan alutsista high-end (Rafale F-4, KAAN, A400M, Rudal Khan/Bora). Kemitraan dengan Turki senilai USD 12-13 Miliar menunjukkan Indonesia memiliki likuiditas dan kepercayaan internasional yang sangat tinggi.
MALONYET (Lumpuh): Status "2 Tahun SIPRI Kosong" adalah indikator nyata kegagalan fiskal. Tanpa kontrak baru, militer MALONYET hanya mengandalkan aset tua dan skema sewa karena tidak sanggup membayar pengadaan.
---------------------------------
Fiskal: Jeratan Utang Luar Biasa
Rasio Utang: MALONYET terjepit dengan total utang (pemerintah + swasta) mencapai 224% terhadap GDP dan utang pemerintah 70,5%. Angka ini jauh di atas Indonesia yang sangat sehat di level 41,1% (utang pemerintah).
External Debt: Utang luar negeri sebesar USD 306,3 Miliar melebihi utang nasionalnya sendiri (USD 300,7 Miliar), menunjukkan kerentanan terhadap fluktuasi mata uang dan ketergantungan pada pihak asing.
---------------------------------
Krisis Sosial & Mental (The Human Cost)
Data kesehatan masyarakat menunjukkan dampak nyata dari tekanan ekonomi:
Epidemi Gangguan Jiwa: Statistik 1 dari 3 orang (11 juta jiwa) menderita gangguan mental, dan 1 dari 4 remaja mengalami depresi. Hal ini berujung pada angka percobaan bunuh diri yang mengkhawatirkan (1 dari 10 remaja).
Depresi Ekonomi: Ketidakpastian masa depan akibat krisis utang dan biaya hidup memicu degradasi mental masyarakat secara masif.
---------------------------------
Ekonomi: Pengangguran & Krisis Pangan
Badai PHK: Hampir 300.000 orang kehilangan pekerjaan dalam 4 tahun terakhir, termasuk pemotongan 30.000 staf kontrak pemerintah dan pengurangan tenaga kerja di raksasa energi Petronas demi kelangsungan hidup perusahaan.
Krisis Beras: Kelangkaan stok dan lonjakan harga beras impor telah memicu panic buying dan keresahan sosial, mengancam stabilitas nasional.
AESA = FA50MOGOK 85 KM VS M346FA 157 KM
HapusLCS DELAY 2035-2011 : 24 TAHUN
-
FA50M : MOGOK = LMS B2 NO SONAR NO TORPEDO = LCS DELAY 24 TAHUN
-
⚓ HARGA LCS MALAYSIA VS DESTROYER
Type 052D Class: USD 500–600 Juta / unit.
KDX III Class (Sejong): USD 900 Juta / unit.
Type 055 Class: USD 920 Juta / unit.
LCS Malaysia (Maharaja Lela): USD 948 Juta / unit (Total USD 4,74 Miliar / 5 unit). Status delayed (tertunda) & kosongan (FFBNW/belum termasuk amunisi), tanpa NSM, tanpa VL Mica, tanpa torpedo ringan, tanpa secondary guns,
--------------------------------
🚁 SEWA VS BELI AW149
Sewa: USD 3,7 Miliar (RM 16,8 M) / 28 unit / 15 tahun.
Beli: USD 868 Juta (RM 3,954 M) / 28 unit (USD 31 Juta/unit).
Rasio: Sewa 4x lebih mahal (setara 119 unit baru).
--------------------------------
🚢 LMS B2 Korvet (Ada Class)
Malaysia (Hisar/LMS B2): USD 176,7 Juta / unit (Total USD 530 Jt / 3 unit — downgrade).
Pakistan (Ada Class): USD 250 Juta / unit (Total USD 1 Miliar / 4 unit).
Ukraina (Ada Class): USD 250 Juta / unit (Total USD 1 Miliar / 2 unit + UCAV).
---------------------------------
🛩️ JET TEMPUR FA-50
FA-50M (Malaysia): USD 51,1 Juta / unit (Total USD 920 Jt / 18 unit — varian termurah).
FA-50PH B2 (Filipina): USD 58,33 Juta / unit (Total USD 700 Jt / 12 unit — AESA & refueling).
FA-50 GF (Block II): USD 58,75 Juta / unit (Total USD 705 Jt / 12 unit).
FA-50 PL (Polandia): USD 63,89 Juta / unit (Total USD 2,3 Miliar / 36 unit — standar NATO).
--------------------------------
1. Performa Belanja: "Shopping" vs "Empty"
Indonesia (Agresif): Daftar belanja satu lembar penuh dengan alutsista kelas berat dan teknologi tinggi (Rafale F-4, A400M, kapal perang PPA, peluru kendali Bora/Khan, hingga mesin jet LM-2500). Ini menunjukkan daya beli yang kuat dan kepercayaan diri fiskal.
MALONYET (Stagnan): Laporan SIPRI yang kosong selama 2 tahun mengonfirmasi status "No Shopping". Ketidakhadiran kontrak baru menunjukkan kelumpuhan modernisasi akibat keterbatasan anggaran.
---------------------------------
2. Kesehatan Fiskal & Beban Utang
Data utang terhadap GDP menjadi kunci mengapa kedua negara berada di jalur berbeda:
Indonesia (Zona Aman): Total utang (80-95%) dan utang pemerintah (41,1%) berada di level yang sehat secara regional. Rasio ini memberikan ruang fiskal bagi pemerintah untuk menjamin pendanaan alutsista jangka panjang.
MALONYET (Zona Merah): Dengan total utang mencapai 224% dan utang pemerintah 70,5% terhadap GDP, negara ini terjebak dalam beban bunga utang. Tingginya utang membatasi kemampuan negara untuk mengalokasikan dana ke sektor pertahanan yang bersifat non-productive spending.
---------------------------------
3. Penyakit Sistemik Pengadaan
Analisa laporan 2025 menunjukkan bahwa kelemahan MALONYET bukan hanya soal uang, tapi juga manajemen:
Anggaran Terkunci: 60-70% anggaran habis hanya untuk gaji dan perawatan barang tua, menyisakan sedikit ruang untuk inovasi.
Skandal & Inefisiensi: Kasus korupsi baru di akhir 2025, kegagalan proyek LCS (hanya 73% selesai), dan intervensi "orang tengah" (broker) membuat biaya pengadaan membengkak tanpa menghasilkan aset nyata.
Ketergantungan Asing: Berbeda dengan Indonesia yang mulai mengunci kontrak Transfer of Technology (ToT), MALONYET masih terjebak pada ketergantungan impor yang rentan terhadap fluktuasi mata uang dan sanksi.
AESA = FA50MOGOK 85 KM VS M346FA 157 KM
HapusLCS DELAY 2035-2011 : 24 TAHUN
-
FA50M : MOGOK = LMS B2 NO SONAR NO TORPEDO = LCS DELAY 24 TAHUN
-
⚓ HARGA LCS MALAYSIA VS DESTROYER
Type 052D Class: USD 500–600 Juta / unit.
KDX III Class (Sejong): USD 900 Juta / unit.
Type 055 Class: USD 920 Juta / unit.
LCS Malaysia (Maharaja Lela): USD 948 Juta / unit (Total USD 4,74 Miliar / 5 unit). Status delayed (tertunda) & kosongan (FFBNW/belum termasuk amunisi), tanpa NSM, tanpa VL Mica, tanpa torpedo ringan, tanpa secondary guns,
--------------------------------
🚁 SEWA VS BELI AW149
Sewa: USD 3,7 Miliar (RM 16,8 M) / 28 unit / 15 tahun.
Beli: USD 868 Juta (RM 3,954 M) / 28 unit (USD 31 Juta/unit).
Rasio: Sewa 4x lebih mahal (setara 119 unit baru).
--------------------------------
🚢 LMS B2 Korvet (Ada Class)
Malaysia (Hisar/LMS B2): USD 176,7 Juta / unit (Total USD 530 Jt / 3 unit — downgrade).
Pakistan (Ada Class): USD 250 Juta / unit (Total USD 1 Miliar / 4 unit).
Ukraina (Ada Class): USD 250 Juta / unit (Total USD 1 Miliar / 2 unit + UCAV).
---------------------------------
🛩️ JET TEMPUR FA-50
FA-50M (Malaysia): USD 51,1 Juta / unit (Total USD 920 Jt / 18 unit — varian termurah).
FA-50PH B2 (Filipina): USD 58,33 Juta / unit (Total USD 700 Jt / 12 unit — AESA & refueling).
FA-50 GF (Block II): USD 58,75 Juta / unit (Total USD 705 Jt / 12 unit).
FA-50 PL (Polandia): USD 63,89 Juta / unit (Total USD 2,3 Miliar / 36 unit — standar NATO).
--------------------------------
Analisa Fiskal: "Spiral Utang & Overlimit"
Data menunjukkan MALONYET telah melewati ambang batas aman finansial:
Beban Utang Ganda: Utang Pemerintah mencapai 70,5% (Melebihi limit aman 65%) dan utang Rumah Tangga menembus 85,8% dari GDP. Total utang nasional (publik + swasta) mencapai 224%, menempatkan MALONYET sebagai salah satu negara dengan beban utang terberat di Asia Tenggara.
---------------------------------
Strategi Pertahanan: "Shopping" vs "Barter & Sewa"
Perbedaan cara perolehan senjata menunjukkan tingkat likuiditas negara:
Indonesia (Direct Purchase & ToT): Membeli aset mutakhir (Rafale, KAAN, PPA, A400M) dengan kepemilikan penuh dan transfer teknologi tinggi (mesin LM-2500, mesin kapal, dll).
MALONYET (Survival Mode):
Barter Minyak Sawit (Palm Oil): Hampir semua aset utama (Su-30MKM, MiG-29, Scorpene, PT-91, FA-50) dibayar menggunakan komoditas sawit. Ini menunjukkan keterbatasan cadangan devisa (Cash).
Cicilan (Debt Acquisition): Pembelian A400M dilakukan secara berperingkat (hutang), kontras dengan Indonesia yang melakukan percepatan pengadaan.
---------------------------------
Fenomena "Leasing Defence" (Negara Penyewa)
MALONYET tercatat melakukan penyewaan masif pada hampir seluruh lini operasional, yang merupakan indikasi kebangkrutan aset:
Sewa Jangka Panjang (30 Tahun): Truk dan sistem VSHORAD dari China disewa selama 3 dekade.
Sewa Helikopter & Pesawat: Blackhawk bekas, AW139, EC120B, hingga pesawat latih L-39 disewa dari penyedia swasta karena tidak mampu membeli unit baru.
Sewa Logistik Dasar: Bahkan motor patroli (BMW), mobil 4x4 (Tarantula), kapal hidrografi (MV Aishah), hingga bot interseptor semuanya berstatus SEWA.
Sewa Simulator: Simulator jet tempur (MKM) dikontrakkan ke pihak swasta (HeiTech Padu), bukan aset organik militer.
---------------------------------
Dampak Operasional: "2 Tahun SIPRI Kosong"
Status "No Shopping" di laporan SIPRI selama 2 tahun berturut-turut (2024-2025) membuktikan bahwa:
Daya Beli Nol: Tidak ada kontrak baru alutsista strategis yang mampu ditandatangani.
Mangkrak & Karat: Proyek yang ada (LCS) terhenti, sementara kebutuhan baru hanya dipenuhi dengan skema sewa untuk menutupi celah kapabilitas (capability gap).
Ketergantungan Swasta: Militer tidak lagi memiliki aset secara mandiri, melainkan bergantung pada kontrak sewa bulanan/tahunan yang membebani APBN jangka panjang.
AESA = FA50MOGOK 85 KM VS M346FA 157 KM
HapusLCS DELAY 2035-2011 : 24 TAHUN
-
FA50M : MOGOK = LMS B2 NO SONAR NO TORPEDO = LCS DELAY 24 TAHUN
-
⚓ HARGA LCS MALAYSIA VS DESTROYER
Type 052D Class: USD 500–600 Juta / unit.
KDX III Class (Sejong): USD 900 Juta / unit.
Type 055 Class: USD 920 Juta / unit.
LCS Malaysia (Maharaja Lela): USD 948 Juta / unit (Total USD 4,74 Miliar / 5 unit). Status delayed (tertunda) & kosongan (FFBNW/belum termasuk amunisi), tanpa NSM, tanpa VL Mica, tanpa torpedo ringan, tanpa secondary guns,
--------------------------------
🚁 SEWA VS BELI AW149
Sewa: USD 3,7 Miliar (RM 16,8 M) / 28 unit / 15 tahun.
Beli: USD 868 Juta (RM 3,954 M) / 28 unit (USD 31 Juta/unit).
Rasio: Sewa 4x lebih mahal (setara 119 unit baru).
--------------------------------
🚢 LMS B2 Korvet (Ada Class)
Malaysia (Hisar/LMS B2): USD 176,7 Juta / unit (Total USD 530 Jt / 3 unit — downgrade).
Pakistan (Ada Class): USD 250 Juta / unit (Total USD 1 Miliar / 4 unit).
Ukraina (Ada Class): USD 250 Juta / unit (Total USD 1 Miliar / 2 unit + UCAV).
---------------------------------
🛩️ JET TEMPUR FA-50
FA-50M (Malaysia): USD 51,1 Juta / unit (Total USD 920 Jt / 18 unit — varian termurah).
FA-50PH B2 (Filipina): USD 58,33 Juta / unit (Total USD 700 Jt / 12 unit — AESA & refueling).
FA-50 GF (Block II): USD 58,75 Juta / unit (Total USD 705 Jt / 12 unit).
FA-50 PL (Polandia): USD 63,89 Juta / unit (Total USD 2,3 Miliar / 36 unit — standar NATO).
--------------------------------
KELEMAHAN BBM MALONYET
KELEMAHAN BBM MALONYET
KELEMAHAN BBM MALONYET
Berita dan lembaga riset versi bahasa Inggris yang sering mengulas kelemahan atau isu strategis terkait militer MALONYET, termasuk aspek logistik dan operasional pada tahun 2025:
Global Firepower (GFP): Situs ini menyediakan data komprehensif mengenai kekuatan militer MALONYET yang berada di peringkat 42 dari 145 negara pada tahun 2025 dengan skor PwrIndx 0,7429. Data mereka mencakup statistik ketersediaan bahan bakar dan sumber daya alam sebagai faktor pendukung daya tahan tempur.
Lowy Institute (Asia Power Index): Lembaga riset ini mencatat bahwa kemampuan militer adalah poin terlemah MALONYET (peringkat ke-17 di Asia), yang turun satu peringkat pada 2025 setelah disalip oleh Filipina.
New Straits Times (NST) - MALONYET: Media lokal berbahasa Inggris yang sering memuat opini atau laporan terkait perlunya pemberantasan korupsi endemik di sektor militer dan isu subsidi bahan bakar yang berisiko pada stabilitas ekonomi militer.
The Sun MALONYET: Memberitakan evaluasi tahun 2025 yang menyoroti kerentanan institusional dan perlunya akuntabilitas lebih tinggi di berbagai sektor negara, termasuk pertahanan.
The Diplomat: Majalah berita internasional yang secara rutin menganalisis tren keamanan dan tantangan logistik militer di kawasan Asia-Pasifik, termasuk di MALONYET.
Isu spesifik mengenai kualitas atau kontaminasi bahan bakar militer biasanya dibahas dalam konteks kesiapan operasional (operational readiness) dalam laporan-laporan strategis dari sumber di atas.
---------------------------------
HUTANG ELEKTRIK
HUTANG INTERNET
HUTANG SEWAGE
HUTANG MINYAK BBM
==========
1. Bil Utilitas – RM115 juta
Dana ini digunakan untuk membayar keperluan asas operasi kem tentera dan fasiliti pertahanan:
• Elektrik: Menyokong operasi pangkalan dan kem tentera yang memerlukan bekalan tenaga berterusan.
• Internet: Menjamin komunikasi dan sistem maklumat ATM berfungsi dengan lancar, termasuk sistem pemantauan dan kawalan.
• Kumbahan (Sewage): Menjaga kebersihan dan kesihatan fasiliti tentera melalui sistem kumbahan yang berfungsi baik.
Manakala INDIANESIA.....
BalasHapusHelikopter Mi-17 yang Tangani Karhutla Jatuh di Kalimantan Tengah, 1 Kru Gugur
https://nasional.kompas.com/read/2026/11/04/15472701/helikopter-mi-17-yang-tangani-karhutla-jatuh-di-kalimantan-tengah-1-kru
Bofors 57mm Mk3 = TANPA AMUNISI
Hapus-
Laporan Laporan Ketua Audit Negara (LKAN) No. 2/2026 serta pernyataan resmi dari Menteri Pertahanan Malaysia, Mohamed Khaled Nordin, rincian detail mengenai ketersediaan amunisi meriam Bofors 57mm Mk3 dan status tempur kapal LCS Malaysia (KD Maharaja Lela dan KD Raja Muda Nala) adalah sebagai berikut:
-
1. Status Kontrak Amunisi 57mm yang Belum Selesai
Pemerintah Malaysia mengonfirmasi adanya keterlambatan dalam penyelesaian kontrak pelengkap (supplementary contracts) untuk pengadaan amunisi.
• Belum Ada Amunisi Pintar 3P: Amunisi utama untuk meriam Bofors 57mm Mk3 adalah tipe 3P (Pre-fragmented, Programmable, Proximity-fused) produksi BAE Systems Bofors. Amunisi pintar ini sangat penting karena bisa diprogram secara digital untuk meledak di dekat target udara/drone. Hingga akhir 2026, kontrak untuk amunisi 3P ini belum difinalisasi oleh Kementerian Pertahanan Malaysia (Mindef).
• Upaya Pengadaan Amunisi Alternatif (Non-3P): Pada April 2025, Malaysia sempat menerbitkan tender pengadaan sekitar 2.415 butir amunisi tipe Pre-Fragmented High Explosive (PFHE) dengan nilai indikatif RM35,61 juta. Amunisi PFHE ini merupakan amunisi konvensional (tidak dapat diprogram/bukan amunisi pintar). Namun, secara keseluruhan stok operasional terintegrasi di dalam kapal masih belum siap.
-
2. Kondisi Kapal yang "Belum Siap Tempur" (Non-Mission Ready)
Laporan Audit Negara memperingatkan risiko besar bahwa kapal pertama (KD Maharaja Lela 2501) yang jadwal penyerahannya diundur ke April 2027 (dari rencana awal Desember 2026), akan diserahkan dalam kondisi belum dilengkapi sistem persenjataan lengkap dan tanpa pelatihan personel yang tuntas. Hal yang sama diproyeksikan terjadi pada kapal kedua (KD Raja Muda Nala 2502).
Ketiadaan kesiapan tempur penuh ini disebabkan oleh:
• Masalah Integrasi Meriam dan Sistem Manajemen Tempur (CMS): Fisik meriam Bofors 57mm memang sudah terpasang pada modul stealth cupola di kapal. Namun, sistem penembakan meriam tersebut harus diintegrasikan secara penuh dengan Combat Management System (CMS) SETIS buatan Naval Group Prancis agar bisa membidik sasaran secara otomatis. Proses integrasi dan uji coba tembak ini belum selesai.
• Keterlambatan Sistem Pengecoh (Decoy): Kontrak pelengkap untuk Integrated Decoy Launching System (sistem pertahanan pengecoh rudal) juga dilaporkan belum selesai dan masih dalam tahap negosiasi langsung.
-
3. Krisis Persenjataan Lain (Rudal) & Fokus Anggaran
Kondisi "belum siap tempur" diperparah oleh hilangnya taring utama kapal, yaitu sistem rudal anti-kapal jarak jauh:
• Pembatalan Rudal NSM: Krisis terbesar terjadi setelah pemerintah Norwegia menolak/menangguhkan izin ekspor persenjataan ke Malaysia, yang berujung pada pembatalan pasokan rudal anti-kapal Naval Strike Missile (NSM) buatan Kongsberg.
• Fokus Pengalihan Anggaran: Karena masalah pasokan rudal NSM dan pembengkakan biaya proyek LCS yang kini mencapai RM11,23 miliar, prioritas utama anggaran dialihkan untuk memastikan kapal bisa berlayar terlebih dahulu (menyelesaikan lambung, mesin, navigasi, dan radar).
• Rencana Pengadaan Rudal Pengganti: Untuk rudal pertahanan udara (SAM) VL MICA, Malaysia telah menandatangani Letter of Acceptance (SST) dengan MBDA Prancis. Sementara untuk pengganti rudal anti-kapal NSM, per akhir 2026 Malaysia baru mulai menyaring opsi dari tiga hingga empat negara (seperti Korea Selatan, Turki, dan Prancis). Proses pengadaan rudal baru ini diperkirakan memakan waktu 3 hingga 4 tahun ke depan.
-
Kesimpulan Detail:
Malaysia sudah membeli fisik meriamnya, tetapi belum merampungkan pembelian amunisi pintar 3P-nya. Alhasil, saat KD Maharaja Lela dan KD Raja Muda Nala berlayar nanti, kapal-kapal tersebut hanya memiliki kemampuan tempur permukaan yang sangat terbatas lewat tembakan meriam dengan amunisi seadanya, tanpa dukungan rudal ofensif utama. Laporan Audit bahkan memproyeksikan kapal LCS Malaysia baru akan benar-benar siap tempur dengan persenjataan utuh secara ideal pada Desember 2035
AESA = FA50MOGOK 85 KM VS M346FA 157 KM
HapusLCS DELAY 2035-2011 : 24 TAHUN
-
FA50M : MOGOK = LMS B2 NO SONAR NO TORPEDO = LCS DELAY 24 TAHUN
-
⚓ HARGA LCS MALAYSIA VS DESTROYER
Type 052D Class: USD 500–600 Juta / unit.
KDX III Class (Sejong): USD 900 Juta / unit.
Type 055 Class: USD 920 Juta / unit.
LCS Malaysia (Maharaja Lela): USD 948 Juta / unit (Total USD 4,74 Miliar / 5 unit). Status delayed (tertunda) & kosongan (FFBNW/belum termasuk amunisi), tanpa NSM, tanpa VL Mica, tanpa torpedo ringan, tanpa secondary guns,
--------------------------------
🚁 SEWA VS BELI AW149
Sewa: USD 3,7 Miliar (RM 16,8 M) / 28 unit / 15 tahun.
Beli: USD 868 Juta (RM 3,954 M) / 28 unit (USD 31 Juta/unit).
Rasio: Sewa 4x lebih mahal (setara 119 unit baru).
--------------------------------
🚢 LMS B2 Korvet (Ada Class)
Malaysia (Hisar/LMS B2): USD 176,7 Juta / unit (Total USD 530 Jt / 3 unit — downgrade).
Pakistan (Ada Class): USD 250 Juta / unit (Total USD 1 Miliar / 4 unit).
Ukraina (Ada Class): USD 250 Juta / unit (Total USD 1 Miliar / 2 unit + UCAV).
---------------------------------
🛩️ JET TEMPUR FA-50
FA-50M (Malaysia): USD 51,1 Juta / unit (Total USD 920 Jt / 18 unit — varian termurah).
FA-50PH B2 (Filipina): USD 58,33 Juta / unit (Total USD 700 Jt / 12 unit — AESA & refueling).
FA-50 GF (Block II): USD 58,75 Juta / unit (Total USD 705 Jt / 12 unit).
FA-50 PL (Polandia): USD 63,89 Juta / unit (Total USD 2,3 Miliar / 36 unit — standar NATO).
--------------------------------
1. Kontras Belanja Pertahanan (Shopping vs Stagnan)
Indonesia (Global Player): Memasuki era "Golden Age" militer dengan daftar belanja yang masif dan bervariasi dari berbagai negara produsen utama. Fokus pada deterrence (penangkalan) jarak jauh (Rafale, KAAN, Rudal KHAN).
MALONYET (Survival Mode): Status "2 Tahun SIPRI Kosong" menandakan kegagalan dalam mengamankan kontrak baru yang signifikan. Aktivitas militer hanya berfokus pada mempertahankan apa yang ada (sustainability) daripada modernisasi.
---------------------------------
2. Analisa Kemitraan Strategis dengan Turki
Perbandingan nilai kontrak dengan Turki menunjukkan jurang kemampuan finansial yang sangat lebar:
Indonesia (USD 12-13 Miliar): Mendominasi dengan akuisisi jet siluman KAAN (48 unit), kapal perang kelas berat, hingga sistem rudal balistik. Ini menunjukkan kepercayaan Turki terhadap kemampuan bayar Indonesia.
MALONYET (USD 1,17 Miliar): Nilai kontrak hanya sekitar 9% dari nilai belanja Indonesia. Fokus terbatas pada kapal patroli (LMS) dan drone ringan, mencerminkan anggaran yang sangat terbatas.
---------------------------------
3. Kesehatan Fiskal & Beban Utang (GDP Ratio)
Data utang menjelaskan mengapa MALONYET kesulitan belanja alutsista:
Indonesia (Low Risk): Dengan utang pemerintah hanya 41,1%, Indonesia memiliki "napas" panjang untuk mengambil pinjaman luar negeri guna membiayai MEP (Minimum Essential Force).
MALONYET (High Risk): Utang pemerintah mencapai 70,5% dengan total utang nasional (swasta+publik) di angka 224%. Hal ini memicu prioritas anggaran dialihkan untuk membayar bunga utang daripada membeli senjata baru.
PHANTOMSTRIKES: 85KM
Hapushttps://x.com/Flankerchan/status/2013228468096635194
-
M346FA BLOCK 20 : 157KM
F16 : 296KM
-
FA-50 Fighting Eagle / FA-50M (Korea Selatan)
• Kategori Platform: Mengombinasikan fungsi pesawat tempur ringan (LCA) dan jet latih lanjut (LIFT).
• Teknologi Radar: Menggunakan AESA Kompak (Raytheon AN/APG-85 "Phantom Strike").
• Daya Radar: Berkisar antara 1,2 kW hingga 1,5 kW (sangat hemat daya).
• Jangkauan Deteksi: Mencapai 85 km pada probabilitas 90%, dan meluas hingga 120 km pada probabilitas 50%.
• Pelacakan Taktis: Mampu mengunci target secara stabil mulai jarak 85 km.
• Harga Per Unit: Sangat ekonomis di angka USD 50,5 Juta.
================================
================================
M-346FA Block 20 (Italia)
• Kategori Platform: Fokus sebagai Light Combat Aircraft (LCA) atau jet tempur taktis ringan.
• Teknologi Radar: Menggunakan AESA Modern (Leonardo Grifo-E).
• Daya Radar: Kompak dan dioptimalkan khusus untuk efisiensi jet latih tempur ringan.
• Jangkauan Deteksi: Berada di rentang jarak 83 km hingga 157 km.
• Pelacakan Taktis: Berada di rentang jarak 74 km hingga 139 km.
• Harga Per Unit: Relatif mahal di angka USD 145 Juta.
--------------------------------
RISIKO VETO ITAR AS ANTARA FA-50M DAN M-346FA BLOCK 20:
FA-50M (Korea Selatan)
• Risiko Veto Senjata: Sangat tinggi, karena AS terbukti memblokir lisensi integrasi rudal jarak menengah BVR (AIM-120 AMRAAM).
• Kemandirian Radar: Rendah, karena menggunakan radar Raytheon PhantomStrike (AS) yang source code-nya dikontrol penuh oleh Washington.
• Ketetapan Ekspor/Transfer: Ketat, karena harus tunduk pada regulasi ekspor Korea Selatan yang 86% rantai pasoknya terafiliasi lisensi AS.
• Titik Lemah terhadap AS: Meliputi seluruh sistem avionik taktis, radar Raytheon, komputer misi, hingga mesin GE F404.
-
M-346FA Block 20 (Indonesia / Italia)
• Risiko Veto Senjata: Sangat rendah, karena bebas beralih ke rudal dan bom pintar alternatif buatan pabrikan Eropa seperti IRIS-T dan Brimstone.
• Kemandirian Radar: Tinggi, karena menggunakan radar Leonardo Grifo-E (Italia) dengan hak kekayaan intelektual penuh di Uni Eropa.
• Ketetapan Ekspor/Transfer: Lebih longgar, karena mengikuti hukum kontrol ekspor Uni Eropa yang lebih fleksibel terhadap kebijakan luar negeri non-blok.
• Titik Lemah terhadap AS: Murni terbatas hanya pada komponen suku cadang mesin Honeywell F124-GA-200.
Manakala INDIANESIA.....
BalasHapusHelikopter Mi-17 yang Tangani Karhutla Jatuh di Kalimantan Tengah, 1 Kru Gugur
https://nasional.kompas.com/read/2026/11/04/15472701/helikopter-mi-17-yang-tangani-karhutla-jatuh-di-kalimantan-tengah-1-kru
Bofors 57mm Mk3 = TANPA AMUNISI
Hapus-
Laporan Laporan Ketua Audit Negara (LKAN) No. 2/2026 serta pernyataan resmi dari Menteri Pertahanan Malaysia, Mohamed Khaled Nordin, rincian detail mengenai ketersediaan amunisi meriam Bofors 57mm Mk3 dan status tempur kapal LCS Malaysia (KD Maharaja Lela dan KD Raja Muda Nala) adalah sebagai berikut:
-
1. Status Kontrak Amunisi 57mm yang Belum Selesai
Pemerintah Malaysia mengonfirmasi adanya keterlambatan dalam penyelesaian kontrak pelengkap (supplementary contracts) untuk pengadaan amunisi.
• Belum Ada Amunisi Pintar 3P: Amunisi utama untuk meriam Bofors 57mm Mk3 adalah tipe 3P (Pre-fragmented, Programmable, Proximity-fused) produksi BAE Systems Bofors. Amunisi pintar ini sangat penting karena bisa diprogram secara digital untuk meledak di dekat target udara/drone. Hingga akhir 2026, kontrak untuk amunisi 3P ini belum difinalisasi oleh Kementerian Pertahanan Malaysia (Mindef).
• Upaya Pengadaan Amunisi Alternatif (Non-3P): Pada April 2025, Malaysia sempat menerbitkan tender pengadaan sekitar 2.415 butir amunisi tipe Pre-Fragmented High Explosive (PFHE) dengan nilai indikatif RM35,61 juta. Amunisi PFHE ini merupakan amunisi konvensional (tidak dapat diprogram/bukan amunisi pintar). Namun, secara keseluruhan stok operasional terintegrasi di dalam kapal masih belum siap.
-
2. Kondisi Kapal yang "Belum Siap Tempur" (Non-Mission Ready)
Laporan Audit Negara memperingatkan risiko besar bahwa kapal pertama (KD Maharaja Lela 2501) yang jadwal penyerahannya diundur ke April 2027 (dari rencana awal Desember 2026), akan diserahkan dalam kondisi belum dilengkapi sistem persenjataan lengkap dan tanpa pelatihan personel yang tuntas. Hal yang sama diproyeksikan terjadi pada kapal kedua (KD Raja Muda Nala 2502).
Ketiadaan kesiapan tempur penuh ini disebabkan oleh:
• Masalah Integrasi Meriam dan Sistem Manajemen Tempur (CMS): Fisik meriam Bofors 57mm memang sudah terpasang pada modul stealth cupola di kapal. Namun, sistem penembakan meriam tersebut harus diintegrasikan secara penuh dengan Combat Management System (CMS) SETIS buatan Naval Group Prancis agar bisa membidik sasaran secara otomatis. Proses integrasi dan uji coba tembak ini belum selesai.
• Keterlambatan Sistem Pengecoh (Decoy): Kontrak pelengkap untuk Integrated Decoy Launching System (sistem pertahanan pengecoh rudal) juga dilaporkan belum selesai dan masih dalam tahap negosiasi langsung.
-
3. Krisis Persenjataan Lain (Rudal) & Fokus Anggaran
Kondisi "belum siap tempur" diperparah oleh hilangnya taring utama kapal, yaitu sistem rudal anti-kapal jarak jauh:
• Pembatalan Rudal NSM: Krisis terbesar terjadi setelah pemerintah Norwegia menolak/menangguhkan izin ekspor persenjataan ke Malaysia, yang berujung pada pembatalan pasokan rudal anti-kapal Naval Strike Missile (NSM) buatan Kongsberg.
• Fokus Pengalihan Anggaran: Karena masalah pasokan rudal NSM dan pembengkakan biaya proyek LCS yang kini mencapai RM11,23 miliar, prioritas utama anggaran dialihkan untuk memastikan kapal bisa berlayar terlebih dahulu (menyelesaikan lambung, mesin, navigasi, dan radar).
• Rencana Pengadaan Rudal Pengganti: Untuk rudal pertahanan udara (SAM) VL MICA, Malaysia telah menandatangani Letter of Acceptance (SST) dengan MBDA Prancis. Sementara untuk pengganti rudal anti-kapal NSM, per akhir 2026 Malaysia baru mulai menyaring opsi dari tiga hingga empat negara (seperti Korea Selatan, Turki, dan Prancis). Proses pengadaan rudal baru ini diperkirakan memakan waktu 3 hingga 4 tahun ke depan.
-
Kesimpulan Detail:
Malaysia sudah membeli fisik meriamnya, tetapi belum merampungkan pembelian amunisi pintar 3P-nya. Alhasil, saat KD Maharaja Lela dan KD Raja Muda Nala berlayar nanti, kapal-kapal tersebut hanya memiliki kemampuan tempur permukaan yang sangat terbatas lewat tembakan meriam dengan amunisi seadanya, tanpa dukungan rudal ofensif utama. Laporan Audit bahkan memproyeksikan kapal LCS Malaysia baru akan benar-benar siap tempur dengan persenjataan utuh secara ideal pada Desember 2035
AESA = FA50MOGOK 85 KM VS M346FA 157 KM
HapusLCS DELAY 2035-2011 : 24 TAHUN
-
FA50M : MOGOK = LMS B2 NO SONAR NO TORPEDO = LCS DELAY 24 TAHUN
-
⚓ HARGA LCS MALAYSIA VS DESTROYER
Type 052D Class: USD 500–600 Juta / unit.
KDX III Class (Sejong): USD 900 Juta / unit.
Type 055 Class: USD 920 Juta / unit.
LCS Malaysia (Maharaja Lela): USD 948 Juta / unit (Total USD 4,74 Miliar / 5 unit). Status delayed (tertunda) & kosongan (FFBNW/belum termasuk amunisi), tanpa NSM, tanpa VL Mica, tanpa torpedo ringan, tanpa secondary guns,
--------------------------------
🚁 SEWA VS BELI AW149
Sewa: USD 3,7 Miliar (RM 16,8 M) / 28 unit / 15 tahun.
Beli: USD 868 Juta (RM 3,954 M) / 28 unit (USD 31 Juta/unit).
Rasio: Sewa 4x lebih mahal (setara 119 unit baru).
--------------------------------
🚢 LMS B2 Korvet (Ada Class)
Malaysia (Hisar/LMS B2): USD 176,7 Juta / unit (Total USD 530 Jt / 3 unit — downgrade).
Pakistan (Ada Class): USD 250 Juta / unit (Total USD 1 Miliar / 4 unit).
Ukraina (Ada Class): USD 250 Juta / unit (Total USD 1 Miliar / 2 unit + UCAV).
---------------------------------
🛩️ JET TEMPUR FA-50
FA-50M (Malaysia): USD 51,1 Juta / unit (Total USD 920 Jt / 18 unit — varian termurah).
FA-50PH B2 (Filipina): USD 58,33 Juta / unit (Total USD 700 Jt / 12 unit — AESA & refueling).
FA-50 GF (Block II): USD 58,75 Juta / unit (Total USD 705 Jt / 12 unit).
FA-50 PL (Polandia): USD 63,89 Juta / unit (Total USD 2,3 Miliar / 36 unit — standar NATO).
--------------------------------
Kontras Belanja Pertahanan: Agresif vs Lumpuh
Indonesia (Status: Shopping Kaya):
Nilai Fantastis: Investasi pertahanan hanya dengan Turki saja mencapai USD 12–13 miliar (±Rp200 Triliun).
Loncatan Teknologi: Mengakuisisi jet tempur generasi ke-5 KAAN, rudal balistik KHAN, drone tempur canggih (ANKA, AKINCI, TB3), dan kapal perang modern (I-Class, PPA).
Kemandirian: Fokus pada skema Joint Venture dan produksi lokal melalui PT Pindad dan PT Dirgantara Indonesia.
MALONYET (Status: Miskin No Shopping):
---------------------------------
Tahun SIPRI Kosong: Tidak ada kontrak pengadaan alutsista utama yang tercatat di SIPRI selama 2024–2025.
Anggaran Terjepit: Belanja militer hanya sekitar 0,93% dari PDB Statista, jauh di bawah standar keamanan regional.
Belanja "Mini": Total belanja dengan Turki hanya USD 1,17 miliar (hanya ~9% dari nilai belanja Indonesia).
Analisa Beban Utang & Kelumpuhan Fiskal
Kesehatan Fiskal Indonesia:
Utang pemerintah yang rendah (41,1% terhadap PDB) memberikan ruang bagi Kementerian Pertahanan RI untuk melakukan pengadaan melalui kredit ekspor yang terencana.
Krisis Utang MALONYET:
Beban Utang Menggunung: Proyeksi utang mencapai RM 1,79 triliun pada 2026.
Hutang Bayar Hutang: Fenomena eksodus modal dan beban liabilitas (seperti 1MDB) memaksa negara terjebak dalam siklus pelunasan bunga utang yang tidak berujung.
Utang Rumah Tangga: Tercatat sebagai salah satu yang tertinggi di ASEAN menurut Bank Negara MALONYET, menekan daya beli nasional secara keseluruhan.
---------------------------------
Kegagalan Proyek Strategis (Era "Game Over")
Kelemahan MALONYET bukan hanya soal dana, tetapi manajemen pengadaan yang kronis:
Mangkrak & PHP: Proyek LCS yang tidak kunjung selesai sejak 2011 dan pembatalan berbagai rencana (MRCA, SPH, MRSS) menciptakan "celah kapabilitas" yang membahayakan kedaulatan.
Ketidakstabilan Politik: Pergantian 5x Perdana Menteri dan 6x Menteri Pertahanan dalam waktu singkat mengakibatkan ketidakpastian kebijakan pertahanan.
Hutang Utilitas: Fakta adanya tunggakan tagihan dasar (listrik, internet, air) di kamp militer menunjukkan bahwa anggaran operasional harian pun sudah sangat tertekan.
NEGARA BANGKRUT = Utang Rumah Tangga : Mencapai 84,3% terhadap PDB
Hapus(Sumber Resmi: Laporan Bank Negara Malaysia (BNM) & Pengumuman Parlemen oleh Menkeu/PM Anwar Ibrahim)
-
NEGARA BANGKRUT = Utang Pemerintah : Mencapai 70,5% terhadap PDB
(Sumber Resmi: Laporan makroekonomi Trading Economics & Kementerian Keuangan Malaysia)
-
TIDAK BAYR POKOK UTANG - BAYAR BUNGA/FAEDAH = Pembayaran anggaran pemerintah hanya digunakan untuk membayar bunga/biaya layanan utang, bukan untuk melunasi pokok keseluruhan
(Sumber Resmi: Pernyataan PM Anwar Ibrahim diliput oleh New Straits Times (NST), The Star, Astro Awani, dan TV3)
-
DEFISIT KRONIS 1998-2026 : Mengalami defisit anggaran selama 28 tahun berturut-turut sejak krisis moneter 1998 hingga proyeksi tahun 2026
(Sumber Resmi: Pidato fiskal PM Anwar Ibrahim & Analisis media ekonomi The Edge / NST)
-
BRICS : Indonesia resmi bergabung sebagai anggota penuh, sedangkan Malaysia menjadi negara mitra dan belum lolos keanggotaan penuh karena alasan tertentu
(Sumber Resmi: Laporan resmi Pemerintah Brasil selaku Presidensi BRICS & platform info BRICS Information Sharing)
-
G20 : Malaysia dan Singapura tidak masuk dalam forum ini disebabkan oleh faktor pemenuhan skala Produk Domestik Bruto (PDB) serta jumlah populasi penduduk
(Sumber Resmi: Ketentuan profil negara anggota Sekretariat G20)
--------------------------------
MALONYET.......
STATUS 2023-2026: KENEGARA BANGKRUTAN SISTEMIK & MISKIN
2026 MALONYET BADUT FFBNP = CUT BUDGET = MISKIN: Perbendaharaan memerintahkan pemangkasan anggaran operasional seluruh kementerian akibat dampak krisis global (Reuters).
2026 MALONYET BADUT FFBNP =PHK MASSAL = MISKIN: Puncak krisis Januari 2026 dengan 24.100 PHK (Data SOCSO/PERKESO); Petronas pangkas ±5.000 karyawan.
2026 MALONYET BADUT FFBNP = FREEZE PROCUREMENT = MISKINNN: Pembekuan total kontrak militer dan polisi per 16 Januari 2026 menyusul investigasi korupsi pejabat tinggi.
2025-2024 MALONYET BADUT FFBNP =SIPRI KOSONG= MISKIN: Dua tahun berturut-turut tanpa catatan transfer senjata berat; sejajar dengan Laos dan Kamboja.
2023 MALONYET BADUT FFBNP = CANCELLED PROCUREMENTT = MISKIN: Pembatalan resmi 5 tender infrastruktur dan pasokan oleh MINDEF karena kendala finansial.
________________________________________
DATA UTANG & BEBAN RAKYAT 2026:
Utang Pemerintah: RM 1,79 Triliun (70,5% PDB — MELEWATI LIMIT 65%).
Utang Household: RM 1,65 Triliun (84,3% PDB — MELEWATI LIMIT 65%).
Perhitungan Beban Kumulatif Per Warga (Populasi 36,3 Juta):
Beban Utang Pemerintah: RM 49.196 / jiwa.
Beban Utang Household: RM 45.348 / jiwa.
➡️ TOTAL BEBAN PER WARGA: RM 94.544.
________________________________________
BUKTI "BORROWING TO REPAY DEBT" (DEBT-SERVICING):
Rekor Terburuk (2023): 64,3% dari total pinjaman kasar (RM 145,8 Miliar) hanya habis untuk membayar utang lama (Gali lubang tutup lubang).
Proyeksi 2025-2026: Konsisten di angka 58%. Ruang fiskal untuk belanja alutsista terkunci total oleh cicilan bunga utang.
Tabung Harapan (2018): Bukti keputusasaan di mana negara harus meminta donasi rakyat untuk membayar utang yang menembus RM 1 Triliun.
________________________________________
DEGRADASI MILITER & TIMELINE "PRANK":
Penurunan Daya Gentar (GFP 2026): Merosot ke posisi 42 dunia; resmi disalip oleh Filipina (Peringkat 41).
Skandal Aset Hilang: Catatan memalukan raibnya 48 pesawat Skyhawk dan 2 mesin jet tempur dari gudang militer.
Vakum SIPRI (2020-2025): Dari status Planned (2020) turun ke Not Yet Ordered (2022) hingga akhirnya KOSONG TOTAL (2024-2025).
Timeline Kegagalan (Prank):
F/A-18 Hornet: Batal 4 kali upaya akuisisi dari Kuwait hingga resmi mati di 2026.
Dassault Rafale: Mangkrak sejak 2014 akibat ketiadaan dana tunai.
Kapal MRSS: Janji kontrak dengan PT PAL 2018 yang berakhir zonk.
________________________________________
KRISIS ADMINISTRASI & REPUTASI:
Sanksi Olahraga: Kekalahan WO 0-3 dan sanksi AFC/CAS akibat pemain ilegal mencerminkan kegagalan birokrasi sistemik.
Tekanan Ekonomi: Ancaman sanksi tarif AS Section 301 (10-25%) dan IEEPA menghantam sektor manufaktur utama (E&E).
Manakala INDIANESIA.....
BalasHapusHelikopter Mi-17 yang Tangani Karhutla Jatuh di Kalimantan Tengah, 1 Kru Gugur
https://nasional.kompas.com/read/2026/11/04/15472701/helikopter-mi-17-yang-tangani-karhutla-jatuh-di-kalimantan-tengah-1-kru
Bofors 57mm Mk3 = TANPA AMUNISI
Hapus-
Laporan Laporan Ketua Audit Negara (LKAN) No. 2/2026 serta pernyataan resmi dari Menteri Pertahanan Malaysia, Mohamed Khaled Nordin, rincian detail mengenai ketersediaan amunisi meriam Bofors 57mm Mk3 dan status tempur kapal LCS Malaysia (KD Maharaja Lela dan KD Raja Muda Nala) adalah sebagai berikut:
-
1. Status Kontrak Amunisi 57mm yang Belum Selesai
Pemerintah Malaysia mengonfirmasi adanya keterlambatan dalam penyelesaian kontrak pelengkap (supplementary contracts) untuk pengadaan amunisi.
• Belum Ada Amunisi Pintar 3P: Amunisi utama untuk meriam Bofors 57mm Mk3 adalah tipe 3P (Pre-fragmented, Programmable, Proximity-fused) produksi BAE Systems Bofors. Amunisi pintar ini sangat penting karena bisa diprogram secara digital untuk meledak di dekat target udara/drone. Hingga akhir 2026, kontrak untuk amunisi 3P ini belum difinalisasi oleh Kementerian Pertahanan Malaysia (Mindef).
• Upaya Pengadaan Amunisi Alternatif (Non-3P): Pada April 2025, Malaysia sempat menerbitkan tender pengadaan sekitar 2.415 butir amunisi tipe Pre-Fragmented High Explosive (PFHE) dengan nilai indikatif RM35,61 juta. Amunisi PFHE ini merupakan amunisi konvensional (tidak dapat diprogram/bukan amunisi pintar). Namun, secara keseluruhan stok operasional terintegrasi di dalam kapal masih belum siap.
-
2. Kondisi Kapal yang "Belum Siap Tempur" (Non-Mission Ready)
Laporan Audit Negara memperingatkan risiko besar bahwa kapal pertama (KD Maharaja Lela 2501) yang jadwal penyerahannya diundur ke April 2027 (dari rencana awal Desember 2026), akan diserahkan dalam kondisi belum dilengkapi sistem persenjataan lengkap dan tanpa pelatihan personel yang tuntas. Hal yang sama diproyeksikan terjadi pada kapal kedua (KD Raja Muda Nala 2502).
Ketiadaan kesiapan tempur penuh ini disebabkan oleh:
• Masalah Integrasi Meriam dan Sistem Manajemen Tempur (CMS): Fisik meriam Bofors 57mm memang sudah terpasang pada modul stealth cupola di kapal. Namun, sistem penembakan meriam tersebut harus diintegrasikan secara penuh dengan Combat Management System (CMS) SETIS buatan Naval Group Prancis agar bisa membidik sasaran secara otomatis. Proses integrasi dan uji coba tembak ini belum selesai.
• Keterlambatan Sistem Pengecoh (Decoy): Kontrak pelengkap untuk Integrated Decoy Launching System (sistem pertahanan pengecoh rudal) juga dilaporkan belum selesai dan masih dalam tahap negosiasi langsung.
-
3. Krisis Persenjataan Lain (Rudal) & Fokus Anggaran
Kondisi "belum siap tempur" diperparah oleh hilangnya taring utama kapal, yaitu sistem rudal anti-kapal jarak jauh:
• Pembatalan Rudal NSM: Krisis terbesar terjadi setelah pemerintah Norwegia menolak/menangguhkan izin ekspor persenjataan ke Malaysia, yang berujung pada pembatalan pasokan rudal anti-kapal Naval Strike Missile (NSM) buatan Kongsberg.
• Fokus Pengalihan Anggaran: Karena masalah pasokan rudal NSM dan pembengkakan biaya proyek LCS yang kini mencapai RM11,23 miliar, prioritas utama anggaran dialihkan untuk memastikan kapal bisa berlayar terlebih dahulu (menyelesaikan lambung, mesin, navigasi, dan radar).
• Rencana Pengadaan Rudal Pengganti: Untuk rudal pertahanan udara (SAM) VL MICA, Malaysia telah menandatangani Letter of Acceptance (SST) dengan MBDA Prancis. Sementara untuk pengganti rudal anti-kapal NSM, per akhir 2026 Malaysia baru mulai menyaring opsi dari tiga hingga empat negara (seperti Korea Selatan, Turki, dan Prancis). Proses pengadaan rudal baru ini diperkirakan memakan waktu 3 hingga 4 tahun ke depan.
-
Kesimpulan Detail:
Malaysia sudah membeli fisik meriamnya, tetapi belum merampungkan pembelian amunisi pintar 3P-nya. Alhasil, saat KD Maharaja Lela dan KD Raja Muda Nala berlayar nanti, kapal-kapal tersebut hanya memiliki kemampuan tempur permukaan yang sangat terbatas lewat tembakan meriam dengan amunisi seadanya, tanpa dukungan rudal ofensif utama. Laporan Audit bahkan memproyeksikan kapal LCS Malaysia baru akan benar-benar siap tempur dengan persenjataan utuh secara ideal pada Desember 2035
Sok manjangin..salah potong..salah pasang kabel 4000 pcs dan wireless..tunggu kehancuranmu..salam2035🙊🙈🙉😝😅😂🙊🙈🙉🙊🙈😝🙊🙉
BalasHapusKita LAWAN PENIPUAN GORILLA ZIMBABWE dengan FAKTA....SIAPA YANG MENGEMIS BERAS SEBENARNYA...🤣🤣🤣
BalasHapusMALAYSIA EKSPORT BERAS KE INDIANESIA
2023 - 123,360 KG
2024 - 58,499.62 KG
2025 - 123,509.11 KG
_________________________________
LINK BUKTI....
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2023/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2024/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2025/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
BPS : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
HapusTIADA MALON
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
-
SELISIH DATA WITS VS BPS =
WITS : mencatat ekspor beras Malaysia ke RI
BPS mencatat angka nol (0) impor.
-
WITS Salah Input: Barang non-beras keliru memakai kode HS beras di pelabuhan.
Transit (Transshipment): Beras Thailand/Vietnam hanya transit di Malaysia; WITS mencatat asal pengiriman, BPS mencatat negara produsen asli.
==================
==================
DEFISIT BERAS = IMPOR BERAS 2006 s/d 2025
• Tahun 2006: 640.000 ton (Basis data awal)
• Tahun 2007: 660.000 ton (Naik 3,13%)
• Tahun 2008: 690.000 ton (Naik 4,55%)
• Tahun 2009: 700.000 ton (Naik 1,45%)
• Tahun 2010: 780.000 ton (Naik 11,43%)
• Tahun 2011: 860.000 ton (Naik 10,26%)
• Tahun 2012: 850.000 ton (Turun 1,16%)
• Tahun 2013: 880.000 ton (Naik 3,53%)
• Tahun 2014: 910.000 ton (Naik 3,41%)
• Tahun 2015: 940.000 ton (Naik 3,30%)
• Tahun 2016: 1.020.000 ton (Naik 8,51%)
• Tahun 2017: 1.020.000 ton (Stabil 0,00%)
• Tahun 2018: 1.100.000 ton (Naik 7,84%)
• Tahun 2019: 1.270.000 ton (Naik 15,45%)
• Tahun 2020: 1.270.000 ton (Stabil 0,00%)
• Tahun 2021: 1.250.000 ton (Turun 1,57%)
• Tahun 2022: 1.180.000 ton (Turun 5,60%)
• Tahun 2023: 1.190.000 ton (Naik 0,85%)
• Tahun 2024: 1.410.000 ton (Naik 18,49%)
• Tahun 2025: 1.420.000 ton (Naik 0,71%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
-------------------------------
RICE CRISES =
1972-73
1999
2008
2020-21
2023
2025
2026
Malaysia has experienced recurring rice crises—notably in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, 2023, 2025 and 2026—which are primarily driven by severe supply and demand imbalances and exacerbated by market speculation. These crises stem from climate vulnerabilities like flooding and temperature spikes that drastically cut crop yields, alongside distortionary protectionist policies, poorly targeted subsidies, and sudden international import restrictions. Consequently, the country continues to face severe food insecurity, stagnant agricultural productivity with its self-sufficiency ratio dropping to a critical 52%, and entrenched poverty among local paddy farmers who are trapped by high production costs and inefficient market structures.
-
Daftar Sumber Referensi
• Arshad, F. M. (2025). "My Say: Rice sector needs structural improvements, not quick fixes". The Edge Malaysia. Diakses dari The Edge Malaysia.
Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan (KPKM) Malaysia. Data Statistik Sektor Padi & Rasio Swasembada Beras (SSR) Nasional Periode 2024–2026. Laporan Resmi Pemerintah Malaysia.
-------------------------------
1. Batu Bara: 21,84 juta ton (memasok 69% kebutuhan listrik regional TNB dan menguasai 67% total impor batu bara Malaysia).
2. Jagung: 240.000 ton.
3. Beras: 200.000 ton.
4. LNG (Gas Alam Cair): 56.431,6 metrik ton.
5. Kapal Patroli RHIB: 24 unit (diproduksi oleh PT PAL).
6. Pesawat CN235: 8 unit (diproduksi oleh PTDI).
7. Tenda & Parasut Militer: 7.000 unit tenda (pesanan militer).
8. Komponen Avionik Hawk: Komponen kokpit pesawat (buatan Surabaya/PTDI).
9. Fast Patrol Boat (FPB 57): Kapal patroli cepat (diadopsi dari PT PAL).
10. Senjata & Amunisi: Senapan SS2 dan amunisi (diproduksi oleh PT Pindad).
11. Seragam & Atribut Militer: Pakaian Dinas Lapangan (PDL) dan rompi antipeluru (diproduksi oleh Sritex).
12. Mata Uang Ringgit: Cetakan uang kertas (diproduksi oleh PERURI sejak 2010).
13. Paspor: Cetakan dokumen negara (diproduksi oleh PERURI).
Kita LAWAN PENIPUAN GORILLA ZIMBABWE dengan FAKTA....SIAPA YANG MENGEMIS BERAS SEBENARNYA...🤣🤣🤣
BalasHapusMALAYSIA EKSPORT BERAS KE INDIANESIA
2023 - 123,360 KG
2024 - 58,499.62 KG
2025 - 123,509.11 KG
_________________________________
LINK BUKTI....
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2023/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2024/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2025/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
Hapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
RICE CRISES =
1972-73
1999
2008
2020-21
2023
2025
2026
Malaysia has experienced recurring rice crises—notably in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, 2023, 2025 and 2026—which are primarily driven by severe supply and demand imbalances and exacerbated by market speculation. These crises stem from climate vulnerabilities like flooding and temperature spikes that drastically cut crop yields, alongside distortionary protectionist policies, poorly targeted subsidies, and sudden international import restrictions. Consequently, the country continues to face severe food insecurity, stagnant agricultural productivity with its self-sufficiency ratio dropping to a critical 52%, and entrenched poverty among local paddy farmers who are trapped by high production costs and inefficient market structures.
-
Daftar Sumber Referensi
• Arshad, F. M. (2025). "My Say: Rice sector needs structural improvements, not quick fixes". The Edge Malaysia. Diakses dari The Edge Malaysia.
• Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan (KPKM) Malaysia. Data Statistik Sektor Padi & Rasio Swasembada Beras (SSR) Nasional Periode 2024–2026. Laporan Resmi Pemerintah Malaysia.
Manakala INDIANESIA.....HELI MI17 JATUH guys.....
BalasHapusHelikopter Mi-17 yang Tangani Karhutla Jatuh di Kalimantan Tengah, 1 Kru Gugur
https://nasional.kompas.com/read/2026/11/04/15472701/helikopter-mi-17-yang-tangani-karhutla-jatuh-di-kalimantan-tengah-1-kru
Bofors 57mm Mk3 = TANPA AMUNISI
Hapus-
Laporan Laporan Ketua Audit Negara (LKAN) No. 2/2026 serta pernyataan resmi dari Menteri Pertahanan Malaysia, Mohamed Khaled Nordin, rincian detail mengenai ketersediaan amunisi meriam Bofors 57mm Mk3 dan status tempur kapal LCS Malaysia (KD Maharaja Lela dan KD Raja Muda Nala) adalah sebagai berikut:
-
1. Status Kontrak Amunisi 57mm yang Belum Selesai
Pemerintah Malaysia mengonfirmasi adanya keterlambatan dalam penyelesaian kontrak pelengkap (supplementary contracts) untuk pengadaan amunisi.
• Belum Ada Amunisi Pintar 3P: Amunisi utama untuk meriam Bofors 57mm Mk3 adalah tipe 3P (Pre-fragmented, Programmable, Proximity-fused) produksi BAE Systems Bofors. Amunisi pintar ini sangat penting karena bisa diprogram secara digital untuk meledak di dekat target udara/drone. Hingga akhir 2026, kontrak untuk amunisi 3P ini belum difinalisasi oleh Kementerian Pertahanan Malaysia (Mindef).
• Upaya Pengadaan Amunisi Alternatif (Non-3P): Pada April 2025, Malaysia sempat menerbitkan tender pengadaan sekitar 2.415 butir amunisi tipe Pre-Fragmented High Explosive (PFHE) dengan nilai indikatif RM35,61 juta. Amunisi PFHE ini merupakan amunisi konvensional (tidak dapat diprogram/bukan amunisi pintar). Namun, secara keseluruhan stok operasional terintegrasi di dalam kapal masih belum siap.
-
2. Kondisi Kapal yang "Belum Siap Tempur" (Non-Mission Ready)
Laporan Audit Negara memperingatkan risiko besar bahwa kapal pertama (KD Maharaja Lela 2501) yang jadwal penyerahannya diundur ke April 2027 (dari rencana awal Desember 2026), akan diserahkan dalam kondisi belum dilengkapi sistem persenjataan lengkap dan tanpa pelatihan personel yang tuntas. Hal yang sama diproyeksikan terjadi pada kapal kedua (KD Raja Muda Nala 2502).
Ketiadaan kesiapan tempur penuh ini disebabkan oleh:
• Masalah Integrasi Meriam dan Sistem Manajemen Tempur (CMS): Fisik meriam Bofors 57mm memang sudah terpasang pada modul stealth cupola di kapal. Namun, sistem penembakan meriam tersebut harus diintegrasikan secara penuh dengan Combat Management System (CMS) SETIS buatan Naval Group Prancis agar bisa membidik sasaran secara otomatis. Proses integrasi dan uji coba tembak ini belum selesai.
• Keterlambatan Sistem Pengecoh (Decoy): Kontrak pelengkap untuk Integrated Decoy Launching System (sistem pertahanan pengecoh rudal) juga dilaporkan belum selesai dan masih dalam tahap negosiasi langsung.
-
3. Krisis Persenjataan Lain (Rudal) & Fokus Anggaran
Kondisi "belum siap tempur" diperparah oleh hilangnya taring utama kapal, yaitu sistem rudal anti-kapal jarak jauh:
• Pembatalan Rudal NSM: Krisis terbesar terjadi setelah pemerintah Norwegia menolak/menangguhkan izin ekspor persenjataan ke Malaysia, yang berujung pada pembatalan pasokan rudal anti-kapal Naval Strike Missile (NSM) buatan Kongsberg.
• Fokus Pengalihan Anggaran: Karena masalah pasokan rudal NSM dan pembengkakan biaya proyek LCS yang kini mencapai RM11,23 miliar, prioritas utama anggaran dialihkan untuk memastikan kapal bisa berlayar terlebih dahulu (menyelesaikan lambung, mesin, navigasi, dan radar).
• Rencana Pengadaan Rudal Pengganti: Untuk rudal pertahanan udara (SAM) VL MICA, Malaysia telah menandatangani Letter of Acceptance (SST) dengan MBDA Prancis. Sementara untuk pengganti rudal anti-kapal NSM, per akhir 2026 Malaysia baru mulai menyaring opsi dari tiga hingga empat negara (seperti Korea Selatan, Turki, dan Prancis). Proses pengadaan rudal baru ini diperkirakan memakan waktu 3 hingga 4 tahun ke depan.
-
Kesimpulan Detail:
Malaysia sudah membeli fisik meriamnya, tetapi belum merampungkan pembelian amunisi pintar 3P-nya. Alhasil, saat KD Maharaja Lela dan KD Raja Muda Nala berlayar nanti, kapal-kapal tersebut hanya memiliki kemampuan tempur permukaan yang sangat terbatas lewat tembakan meriam dengan amunisi seadanya, tanpa dukungan rudal ofensif utama. Laporan Audit bahkan memproyeksikan kapal LCS Malaysia baru akan benar-benar siap tempur dengan persenjataan utuh secara ideal pada Desember 2035
Manakala INDIANESIA.....HELI MI17 JATUH guys.....
BalasHapusHelikopter Mi-17 yang Tangani Karhutla Jatuh di Kalimantan Tengah, 1 Kru Gugur
https://nasional.kompas.com/read/2026/11/04/15472701/helikopter-mi-17-yang-tangani-karhutla-jatuh-di-kalimantan-tengah-1-kru
GORILLA ZIMBABWE KEPANASAN GUYS... 🔥🔥🤣🤣🤣🤣
BalasHapusBofors 57mm Mk3 = TANPA AMUNISI
Hapus-
Laporan Laporan Ketua Audit Negara (LKAN) No. 2/2026 serta pernyataan resmi dari Menteri Pertahanan Malaysia, Mohamed Khaled Nordin, rincian detail mengenai ketersediaan amunisi meriam Bofors 57mm Mk3 dan status tempur kapal LCS Malaysia (KD Maharaja Lela dan KD Raja Muda Nala) adalah sebagai berikut:
-
1. Status Kontrak Amunisi 57mm yang Belum Selesai
Pemerintah Malaysia mengonfirmasi adanya keterlambatan dalam penyelesaian kontrak pelengkap (supplementary contracts) untuk pengadaan amunisi.
• Belum Ada Amunisi Pintar 3P: Amunisi utama untuk meriam Bofors 57mm Mk3 adalah tipe 3P (Pre-fragmented, Programmable, Proximity-fused) produksi BAE Systems Bofors. Amunisi pintar ini sangat penting karena bisa diprogram secara digital untuk meledak di dekat target udara/drone. Hingga akhir 2026, kontrak untuk amunisi 3P ini belum difinalisasi oleh Kementerian Pertahanan Malaysia (Mindef).
• Upaya Pengadaan Amunisi Alternatif (Non-3P): Pada April 2025, Malaysia sempat menerbitkan tender pengadaan sekitar 2.415 butir amunisi tipe Pre-Fragmented High Explosive (PFHE) dengan nilai indikatif RM35,61 juta. Amunisi PFHE ini merupakan amunisi konvensional (tidak dapat diprogram/bukan amunisi pintar). Namun, secara keseluruhan stok operasional terintegrasi di dalam kapal masih belum siap.
-
2. Kondisi Kapal yang "Belum Siap Tempur" (Non-Mission Ready)
Laporan Audit Negara memperingatkan risiko besar bahwa kapal pertama (KD Maharaja Lela 2501) yang jadwal penyerahannya diundur ke April 2027 (dari rencana awal Desember 2026), akan diserahkan dalam kondisi belum dilengkapi sistem persenjataan lengkap dan tanpa pelatihan personel yang tuntas. Hal yang sama diproyeksikan terjadi pada kapal kedua (KD Raja Muda Nala 2502).
Ketiadaan kesiapan tempur penuh ini disebabkan oleh:
• Masalah Integrasi Meriam dan Sistem Manajemen Tempur (CMS): Fisik meriam Bofors 57mm memang sudah terpasang pada modul stealth cupola di kapal. Namun, sistem penembakan meriam tersebut harus diintegrasikan secara penuh dengan Combat Management System (CMS) SETIS buatan Naval Group Prancis agar bisa membidik sasaran secara otomatis. Proses integrasi dan uji coba tembak ini belum selesai.
• Keterlambatan Sistem Pengecoh (Decoy): Kontrak pelengkap untuk Integrated Decoy Launching System (sistem pertahanan pengecoh rudal) juga dilaporkan belum selesai dan masih dalam tahap negosiasi langsung.
-
3. Krisis Persenjataan Lain (Rudal) & Fokus Anggaran
Kondisi "belum siap tempur" diperparah oleh hilangnya taring utama kapal, yaitu sistem rudal anti-kapal jarak jauh:
• Pembatalan Rudal NSM: Krisis terbesar terjadi setelah pemerintah Norwegia menolak/menangguhkan izin ekspor persenjataan ke Malaysia, yang berujung pada pembatalan pasokan rudal anti-kapal Naval Strike Missile (NSM) buatan Kongsberg.
• Fokus Pengalihan Anggaran: Karena masalah pasokan rudal NSM dan pembengkakan biaya proyek LCS yang kini mencapai RM11,23 miliar, prioritas utama anggaran dialihkan untuk memastikan kapal bisa berlayar terlebih dahulu (menyelesaikan lambung, mesin, navigasi, dan radar).
• Rencana Pengadaan Rudal Pengganti: Untuk rudal pertahanan udara (SAM) VL MICA, Malaysia telah menandatangani Letter of Acceptance (SST) dengan MBDA Prancis. Sementara untuk pengganti rudal anti-kapal NSM, per akhir 2026 Malaysia baru mulai menyaring opsi dari tiga hingga empat negara (seperti Korea Selatan, Turki, dan Prancis). Proses pengadaan rudal baru ini diperkirakan memakan waktu 3 hingga 4 tahun ke depan.
-
Kesimpulan Detail:
Malaysia sudah membeli fisik meriamnya, tetapi belum merampungkan pembelian amunisi pintar 3P-nya. Alhasil, saat KD Maharaja Lela dan KD Raja Muda Nala berlayar nanti, kapal-kapal tersebut hanya memiliki kemampuan tempur permukaan yang sangat terbatas lewat tembakan meriam dengan amunisi seadanya, tanpa dukungan rudal ofensif utama. Laporan Audit bahkan memproyeksikan kapal LCS Malaysia baru akan benar-benar siap tempur dengan persenjataan utuh secara ideal pada Desember 2035
GORILLA ZIMBABWE KEPANASAN GUYS... 🔥🔥🤣🤣🤣🤣
BalasHapusBofors 57mm Mk3 = TANPA AMUNISI
Hapus-
Laporan Laporan Ketua Audit Negara (LKAN) No. 2/2026 serta pernyataan resmi dari Menteri Pertahanan Malaysia, Mohamed Khaled Nordin, rincian detail mengenai ketersediaan amunisi meriam Bofors 57mm Mk3 dan status tempur kapal LCS Malaysia (KD Maharaja Lela dan KD Raja Muda Nala) adalah sebagai berikut:
-
1. Status Kontrak Amunisi 57mm yang Belum Selesai
Pemerintah Malaysia mengonfirmasi adanya keterlambatan dalam penyelesaian kontrak pelengkap (supplementary contracts) untuk pengadaan amunisi.
• Belum Ada Amunisi Pintar 3P: Amunisi utama untuk meriam Bofors 57mm Mk3 adalah tipe 3P (Pre-fragmented, Programmable, Proximity-fused) produksi BAE Systems Bofors. Amunisi pintar ini sangat penting karena bisa diprogram secara digital untuk meledak di dekat target udara/drone. Hingga akhir 2026, kontrak untuk amunisi 3P ini belum difinalisasi oleh Kementerian Pertahanan Malaysia (Mindef).
• Upaya Pengadaan Amunisi Alternatif (Non-3P): Pada April 2025, Malaysia sempat menerbitkan tender pengadaan sekitar 2.415 butir amunisi tipe Pre-Fragmented High Explosive (PFHE) dengan nilai indikatif RM35,61 juta. Amunisi PFHE ini merupakan amunisi konvensional (tidak dapat diprogram/bukan amunisi pintar). Namun, secara keseluruhan stok operasional terintegrasi di dalam kapal masih belum siap.
-
2. Kondisi Kapal yang "Belum Siap Tempur" (Non-Mission Ready)
Laporan Audit Negara memperingatkan risiko besar bahwa kapal pertama (KD Maharaja Lela 2501) yang jadwal penyerahannya diundur ke April 2027 (dari rencana awal Desember 2026), akan diserahkan dalam kondisi belum dilengkapi sistem persenjataan lengkap dan tanpa pelatihan personel yang tuntas. Hal yang sama diproyeksikan terjadi pada kapal kedua (KD Raja Muda Nala 2502).
Ketiadaan kesiapan tempur penuh ini disebabkan oleh:
• Masalah Integrasi Meriam dan Sistem Manajemen Tempur (CMS): Fisik meriam Bofors 57mm memang sudah terpasang pada modul stealth cupola di kapal. Namun, sistem penembakan meriam tersebut harus diintegrasikan secara penuh dengan Combat Management System (CMS) SETIS buatan Naval Group Prancis agar bisa membidik sasaran secara otomatis. Proses integrasi dan uji coba tembak ini belum selesai.
• Keterlambatan Sistem Pengecoh (Decoy): Kontrak pelengkap untuk Integrated Decoy Launching System (sistem pertahanan pengecoh rudal) juga dilaporkan belum selesai dan masih dalam tahap negosiasi langsung.
-
3. Krisis Persenjataan Lain (Rudal) & Fokus Anggaran
Kondisi "belum siap tempur" diperparah oleh hilangnya taring utama kapal, yaitu sistem rudal anti-kapal jarak jauh:
• Pembatalan Rudal NSM: Krisis terbesar terjadi setelah pemerintah Norwegia menolak/menangguhkan izin ekspor persenjataan ke Malaysia, yang berujung pada pembatalan pasokan rudal anti-kapal Naval Strike Missile (NSM) buatan Kongsberg.
• Fokus Pengalihan Anggaran: Karena masalah pasokan rudal NSM dan pembengkakan biaya proyek LCS yang kini mencapai RM11,23 miliar, prioritas utama anggaran dialihkan untuk memastikan kapal bisa berlayar terlebih dahulu (menyelesaikan lambung, mesin, navigasi, dan radar).
• Rencana Pengadaan Rudal Pengganti: Untuk rudal pertahanan udara (SAM) VL MICA, Malaysia telah menandatangani Letter of Acceptance (SST) dengan MBDA Prancis. Sementara untuk pengganti rudal anti-kapal NSM, per akhir 2026 Malaysia baru mulai menyaring opsi dari tiga hingga empat negara (seperti Korea Selatan, Turki, dan Prancis). Proses pengadaan rudal baru ini diperkirakan memakan waktu 3 hingga 4 tahun ke depan.
-
Kesimpulan Detail:
Malaysia sudah membeli fisik meriamnya, tetapi belum merampungkan pembelian amunisi pintar 3P-nya. Alhasil, saat KD Maharaja Lela dan KD Raja Muda Nala berlayar nanti, kapal-kapal tersebut hanya memiliki kemampuan tempur permukaan yang sangat terbatas lewat tembakan meriam dengan amunisi seadanya, tanpa dukungan rudal ofensif utama. Laporan Audit bahkan memproyeksikan kapal LCS Malaysia baru akan benar-benar siap tempur dengan persenjataan utuh secara ideal pada Desember 2035
Manakala INDIANESIA.....HELI MI17 JATUH guys.....
BalasHapusHelikopter Mi-17 yang Tangani Karhutla Jatuh di Kalimantan Tengah, 1 Kru Gugur
https://nasional.kompas.com/read/2026/11/04/15472701/helikopter-mi-17-yang-tangani-karhutla-jatuh-di-kalimantan-tengah-1-kru
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
Hapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
RICE CRISES =
1972-73
1999
2008
2020-21
2023
2025
2026
Malaysia has experienced recurring rice crises—notably in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, 2023, 2025 and 2026—which are primarily driven by severe supply and demand imbalances and exacerbated by market speculation. These crises stem from climate vulnerabilities like flooding and temperature spikes that drastically cut crop yields, alongside distortionary protectionist policies, poorly targeted subsidies, and sudden international import restrictions. Consequently, the country continues to face severe food insecurity, stagnant agricultural productivity with its self-sufficiency ratio dropping to a critical 52%, and entrenched poverty among local paddy farmers who are trapped by high production costs and inefficient market structures.
-
Daftar Sumber Referensi
• Arshad, F. M. (2025). "My Say: Rice sector needs structural improvements, not quick fixes". The Edge Malaysia. Diakses dari The Edge Malaysia.
• Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan (KPKM) Malaysia. Data Statistik Sektor Padi & Rasio Swasembada Beras (SSR) Nasional Periode 2024–2026. Laporan Resmi Pemerintah Malaysia.
LCS 2 SUDAH MULAI DIPASANG SENJATA guys..... HOREYYYYY.... 😎😎🇲🇾🇲🇾🇲🇾
BalasHapusBofors 57mm Mk3 = TANPA AMUNISI
Hapus-
Laporan Laporan Ketua Audit Negara (LKAN) No. 2/2026 serta pernyataan resmi dari Menteri Pertahanan Malaysia, Mohamed Khaled Nordin, rincian detail mengenai ketersediaan amunisi meriam Bofors 57mm Mk3 dan status tempur kapal LCS Malaysia (KD Maharaja Lela dan KD Raja Muda Nala) adalah sebagai berikut:
-
1. Status Kontrak Amunisi 57mm yang Belum Selesai
Pemerintah Malaysia mengonfirmasi adanya keterlambatan dalam penyelesaian kontrak pelengkap (supplementary contracts) untuk pengadaan amunisi.
• Belum Ada Amunisi Pintar 3P: Amunisi utama untuk meriam Bofors 57mm Mk3 adalah tipe 3P (Pre-fragmented, Programmable, Proximity-fused) produksi BAE Systems Bofors. Amunisi pintar ini sangat penting karena bisa diprogram secara digital untuk meledak di dekat target udara/drone. Hingga akhir 2026, kontrak untuk amunisi 3P ini belum difinalisasi oleh Kementerian Pertahanan Malaysia (Mindef).
• Upaya Pengadaan Amunisi Alternatif (Non-3P): Pada April 2025, Malaysia sempat menerbitkan tender pengadaan sekitar 2.415 butir amunisi tipe Pre-Fragmented High Explosive (PFHE) dengan nilai indikatif RM35,61 juta. Amunisi PFHE ini merupakan amunisi konvensional (tidak dapat diprogram/bukan amunisi pintar). Namun, secara keseluruhan stok operasional terintegrasi di dalam kapal masih belum siap.
-
2. Kondisi Kapal yang "Belum Siap Tempur" (Non-Mission Ready)
Laporan Audit Negara memperingatkan risiko besar bahwa kapal pertama (KD Maharaja Lela 2501) yang jadwal penyerahannya diundur ke April 2027 (dari rencana awal Desember 2026), akan diserahkan dalam kondisi belum dilengkapi sistem persenjataan lengkap dan tanpa pelatihan personel yang tuntas. Hal yang sama diproyeksikan terjadi pada kapal kedua (KD Raja Muda Nala 2502).
Ketiadaan kesiapan tempur penuh ini disebabkan oleh:
• Masalah Integrasi Meriam dan Sistem Manajemen Tempur (CMS): Fisik meriam Bofors 57mm memang sudah terpasang pada modul stealth cupola di kapal. Namun, sistem penembakan meriam tersebut harus diintegrasikan secara penuh dengan Combat Management System (CMS) SETIS buatan Naval Group Prancis agar bisa membidik sasaran secara otomatis. Proses integrasi dan uji coba tembak ini belum selesai.
• Keterlambatan Sistem Pengecoh (Decoy): Kontrak pelengkap untuk Integrated Decoy Launching System (sistem pertahanan pengecoh rudal) juga dilaporkan belum selesai dan masih dalam tahap negosiasi langsung.
-
3. Krisis Persenjataan Lain (Rudal) & Fokus Anggaran
Kondisi "belum siap tempur" diperparah oleh hilangnya taring utama kapal, yaitu sistem rudal anti-kapal jarak jauh:
• Pembatalan Rudal NSM: Krisis terbesar terjadi setelah pemerintah Norwegia menolak/menangguhkan izin ekspor persenjataan ke Malaysia, yang berujung pada pembatalan pasokan rudal anti-kapal Naval Strike Missile (NSM) buatan Kongsberg.
• Fokus Pengalihan Anggaran: Karena masalah pasokan rudal NSM dan pembengkakan biaya proyek LCS yang kini mencapai RM11,23 miliar, prioritas utama anggaran dialihkan untuk memastikan kapal bisa berlayar terlebih dahulu (menyelesaikan lambung, mesin, navigasi, dan radar).
• Rencana Pengadaan Rudal Pengganti: Untuk rudal pertahanan udara (SAM) VL MICA, Malaysia telah menandatangani Letter of Acceptance (SST) dengan MBDA Prancis. Sementara untuk pengganti rudal anti-kapal NSM, per akhir 2026 Malaysia baru mulai menyaring opsi dari tiga hingga empat negara (seperti Korea Selatan, Turki, dan Prancis). Proses pengadaan rudal baru ini diperkirakan memakan waktu 3 hingga 4 tahun ke depan.
-
Kesimpulan Detail:
Malaysia sudah membeli fisik meriamnya, tetapi belum merampungkan pembelian amunisi pintar 3P-nya. Alhasil, saat KD Maharaja Lela dan KD Raja Muda Nala berlayar nanti, kapal-kapal tersebut hanya memiliki kemampuan tempur permukaan yang sangat terbatas lewat tembakan meriam dengan amunisi seadanya, tanpa dukungan rudal ofensif utama. Laporan Audit bahkan memproyeksikan kapal LCS Malaysia baru akan benar-benar siap tempur dengan persenjataan utuh secara ideal pada Desember 2035
Bofors 57mm Mk3 = TANPA AMUNISI
BalasHapus-
Laporan Laporan Ketua Audit Negara (LKAN) No. 2/2026 serta pernyataan resmi dari Menteri Pertahanan Malaysia, Mohamed Khaled Nordin, rincian detail mengenai ketersediaan amunisi meriam Bofors 57mm Mk3 dan status tempur kapal LCS Malaysia (KD Maharaja Lela dan KD Raja Muda Nala) adalah sebagai berikut:
-
1. Status Kontrak Amunisi 57mm yang Belum Selesai
Pemerintah Malaysia mengonfirmasi adanya keterlambatan dalam penyelesaian kontrak pelengkap (supplementary contracts) untuk pengadaan amunisi.
• Belum Ada Amunisi Pintar 3P: Amunisi utama untuk meriam Bofors 57mm Mk3 adalah tipe 3P (Pre-fragmented, Programmable, Proximity-fused) produksi BAE Systems Bofors. Amunisi pintar ini sangat penting karena bisa diprogram secara digital untuk meledak di dekat target udara/drone. Hingga akhir 2026, kontrak untuk amunisi 3P ini belum difinalisasi oleh Kementerian Pertahanan Malaysia (Mindef).
• Upaya Pengadaan Amunisi Alternatif (Non-3P): Pada April 2025, Malaysia sempat menerbitkan tender pengadaan sekitar 2.415 butir amunisi tipe Pre-Fragmented High Explosive (PFHE) dengan nilai indikatif RM35,61 juta. Amunisi PFHE ini merupakan amunisi konvensional (tidak dapat diprogram/bukan amunisi pintar). Namun, secara keseluruhan stok operasional terintegrasi di dalam kapal masih belum siap.
-
2. Kondisi Kapal yang "Belum Siap Tempur" (Non-Mission Ready)
Laporan Audit Negara memperingatkan risiko besar bahwa kapal pertama (KD Maharaja Lela 2501) yang jadwal penyerahannya diundur ke April 2027 (dari rencana awal Desember 2026), akan diserahkan dalam kondisi belum dilengkapi sistem persenjataan lengkap dan tanpa pelatihan personel yang tuntas. Hal yang sama diproyeksikan terjadi pada kapal kedua (KD Raja Muda Nala 2502).
Ketiadaan kesiapan tempur penuh ini disebabkan oleh:
• Masalah Integrasi Meriam dan Sistem Manajemen Tempur (CMS): Fisik meriam Bofors 57mm memang sudah terpasang pada modul stealth cupola di kapal. Namun, sistem penembakan meriam tersebut harus diintegrasikan secara penuh dengan Combat Management System (CMS) SETIS buatan Naval Group Prancis agar bisa membidik sasaran secara otomatis. Proses integrasi dan uji coba tembak ini belum selesai.
• Keterlambatan Sistem Pengecoh (Decoy): Kontrak pelengkap untuk Integrated Decoy Launching System (sistem pertahanan pengecoh rudal) juga dilaporkan belum selesai dan masih dalam tahap negosiasi langsung.
-
3. Krisis Persenjataan Lain (Rudal) & Fokus Anggaran
Kondisi "belum siap tempur" diperparah oleh hilangnya taring utama kapal, yaitu sistem rudal anti-kapal jarak jauh:
• Pembatalan Rudal NSM: Krisis terbesar terjadi setelah pemerintah Norwegia menolak/menangguhkan izin ekspor persenjataan ke Malaysia, yang berujung pada pembatalan pasokan rudal anti-kapal Naval Strike Missile (NSM) buatan Kongsberg.
• Fokus Pengalihan Anggaran: Karena masalah pasokan rudal NSM dan pembengkakan biaya proyek LCS yang kini mencapai RM11,23 miliar, prioritas utama anggaran dialihkan untuk memastikan kapal bisa berlayar terlebih dahulu (menyelesaikan lambung, mesin, navigasi, dan radar).
• Rencana Pengadaan Rudal Pengganti: Untuk rudal pertahanan udara (SAM) VL MICA, Malaysia telah menandatangani Letter of Acceptance (SST) dengan MBDA Prancis. Sementara untuk pengganti rudal anti-kapal NSM, per akhir 2026 Malaysia baru mulai menyaring opsi dari tiga hingga empat negara (seperti Korea Selatan, Turki, dan Prancis). Proses pengadaan rudal baru ini diperkirakan memakan waktu 3 hingga 4 tahun ke depan.
-
Kesimpulan Detail:
Malaysia sudah membeli fisik meriamnya, tetapi belum merampungkan pembelian amunisi pintar 3P-nya. Alhasil, saat KD Maharaja Lela dan KD Raja Muda Nala berlayar nanti, kapal-kapal tersebut hanya memiliki kemampuan tempur permukaan yang sangat terbatas lewat tembakan meriam dengan amunisi seadanya, tanpa dukungan rudal ofensif utama. Laporan Audit bahkan memproyeksikan kapal LCS Malaysia baru akan benar-benar siap tempur dengan persenjataan utuh secara ideal pada Desember 2035
Pesawat latih lanjut datang 2 dr ngra plastik ke Filipina..kemudian lanjut 1 mendarat di malaisial..3 hari kemudian baru nyusul 1 LG..blum nyampe aja udah rusaaakkk..SM kyk mbt k2 panther buatan ngra plastik jg..ratusan mangkrak di Polandia karna banyaknya kesalahan teknis..padahal baruuu..kyk pesawat latih lanjut pesanan malaydes🤣🤣🤣😁😁😁🤪🤪🤪🙉🙊🙈🙉🙊🙈🙈🙊🙉
BalasHapusManakala INDIANESIA.....HELI MI17 JATUH guys.....
BalasHapusHelikopter Mi-17 yang Tangani Karhutla Jatuh di Kalimantan Tengah, 1 Kru Gugur
https://nasional.kompas.com/read/2026/11/04/15472701/helikopter-mi-17-yang-tangani-karhutla-jatuh-di-kalimantan-tengah-1-kru
MABOK =
HapusTUDM : TUKANG URUSAN DUGEM MABOK
YE YE = PARTI DAN WANITA
YE YE = PARTI DAN WANITA
YE YE = PARTI DAN WANITA
YE YE = PARTI DAN WANITA
YE YE = PARTI DAN WANITA
YE YE = PARTI DAN WANITA
YE YE = PARTI DAN WANITA
YE YE = PARTI DAN WANITA
YE YE = PARTI DAN WANITA
YE YE = PARTI DAN WANITA
YE YE = PARTI DAN WANITA
YE YE = PARTI DAN WANITA
YE YE = PARTI DAN WANITA
YE YE = PARTI DAN WANITA
YE YE = PARTI DAN WANITA
YE YE = PARTI DAN WANITA
YE YE = PARTI DAN WANITA
YE YE = PARTI DAN WANITA
YE YE = PARTI DAN WANITA
YE YE = PARTI DAN WANITA
YE YE = PARTI DAN WANITA
YE YE = PARTI DAN WANITA
YE YE = PARTI DAN WANITA
YE YE = PARTI DAN WANITA
YE YE = PARTI DAN WANITA
YE YE = PARTI DAN WANITA
YE YE = PARTI DAN WANITA
YE YE = PARTI DAN WANITA
YE YE = PARTI DAN WANITA
-
Siasatan terhadap 21 pegawai Tentera Udara Diraja Mayadesh (TUDM) yang terbabit dengan aktiviti tidak bermoral, dikaitkan dengan budaya 'Yeye' seperti yang tular di media sosial baru-baru ini, akan beralih kepada proses perundangan dalam masa terdekat.
Siasatan terhadap 21 pegawai TUDM yang terlibat dalam aktiviti tidak bermoral dikaitkan dengan budaya 'Yeye' bakal masuk fasa perundangan.
Larangan membawa tetamu bukan ahli keluarga ke dalam mess TUDM telah lama ditetapkan dalam peraturan ATM.
--------------------------------
Sumber Berita Utama
Tribun Jateng (7 Januari 2026)
Melaporkan video viral yang memperlihatkan sejumlah personel militer MALONYET berpesta bersama wanita panggilan di dalam kamp. Kasus ini memicu sorotan publik dan kritik terhadap disiplin militer.
--------------------------------
Kompas.com (6 Januari 2026)
Menyebut bahwa masyarakat MALONYET bereaksi keras setelah video pesta tersebut tersebar. Kementerian Pertahanan menegaskan akan melakukan investigasi dan menindak sesuai aturan jika terbukti.
--------------------------------
YouTube – Tribun Video
Menayangkan rekaman pesta di barak militer MALONYET. Disebutkan beberapa anggota yang terlibat sudah berkeluarga, sehingga menambah kontroversi
Manakala INDIANESIA.....HELI MI17 JATUH guys.....
BalasHapusHelikopter Mi-17 yang Tangani Karhutla Jatuh di Kalimantan Tengah, 1 Kru Gugur
https://nasional.kompas.com/read/2026/11/04/15472701/helikopter-mi-17-yang-tangani-karhutla-jatuh-di-kalimantan-tengah-1-kru
MABOK =
HapusJENDERAL KORUPSI
ANAK BUAH = MANTAB-MANTAB WANITA
-
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
----------
Sumber Berita Utama
Tribun Jateng (7 Januari 2026)
Melaporkan video viral yang memperlihatkan sejumlah personel militer MALONYET berpesta bersama wanita panggilan di dalam kamp. Kasus ini memicu sorotan publik dan kritik terhadap disiplin militer.
----------
Kompas.com (6 Januari 2026)
Menyebut bahwa masyarakat MALONYET bereaksi keras setelah video pesta tersebut tersebar. Kementerian Pertahanan menegaskan akan melakukan investigasi dan menindak sesuai aturan jika terbukti.
----------
YouTube – Tribun Video
Menayangkan rekaman pesta di barak militer MALONYET. Disebutkan beberapa anggota yang terlibat sudah berkeluarga, sehingga menambah kontroversi
--------------------------
2026 JENDERAL UANG KOPI SEDAP .....
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
• iNews.id – Mantan Panglima Angkatan Darat MALONYET Ditangkap Dugaan Korupsi Tender Militer Pada 7 Januari 2026, Hafizuddeain Jantan ditahan MACC bersama dua istrinya. Penangkapan ini terkait penyelidikan tender kontrak militer yang diduga penuh praktik suap.
-
• Utusan MALONYET – Kes tender TDM: Hafizuddeain tiba di SPRM dirakam keterangan Hafizuddeain terlihat hadir di kantor pusat SPRM pada 7 Januari 2026 untuk memberikan keterangan. Media melaporkan adanya aliran dana besar di rekening pribadinya yang menjadi fokus penyelidikan.
-
• New Straits Times (NST) – Ex-army chief, two wives among five held in graft probe MACC mengonfirmasi penahanan Hafizuddeain, dua istrinya, serta tiga orang lainnya. Mereka diduga terlibat dalam konspirasi memindahkan dana sebesar RM2,4 juta terkait proyek pengadaan militer.
-
• ANTARA News – Imbas isu rasuah, MALONYET ganti Panglima Angkatan Darat Pada 1 Januari 2026, Jenderal Datuk Azhan Md Othman resmi dilantik sebagai Panglima Angkatan Darat MALONYET menggantikan Hafizuddeain. Pergantian ini dilakukan setelah Hafizuddeain diminta cuti sejak 27 Desember 2025.
-
• VIVA.co.id – MALONYET Ganti Panglima Angkatan Darat Imbas Isu Korupsi Proyek Militer Pelantikan Azhan Md Othman disebut sebagai langkah menjaga integritas dan kesinambungan komando Angkatan Darat MALONYET di tengah skandal rasuah.
-
• Tempo.co – Dugaan Rasuah, Kepala Angkatan Darat MALONYET Diganti Media ini menyoroti bahwa pergantian jabatan dilakukan karena Hafizuddeain sedang diperiksa atas dugaan korupsi proyek militer
FA50 Rosak di filipina..? Ayuh GORILLA tunjuk saya apa yang rosak tu..? 🤣🤣🤣🤣
BalasHapusBELUM PERANG = FA50Mogok : FA50Murah
Hapus-
FA-50M TUDM (Malaysia)
• Radar: AESA PhantomStrike (85KM, senyap & presisi).
• Senjata: AIM-9X Sidewinder (Jarak pendek, 10–20 km).
• Payload: Maks. 4,5 Ton (7 cantelan).
• Radius: ± 444 km.
• Kelemahan: BBM internal kecil (butuh drop tank) dan tanpa kemampuan jarak jauh (AMRAAM di-banned).
===========================
===========================
• F-16 BLOCK 15 EMLU TNI AU (INDONESIA)
Radar: Mekanis AN/APG-68(V)9 (296 km + fitur SAR darat).
Senjata: AIM-120 AMRAAM (Jarak menengah/BVR, 70–105 km).
Payload: Maks. 7,7 Ton (9 cantelan).
Radius: 550 – 860 km.
Keunggulan: BBM internal besar, cocok untuk patroli jauh dengan senjata berat dan dominasi BVR.
-
• F-16 BLOCK 52ID TNI AU (INDONESIA)
Radar: Mekanis AN/APG-68 Multi-mode (296 km, optimal cuaca buruk/malam).
Senjata: AIM-120 AMRAAM (BVR), AIM-9X, dan intergrasi JHMCS (helm canggih).
Payload: Maks. 7,7 Ton (9 cantelan).
Radius: ± 550 km.
Keunggulan: Mesin lebih bertenaga, rangka lebih awet, unggul dogfight (JHMCS), dan dilengkapi pod Sniper ATP.
-
LCA AESA 100KM = NO BVR BARTER SAWIT
(F-16 Indonesia vs FA-50M Malaysia) :
• Jarak Tembak (BVR): Indonesia unggul. F-16: AIM-120 AMRAAM (70–105 km) vs FA-50M: Jarak pendek (AMRAAM diblokir).
• Deteksi Radar: Indonesia lebih cepat. F-16: 296 km vs FA-50M: 100+ km.
• Stamina & Radius: Indonesia lebih lama. F-16: 550–860 km vs FA-50M: ± 444 km.
• Dogfight: Indonesia unggul. F-16: Mesin lebih kuat & helm JHMCS
--------------------------------
LCA : MAHAL346F VERSUS FA50MURAH
-
HARGA PER UNIT
FA-50M (Korsel): USD 50,5 juta/unit.
M-346 F Block 20 (Italia): USD 145 juta/unit (1 unit = 3 unit FA-50M).
Rafale F4 (Prancis): USD 192,8 juta/unit (1 unit = 4 unit FA-50M).
-
HARGA PESAWAT FA-50 FIGHTING EAGLE =
1. Polandia: US$700 juta untuk 12 unit GF (±US$58 juta/unit) + US$2,3 miliar untuk 36 unit FA-50PL (±US$64 juta/unit).
2. Filipina: US$700 juta untuk 12 unit (±US$58 juta/unit).
3. MALONYET : US$920 juta untuk 18 unit (±US$51 juta/unit).
-
10 LCA + 8 LIFT
Sumber Kontrak FA-50M Malaysia
Global: Janes, Aviacionline, Global Defense Corp, K-Defense News.
Lokal: Malaysian Defence, KAI, Yonhap.
--------------------------------
KLAIM KAYA CASH = HUTANG BAYAR HUTANG
UTANG PEMERINTAH FEDERAL PER KAPITA: RM 36,139
UTANG RUMAH TANGGA PER KAPITA: RM 45,859
Angka-angka ini cukup signifikan dan menunjukkan tingkat ketergantungan yang tinggi pada utang baik di tingkat pemerintah maupun rumah tangga.
Implikasi Detail terhadap Perekonomian Riil:
Implikasi dari Utang Rumah Tangga per Kapita (RM 45,859):
Daya Beli dan Konsumsi yang Tertekan:
Penjelasan: Sebagian besar pendapatan rumah tangga harus dialokasikan untuk membayar cicilan utang (KPR, KKB, kartu kredit, pinjaman pribadi).
Dampak Riil:
Penurunan Konsumsi Barang dan Jasa Lain: Ketika sebagian besar pendapatan habis untuk utang, kemampuan rumah tangga untuk membeli barang dan jasa lain (selain kebutuhan pokok) akan berkurang. Konsumsi adalah motor utama pertumbuhan ekonomi di banyak negara.
Risiko Resesi: Jika konsumsi rumah tangga menurun drastis, ini bisa memicu perlambatan ekonomi atau bahkan resesi.
Tekanan pada Sektor Ritel: Bisnis ritel dan sektor jasa yang sangat bergantung pada pengeluaran konsumen akan mengalami penurunan penjualan dan profitabilitas.
Stabilitas Keuangan Rumah Tangga yang Rentan:
Penjelasan: Tingkat utang yang tinggi membuat rumah tangga sangat rentan terhadap guncangan ekonomi.
Dampak Riil:
Gagal Bayar (Default): Jika terjadi kehilangan pekerjaan, penurunan pendapatan, atau kenaikan suku bunga, banyak rumah tangga bisa kesulitan membayar utangnya, berujung pada gagal bayar.
Krisis Keuangan Sistemik: Tingkat gagal bayar yang meluas bisa memicu krisis di sektor perbankan (karena bank memiliki piutang dari rumah tangga tersebut), yang pada gilirannya bisa mengguncang seluruh sistem keuangan.
FA50 Rosak di filipina..? Ayuh GORILLA tunjuk saya apa yang rosak tu..? 🤣🤣🤣🤣
BalasHapusPHANTOMSTRIKES: 85KM
Hapushttps://x.com/Flankerchan/status/2013228468096635194
-
M346FA BLOCK 20 : 157KM
F16 : 296KM
-
FA-50 Fighting Eagle / FA-50M (Korea Selatan)
• Kategori Platform: Light Combat Aircraft (LCA) & Lead-in Fighter Trainer (LIFT).
• Teknologi Radar: AESA Kompak (Raytheon AN/APG-85 "Phantom Strike").
• Daya Pancar Radar (Peak Power): 1,2 kW hingga 1,5 kW (Kompak & Hemat daya).
• Jangkauan Deteksi Radar (Look-Up): 85 km pada kepastian Probabilitas Deteksi (PD) 90%, dan mencapai 120 km pada PD 50% (Target standar RCS 3 m²).
• Jangkauan Pelacakan Taktis (Track Formation): Stabil mengunci target mulai jarak 85 km.
• Harga Per Unit: USD 50,5 Juta per unit (Sangat ekonomis; 1 unit M-346F setara 3 unit FA-50M).
• Data Kontrak Pengadaan Global & Regional:
o Malaysia (RMAF/TUDM): US$ 920 Juta untuk 18 unit (± US$ 51 Juta/unit). Terdiri dari konfigurasi 10 unit LCA dan 8 unit LIFT.
o Polandia: US$ 700 Juta untuk 12 unit versi Gap Filler (± US$ 58 Juta/unit) + US$ 2,3 Miliar untuk 36 unit versi FA-50PL (± US$ 64 Juta/unit).
o Filipina: US$ 700 Juta untuk 12 unit (± US$ 58 Juta/unit).
• Sumber Validasi Data Kontrak:
o Global: Janes, Aviacionline, Global Defense Corp, K-Defense News.
o Lokal: Malaysian Defence, KAI, Yonhap.
================================
================================
M-346FA Block 20 (Italia)
• Kategori Platform: Light Combat Aircraft (LCA) / Jet Tempur Taktis Ringan.
• Teknologi Radar: AESA Modern (Leonardo Grifo-E; menggantikan radar mekanis standar Grifo-346).
• Daya Pancar Radar (Peak Power): Kompak, dioptimalkan khusus untuk efisiensi jet latih tempur ringan.
• Jangkauan Deteksi Radar (Look-Up): 83 km hingga 157 km (45 hingga 85 mil laut).
• Jangkauan Pelacakan Taktis (Track Formation): 74 km hingga 139 km (40 hingga 75 mil laut).
• Harga Per Unit: USD 145 Juta per unit (Terbuka dan relatif mahal untuk kelas pesawat tempur ringan).
-
F-16 Block 52ID TNI AU (Indonesia)
• Kategori Platform: Full-Size Fighter / Jet Tempur Kelas Medium dengan peningkatan daya pacar mesin dan rangka.
• Sistem Radar: Mekanis AN/APG-68 Multi-mode (Jangkauan maksimum 296 km, dirancang optimal untuk beroperasi di cuaca buruk maupun misi pertempuran malam hari).
• Persenjataan: Kombinasi mematikan jarak jauh dan dekat, meliputi AIM-120 AMRAAM (BVR), AIM-9X Sidewinder, serta terintegrasi penuh dengan JHMCS (Joint Helmet Mounted Cueing System / teknologi helm canggih penuntun rudal lewat pandangan mata pilot).
• Kapasitas Payload: Maksimum 7,7 Ton dengan 9 cantelan senjata.
• Radius Operasional: Berada di kisaran ± 550 km.
• Keunggulan Utama: Dilengkapi mesin yang jauh lebih bertenaga, usia pakai rangka (airframe) yang lebih awet, sangat unggul dalam duel udara jarak dekat (dogfight ekstrem berbantuan JHMCS), dan dibekali pod penargetan canggih Sniper ATP (Advanced Targeting Pod) untuk penguncian sasaran presisi tinggi.
Manakala INDIANESIA.....HELI MI17 JATUH guys.....
BalasHapusHelikopter Mi-17 yang Tangani Karhutla Jatuh di Kalimantan Tengah, 1 Kru Gugur
https://nasional.kompas.com/read/2026/11/04/15472701/helikopter-mi-17-yang-tangani-karhutla-jatuh-di-kalimantan-tengah-1-kru
BPS : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
HapusTIADA MALON
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
-
SELISIH DATA WITS VS BPS =
WITS : mencatat ekspor beras Malaysia ke RI
BPS mencatat angka nol (0) impor.
-
WITS Salah Input: Barang non-beras keliru memakai kode HS beras di pelabuhan.
Transit (Transshipment): Beras Thailand/Vietnam hanya transit di Malaysia; WITS mencatat asal pengiriman, BPS mencatat negara produsen asli.
==================
==================
DEFISIT BERAS = IMPOR BERAS 2006 s/d 2025
• Tahun 2006: 640.000 ton (Basis data awal)
• Tahun 2007: 660.000 ton (Naik 3,13%)
• Tahun 2008: 690.000 ton (Naik 4,55%)
• Tahun 2009: 700.000 ton (Naik 1,45%)
• Tahun 2010: 780.000 ton (Naik 11,43%)
• Tahun 2011: 860.000 ton (Naik 10,26%)
• Tahun 2012: 850.000 ton (Turun 1,16%)
• Tahun 2013: 880.000 ton (Naik 3,53%)
• Tahun 2014: 910.000 ton (Naik 3,41%)
• Tahun 2015: 940.000 ton (Naik 3,30%)
• Tahun 2016: 1.020.000 ton (Naik 8,51%)
• Tahun 2017: 1.020.000 ton (Stabil 0,00%)
• Tahun 2018: 1.100.000 ton (Naik 7,84%)
• Tahun 2019: 1.270.000 ton (Naik 15,45%)
• Tahun 2020: 1.270.000 ton (Stabil 0,00%)
• Tahun 2021: 1.250.000 ton (Turun 1,57%)
• Tahun 2022: 1.180.000 ton (Turun 5,60%)
• Tahun 2023: 1.190.000 ton (Naik 0,85%)
• Tahun 2024: 1.410.000 ton (Naik 18,49%)
• Tahun 2025: 1.420.000 ton (Naik 0,71%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
-------------------------------
RICE CRISES =
1972-73
1999
2008
2020-21
2023
2025
2026
Malaysia has experienced recurring rice crises—notably in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, 2023, 2025 and 2026—which are primarily driven by severe supply and demand imbalances and exacerbated by market speculation. These crises stem from climate vulnerabilities like flooding and temperature spikes that drastically cut crop yields, alongside distortionary protectionist policies, poorly targeted subsidies, and sudden international import restrictions. Consequently, the country continues to face severe food insecurity, stagnant agricultural productivity with its self-sufficiency ratio dropping to a critical 52%, and entrenched poverty among local paddy farmers who are trapped by high production costs and inefficient market structures.
-
Daftar Sumber Referensi
• Arshad, F. M. (2025). "My Say: Rice sector needs structural improvements, not quick fixes". The Edge Malaysia. Diakses dari The Edge Malaysia.
Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan (KPKM) Malaysia. Data Statistik Sektor Padi & Rasio Swasembada Beras (SSR) Nasional Periode 2024–2026. Laporan Resmi Pemerintah Malaysia.
-------------------------------
1. Batu Bara: 21,84 juta ton (memasok 69% kebutuhan listrik regional TNB dan menguasai 67% total impor batu bara Malaysia).
2. Jagung: 240.000 ton.
3. Beras: 200.000 ton.
4. LNG (Gas Alam Cair): 56.431,6 metrik ton.
5. Kapal Patroli RHIB: 24 unit (diproduksi oleh PT PAL).
6. Pesawat CN235: 8 unit (diproduksi oleh PTDI).
7. Tenda & Parasut Militer: 7.000 unit tenda (pesanan militer).
8. Komponen Avionik Hawk: Komponen kokpit pesawat (buatan Surabaya/PTDI).
9. Fast Patrol Boat (FPB 57): Kapal patroli cepat (diadopsi dari PT PAL).
10. Senjata & Amunisi: Senapan SS2 dan amunisi (diproduksi oleh PT Pindad).
11. Seragam & Atribut Militer: Pakaian Dinas Lapangan (PDL) dan rompi antipeluru (diproduksi oleh Sritex).
12. Mata Uang Ringgit: Cetakan uang kertas (diproduksi oleh PERURI sejak 2010).
13. Paspor: Cetakan dokumen negara (diproduksi oleh PERURI).
MABOK =
HapusJENDERAL KORUPSI
ANAK BUAH = MANTAB-MANTAB WANITA
-
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
----------
Sumber Berita Utama
Tribun Jateng (7 Januari 2026)
Melaporkan video viral yang memperlihatkan sejumlah personel militer MALONYET berpesta bersama wanita panggilan di dalam kamp. Kasus ini memicu sorotan publik dan kritik terhadap disiplin militer.
----------
Kompas.com (6 Januari 2026)
Menyebut bahwa masyarakat MALONYET bereaksi keras setelah video pesta tersebut tersebar. Kementerian Pertahanan menegaskan akan melakukan investigasi dan menindak sesuai aturan jika terbukti.
----------
YouTube – Tribun Video
Menayangkan rekaman pesta di barak militer MALONYET. Disebutkan beberapa anggota yang terlibat sudah berkeluarga, sehingga menambah kontroversi
--------------------------
2026 JENDERAL UANG KOPI SEDAP .....
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
• iNews.id – Mantan Panglima Angkatan Darat MALONYET Ditangkap Dugaan Korupsi Tender Militer Pada 7 Januari 2026, Hafizuddeain Jantan ditahan MACC bersama dua istrinya. Penangkapan ini terkait penyelidikan tender kontrak militer yang diduga penuh praktik suap.
-
• Utusan MALONYET – Kes tender TDM: Hafizuddeain tiba di SPRM dirakam keterangan Hafizuddeain terlihat hadir di kantor pusat SPRM pada 7 Januari 2026 untuk memberikan keterangan. Media melaporkan adanya aliran dana besar di rekening pribadinya yang menjadi fokus penyelidikan.
-
• New Straits Times (NST) – Ex-army chief, two wives among five held in graft probe MACC mengonfirmasi penahanan Hafizuddeain, dua istrinya, serta tiga orang lainnya. Mereka diduga terlibat dalam konspirasi memindahkan dana sebesar RM2,4 juta terkait proyek pengadaan militer.
-
• ANTARA News – Imbas isu rasuah, MALONYET ganti Panglima Angkatan Darat Pada 1 Januari 2026, Jenderal Datuk Azhan Md Othman resmi dilantik sebagai Panglima Angkatan Darat MALONYET menggantikan Hafizuddeain. Pergantian ini dilakukan setelah Hafizuddeain diminta cuti sejak 27 Desember 2025.
-
• VIVA.co.id – MALONYET Ganti Panglima Angkatan Darat Imbas Isu Korupsi Proyek Militer Pelantikan Azhan Md Othman disebut sebagai langkah menjaga integritas dan kesinambungan komando Angkatan Darat MALONYET di tengah skandal rasuah.
-
• Tempo.co – Dugaan Rasuah, Kepala Angkatan Darat MALONYET Diganti Media ini menyoroti bahwa pergantian jabatan dilakukan karena Hafizuddeain sedang diperiksa atas dugaan korupsi proyek militer
Manakala INDIANESIA.....HELI MI17 JATUH guys.....
BalasHapusHelikopter Mi-17 yang Tangani Karhutla Jatuh di Kalimantan Tengah, 1 Kru Gugur
https://nasional.kompas.com/read/2026/11/04/15472701/helikopter-mi-17-yang-tangani-karhutla-jatuh-di-kalimantan-tengah-1-kru
MABOK : PANTAS PESAWAT DAN HELI JATUH =
HapusDIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
----------
Sumber Berita Utama
Tribun Jateng (7 Januari 2026)
Melaporkan video viral yang memperlihatkan sejumlah personel militer MALONYET berpesta bersama wanita panggilan di dalam kamp. Kasus ini memicu sorotan publik dan kritik terhadap disiplin militer.
----------
Kompas.com (6 Januari 2026)
Menyebut bahwa masyarakat MALONYET bereaksi keras setelah video pesta tersebut tersebar. Kementerian Pertahanan menegaskan akan melakukan investigasi dan menindak sesuai aturan jika terbukti.
----------
YouTube – Tribun Video
Menayangkan rekaman pesta di barak militer MALONYET. Disebutkan beberapa anggota yang terlibat sudah berkeluarga, sehingga menambah kontroversi
--------------------------
NASIB 🦧GORILA TERIAK HUTANG RINGGIT KUAT =
1. TIAP TAHUN = ASET MILITER SEWA
2. TIAP TAHUN = HUTANG GOVERMENT BERTAMBAH
3. TIAP TAHUN = HUTANG HOUSEHOLD BERTAMBAH
4. TIAP TAHUN = DEFISIT
5. TIAP TAHUN = HANYA BAYAR FAEDAH
-----
2025 = HUTANG PEMERINTAH (GOVERNMENT DEBT)
Hingga akhir kuartal ketiga (September 2025), hutang pemerintah nasional MALONYET tercatat sebesar USD 312,8 miliar.
Rasio Hutang terhadap PDB: Pada September 2025, rasionya berada di angka 66,1%.
Nilai dalam Ringgit: Per Juni 2025, hutang kerajaan dilaporkan mencapai RM 1,304 triliun.
Total Liabilitas: Jika menyertakan komitmen kewangan lainnya, total hutang dan liabilitas pemerintah mencapai 84,1% dari PDB pada pertengahan 2025.
-----
2025 = HUTANG LUAR NEGERI (EXTERNAL DEBT)
Berdasarkan data kuartal kedua 2025, hutang luar negeri bruto MALONYET sempat mencapai puncaknya di angka RM 1,403 triliun.
------------------
MALONYET ........
GOVERNMENT DEBT : 69% OF GDP
HOUSEHOLD DEBT : 84.3% OF GDP
FEDERAL GOVERNMENT DEBT
• END OF 2024: RM 1.25 TRILLION
• END OF 2025: RM 1.3 TRILLION
• PROJECTED DEBT-TO-GDP: 69% BY THE END OF 2025
HOUSEHOLD DEBT
2025 : RM1.73 TRILLION, OR 85.8% OF GDP
-
MALONYET = BATAS LIMIT 65%
GOV. DEBT : 69% OF GDP
HOUSEHOLD DEBT : 84,3% OF GDP
DEFISIT : 3,8%
GDP = USD 416,90 MILIAR
============
============
INDONESIA = BATAS LIMIT 60%
GOV. DEBT : 40% OF GDP
HOUSEHOLD DEBT : 16% OF GDP
DEFISIT : 2,9%
GDP = USD 1,44 TRILIUN
MALAYSIA MELARANG EKSPOR BERAS = DEFISIT BERAS
HapusWITS = SALAH INPUT KODE HS (HARMONIZED SYSTEM) NOMOR KODE TARIF
WITS = TRANSIT KAPAL BERAS ASAL THAILAND/VIETNAm
-
BPS : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
TIADA MALON
TIADA MALON
TIADA MALON
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
-
SELISIH DATA WITS VS BPS =
WITS : mencatat ekspor beras Malaysia ke RI
BPS mencatat angka nol (0) impor.
-
Penyebab Salah Input: Komoditas non-beras keliru terdata menggunakan nomor kode tarif (Harmonized System) beras pada manifes pelabuhan.
-
Penyebab Transit Kapal: Beras asal Thailand/Vietnam hanya melakukan transshipment di Malaysia, sehingga WITS mendeteksinya sebagai negara asal pengiriman sedangkan BPS mendeteksi negara produsen asli.
--------------------------------
LARANGAN RE-EKSPOR BERAS =
Malaysia melarang keras aktivitas ekspor kembali komoditas beras impor guna mengamankan pasokan pangan dalam negeri.
-
Dasar Hukum Larangan: Kebijakan ini diatur secara ketat di bawah undang-undang bea cukai nasional Akta Kastam 1967 (P.U. (A) 122/2023).
-
Krisis Swasembada (SSR/SSL): Rasio swasembada beras Malaysia berada di level kritis akibat dampak cuaca El Niño dan kelangkaan Beras Putih Tempatan (BPT) [Sumber: DOSM, KPKM, BERNAMA].
--------------------------------
TIMELINE EKSPOR BERAS RI KE MALAYSIA
22 April 2025: PM Anwar Ibrahim mengutus Mentan Malaysia ke Jakarta untuk meminta pasokan beras dari RI secara resmi [CNBC Indonesia].
-
Mei 2025: Penandatanganan kontrak B2B awal sebesar 2.000 ton dengan target 24.000 ton per tahun [CNN Indonesia].
-
Januari 2026: Mensesneg Prasetyo Hadi mengonfirmasi ulang permintaan ekspor Malaysia seiring penguatan swasembada RI [CNN Indonesia].
-
14 Agustus 2026: Kesepakatan telepon kedua Mentan untuk memasok 200.000 ton beras premium ke Sarawak senilai Rp3,4 triliun [Kementan RI].
-
Agustus 2026: Realisasi ekspor perdana sebesar 1.000 ton beras premium ke Malaysia sebagai kado HUT RI [Antara News].
-
September 2026: Penandatanganan MoU resmi untuk melegalkan payung hukum pengiriman bertahap [MetroTV].
-
Oktober 2026: Wamentan Sudaryono menegaskan proyek ekspor ini mendapat restu langsung dari Presiden Prabowo Subianto [Indonesia Emas 2045 ID].
--------------------------------
Status Kelumpuhan Pertahanan (SIPRI & Alutsista)
Vakum SIPRI (2024–2025): Status KOSONG total selama dua tahun berturut-turut. Tidak ada transfer senjata berat yang tercatat, menempatkan MALAYSEWA setara dengan Laos dan Kamboja.
Tren Mundur: Penurunan konsisten dari fase Planned (2020), Selected Not Yet Ordered (2022), hingga nihil aktivitas (2024–2025).
Kegagalan Simbolik: Pembatalan resmi akuisisi F/A-18 Hornet Kuwait sebanyak 4 kali bukti hilangnya kredibilitas finansial di pasar global.
Procurement Freeze (2026): Instruksi PM Anwar Ibrahim untuk pembekuan total pengadaan guna menghentikan korupsi sistemik dan kebocoran anggaran.
-
Model "Negara Penyewa" (Military-for-Rent)
Ketiadaan uang tunai memaksa militer beralih dari kepemilikan aset menjadi skema Leasing (Sewa):
Aset Sewaan (32+ Item): Mencakup 31 Helikopter (Blackhawk, AW139, AW149, Bell 429), pesawat latihan L39 ITCC, simulator jet tempur MKM, hingga motor polisi.
Skema Barter: Pengadaan yang tersisa (FA-50, PT-91M, Scorpene) terpaksa menggunakan Barter Kelapa Sawit (CPO) karena krisis devisa.
Aset Mangkrak: Proyek LCS & OPV yang karatan di galangan melibatkan 17 kreditor dengan bunga yang terus membengkak.
-
Spiral Utang "Gali Lubang Tutup Lubang"
Debt-Servicing Cycle: 58% hingga 64,3% pinjaman baru hanya digunakan untuk membayar bunga dan cicilan pokok utang lama.
BPS : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
BalasHapusTIADA MALON
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
-
SELISIH DATA WITS VS BPS =
WITS : mencatat ekspor beras Malaysia ke RI
BPS mencatat angka nol (0) impor.
-
WITS Salah Input: Barang non-beras keliru memakai kode HS beras di pelabuhan.
Transit (Transshipment): Beras Thailand/Vietnam hanya transit di Malaysia; WITS mencatat asal pengiriman, BPS mencatat negara produsen asli.
==================
==================
DEFISIT BERAS = IMPOR BERAS 2006 s/d 2025
• Tahun 2006: 640.000 ton (Basis data awal)
• Tahun 2007: 660.000 ton (Naik 3,13%)
• Tahun 2008: 690.000 ton (Naik 4,55%)
• Tahun 2009: 700.000 ton (Naik 1,45%)
• Tahun 2010: 780.000 ton (Naik 11,43%)
• Tahun 2011: 860.000 ton (Naik 10,26%)
• Tahun 2012: 850.000 ton (Turun 1,16%)
• Tahun 2013: 880.000 ton (Naik 3,53%)
• Tahun 2014: 910.000 ton (Naik 3,41%)
• Tahun 2015: 940.000 ton (Naik 3,30%)
• Tahun 2016: 1.020.000 ton (Naik 8,51%)
• Tahun 2017: 1.020.000 ton (Stabil 0,00%)
• Tahun 2018: 1.100.000 ton (Naik 7,84%)
• Tahun 2019: 1.270.000 ton (Naik 15,45%)
• Tahun 2020: 1.270.000 ton (Stabil 0,00%)
• Tahun 2021: 1.250.000 ton (Turun 1,57%)
• Tahun 2022: 1.180.000 ton (Turun 5,60%)
• Tahun 2023: 1.190.000 ton (Naik 0,85%)
• Tahun 2024: 1.410.000 ton (Naik 18,49%)
• Tahun 2025: 1.420.000 ton (Naik 0,71%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
-------------------------------
RICE CRISES =
1972-73
1999
2008
2020-21
2023
2025
2026
Malaysia has experienced recurring rice crises—notably in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, 2023, 2025 and 2026—which are primarily driven by severe supply and demand imbalances and exacerbated by market speculation. These crises stem from climate vulnerabilities like flooding and temperature spikes that drastically cut crop yields, alongside distortionary protectionist policies, poorly targeted subsidies, and sudden international import restrictions. Consequently, the country continues to face severe food insecurity, stagnant agricultural productivity with its self-sufficiency ratio dropping to a critical 52%, and entrenched poverty among local paddy farmers who are trapped by high production costs and inefficient market structures.
-
Daftar Sumber Referensi
• Arshad, F. M. (2025). "My Say: Rice sector needs structural improvements, not quick fixes". The Edge Malaysia. Diakses dari The Edge Malaysia.
Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan (KPKM) Malaysia. Data Statistik Sektor Padi & Rasio Swasembada Beras (SSR) Nasional Periode 2024–2026. Laporan Resmi Pemerintah Malaysia.
-------------------------------
1. Batu Bara: 21,84 juta ton (memasok 69% kebutuhan listrik regional TNB dan menguasai 67% total impor batu bara Malaysia).
2. Jagung: 240.000 ton.
3. Beras: 200.000 ton.
4. LNG (Gas Alam Cair): 56.431,6 metrik ton.
5. Kapal Patroli RHIB: 24 unit (diproduksi oleh PT PAL).
6. Pesawat CN235: 8 unit (diproduksi oleh PTDI).
7. Tenda & Parasut Militer: 7.000 unit tenda (pesanan militer).
8. Komponen Avionik Hawk: Komponen kokpit pesawat (buatan Surabaya/PTDI).
9. Fast Patrol Boat (FPB 57): Kapal patroli cepat (diadopsi dari PT PAL).
10. Senjata & Amunisi: Senapan SS2 dan amunisi (diproduksi oleh PT Pindad).
11. Seragam & Atribut Militer: Pakaian Dinas Lapangan (PDL) dan rompi antipeluru (diproduksi oleh Sritex).
12. Mata Uang Ringgit: Cetakan uang kertas (diproduksi oleh PERURI sejak 2010).
13. Paspor: Cetakan dokumen negara (diproduksi oleh PERURI).
Kita LAWAN PENIPUAN GORILLA ZIMBABWE dengan FAKTA....SIAPA YANG MENGEMIS BERAS SEBENARNYA...🤣🤣🤣
BalasHapusMALAYSIA EKSPORT BERAS KE INDIANESIA
2023 - 123,360 KG
2024 - 58,499.62 KG
2025 - 123,509.11 KG
_________________________________
LINK BUKTI....
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2023/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2024/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2025/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
Kita LAWAN PENIPUAN GORILLA ZIMBABWE dengan FAKTA....SIAPA YANG MENGEMIS BERAS SEBENARNYA...🤣🤣🤣
BalasHapusMALAYSIA EKSPORT BERAS KE INDIANESIA
2023 - 123,360 KG
2024 - 58,499.62 KG
2025 - 123,509.11 KG
_________________________________
LINK BUKTI....
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2023/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2024/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2025/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
BPS : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
HapusTIADA MALON
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
-
SELISIH DATA WITS VS BPS =
WITS : mencatat ekspor beras Malaysia ke RI
BPS mencatat angka nol (0) impor.
-
WITS Salah Input: Barang non-beras keliru memakai kode HS beras di pelabuhan.
Transit (Transshipment): Beras Thailand/Vietnam hanya transit di Malaysia; WITS mencatat asal pengiriman, BPS mencatat negara produsen asli.
==================
==================
DEFISIT BERAS = IMPOR BERAS 2006 s/d 2025
• Tahun 2006: 640.000 ton (Basis data awal)
• Tahun 2007: 660.000 ton (Naik 3,13%)
• Tahun 2008: 690.000 ton (Naik 4,55%)
• Tahun 2009: 700.000 ton (Naik 1,45%)
• Tahun 2010: 780.000 ton (Naik 11,43%)
• Tahun 2011: 860.000 ton (Naik 10,26%)
• Tahun 2012: 850.000 ton (Turun 1,16%)
• Tahun 2013: 880.000 ton (Naik 3,53%)
• Tahun 2014: 910.000 ton (Naik 3,41%)
• Tahun 2015: 940.000 ton (Naik 3,30%)
• Tahun 2016: 1.020.000 ton (Naik 8,51%)
• Tahun 2017: 1.020.000 ton (Stabil 0,00%)
• Tahun 2018: 1.100.000 ton (Naik 7,84%)
• Tahun 2019: 1.270.000 ton (Naik 15,45%)
• Tahun 2020: 1.270.000 ton (Stabil 0,00%)
• Tahun 2021: 1.250.000 ton (Turun 1,57%)
• Tahun 2022: 1.180.000 ton (Turun 5,60%)
• Tahun 2023: 1.190.000 ton (Naik 0,85%)
• Tahun 2024: 1.410.000 ton (Naik 18,49%)
• Tahun 2025: 1.420.000 ton (Naik 0,71%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
-------------------------------
RICE CRISES =
1972-73
1999
2008
2020-21
2023
2025
2026
Malaysia has experienced recurring rice crises—notably in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, 2023, 2025 and 2026—which are primarily driven by severe supply and demand imbalances and exacerbated by market speculation. These crises stem from climate vulnerabilities like flooding and temperature spikes that drastically cut crop yields, alongside distortionary protectionist policies, poorly targeted subsidies, and sudden international import restrictions. Consequently, the country continues to face severe food insecurity, stagnant agricultural productivity with its self-sufficiency ratio dropping to a critical 52%, and entrenched poverty among local paddy farmers who are trapped by high production costs and inefficient market structures.
-
Daftar Sumber Referensi
• Arshad, F. M. (2025). "My Say: Rice sector needs structural improvements, not quick fixes". The Edge Malaysia. Diakses dari The Edge Malaysia.
Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan (KPKM) Malaysia. Data Statistik Sektor Padi & Rasio Swasembada Beras (SSR) Nasional Periode 2024–2026. Laporan Resmi Pemerintah Malaysia.
-------------------------------
1. Batu Bara: 21,84 juta ton (memasok 69% kebutuhan listrik regional TNB dan menguasai 67% total impor batu bara Malaysia).
2. Jagung: 240.000 ton.
3. Beras: 200.000 ton.
4. LNG (Gas Alam Cair): 56.431,6 metrik ton.
5. Kapal Patroli RHIB: 24 unit (diproduksi oleh PT PAL).
6. Pesawat CN235: 8 unit (diproduksi oleh PTDI).
7. Tenda & Parasut Militer: 7.000 unit tenda (pesanan militer).
8. Komponen Avionik Hawk: Komponen kokpit pesawat (buatan Surabaya/PTDI).
9. Fast Patrol Boat (FPB 57): Kapal patroli cepat (diadopsi dari PT PAL).
10. Senjata & Amunisi: Senapan SS2 dan amunisi (diproduksi oleh PT Pindad).
11. Seragam & Atribut Militer: Pakaian Dinas Lapangan (PDL) dan rompi antipeluru (diproduksi oleh Sritex).
12. Mata Uang Ringgit: Cetakan uang kertas (diproduksi oleh PERURI sejak 2010).
13. Paspor: Cetakan dokumen negara (diproduksi oleh PERURI).
MALAYSIA MELARANG EKSPOR BERAS = DEFISIT BERAS
HapusWITS = SALAH INPUT KODE HS (HARMONIZED SYSTEM) NOMOR KODE TARIF
WITS = TRANSIT KAPAL BERAS ASAL THAILAND/VIETNAm
-
BPS : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
TIADA MALON
TIADA MALON
TIADA MALON
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
-
SELISIH DATA WITS VS BPS =
WITS : mencatat ekspor beras Malaysia ke RI
BPS mencatat angka nol (0) impor.
-
Penyebab Salah Input: Komoditas non-beras keliru terdata menggunakan nomor kode tarif (Harmonized System) beras pada manifes pelabuhan.
-
Penyebab Transit Kapal: Beras asal Thailand/Vietnam hanya melakukan transshipment di Malaysia, sehingga WITS mendeteksinya sebagai negara asal pengiriman sedangkan BPS mendeteksi negara produsen asli.
--------------------------------
LARANGAN RE-EKSPOR BERAS =
Malaysia melarang keras aktivitas ekspor kembali komoditas beras impor guna mengamankan pasokan pangan dalam negeri.
-
Dasar Hukum Larangan: Kebijakan ini diatur secara ketat di bawah undang-undang bea cukai nasional Akta Kastam 1967 (P.U. (A) 122/2023).
-
Krisis Swasembada (SSR/SSL): Rasio swasembada beras Malaysia berada di level kritis akibat dampak cuaca El Niño dan kelangkaan Beras Putih Tempatan (BPT) [Sumber: DOSM, KPKM, BERNAMA].
--------------------------------
TIMELINE EKSPOR BERAS RI KE MALAYSIA
22 April 2025: PM Anwar Ibrahim mengutus Mentan Malaysia ke Jakarta untuk meminta pasokan beras dari RI secara resmi [CNBC Indonesia].
-
Mei 2025: Penandatanganan kontrak B2B awal sebesar 2.000 ton dengan target 24.000 ton per tahun [CNN Indonesia].
-
Januari 2026: Mensesneg Prasetyo Hadi mengonfirmasi ulang permintaan ekspor Malaysia seiring penguatan swasembada RI [CNN Indonesia].
-
14 Agustus 2026: Kesepakatan telepon kedua Mentan untuk memasok 200.000 ton beras premium ke Sarawak senilai Rp3,4 triliun [Kementan RI].
-
Agustus 2026: Realisasi ekspor perdana sebesar 1.000 ton beras premium ke Malaysia sebagai kado HUT RI [Antara News].
-
September 2026: Penandatanganan MoU resmi untuk melegalkan payung hukum pengiriman bertahap [MetroTV].
-
Oktober 2026: Wamentan Sudaryono menegaskan proyek ekspor ini mendapat restu langsung dari Presiden Prabowo Subianto [Indonesia Emas 2045 ID].
--------------------------------
Penurunan Daya Gentar & Reputasi (GFP 2026)
Peringkat GFP: Merosot ke posisi 42 dunia (Peringkat ke-7 di ASEAN), resmi disalip oleh Filipina (Peringkat 41).
Skandal Aset Hilang: Catatan memalukan raibnya 48 pesawat Skyhawk dan 2 mesin jet tempur dari gudang militer.
Degradasi Armada: Banyak aset utama berstatus Grounded (MiG-29, MB339CM, Nuri) atau mogok saat parade (Tank PT-91M).
-
Krisis Administrasi & Tekanan Internasional
Sanksi Olahraga: Kekalahan WO 0-3 dan sanksi AFC/CAS akibat pemain naturalisasi ilegal mencerminkan kegagalan birokrasi sistemik.
Kehilangan Pengaruh: Posisi di Piala Asia 2027 resmi direbut oleh Vietnam, mempertegas mundurnya pengaruh diplomasi regional.
Tekanan Ekonomi AS: Ancaman sanksi tarif Section 301 (10-25%) dan IEEPA oleh USTR menghantam sektor manufaktur utama (E&E).
-
Perbandingan Kontras: Indonesia (The Giant)
Status SIPRI: Memiliki "Lembar Belanja Penuh" (Rafale F4, A400M, Rudal Khan, Kapal PPA).
Kesehatan Fiskal: Rasio utang pemerintah jauh lebih sehat (40% GDP) dengan ekonomi 4,24x lebih besar secara PDB PPP dibandingkan MALAYSEWA.
Kita LAWAN PENIPUAN GORILLA ZIMBABWE dengan FAKTA....SIAPA YANG MENGEMIS BERAS SEBENARNYA...🤣🤣🤣
BalasHapusMALAYSIA EKSPORT BERAS KE INDIANESIA
2023 - 123,360 KG
2024 - 58,499.62 KG
2025 - 123,509.11 KG
_________________________________
LINK BUKTI....
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2023/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2024/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2025/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
Hapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
RICE CRISES =
1972-73
1999
2008
2020-21
2023
2025
2026
Malaysia has experienced recurring rice crises—notably in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, 2023, 2025 and 2026—which are primarily driven by severe supply and demand imbalances and exacerbated by market speculation. These crises stem from climate vulnerabilities like flooding and temperature spikes that drastically cut crop yields, alongside distortionary protectionist policies, poorly targeted subsidies, and sudden international import restrictions. Consequently, the country continues to face severe food insecurity, stagnant agricultural productivity with its self-sufficiency ratio dropping to a critical 52%, and entrenched poverty among local paddy farmers who are trapped by high production costs and inefficient market structures.
-
Daftar Sumber Referensi
• Arshad, F. M. (2025). "My Say: Rice sector needs structural improvements, not quick fixes". The Edge Malaysia. Diakses dari The Edge Malaysia.
• Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan (KPKM) Malaysia. Data Statistik Sektor Padi & Rasio Swasembada Beras (SSR) Nasional Periode 2024–2026. Laporan Resmi Pemerintah Malaysia.
MALAYSIA MELARANG EKSPOR BERAS = DEFISIT BERAS
HapusWITS = SALAH INPUT KODE HS (HARMONIZED SYSTEM) NOMOR KODE TARIF
WITS = TRANSIT KAPAL BERAS ASAL THAILAND/VIETNAm
-
BPS : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
TIADA MALON
TIADA MALON
TIADA MALON
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
-
SELISIH DATA WITS VS BPS =
WITS : mencatat ekspor beras Malaysia ke RI
BPS mencatat angka nol (0) impor.
-
Penyebab Salah Input: Komoditas non-beras keliru terdata menggunakan nomor kode tarif (Harmonized System) beras pada manifes pelabuhan.
-
Penyebab Transit Kapal: Beras asal Thailand/Vietnam hanya melakukan transshipment di Malaysia, sehingga WITS mendeteksinya sebagai negara asal pengiriman sedangkan BPS mendeteksi negara produsen asli.
--------------------------------
LARANGAN RE-EKSPOR BERAS =
Malaysia melarang keras aktivitas ekspor kembali komoditas beras impor guna mengamankan pasokan pangan dalam negeri.
-
Dasar Hukum Larangan: Kebijakan ini diatur secara ketat di bawah undang-undang bea cukai nasional Akta Kastam 1967 (P.U. (A) 122/2023).
-
Krisis Swasembada (SSR/SSL): Rasio swasembada beras Malaysia berada di level kritis akibat dampak cuaca El Niño dan kelangkaan Beras Putih Tempatan (BPT) [Sumber: DOSM, KPKM, BERNAMA].
--------------------------------
TIMELINE EKSPOR BERAS RI KE MALAYSIA
22 April 2025: PM Anwar Ibrahim mengutus Mentan Malaysia ke Jakarta untuk meminta pasokan beras dari RI secara resmi [CNBC Indonesia].
-
Mei 2025: Penandatanganan kontrak B2B awal sebesar 2.000 ton dengan target 24.000 ton per tahun [CNN Indonesia].
-
Januari 2026: Mensesneg Prasetyo Hadi mengonfirmasi ulang permintaan ekspor Malaysia seiring penguatan swasembada RI [CNN Indonesia].
-
14 Agustus 2026: Kesepakatan telepon kedua Mentan untuk memasok 200.000 ton beras premium ke Sarawak senilai Rp3,4 triliun [Kementan RI].
-
Agustus 2026: Realisasi ekspor perdana sebesar 1.000 ton beras premium ke Malaysia sebagai kado HUT RI [Antara News].
-
September 2026: Penandatanganan MoU resmi untuk melegalkan payung hukum pengiriman bertahap [MetroTV].
-
Oktober 2026: Wamentan Sudaryono menegaskan proyek ekspor ini mendapat restu langsung dari Presiden Prabowo Subianto [Indonesia Emas 2045 ID].
--------------------------------
Bukti "Hutang Bayar Hutang" (Debt-Servicing Cycle)
Data resmi menunjukkan MALAYSEWA terjebak dalam siklus gali lubang tutup lubang kronis:
2018 (Fase Verifikasi): Utang menembus RM1 Triliun; pemerintah meluncurkan Tabung Harapan (donasi rakyat) untuk mencicil utang negara.
2019–2020: Ketergantungan meningkat; 59% hingga 60% pinjaman baru hanya untuk melunasi utang lama.
2023 (Rekor Terburuk): 64,3% dari total pinjaman kasar (RM145,8 Miliar) digunakan hanya untuk membayar utang jatuh tempo.
2025–2026: Proyeksi tetap kritis di angka 58%. Ruang fiskal untuk pembangunan dan alutsista praktis terkunci oleh cicilan utang.
-
Bukti "Vakum SIPRI" (2020–2025)
Kontras dengan klaim belanja "Cash", data SIPRI menunjukkan kekosongan aktivitas:
2020–2021: Berstatus Planned (Hanya rencana/dijangka).
2022–2023: Berstatus Not Yet Ordered (Terpilih tapi tidak ada kontrak/pesanan).
2024–2025: Status resmi KOSONG (Nihil transfer senjata berat selama 2 tahun berturut-turut).
Posisi Regional: MALAYSEWA kini sejajar dengan Laos dan Kamboja dalam hal nihilnya modernisasi alutsista berat.
Kita LAWAN PENIPUAN GORILLA ZIMBABWE dengan FAKTA....SIAPA YANG MENGEMIS BERAS SEBENARNYA...🤣🤣🤣
BalasHapusMALAYSIA EKSPORT BERAS KE INDIANESIA
2023 - 123,360 KG
2024 - 58,499.62 KG
2025 - 123,509.11 KG
_________________________________
LINK BUKTI....
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2023/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2024/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2025/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
Hapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
RICE CRISES =
1972-73
1999
2008
2020-21
2023
2025
2026
Malaysia has experienced recurring rice crises—notably in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, 2023, 2025 and 2026—which are primarily driven by severe supply and demand imbalances and exacerbated by market speculation. These crises stem from climate vulnerabilities like flooding and temperature spikes that drastically cut crop yields, alongside distortionary protectionist policies, poorly targeted subsidies, and sudden international import restrictions. Consequently, the country continues to face severe food insecurity, stagnant agricultural productivity with its self-sufficiency ratio dropping to a critical 52%, and entrenched poverty among local paddy farmers who are trapped by high production costs and inefficient market structures.
-
Daftar Sumber Referensi
• Arshad, F. M. (2025). "My Say: Rice sector needs structural improvements, not quick fixes". The Edge Malaysia. Diakses dari The Edge Malaysia.
• Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan (KPKM) Malaysia. Data Statistik Sektor Padi & Rasio Swasembada Beras (SSR) Nasional Periode 2024–2026. Laporan Resmi Pemerintah Malaysia.
MALAYSIA MELARANG EKSPOR BERAS = DEFISIT BERAS
HapusWITS = SALAH INPUT KODE HS (Harmonized System) nomor kode tarif
WITS = TRANSIT KAPAL Beras asal Thailand/Vietnam
-
BPS : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
TIADA MALON
TIADA MALON
TIADA MALON
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
-
SELISIH DATA WITS VS BPS =
WITS : mencatat ekspor beras Malaysia ke RI
BPS mencatat angka nol (0) impor.
-
Penyebab Salah Input: Komoditas non-beras keliru terdata menggunakan nomor kode tarif (Harmonized System) beras pada manifes pelabuhan.
-
Penyebab Transit Kapal: Beras asal Thailand/Vietnam hanya melakukan transshipment di Malaysia, sehingga WITS mendeteksinya sebagai negara asal pengiriman sedangkan BPS mendeteksi negara produsen asli.
--------------------------------
LARANGAN RE-EKSPOR BERAS =
Malaysia melarang keras aktivitas ekspor kembali komoditas beras impor guna mengamankan pasokan pangan dalam negeri.
-
Dasar Hukum Larangan: Kebijakan ini diatur secara ketat di bawah undang-undang bea cukai nasional Akta Kastam 1967 (P.U. (A) 122/2023).
-
Krisis Swasembada (SSR/SSL): Rasio swasembada beras Malaysia berada di level kritis akibat dampak cuaca El Niño dan kelangkaan Beras Putih Tempatan (BPT) [Sumber: DOSM, KPKM, BERNAMA].
--------------------------------
TIMELINE EKSPOR BERAS RI KE MALAYSIA
22 April 2025: PM Anwar Ibrahim mengutus Mentan Malaysia ke Jakarta untuk meminta pasokan beras dari RI secara resmi [CNBC Indonesia].
-
Mei 2025: Penandatanganan kontrak B2B awal sebesar 2.000 ton dengan target 24.000 ton per tahun [CNN Indonesia].
-
Januari 2026: Mensesneg Prasetyo Hadi mengonfirmasi ulang permintaan ekspor Malaysia seiring penguatan swasembada RI [CNN Indonesia].
-
14 Agustus 2026: Kesepakatan telepon kedua Mentan untuk memasok 200.000 ton beras premium ke Sarawak senilai Rp3,4 triliun [Kementan RI].
-
Agustus 2026: Realisasi ekspor perdana sebesar 1.000 ton beras premium ke Malaysia sebagai kado HUT RI [Antara News].
-
September 2026: Penandatanganan MoU resmi untuk melegalkan payung hukum pengiriman bertahap [MetroTV].
-
Oktober 2026: Wamentan Sudaryono menegaskan proyek ekspor ini mendapat restu langsung dari Presiden Prabowo Subianto [Indonesia Emas 2045 ID].
--------------------------------
Perangkap Utang & Liabilitas (Eskalasi RM 1,79 Triliun)
Pertumbuhan beban finansial yang melumpuhkan negara:
2010: RM 407,1 Miliar.
2018: RM 1,19 Triliun (Ledakan pasca-transparansi 1MDB).
2026: Proyeksi RM 1,79 Triliun (Titik kritis manajemen utang).
Rasio Utang: Diproyeksikan menyentuh 69,54% dari PDB pada 2029 (Data Statista), melampaui batas aman.
-
Penurunan Daya Gentar & Reputasi
Global Firepower (GFP) 2026: MALAYSEWA (Peringkat 42) resmi disalip oleh Filipina (Peringkat 41) di ASEAN.
Status "Military-for-Rent": Karena tidak mampu membeli (Buying), beralih ke skema Sewa (Leasing) untuk 32+ item (Heli, simulator, hingga motor polisi).
Administrasi: Sanksi naturalisasi ilegal dan kekalahan WO 0-3 di bidang olahraga menjadi simbol runtuhnya tata kelola birokrasi nasional.
-
Kesimpulan Strategis
Indonesia: Berstatus "The Giant" dengan modernisasi agresif (Rafale, A400M, PPA) dan rasio utang pemerintah yang sehat (40% GDP).
MALAYSEWA: Berstatus "The Stagnant" yang terjebak dalam delusi klaim "Shopping Cash" sementara kenyataannya hanya mampu membayar bunga utang lama.
Kita LAWAN PENIPUAN GORILLA ZIMBABWE dengan FAKTA....SIAPA YANG MENGEMIS BERAS SEBENARNYA...🤣🤣🤣
BalasHapusMALAYSIA EKSPORT BERAS KE INDIANESIA
2023 - 123,360 KG
2024 - 58,499.62 KG
2025 - 123,509.11 KG
_________________________________
LINK BUKTI....
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2023/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2024/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2025/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
Hapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
RICE CRISES =
1972-73
1999
2008
2020-21
2023
2025
2026
Malaysia has experienced recurring rice crises—notably in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, 2023, 2025 and 2026—which are primarily driven by severe supply and demand imbalances and exacerbated by market speculation. These crises stem from climate vulnerabilities like flooding and temperature spikes that drastically cut crop yields, alongside distortionary protectionist policies, poorly targeted subsidies, and sudden international import restrictions. Consequently, the country continues to face severe food insecurity, stagnant agricultural productivity with its self-sufficiency ratio dropping to a critical 52%, and entrenched poverty among local paddy farmers who are trapped by high production costs and inefficient market structures.
-
Daftar Sumber Referensi
• Arshad, F. M. (2025). "My Say: Rice sector needs structural improvements, not quick fixes". The Edge Malaysia. Diakses dari The Edge Malaysia.
• Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan (KPKM) Malaysia. Data Statistik Sektor Padi & Rasio Swasembada Beras (SSR) Nasional Periode 2024–2026. Laporan Resmi Pemerintah Malaysia.
MALAYSIA MELARANG EKSPOR BERAS = DEFISIT BERAS
HapusWITS = SALAH INPUT KODE HS (Harmonized System) nomor kode tarif
WITS = TRANSIT KAPAL Beras asal Thailand/Vietnam
-
BPS : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
TIADA MALON
TIADA MALON
TIADA MALON
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
-
SELISIH DATA WITS VS BPS =
WITS : mencatat ekspor beras Malaysia ke RI
BPS mencatat angka nol (0) impor.
-
Penyebab Salah Input: Komoditas non-beras keliru terdata menggunakan nomor kode tarif (Harmonized System) beras pada manifes pelabuhan.
-
Penyebab Transit Kapal: Beras asal Thailand/Vietnam hanya melakukan transshipment di Malaysia, sehingga WITS mendeteksinya sebagai negara asal pengiriman sedangkan BPS mendeteksi negara produsen asli.
--------------------------------
LARANGAN RE-EKSPOR BERAS =
Malaysia melarang keras aktivitas ekspor kembali komoditas beras impor guna mengamankan pasokan pangan dalam negeri.
-
Dasar Hukum Larangan: Kebijakan ini diatur secara ketat di bawah undang-undang bea cukai nasional Akta Kastam 1967 (P.U. (A) 122/2023).
-
Krisis Swasembada (SSR/SSL): Rasio swasembada beras Malaysia berada di level kritis akibat dampak cuaca El Niño dan kelangkaan Beras Putih Tempatan (BPT) [Sumber: DOSM, KPKM, BERNAMA].
--------------------------------
TIMELINE EKSPOR BERAS RI KE MALAYSIA
22 April 2025: PM Anwar Ibrahim mengutus Mentan Malaysia ke Jakarta untuk meminta pasokan beras dari RI secara resmi [CNBC Indonesia].
-
Mei 2025: Penandatanganan kontrak B2B awal sebesar 2.000 ton dengan target 24.000 ton per tahun [CNN Indonesia].
-
Januari 2026: Mensesneg Prasetyo Hadi mengonfirmasi ulang permintaan ekspor Malaysia seiring penguatan swasembada RI [CNN Indonesia].
-
14 Agustus 2026: Kesepakatan telepon kedua Mentan untuk memasok 200.000 ton beras premium ke Sarawak senilai Rp3,4 triliun [Kementan RI].
-
Agustus 2026: Realisasi ekspor perdana sebesar 1.000 ton beras premium ke Malaysia sebagai kado HUT RI [Antara News].
-
September 2026: Penandatanganan MoU resmi untuk melegalkan payung hukum pengiriman bertahap [MetroTV].
-
Oktober 2026: Wamentan Sudaryono menegaskan proyek ekspor ini mendapat restu langsung dari Presiden Prabowo Subianto [Indonesia Emas 2045 ID].
--------------------------------
Analisa Fiskal: Disiplin vs. Spiral Utang
Perbedaan fundamental dalam cara membiayai pertahanan:
Indonesia (Procurement/Buying): Rasio utang pemerintah sehat (40% GDP). Membeli aset untuk menjadi pemilik penuh.
MALAYSEWA (Leasing/Sewa): Rasio utang kritis (69% GDP) dengan utang rumah tangga ekstrem (84,3%). Karena krisis kas, MALAYSEWA berubah menjadi "Negara Penyewa":
Aset Sewaan: Helikopter Black Hawk (Aerotree), AW139, EC120B, Pesawat L39, Kapal Hidrografi, hingga Motor BMW R1250RT.
Status SIPRI: Indonesia mencatat "Lembar Belanja Penuh", MALAYSEWA KOSONG/ZONK selama 2 tahun berturut-turut (2024-2025).
-
Beban Rakyat & Masa Depan
Beban Per Kapita: Setiap warga MALAYSEWA menanggung beban utang kumulatif sebesar RM 81.998.
Gali Lubang Tutup Lubang: Tren utang baru hanya untuk membayar bunga utang lama sejak 2010, menyebabkan kemandekan pembangunan militer (LCS mangkrak, MRCA vakum).
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
BalasHapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
RICE CRISES =
1972-73
1999
2008
2020-21
2023
2025
2026
Malaysia has experienced recurring rice crises—notably in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, 2023, 2025 and 2026—which are primarily driven by severe supply and demand imbalances and exacerbated by market speculation. These crises stem from climate vulnerabilities like flooding and temperature spikes that drastically cut crop yields, alongside distortionary protectionist policies, poorly targeted subsidies, and sudden international import restrictions. Consequently, the country continues to face severe food insecurity, stagnant agricultural productivity with its self-sufficiency ratio dropping to a critical 52%, and entrenched poverty among local paddy farmers who are trapped by high production costs and inefficient market structures.
-
Daftar Sumber Referensi
• Arshad, F. M. (2025). "My Say: Rice sector needs structural improvements, not quick fixes". The Edge Malaysia. Diakses dari The Edge Malaysia.
• Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan (KPKM) Malaysia. Data Statistik Sektor Padi & Rasio Swasembada Beras (SSR) Nasional Periode 2024–2026. Laporan Resmi Pemerintah Malaysia.
MALAYSIA MELARANG EKSPOR BERAS = DEFISIT BERAS
BalasHapusWITS = SALAH INPUT KODE HS (Harmonized System) nomor kode tarif
WITS = TRANSIT KAPAL Beras asal Thailand/Vietnam
-
BPS : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
TIADA MALON
TIADA MALON
TIADA MALON
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
-
SELISIH DATA WITS VS BPS =
WITS : mencatat ekspor beras Malaysia ke RI
BPS mencatat angka nol (0) impor.
-
Penyebab Salah Input: Komoditas non-beras keliru terdata menggunakan nomor kode tarif (Harmonized System) beras pada manifes pelabuhan.
-
Penyebab Transit Kapal: Beras asal Thailand/Vietnam hanya melakukan transshipment di Malaysia, sehingga WITS mendeteksinya sebagai negara asal pengiriman sedangkan BPS mendeteksi negara produsen asli.
--------------------------------
LARANGAN RE-EKSPOR BERAS =
Malaysia melarang keras aktivitas ekspor kembali komoditas beras impor guna mengamankan pasokan pangan dalam negeri.
-
Dasar Hukum Larangan: Kebijakan ini diatur secara ketat di bawah undang-undang bea cukai nasional Akta Kastam 1967 (P.U. (A) 122/2023).
-
Krisis Swasembada (SSR/SSL): Rasio swasembada beras Malaysia berada di level kritis akibat dampak cuaca El Niño dan kelangkaan Beras Putih Tempatan (BPT) [Sumber: DOSM, KPKM, BERNAMA].
--------------------------------
TIMELINE EKSPOR BERAS RI KE MALAYSIA
22 April 2025: PM Anwar Ibrahim mengutus Mentan Malaysia ke Jakarta untuk meminta pasokan beras dari RI secara resmi [CNBC Indonesia].
-
Mei 2025: Penandatanganan kontrak B2B awal sebesar 2.000 ton dengan target 24.000 ton per tahun [CNN Indonesia].
-
Januari 2026: Mensesneg Prasetyo Hadi mengonfirmasi ulang permintaan ekspor Malaysia seiring penguatan swasembada RI [CNN Indonesia].
-
14 Agustus 2026: Kesepakatan telepon kedua Mentan untuk memasok 200.000 ton beras premium ke Sarawak senilai Rp3,4 triliun [Kementan RI].
-
Agustus 2026: Realisasi ekspor perdana sebesar 1.000 ton beras premium ke Malaysia sebagai kado HUT RI [Antara News].
-
September 2026: Penandatanganan MoU resmi untuk melegalkan payung hukum pengiriman bertahap [MetroTV].
-
Oktober 2026: Wamentan Sudaryono menegaskan proyek ekspor ini mendapat restu langsung dari Presiden Prabowo Subianto [Indonesia Emas 2045 ID].
--------------------------------
Analisa Kekuatan Udara: Buying vs. Prank
Indonesia melakukan modernisasi masif dengan kontrak resmi (Firm Order), sementara MALAYSEWA terjebak dalam pembatalan dan wacana:
Indonesia (Realisasi & Kontrak G2G):
42 Rafale: Kontrak lunas dan efektif (Dassault Aviation).
48 KAAN (Gen-5): Kerja sama strategis G2G dengan Turki (TAI).
48 KF-21 Boramae (Block II): Kesepakatan tahap akhir dengan Korea Selatan (KAI).
24 M-346F: Penandatanganan Letter of Award (LOA) dengan Leonardo.
MALAYSEWA (Pembatalan & Kegagalan):
F-18 Kuwait: Resmi BATAL (2026) setelah 4 kali upaya negosiasi (New Straits Times).
Status "Prank": Wacana JF-17, Rafale, Typhoon, dan Tejas berakhir tanpa kontrak.
MiG-29N: Pensiun tanpa pengganti (Tiada Ganti).
FA-50: Mengalami hambatan blokir/lisensi dari AS.
-
Analisa Geografis & Jangkauan Tempur
Jarak Pekanbaru ke KL (291 KM) dan Pontianak ke Sarawak (498 KM) sangat pendek dibandingkan radius tempur jet tempur baru Indonesia:
Rafale: ±1.852 KM (Sanggup menjangkau seluruh wilayah semenanjung dan Kalimantan).
KAAN & KF-21: ±1.100–1.400 KM (Dominasi ruang udara regional).
Kita LAWAN PENIPUAN GORILLA ZIMBABWE dengan FAKTA....SIAPA YANG MENGEMIS BERAS SEBENARNYA...🤣🤣🤣
BalasHapusMALAYSIA EKSPORT BERAS KE INDIANESIA
2023 - 123,360 KG
2024 - 58,499.62 KG
2025 - 123,509.11 KG
_________________________________
LINK BUKTI....
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2023/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2024/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2025/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
IMPOR SEJAK LAHIR =
Hapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
RICE CRISES =
1972-73
1999
2008
2020-21
2023
2025
2026
Malaysia has experienced recurring rice crises—notably in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, 2023, 2025 and 2026—which are primarily driven by severe supply and demand imbalances and exacerbated by market speculation. These crises stem from climate vulnerabilities like flooding and temperature spikes that drastically cut crop yields, alongside distortionary protectionist policies, poorly targeted subsidies, and sudden international import restrictions. Consequently, the country continues to face severe food insecurity, stagnant agricultural productivity with its self-sufficiency ratio dropping to a critical 52%, and entrenched poverty among local paddy farmers who are trapped by high production costs and inefficient market structures.
-
Daftar Sumber Referensi
• Arshad, F. M. (2025). "My Say: Rice sector needs structural improvements, not quick fixes". The Edge Malaysia. Diakses dari The Edge Malaysia.
• Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan (KPKM) Malaysia. Data Statistik Sektor Padi & Rasio Swasembada Beras (SSR) Nasional Periode 2024–2026. Laporan Resmi Pemerintah Malaysia.
MALAYSIA MELARANG EKSPOR BERAS = DEFISIT BERAS
HapusWITS = SALAH INPUT KODE HS (Harmonized System) nomor kode tarif
WITS = TRANSIT KAPAL Beras asal Thailand/Vietnam
-
BPS : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
TIADA MALON
TIADA MALON
TIADA MALON
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
-
SELISIH DATA WITS VS BPS =
WITS : mencatat ekspor beras Malaysia ke RI
BPS mencatat angka nol (0) impor.
-
Penyebab Salah Input: Komoditas non-beras keliru terdata menggunakan nomor kode tarif (Harmonized System) beras pada manifes pelabuhan.
-
Penyebab Transit Kapal: Beras asal Thailand/Vietnam hanya melakukan transshipment di Malaysia, sehingga WITS mendeteksinya sebagai negara asal pengiriman sedangkan BPS mendeteksi negara produsen asli.
--------------------------------
LARANGAN RE-EKSPOR BERAS =
Malaysia melarang keras aktivitas ekspor kembali komoditas beras impor guna mengamankan pasokan pangan dalam negeri.
-
Dasar Hukum Larangan: Kebijakan ini diatur secara ketat di bawah undang-undang bea cukai nasional Akta Kastam 1967 (P.U. (A) 122/2023).
-
Krisis Swasembada (SSR/SSL): Rasio swasembada beras Malaysia berada di level kritis akibat dampak cuaca El Niño dan kelangkaan Beras Putih Tempatan (BPT) [Sumber: DOSM, KPKM, BERNAMA].
--------------------------------
TIMELINE EKSPOR BERAS RI KE MALAYSIA
22 April 2025: PM Anwar Ibrahim mengutus Mentan Malaysia ke Jakarta untuk meminta pasokan beras dari RI secara resmi [CNBC Indonesia].
-
Mei 2025: Penandatanganan kontrak B2B awal sebesar 2.000 ton dengan target 24.000 ton per tahun [CNN Indonesia].
-
Januari 2026: Mensesneg Prasetyo Hadi mengonfirmasi ulang permintaan ekspor Malaysia seiring penguatan swasembada RI [CNN Indonesia].
-
14 Agustus 2026: Kesepakatan telepon kedua Mentan untuk memasok 200.000 ton beras premium ke Sarawak senilai Rp3,4 triliun [Kementan RI].
-
Agustus 2026: Realisasi ekspor perdana sebesar 1.000 ton beras premium ke Malaysia sebagai kado HUT RI [Antara News].
-
September 2026: Penandatanganan MoU resmi untuk melegalkan payung hukum pengiriman bertahap [MetroTV].
-
Oktober 2026: Wamentan Sudaryono menegaskan proyek ekspor ini mendapat restu langsung dari Presiden Prabowo Subianto [Indonesia Emas 2045 ID].
--------------------------------
Kesenjangan Kemampuan (Capability Gap)
Ketiadaan Pesawat COIN: Menggunakan jet mahal (Su-30MKM) untuk operasi anti-gerilya yang seharusnya menggunakan pesawat ringan. Pengganti (FA-50M) baru akan tiba paling cepat 2026.
Logistik Terfragmentasi: Standarisasi alutsista yang buruk (campuran Rusia, AS, Polandia, China) menciptakan biaya pemeliharaan tinggi dan kesiapan operasional rendah.
Absennya Korps Marinir: Kemampuan amfibi yang terpecah antara AD dan AL melemahkan pertahanan kedaulatan di Laut China Selatan.
-
Krisis Fiskal & "Negara Penyewa"
Spiral Utang: Rasio utang pemerintah (69% GDP) dan rumah tangga (84,3%) yang ekstrem memaksa militer beralih ke skema Sewa (Leasing).
Aset Sewaan: Mencakup Helikopter Blackhawk, AW139, pesawat latihan L39, hingga kapal hidrografi dan motor patroli.
Efek Domino: Pembatalan F-18 Hornet Kuwait (2026) menjadi simbol hilangnya kredibilitas finansial di pasar pertahanan global.
-
Penurunan Daya Gentar (GFP 2026)
Peringkat Merosot: Turun ke posisi 42 Dunia (Peringkat 7 di ASEAN), kini berada di bawah Filipina (41) dan jauh tertinggal dari Indonesia (13).
Status Armada: Banyak aset utama berstatus grounded atau tidak layak selam (seperti kasus KD Rahman) akibat kekurangan suku cadang dan teknisi.
Kita LAWAN PENIPUAN GORILLA ZIMBABWE dengan FAKTA....SIAPA YANG MENGEMIS BERAS SEBENARNYA...🤣🤣🤣
BalasHapusMALAYSIA EKSPORT BERAS KE INDIANESIA
2023 - 123,360 KG
2024 - 58,499.62 KG
2025 - 123,509.11 KG
_________________________________
LINK BUKTI....
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2023/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2024/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2025/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
IMPOR SEJAK LAHIR =
Hapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
RICE CRISES =
1972-73
1999
2008
2020-21
2023
2025
2026
Malaysia has experienced recurring rice crises—notably in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, 2023, 2025 and 2026—which are primarily driven by severe supply and demand imbalances and exacerbated by market speculation. These crises stem from climate vulnerabilities like flooding and temperature spikes that drastically cut crop yields, alongside distortionary protectionist policies, poorly targeted subsidies, and sudden international import restrictions. Consequently, the country continues to face severe food insecurity, stagnant agricultural productivity with its self-sufficiency ratio dropping to a critical 52%, and entrenched poverty among local paddy farmers who are trapped by high production costs and inefficient market structures.
-
Daftar Sumber Referensi
• Arshad, F. M. (2025). "My Say: Rice sector needs structural improvements, not quick fixes". The Edge Malaysia. Diakses dari The Edge Malaysia.
• Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan (KPKM) Malaysia. Data Statistik Sektor Padi & Rasio Swasembada Beras (SSR) Nasional Periode 2024–2026. Laporan Resmi Pemerintah Malaysia.
IMPOR SEJAK LAHIR =
Hapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
RICE CRISES =
1972-73
1999
2008
2020-21
2023
2025
2026
Malaysia has experienced recurring rice crises—notably in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, 2023, 2025 and 2026—which are primarily driven by severe supply and demand imbalances and exacerbated by market speculation. These crises stem from climate vulnerabilities like flooding and temperature spikes that drastically cut crop yields, alongside distortionary protectionist policies, poorly targeted subsidies, and sudden international import restrictions. Consequently, the country continues to face severe food insecurity, stagnant agricultural productivity with its self-sufficiency ratio dropping to a critical 52%, and entrenched poverty among local paddy farmers who are trapped by high production costs and inefficient market structures.
-
Daftar Sumber Referensi
• Arshad, F. M. (2025). "My Say: Rice sector needs structural improvements, not quick fixes". The Edge Malaysia. Diakses dari The Edge Malaysia.
• Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan (KPKM) Malaysia. Data Statistik Sektor Padi & Rasio Swasembada Beras (SSR) Nasional Periode 2024–2026. Laporan Resmi Pemerintah Malaysia.
IMPOR SEJAK LAHIR =
BalasHapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
RICE CRISES =
1972-73
1999
2008
2020-21
2023
2025
2026
Malaysia has experienced recurring rice crises—notably in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, 2023, 2025 and 2026—which are primarily driven by severe supply and demand imbalances and exacerbated by market speculation. These crises stem from climate vulnerabilities like flooding and temperature spikes that drastically cut crop yields, alongside distortionary protectionist policies, poorly targeted subsidies, and sudden international import restrictions. Consequently, the country continues to face severe food insecurity, stagnant agricultural productivity with its self-sufficiency ratio dropping to a critical 52%, and entrenched poverty among local paddy farmers who are trapped by high production costs and inefficient market structures.
-
Daftar Sumber Referensi
• Arshad, F. M. (2025). "My Say: Rice sector needs structural improvements, not quick fixes". The Edge Malaysia. Diakses dari The Edge Malaysia.
• Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan (KPKM) Malaysia. Data Statistik Sektor Padi & Rasio Swasembada Beras (SSR) Nasional Periode 2024–2026. Laporan Resmi Pemerintah Malaysia.
MALAYSIA MELARANG EKSPOR BERAS = DEFISIT BERAS
BalasHapusWITS = SALAH INPUT KODE HS (Harmonized System) nomor kode tarif
WITS = TRANSIT KAPAL Beras asal Thailand/Vietnam
-
BPS : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
TIADA MALON
TIADA MALON
TIADA MALON
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
-
SELISIH DATA WITS VS BPS =
WITS : mencatat ekspor beras Malaysia ke RI
BPS mencatat angka nol (0) impor.
-
Penyebab Salah Input: Komoditas non-beras keliru terdata menggunakan nomor kode tarif (Harmonized System) beras pada manifes pelabuhan.
-
Penyebab Transit Kapal: Beras asal Thailand/Vietnam hanya melakukan transshipment di Malaysia, sehingga WITS mendeteksinya sebagai negara asal pengiriman sedangkan BPS mendeteksi negara produsen asli.
--------------------------------
LARANGAN RE-EKSPOR BERAS =
Malaysia melarang keras aktivitas ekspor kembali komoditas beras impor guna mengamankan pasokan pangan dalam negeri.
-
Dasar Hukum Larangan: Kebijakan ini diatur secara ketat di bawah undang-undang bea cukai nasional Akta Kastam 1967 (P.U. (A) 122/2023).
-
Krisis Swasembada (SSR/SSL): Rasio swasembada beras Malaysia berada di level kritis akibat dampak cuaca El Niño dan kelangkaan Beras Putih Tempatan (BPT) [Sumber: DOSM, KPKM, BERNAMA].
--------------------------------
TIMELINE EKSPOR BERAS RI KE MALAYSIA
22 April 2025: PM Anwar Ibrahim mengutus Mentan Malaysia ke Jakarta untuk meminta pasokan beras dari RI secara resmi [CNBC Indonesia].
-
Mei 2025: Penandatanganan kontrak B2B awal sebesar 2.000 ton dengan target 24.000 ton per tahun [CNN Indonesia].
-
Januari 2026: Mensesneg Prasetyo Hadi mengonfirmasi ulang permintaan ekspor Malaysia seiring penguatan swasembada RI [CNN Indonesia].
-
14 Agustus 2026: Kesepakatan telepon kedua Mentan untuk memasok 200.000 ton beras premium ke Sarawak senilai Rp3,4 triliun [Kementan RI].
-
Agustus 2026: Realisasi ekspor perdana sebesar 1.000 ton beras premium ke Malaysia sebagai kado HUT RI [Antara News].
-
September 2026: Penandatanganan MoU resmi untuk melegalkan payung hukum pengiriman bertahap [MetroTV].
-
Oktober 2026: Wamentan Sudaryono menegaskan proyek ekspor ini mendapat restu langsung dari Presiden Prabowo Subianto [Indonesia Emas 2045 ID].
--------------------------------
Kesenjangan Kemampuan (Capability Gap)
Ketiadaan Pesawat COIN: Menggunakan jet mahal (Su-30MKM) untuk operasi anti-gerilya yang seharusnya menggunakan pesawat ringan. Pengganti (FA-50M) baru akan tiba paling cepat 2026.
Logistik Terfragmentasi: Standarisasi alutsista yang buruk (campuran Rusia, AS, Polandia, China) menciptakan biaya pemeliharaan tinggi dan kesiapan operasional rendah.
Absennya Korps Marinir: Kemampuan amfibi yang terpecah antara AD dan AL melemahkan pertahanan kedaulatan di Laut China Selatan.
-
Krisis Fiskal & "Negara Penyewa"
Spiral Utang: Rasio utang pemerintah (69% GDP) dan rumah tangga (84,3%) yang ekstrem memaksa militer beralih ke skema Sewa (Leasing).
Aset Sewaan: Mencakup Helikopter Blackhawk, AW139, pesawat latihan L39, hingga kapal hidrografi dan motor patroli.
Efek Domino: Pembatalan F-18 Hornet Kuwait (2026) menjadi simbol hilangnya kredibilitas finansial di pasar pertahanan global.
-
Penurunan Daya Gentar (GFP 2026)
Peringkat Merosot: Turun ke posisi 42 Dunia (Peringkat 7 di ASEAN), kini berada di bawah Filipina (41) dan jauh tertinggal dari Indonesia (13).
Status Armada: Banyak aset utama berstatus grounded atau tidak layak selam (seperti kasus KD Rahman) akibat kekurangan suku cadang dan teknisi.
IMPOR SEJAK LAHIR =
BalasHapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
RICE CRISES =
1972-73
1999
2008
2020-21
2023
2025
2026
Malaysia has experienced recurring rice crises—notably in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, 2023, 2025 and 2026—which are primarily driven by severe supply and demand imbalances and exacerbated by market speculation. These crises stem from climate vulnerabilities like flooding and temperature spikes that drastically cut crop yields, alongside distortionary protectionist policies, poorly targeted subsidies, and sudden international import restrictions. Consequently, the country continues to face severe food insecurity, stagnant agricultural productivity with its self-sufficiency ratio dropping to a critical 52%, and entrenched poverty among local paddy farmers who are trapped by high production costs and inefficient market structures.
-
Daftar Sumber Referensi
• Arshad, F. M. (2025). "My Say: Rice sector needs structural improvements, not quick fixes". The Edge Malaysia. Diakses dari The Edge Malaysia.
• Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan (KPKM) Malaysia. Data Statistik Sektor Padi & Rasio Swasembada Beras (SSR) Nasional Periode 2024–2026. Laporan Resmi Pemerintah Malaysia.
KAPAL LCS RONGSOK AKAN SIAP BILA KIAMAT TIBA....🔥🔥🔥🔥🫣🫣🫣🤣🤣🤣🤣🤣🇲🇾🇲🇾🇲🇾🇲🇾💩💩💩💩
BalasHapusKita LAWAN PENIPUAN GORILLA ZIMBABWE dengan FAKTA....SIAPA YANG MENGEMIS BERAS SEBENARNYA...🤣🤣🤣
BalasHapusMALAYSIA EKSPORT BERAS KE INDIANESIA
2023 - 123,360 KG
2024 - 58,499.62 KG
2025 - 123,509.11 KG
_________________________________
LINK BUKTI....
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2023/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2024/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2025/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
IMPOR SEJAK LAHIR =
Hapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
RICE CRISES =
1972-73
1999
2008
2020-21
2023
2025
2026
Malaysia has experienced recurring rice crises—notably in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, 2023, 2025 and 2026—which are primarily driven by severe supply and demand imbalances and exacerbated by market speculation. These crises stem from climate vulnerabilities like flooding and temperature spikes that drastically cut crop yields, alongside distortionary protectionist policies, poorly targeted subsidies, and sudden international import restrictions. Consequently, the country continues to face severe food insecurity, stagnant agricultural productivity with its self-sufficiency ratio dropping to a critical 52%, and entrenched poverty among local paddy farmers who are trapped by high production costs and inefficient market structures.
-
Daftar Sumber Referensi
• Arshad, F. M. (2025). "My Say: Rice sector needs structural improvements, not quick fixes". The Edge Malaysia. Diakses dari The Edge Malaysia.
• Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan (KPKM) Malaysia. Data Statistik Sektor Padi & Rasio Swasembada Beras (SSR) Nasional Periode 2024–2026. Laporan Resmi Pemerintah Malaysia.
MALAYSIA MELARANG EKSPOR BERAS = DEFISIT BERAS
HapusWITS = SALAH INPUT KODE HS (Harmonized System) nomor kode tarif
WITS = TRANSIT KAPAL Beras asal Thailand/Vietnam
-
BPS : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
TIADA MALON
TIADA MALON
TIADA MALON
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
-
SELISIH DATA WITS VS BPS =
WITS : mencatat ekspor beras Malaysia ke RI
BPS mencatat angka nol (0) impor.
-
Penyebab Salah Input: Komoditas non-beras keliru terdata menggunakan nomor kode tarif (Harmonized System) beras pada manifes pelabuhan.
-
Penyebab Transit Kapal: Beras asal Thailand/Vietnam hanya melakukan transshipment di Malaysia, sehingga WITS mendeteksinya sebagai negara asal pengiriman sedangkan BPS mendeteksi negara produsen asli.
--------------------------------
LARANGAN RE-EKSPOR BERAS =
Malaysia melarang keras aktivitas ekspor kembali komoditas beras impor guna mengamankan pasokan pangan dalam negeri.
-
Dasar Hukum Larangan: Kebijakan ini diatur secara ketat di bawah undang-undang bea cukai nasional Akta Kastam 1967 (P.U. (A) 122/2023).
-
Krisis Swasembada (SSR/SSL): Rasio swasembada beras Malaysia berada di level kritis akibat dampak cuaca El Niño dan kelangkaan Beras Putih Tempatan (BPT) [Sumber: DOSM, KPKM, BERNAMA].
--------------------------------
TIMELINE EKSPOR BERAS RI KE MALAYSIA
22 April 2025: PM Anwar Ibrahim mengutus Mentan Malaysia ke Jakarta untuk meminta pasokan beras dari RI secara resmi [CNBC Indonesia].
-
Mei 2025: Penandatanganan kontrak B2B awal sebesar 2.000 ton dengan target 24.000 ton per tahun [CNN Indonesia].
-
Januari 2026: Mensesneg Prasetyo Hadi mengonfirmasi ulang permintaan ekspor Malaysia seiring penguatan swasembada RI [CNN Indonesia].
-
14 Agustus 2026: Kesepakatan telepon kedua Mentan untuk memasok 200.000 ton beras premium ke Sarawak senilai Rp3,4 triliun [Kementan RI].
-
Agustus 2026: Realisasi ekspor perdana sebesar 1.000 ton beras premium ke Malaysia sebagai kado HUT RI [Antara News].
-
September 2026: Penandatanganan MoU resmi untuk melegalkan payung hukum pengiriman bertahap [MetroTV].
-
Oktober 2026: Wamentan Sudaryono menegaskan proyek ekspor ini mendapat restu langsung dari Presiden Prabowo Subianto [Indonesia Emas 2045 ID].
--------------------------------
Status SIPRI: Vakum Total vs. Dominasi Regional
MALAYSEWA (Zonk): Mencatatkan status KOSONG pada lembar laporan SIPRI selama dua tahun berturut-turut (2024–2025). Tidak ada kontrak atau transfer senjata berat yang terealisasi.
Indonesia (Full Shopping): Memiliki lembar belanja penuh dengan aset strategis seperti Rafale F-4, A400M, Rudal Khan/Bora, drone Anka-S, hingga mesin kapal PPA-L-Plus.
-
Alutsista Usang & Krisis Pemeliharaan
Armada Tua: Mengoperasikan aset berusia 30–40 tahun seperti panser Condor (1980-an) dan kapal Lekiu-class (1990-an).
Masalah Kesiapan: Jet tempur utama (Su-30MKM & F/A-18D) memiliki jumlah armada kecil dan biaya perawatan yang mencekik anggaran.
Pensiun Tanpa Pengganti: Mundurnya MiG-29 pada 2017 tanpa pengganti langsung meninggalkan celah pertahanan udara yang lebar.
-
Skandal Korupsi & Kegagalan Pengadaan
Tragedi LCS: Proyek RM 9 Miliar yang meledak biayanya (cost overrun) hingga RM 1 Miliar, namun belum mengirimkan satu pun kapal meski dana telah terserap masif.
Sistem Makelar: Ketergantungan pada agen dan "middlemen" politik menyebabkan harga alutsista menjadi tidak masuk akal dan spesifikasi yang seringkali tidak sesuai kebutuhan militer.
Drama SPH 155mm: Pengadaan artileri medan yang tertunda sejak 2010 dan akhirnya dibatalkan oleh Kementerian Keuangan karena krisis kas.
Kita LAWAN PENIPUAN GORILLA ZIMBABWE dengan FAKTA....SIAPA YANG MENGEMIS BERAS SEBENARNYA...🤣🤣🤣
BalasHapusMALAYSIA EKSPORT BERAS KE INDIANESIA
2023 - 123,360 KG
2024 - 58,499.62 KG
2025 - 123,509.11 KG
_________________________________
LINK BUKTI....
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2023/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2024/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2025/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
IMPOR SEJAK LAHIR =
Hapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
RICE CRISES =
1972-73
1999
2008
2020-21
2023
2025
2026
Malaysia has experienced recurring rice crises—notably in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, 2023, 2025 and 2026—which are primarily driven by severe supply and demand imbalances and exacerbated by market speculation. These crises stem from climate vulnerabilities like flooding and temperature spikes that drastically cut crop yields, alongside distortionary protectionist policies, poorly targeted subsidies, and sudden international import restrictions. Consequently, the country continues to face severe food insecurity, stagnant agricultural productivity with its self-sufficiency ratio dropping to a critical 52%, and entrenched poverty among local paddy farmers who are trapped by high production costs and inefficient market structures.
-
Daftar Sumber Referensi
• Arshad, F. M. (2025). "My Say: Rice sector needs structural improvements, not quick fixes". The Edge Malaysia. Diakses dari The Edge Malaysia.
• Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan (KPKM) Malaysia. Data Statistik Sektor Padi & Rasio Swasembada Beras (SSR) Nasional Periode 2024–2026. Laporan Resmi Pemerintah Malaysia.
BPS : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
HapusTIADA MALON
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
-
SELISIH DATA WITS VS BPS =
WITS : mencatat ekspor beras Malaysia ke RI
BPS mencatat angka nol (0) impor.
-
WITS Salah Input: Barang non-beras keliru memakai kode HS beras di pelabuhan.
Transit (Transshipment): Beras Thailand/Vietnam hanya transit di Malaysia; WITS mencatat asal pengiriman, BPS mencatat negara produsen asli.
==================
==================
IMPOR SEJAK LAHIR =
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
-
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
-------------------------------
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
-------------------------------
1. Batu Bara: 21,84 juta ton (memasok 69% kebutuhan listrik regional TNB dan menguasai 67% total impor batu bara Malaysia).
2. Jagung: 240.000 ton.
3. Beras: 200.000 ton.
4. LNG (Gas Alam Cair): 56.431,6 metrik ton.
5. Kapal Patroli RHIB: 24 unit (diproduksi oleh PT PAL).
6. Pesawat CN235: 8 unit (diproduksi oleh PTDI).
7. Tenda & Parasut Militer: 7.000 unit tenda (pesanan militer).
8. Komponen Avionik Hawk: Komponen kokpit pesawat (buatan Surabaya/PTDI).
9. Fast Patrol Boat (FPB 57): Kapal patroli cepat (diadopsi dari PT PAL).
10. Senjata & Amunisi: Senapan SS2 dan amunisi (diproduksi oleh PT Pindad).
11. Seragam & Atribut Militer: Pakaian Dinas Lapangan (PDL) dan rompi antipeluru (diproduksi oleh Sritex).
12. Mata Uang Ringgit: Cetakan uang kertas (diproduksi oleh PERURI sejak 2010).
13. Paspor: Cetakan dokumen negara (diproduksi oleh PERURI).
Bro.... rupiah tengah anjlok sekarang
HapusRM1 = Rp4.470
USD1 = Rp18.100
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
HANYA TERJADI DI NEGARA MELAYU TOLOL MALAYDESH....KAPAL LCS RONGSOK BIN GUNBOAT OMPONG SEHARGA DESTROYER MANA HUTANG JUMBO TAK BAYAR BAYAR...LOL !!!!
BalasHapusTAMATLAH SUDAH ALKISAH KAMI, TERIMA KASIH DAN MALU LAGI 🤣🤣🤣🤣🤡🤡🤡🤡🇲🇾🇲🇾🇲🇾💩💩💩💩
Frigat Maharaja Lelah (LCS-1) Malaydesh akan diserahkan tanpa persenjataan lengkap & baru operasional penuh pada Desember 2035. Laporan Auditor-General 2/2026 menyebut lima kontrak senjata pendukung belum selesai, termasuk rudal antikapal (SSM) dengan pengadaan ulang butuh 36 bulan
https://x.com/AntoniusWibow10/status/2107013077757825461
SALAM JARI TENGAH HOBBY LEBIH BODOH DARI KELEDAI MELAYU TOLOL MALAYDESH 🤣🤣🤣🤣🤡🤡🤡🇲🇾🇲🇾💩💩💩
BPS : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
BalasHapusTIADA MALON
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
-
SELISIH DATA WITS VS BPS =
WITS : mencatat ekspor beras Malaysia ke RI
BPS mencatat angka nol (0) impor.
-
WITS Salah Input: Barang non-beras keliru memakai kode HS beras di pelabuhan.
Transit (Transshipment): Beras Thailand/Vietnam hanya transit di Malaysia; WITS mencatat asal pengiriman, BPS mencatat negara produsen asli.
==================
==================
IMPOR SEJAK LAHIR =
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
-
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
-------------------------------
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
-------------------------------
1. Batu Bara: 21,84 juta ton (memasok 69% kebutuhan listrik regional TNB dan menguasai 67% total impor batu bara Malaysia).
2. Jagung: 240.000 ton.
3. Beras: 200.000 ton.
4. LNG (Gas Alam Cair): 56.431,6 metrik ton.
5. Kapal Patroli RHIB: 24 unit (diproduksi oleh PT PAL).
6. Pesawat CN235: 8 unit (diproduksi oleh PTDI).
7. Tenda & Parasut Militer: 7.000 unit tenda (pesanan militer).
8. Komponen Avionik Hawk: Komponen kokpit pesawat (buatan Surabaya/PTDI).
9. Fast Patrol Boat (FPB 57): Kapal patroli cepat (diadopsi dari PT PAL).
10. Senjata & Amunisi: Senapan SS2 dan amunisi (diproduksi oleh PT Pindad).
11. Seragam & Atribut Militer: Pakaian Dinas Lapangan (PDL) dan rompi antipeluru (diproduksi oleh Sritex).
12. Mata Uang Ringgit: Cetakan uang kertas (diproduksi oleh PERURI sejak 2010).
13. Paspor: Cetakan dokumen negara (diproduksi oleh PERURI).
Video LCS 1 KD Maharajalela BELAYAR megah di LAUTAN ya guys... 😎😎😎🇲🇾🇲🇾🇲🇾🇲🇾
BalasHapushttps://m.youtube.com/shorts/psTTZV3RbCw
Bofors 57mm Mk3 = TANPA AMUNISI
Hapus-
Laporan Laporan Ketua Audit Negara (LKAN) No. 2/2026 serta pernyataan resmi dari Menteri Pertahanan Malaysia, Mohamed Khaled Nordin, rincian detail mengenai ketersediaan amunisi meriam Bofors 57mm Mk3 dan status tempur kapal LCS Malaysia (KD Maharaja Lela dan KD Raja Muda Nala) adalah sebagai berikut:
-
1. Status Kontrak Amunisi 57mm yang Belum Selesai
Pemerintah Malaysia mengonfirmasi adanya keterlambatan dalam penyelesaian kontrak pelengkap (supplementary contracts) untuk pengadaan amunisi.
• Belum Ada Amunisi Pintar 3P: Amunisi utama untuk meriam Bofors 57mm Mk3 adalah tipe 3P (Pre-fragmented, Programmable, Proximity-fused) produksi BAE Systems Bofors. Amunisi pintar ini sangat penting karena bisa diprogram secara digital untuk meledak di dekat target udara/drone. Hingga akhir 2026, kontrak untuk amunisi 3P ini belum difinalisasi oleh Kementerian Pertahanan Malaysia (Mindef).
• Upaya Pengadaan Amunisi Alternatif (Non-3P): Pada April 2025, Malaysia sempat menerbitkan tender pengadaan sekitar 2.415 butir amunisi tipe Pre-Fragmented High Explosive (PFHE) dengan nilai indikatif RM35,61 juta. Amunisi PFHE ini merupakan amunisi konvensional (tidak dapat diprogram/bukan amunisi pintar). Namun, secara keseluruhan stok operasional terintegrasi di dalam kapal masih belum siap.
-
2. Kondisi Kapal yang "Belum Siap Tempur" (Non-Mission Ready)
Laporan Audit Negara memperingatkan risiko besar bahwa kapal pertama (KD Maharaja Lela 2501) yang jadwal penyerahannya diundur ke April 2027 (dari rencana awal Desember 2026), akan diserahkan dalam kondisi belum dilengkapi sistem persenjataan lengkap dan tanpa pelatihan personel yang tuntas. Hal yang sama diproyeksikan terjadi pada kapal kedua (KD Raja Muda Nala 2502).
Ketiadaan kesiapan tempur penuh ini disebabkan oleh:
• Masalah Integrasi Meriam dan Sistem Manajemen Tempur (CMS): Fisik meriam Bofors 57mm memang sudah terpasang pada modul stealth cupola di kapal. Namun, sistem penembakan meriam tersebut harus diintegrasikan secara penuh dengan Combat Management System (CMS) SETIS buatan Naval Group Prancis agar bisa membidik sasaran secara otomatis. Proses integrasi dan uji coba tembak ini belum selesai.
• Keterlambatan Sistem Pengecoh (Decoy): Kontrak pelengkap untuk Integrated Decoy Launching System (sistem pertahanan pengecoh rudal) juga dilaporkan belum selesai dan masih dalam tahap negosiasi langsung.
-
3. Krisis Persenjataan Lain (Rudal) & Fokus Anggaran
Kondisi "belum siap tempur" diperparah oleh hilangnya taring utama kapal, yaitu sistem rudal anti-kapal jarak jauh:
• Pembatalan Rudal NSM: Krisis terbesar terjadi setelah pemerintah Norwegia menolak/menangguhkan izin ekspor persenjataan ke Malaysia, yang berujung pada pembatalan pasokan rudal anti-kapal Naval Strike Missile (NSM) buatan Kongsberg.
• Fokus Pengalihan Anggaran: Karena masalah pasokan rudal NSM dan pembengkakan biaya proyek LCS yang kini mencapai RM11,23 miliar, prioritas utama anggaran dialihkan untuk memastikan kapal bisa berlayar terlebih dahulu (menyelesaikan lambung, mesin, navigasi, dan radar).
• Rencana Pengadaan Rudal Pengganti: Untuk rudal pertahanan udara (SAM) VL MICA, Malaysia telah menandatangani Letter of Acceptance (SST) dengan MBDA Prancis. Sementara untuk pengganti rudal anti-kapal NSM, per akhir 2026 Malaysia baru mulai menyaring opsi dari tiga hingga empat negara (seperti Korea Selatan, Turki, dan Prancis). Proses pengadaan rudal baru ini diperkirakan memakan waktu 3 hingga 4 tahun ke depan.
-
Kesimpulan Detail:
Malaysia sudah membeli fisik meriamnya, tetapi belum merampungkan pembelian amunisi pintar 3P-nya. Alhasil, saat KD Maharaja Lela dan KD Raja Muda Nala berlayar nanti, kapal-kapal tersebut hanya memiliki kemampuan tempur permukaan yang sangat terbatas lewat tembakan meriam dengan amunisi seadanya, tanpa dukungan rudal ofensif utama. Laporan Audit bahkan memproyeksikan kapal LCS Malaysia baru akan benar-benar siap tempur dengan persenjataan utuh secara ideal pada Desember 2035
AESA = FA50MOGOK 85 KM VS M346FA 157 KM
HapusLCS DELAY 2035-2011 : 24 TAHUN
-
FA50M : MOGOK = LMS B2 NO SONAR NO TORPEDO = LCS DELAY 24 TAHUN
-
⚓ HARGA LCS MALAYSIA VS DESTROYER
Type 052D Class: USD 500–600 Juta / unit.
KDX III Class (Sejong): USD 900 Juta / unit.
Type 055 Class: USD 920 Juta / unit.
LCS Malaysia (Maharaja Lela): USD 948 Juta / unit (Total USD 4,74 Miliar / 5 unit). Status delayed (tertunda) & kosongan (FFBNW/belum termasuk amunisi), tanpa NSM, tanpa VL Mica, tanpa torpedo ringan, tanpa secondary guns,
--------------------------------
🚁 SEWA VS BELI AW149
Sewa: USD 3,7 Miliar (RM 16,8 M) / 28 unit / 15 tahun.
Beli: USD 868 Juta (RM 3,954 M) / 28 unit (USD 31 Juta/unit).
Rasio: Sewa 4x lebih mahal (setara 119 unit baru).
--------------------------------
🚢 LMS B2 Korvet (Ada Class)
Malaysia (Hisar/LMS B2): USD 176,7 Juta / unit (Total USD 530 Jt / 3 unit — downgrade).
Pakistan (Ada Class): USD 250 Juta / unit (Total USD 1 Miliar / 4 unit).
Ukraina (Ada Class): USD 250 Juta / unit (Total USD 1 Miliar / 2 unit + UCAV).
---------------------------------
🛩️ JET TEMPUR FA-50
FA-50M (Malaysia): USD 51,1 Juta / unit (Total USD 920 Jt / 18 unit — varian termurah).
FA-50PH B2 (Filipina): USD 58,33 Juta / unit (Total USD 700 Jt / 12 unit — AESA & refueling).
FA-50 GF (Block II): USD 58,75 Juta / unit (Total USD 705 Jt / 12 unit).
FA-50 PL (Polandia): USD 63,89 Juta / unit (Total USD 2,3 Miliar / 36 unit — standar NATO).
--------------------------------
1. Performa Belanja (SIPRI & Kontrak)
Indonesia (Full Shopping): Lembar pengadaan penuh alutsista Tier-1 (Rafale F-4, KAAN, A400M, Rudal Khan). Nilai kontrak dengan Turki saja mencapai USD 12–13 Miliar.
MALONYET (Zonk): Status 2 Tahun SIPRI Kosong. Tidak ada kontrak strategis baru. Nilai belanja dengan Turki hanya USD 1,17 Miliar (hanya 9% dari nilai Indonesia).
---------------------------------
2. Status Kepemilikan & Pembayaran
Indonesia (Owner): Membeli tunai/kredit sehat dengan Transfer Teknologi (ToT) dan produksi lokal (PT Pindad, PT DI).
MALONYET (Renter & Barter): Terjebak skema Barter Sawit (MKM, FA-50, Scorpene) dan Sewa (Leasing) masif pada helikopter, pesawat latih, hingga motor patroli karena tidak mampu membayar DP.
---------------------------------
3. Kesehatan Fiskal & Beban Utang
Indonesia (Safe): Utang pemerintah rendah (41,1% GDP), memberikan ruang fiskal luas untuk modernisasi militer.
MALONYET (Overlimit): Utang pemerintah menembus 70,5% GDP (melewati limit aman 65%). Total utang gabungan (Publik + Rumah Tangga) mencapai 224% GDP.
---------------------------------
4. Beban Rakyat (Per Kapita 2025)
Beban Utang: Setiap warga MALONYET menanggung beban utang gabungan rata-rata RM 82.000 per orang.
Dampak Sosial: Tekanan ekonomi memicu krisis mental (1 dari 3 orang gangguan jiwa) dan badai PHK massal (300.000+ pengangguran baru).
---------------------------------
5. Kesimpulan Strategis
Indonesia: Membangun Hegemoni Regional dengan kepemilikan aset absolut dan teknologi siluman (KAAN).
MALONYET: Mengalami Kelumpuhan Pertahanan; militer berubah fungsi dari "pelindung kedaulatan" menjadi "penyewa aset swasta" akibat kebangkrutan fiskal
Video LCS 1 KD Maharajalela BELAYAR megah di LAUTAN ya guys... 😎😎😎🇲🇾🇲🇾🇲🇾🇲🇾
BalasHapushttps://m.youtube.com/shorts/psTTZV3RbCw
Bofors 57mm Mk3 = TANPA AMUNISI
Hapus-
Laporan Laporan Ketua Audit Negara (LKAN) No. 2/2026 serta pernyataan resmi dari Menteri Pertahanan Malaysia, Mohamed Khaled Nordin, rincian detail mengenai ketersediaan amunisi meriam Bofors 57mm Mk3 dan status tempur kapal LCS Malaysia (KD Maharaja Lela dan KD Raja Muda Nala) adalah sebagai berikut:
-
1. Status Kontrak Amunisi 57mm yang Belum Selesai
Pemerintah Malaysia mengonfirmasi adanya keterlambatan dalam penyelesaian kontrak pelengkap (supplementary contracts) untuk pengadaan amunisi.
• Belum Ada Amunisi Pintar 3P: Amunisi utama untuk meriam Bofors 57mm Mk3 adalah tipe 3P (Pre-fragmented, Programmable, Proximity-fused) produksi BAE Systems Bofors. Amunisi pintar ini sangat penting karena bisa diprogram secara digital untuk meledak di dekat target udara/drone. Hingga akhir 2026, kontrak untuk amunisi 3P ini belum difinalisasi oleh Kementerian Pertahanan Malaysia (Mindef).
• Upaya Pengadaan Amunisi Alternatif (Non-3P): Pada April 2025, Malaysia sempat menerbitkan tender pengadaan sekitar 2.415 butir amunisi tipe Pre-Fragmented High Explosive (PFHE) dengan nilai indikatif RM35,61 juta. Amunisi PFHE ini merupakan amunisi konvensional (tidak dapat diprogram/bukan amunisi pintar). Namun, secara keseluruhan stok operasional terintegrasi di dalam kapal masih belum siap.
-
2. Kondisi Kapal yang "Belum Siap Tempur" (Non-Mission Ready)
Laporan Audit Negara memperingatkan risiko besar bahwa kapal pertama (KD Maharaja Lela 2501) yang jadwal penyerahannya diundur ke April 2027 (dari rencana awal Desember 2026), akan diserahkan dalam kondisi belum dilengkapi sistem persenjataan lengkap dan tanpa pelatihan personel yang tuntas. Hal yang sama diproyeksikan terjadi pada kapal kedua (KD Raja Muda Nala 2502).
Ketiadaan kesiapan tempur penuh ini disebabkan oleh:
• Masalah Integrasi Meriam dan Sistem Manajemen Tempur (CMS): Fisik meriam Bofors 57mm memang sudah terpasang pada modul stealth cupola di kapal. Namun, sistem penembakan meriam tersebut harus diintegrasikan secara penuh dengan Combat Management System (CMS) SETIS buatan Naval Group Prancis agar bisa membidik sasaran secara otomatis. Proses integrasi dan uji coba tembak ini belum selesai.
• Keterlambatan Sistem Pengecoh (Decoy): Kontrak pelengkap untuk Integrated Decoy Launching System (sistem pertahanan pengecoh rudal) juga dilaporkan belum selesai dan masih dalam tahap negosiasi langsung.
-
3. Krisis Persenjataan Lain (Rudal) & Fokus Anggaran
Kondisi "belum siap tempur" diperparah oleh hilangnya taring utama kapal, yaitu sistem rudal anti-kapal jarak jauh:
• Pembatalan Rudal NSM: Krisis terbesar terjadi setelah pemerintah Norwegia menolak/menangguhkan izin ekspor persenjataan ke Malaysia, yang berujung pada pembatalan pasokan rudal anti-kapal Naval Strike Missile (NSM) buatan Kongsberg.
• Fokus Pengalihan Anggaran: Karena masalah pasokan rudal NSM dan pembengkakan biaya proyek LCS yang kini mencapai RM11,23 miliar, prioritas utama anggaran dialihkan untuk memastikan kapal bisa berlayar terlebih dahulu (menyelesaikan lambung, mesin, navigasi, dan radar).
• Rencana Pengadaan Rudal Pengganti: Untuk rudal pertahanan udara (SAM) VL MICA, Malaysia telah menandatangani Letter of Acceptance (SST) dengan MBDA Prancis. Sementara untuk pengganti rudal anti-kapal NSM, per akhir 2026 Malaysia baru mulai menyaring opsi dari tiga hingga empat negara (seperti Korea Selatan, Turki, dan Prancis). Proses pengadaan rudal baru ini diperkirakan memakan waktu 3 hingga 4 tahun ke depan.
-
Kesimpulan Detail:
Malaysia sudah membeli fisik meriamnya, tetapi belum merampungkan pembelian amunisi pintar 3P-nya. Alhasil, saat KD Maharaja Lela dan KD Raja Muda Nala berlayar nanti, kapal-kapal tersebut hanya memiliki kemampuan tempur permukaan yang sangat terbatas lewat tembakan meriam dengan amunisi seadanya, tanpa dukungan rudal ofensif utama. Laporan Audit bahkan memproyeksikan kapal LCS Malaysia baru akan benar-benar siap tempur dengan persenjataan utuh secara ideal pada Desember 2035
BELUM PERANG = FA50Mogok : FA50Murah
Hapus-
FA-50M TUDM (Malaysia)
Radar: AESA PhantomStrike (85KM, senyap & presisi).
Senjata: AIM-9X Sidewinder (Jarak pendek, 10–20 km).
Payload: Maks. 4,5 Ton (7 cantelan).
Radius: ± 444 km.
Kelemahan: BBM internal kecil (butuh drop tank) dan tanpa kemampuan jarak jauh (AMRAAM di-banned).
-
10 LCA + 8 LIFT
Sumber Kontrak FA-50M Malaysia
Global: Janes, Aviacionline, Global Defense Corp, K-Defense News.
Lokal: Malaysian Defence, KAI, Yonhap
===========================
===========================
• F-16 BLOCK 15 EMLU TNI AU (INDONESIA)
Radar: Mekanis AN/APG-68(V)9 (296 km + fitur SAR darat).
Senjata: AIM-120 AMRAAM (Jarak menengah/BVR, 70–105 km).
Payload: Maks. 7,7 Ton (9 cantelan).
Radius: 550 – 860 km.
Keunggulan: BBM internal besar, cocok untuk patroli jauh dengan senjata berat dan dominasi BVR.
-
• F-16 BLOCK 52ID TNI AU (INDONESIA)
Radar: Mekanis AN/APG-68 Multi-mode (296 km, optimal cuaca buruk/malam).
Senjata: AIM-120 AMRAAM (BVR), AIM-9X, dan intergrasi JHMCS (helm canggih).
Payload: Maks. 7,7 Ton (9 cantelan).
Radius: ± 550 km.
Keunggulan: Mesin lebih bertenaga, rangka lebih awet, unggul dogfight (JHMCS), dan dilengkapi pod Sniper ATP.
-
LCA AESA 100KM = NO BVR BARTER SAWIT
(F-16 Indonesia vs FA-50M Malaysia) :
• Jarak Tembak (BVR): Indonesia unggul. F-16: AIM-120 AMRAAM (70–105 km) vs FA-50M: Jarak pendek (AMRAAM diblokir).
• Deteksi Radar: Indonesia lebih cepat. F-16: 296 km vs FA-50M: 100+ km.
• Stamina & Radius: Indonesia lebih lama. F-16: 550–860 km vs FA-50M: ± 444 km.
• Dogfight: Indonesia unggul. F-16: Mesin lebih kuat & helm JHMCS
--------------------------------
LCA : MAHAL346F VERSUS FA50MURAH
-
HARGA PER UNIT
FA-50M (Korsel): USD 50,5 juta/unit.
M-346 F Block 20 (Italia): USD 145 juta/unit (1 unit = 3 unit FA-50M).
Rafale F4 (Prancis): USD 192,8 juta/unit (1 unit = 4 unit FA-50M).
-
HARGA PESAWAT FA-50 FIGHTING EAGLE =
1. Polandia: US$700 juta untuk 12 unit GF (±US$58 juta/unit) + US$2,3 miliar untuk 36 unit FA-50PL (±US$64 juta/unit).
2. Filipina: US$700 juta untuk 12 unit (±US$58 juta/unit).
3. MALONYET : US$920 juta untuk 18 unit (±US$51 juta/unit).
--------------------------------
KLAIM KAYA CASH = HUTANG BAYAR HUTANG
UTANG PEMERINTAH FEDERAL PER KAPITA: RM 36,139
UTANG RUMAH TANGGA PER KAPITA: RM 45,859
Angka-angka ini cukup signifikan dan menunjukkan tingkat ketergantungan yang tinggi pada utang baik di tingkat pemerintah maupun rumah tangga.
Implikasi Detail terhadap Perekonomian Riil:
Implikasi Gabungan (Utang Pemerintah + Utang Rumah Tangga):
Risiko Krisis Keuangan yang Lebih Tinggi:
Penjelasan: Kombinasi utang pemerintah dan rumah tangga yang tinggi menciptakan dua front kerentanan. Jika salah satu sektor goyah, ia bisa menarik sektor lainnya ke dalam masalah.
Dampak Riil: Jika terjadi perlambatan ekonomi, baik pemerintah maupun rumah tangga akan kesulitan membayar utang, menciptakan efek domino yang parah dan potensi krisis keuangan yang dalam.
Ruang Gerak Kebijakan yang Terbatas:
Penjelasan: Baik pemerintah maupun bank sentral memiliki ruang gerak yang terbatas untuk merespons krisis ekonomi.
Dampak Riil:
Stimulus Fiskal Sulit: Pemerintah mungkin kesulitan meluncurkan paket stimulus fiskal (misalnya, melalui pengeluaran infrastruktur atau bantuan sosial) jika utangnya sudah sangat tinggi.
Batas Bawah Suku Bunga: Bank sentral mungkin sudah menurunkan suku bunga ke tingkat yang sangat rendah untuk mendukung ekonomi, sehingga tidak banyak lagi "amunisi" tersisa jika terjadi krisis lebih lanjut.
Ketidakpastian Ekonomi dan Investor:
Penjelasan: Tingkat utang yang tinggi secara keseluruhan menciptakan ketidakpastian bagi investor domestik maupun asing.
Dampak Riil: Investor cenderung menghindari negara dengan tingkat utang yang meragukan, mengurangi investasi dan berpotensi memicu pelarian modal (capital flight), yang akan melemahkan mata uang dan memperburuk kondisi ekonomi.
BPS : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
BalasHapusTIADA MALON
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
-
SELISIH DATA WITS VS BPS =
WITS : mencatat ekspor beras Malaysia ke RI
BPS mencatat angka nol (0) impor.
-
WITS Salah Input: Barang non-beras keliru memakai kode HS beras di pelabuhan.
Transit (Transshipment): Beras Thailand/Vietnam hanya transit di Malaysia; WITS mencatat asal pengiriman, BPS mencatat negara produsen asli.
==================
==================
IMPOR SEJAK LAHIR =
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
-
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
-------------------------------
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
-------------------------------
1. Batu Bara: 21,84 juta ton (memasok 69% kebutuhan listrik regional TNB dan menguasai 67% total impor batu bara Malaysia).
2. Jagung: 240.000 ton.
3. Beras: 200.000 ton.
4. LNG (Gas Alam Cair): 56.431,6 metrik ton.
5. Kapal Patroli RHIB: 24 unit (diproduksi oleh PT PAL).
6. Pesawat CN235: 8 unit (diproduksi oleh PTDI).
7. Tenda & Parasut Militer: 7.000 unit tenda (pesanan militer).
8. Komponen Avionik Hawk: Komponen kokpit pesawat (buatan Surabaya/PTDI).
9. Fast Patrol Boat (FPB 57): Kapal patroli cepat (diadopsi dari PT PAL).
10. Senjata & Amunisi: Senapan SS2 dan amunisi (diproduksi oleh PT Pindad).
11. Seragam & Atribut Militer: Pakaian Dinas Lapangan (PDL) dan rompi antipeluru (diproduksi oleh Sritex).
12. Mata Uang Ringgit: Cetakan uang kertas (diproduksi oleh PERURI sejak 2010).
13. Paspor: Cetakan dokumen negara (diproduksi oleh PERURI).
Video LCS 1 KD Maharajalela BELAYAR megah di LAUTAN ya guys... 😎😎😎🇲🇾🇲🇾🇲🇾🇲🇾
BalasHapushttps://m.youtube.com/shorts/psTTZV3RbCw
Video LCS 1 KD Maharajalela BELAYAR megah di LAUTAN ya guys... 😎😎😎🇲🇾🇲🇾🇲🇾🇲🇾
BalasHapushttps://m.youtube.com/shorts/psTTZV3RbCw
Video LCS 1 KD Maharajalela BELAYAR megah di LAUTAN ya guys... 😎😎😎🇲🇾🇲🇾🇲🇾🇲🇾
BalasHapushttps://m.youtube.com/shorts/psTTZV3RbCw
Perbandingan Kondisi Ekspor Beras Indonesia vs Malaydesh
BalasHapus• Indonesia:
o Status: Mulai mengekspor kembali setelah surplus produksi dalam negeri (surplus sekitar 4 juta ton dengan produksi nasional mencapai 34,69 juta ton dan stok cadangan aman di kisaran 5,2 juta ton).
o Volume & Kesepakatan: Indonesia menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) untuk ekspor bertahap sebanyak 200.000 ton (dengan potensi hingga 500.000 ton) beras premium ke Malaysia.
o Pengiriman Perdana: Mengirimkan 1.000 ton beras premium perdana ke wilayah Sarawak melalui jalur perbatasan Entikong, Kalimantan Barat.
o Harga: Dihargai sekitar Rp17.000 atau 3,9 Ringgit Malaysia (RM) per kg, dengan total nilai kesepakatan mencapai Rp3,39 triliun hingga Rp3,4 triliun (dan potensi total transaksi skala besar hingga Rp8 triliun).
• Malaydesh:
o Status: Malaydesh merupakan negara importir beras karena produksi dalam negeri hanya mampu mencukupi sekitar 40% hingga 50% dari total kebutuhan konsumsi nasional.
o Kebutuhan Impor: Kebutuhan beras Malaydesh secara nasional mencapai 1,5 juta hingga 1,7 juta ton per tahun, sedangkan wilayah Sarawak saja membutuhkan sekitar 200.000 ton per tahun.
o Catatan Ekspor/Re-ekspor: Angka ekspor resmi Malaydesh sangat kecil atau berupa re-ekspor, sementara Malaydesh justru bergantung pada pasokan impor dari negara tetangga seperti Indonesia untuk menutupi defisit pangannya. [1, 2]
🙈🙈🙈🙈🙈🙈🇲🇾🤡🤡🤡🤡🤡🤡🤡🇲🇾🐷🐷🐷🐷🐷🐷🐷🇲🇾💩💩💩💩💩💩💩💩🇲🇾
Video LCS 1 KD Maharajalela BELAYAR megah di LAUTAN ya guys... 😎😎😎🇲🇾🇲🇾🇲🇾🇲🇾
BalasHapushttps://m.youtube.com/shorts/psTTZV3RbCw
Video LCS 1 KD Maharajalela BELAYAR megah di LAUTAN ya guys... 😎😎😎🇲🇾🇲🇾🇲🇾🇲🇾
BalasHapushttps://m.youtube.com/shorts/psTTZV3RbCw
IMPOR SEJAK LAHIR =
BalasHapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
RICE CRISES =
1972-73
1999
2008
2020-21
2023
2025
2026
Malaysia has experienced recurring rice crises—notably in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, 2023, 2025 and 2026—which are primarily driven by severe supply and demand imbalances and exacerbated by market speculation. These crises stem from climate vulnerabilities like flooding and temperature spikes that drastically cut crop yields, alongside distortionary protectionist policies, poorly targeted subsidies, and sudden international import restrictions. Consequently, the country continues to face severe food insecurity, stagnant agricultural productivity with its self-sufficiency ratio dropping to a critical 52%, and entrenched poverty among local paddy farmers who are trapped by high production costs and inefficient market structures.
-
Daftar Sumber Referensi
• Arshad, F. M. (2025). "My Say: Rice sector needs structural improvements, not quick fixes". The Edge Malaysia. Diakses dari The Edge Malaysia.
• Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan (KPKM) Malaysia. Data Statistik Sektor Padi & Rasio Swasembada Beras (SSR) Nasional Periode 2024–2026. Laporan Resmi Pemerintah Malaysia.
HANYA TERJADI DI NEGARA MELAYU TOLOL MALAYDESH....KAPAL LCS RONGSOK BIN GUNBOAT OMPONG SEHARGA DESTROYER MANA HUTANG JUMBO TAK BAYAR BAYAR...LOL !!!!
BalasHapusTAMATLAH SUDAH ALKISAH KAMI, TERIMA KASIH DAN MALU LAGI 🤣🤣🤣🤣🤡🤡🤡🤡🇲🇾🇲🇾🇲🇾💩💩💩💩
Frigat Maharaja Lelah (LCS-1) Malaydesh akan diserahkan tanpa persenjataan lengkap & baru operasional penuh pada Desember 2035. Laporan Auditor-General 2/2026 menyebut lima kontrak senjata pendukung belum selesai, termasuk rudal antikapal (SSM) dengan pengadaan ulang butuh 36 bulan
https://x.com/AntoniusWibow10/status/2107013077757825461
SALAM JARI TENGAH HOBBY LEBIH BODOH DARI KELEDAI MELAYU TOLOL MALAYDESH 🤣🤣🤣🤣🤡🤡🤡🇲🇾🇲🇾💩💩💩
HANYA TERJADI DI NEGARA MELAYU TOLOL MALAYDESH....KAPAL LCS RONGSOK BIN GUNBOAT OMPONG SEHARGA DESTROYER MANA HUTANG JUMBO TAK BAYAR BAYAR...LOL !!!!
BalasHapusTAMATLAH SUDAH ALKISAH KAMI, TERIMA KASIH DAN MALU LAGI 🤣🤣🤣🤣🤡🤡🤡🤡🇲🇾🇲🇾🇲🇾💩💩💩💩
Frigat Maharaja Lelah (LCS-1) Malaydesh akan diserahkan tanpa persenjataan lengkap & baru operasional penuh pada Desember 2035. Laporan Auditor-General 2/2026 menyebut lima kontrak senjata pendukung belum selesai, termasuk rudal antikapal (SSM) dengan pengadaan ulang butuh 36 bulan
https://x.com/AntoniusWibow10/status/2107013077757825461
SALAM JARI TENGAH HOBBY LEBIH BODOH DARI KELEDAI MELAYU TOLOL MALAYDESH 🤣🤣🤣🤣🤡🤡🤡🇲🇾🇲🇾💩💩💩
Engkau NEET ke?
HapusIMPOR SEJAK LAHIR =
Hapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
RICE CRISES =
1972-73
1999
2008
2020-21
2023
2025
2026
Malaysia has experienced recurring rice crises—notably in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, 2023, 2025 and 2026—which are primarily driven by severe supply and demand imbalances and exacerbated by market speculation. These crises stem from climate vulnerabilities like flooding and temperature spikes that drastically cut crop yields, alongside distortionary protectionist policies, poorly targeted subsidies, and sudden international import restrictions. Consequently, the country continues to face severe food insecurity, stagnant agricultural productivity with its self-sufficiency ratio dropping to a critical 52%, and entrenched poverty among local paddy farmers who are trapped by high production costs and inefficient market structures.
-
Daftar Sumber Referensi
• Arshad, F. M. (2025). "My Say: Rice sector needs structural improvements, not quick fixes". The Edge Malaysia. Diakses dari The Edge Malaysia.
• Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan (KPKM) Malaysia. Data Statistik Sektor Padi & Rasio Swasembada Beras (SSR) Nasional Periode 2024–2026. Laporan Resmi Pemerintah Malaysia.
MABOK : PANTAS PESAWAT DAN HELI JATUH =
HapusDIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
----------
Sumber Berita Utama
Tribun Jateng (7 Januari 2026)
Melaporkan video viral yang memperlihatkan sejumlah personel militer MALONYET berpesta bersama wanita panggilan di dalam kamp. Kasus ini memicu sorotan publik dan kritik terhadap disiplin militer.
----------
Kompas.com (6 Januari 2026)
Menyebut bahwa masyarakat MALONYET bereaksi keras setelah video pesta tersebut tersebar. Kementerian Pertahanan menegaskan akan melakukan investigasi dan menindak sesuai aturan jika terbukti.
----------
YouTube – Tribun Video
Menayangkan rekaman pesta di barak militer MALONYET. Disebutkan beberapa anggota yang terlibat sudah berkeluarga, sehingga menambah kontroversi
--------------------------
NASIB 🦧GORILA TERIAK HUTANG RINGGIT KUAT =
1. TIAP TAHUN = ASET MILITER SEWA
2. TIAP TAHUN = HUTANG GOVERMENT BERTAMBAH
3. TIAP TAHUN = HUTANG HOUSEHOLD BERTAMBAH
4. TIAP TAHUN = DEFISIT
5. TIAP TAHUN = HANYA BAYAR FAEDAH
-----
2025 = HUTANG PEMERINTAH (GOVERNMENT DEBT)
Hingga akhir kuartal ketiga (September 2025), hutang pemerintah nasional MALONYET tercatat sebesar USD 312,8 miliar.
Rasio Hutang terhadap PDB: Pada September 2025, rasionya berada di angka 66,1%.
Nilai dalam Ringgit: Per Juni 2025, hutang kerajaan dilaporkan mencapai RM 1,304 triliun.
Total Liabilitas: Jika menyertakan komitmen kewangan lainnya, total hutang dan liabilitas pemerintah mencapai 84,1% dari PDB pada pertengahan 2025.
-----
2025 = HUTANG LUAR NEGERI (EXTERNAL DEBT)
Berdasarkan data kuartal kedua 2025, hutang luar negeri bruto MALONYET sempat mencapai puncaknya di angka RM 1,403 triliun.
------------------
MALONYET ........
GOVERNMENT DEBT : 69% OF GDP
HOUSEHOLD DEBT : 84.3% OF GDP
FEDERAL GOVERNMENT DEBT
• END OF 2024: RM 1.25 TRILLION
• END OF 2025: RM 1.3 TRILLION
• PROJECTED DEBT-TO-GDP: 69% BY THE END OF 2025
HOUSEHOLD DEBT
2025 : RM1.73 TRILLION, OR 85.8% OF GDP
-
MALONYET = BATAS LIMIT 65%
GOV. DEBT : 69% OF GDP
HOUSEHOLD DEBT : 84,3% OF GDP
DEFISIT : 3,8%
GDP = USD 416,90 MILIAR
============
============
INDONESIA = BATAS LIMIT 60%
GOV. DEBT : 40% OF GDP
HOUSEHOLD DEBT : 16% OF GDP
DEFISIT : 2,9%
GDP = USD 1,44 TRILIUN
Rupiah tengah anjlok sekarang.
BalasHapusRupiah anjlok, utang Indonesia bertambah, harga barangan import juga bertambah!
Menambah sengsara warga.
RM1 = Rp4.470
USD1 = Rp18.100
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
IMPOR SEJAK LAHIR =
Hapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
RICE CRISES =
1972-73
1999
2008
2020-21
2023
2025
2026
Malaysia has experienced recurring rice crises—notably in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, 2023, 2025 and 2026—which are primarily driven by severe supply and demand imbalances and exacerbated by market speculation. These crises stem from climate vulnerabilities like flooding and temperature spikes that drastically cut crop yields, alongside distortionary protectionist policies, poorly targeted subsidies, and sudden international import restrictions. Consequently, the country continues to face severe food insecurity, stagnant agricultural productivity with its self-sufficiency ratio dropping to a critical 52%, and entrenched poverty among local paddy farmers who are trapped by high production costs and inefficient market structures.
-
Daftar Sumber Referensi
• Arshad, F. M. (2025). "My Say: Rice sector needs structural improvements, not quick fixes". The Edge Malaysia. Diakses dari The Edge Malaysia.
• Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan (KPKM) Malaysia. Data Statistik Sektor Padi & Rasio Swasembada Beras (SSR) Nasional Periode 2024–2026. Laporan Resmi Pemerintah Malaysia.
MALAYSIA MELARANG EKSPOR BERAS = DEFISIT BERAS
HapusWITS = SALAH INPUT KODE HS (Harmonized System) nomor kode tarif
WITS = TRANSIT KAPAL Beras asal Thailand/Vietnam
-
BPS : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
TIADA MALON
TIADA MALON
TIADA MALON
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
-
SELISIH DATA WITS VS BPS =
WITS : mencatat ekspor beras Malaysia ke RI
BPS mencatat angka nol (0) impor.
-
Penyebab Salah Input: Komoditas non-beras keliru terdata menggunakan nomor kode tarif (Harmonized System) beras pada manifes pelabuhan.
-
Penyebab Transit Kapal: Beras asal Thailand/Vietnam hanya melakukan transshipment di Malaysia, sehingga WITS mendeteksinya sebagai negara asal pengiriman sedangkan BPS mendeteksi negara produsen asli.
--------------------------------
LARANGAN RE-EKSPOR BERAS =
Malaysia melarang keras aktivitas ekspor kembali komoditas beras impor guna mengamankan pasokan pangan dalam negeri.
-
Dasar Hukum Larangan: Kebijakan ini diatur secara ketat di bawah undang-undang bea cukai nasional Akta Kastam 1967 (P.U. (A) 122/2023).
-
Krisis Swasembada (SSR/SSL): Rasio swasembada beras Malaysia berada di level kritis akibat dampak cuaca El Niño dan kelangkaan Beras Putih Tempatan (BPT) [Sumber: DOSM, KPKM, BERNAMA].
--------------------------------
TIMELINE EKSPOR BERAS RI KE MALAYSIA
22 April 2025: PM Anwar Ibrahim mengutus Mentan Malaysia ke Jakarta untuk meminta pasokan beras dari RI secara resmi [CNBC Indonesia].
-
Mei 2025: Penandatanganan kontrak B2B awal sebesar 2.000 ton dengan target 24.000 ton per tahun [CNN Indonesia].
-
Januari 2026: Mensesneg Prasetyo Hadi mengonfirmasi ulang permintaan ekspor Malaysia seiring penguatan swasembada RI [CNN Indonesia].
-
14 Agustus 2026: Kesepakatan telepon kedua Mentan untuk memasok 200.000 ton beras premium ke Sarawak senilai Rp3,4 triliun [Kementan RI].
-
Agustus 2026: Realisasi ekspor perdana sebesar 1.000 ton beras premium ke Malaysia sebagai kado HUT RI [Antara News].
-
September 2026: Penandatanganan MoU resmi untuk melegalkan payung hukum pengiriman bertahap [MetroTV].
-
Oktober 2026: Wamentan Sudaryono menegaskan proyek ekspor ini mendapat restu langsung dari Presiden Prabowo Subianto [Indonesia Emas 2045 ID].
--------------------------------
DEFISIT 1998-2026 = TIDAK BAYAR HUTANG
BAYAR BUNGA/FAEDAH
-
Anwar Ibrahim menegaskan bahwa miliaran ringgit yang dibayarkan oleh pemerintah saat ini sebenarnya hanya digunakan untuk membayar khidmat utang (biaya layanan utang) atau membayar bunga/faedah saja, dan bukan untuk melunasi pokok atau jumlah utang tertunggak secara keseluruhan
--------------------------------
Hambatan Fiskal & Ketergantungan Asing
Anggaran Defisit: Belanja pertahanan hanya 1,0–1,5% PDB, di mana sebagian besar tersedot untuk gaji dan pensiun, menyisakan sedikit ruang untuk modernisasi.
Strategi Sewa (Leasing): Karena tidak mampu membeli tunai, militer terpaksa menyewa helikopter (Blackhawk, AW139) dan pesawat latihan (L39) dari pihak swasta.
Kerentanan Suku Cadang: Ketergantungan penuh pada pemasok luar negeri membuat militer rentan terhadap sanksi politik atau gangguan rantai pasok global.
-
Kelemahan Geopolitik & Operasional
Ancaman Laut China Selatan: Armada laut yang menua dan kecil (hanya 2 kapal selam) membuat MALAYSEWA sulit menghalau intrusi kapal penjaga pantai China di wilayah Luconia Shoals.
Absennya Integrasi: Kurangnya sistem Komando Gabungan yang kuat dan tidak adanya Korps Marinir yang terdedikasi melemahkan respon terhadap ancaman hibrida.
Penurunan Peringkat (GFP 2026): Berada di posisi 42 dunia, kini resmi disalip oleh Filipina (41) dan tertinggal jauh di bawah Indonesia (13).
BPS : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
HapusTIADA MALON
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
-
SELISIH DATA WITS VS BPS =
WITS : mencatat ekspor beras Malaysia ke RI
BPS mencatat angka nol (0) impor.
-
WITS Salah Input: Barang non-beras keliru memakai kode HS beras di pelabuhan.
Transit (Transshipment): Beras Thailand/Vietnam hanya transit di Malaysia; WITS mencatat asal pengiriman, BPS mencatat negara produsen asli.
==================
==================
IMPOR SEJAK LAHIR =
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
-
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
-------------------------------
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
-------------------------------
1. Batu Bara: 21,84 juta ton (memasok 69% kebutuhan listrik regional TNB dan menguasai 67% total impor batu bara Malaysia).
2. Jagung: 240.000 ton.
3. Beras: 200.000 ton.
4. LNG (Gas Alam Cair): 56.431,6 metrik ton.
5. Kapal Patroli RHIB: 24 unit (diproduksi oleh PT PAL).
6. Pesawat CN235: 8 unit (diproduksi oleh PTDI).
7. Tenda & Parasut Militer: 7.000 unit tenda (pesanan militer).
8. Komponen Avionik Hawk: Komponen kokpit pesawat (buatan Surabaya/PTDI).
9. Fast Patrol Boat (FPB 57): Kapal patroli cepat (diadopsi dari PT PAL).
10. Senjata & Amunisi: Senapan SS2 dan amunisi (diproduksi oleh PT Pindad).
11. Seragam & Atribut Militer: Pakaian Dinas Lapangan (PDL) dan rompi antipeluru (diproduksi oleh Sritex).
12. Mata Uang Ringgit: Cetakan uang kertas (diproduksi oleh PERURI sejak 2010).
13. Paspor: Cetakan dokumen negara (diproduksi oleh PERURI).
PHANTOMSTRIKES: 85KM
BalasHapushttps://x.com/Flankerchan/status/2013228468096635194
-
M346FA BLOCK 20 : 157KM
F16 : 296KM
-
FA-50 Fighting Eagle / FA-50M (Korea Selatan)
• Kategori Platform: Mengombinasikan fungsi pesawat tempur ringan (LCA) dan jet latih lanjut (LIFT).
• Teknologi Radar: Menggunakan AESA Kompak (Raytheon AN/APG-85 "Phantom Strike").
• Daya Radar: Berkisar antara 1,2 kW hingga 1,5 kW (sangat hemat daya).
• Jangkauan Deteksi: Mencapai 85 km pada probabilitas 90%, dan meluas hingga 120 km pada probabilitas 50%.
• Pelacakan Taktis: Mampu mengunci target secara stabil mulai jarak 85 km.
• Harga Per Unit: Sangat ekonomis di angka USD 50,5 Juta.
================================
================================
M-346FA Block 20 (Italia)
• Kategori Platform: Fokus sebagai Light Combat Aircraft (LCA) atau jet tempur taktis ringan.
• Teknologi Radar: Menggunakan AESA Modern (Leonardo Grifo-E).
• Daya Radar: Kompak dan dioptimalkan khusus untuk efisiensi jet latih tempur ringan.
• Jangkauan Deteksi: Berada di rentang jarak 83 km hingga 157 km.
• Pelacakan Taktis: Berada di rentang jarak 74 km hingga 139 km.
• Harga Per Unit: Relatif mahal di angka USD 145 Juta.
--------------------------------
RISIKO VETO ITAR AS ANTARA FA-50M DAN M-346FA BLOCK 20:
FA-50M (Korea Selatan)
• Risiko Veto Senjata: Sangat tinggi, karena AS terbukti memblokir lisensi integrasi rudal jarak menengah BVR (AIM-120 AMRAAM).
• Kemandirian Radar: Rendah, karena menggunakan radar Raytheon PhantomStrike (AS) yang source code-nya dikontrol penuh oleh Washington.
• Ketetapan Ekspor/Transfer: Ketat, karena harus tunduk pada regulasi ekspor Korea Selatan yang 86% rantai pasoknya terafiliasi lisensi AS.
• Titik Lemah terhadap AS: Meliputi seluruh sistem avionik taktis, radar Raytheon, komputer misi, hingga mesin GE F404.
-
M-346FA Block 20 (Indonesia / Italia)
• Risiko Veto Senjata: Sangat rendah, karena bebas beralih ke rudal dan bom pintar alternatif buatan pabrikan Eropa seperti IRIS-T dan Brimstone.
• Kemandirian Radar: Tinggi, karena menggunakan radar Leonardo Grifo-E (Italia) dengan hak kekayaan intelektual penuh di Uni Eropa.
• Ketetapan Ekspor/Transfer: Lebih longgar, karena mengikuti hukum kontrol ekspor Uni Eropa yang lebih fleksibel terhadap kebijakan luar negeri non-blok.
• Titik Lemah terhadap AS: Murni terbatas hanya pada komponen suku cadang mesin Honeywell F124-GA-200.
IMPOR SEJAK LAHIR =
BalasHapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
RICE CRISES =
1972-73
1999
2008
2020-21
2023
2025
2026
Malaysia has experienced recurring rice crises—notably in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, 2023, 2025 and 2026—which are primarily driven by severe supply and demand imbalances and exacerbated by market speculation. These crises stem from climate vulnerabilities like flooding and temperature spikes that drastically cut crop yields, alongside distortionary protectionist policies, poorly targeted subsidies, and sudden international import restrictions. Consequently, the country continues to face severe food insecurity, stagnant agricultural productivity with its self-sufficiency ratio dropping to a critical 52%, and entrenched poverty among local paddy farmers who are trapped by high production costs and inefficient market structures.
-
Daftar Sumber Referensi
• Arshad, F. M. (2025). "My Say: Rice sector needs structural improvements, not quick fixes". The Edge Malaysia. Diakses dari The Edge Malaysia.
• Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan (KPKM) Malaysia. Data Statistik Sektor Padi & Rasio Swasembada Beras (SSR) Nasional Periode 2024–2026. Laporan Resmi Pemerintah Malaysia.
Video LCS 1 KD Maharajalela BELAYAR megah di LAUTAN ya guys... 😎😎😎🇲🇾🇲🇾🇲🇾🇲🇾
BalasHapushttps://m.youtube.com/shorts/psTTZV3RbCw
AESA = FA50MOGOK 85 KM VS M346FA 157 KM
HapusLCS DELAY 2035-2011 : 24 TAHUN
-
FA50M : MOGOK = LMS B2 NO SONAR NO TORPEDO = LCS DELAY 24 TAHUN
-
⚓ HARGA LCS MALAYSIA VS DESTROYER
Type 052D Class: USD 500–600 Juta / unit.
KDX III Class (Sejong): USD 900 Juta / unit.
Type 055 Class: USD 920 Juta / unit.
LCS Malaysia (Maharaja Lela): USD 948 Juta / unit (Total USD 4,74 Miliar / 5 unit). Status delayed (tertunda) & kosongan (FFBNW/belum termasuk amunisi), tanpa NSM, tanpa VL Mica, tanpa torpedo ringan, tanpa secondary guns,
--------------------------------
🚁 SEWA VS BELI AW149
Sewa: USD 3,7 Miliar (RM 16,8 M) / 28 unit / 15 tahun.
Beli: USD 868 Juta (RM 3,954 M) / 28 unit (USD 31 Juta/unit).
Rasio: Sewa 4x lebih mahal (setara 119 unit baru).
--------------------------------
🚢 LMS B2 Korvet (Ada Class)
Malaysia (Hisar/LMS B2): USD 176,7 Juta / unit (Total USD 530 Jt / 3 unit — downgrade).
Pakistan (Ada Class): USD 250 Juta / unit (Total USD 1 Miliar / 4 unit).
Ukraina (Ada Class): USD 250 Juta / unit (Total USD 1 Miliar / 2 unit + UCAV).
---------------------------------
🛩️ JET TEMPUR FA-50
FA-50M (Malaysia): USD 51,1 Juta / unit (Total USD 920 Jt / 18 unit — varian termurah).
FA-50PH B2 (Filipina): USD 58,33 Juta / unit (Total USD 700 Jt / 12 unit — AESA & refueling).
FA-50 GF (Block II): USD 58,75 Juta / unit (Total USD 705 Jt / 12 unit).
FA-50 PL (Polandia): USD 63,89 Juta / unit (Total USD 2,3 Miliar / 36 unit — standar NATO).
--------------------------------
Dominasi vs Kelumpuhan Alutsista (SIPRI Status)
Indonesia (Power House): Daftar belanja "Satu Lembar Penuh" menunjukkan kedaulatan finansial. Akuisisi mesin LM-2500, jet Rafale, hingga sistem rudal KHAN membuktikan Indonesia membeli aset sebagai "pemilik" dengan dukungan APBN yang sehat.
MALONYET (Lumpuh): Status "2 Tahun SIPRI Kosong" adalah bukti nyata negara sedang Miskin No Shopping. Tidak ada kontrak baru alutsista strategis yang mampu ditandatangani karena anggaran habis untuk membayar bunga utang.
---------------------------------
Metode Pembayaran: "Cash/Kredit Sehat" vs "Barter Sawit"
Ketidakmampuan finansial MALONYET terlihat dari cara mereka memperoleh senjata:
Barter Komoditas: Hampir semua aset utama (Su-30MKM, MiG-29, Scorpene, PT-91, FA-50) dibayar menggunakan minyak sawit dan karet. Ini adalah metode "ekonomi darurat" karena menipisnya cadangan devisa tunai.
Debt Acquisition: Pembelian A400M dilakukan secara berperingkat (cicilan), menunjukkan ketidakmampuan bayar tunai (cash) yang kontras dengan Indonesia.
---------------------------------
Analisa Beban Utang Per Kapita (Mengerikan)
Data 2025 menunjukkan kondisi "Gali Lubang Tutup Lubang" di MALONYET:
Beban Gabungan: Setiap penduduk MALONYET menanggung beban utang gabungan (Pemerintah + Rumah Tangga) sebesar RM 82.000 per kapita.
Penyedot Anggaran: Utang Pemerintah (70,5% dari GDP) menyebabkan pendapatan negara tersedot hanya untuk membayar bunga (servis utang), sehingga anggaran pertahanan, pendidikan, dan kesehatan terpaksa dipotong.
Daya Beli Runtuh: Utang rumah tangga yang mencapai 84,3% dari GDP membuat masyarakat kehilangan daya beli, yang berdampak pada pelambatan ekonomi nasional secara masif.
---------------------------------
Risiko Sistemik & "Game Over"
Kerentanan Makro: Kombinasi utang pemerintah dan rumah tangga yang tinggi menciptakan ekonomi yang sangat rapuh terhadap guncangan global.
Stabilitas Perbankan: Tingginya beban RM 45.859 per orang untuk utang rumah tangga meningkatkan risiko Kredit Macet (NPL) yang dapat meruntuhkan sektor perbankan MALONYET.
Indonesia (Safe Zone): Dengan utang pemerintah hanya 41,1%, Indonesia memiliki ruang fiskal yang luas untuk terus melakukan modernisasi militer tanpa membebani rakyat dengan pajak berlebih di masa depan.
LCS DELAY 2035-2011 : 24 TAHUN = DEFISIT TAHUN 1998 - 2026 : 28 TAHUN
Hapus--------------------------------
2003: PERDANA MENTERI – DEFACT KILL PREGNANT WOMEN
2011: LCS – DELAYED 16 YEARS BANNED NSM
2018: LMS B1 – NO MISSILE NO TORPEDO
2024: LMS B2 – NO SONAR NO TORPEDO
1994: LEKIU – EXO B2 EXPIRED
1981: KASTURI – NO MISSILE NO TORPEDO
1982: LAKSAMANA – NO MISSILE NO TORPEDO
2002: KEDAH – NO MISSILE NO TORPEDO
1971: PERDANA – NO MISSILE NO TORPEDO
1976: HANDALAN – NO MISSILE NO TORPEDO
1975: JERUNG – NO MISSILE NO TORPEDO
--------------------------------
1967: USCG DECISIVE
1968: USCGC STEADFAST
1980: KM PERWIRA
1984: LERICI CLASS
1989: PL-01 OJIMA & PL-02 ERIMO – EX-JCG HIBAH
1989: KM ARAU – EX-OKI PL-01 REPAIR JAPAN
1990: KM PEKAN – OJIKA CLASS TRANSFERRED..
--------------------------------
FACT LCS 2026 - 2011 = 16 YEARS
LAUGHING STOCK TO THE WORLD
LAUGHING STOCK TO THE WORLD
LAUGHING STOCK TO THE WORLD
Defence Minister DSU Mohamad Hasan - By building five ships, each vessel will cost around RM2.2 billion to RM2.4 billion, he said adding that he has no idea the amount needed to build the other three. “If we were to build only two ships, it will cost around RM4.5 billion each, making it the world’s most expensive ship for its class and make us a laughing-stock to the world”
--------------------------------
Analisa Utang & Fiskal: "Spiral Debt-Pay-Debt"
Klaim belanja militer seringkali disebut "Cash", namun data menunjukkan ketergantungan total pada hutang luar negeri dan barter:
Total Utang & Liabilitas (2026): Mencapai RM 1,79 Triliun (Meningkat drastis dari RM 407 Miliar pada 2010).
Rasio Utang Federal: Konsisten di angka 68% - 69% terhadap GDP (Melebihi plafon aman).
Beban Utang Isi Rumah (Household Debt): 85,8% dari GDP (Tertinggi di ASEAN menurut BNM).
Siklus Gali Lubang Tutup Lubang: Penggunaan pinjaman baru hanya untuk membayar bunga utang lama, membatasi anggaran belanja modal (CAPEX) militer.
-
Analisa Model Pembiayaan Alutsista (Bukan Tunai)
Hampir seluruh aset utama MALAYSEWA dibeli melalui skema hutang jangka panjang atau barter komoditas:
Turki (LMS Batch 2): Pinjaman G2G tenor 10-15 tahun (Bunga 4-6%).
Korea Selatan (FA-50): Hybrid antara Kredit KEXIM dan Barter CPO 50%.
China (LMS Batch 1): 100% Kredit Ekspor dari China Eximbank.
Polandia (PT-91M): Barter CPO (30-40%) + cicilan 10 tahun.
Kredit Sindikasi (Proyek LCS): Melibatkan 17 kreditor dengan bunga 6% yang terus membengkak akibat penundaan.
-
Analisa SIPRI: Vakum Alutsista (2024-2025)
MALAYSEWA (Status Kosong): Selama dua tahun berturut-turut, tidak ada transfer senjata berat yang tercatat di SIPRI. Menempatkan MALAYSEWA sejajar dengan negara ekonomi kecil seperti Timor Leste, Laos, dan Kamboja.
NOT PAID FFBNP = EXCLUDING AMMO (KOSONG) (Status Dominan): Memiliki daftar belanja satu lembar penuh mencakup Rafale F4, Pesawat KAAN, Kapal PPA, dan Rudal Khan/Bora.
Kegagalan Regional: Di saat Singapura, Vietnam, dan Filipina memperkuat armada, MALAYSEWA terjebak dalam pembatalan (Hornet Kuwait batal 4 kali).
Video LCS 1 KD Maharajalela BELAYAR megah di LAUTAN ya guys... 😎😎😎🇲🇾🇲🇾🇲🇾🇲🇾
BalasHapushttps://m.youtube.com/shorts/psTTZV3RbCw
Bofors 57mm Mk3 = TANPA AMUNISI
Hapus-
Laporan Laporan Ketua Audit Negara (LKAN) No. 2/2026 serta pernyataan resmi dari Menteri Pertahanan Malaysia, Mohamed Khaled Nordin, rincian detail mengenai ketersediaan amunisi meriam Bofors 57mm Mk3 dan status tempur kapal LCS Malaysia (KD Maharaja Lela dan KD Raja Muda Nala) adalah sebagai berikut:
-
1. Status Kontrak Amunisi 57mm yang Belum Selesai
Pemerintah Malaysia mengonfirmasi adanya keterlambatan dalam penyelesaian kontrak pelengkap (supplementary contracts) untuk pengadaan amunisi.
• Belum Ada Amunisi Pintar 3P: Amunisi utama untuk meriam Bofors 57mm Mk3 adalah tipe 3P (Pre-fragmented, Programmable, Proximity-fused) produksi BAE Systems Bofors. Amunisi pintar ini sangat penting karena bisa diprogram secara digital untuk meledak di dekat target udara/drone. Hingga akhir 2026, kontrak untuk amunisi 3P ini belum difinalisasi oleh Kementerian Pertahanan Malaysia (Mindef).
• Upaya Pengadaan Amunisi Alternatif (Non-3P): Pada April 2025, Malaysia sempat menerbitkan tender pengadaan sekitar 2.415 butir amunisi tipe Pre-Fragmented High Explosive (PFHE) dengan nilai indikatif RM35,61 juta. Amunisi PFHE ini merupakan amunisi konvensional (tidak dapat diprogram/bukan amunisi pintar). Namun, secara keseluruhan stok operasional terintegrasi di dalam kapal masih belum siap.
-
2. Kondisi Kapal yang "Belum Siap Tempur" (Non-Mission Ready)
Laporan Audit Negara memperingatkan risiko besar bahwa kapal pertama (KD Maharaja Lela 2501) yang jadwal penyerahannya diundur ke April 2027 (dari rencana awal Desember 2026), akan diserahkan dalam kondisi belum dilengkapi sistem persenjataan lengkap dan tanpa pelatihan personel yang tuntas. Hal yang sama diproyeksikan terjadi pada kapal kedua (KD Raja Muda Nala 2502).
Ketiadaan kesiapan tempur penuh ini disebabkan oleh:
• Masalah Integrasi Meriam dan Sistem Manajemen Tempur (CMS): Fisik meriam Bofors 57mm memang sudah terpasang pada modul stealth cupola di kapal. Namun, sistem penembakan meriam tersebut harus diintegrasikan secara penuh dengan Combat Management System (CMS) SETIS buatan Naval Group Prancis agar bisa membidik sasaran secara otomatis. Proses integrasi dan uji coba tembak ini belum selesai.
• Keterlambatan Sistem Pengecoh (Decoy): Kontrak pelengkap untuk Integrated Decoy Launching System (sistem pertahanan pengecoh rudal) juga dilaporkan belum selesai dan masih dalam tahap negosiasi langsung.
-
3. Krisis Persenjataan Lain (Rudal) & Fokus Anggaran
Kondisi "belum siap tempur" diperparah oleh hilangnya taring utama kapal, yaitu sistem rudal anti-kapal jarak jauh:
• Pembatalan Rudal NSM: Krisis terbesar terjadi setelah pemerintah Norwegia menolak/menangguhkan izin ekspor persenjataan ke Malaysia, yang berujung pada pembatalan pasokan rudal anti-kapal Naval Strike Missile (NSM) buatan Kongsberg.
• Fokus Pengalihan Anggaran: Karena masalah pasokan rudal NSM dan pembengkakan biaya proyek LCS yang kini mencapai RM11,23 miliar, prioritas utama anggaran dialihkan untuk memastikan kapal bisa berlayar terlebih dahulu (menyelesaikan lambung, mesin, navigasi, dan radar).
• Rencana Pengadaan Rudal Pengganti: Untuk rudal pertahanan udara (SAM) VL MICA, Malaysia telah menandatangani Letter of Acceptance (SST) dengan MBDA Prancis. Sementara untuk pengganti rudal anti-kapal NSM, per akhir 2026 Malaysia baru mulai menyaring opsi dari tiga hingga empat negara (seperti Korea Selatan, Turki, dan Prancis). Proses pengadaan rudal baru ini diperkirakan memakan waktu 3 hingga 4 tahun ke depan.
-
Kesimpulan Detail:
Malaysia sudah membeli fisik meriamnya, tetapi belum merampungkan pembelian amunisi pintar 3P-nya. Alhasil, saat KD Maharaja Lela dan KD Raja Muda Nala berlayar nanti, kapal-kapal tersebut hanya memiliki kemampuan tempur permukaan yang sangat terbatas lewat tembakan meriam dengan amunisi seadanya, tanpa dukungan rudal ofensif utama. Laporan Audit bahkan memproyeksikan kapal LCS Malaysia baru akan benar-benar siap tempur dengan persenjataan utuh secara ideal pada Desember 2035
Bro MMW.... negara setaraf ZIMBABWE memang makin KESIAN... 🔥🔥🔥🤣🤣🤣🤣
BalasHapusLCS DELAY 2035-2011 : 24 TAHUN = DEFISIT TAHUN 1998 - 2026 : 28 TAHUN
Hapus--------------------------------
2003: PERDANA MENTERI – DEFACT KILL PREGNANT WOMEN
2011: LCS – DELAYED 16 YEARS BANNED NSM
2018: LMS B1 – NO MISSILE NO TORPEDO
2024: LMS B2 – NO SONAR NO TORPEDO
1994: LEKIU – EXO B2 EXPIRED
1981: KASTURI – NO MISSILE NO TORPEDO
1982: LAKSAMANA – NO MISSILE NO TORPEDO
2002: KEDAH – NO MISSILE NO TORPEDO
1971: PERDANA – NO MISSILE NO TORPEDO
1976: HANDALAN – NO MISSILE NO TORPEDO
1975: JERUNG – NO MISSILE NO TORPEDO
--------------------------------
1967: USCG DECISIVE
1968: USCGC STEADFAST
1980: KM PERWIRA
1984: LERICI CLASS
1989: PL-01 OJIMA & PL-02 ERIMO – EX-JCG HIBAH
1989: KM ARAU – EX-OKI PL-01 REPAIR JAPAN
1990: KM PEKAN – OJIKA CLASS TRANSFERRED..
--------------------------------
FACT LCS 2026 - 2011 = 16 YEARS
LAUGHING STOCK TO THE WORLD
LAUGHING STOCK TO THE WORLD
LAUGHING STOCK TO THE WORLD
Defence Minister DSU Mohamad Hasan - By building five ships, each vessel will cost around RM2.2 billion to RM2.4 billion, he said adding that he has no idea the amount needed to build the other three. “If we were to build only two ships, it will cost around RM4.5 billion each, making it the world’s most expensive ship for its class and make us a laughing-stock to the world”
--------------------------------
BUKTI HUTANG BAYAR HUTANG
Daftar tren "Hutang Bayar Hutang" MALAYSEWA dari tahun 2018 hingga proyeksi 2025 berdasarkan data Kementerian Kewangan MALAYSEWA (MOF) dan Jabatan Audit Negara:
-
2018: FASE "OPEN DONASI"
Pemerintah meluncurkan Tabung Harapan MALAYSEWA untuk mengumpulkan sumbangan rakyat guna membantu membayar utang negara yang menembus angka RM1 triliun (80% dari PDB).
-
2019: 59% HUTANG BAYAR HUTANG
Laporan Ketua Audit Negara mengungkapkan bahwa 59% dari pinjaman baru digunakan hanya untuk melunasi utang yang sudah ada (gali lubang tutup lubang).
-
2020: 60% HUTANG BAYAR HUTANG
Ketergantungan meningkat; hampir 60% pinjaman baru dialokasikan untuk membayar utang lama, memicu kekhawatiran karena anggaran pembangunan semakin terhimpit.
-
2021: 50,4% HUTANG BAYAR HUTANG
Dari total pinjaman baru sebesar RM194,55 miliar, sebanyak RM98,05 miliar digunakan untuk pembayaran kembali prinsipal utang yang telah matang.
-
2022: 52,4% HUTANG BAYAR HUTANG
Realisasi pembayaran prinsipal mencapai RM113,7 miliar. Total pinjaman meningkat 11,6% dibandingkan tahun sebelumnya akibat pemulihan pascapandemi.
-
2023: 64,3% HUTANG BAYAR HUTANG
Persentase tertinggi dalam periode ini. Dari total pinjaman kasar RM226,6 miliar, sebesar RM145,8 miliar lari ke pembayaran utang lama.
-
2024: 58,9% HUTANG BAYAR HUTANG
Pemerintah mulai melakukan konsolidasi. Pinjaman digunakan untuk melunasi utang matang sebesar RM121,3 miliar dari total pinjaman RM206 miliar.
-
2025: 58% HUTANG BAYAR HUTANG
Berdasarkan Tinjauan Fiskal 2025, pemerintah memproyeksikan pinjaman kasar sebesar RM184 miliar, di mana RM106,8 miliar disiapkan untuk membayar prinsipal utang matang.
-
2026 = HUTANG BAYAR HUTANG
Dokumen Resmi Pemerintah (Kementerian Kewangan MALAYSEWA - MOF)
Data utama berasal dari laporan tahunan yang diterbitkan bersamaan dengan pembentangan anggaran negara:
Laporan Tinjauan Fiskal 2025 & 2026: Memuat angka proyeksi pinjaman kasar (gross borrowing) dan alokasi pembayaran kembali prinsipal utang yang matang.
MABOK : PANTAS PESAWAT DAN HELI JATUH JENDERAL KORUPSI
HapusANAK BUAH = MANTAB-MANTAB WANITA
-
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
----------
Sumber Berita Utama
Tribun Jateng (7 Januari 2026)
Melaporkan video viral yang memperlihatkan sejumlah personel militer MALONYET berpesta bersama wanita panggilan di dalam kamp. Kasus ini memicu sorotan publik dan kritik terhadap disiplin militer.
----------
Kompas.com (6 Januari 2026)
Menyebut bahwa masyarakat MALONYET bereaksi keras setelah video pesta tersebut tersebar. Kementerian Pertahanan menegaskan akan melakukan investigasi dan menindak sesuai aturan jika terbukti.
----------
YouTube – Tribun Video
Menayangkan rekaman pesta di barak militer MALONYET. Disebutkan beberapa anggota yang terlibat sudah berkeluarga, sehingga menambah kontroversi
--------------------------
2026 JENDERAL UANG KOPI SEDAP .....
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
• iNews.id – Mantan Panglima Angkatan Darat MALONYET Ditangkap Dugaan Korupsi Tender Militer Pada 7 Januari 2026, Hafizuddeain Jantan ditahan MACC bersama dua istrinya. Penangkapan ini terkait penyelidikan tender kontrak militer yang diduga penuh praktik suap.
-
• Utusan MALONYET – Kes tender TDM: Hafizuddeain tiba di SPRM dirakam keterangan Hafizuddeain terlihat hadir di kantor pusat SPRM pada 7 Januari 2026 untuk memberikan keterangan. Media melaporkan adanya aliran dana besar di rekening pribadinya yang menjadi fokus penyelidikan.
-
• New Straits Times (NST) – Ex-army chief, two wives among five held in graft probe MACC mengonfirmasi penahanan Hafizuddeain, dua istrinya, serta tiga orang lainnya. Mereka diduga terlibat dalam konspirasi memindahkan dana sebesar RM2,4 juta terkait proyek pengadaan militer.
-
• ANTARA News – Imbas isu rasuah, MALONYET ganti Panglima Angkatan Darat Pada 1 Januari 2026, Jenderal Datuk Azhan Md Othman resmi dilantik sebagai Panglima Angkatan Darat MALONYET menggantikan Hafizuddeain. Pergantian ini dilakukan setelah Hafizuddeain diminta cuti sejak 27 Desember 2025.
-
• VIVA.co.id – MALONYET Ganti Panglima Angkatan Darat Imbas Isu Korupsi Proyek Militer Pelantikan Azhan Md Othman disebut sebagai langkah menjaga integritas dan kesinambungan komando Angkatan Darat MALONYET di tengah skandal rasuah.
-
• Tempo.co – Dugaan Rasuah, Kepala Angkatan Darat MALONYET Diganti Media ini menyoroti bahwa pergantian jabatan dilakukan karena Hafizuddeain sedang diperiksa atas dugaan korupsi proyek
MABOK : PANTAS PESAWAT DAN HELI JATUH JENDERAL KORUPSI
HapusANAK BUAH = MANTAB-MANTAB WANITA
-
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
----------
Sumber Berita Utama
Tribun Jateng (7 Januari 2026)
Melaporkan video viral yang memperlihatkan sejumlah personel militer MALONYET berpesta bersama wanita panggilan di dalam kamp. Kasus ini memicu sorotan publik dan kritik terhadap disiplin militer.
----------
Kompas.com (6 Januari 2026)
Menyebut bahwa masyarakat MALONYET bereaksi keras setelah video pesta tersebut tersebar. Kementerian Pertahanan menegaskan akan melakukan investigasi dan menindak sesuai aturan jika terbukti.
----------
YouTube – Tribun Video
Menayangkan rekaman pesta di barak militer MALONYET. Disebutkan beberapa anggota yang terlibat sudah berkeluarga, sehingga menambah kontroversi
--------------------------
2026 JENDERAL UANG KOPI SEDAP .....
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
• iNews.id – Mantan Panglima Angkatan Darat MALONYET Ditangkap Dugaan Korupsi Tender Militer Pada 7 Januari 2026, Hafizuddeain Jantan ditahan MACC bersama dua istrinya. Penangkapan ini terkait penyelidikan tender kontrak militer yang diduga penuh praktik suap.
-
• Utusan MALONYET – Kes tender TDM: Hafizuddeain tiba di SPRM dirakam keterangan Hafizuddeain terlihat hadir di kantor pusat SPRM pada 7 Januari 2026 untuk memberikan keterangan. Media melaporkan adanya aliran dana besar di rekening pribadinya yang menjadi fokus penyelidikan.
-
• New Straits Times (NST) – Ex-army chief, two wives among five held in graft probe MACC mengonfirmasi penahanan Hafizuddeain, dua istrinya, serta tiga orang lainnya. Mereka diduga terlibat dalam konspirasi memindahkan dana sebesar RM2,4 juta terkait proyek pengadaan militer.
-
• ANTARA News – Imbas isu rasuah, MALONYET ganti Panglima Angkatan Darat Pada 1 Januari 2026, Jenderal Datuk Azhan Md Othman resmi dilantik sebagai Panglima Angkatan Darat MALONYET menggantikan Hafizuddeain. Pergantian ini dilakukan setelah Hafizuddeain diminta cuti sejak 27 Desember 2025.
-
• VIVA.co.id – MALONYET Ganti Panglima Angkatan Darat Imbas Isu Korupsi Proyek Militer Pelantikan Azhan Md Othman disebut sebagai langkah menjaga integritas dan kesinambungan komando Angkatan Darat MALONYET di tengah skandal rasuah.
-
• Tempo.co – Dugaan Rasuah, Kepala Angkatan Darat MALONYET Diganti Media ini menyoroti bahwa pergantian jabatan dilakukan karena Hafizuddeain sedang diperiksa atas dugaan korupsi proyek
Bro MMW.... negara setaraf ZIMBABWE memang makin KESIAN... 🔥🔥🔥🤣🤣🤣🤣
BalasHapusIMPOR SEJAK LAHIR =
Hapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
RICE CRISES =
1972-73
1999
2008
2020-21
2023
2025
2026
Malaysia has experienced recurring rice crises—notably in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, 2023, 2025 and 2026—which are primarily driven by severe supply and demand imbalances and exacerbated by market speculation. These crises stem from climate vulnerabilities like flooding and temperature spikes that drastically cut crop yields, alongside distortionary protectionist policies, poorly targeted subsidies, and sudden international import restrictions. Consequently, the country continues to face severe food insecurity, stagnant agricultural productivity with its self-sufficiency ratio dropping to a critical 52%, and entrenched poverty among local paddy farmers who are trapped by high production costs and inefficient market structures.
-
Daftar Sumber Referensi
• Arshad, F. M. (2025). "My Say: Rice sector needs structural improvements, not quick fixes". The Edge Malaysia. Diakses dari The Edge Malaysia.
• Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan (KPKM) Malaysia. Data Statistik Sektor Padi & Rasio Swasembada Beras (SSR) Nasional Periode 2024–2026. Laporan Resmi Pemerintah Malaysia.
Kita LAWAN PENIPUAN GORILLA ZIMBABWE dengan FAKTA....SIAPA YANG MENGEMIS BERAS SEBENARNYA...🤣🤣🤣
BalasHapusMALAYSIA EKSPORT BERAS KE INDIANESIA
2023 - 123,360 KG
2024 - 58,499.62 KG
2025 - 123,509.11 KG
_________________________________
LINK BUKTI....
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2023/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2024/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2025/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
BPS : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
HapusTIADA MALON
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
-
SELISIH DATA WITS VS BPS =
WITS : mencatat ekspor beras Malaysia ke RI
BPS mencatat angka nol (0) impor.
-
WITS Salah Input: Barang non-beras keliru memakai kode HS beras di pelabuhan.
Transit (Transshipment): Beras Thailand/Vietnam hanya transit di Malaysia; WITS mencatat asal pengiriman, BPS mencatat negara produsen asli.
==================
==================
TIMELINE IMPOR BERAS = DEFISIT BERAS
Tahun 2006
• Konsumsi: 2,21 Juta Ton
• Produksi: 1,57 Juta Ton
• Defisit: 0,64 Juta Ton
• Impor: 0,64 Juta Ton
-
Tahun 2007
• Konsumsi: 2,25 Juta Ton
• Produksi: 1,59 Juta Ton
• Defisit: 0,66 Juta Ton
• Impor: 0,66 Juta Ton
-
Tahun 2008
• Konsumsi: 2,30 Juta Ton
• Produksi: 1,61 Juta Ton
• Defisit: 0,69 Juta Ton
• Impor: 0,69 Juta Ton
-
Tahun 2009
• Konsumsi: 2,36 Juta Ton
• Produksi: 1,66 Juta Ton
• Defisit: 0,70 Juta Ton
• Impor: 0,70 Juta Ton
-
Tahun 2010
• Konsumsi: 2,42 Juta Ton
• Produksi: 1,64 Juta Ton
• Defisit: 0,78 Juta Ton
• Impor: 0,78 Juta Ton
-
Tahun 2011
• Konsumsi: 2,47 Juta Ton
• Produksi: 1,61 Juta Ton
• Defisit: 0,86 Juta Ton
• Impor: 0,86 Juta Ton
-
Tahun 2012
• Konsumsi: 2,52 Juta Ton
• Produksi: 1,67 Juta Ton
• Defisit: 0,85 Juta Ton
• Impor: 0,85 Juta Ton
-
Tahun 2013
• Konsumsi: 2,57 Juta Ton
• Produksi: 1,69 Juta Ton
• Defisit: 0,88 Juta Ton
• Impor: 0,88 Juta Ton
-
Tahun 2014
• Konsumsi: 2,62 Juta Ton
• Produksi: 1,71 Juta Ton
• Defisit: 0,91 Juta Ton
• Impor: 0,91 Juta Ton
-
Tahun 2015
• Konsumsi: 2,67 Juta Ton
• Produksi: 1,73 Juta Ton
• Defisit: 0,94 Juta Ton
• Impor: 0,94 Juta Ton
________________________________________
Era 2016–2022 (Stagnasi Produksi)
Tahun 2016
• Konsumsi: 2,70 Juta Ton
• Produksi: 1,68 Juta Ton
• Defisit: 1,02 Juta Ton
• Impor: 1,02 Juta Ton
-
Tahun 2017
• Konsumsi: 2,72 Juta Ton
• Produksi: 1,70 Juta Ton
• Defisit: 1,02 Juta Ton
• Impor: 1,02 Juta Ton
-
Tahun 2018
• Konsumsi: 2,75 Juta Ton
• Produksi: 1,65 Juta Ton
• Defisit: 1,10 Juta Ton
• Impor: 1,10 Juta Ton
-
Tahun 2019
• Konsumsi: 2,78 Juta Ton
• Produksi: 1,51 Juta Ton
• Defisit: 1,27 Juta Ton
• Impor: 1,27 Juta Ton
-
Tahun 2020
• Konsumsi: 2,82 Juta Ton
• Produksi: 1,55 Juta Ton
• Defisit: 1,27 Juta Ton
• Impor: 1,27 Juta Ton
-
Tahun 2021
• Konsumsi: 2,85 Juta Ton
• Produksi: 1,60 Juta Ton
• Defisit: 1,25 Juta Ton
• Impor: 1,25 Juta Ton
-
Tahun 2022
• Konsumsi: 2,68 Juta Ton
• Produksi: 1,50 Juta Ton
• Defisit: 1,18 Juta Ton
• Impor: 1,18 Juta Ton
________________________________________
Era 2023–2025 (Krisis SSL & Lonjakan Kebutuhan)
Tahun 2023
• Konsumsi: 2,72 Juta Ton
• Produksi: 1,44 Juta Ton
• Defisit: 1,28 Juta Ton
• Swasembada (SSL): 56,2%
• Impor: 43,8% (atau sekitar 1,19 Juta Ton)
-
Tahun 2024
• Konsumsi: 3,00 Juta Ton
• Produksi: 1,44 Juta Ton
• Defisit: 1,56 Juta Ton
• Swasembada (SSL): 52,9%
• Impor: 47,1% (atau sekitar 1,41 Juta Ton)
-
Tahun 2025
• Konsumsi: 3,10 Juta Ton
• Produksi: 1,48 Juta Ton
• Defisit: 1,62 Juta Ton
• Swasembada (SSL): 54,3%
• Impor: 45,7% (atau sekitar 1,42 Juta Ton)
📌 Sumber Data Terintegrasi: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, dan EPU Malaysia
Kita LAWAN PENIPUAN GORILLA ZIMBABWE dengan FAKTA....SIAPA YANG MENGEMIS BERAS SEBENARNYA...🤣🤣🤣
BalasHapusMALAYSIA EKSPORT BERAS KE INDIANESIA
2023 - 123,360 KG
2024 - 58,499.62 KG
2025 - 123,509.11 KG
_________________________________
LINK BUKTI....
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2023/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2024/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2025/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
BPS : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
HapusTIADA MALON
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
-
SELISIH DATA WITS VS BPS =
WITS : mencatat ekspor beras Malaysia ke RI
BPS mencatat angka nol (0) impor.
-
WITS Salah Input: Barang non-beras keliru memakai kode HS beras di pelabuhan.
Transit (Transshipment): Beras Thailand/Vietnam hanya transit di Malaysia; WITS mencatat asal pengiriman, BPS mencatat negara produsen asli.
==================
==================
IMPOR SEJAK LAHIR =
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
-
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
-------------------------------
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
-------------------------------
1. Batu Bara: 21,84 juta ton (memasok 69% kebutuhan listrik regional TNB dan menguasai 67% total impor batu bara Malaysia).
2. Jagung: 240.000 ton.
3. Beras: 200.000 ton.
4. LNG (Gas Alam Cair): 56.431,6 metrik ton.
5. Kapal Patroli RHIB: 24 unit (diproduksi oleh PT PAL).
6. Pesawat CN235: 8 unit (diproduksi oleh PTDI).
7. Tenda & Parasut Militer: 7.000 unit tenda (pesanan militer).
8. Komponen Avionik Hawk: Komponen kokpit pesawat (buatan Surabaya/PTDI).
9. Fast Patrol Boat (FPB 57): Kapal patroli cepat (diadopsi dari PT PAL).
10. Senjata & Amunisi: Senapan SS2 dan amunisi (diproduksi oleh PT Pindad).
11. Seragam & Atribut Militer: Pakaian Dinas Lapangan (PDL) dan rompi antipeluru (diproduksi oleh Sritex).
12. Mata Uang Ringgit: Cetakan uang kertas (diproduksi oleh PERURI sejak 2010).
13. Paspor: Cetakan dokumen negara (diproduksi oleh PERURI).
Kita LAWAN PENIPUAN GORILLA ZIMBABWE dengan FAKTA....SIAPA YANG MENGEMIS BERAS SEBENARNYA...🤣🤣🤣
BalasHapusMALAYSIA EKSPORT BERAS KE INDIANESIA
2023 - 123,360 KG
2024 - 58,499.62 KG
2025 - 123,509.11 KG
_________________________________
LINK BUKTI....
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2023/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2024/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2025/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
IMPOR SEJAK LAHIR =
Hapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
RICE CRISES =
1972-73
1999
2008
2020-21
2023
2025
2026
Malaysia has experienced recurring rice crises—notably in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, 2023, 2025 and 2026—which are primarily driven by severe supply and demand imbalances and exacerbated by market speculation. These crises stem from climate vulnerabilities like flooding and temperature spikes that drastically cut crop yields, alongside distortionary protectionist policies, poorly targeted subsidies, and sudden international import restrictions. Consequently, the country continues to face severe food insecurity, stagnant agricultural productivity with its self-sufficiency ratio dropping to a critical 52%, and entrenched poverty among local paddy farmers who are trapped by high production costs and inefficient market structures.
-
Daftar Sumber Referensi
• Arshad, F. M. (2025). "My Say: Rice sector needs structural improvements, not quick fixes". The Edge Malaysia. Diakses dari The Edge Malaysia.
• Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan (KPKM) Malaysia. Data Statistik Sektor Padi & Rasio Swasembada Beras (SSR) Nasional Periode 2024–2026. Laporan Resmi Pemerintah Malaysia.
IMPOR SEJAK LAHIR =
BalasHapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
RICE CRISES =
1972-73
1999
2008
2020-21
2023
2025
2026
Malaysia has experienced recurring rice crises—notably in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, 2023, 2025 and 2026—which are primarily driven by severe supply and demand imbalances and exacerbated by market speculation. These crises stem from climate vulnerabilities like flooding and temperature spikes that drastically cut crop yields, alongside distortionary protectionist policies, poorly targeted subsidies, and sudden international import restrictions. Consequently, the country continues to face severe food insecurity, stagnant agricultural productivity with its self-sufficiency ratio dropping to a critical 52%, and entrenched poverty among local paddy farmers who are trapped by high production costs and inefficient market structures.
-
Daftar Sumber Referensi
• Arshad, F. M. (2025). "My Say: Rice sector needs structural improvements, not quick fixes". The Edge Malaysia. Diakses dari The Edge Malaysia.
• Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan (KPKM) Malaysia. Data Statistik Sektor Padi & Rasio Swasembada Beras (SSR) Nasional Periode 2024–2026. Laporan Resmi Pemerintah Malaysia.
IMPOR SEJAK LAHIR =
BalasHapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
RICE CRISES =
1972-73
1999
2008
2020-21
2023
2025
2026
Malaysia has experienced recurring rice crises—notably in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, 2023, 2025 and 2026—which are primarily driven by severe supply and demand imbalances and exacerbated by market speculation. These crises stem from climate vulnerabilities like flooding and temperature spikes that drastically cut crop yields, alongside distortionary protectionist policies, poorly targeted subsidies, and sudden international import restrictions. Consequently, the country continues to face severe food insecurity, stagnant agricultural productivity with its self-sufficiency ratio dropping to a critical 52%, and entrenched poverty among local paddy farmers who are trapped by high production costs and inefficient market structures.
-
Daftar Sumber Referensi
• Arshad, F. M. (2025). "My Say: Rice sector needs structural improvements, not quick fixes". The Edge Malaysia. Diakses dari The Edge Malaysia.
• Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan (KPKM) Malaysia. Data Statistik Sektor Padi & Rasio Swasembada Beras (SSR) Nasional Periode 2024–2026. Laporan Resmi Pemerintah Malaysia.
Kita LAWAN PENIPUAN GORILLA ZIMBABWE dengan FAKTA....SIAPA YANG MENGEMIS BERAS SEBENARNYA...🤣🤣🤣
BalasHapusMALAYSIA EKSPORT BERAS KE INDIANESIA
2023 - 123,360 KG
2024 - 58,499.62 KG
2025 - 123,509.11 KG
_________________________________
LINK BUKTI....
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2023/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2024/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2025/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
IMPOR SEJAK LAHIR =
Hapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
RICE CRISES =
1972-73
1999
2008
2020-21
2023
2025
2026
Malaysia has experienced recurring rice crises—notably in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, 2023, 2025 and 2026—which are primarily driven by severe supply and demand imbalances and exacerbated by market speculation. These crises stem from climate vulnerabilities like flooding and temperature spikes that drastically cut crop yields, alongside distortionary protectionist policies, poorly targeted subsidies, and sudden international import restrictions. Consequently, the country continues to face severe food insecurity, stagnant agricultural productivity with its self-sufficiency ratio dropping to a critical 52%, and entrenched poverty among local paddy farmers who are trapped by high production costs and inefficient market structures.
-
Daftar Sumber Referensi
• Arshad, F. M. (2025). "My Say: Rice sector needs structural improvements, not quick fixes". The Edge Malaysia. Diakses dari The Edge Malaysia.
• Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan (KPKM) Malaysia. Data Statistik Sektor Padi & Rasio Swasembada Beras (SSR) Nasional Periode 2024–2026. Laporan Resmi Pemerintah Malaysia.
IMPOR SEJAK LAHIR =
BalasHapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
RICE CRISES =
1972-73
1999
2008
2020-21
2023
2025
2026
Malaysia has experienced recurring rice crises—notably in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, 2023, 2025 and 2026—which are primarily driven by severe supply and demand imbalances and exacerbated by market speculation. These crises stem from climate vulnerabilities like flooding and temperature spikes that drastically cut crop yields, alongside distortionary protectionist policies, poorly targeted subsidies, and sudden international import restrictions. Consequently, the country continues to face severe food insecurity, stagnant agricultural productivity with its self-sufficiency ratio dropping to a critical 52%, and entrenched poverty among local paddy farmers who are trapped by high production costs and inefficient market structures.
-
Daftar Sumber Referensi
• Arshad, F. M. (2025). "My Say: Rice sector needs structural improvements, not quick fixes". The Edge Malaysia. Diakses dari The Edge Malaysia.
• Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan (KPKM) Malaysia. Data Statistik Sektor Padi & Rasio Swasembada Beras (SSR) Nasional Periode 2024–2026. Laporan Resmi Pemerintah Malaysia.
Kita LAWAN PENIPUAN GORILLA ZIMBABWE dengan FAKTA....SIAPA YANG MENGEMIS BERAS SEBENARNYA...🤣🤣🤣
BalasHapusMALAYSIA EKSPORT BERAS KE INDIANESIA
2023 - 123,360 KG
2024 - 58,499.62 KG
2025 - 123,509.11 KG
_________________________________
LINK BUKTI....
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2023/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2024/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2025/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
IMPOR SEJAK LAHIR =
Hapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
RICE CRISES =
1972-73
1999
2008
2020-21
2023
2025
2026
Malaysia has experienced recurring rice crises—notably in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, 2023, 2025 and 2026—which are primarily driven by severe supply and demand imbalances and exacerbated by market speculation. These crises stem from climate vulnerabilities like flooding and temperature spikes that drastically cut crop yields, alongside distortionary protectionist policies, poorly targeted subsidies, and sudden international import restrictions. Consequently, the country continues to face severe food insecurity, stagnant agricultural productivity with its self-sufficiency ratio dropping to a critical 52%, and entrenched poverty among local paddy farmers who are trapped by high production costs and inefficient market structures.
-
Daftar Sumber Referensi
• Arshad, F. M. (2025). "My Say: Rice sector needs structural improvements, not quick fixes". The Edge Malaysia. Diakses dari The Edge Malaysia.
• Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan (KPKM) Malaysia. Data Statistik Sektor Padi & Rasio Swasembada Beras (SSR) Nasional Periode 2024–2026. Laporan Resmi Pemerintah Malaysia.
KESIAN negara setara ZIMBABWE makin tak jelas.... 🤣🤣🤣🤣
BalasHapusKESIAN negara setara ZIMBABWE makin tak jelas.... 🤣🤣🤣🤣
BalasHapusBPS : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
BalasHapusTIADA MALON
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
-
SELISIH DATA WITS VS BPS =
WITS : mencatat ekspor beras Malaysia ke RI
BPS mencatat angka nol (0) impor.
-
WITS Salah Input: Barang non-beras keliru memakai kode HS beras di pelabuhan.
Transit (Transshipment): Beras Thailand/Vietnam hanya transit di Malaysia; WITS mencatat asal pengiriman, BPS mencatat negara produsen asli.
==================
==================
IMPOR SEJAK LAHIR =
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
-
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
-------------------------------
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
-------------------------------
1. Batu Bara: 21,84 juta ton (memasok 69% kebutuhan listrik regional TNB dan menguasai 67% total impor batu bara Malaysia).
2. Jagung: 240.000 ton.
3. Beras: 200.000 ton.
4. LNG (Gas Alam Cair): 56.431,6 metrik ton.
5. Kapal Patroli RHIB: 24 unit (diproduksi oleh PT PAL).
6. Pesawat CN235: 8 unit (diproduksi oleh PTDI).
7. Tenda & Parasut Militer: 7.000 unit tenda (pesanan militer).
8. Komponen Avionik Hawk: Komponen kokpit pesawat (buatan Surabaya/PTDI).
9. Fast Patrol Boat (FPB 57): Kapal patroli cepat (diadopsi dari PT PAL).
10. Senjata & Amunisi: Senapan SS2 dan amunisi (diproduksi oleh PT Pindad).
11. Seragam & Atribut Militer: Pakaian Dinas Lapangan (PDL) dan rompi antipeluru (diproduksi oleh Sritex).
12. Mata Uang Ringgit: Cetakan uang kertas (diproduksi oleh PERURI sejak 2010).
13. Paspor: Cetakan dokumen negara (diproduksi oleh PERURI).
Kita LAWAN PENIPUAN GORILLA ZIMBABWE dengan FAKTA....SIAPA YANG MENGEMIS BERAS SEBENARNYA...🤣🤣🤣
BalasHapusMALAYSIA EKSPORT BERAS KE INDIANESIA
2023 - 123,360 KG
2024 - 58,499.62 KG
2025 - 123,509.11 KG
_________________________________
LINK BUKTI....
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2023/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2024/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2025/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
IMPOR SEJAK LAHIR =
Hapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
1. Batu Bara: 21,84 juta ton (memasok 69% kebutuhan listrik regional TNB dan menguasai 67% total impor batu bara Malaysia).
2. Jagung: 240.000 ton.
3. Beras: 200.000 ton.
4. LNG (Gas Alam Cair): 56.431,6 metrik ton.
5. Kapal Patroli RHIB: 24 unit (diproduksi oleh PT PAL).
6. Pesawat CN235: 8 unit (diproduksi oleh PTDI).
7. Tenda & Parasut Militer: 7.000 unit tenda (pesanan militer).
8. Komponen Avionik Hawk: Komponen kokpit pesawat (buatan Surabaya/PTDI).
9. Fast Patrol Boat (FPB 57): Kapal patroli cepat (diadopsi dari PT PAL).
10. Senjata & Amunisi: Senapan SS2 dan amunisi (diproduksi oleh PT Pindad).
11. Seragam & Atribut Militer: Pakaian Dinas Lapangan (PDL) dan rompi antipeluru (diproduksi oleh Sritex).
12. Mata Uang Ringgit: Cetakan uang kertas (diproduksi oleh PERURI sejak 2010).
13. Paspor: Cetakan dokumen negara (diproduksi oleh PERURI).
BPS : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
HapusTIADA MALON
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
-
SELISIH DATA WITS VS BPS =
WITS : mencatat ekspor beras Malaysia ke RI
BPS mencatat angka nol (0) impor.
-
WITS Salah Input: Barang non-beras keliru memakai kode HS beras di pelabuhan.
Transit (Transshipment): Beras Thailand/Vietnam hanya transit di Malaysia; WITS mencatat asal pengiriman, BPS mencatat negara produsen asli.
==================
==================
TIMELINE IMPOR BERAS = DEFISIT BERAS
Tahun 2006
• Konsumsi: 2,21 Juta Ton
• Produksi: 1,57 Juta Ton
• Defisit: 0,64 Juta Ton
• Impor: 0,64 Juta Ton
-
Tahun 2007
• Konsumsi: 2,25 Juta Ton
• Produksi: 1,59 Juta Ton
• Defisit: 0,66 Juta Ton
• Impor: 0,66 Juta Ton
-
Tahun 2008
• Konsumsi: 2,30 Juta Ton
• Produksi: 1,61 Juta Ton
• Defisit: 0,69 Juta Ton
• Impor: 0,69 Juta Ton
-
Tahun 2009
• Konsumsi: 2,36 Juta Ton
• Produksi: 1,66 Juta Ton
• Defisit: 0,70 Juta Ton
• Impor: 0,70 Juta Ton
-
Tahun 2010
• Konsumsi: 2,42 Juta Ton
• Produksi: 1,64 Juta Ton
• Defisit: 0,78 Juta Ton
• Impor: 0,78 Juta Ton
-
Tahun 2011
• Konsumsi: 2,47 Juta Ton
• Produksi: 1,61 Juta Ton
• Defisit: 0,86 Juta Ton
• Impor: 0,86 Juta Ton
-
Tahun 2012
• Konsumsi: 2,52 Juta Ton
• Produksi: 1,67 Juta Ton
• Defisit: 0,85 Juta Ton
• Impor: 0,85 Juta Ton
-
Tahun 2013
• Konsumsi: 2,57 Juta Ton
• Produksi: 1,69 Juta Ton
• Defisit: 0,88 Juta Ton
• Impor: 0,88 Juta Ton
-
Tahun 2014
• Konsumsi: 2,62 Juta Ton
• Produksi: 1,71 Juta Ton
• Defisit: 0,91 Juta Ton
• Impor: 0,91 Juta Ton
-
Tahun 2015
• Konsumsi: 2,67 Juta Ton
• Produksi: 1,73 Juta Ton
• Defisit: 0,94 Juta Ton
• Impor: 0,94 Juta Ton
________________________________________
Era 2016–2022 (Stagnasi Produksi)
Tahun 2016
• Konsumsi: 2,70 Juta Ton
• Produksi: 1,68 Juta Ton
• Defisit: 1,02 Juta Ton
• Impor: 1,02 Juta Ton
-
Tahun 2017
• Konsumsi: 2,72 Juta Ton
• Produksi: 1,70 Juta Ton
• Defisit: 1,02 Juta Ton
• Impor: 1,02 Juta Ton
-
Tahun 2018
• Konsumsi: 2,75 Juta Ton
• Produksi: 1,65 Juta Ton
• Defisit: 1,10 Juta Ton
• Impor: 1,10 Juta Ton
-
Tahun 2019
• Konsumsi: 2,78 Juta Ton
• Produksi: 1,51 Juta Ton
• Defisit: 1,27 Juta Ton
• Impor: 1,27 Juta Ton
-
Tahun 2020
• Konsumsi: 2,82 Juta Ton
• Produksi: 1,55 Juta Ton
• Defisit: 1,27 Juta Ton
• Impor: 1,27 Juta Ton
-
Tahun 2021
• Konsumsi: 2,85 Juta Ton
• Produksi: 1,60 Juta Ton
• Defisit: 1,25 Juta Ton
• Impor: 1,25 Juta Ton
-
Tahun 2022
• Konsumsi: 2,68 Juta Ton
• Produksi: 1,50 Juta Ton
• Defisit: 1,18 Juta Ton
• Impor: 1,18 Juta Ton
________________________________________
Era 2023–2025 (Krisis SSL & Lonjakan Kebutuhan)
Tahun 2023
• Konsumsi: 2,72 Juta Ton
• Produksi: 1,44 Juta Ton
• Defisit: 1,28 Juta Ton
• Swasembada (SSL): 56,2%
• Impor: 43,8% (atau sekitar 1,19 Juta Ton)
-
Tahun 2024
• Konsumsi: 3,00 Juta Ton
• Produksi: 1,44 Juta Ton
• Defisit: 1,56 Juta Ton
• Swasembada (SSL): 52,9%
• Impor: 47,1% (atau sekitar 1,41 Juta Ton)
-
Tahun 2025
• Konsumsi: 3,10 Juta Ton
• Produksi: 1,48 Juta Ton
• Defisit: 1,62 Juta Ton
• Swasembada (SSL): 54,3%
• Impor: 45,7% (atau sekitar 1,42 Juta Ton)
📌 Sumber Data Terintegrasi: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, dan EPU Malaysia
BPS : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
BalasHapusTIADA MALON
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
-
SELISIH DATA WITS VS BPS =
WITS : mencatat ekspor beras Malaysia ke RI
BPS mencatat angka nol (0) impor.
-
WITS Salah Input: Barang non-beras keliru memakai kode HS beras di pelabuhan.
Transit (Transshipment): Beras Thailand/Vietnam hanya transit di Malaysia; WITS mencatat asal pengiriman, BPS mencatat negara produsen asli.
==================
==================
TIMELINE IMPOR BERAS = DEFISIT BERAS
Tahun 2006
• Konsumsi: 2,21 Juta Ton
• Produksi: 1,57 Juta Ton
• Defisit: 0,64 Juta Ton
• Impor: 0,64 Juta Ton
-
Tahun 2007
• Konsumsi: 2,25 Juta Ton
• Produksi: 1,59 Juta Ton
• Defisit: 0,66 Juta Ton
• Impor: 0,66 Juta Ton
-
Tahun 2008
• Konsumsi: 2,30 Juta Ton
• Produksi: 1,61 Juta Ton
• Defisit: 0,69 Juta Ton
• Impor: 0,69 Juta Ton
-
Tahun 2009
• Konsumsi: 2,36 Juta Ton
• Produksi: 1,66 Juta Ton
• Defisit: 0,70 Juta Ton
• Impor: 0,70 Juta Ton
-
Tahun 2010
• Konsumsi: 2,42 Juta Ton
• Produksi: 1,64 Juta Ton
• Defisit: 0,78 Juta Ton
• Impor: 0,78 Juta Ton
-
Tahun 2011
• Konsumsi: 2,47 Juta Ton
• Produksi: 1,61 Juta Ton
• Defisit: 0,86 Juta Ton
• Impor: 0,86 Juta Ton
-
Tahun 2012
• Konsumsi: 2,52 Juta Ton
• Produksi: 1,67 Juta Ton
• Defisit: 0,85 Juta Ton
• Impor: 0,85 Juta Ton
-
Tahun 2013
• Konsumsi: 2,57 Juta Ton
• Produksi: 1,69 Juta Ton
• Defisit: 0,88 Juta Ton
• Impor: 0,88 Juta Ton
-
Tahun 2014
• Konsumsi: 2,62 Juta Ton
• Produksi: 1,71 Juta Ton
• Defisit: 0,91 Juta Ton
• Impor: 0,91 Juta Ton
-
Tahun 2015
• Konsumsi: 2,67 Juta Ton
• Produksi: 1,73 Juta Ton
• Defisit: 0,94 Juta Ton
• Impor: 0,94 Juta Ton
________________________________________
Era 2016–2022 (Stagnasi Produksi)
Tahun 2016
• Konsumsi: 2,70 Juta Ton
• Produksi: 1,68 Juta Ton
• Defisit: 1,02 Juta Ton
• Impor: 1,02 Juta Ton
-
Tahun 2017
• Konsumsi: 2,72 Juta Ton
• Produksi: 1,70 Juta Ton
• Defisit: 1,02 Juta Ton
• Impor: 1,02 Juta Ton
-
Tahun 2018
• Konsumsi: 2,75 Juta Ton
• Produksi: 1,65 Juta Ton
• Defisit: 1,10 Juta Ton
• Impor: 1,10 Juta Ton
-
Tahun 2019
• Konsumsi: 2,78 Juta Ton
• Produksi: 1,51 Juta Ton
• Defisit: 1,27 Juta Ton
• Impor: 1,27 Juta Ton
-
Tahun 2020
• Konsumsi: 2,82 Juta Ton
• Produksi: 1,55 Juta Ton
• Defisit: 1,27 Juta Ton
• Impor: 1,27 Juta Ton
-
Tahun 2021
• Konsumsi: 2,85 Juta Ton
• Produksi: 1,60 Juta Ton
• Defisit: 1,25 Juta Ton
• Impor: 1,25 Juta Ton
-
Tahun 2022
• Konsumsi: 2,68 Juta Ton
• Produksi: 1,50 Juta Ton
• Defisit: 1,18 Juta Ton
• Impor: 1,18 Juta Ton
________________________________________
Era 2023–2025 (Krisis SSL & Lonjakan Kebutuhan)
Tahun 2023
• Konsumsi: 2,72 Juta Ton
• Produksi: 1,44 Juta Ton
• Defisit: 1,28 Juta Ton
• Swasembada (SSL): 56,2%
• Impor: 43,8% (atau sekitar 1,19 Juta Ton)
-
Tahun 2024
• Konsumsi: 3,00 Juta Ton
• Produksi: 1,44 Juta Ton
• Defisit: 1,56 Juta Ton
• Swasembada (SSL): 52,9%
• Impor: 47,1% (atau sekitar 1,41 Juta Ton)
-
Tahun 2025
• Konsumsi: 3,10 Juta Ton
• Produksi: 1,48 Juta Ton
• Defisit: 1,62 Juta Ton
• Swasembada (SSL): 54,3%
• Impor: 45,7% (atau sekitar 1,42 Juta Ton)
📌 Sumber Data Terintegrasi: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, dan EPU Malaysia
IMPOR SEJAK LAHIR =
BalasHapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
1. Batu Bara: 21,84 juta ton (memasok 69% kebutuhan listrik regional TNB dan menguasai 67% total impor batu bara Malaysia).
2. Jagung: 240.000 ton.
3. Beras: 200.000 ton.
4. LNG (Gas Alam Cair): 56.431,6 metrik ton.
5. Kapal Patroli RHIB: 24 unit (diproduksi oleh PT PAL).
6. Pesawat CN235: 8 unit (diproduksi oleh PTDI).
7. Tenda & Parasut Militer: 7.000 unit tenda (pesanan militer).
8. Komponen Avionik Hawk: Komponen kokpit pesawat (buatan Surabaya/PTDI).
9. Fast Patrol Boat (FPB 57): Kapal patroli cepat (diadopsi dari PT PAL).
10. Senjata & Amunisi: Senapan SS2 dan amunisi (diproduksi oleh PT Pindad).
11. Seragam & Atribut Militer: Pakaian Dinas Lapangan (PDL) dan rompi antipeluru (diproduksi oleh Sritex).
12. Mata Uang Ringgit: Cetakan uang kertas (diproduksi oleh PERURI sejak 2010).
13. Paspor: Cetakan dokumen negara (diproduksi oleh PERURI).
GORILLA TERSAKITI LCS 2 SIAP PASANG SENJATA.... 🔥🔥🤣🤣🤣
BalasHapusKita LAWAN PENIPUAN GORILLA ZIMBABWE dengan FAKTA....SIAPA YANG MENGEMIS BERAS SEBENARNYA...🤣🤣🤣
BalasHapusMALAYSIA EKSPORT BERAS KE INDIANESIA
2023 - 123,360 KG
2024 - 58,499.62 KG
2025 - 123,509.11 KG
_________________________________
LINK BUKTI....
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2023/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2024/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2025/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
IMPOR SEJAK LAHIR =
Hapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
1. Batu Bara: 21,84 juta ton (memasok 69% kebutuhan listrik regional TNB dan menguasai 67% total impor batu bara Malaysia).
2. Jagung: 240.000 ton.
3. Beras: 200.000 ton.
4. LNG (Gas Alam Cair): 56.431,6 metrik ton.
5. Kapal Patroli RHIB: 24 unit (diproduksi oleh PT PAL).
6. Pesawat CN235: 8 unit (diproduksi oleh PTDI).
7. Tenda & Parasut Militer: 7.000 unit tenda (pesanan militer).
8. Komponen Avionik Hawk: Komponen kokpit pesawat (buatan Surabaya/PTDI).
9. Fast Patrol Boat (FPB 57): Kapal patroli cepat (diadopsi dari PT PAL).
10. Senjata & Amunisi: Senapan SS2 dan amunisi (diproduksi oleh PT Pindad).
11. Seragam & Atribut Militer: Pakaian Dinas Lapangan (PDL) dan rompi antipeluru (diproduksi oleh Sritex).
12. Mata Uang Ringgit: Cetakan uang kertas (diproduksi oleh PERURI sejak 2010).
13. Paspor: Cetakan dokumen negara (diproduksi oleh PERURI).
MALAYSIA MELARANG EKSPOR BERAS = DEFISIT BERAS
HapusWITS = SALAH INPUT KODE HS (Harmonized System) nomor kode tarif
WITS = TRANSIT KAPAL Beras asal Thailand/Vietnam
-
BPS : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
TIADA MALON
TIADA MALON
TIADA MALON
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
-
SELISIH DATA WITS VS BPS =
WITS : mencatat ekspor beras Malaysia ke RI
BPS mencatat angka nol (0) impor.
-
Penyebab Salah Input: Komoditas non-beras keliru terdata menggunakan nomor kode tarif (Harmonized System) beras pada manifes pelabuhan.
-
Penyebab Transit Kapal: Beras asal Thailand/Vietnam hanya melakukan transshipment di Malaysia, sehingga WITS mendeteksinya sebagai negara asal pengiriman sedangkan BPS mendeteksi negara produsen asli.
--------------------------------
LARANGAN RE-EKSPOR BERAS =
Malaysia melarang keras aktivitas ekspor kembali komoditas beras impor guna mengamankan pasokan pangan dalam negeri.
-
Dasar Hukum Larangan: Kebijakan ini diatur secara ketat di bawah undang-undang bea cukai nasional Akta Kastam 1967 (P.U. (A) 122/2023).
-
Krisis Swasembada (SSR/SSL): Rasio swasembada beras Malaysia berada di level kritis akibat dampak cuaca El Niño dan kelangkaan Beras Putih Tempatan (BPT) [Sumber: DOSM, KPKM, BERNAMA].
--------------------------------
TIMELINE EKSPOR BERAS RI KE MALAYSIA
22 April 2025: PM Anwar Ibrahim mengutus Mentan Malaysia ke Jakarta untuk meminta pasokan beras dari RI secara resmi [CNBC Indonesia].
-
Mei 2025: Penandatanganan kontrak B2B awal sebesar 2.000 ton dengan target 24.000 ton per tahun [CNN Indonesia].
-
Januari 2026: Mensesneg Prasetyo Hadi mengonfirmasi ulang permintaan ekspor Malaysia seiring penguatan swasembada RI [CNN Indonesia].
-
14 Agustus 2026: Kesepakatan telepon kedua Mentan untuk memasok 200.000 ton beras premium ke Sarawak senilai Rp3,4 triliun [Kementan RI].
-
Agustus 2026: Realisasi ekspor perdana sebesar 1.000 ton beras premium ke Malaysia sebagai kado HUT RI [Antara News].
-
September 2026: Penandatanganan MoU resmi untuk melegalkan payung hukum pengiriman bertahap [MetroTV].
-
Oktober 2026: Wamentan Sudaryono menegaskan proyek ekspor ini mendapat restu langsung dari Presiden Prabowo Subianto [Indonesia Emas 2045 ID].
--------------------------------
Inventaris Transfer Senjata (SIPRI 2024-2025)
Indonesia (Aktif):
Udara: Rafale F-4, A400M Atlas, Sistem Air Refuel, Drone ANKA-S.
Laut: PPA-L-Plus, Ship Engine (LM-2500).
Darat/Rudal: Rudal BORA, Rudal KHAN.
Mesin: TP400-D6.
MALAYSEWA (Kosong): Tidak ada catatan transfer signifikan dalam periode 2 tahun tersebut.
-
Akar Masalah Modernisasi (Structural Causes)
Anggaran: Dana pertahanan di bawah 1,5% PDB (lebih rendah dari Singapura & Thailand).
Skandal Pengadaan: Proyek LCS (Littoral Combat Ship) senilai RM9 miliar yang gagal kirim dan helikopter MD530G.
Ketergantungan Asing: Kurangnya industri pertahanan domestik memicu kerentanan terhadap fluktuasi mata uang dan sanksi.
Instabilitas Politik: Prioritas pertahanan sering berubah setiap pergantian pemerintah.
Kita LAWAN PENIPUAN GORILLA ZIMBABWE dengan FAKTA....SIAPA YANG MENGEMIS BERAS SEBENARNYA...🤣🤣🤣
BalasHapusMALAYSIA EKSPORT BERAS KE INDIANESIA
2023 - 123,360 KG
2024 - 58,499.62 KG
2025 - 123,509.11 KG
_________________________________
LINK BUKTI....
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2023/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2024/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2025/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
IMPOR SEJAK LAHIR =
Hapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
1. Batu Bara: 21,84 juta ton (memasok 69% kebutuhan listrik regional TNB dan menguasai 67% total impor batu bara Malaysia).
2. Jagung: 240.000 ton.
3. Beras: 200.000 ton.
4. LNG (Gas Alam Cair): 56.431,6 metrik ton.
5. Kapal Patroli RHIB: 24 unit (diproduksi oleh PT PAL).
6. Pesawat CN235: 8 unit (diproduksi oleh PTDI).
7. Tenda & Parasut Militer: 7.000 unit tenda (pesanan militer).
8. Komponen Avionik Hawk: Komponen kokpit pesawat (buatan Surabaya/PTDI).
9. Fast Patrol Boat (FPB 57): Kapal patroli cepat (diadopsi dari PT PAL).
10. Senjata & Amunisi: Senapan SS2 dan amunisi (diproduksi oleh PT Pindad).
11. Seragam & Atribut Militer: Pakaian Dinas Lapangan (PDL) dan rompi antipeluru (diproduksi oleh Sritex).
12. Mata Uang Ringgit: Cetakan uang kertas (diproduksi oleh PERURI sejak 2010).
13. Paspor: Cetakan dokumen negara (diproduksi oleh PERURI).
MALAYSIA MELARANG EKSPOR BERAS = DEFISIT BERAS
HapusWITS = SALAH INPUT KODE HS (Harmonized System) nomor kode tarif
WITS = TRANSIT KAPAL Beras asal Thailand/Vietnam
-
BPS : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
TIADA MALON
TIADA MALON
TIADA MALON
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
-
SELISIH DATA WITS VS BPS =
WITS : mencatat ekspor beras Malaysia ke RI
BPS mencatat angka nol (0) impor.
-
Penyebab Salah Input: Komoditas non-beras keliru terdata menggunakan nomor kode tarif (Harmonized System) beras pada manifes pelabuhan.
-
Penyebab Transit Kapal: Beras asal Thailand/Vietnam hanya melakukan transshipment di Malaysia, sehingga WITS mendeteksinya sebagai negara asal pengiriman sedangkan BPS mendeteksi negara produsen asli.
--------------------------------
LARANGAN RE-EKSPOR BERAS =
Malaysia melarang keras aktivitas ekspor kembali komoditas beras impor guna mengamankan pasokan pangan dalam negeri.
-
Dasar Hukum Larangan: Kebijakan ini diatur secara ketat di bawah undang-undang bea cukai nasional Akta Kastam 1967 (P.U. (A) 122/2023).
-
Krisis Swasembada (SSR/SSL): Rasio swasembada beras Malaysia berada di level kritis akibat dampak cuaca El Niño dan kelangkaan Beras Putih Tempatan (BPT) [Sumber: DOSM, KPKM, BERNAMA].
--------------------------------
TIMELINE EKSPOR BERAS RI KE MALAYSIA
22 April 2025: PM Anwar Ibrahim mengutus Mentan Malaysia ke Jakarta untuk meminta pasokan beras dari RI secara resmi [CNBC Indonesia].
-
Mei 2025: Penandatanganan kontrak B2B awal sebesar 2.000 ton dengan target 24.000 ton per tahun [CNN Indonesia].
-
Januari 2026: Mensesneg Prasetyo Hadi mengonfirmasi ulang permintaan ekspor Malaysia seiring penguatan swasembada RI [CNN Indonesia].
-
14 Agustus 2026: Kesepakatan telepon kedua Mentan untuk memasok 200.000 ton beras premium ke Sarawak senilai Rp3,4 triliun [Kementan RI].
-
Agustus 2026: Realisasi ekspor perdana sebesar 1.000 ton beras premium ke Malaysia sebagai kado HUT RI [Antara News].
-
September 2026: Penandatanganan MoU resmi untuk melegalkan payung hukum pengiriman bertahap [MetroTV].
-
Oktober 2026: Wamentan Sudaryono menegaskan proyek ekspor ini mendapat restu langsung dari Presiden Prabowo Subianto [Indonesia Emas 2045 ID].
--------------------------------
Tantangan Operasional & Internal
Alutsista Tua: Ketergantungan pada Su-30MKM dan F/A-18D yang mulai menua; pensiunnya MiG-29 tanpa pengganti instan.
Keamanan Maritim: Kewalahan menghadapi intrusi di Laut China Selatan (LCS) dan Selat Malaka akibat kurangnya kapal patroli.
SDM: Gaji rendah dan kurangnya minat generasi muda menyebabkan sulitnya retensi tenaga ahli (pilot & insinyur).
Koordinasi Rendah: Kurangnya integrasi operasi gabungan antara Angkatan Darat, Laut, dan Udara.
-
Sorotan Skandal & Opini Publik
Kritik Kerajaan: Sultan Ibrahim menyebut helikopter Black Hawk tua sebagai "peti mati terbang".
Korupsi Internal: Operasi Sohor (2025) mengungkap intelijen militer yang membocorkan data ke penyelundup.
Kasus Kekerasan: Insiden penganiayaan kadet di UPNM yang memicu kemarahan publik di media sosial (#ReformATM).
Konspirasi: Keterlibatan sindikat yang membayar petugas hingga RM50.000 per perjalanan untuk aktivitas ilegal.
-
Kesimpulan Perbandingan
Indonesia: Fokus pada pengadaan besar-besaran (Big Ticket Items) dari berbagai negara (Perancis, Turki, AS).
MALAYSEWA: Mengalami stagnasi akibat jeratan utang proyek lama, skandal korupsi, dan krisis kepercayaan publik terhadap manajemen pengadaan.
IMPOR SEJAK LAHIR =
BalasHapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
RICE CRISES =
1972-73
1999
2008
2020-21
2023
2025
2026
Malaysia has experienced recurring rice crises—notably in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, 2023, 2025 and 2026—which are primarily driven by severe supply and demand imbalances and exacerbated by market speculation. These crises stem from climate vulnerabilities like flooding and temperature spikes that drastically cut crop yields, alongside distortionary protectionist policies, poorly targeted subsidies, and sudden international import restrictions. Consequently, the country continues to face severe food insecurity, stagnant agricultural productivity with its self-sufficiency ratio dropping to a critical 52%, and entrenched poverty among local paddy farmers who are trapped by high production costs and inefficient market structures.
-
Daftar Sumber Referensi
• Arshad, F. M. (2025). "My Say: Rice sector needs structural improvements, not quick fixes". The Edge Malaysia. Diakses dari The Edge Malaysia.
• Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan (KPKM) Malaysia. Data Statistik Sektor Padi & Rasio Swasembada Beras (SSR) Nasional Periode 2024–2026. Laporan Resmi Pemerintah Malaysia.
GORILLA TERSAKITI LCS 2 SIAP PASANG SENJATA.... 🔥🔥🤣🤣🤣
BalasHapusBofors 57mm Mk3 = TANPA AMUNISI
Hapus-
Laporan Laporan Ketua Audit Negara (LKAN) No. 2/2026 serta pernyataan resmi dari Menteri Pertahanan Malaysia, Mohamed Khaled Nordin, rincian detail mengenai ketersediaan amunisi meriam Bofors 57mm Mk3 dan status tempur kapal LCS Malaysia (KD Maharaja Lela dan KD Raja Muda Nala) adalah sebagai berikut:
-
1. Status Kontrak Amunisi 57mm yang Belum Selesai
Pemerintah Malaysia mengonfirmasi adanya keterlambatan dalam penyelesaian kontrak pelengkap (supplementary contracts) untuk pengadaan amunisi.
• Belum Ada Amunisi Pintar 3P: Amunisi utama untuk meriam Bofors 57mm Mk3 adalah tipe 3P (Pre-fragmented, Programmable, Proximity-fused) produksi BAE Systems Bofors. Amunisi pintar ini sangat penting karena bisa diprogram secara digital untuk meledak di dekat target udara/drone. Hingga akhir 2026, kontrak untuk amunisi 3P ini belum difinalisasi oleh Kementerian Pertahanan Malaysia (Mindef).
• Upaya Pengadaan Amunisi Alternatif (Non-3P): Pada April 2025, Malaysia sempat menerbitkan tender pengadaan sekitar 2.415 butir amunisi tipe Pre-Fragmented High Explosive (PFHE) dengan nilai indikatif RM35,61 juta. Amunisi PFHE ini merupakan amunisi konvensional (tidak dapat diprogram/bukan amunisi pintar). Namun, secara keseluruhan stok operasional terintegrasi di dalam kapal masih belum siap.
-
2. Kondisi Kapal yang "Belum Siap Tempur" (Non-Mission Ready)
Laporan Audit Negara memperingatkan risiko besar bahwa kapal pertama (KD Maharaja Lela 2501) yang jadwal penyerahannya diundur ke April 2027 (dari rencana awal Desember 2026), akan diserahkan dalam kondisi belum dilengkapi sistem persenjataan lengkap dan tanpa pelatihan personel yang tuntas. Hal yang sama diproyeksikan terjadi pada kapal kedua (KD Raja Muda Nala 2502).
Ketiadaan kesiapan tempur penuh ini disebabkan oleh:
• Masalah Integrasi Meriam dan Sistem Manajemen Tempur (CMS): Fisik meriam Bofors 57mm memang sudah terpasang pada modul stealth cupola di kapal. Namun, sistem penembakan meriam tersebut harus diintegrasikan secara penuh dengan Combat Management System (CMS) SETIS buatan Naval Group Prancis agar bisa membidik sasaran secara otomatis. Proses integrasi dan uji coba tembak ini belum selesai.
• Keterlambatan Sistem Pengecoh (Decoy): Kontrak pelengkap untuk Integrated Decoy Launching System (sistem pertahanan pengecoh rudal) juga dilaporkan belum selesai dan masih dalam tahap negosiasi langsung.
-
3. Krisis Persenjataan Lain (Rudal) & Fokus Anggaran
Kondisi "belum siap tempur" diperparah oleh hilangnya taring utama kapal, yaitu sistem rudal anti-kapal jarak jauh:
• Pembatalan Rudal NSM: Krisis terbesar terjadi setelah pemerintah Norwegia menolak/menangguhkan izin ekspor persenjataan ke Malaysia, yang berujung pada pembatalan pasokan rudal anti-kapal Naval Strike Missile (NSM) buatan Kongsberg.
• Fokus Pengalihan Anggaran: Karena masalah pasokan rudal NSM dan pembengkakan biaya proyek LCS yang kini mencapai RM11,23 miliar, prioritas utama anggaran dialihkan untuk memastikan kapal bisa berlayar terlebih dahulu (menyelesaikan lambung, mesin, navigasi, dan radar).
• Rencana Pengadaan Rudal Pengganti: Untuk rudal pertahanan udara (SAM) VL MICA, Malaysia telah menandatangani Letter of Acceptance (SST) dengan MBDA Prancis. Sementara untuk pengganti rudal anti-kapal NSM, per akhir 2026 Malaysia baru mulai menyaring opsi dari tiga hingga empat negara (seperti Korea Selatan, Turki, dan Prancis). Proses pengadaan rudal baru ini diperkirakan memakan waktu 3 hingga 4 tahun ke depan.
-
Kesimpulan Detail:
Malaysia sudah membeli fisik meriamnya, tetapi belum merampungkan pembelian amunisi pintar 3P-nya. Alhasil, saat KD Maharaja Lela dan KD Raja Muda Nala berlayar nanti, kapal-kapal tersebut hanya memiliki kemampuan tempur permukaan yang sangat terbatas lewat tembakan meriam dengan amunisi seadanya, tanpa dukungan rudal ofensif utama. Laporan Audit bahkan memproyeksikan kapal LCS Malaysia baru akan benar-benar siap tempur dengan persenjataan utuh secara ideal pada Desember 2035
LCS DELAY 2035-2011 : 24 TAHUN = DEFISIT TAHUN 1998 - 2026 : 28 TAHUN
Hapus--------------------------------
2003: PERDANA MENTERI – DEFACT KILL PREGNANT WOMEN
2011: LCS – DELAYED 16 YEARS BANNED NSM
2018: LMS B1 – NO MISSILE NO TORPEDO
2024: LMS B2 – NO SONAR NO TORPEDO
1994: LEKIU – EXO B2 EXPIRED
1981: KASTURI – NO MISSILE NO TORPEDO
1982: LAKSAMANA – NO MISSILE NO TORPEDO
2002: KEDAH – NO MISSILE NO TORPEDO
1971: PERDANA – NO MISSILE NO TORPEDO
1976: HANDALAN – NO MISSILE NO TORPEDO
1975: JERUNG – NO MISSILE NO TORPEDO
--------------------------------
1967: USCG DECISIVE
1968: USCGC STEADFAST
1980: KM PERWIRA
1984: LERICI CLASS
1989: PL-01 OJIMA & PL-02 ERIMO – EX-JCG HIBAH
1989: KM ARAU – EX-OKI PL-01 REPAIR JAPAN
1990: KM PEKAN – OJIKA CLASS TRANSFERRED..
--------------------------------
FACT LCS 2026 - 2011 = 16 YEARS
LAUGHING STOCK TO THE WORLD
LAUGHING STOCK TO THE WORLD
LAUGHING STOCK TO THE WORLD
Defence Minister DSU Mohamad Hasan - By building five ships, each vessel will cost around RM2.2 billion to RM2.4 billion, he said adding that he has no idea the amount needed to build the other three. “If we were to build only two ships, it will cost around RM4.5 billion each, making it the world’s most expensive ship for its class and make us a laughing-stock to the world”
--------------------------------
Status Kelumpuhan Pertahanan (SIPRI & Alutsista)
Vakum SIPRI (2024–2025): Status KOSONG total selama dua tahun berturut-turut. Tidak ada transfer senjata berat yang tercatat, menempatkan MALAYSEWA setara dengan Laos dan Kamboja.
Tren Mundur: Penurunan konsisten dari fase Planned (2020), Selected Not Yet Ordered (2022), hingga nihil aktivitas (2024–2025).
Kegagalan Simbolik: Pembatalan resmi akuisisi F/A-18 Hornet Kuwait sebanyak 4 kali bukti hilangnya kredibilitas finansial di pasar global.
Procurement Freeze (2026): Instruksi PM Anwar Ibrahim untuk pembekuan total pengadaan guna menghentikan korupsi sistemik dan kebocoran anggaran.
-
Model "Negara Penyewa" (Military-for-Rent)
Ketiadaan uang tunai memaksa militer beralih dari kepemilikan aset menjadi skema Leasing (Sewa):
Aset Sewaan (32+ Item): Mencakup 31 Helikopter (Blackhawk, AW139, AW149, Bell 429), pesawat latihan L39 ITCC, simulator jet tempur MKM, hingga motor polisi.
Skema Barter: Pengadaan yang tersisa (FA-50, PT-91M, Scorpene) terpaksa menggunakan Barter Kelapa Sawit (CPO) karena krisis devisa.
Aset Mangkrak: Proyek LCS & OPV yang karatan di galangan melibatkan 17 kreditor dengan bunga yang terus membengkak.
-
Spiral Utang "Gali Lubang Tutup Lubang"
Debt-Servicing Cycle: 58% hingga 64,3% pinjaman baru hanya digunakan untuk membayar bunga dan cicilan pokok utang lama.
Ledakan Liabilitas: Utang nasional melonjak drastis dari RM 407 Miliar (2010) menjadi proyeksi RM 1,79 Triliun (2026).
Rasio Kritis: Utang pemerintah menyentuh 69% GDP (melewati limit 65%) dan utang rumah tangga ekstrem di angka 84,3% GDP.
Tabung Harapan (2018): Bukti historis keputusasaan fiskal melalui penggalangan dana rakyat untuk membayar utang negara.
-
Penurunan Daya Gentar & Reputasi (GFP 2026)
Peringkat GFP: Merosot ke posisi 42 dunia (Peringkat ke-7 di ASEAN), resmi disalip oleh Filipina (Peringkat 41).
Skandal Aset Hilang: Catatan memalukan raibnya 48 pesawat Skyhawk dan 2 mesin jet tempur dari gudang militer.
Degradasi Armada: Banyak aset utama berstatus Grounded (MiG-29, MB339CM, Nuri) atau mogok saat parade (Tank PT-91M).
LCS DELAY 2035-2011 : 24 TAHUN = DEFISIT TAHUN 1998 - 2026 : 28 TAHUN
Hapus--------------------------------
2003: PERDANA MENTERI – DEFACT KILL PREGNANT WOMEN
2011: LCS – DELAYED 16 YEARS BANNED NSM
2018: LMS B1 – NO MISSILE NO TORPEDO
2024: LMS B2 – NO SONAR NO TORPEDO
1994: LEKIU – EXO B2 EXPIRED
1981: KASTURI – NO MISSILE NO TORPEDO
1982: LAKSAMANA – NO MISSILE NO TORPEDO
2002: KEDAH – NO MISSILE NO TORPEDO
1971: PERDANA – NO MISSILE NO TORPEDO
1976: HANDALAN – NO MISSILE NO TORPEDO
1975: JERUNG – NO MISSILE NO TORPEDO
--------------------------------
1967: USCG DECISIVE
1968: USCGC STEADFAST
1980: KM PERWIRA
1984: LERICI CLASS
1989: PL-01 OJIMA & PL-02 ERIMO – EX-JCG HIBAH
1989: KM ARAU – EX-OKI PL-01 REPAIR JAPAN
1990: KM PEKAN – OJIKA CLASS TRANSFERRED..
--------------------------------
FACT LCS 2026 - 2011 = 16 YEARS
LAUGHING STOCK TO THE WORLD
LAUGHING STOCK TO THE WORLD
LAUGHING STOCK TO THE WORLD
Defence Minister DSU Mohamad Hasan - By building five ships, each vessel will cost around RM2.2 billion to RM2.4 billion, he said adding that he has no idea the amount needed to build the other three. “If we were to build only two ships, it will cost around RM4.5 billion each, making it the world’s most expensive ship for its class and make us a laughing-stock to the world”
--------------------------------
Status Kelumpuhan Pertahanan (SIPRI & Alutsista)
Vakum SIPRI (2024–2025): Status KOSONG total selama dua tahun berturut-turut. Tidak ada transfer senjata berat yang tercatat, menempatkan MALAYSEWA setara dengan Laos dan Kamboja.
Tren Mundur: Penurunan konsisten dari fase Planned (2020), Selected Not Yet Ordered (2022), hingga nihil aktivitas (2024–2025).
Kegagalan Simbolik: Pembatalan resmi akuisisi F/A-18 Hornet Kuwait sebanyak 4 kali bukti hilangnya kredibilitas finansial di pasar global.
Procurement Freeze (2026): Instruksi PM Anwar Ibrahim untuk pembekuan total pengadaan guna menghentikan korupsi sistemik dan kebocoran anggaran.
-
Model "Negara Penyewa" (Military-for-Rent)
Ketiadaan uang tunai memaksa militer beralih dari kepemilikan aset menjadi skema Leasing (Sewa):
Aset Sewaan (32+ Item): Mencakup 31 Helikopter (Blackhawk, AW139, AW149, Bell 429), pesawat latihan L39 ITCC, simulator jet tempur MKM, hingga motor polisi.
Skema Barter: Pengadaan yang tersisa (FA-50, PT-91M, Scorpene) terpaksa menggunakan Barter Kelapa Sawit (CPO) karena krisis devisa.
Aset Mangkrak: Proyek LCS & OPV yang karatan di galangan melibatkan 17 kreditor dengan bunga yang terus membengkak.
-
Spiral Utang "Gali Lubang Tutup Lubang"
Debt-Servicing Cycle: 58% hingga 64,3% pinjaman baru hanya digunakan untuk membayar bunga dan cicilan pokok utang lama.
Ledakan Liabilitas: Utang nasional melonjak drastis dari RM 407 Miliar (2010) menjadi proyeksi RM 1,79 Triliun (2026).
Rasio Kritis: Utang pemerintah menyentuh 69% GDP (melewati limit 65%) dan utang rumah tangga ekstrem di angka 84,3% GDP.
Tabung Harapan (2018): Bukti historis keputusasaan fiskal melalui penggalangan dana rakyat untuk membayar utang negara.
-
Penurunan Daya Gentar & Reputasi (GFP 2026)
Peringkat GFP: Merosot ke posisi 42 dunia (Peringkat ke-7 di ASEAN), resmi disalip oleh Filipina (Peringkat 41).
Skandal Aset Hilang: Catatan memalukan raibnya 48 pesawat Skyhawk dan 2 mesin jet tempur dari gudang militer.
Degradasi Armada: Banyak aset utama berstatus Grounded (MiG-29, MB339CM, Nuri) atau mogok saat parade (Tank PT-91M).
BPS : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
BalasHapusTIADA MALON
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
-
SELISIH DATA WITS VS BPS =
WITS : mencatat ekspor beras Malaysia ke RI
BPS mencatat angka nol (0) impor.
-
WITS Salah Input: Barang non-beras keliru memakai kode HS beras di pelabuhan.
Transit (Transshipment): Beras Thailand/Vietnam hanya transit di Malaysia; WITS mencatat asal pengiriman, BPS mencatat negara produsen asli.
==================
==================
TIMELINE IMPOR BERAS = DEFISIT BERAS
Tahun 2006
• Konsumsi: 2,21 Juta Ton
• Produksi: 1,57 Juta Ton
• Defisit: 0,64 Juta Ton
• Impor: 0,64 Juta Ton
-
Tahun 2007
• Konsumsi: 2,25 Juta Ton
• Produksi: 1,59 Juta Ton
• Defisit: 0,66 Juta Ton
• Impor: 0,66 Juta Ton
-
Tahun 2008
• Konsumsi: 2,30 Juta Ton
• Produksi: 1,61 Juta Ton
• Defisit: 0,69 Juta Ton
• Impor: 0,69 Juta Ton
-
Tahun 2009
• Konsumsi: 2,36 Juta Ton
• Produksi: 1,66 Juta Ton
• Defisit: 0,70 Juta Ton
• Impor: 0,70 Juta Ton
-
Tahun 2010
• Konsumsi: 2,42 Juta Ton
• Produksi: 1,64 Juta Ton
• Defisit: 0,78 Juta Ton
• Impor: 0,78 Juta Ton
-
Tahun 2011
• Konsumsi: 2,47 Juta Ton
• Produksi: 1,61 Juta Ton
• Defisit: 0,86 Juta Ton
• Impor: 0,86 Juta Ton
-
Tahun 2012
• Konsumsi: 2,52 Juta Ton
• Produksi: 1,67 Juta Ton
• Defisit: 0,85 Juta Ton
• Impor: 0,85 Juta Ton
-
Tahun 2013
• Konsumsi: 2,57 Juta Ton
• Produksi: 1,69 Juta Ton
• Defisit: 0,88 Juta Ton
• Impor: 0,88 Juta Ton
-
Tahun 2014
• Konsumsi: 2,62 Juta Ton
• Produksi: 1,71 Juta Ton
• Defisit: 0,91 Juta Ton
• Impor: 0,91 Juta Ton
-
Tahun 2015
• Konsumsi: 2,67 Juta Ton
• Produksi: 1,73 Juta Ton
• Defisit: 0,94 Juta Ton
• Impor: 0,94 Juta Ton
________________________________________
Era 2016–2022 (Stagnasi Produksi)
Tahun 2016
• Konsumsi: 2,70 Juta Ton
• Produksi: 1,68 Juta Ton
• Defisit: 1,02 Juta Ton
• Impor: 1,02 Juta Ton
-
Tahun 2017
• Konsumsi: 2,72 Juta Ton
• Produksi: 1,70 Juta Ton
• Defisit: 1,02 Juta Ton
• Impor: 1,02 Juta Ton
-
Tahun 2018
• Konsumsi: 2,75 Juta Ton
• Produksi: 1,65 Juta Ton
• Defisit: 1,10 Juta Ton
• Impor: 1,10 Juta Ton
-
Tahun 2019
• Konsumsi: 2,78 Juta Ton
• Produksi: 1,51 Juta Ton
• Defisit: 1,27 Juta Ton
• Impor: 1,27 Juta Ton
-
Tahun 2020
• Konsumsi: 2,82 Juta Ton
• Produksi: 1,55 Juta Ton
• Defisit: 1,27 Juta Ton
• Impor: 1,27 Juta Ton
-
Tahun 2021
• Konsumsi: 2,85 Juta Ton
• Produksi: 1,60 Juta Ton
• Defisit: 1,25 Juta Ton
• Impor: 1,25 Juta Ton
-
Tahun 2022
• Konsumsi: 2,68 Juta Ton
• Produksi: 1,50 Juta Ton
• Defisit: 1,18 Juta Ton
• Impor: 1,18 Juta Ton
________________________________________
Era 2023–2025 (Krisis SSL & Lonjakan Kebutuhan)
Tahun 2023
• Konsumsi: 2,72 Juta Ton
• Produksi: 1,44 Juta Ton
• Defisit: 1,28 Juta Ton
• Swasembada (SSL): 56,2%
• Impor: 43,8% (atau sekitar 1,19 Juta Ton)
-
Tahun 2024
• Konsumsi: 3,00 Juta Ton
• Produksi: 1,44 Juta Ton
• Defisit: 1,56 Juta Ton
• Swasembada (SSL): 52,9%
• Impor: 47,1% (atau sekitar 1,41 Juta Ton)
-
Tahun 2025
• Konsumsi: 3,10 Juta Ton
• Produksi: 1,48 Juta Ton
• Defisit: 1,62 Juta Ton
• Swasembada (SSL): 54,3%
• Impor: 45,7% (atau sekitar 1,42 Juta Ton)
📌 Sumber Data Terintegrasi: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, dan EPU Malaysia
GORILLA TERSAKITI LCS 2 SIAP PASANG SENJATA.... 🔥🔥🤣🤣🤣
BalasHapusMALAYSIA MELARANG EKSPOR BERAS = DEFISIT BERAS
HapusWITS = SALAH INPUT KODE HS (Harmonized System) nomor kode tarif
WITS = TRANSIT KAPAL Beras asal Thailand/Vietnam
-
BPS : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
TIADA MALON
TIADA MALON
TIADA MALON
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
-
SELISIH DATA WITS VS BPS =
WITS : mencatat ekspor beras Malaysia ke RI
BPS mencatat angka nol (0) impor.
-
Penyebab Salah Input: Komoditas non-beras keliru terdata menggunakan nomor kode tarif (Harmonized System) beras pada manifes pelabuhan.
-
Penyebab Transit Kapal: Beras asal Thailand/Vietnam hanya melakukan transshipment di Malaysia, sehingga WITS mendeteksinya sebagai negara asal pengiriman sedangkan BPS mendeteksi negara produsen asli.
--------------------------------
LARANGAN RE-EKSPOR BERAS =
Malaysia melarang keras aktivitas ekspor kembali komoditas beras impor guna mengamankan pasokan pangan dalam negeri.
-
Dasar Hukum Larangan: Kebijakan ini diatur secara ketat di bawah undang-undang bea cukai nasional Akta Kastam 1967 (P.U. (A) 122/2023).
-
Krisis Swasembada (SSR/SSL): Rasio swasembada beras Malaysia berada di level kritis akibat dampak cuaca El Niño dan kelangkaan Beras Putih Tempatan (BPT) [Sumber: DOSM, KPKM, BERNAMA].
--------------------------------
TIMELINE EKSPOR BERAS RI KE MALAYSIA
22 April 2025: PM Anwar Ibrahim mengutus Mentan Malaysia ke Jakarta untuk meminta pasokan beras dari RI secara resmi [CNBC Indonesia].
-
Mei 2025: Penandatanganan kontrak B2B awal sebesar 2.000 ton dengan target 24.000 ton per tahun [CNN Indonesia].
-
Januari 2026: Mensesneg Prasetyo Hadi mengonfirmasi ulang permintaan ekspor Malaysia seiring penguatan swasembada RI [CNN Indonesia].
-
14 Agustus 2026: Kesepakatan telepon kedua Mentan untuk memasok 200.000 ton beras premium ke Sarawak senilai Rp3,4 triliun [Kementan RI].
-
Agustus 2026: Realisasi ekspor perdana sebesar 1.000 ton beras premium ke Malaysia sebagai kado HUT RI [Antara News].
-
September 2026: Penandatanganan MoU resmi untuk melegalkan payung hukum pengiriman bertahap [MetroTV].
-
Oktober 2026: Wamentan Sudaryono menegaskan proyek ekspor ini mendapat restu langsung dari Presiden Prabowo Subianto [Indonesia Emas 2045 ID].
--------------------------------
Realisasi Impor Senjata Global (SIPRI 2021–2025)
Daftar ini menunjukkan negara dengan kontrak nyata yang sedang berjalan:
Peringkat 18 (Dunia): Indonesia (Pemimpin di Asia Tenggara dengan pangsa 1,5%).
Peringkat 23: Filipina.
Peringkat 26: Singapura.
Peringkat 40: Thailand.
Status MALAYSEWA: KOSONG (Absen dari daftar 40 besar; status hanya Planned atau Not Yet Ordered).
-
Daftar Belanja Utama Indonesia (2024–2025)
Indonesia mencatatkan satu lembar penuh realisasi alutsista strategis:
Udara: Rafale F-4, A400M Atlas, Anka-S UAV, Air Refueling System.
Laut: PPA-L-Plus, Ship Engines, LM-2500 Gas Turbines.
Darat/Rudal: Rudal BORA, Rudal KHAN, Mesin TP400-D6.
-
Peringkat Kekuatan Militer ASEAN (GFP 2026)
Indonesia – Peringkat 13 Dunia (Nomor 1 ASEAN)
Vietnam – Peringkat 23
Thailand – Peringkat 24
Singapura – Peringkat 29
Myanmar – Peringkat 35
Filipina – Peringkat 41
MALAYSEWA – Peringkat 42
LCS DELAY 2035-2011 : 24 TAHUN = DEFISIT TAHUN 1998 - 2026 : 28 TAHUN
Hapus--------------------------------
2003: PERDANA MENTERI – DEFACT KILL PREGNANT WOMEN
2011: LCS – DELAYED 16 YEARS BANNED NSM
2018: LMS B1 – NO MISSILE NO TORPEDO
2024: LMS B2 – NO SONAR NO TORPEDO
1994: LEKIU – EXO B2 EXPIRED
1981: KASTURI – NO MISSILE NO TORPEDO
1982: LAKSAMANA – NO MISSILE NO TORPEDO
2002: KEDAH – NO MISSILE NO TORPEDO
1971: PERDANA – NO MISSILE NO TORPEDO
1976: HANDALAN – NO MISSILE NO TORPEDO
1975: JERUNG – NO MISSILE NO TORPEDO
--------------------------------
1967: USCG DECISIVE
1968: USCGC STEADFAST
1980: KM PERWIRA
1984: LERICI CLASS
1989: PL-01 OJIMA & PL-02 ERIMO – EX-JCG HIBAH
1989: KM ARAU – EX-OKI PL-01 REPAIR JAPAN
1990: KM PEKAN – OJIKA CLASS TRANSFERRED..
--------------------------------
FACT LCS 2026 - 2011 = 16 YEARS
LAUGHING STOCK TO THE WORLD
LAUGHING STOCK TO THE WORLD
LAUGHING STOCK TO THE WORLD
Defence Minister DSU Mohamad Hasan - By building five ships, each vessel will cost around RM2.2 billion to RM2.4 billion, he said adding that he has no idea the amount needed to build the other three. “If we were to build only two ships, it will cost around RM4.5 billion each, making it the world’s most expensive ship for its class and make us a laughing-stock to the world”
--------------------------------
Analisa Kekuatan Udara: Buying vs. Prank
NOT PAID FFBNP = EXCLUDING AMMO (KOSONG) melakukan modernisasi masif dengan kontrak resmi (Firm Order), sementara MALAYSEWA terjebak dalam pembatalan dan wacana:
NOT PAID FFBNP = EXCLUDING AMMO (KOSONG) (Realisasi & Kontrak G2G):
42 Rafale: Kontrak lunas dan efektif (Dassault Aviation).
48 KAAN (Gen-5): Kerja sama strategis G2G dengan Turki (TAI).
48 KF-21 Boramae (Block II): Kesepakatan tahap akhir dengan Korea Selatan (KAI).
24 M-346F: Penandatanganan Letter of Award (LOA) dengan Leonardo.
MALAYSEWA (Pembatalan & Kegagalan):
F-18 Kuwait: Resmi BATAL (2026) setelah 4 kali upaya negosiasi (New Straits Times).
Status "Prank": Wacana JF-17, Rafale, Typhoon, dan Tejas berakhir tanpa kontrak.
MiG-29N: Pensiun tanpa pengganti (Tiada Ganti).
FA-50: Mengalami hambatan blokir/lisensi dari AS.
-
Analisa Geografis & Jangkauan Tempur
Jarak Pekanbaru ke KL (291 KM) dan Pontianak ke Sarawak (498 KM) sangat pendek dibandingkan radius tempur jet tempur baru NOT PAID FFBNP = EXCLUDING AMMO (KOSONG):
Rafale: ±1.852 KM (Sanggup menjangkau seluruh wilayah semenanjung dan Kalimantan).
KAAN & KF-21: ±1.100–1.400 KM (Dominasi ruang udara regional).
-
Analisa Fiskal: Disiplin vs. Spiral Utang
Perbedaan fundamental dalam cara membiayai pertahanan:
NOT PAID FFBNP = EXCLUDING AMMO (KOSONG) (Procurement/Buying): Rasio utang pemerintah sehat (40% GDP). Membeli aset untuk menjadi pemilik penuh.
MALAYSEWA (Leasing/Sewa): Rasio utang kritis (69% GDP) dengan utang rumah tangga ekstrem (84,3%). Karena krisis kas, MALAYSEWA berubah menjadi "Negara Penyewa":
Aset Sewaan: Helikopter Black Hawk (Aerotree), AW139, EC120B, Pesawat L39, Kapal Hidrografi, hingga Motor BMW R1250RT.
Status SIPRI: NOT PAID FFBNP = EXCLUDING AMMO (KOSONG) mencatat "Lembar Belanja Penuh", MALAYSEWA KOSONG/ZONK selama 2 tahun berturut-turut (2024-2025).
-
Beban Rakyat & Masa Depan
Beban Per Kapita: Setiap warga MALAYSEWA menanggung beban utang kumulatif sebesar RM 81.998.
Gali Lubang Tutup Lubang: Tren utang baru hanya untuk membayar bunga utang lama sejak 2010, menyebabkan kemandekan pembangunan militer (LCS mangkrak, MRCA vakum).
Kita LAWAN PENIPUAN GORILLA ZIMBABWE dengan FAKTA....SIAPA YANG MENGEMIS BERAS SEBENARNYA...🤣🤣🤣
BalasHapusMALAYSIA EKSPORT BERAS KE INDIANESIA
2023 - 123,360 KG
2024 - 58,499.62 KG
2025 - 123,509.11 KG
_________________________________
LINK BUKTI....
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2023/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2024/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2025/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
BPS : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
HapusTIADA MALON
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
-
SELISIH DATA WITS VS BPS =
WITS : mencatat ekspor beras Malaysia ke RI
BPS mencatat angka nol (0) impor.
-
WITS Salah Input: Barang non-beras keliru memakai kode HS beras di pelabuhan.
Transit (Transshipment): Beras Thailand/Vietnam hanya transit di Malaysia; WITS mencatat asal pengiriman, BPS mencatat negara produsen asli.
==================
==================
TIMELINE IMPOR BERAS = DEFISIT BERAS
Tahun 2006
• Konsumsi: 2,21 Juta Ton
• Produksi: 1,57 Juta Ton
• Defisit: 0,64 Juta Ton
• Impor: 0,64 Juta Ton
-
Tahun 2007
• Konsumsi: 2,25 Juta Ton
• Produksi: 1,59 Juta Ton
• Defisit: 0,66 Juta Ton
• Impor: 0,66 Juta Ton
-
Tahun 2008
• Konsumsi: 2,30 Juta Ton
• Produksi: 1,61 Juta Ton
• Defisit: 0,69 Juta Ton
• Impor: 0,69 Juta Ton
-
Tahun 2009
• Konsumsi: 2,36 Juta Ton
• Produksi: 1,66 Juta Ton
• Defisit: 0,70 Juta Ton
• Impor: 0,70 Juta Ton
-
Tahun 2010
• Konsumsi: 2,42 Juta Ton
• Produksi: 1,64 Juta Ton
• Defisit: 0,78 Juta Ton
• Impor: 0,78 Juta Ton
-
Tahun 2011
• Konsumsi: 2,47 Juta Ton
• Produksi: 1,61 Juta Ton
• Defisit: 0,86 Juta Ton
• Impor: 0,86 Juta Ton
-
Tahun 2012
• Konsumsi: 2,52 Juta Ton
• Produksi: 1,67 Juta Ton
• Defisit: 0,85 Juta Ton
• Impor: 0,85 Juta Ton
-
Tahun 2013
• Konsumsi: 2,57 Juta Ton
• Produksi: 1,69 Juta Ton
• Defisit: 0,88 Juta Ton
• Impor: 0,88 Juta Ton
-
Tahun 2014
• Konsumsi: 2,62 Juta Ton
• Produksi: 1,71 Juta Ton
• Defisit: 0,91 Juta Ton
• Impor: 0,91 Juta Ton
-
Tahun 2015
• Konsumsi: 2,67 Juta Ton
• Produksi: 1,73 Juta Ton
• Defisit: 0,94 Juta Ton
• Impor: 0,94 Juta Ton
________________________________________
Era 2016–2022 (Stagnasi Produksi)
Tahun 2016
• Konsumsi: 2,70 Juta Ton
• Produksi: 1,68 Juta Ton
• Defisit: 1,02 Juta Ton
• Impor: 1,02 Juta Ton
-
Tahun 2017
• Konsumsi: 2,72 Juta Ton
• Produksi: 1,70 Juta Ton
• Defisit: 1,02 Juta Ton
• Impor: 1,02 Juta Ton
-
Tahun 2018
• Konsumsi: 2,75 Juta Ton
• Produksi: 1,65 Juta Ton
• Defisit: 1,10 Juta Ton
• Impor: 1,10 Juta Ton
-
Tahun 2019
• Konsumsi: 2,78 Juta Ton
• Produksi: 1,51 Juta Ton
• Defisit: 1,27 Juta Ton
• Impor: 1,27 Juta Ton
-
Tahun 2020
• Konsumsi: 2,82 Juta Ton
• Produksi: 1,55 Juta Ton
• Defisit: 1,27 Juta Ton
• Impor: 1,27 Juta Ton
-
Tahun 2021
• Konsumsi: 2,85 Juta Ton
• Produksi: 1,60 Juta Ton
• Defisit: 1,25 Juta Ton
• Impor: 1,25 Juta Ton
-
Tahun 2022
• Konsumsi: 2,68 Juta Ton
• Produksi: 1,50 Juta Ton
• Defisit: 1,18 Juta Ton
• Impor: 1,18 Juta Ton
________________________________________
Era 2023–2025 (Krisis SSL & Lonjakan Kebutuhan)
Tahun 2023
• Konsumsi: 2,72 Juta Ton
• Produksi: 1,44 Juta Ton
• Defisit: 1,28 Juta Ton
• Swasembada (SSL): 56,2%
• Impor: 43,8% (atau sekitar 1,19 Juta Ton)
-
Tahun 2024
• Konsumsi: 3,00 Juta Ton
• Produksi: 1,44 Juta Ton
• Defisit: 1,56 Juta Ton
• Swasembada (SSL): 52,9%
• Impor: 47,1% (atau sekitar 1,41 Juta Ton)
-
Tahun 2025
• Konsumsi: 3,10 Juta Ton
• Produksi: 1,48 Juta Ton
• Defisit: 1,62 Juta Ton
• Swasembada (SSL): 54,3%
• Impor: 45,7% (atau sekitar 1,42 Juta Ton)
📌 Sumber Data Terintegrasi: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, dan EPU Malaysia
MALAYSIA MELARANG EKSPOR BERAS = DEFISIT BERAS
HapusWITS = SALAH INPUT KODE HS (Harmonized System) nomor kode tarif
WITS = TRANSIT KAPAL Beras asal Thailand/Vietnam
-
BPS : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
TIADA MALON
TIADA MALON
TIADA MALON
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
-
SELISIH DATA WITS VS BPS =
WITS : mencatat ekspor beras Malaysia ke RI
BPS mencatat angka nol (0) impor.
-
Penyebab Salah Input: Komoditas non-beras keliru terdata menggunakan nomor kode tarif (Harmonized System) beras pada manifes pelabuhan.
-
Penyebab Transit Kapal: Beras asal Thailand/Vietnam hanya melakukan transshipment di Malaysia, sehingga WITS mendeteksinya sebagai negara asal pengiriman sedangkan BPS mendeteksi negara produsen asli.
--------------------------------
LARANGAN RE-EKSPOR BERAS =
Malaysia melarang keras aktivitas ekspor kembali komoditas beras impor guna mengamankan pasokan pangan dalam negeri.
-
Dasar Hukum Larangan: Kebijakan ini diatur secara ketat di bawah undang-undang bea cukai nasional Akta Kastam 1967 (P.U. (A) 122/2023).
-
Krisis Swasembada (SSR/SSL): Rasio swasembada beras Malaysia berada di level kritis akibat dampak cuaca El Niño dan kelangkaan Beras Putih Tempatan (BPT) [Sumber: DOSM, KPKM, BERNAMA].
--------------------------------
TIMELINE EKSPOR BERAS RI KE MALAYSIA
22 April 2025: PM Anwar Ibrahim mengutus Mentan Malaysia ke Jakarta untuk meminta pasokan beras dari RI secara resmi [CNBC Indonesia].
-
Mei 2025: Penandatanganan kontrak B2B awal sebesar 2.000 ton dengan target 24.000 ton per tahun [CNN Indonesia].
-
Januari 2026: Mensesneg Prasetyo Hadi mengonfirmasi ulang permintaan ekspor Malaysia seiring penguatan swasembada RI [CNN Indonesia].
-
14 Agustus 2026: Kesepakatan telepon kedua Mentan untuk memasok 200.000 ton beras premium ke Sarawak senilai Rp3,4 triliun [Kementan RI].
-
Agustus 2026: Realisasi ekspor perdana sebesar 1.000 ton beras premium ke Malaysia sebagai kado HUT RI [Antara News].
-
September 2026: Penandatanganan MoU resmi untuk melegalkan payung hukum pengiriman bertahap [MetroTV].
-
Oktober 2026: Wamentan Sudaryono menegaskan proyek ekspor ini mendapat restu langsung dari Presiden Prabowo Subianto [Indonesia Emas 2045 ID].
--------------------------------
Krisis Hutang & Beban Rakyat MALAYSEWA (2025)
Beban finansial yang mencapai titik kritis secara nasional maupun personal:
Hutang Pemerintah: Proyeksi melonjak hingga RM1,71 Triliun (69% dari PDB).
Hutang Rumah Tangga: Sangat tinggi di angka RM1,73 Triliun (85,8% dari PDB).
Beban Per Kapita (Rata-rata per orang):
Tanggungan Hutang Pemerintah: RM36.139 / orang.
Tanggungan Hutang Rumah Tangga: RM45.859 / orang.
Total Beban Hutang Gabungan: Mendekati RM82.000 per warga negara.
-
Perbandingan Strategis
Indonesia: Fokus pada penguatan kedaulatan militer dan menjadi eksportir pangan (beras) bagi tetangga.
MALAYSEWA: Menghadapi "Triple Crisis" (Hutang, Pangan, dan Alutsista). Prioritas anggaran bergeser dari modernisasi militer ke stabilitas perut rakyat dan pembayaran bunga hutang.
Kita LAWAN PENIPUAN GORILLA ZIMBABWE dengan FAKTA....SIAPA YANG MENGEMIS BERAS SEBENARNYA...🤣🤣🤣
BalasHapusMALAYSIA EKSPORT BERAS KE INDIANESIA
2023 - 123,360 KG
2024 - 58,499.62 KG
2025 - 123,509.11 KG
_________________________________
LINK BUKTI....
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2023/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2024/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2025/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
IMPOR SEJAK LAHIR =
Hapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
RICE CRISES =
1972-73
1999
2008
2020-21
2023
2025
2026
Malaysia has experienced recurring rice crises—notably in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, 2023, 2025 and 2026—which are primarily driven by severe supply and demand imbalances and exacerbated by market speculation. These crises stem from climate vulnerabilities like flooding and temperature spikes that drastically cut crop yields, alongside distortionary protectionist policies, poorly targeted subsidies, and sudden international import restrictions. Consequently, the country continues to face severe food insecurity, stagnant agricultural productivity with its self-sufficiency ratio dropping to a critical 52%, and entrenched poverty among local paddy farmers who are trapped by high production costs and inefficient market structures.
-
Daftar Sumber Referensi
• Arshad, F. M. (2025). "My Say: Rice sector needs structural improvements, not quick fixes". The Edge Malaysia. Diakses dari The Edge Malaysia.
• Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan (KPKM) Malaysia. Data Statistik Sektor Padi & Rasio Swasembada Beras (SSR) Nasional Periode 2024–2026. Laporan Resmi Pemerintah Malaysia.
MALAYSIA MELARANG EKSPOR BERAS = DEFISIT BERAS
HapusWITS = SALAH INPUT KODE HS (Harmonized System) nomor kode tarif
WITS = TRANSIT KAPAL Beras asal Thailand/Vietnam
-
BPS : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
TIADA MALON
TIADA MALON
TIADA MALON
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
-
SELISIH DATA WITS VS BPS =
WITS : mencatat ekspor beras Malaysia ke RI
BPS mencatat angka nol (0) impor.
-
Penyebab Salah Input: Komoditas non-beras keliru terdata menggunakan nomor kode tarif (Harmonized System) beras pada manifes pelabuhan.
-
Penyebab Transit Kapal: Beras asal Thailand/Vietnam hanya melakukan transshipment di Malaysia, sehingga WITS mendeteksinya sebagai negara asal pengiriman sedangkan BPS mendeteksi negara produsen asli.
--------------------------------
LARANGAN RE-EKSPOR BERAS =
Malaysia melarang keras aktivitas ekspor kembali komoditas beras impor guna mengamankan pasokan pangan dalam negeri.
-
Dasar Hukum Larangan: Kebijakan ini diatur secara ketat di bawah undang-undang bea cukai nasional Akta Kastam 1967 (P.U. (A) 122/2023).
-
Krisis Swasembada (SSR/SSL): Rasio swasembada beras Malaysia berada di level kritis akibat dampak cuaca El Niño dan kelangkaan Beras Putih Tempatan (BPT) [Sumber: DOSM, KPKM, BERNAMA].
--------------------------------
TIMELINE EKSPOR BERAS RI KE MALAYSIA
22 April 2025: PM Anwar Ibrahim mengutus Mentan Malaysia ke Jakarta untuk meminta pasokan beras dari RI secara resmi [CNBC Indonesia].
-
Mei 2025: Penandatanganan kontrak B2B awal sebesar 2.000 ton dengan target 24.000 ton per tahun [CNN Indonesia].
-
Januari 2026: Mensesneg Prasetyo Hadi mengonfirmasi ulang permintaan ekspor Malaysia seiring penguatan swasembada RI [CNN Indonesia].
-
14 Agustus 2026: Kesepakatan telepon kedua Mentan untuk memasok 200.000 ton beras premium ke Sarawak senilai Rp3,4 triliun [Kementan RI].
-
Agustus 2026: Realisasi ekspor perdana sebesar 1.000 ton beras premium ke Malaysia sebagai kado HUT RI [Antara News].
-
September 2026: Penandatanganan MoU resmi untuk melegalkan payung hukum pengiriman bertahap [MetroTV].
-
Oktober 2026: Wamentan Sudaryono menegaskan proyek ekspor ini mendapat restu langsung dari Presiden Prabowo Subianto [Indonesia Emas 2045 ID].
--------------------------------
Sektor Pertahanan (SIPRI 2024-2025)
Indonesia (Ekspansi Alutsista): Memiliki daftar panjang transfer senjata modern (1 Lembar Penuh) termasuk:
Udara: Rafale F-4, A400M Atlas, ANKA-S (Drone), Air Refuel System.
Laut: PPA-L-Plus, Mesin Kapal LM-2500.
Rudal/Mesin: Rudal BORA & KHAN, Mesin TP400-D6.
MALAYSEWA (Stagnasi): Catatan transfer senjata KOSONG (Zero). Tidak ada pengadaan alutsista utama baru yang terdaftar.
-
Krisis Ketahanan Pangan MALAYSEWA
Ketergantungan tinggi pada impor akibat rendahnya tingkat kemandirian lokal:
Krisis Beras: Mengimpor 500.000 ton beras dari Indonesia (via Kalimantan Barat) per Mei 2025 untuk stok Sarawak.
Krisis Protein:
Unggas: Menjadi net importer ayam (Juli 2025) dan penghapusan total subsidi telur (Agustus 2025) demi hemat anggaran RM1,2 miliar.
Genetika: Terpaksa impor Ayam GPS (Grand Parent Stock) dari Amerika Serikat untuk memperbaiki kualitas indukan.
Daging Merah: Ketergantungan impor mencapai 90% (Sapi/Kambing) dengan tingkat kemandirian di bawah 15%.
Kita LAWAN PENIPUAN GORILLA ZIMBABWE dengan FAKTA....SIAPA YANG MENGEMIS BERAS SEBENARNYA...🤣🤣🤣
BalasHapusMALAYSIA EKSPORT BERAS KE INDIANESIA
2023 - 123,360 KG
2024 - 58,499.62 KG
2025 - 123,509.11 KG
_________________________________
LINK BUKTI....
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2023/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2024/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2025/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
IMPOR SEJAK LAHIR =
Hapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
RICE CRISES =
1972-73
1999
2008
2020-21
2023
2025
2026
Malaysia has experienced recurring rice crises—notably in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, 2023, 2025 and 2026—which are primarily driven by severe supply and demand imbalances and exacerbated by market speculation. These crises stem from climate vulnerabilities like flooding and temperature spikes that drastically cut crop yields, alongside distortionary protectionist policies, poorly targeted subsidies, and sudden international import restrictions. Consequently, the country continues to face severe food insecurity, stagnant agricultural productivity with its self-sufficiency ratio dropping to a critical 52%, and entrenched poverty among local paddy farmers who are trapped by high production costs and inefficient market structures.
-
Daftar Sumber Referensi
• Arshad, F. M. (2025). "My Say: Rice sector needs structural improvements, not quick fixes". The Edge Malaysia. Diakses dari The Edge Malaysia.
• Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan (KPKM) Malaysia. Data Statistik Sektor Padi & Rasio Swasembada Beras (SSR) Nasional Periode 2024–2026. Laporan Resmi Pemerintah Malaysia.
MALAYSIA MELARANG EKSPOR BERAS = DEFISIT BERAS
HapusWITS = SALAH INPUT KODE HS (Harmonized System) nomor kode tarif
WITS = TRANSIT KAPAL Beras asal Thailand/Vietnam
-
BPS : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
TIADA MALON
TIADA MALON
TIADA MALON
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
-
SELISIH DATA WITS VS BPS =
WITS : mencatat ekspor beras Malaysia ke RI
BPS mencatat angka nol (0) impor.
-
Penyebab Salah Input: Komoditas non-beras keliru terdata menggunakan nomor kode tarif (Harmonized System) beras pada manifes pelabuhan.
-
Penyebab Transit Kapal: Beras asal Thailand/Vietnam hanya melakukan transshipment di Malaysia, sehingga WITS mendeteksinya sebagai negara asal pengiriman sedangkan BPS mendeteksi negara produsen asli.
--------------------------------
LARANGAN RE-EKSPOR BERAS =
Malaysia melarang keras aktivitas ekspor kembali komoditas beras impor guna mengamankan pasokan pangan dalam negeri.
-
Dasar Hukum Larangan: Kebijakan ini diatur secara ketat di bawah undang-undang bea cukai nasional Akta Kastam 1967 (P.U. (A) 122/2023).
-
Krisis Swasembada (SSR/SSL): Rasio swasembada beras Malaysia berada di level kritis akibat dampak cuaca El Niño dan kelangkaan Beras Putih Tempatan (BPT) [Sumber: DOSM, KPKM, BERNAMA].
--------------------------------
TIMELINE EKSPOR BERAS RI KE MALAYSIA
22 April 2025: PM Anwar Ibrahim mengutus Mentan Malaysia ke Jakarta untuk meminta pasokan beras dari RI secara resmi [CNBC Indonesia].
-
Mei 2025: Penandatanganan kontrak B2B awal sebesar 2.000 ton dengan target 24.000 ton per tahun [CNN Indonesia].
-
Januari 2026: Mensesneg Prasetyo Hadi mengonfirmasi ulang permintaan ekspor Malaysia seiring penguatan swasembada RI [CNN Indonesia].
-
14 Agustus 2026: Kesepakatan telepon kedua Mentan untuk memasok 200.000 ton beras premium ke Sarawak senilai Rp3,4 triliun [Kementan RI].
-
Agustus 2026: Realisasi ekspor perdana sebesar 1.000 ton beras premium ke Malaysia sebagai kado HUT RI [Antara News].
-
September 2026: Penandatanganan MoU resmi untuk melegalkan payung hukum pengiriman bertahap [MetroTV].
-
Oktober 2026: Wamentan Sudaryono menegaskan proyek ekspor ini mendapat restu langsung dari Presiden Prabowo Subianto [Indonesia Emas 2045 ID].
--------------------------------
Kontroversi Strategi "Leasing" (Sewa) Helikopter
Beban Finansial: Sewa 28 helikopter AW149 (RM16.5 miliar/15 tahun) dianggap lebih mahal dibanding Polandia yang membeli 32 unit seharga USD 1.83 miliar.
Kedaulatan Aset: Aset tidak dimiliki penuh, membatasi kemampuan upgrade, modifikasi, dan konfigurasi ulang untuk misi darurat.
Ketergantungan Swasta: Kesiapan tempur bergantung pada kontraktor (Weststar Aviation), berisiko jika terjadi sengketa hukum atau kegagalan servis.
Nihil Transfer Teknologi: Skema sewa mematikan peluang pertumbuhan industri pertahanan domestik dan penyerapan tenaga ahli lokal.
-
Kondisi Alutsista "Outdated" (Usang)
Laut (RMN): 28 kapal berusia di atas 40 tahun dengan sistem radar analog yang sulit mendeteksi drone atau kapal selam modern.
Udara (RMAF): Ketergantungan pada avionik lama; biaya perawatan melonjak karena suku cadang sudah diskontinu.
Darat (Army): Kendaraan lapis baja dan artileri kekurangan sistem kontrol tembakan berbasis GPS dan komunikasi semi-digital.
Kita LAWAN PENIPUAN GORILLA ZIMBABWE dengan FAKTA....SIAPA YANG MENGEMIS BERAS SEBENARNYA...🤣🤣🤣
BalasHapusMALAYSIA EKSPORT BERAS KE INDIANESIA
2023 - 123,360 KG
2024 - 58,499.62 KG
2025 - 123,509.11 KG
_________________________________
LINK BUKTI....
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2023/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2024/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/MYS/year/2025/tradeflow/Exports/partner/ALL/product/1006
IMPOR SEJAK LAHIR =
Hapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
1. Batu Bara: 21,84 juta ton (memasok 69% kebutuhan listrik regional TNB dan menguasai 67% total impor batu bara Malaysia).
2. Jagung: 240.000 ton.
3. Beras: 200.000 ton.
4. LNG (Gas Alam Cair): 56.431,6 metrik ton.
5. Kapal Patroli RHIB: 24 unit (diproduksi oleh PT PAL).
6. Pesawat CN235: 8 unit (diproduksi oleh PTDI).
7. Tenda & Parasut Militer: 7.000 unit tenda (pesanan militer).
8. Komponen Avionik Hawk: Komponen kokpit pesawat (buatan Surabaya/PTDI).
9. Fast Patrol Boat (FPB 57): Kapal patroli cepat (diadopsi dari PT PAL).
10. Senjata & Amunisi: Senapan SS2 dan amunisi (diproduksi oleh PT Pindad).
11. Seragam & Atribut Militer: Pakaian Dinas Lapangan (PDL) dan rompi antipeluru (diproduksi oleh Sritex).
12. Mata Uang Ringgit: Cetakan uang kertas (diproduksi oleh PERURI sejak 2010).
13. Paspor: Cetakan dokumen negara (diproduksi oleh PERURI).
MALAYSIA MELARANG EKSPOR BERAS = DEFISIT BERAS
HapusWITS = SALAH INPUT KODE HS (Harmonized System) nomor kode tarif
WITS = TRANSIT KAPAL Beras asal Thailand/Vietnam
-
BPS : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
TIADA MALON
TIADA MALON
TIADA MALON
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
-
SELISIH DATA WITS VS BPS =
WITS : mencatat ekspor beras Malaysia ke RI
BPS mencatat angka nol (0) impor.
-
Penyebab Salah Input: Komoditas non-beras keliru terdata menggunakan nomor kode tarif (Harmonized System) beras pada manifes pelabuhan.
-
Penyebab Transit Kapal: Beras asal Thailand/Vietnam hanya melakukan transshipment di Malaysia, sehingga WITS mendeteksinya sebagai negara asal pengiriman sedangkan BPS mendeteksi negara produsen asli.
--------------------------------
LARANGAN RE-EKSPOR BERAS =
Malaysia melarang keras aktivitas ekspor kembali komoditas beras impor guna mengamankan pasokan pangan dalam negeri.
-
Dasar Hukum Larangan: Kebijakan ini diatur secara ketat di bawah undang-undang bea cukai nasional Akta Kastam 1967 (P.U. (A) 122/2023).
-
Krisis Swasembada (SSR/SSL): Rasio swasembada beras Malaysia berada di level kritis akibat dampak cuaca El Niño dan kelangkaan Beras Putih Tempatan (BPT) [Sumber: DOSM, KPKM, BERNAMA].
--------------------------------
TIMELINE EKSPOR BERAS RI KE MALAYSIA
22 April 2025: PM Anwar Ibrahim mengutus Mentan Malaysia ke Jakarta untuk meminta pasokan beras dari RI secara resmi [CNBC Indonesia].
-
Mei 2025: Penandatanganan kontrak B2B awal sebesar 2.000 ton dengan target 24.000 ton per tahun [CNN Indonesia].
-
Januari 2026: Mensesneg Prasetyo Hadi mengonfirmasi ulang permintaan ekspor Malaysia seiring penguatan swasembada RI [CNN Indonesia].
-
14 Agustus 2026: Kesepakatan telepon kedua Mentan untuk memasok 200.000 ton beras premium ke Sarawak senilai Rp3,4 triliun [Kementan RI].
-
Agustus 2026: Realisasi ekspor perdana sebesar 1.000 ton beras premium ke Malaysia sebagai kado HUT RI [Antara News].
-
September 2026: Penandatanganan MoU resmi untuk melegalkan payung hukum pengiriman bertahap [MetroTV].
-
Oktober 2026: Wamentan Sudaryono menegaskan proyek ekspor ini mendapat restu langsung dari Presiden Prabowo Subianto [Indonesia Emas 2045 ID].
--------------------------------
Status Transfer Senjata (SIPRI 2024-2025)
INDONESIA (Agresif & Ekspansif):
Udara: Akuisisi Rafale F-4, pesawat angkut A400M Atlas, sistem Air Refuel, dan drone ANKA-S.
Laut: Mesin kapal LM-2500, kapal perang PPA-L-Plus, dan Ship Engine lainnya.
Darat/Rudal: Rudal balistik BORA dan KHAN, serta mesin TP400-D6.
MALAYSEWA (Stagnan/Kosong):
Tidak ada catatan transfer alutsista utama baru dalam database SIPRI periode tersebut.
-
Skandal & Masalah Struktural MALAYSEWA
Skandal LCS (Littoral Combat Ship): Dana RM9 miliar cair, namun tidak ada kapal yang dikirim hingga 2025.
Kegagalan MD530G: Pembayaran uang muka 35% untuk helikopter "hantu" yang pengirimannya terus tertunda.
Korupsi Internal: Operasi Sohor (2025) mengungkap intelijen militer yang menjual data klasifikasi ke sindikat penyelundup.
Krisis Anggaran: Pengeluaran pertahanan di bawah 1.5% PDB, jauh di bawah standar regional.
IMPOR SEJAK LAHIR =
BalasHapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
RICE CRISES =
1972-73
1999
2008
2020-21
2023
2025
2026
Malaysia has experienced recurring rice crises—notably in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, 2023, 2025 and 2026—which are primarily driven by severe supply and demand imbalances and exacerbated by market speculation. These crises stem from climate vulnerabilities like flooding and temperature spikes that drastically cut crop yields, alongside distortionary protectionist policies, poorly targeted subsidies, and sudden international import restrictions. Consequently, the country continues to face severe food insecurity, stagnant agricultural productivity with its self-sufficiency ratio dropping to a critical 52%, and entrenched poverty among local paddy farmers who are trapped by high production costs and inefficient market structures.
-
Daftar Sumber Referensi
• Arshad, F. M. (2025). "My Say: Rice sector needs structural improvements, not quick fixes". The Edge Malaysia. Diakses dari The Edge Malaysia.
• Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan (KPKM) Malaysia. Data Statistik Sektor Padi & Rasio Swasembada Beras (SSR) Nasional Periode 2024–2026. Laporan Resmi Pemerintah Malaysia.
BPS : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
BalasHapusTIADA MALON
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
-
SELISIH DATA WITS VS BPS =
WITS : mencatat ekspor beras Malaysia ke RI
BPS mencatat angka nol (0) impor.
-
WITS Salah Input: Barang non-beras keliru memakai kode HS beras di pelabuhan.
Transit (Transshipment): Beras Thailand/Vietnam hanya transit di Malaysia; WITS mencatat asal pengiriman, BPS mencatat negara produsen asli.
==================
==================
TIMELINE IMPOR BERAS = DEFISIT BERAS
Tahun 2006
• Konsumsi: 2,21 Juta Ton
• Produksi: 1,57 Juta Ton
• Defisit: 0,64 Juta Ton
• Impor: 0,64 Juta Ton
-
Tahun 2007
• Konsumsi: 2,25 Juta Ton
• Produksi: 1,59 Juta Ton
• Defisit: 0,66 Juta Ton
• Impor: 0,66 Juta Ton
-
Tahun 2008
• Konsumsi: 2,30 Juta Ton
• Produksi: 1,61 Juta Ton
• Defisit: 0,69 Juta Ton
• Impor: 0,69 Juta Ton
-
Tahun 2009
• Konsumsi: 2,36 Juta Ton
• Produksi: 1,66 Juta Ton
• Defisit: 0,70 Juta Ton
• Impor: 0,70 Juta Ton
-
Tahun 2010
• Konsumsi: 2,42 Juta Ton
• Produksi: 1,64 Juta Ton
• Defisit: 0,78 Juta Ton
• Impor: 0,78 Juta Ton
-
Tahun 2011
• Konsumsi: 2,47 Juta Ton
• Produksi: 1,61 Juta Ton
• Defisit: 0,86 Juta Ton
• Impor: 0,86 Juta Ton
-
Tahun 2012
• Konsumsi: 2,52 Juta Ton
• Produksi: 1,67 Juta Ton
• Defisit: 0,85 Juta Ton
• Impor: 0,85 Juta Ton
-
Tahun 2013
• Konsumsi: 2,57 Juta Ton
• Produksi: 1,69 Juta Ton
• Defisit: 0,88 Juta Ton
• Impor: 0,88 Juta Ton
-
Tahun 2014
• Konsumsi: 2,62 Juta Ton
• Produksi: 1,71 Juta Ton
• Defisit: 0,91 Juta Ton
• Impor: 0,91 Juta Ton
-
Tahun 2015
• Konsumsi: 2,67 Juta Ton
• Produksi: 1,73 Juta Ton
• Defisit: 0,94 Juta Ton
• Impor: 0,94 Juta Ton
________________________________________
Era 2016–2022 (Stagnasi Produksi)
Tahun 2016
• Konsumsi: 2,70 Juta Ton
• Produksi: 1,68 Juta Ton
• Defisit: 1,02 Juta Ton
• Impor: 1,02 Juta Ton
-
Tahun 2017
• Konsumsi: 2,72 Juta Ton
• Produksi: 1,70 Juta Ton
• Defisit: 1,02 Juta Ton
• Impor: 1,02 Juta Ton
-
Tahun 2018
• Konsumsi: 2,75 Juta Ton
• Produksi: 1,65 Juta Ton
• Defisit: 1,10 Juta Ton
• Impor: 1,10 Juta Ton
-
Tahun 2019
• Konsumsi: 2,78 Juta Ton
• Produksi: 1,51 Juta Ton
• Defisit: 1,27 Juta Ton
• Impor: 1,27 Juta Ton
-
Tahun 2020
• Konsumsi: 2,82 Juta Ton
• Produksi: 1,55 Juta Ton
• Defisit: 1,27 Juta Ton
• Impor: 1,27 Juta Ton
-
Tahun 2021
• Konsumsi: 2,85 Juta Ton
• Produksi: 1,60 Juta Ton
• Defisit: 1,25 Juta Ton
• Impor: 1,25 Juta Ton
-
Tahun 2022
• Konsumsi: 2,68 Juta Ton
• Produksi: 1,50 Juta Ton
• Defisit: 1,18 Juta Ton
• Impor: 1,18 Juta Ton
________________________________________
Era 2023–2025 (Krisis SSL & Lonjakan Kebutuhan)
Tahun 2023
• Konsumsi: 2,72 Juta Ton
• Produksi: 1,44 Juta Ton
• Defisit: 1,28 Juta Ton
• Swasembada (SSL): 56,2%
• Impor: 43,8% (atau sekitar 1,19 Juta Ton)
-
Tahun 2024
• Konsumsi: 3,00 Juta Ton
• Produksi: 1,44 Juta Ton
• Defisit: 1,56 Juta Ton
• Swasembada (SSL): 52,9%
• Impor: 47,1% (atau sekitar 1,41 Juta Ton)
-
Tahun 2025
• Konsumsi: 3,10 Juta Ton
• Produksi: 1,48 Juta Ton
• Defisit: 1,62 Juta Ton
• Swasembada (SSL): 54,3%
• Impor: 45,7% (atau sekitar 1,42 Juta Ton)
📌 Sumber Data Terintegrasi: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, dan EPU Malaysia
IMPOR SEJAK LAHIR =
BalasHapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
1. Batu Bara: 21,84 juta ton (memasok 69% kebutuhan listrik regional TNB dan menguasai 67% total impor batu bara Malaysia).
2. Jagung: 240.000 ton.
3. Beras: 200.000 ton.
4. LNG (Gas Alam Cair): 56.431,6 metrik ton.
5. Kapal Patroli RHIB: 24 unit (diproduksi oleh PT PAL).
6. Pesawat CN235: 8 unit (diproduksi oleh PTDI).
7. Tenda & Parasut Militer: 7.000 unit tenda (pesanan militer).
8. Komponen Avionik Hawk: Komponen kokpit pesawat (buatan Surabaya/PTDI).
9. Fast Patrol Boat (FPB 57): Kapal patroli cepat (diadopsi dari PT PAL).
10. Senjata & Amunisi: Senapan SS2 dan amunisi (diproduksi oleh PT Pindad).
11. Seragam & Atribut Militer: Pakaian Dinas Lapangan (PDL) dan rompi antipeluru (diproduksi oleh Sritex).
12. Mata Uang Ringgit: Cetakan uang kertas (diproduksi oleh PERURI sejak 2010).
13. Paspor: Cetakan dokumen negara (diproduksi oleh PERURI).
IMPOR SEJAK LAHIR =
BalasHapus1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
________________________________________
📉 Impor Beras Jangka Panjang (1957 - 1990)
• 1957: Impor 0,25 - 0,30 Juta Ton (Baseline kemerdekaan, dipasok dari Thailand & Burma).
• 1960–1970: Impor 0,28 - 0,35 Juta Ton (Fluktuatif meskipun ada pembentukan lumbung padi MADA).
• 1980–1990: Impor 0,45 - 0,55 Juta Ton (Kebutuhan melonjak akibat industrialisasi & pertumbuhan penduduk).
________________________________________
📑 Volume Impor Beras Tahunan (1991 - 2025)
• 1991: 0,36 Juta Ton (+23,15%)
• 1992: 0,47 Juta Ton (+28,07%)
• 1993: 0,39 Juta Ton (-17,02%)
• 1994: 0,31 Juta Ton (-18,21%)
• 1995: 0,40 Juta Ton (+26,02%)
• 1996: 0,56 Juta Ton (+40,05%)
• 1997: 0,63 Juta Ton (+13,32%)
• 1998: 0,63 Juta Ton (-1,25%)
• 1999: 0,61 Juta Ton (-2,06%)
• 2000: 0,59 Juta Ton (-3,40%)
• 2001: 0,63 Juta Ton (+6,21%)
• 2002: 0,48 Juta Ton (-24,17%)
• 2003: 0,51 Juta Ton (+6,25%)
• 2004: 0,70 Juta Ton (+37,25%)
• 2005: 0,75 Juta Ton (+7,29%)
• 2006: 0,64 Juta Ton (SSL stabil ~70%)
• 2007: 0,66 Juta Ton (+3,13%)
• 2008: 0,69 Juta Ton (+4,55%)
• 2009: 0,70 Juta Ton (+1,45%)
• 2010: 0,78 Juta Ton (+11,43%)
• 2011: 0,86 Juta Ton (+10,26%)
• 2012: 0,85 Juta Ton (-1,16% )
• 2013: 0,88 Juta Ton (+3,53%)
• 2014: 0,91 Juta Ton (+3,41%)
• 2015: 0,94 Juta Ton (+3,30%)
• 2016: 1,02 Juta Ton (+8,51%)
• 2017: 1,02 Juta Ton (0,00%)
• 2018: 1,10 Juta Ton (+7,84%)
• 2019: 1,27 Juta Ton (+15,45%)
• 2020: 1,27 Juta Ton (0,00% | Pasokan tertahan disrupsi logistik global-COVID 19)
• 2021: 1,25 Juta Ton (-1,57%)
• 2022: 1,18 Juta Ton (-5,60%)
• 2023: 1,28 Juta Ton (+8,47%)
• 2024: 1,56 Juta Ton (+21,88%)
• 2025: 1,62 Juta Ton (+3,85%)
SUMBER: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, EPU MALAYSIA
________________________________________
RICE CRISES =
1972-73
1999
2008
2020-21
2023
2025
2026
Malaysia has experienced recurring rice crises—notably in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, 2023, 2025 and 2026—which are primarily driven by severe supply and demand imbalances and exacerbated by market speculation. These crises stem from climate vulnerabilities like flooding and temperature spikes that drastically cut crop yields, alongside distortionary protectionist policies, poorly targeted subsidies, and sudden international import restrictions. Consequently, the country continues to face severe food insecurity, stagnant agricultural productivity with its self-sufficiency ratio dropping to a critical 52%, and entrenched poverty among local paddy farmers who are trapped by high production costs and inefficient market structures.
-
Daftar Sumber Referensi
• Arshad, F. M. (2025). "My Say: Rice sector needs structural improvements, not quick fixes". The Edge Malaysia. Diakses dari The Edge Malaysia.
• Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan (KPKM) Malaysia. Data Statistik Sektor Padi & Rasio Swasembada Beras (SSR) Nasional Periode 2024–2026. Laporan Resmi Pemerintah Malaysia.
HANYA TERJADI DI NEGARA MELAYU TOLOL MALAYDESH....KAPAL LCS RONGSOK BIN GUNBOAT OMPONG SEHARGA DESTROYER MANA HUTANG JUMBO TAK BAYAR BAYAR...LOL !!!!
BalasHapusTAMATLAH SUDAH ALKISAH KAMI, TERIMA KASIH DAN MALU LAGI 🤣🤣🤣🤣🤡🤡🤡🤡🇲🇾🇲🇾🇲🇾💩💩💩💩
Frigat Maharaja Lelah (LCS-1) Malaydesh akan diserahkan tanpa persenjataan lengkap & baru operasional penuh pada Desember 2035. Laporan Auditor-General 2/2026 menyebut lima kontrak senjata pendukung belum selesai, termasuk rudal antikapal (SSM) dengan pengadaan ulang butuh 36 bulan
https://x.com/AntoniusWibow10/status/2107013077757825461
SALAM JARI TENGAH HOBBY LEBIH BODOH DARI KELEDAI MELAYU TOLOL MALAYDESH 🤣🤣🤣🤣🤡🤡🤡🇲🇾🇲🇾💩💩💩
❌️meriam kecil
BalasHapus❌️kapal kecil
❌️NSM BATAL haha!👎📛🤪
AESA = FA50MOGOK 85 KM VS M346FA 157 KM
BalasHapusLCS DELAY 2035-2011 : 24 TAHUN
-
FA50M : MOGOK = LMS B2 NO SONAR NO TORPEDO = LCS DELAY 24 TAHUN
-
⚓ HARGA LCS MALAYSIA VS DESTROYER
Type 052D Class: USD 500–600 Juta / unit.
KDX III Class (Sejong): USD 900 Juta / unit.
Type 055 Class: USD 920 Juta / unit.
LCS Malaysia (Maharaja Lela): USD 948 Juta / unit (Total USD 4,74 Miliar / 5 unit). Status delayed (tertunda) & kosongan (FFBNW/belum termasuk amunisi), tanpa NSM, tanpa VL Mica, tanpa torpedo ringan, tanpa secondary guns,
--------------------------------
🚁 SEWA VS BELI AW149
Sewa: USD 3,7 Miliar (RM 16,8 M) / 28 unit / 15 tahun.
Beli: USD 868 Juta (RM 3,954 M) / 28 unit (USD 31 Juta/unit).
Rasio: Sewa 4x lebih mahal (setara 119 unit baru).
--------------------------------
🚢 LMS B2 Korvet (Ada Class)
Malaysia (Hisar/LMS B2): USD 176,7 Juta / unit (Total USD 530 Jt / 3 unit — downgrade).
Pakistan (Ada Class): USD 250 Juta / unit (Total USD 1 Miliar / 4 unit).
Ukraina (Ada Class): USD 250 Juta / unit (Total USD 1 Miliar / 2 unit + UCAV).
---------------------------------
🛩️ JET TEMPUR FA-50
FA-50M (Malaysia): USD 51,1 Juta / unit (Total USD 920 Jt / 18 unit — varian termurah).
FA-50PH B2 (Filipina): USD 58,33 Juta / unit (Total USD 700 Jt / 12 unit — AESA & refueling).
FA-50 GF (Block II): USD 58,75 Juta / unit (Total USD 705 Jt / 12 unit).
FA-50 PL (Polandia): USD 63,89 Juta / unit (Total USD 2,3 Miliar / 36 unit — standar NATO).
--------------------------------
I. STATUS PENGADAAN ALUTSISTA (SIPRI 2020–2026)
INDONESIA (Agresif & Realisasi Tinggi):
Udara: Rafale F-4 (Prancis), A400M Atlas (Transport & Air Refuel System).
Darat: Rudal Balistik BORA & KHAN (Turki).
Laut: Mesin Kapal PPA-L-Plus & LM-2500 (Italia/AS).
Teknologi: Drone ANKA-S (Turki), TP400-D6 Engine.
-
MALONYET (Stagnan & Pembatalan):
2020–2021: Hanya sebatas rencana (Planned).
2022: Terpilih tapi tidak ada kontrak (Selected Not Yet Ordered).
2023–2025: Status kosong/tanpa pesanan (Not Yet Ordered).
2026: BATAL TOTAL akuisisi F/A-18 Hornet Kuwait karena kendala teknis/logistik.
--------------------------------
II. PERINGKAT MILITER & EKONOMI (ASEAN 2026)
Peringkat Global Firepower (GFP):
Indonesia: Peringkat 13 (Pemimpin ASEAN).
Vietnam: Peringkat 23.
Thailand: Peringkat 24.
Singapura: Peringkat 29.
MALONYET: Peringkat 42 (Di bawah Filipina yang ada di posisi 41).
Skala Ekonomi (PDB PPP):
Ekonomi Indonesia 4,24x lebih besar dari MALONYET ($5,69 T vs $1,34 T).
Ekonomi Indonesia 6,69x lebih besar dari Singapura ($5,69 T vs $0,85 T).
--------------------------------
III. ANALISIS KRISIS FISKAL & KORUPSI MALONYET
Januari 2026: PM membekukan seluruh pengadaan militer (Freezes Procurement) akibat skandal suap proyek angkatan darat yang diselidiki MACC.
Februari 2026: Pembatalan resmi F-18 Hornet Kuwait melalui sidang Dewan Rakyat.
Warisan Hutang: Sejak 2023, pemerintah membatalkan 5 tender besar guna mencegah kebocoran anggaran.
--------------------------------
IV. DATA HUTANG & LIABILITAS MALONYET (2010–2026)
Fase Awal (2010–2017): Tumbuh dari RM 407 Miliar ke RM 686 Miliar.
Fase Transparansi (2018–2019): Melonjak ke RM 1,25 Triliun (Termasuk hutang 1MDB).
Fase Pandemi (2020–2022): Meningkat ke RM 1,45 Triliun akibat stimulus COVID-19.
Proyeksi Krisis (2023–2026):
2023: RM 1,53 Triliun.
2025: RM 1,71 Triliun.
2026: RM 1,79 Triliun (Target manajemen hutang kritis).
--------------------------------
V. PROFIL RISIKO NEGARA
Indonesia: Rasio hutang pemerintah sehat (40%), hutang rumah tangga rendah (16%).
-
MALONYET: Rasio hutang pemerintah melewati limit (69% vs limit 65%), hutang rumah tangga sangat tinggi (84,3%).
20 TAHUN (2006-2026) : DEFISIT
BalasHapusDEFISIT BERAS : IMPOR BERAS
________________________________________
KLARIFIKASI ANOMALI EKSPOR BERAS (WITS VS BPS)
• Klaim WITS Terbantah: Data BPS Indonesia secara sahih mencatat angka nol (0) impor beras dari Malaysia pada periode 2021–2025.
• Faktor Salah Input Kode HS: Pihak pelabuhan keliru memasukkan komoditas non-beras milik Malaysia ke dalam kode kepabeanan beras.
• Faktor Transit Internasional (Transshipment): Beras yang tercatat sebenarnya diproduksi oleh Thailand atau Vietnam, namun hanya menumpang transit logistik di pelabuhan Malaysia.
________________________________________
RUNTUHNYA KETAHANAN PANGAN DOMESTIK MALAYSIA
• Defisit Kronis 20 Tahun: Grafik defisit beras membengkak drastis dari hanya 0,64 juta ton (2006) menjadi 1,62 juta ton (2025).
• Stagnasi Produksi Parah: Produksi beras domestik mandek di kisaran 1,4 hingga 1,7 juta ton, tidak mampu mengimbangi konsumsi yang menembus 3,10 juta ton.
• Krisis Tingkat Swasembada (SSL): Pada tahun 2024, SSL merosot ke titik kritis 52,9%, memaksa Malaysia mengimpor hampir separuh (47,1%) kebutuhan perut rakyatnya dari luar negeri.
________________________________________
JEBAKAN UTANG MAKRO & TEKANAN PER KAPITA (1998–2026)
• Anggaran Negara Defisit Besar: Pada proyeksi 2026, APBN minus sebesar RM 135,9 Miliar akibat belanja negara (RM 470 M) yang jauh melampaui pendapatan (RM 334,1 M).
• Ledakan Utang Pemerintah: Rasio utang terhadap PDB meroket dari 35,8% (1998) menjadi 70,5% (2026) dengan nominal fantastis RM 1,79 Triliun.
• Krisis Utang Rumah Tangga: Sektor domestik terjebak utang tinggi yang konsisten berada di level kritis di atas 80% PDB pada periode 2021–2026.
• Beban Finansial Rakyat: Utang per kapita yang ditanggung setiap warga negara melonjak hampir empat kali lipat dari RM 23,381 (2006) menjadi RM 94,544 per kepala pada 2026.
________________________________________
KETERGANTUNGAN ENERGI MUTLAK PADA BATUBARA INDONESIA
• Volume Impor Terus Naik: Total kebutuhan impor batubara untuk pembangkit listrik Malaysia melonjak dari 26,80 juta ton (2016) menjadi 36,32 juta ton (2025).
• Monopoli Pasokan Indonesia: Pangsa pasar Indonesia di Malaysia kian dominan, merangkak naik dari 64,2% hingga menguasai 76% pasar pada tahun 2025.
• Penyusutan Pemasok Alternatif: Kontribusi gabungan negara kompetitor seperti Australia dan Rusia tertekan dan menyusut hingga tersisa hanya 8,70 juta ton pada tahun 2025.
KONDOM KESUKAAN MMW SAMA SEPERTI IQ SAMPAHNYA 🤣🤣🤣🤣🤡🤡🤡🇲🇾🇲🇾💩💩💩
BalasHapusMANAKALA IQ BERUK MELAYU TOLOL MALAYDESH TERNYATA LEBIH BODOH DARI KELEDAI 🔥🔥🔥🔥🫣🫣🫣🤣🤣🤣🤣🤣🇲🇾🇲🇾🇲🇾🇲🇾💩💩💩💩
Wondaleaf Unisex Condom adalah produk kondom revolusioner asal Malaysia yang diklaim sebagai kondom unisex pertama di dunia. Produk ini diciptakan oleh Dr. John Tang Ing Chinh, seorang ginekolog dari perusahaan rintisan medis Twin Catalyst.
Fakta Utama Wondaleaf:
• Bahan: Terbuat dari poliuretan kelas medis (bahan yang sama seperti pembalut luka transparan yang tipis, kuat, fleksibel, dan tahan air) dengan ketebalan hanya 30 mikrometer.
• Desain: Dilengkapi dengan perekat medis pada satu sisinya. Desain ini membuat kondom dapat dibalik dan digunakan baik oleh pria maupun wanita (menutup penis ataupun vagina serta area sekitarnya).
• Tujuan: Mencegah kehamilan tidak diinginkan serta infeksi menular seksual (IMS), sekaligus mengatasi masalah ukuran dan risiko lepasnya kondom (stealthing).
• Harga: Diluncurkan dengan harga 14,99 Ringgit (sekitar Rp50.000) per kotak berisi dua buah
heli kita berkorban berjuang padamkan api 🔥
BalasHapusseblah 2 helinya pamer adu banteng haha!🤣🍌🤭
https://youtube.com/watch?v=3sBSIHxzRDA&pp=ygUZaGVsaWtvcHRlciB0dWRtIHRlcmhlbXBhcw%3D%3D
tau tau sewaaa
EKSODUS = FAKTOR EKONOMI
BalasHapusEKSODUS = FAKTOR EKONOMI
EKSODUS = FAKTOR EKONOMI
--------------------------------------------
🏢 Sumber Resmi Utama
• Jabatan Pendaftaran Negara (JPN) Malaysia – Laporan resmi dan pernyataan Direktur Jenderal JPN, Datuk Badrul Hisham Alias (Rilis: 9 Januari 2026).
-
📰 Media Berita Internasional & Regional
• The Straits Times (Singapura): "More than 57,000 Malaysians renounced their citizenship for Singapore’s over last 5 years: Report"
• New Straits Times (Malaysia): "Economic factors, family main reasons 61,116 Malaysians gave up citizenship"
• South China Morning Post (Hong Kong): "Nearly 94% of Malaysians who renounced citizenship chose Singapore, data shows"
• VnExpress International (Vietnam): "Nearly 94% of Malaysians who renounced citizenship moved to Singapore"
-
🇮🇩 Media Berita Indonesia
• Kompas Money: "Faktor Ekonomi, 61.116 Warga Malaysia Lepas Kewarganegaraan"
💻 Portal Berita Digital & Finansial Malaysia
• SAYS: "Why Thousands Of Malaysians Are Giving Up Their Citizenship"
• RinggitPlus: "Economic And Family Factors Drive Malaysians To Renounce Citizenship"
--------------------------------------------
HANYA BAYAR BUNGA/FAEDAH
-
Anwar Ibrahim menegaskan bahwa miliaran ringgit yang dibayarkan oleh pemerintah saat ini sebenarnya hanya digunakan untuk membayar khidmat utang (biaya layanan utang) atau memKLAIM KAYA = HANYA BAYAR BUNGA/FAEDAH saja, dan bukan untuk melunasi pokok atau jumlah utang tertunggak secara keseluruhan
• Sinar Harian: Melaporkan beban utang bertambah karena miliaran ringgit tersedot untuk biaya faedah (bunga) utang lama dan komitmen 1MDB.
• Berita Harian: Menjelaskan bahwa pinjaman baru berhasil ditekan, namun total utang terlihat naik akibat akumulasi biaya layanan utang masa lalu.
• Harian Metro: Menyoroti upaya pemerintah memotong defisit fiskal di tengah beban berat menanggung bunga utang warisan.
• Bernama: Menyediakan data resmi Kementerian Keuangan terkait alokasi dana khusus untuk membayar bunga dan liabilitas lama.
--------------------------------------------
REVENUE: RM334.1 BILLION
EXPENDITURE: RM470 BILLION
SUBSIDY BURDEN: 23.9%
RM334.1 – RM470 = DEFICIT OF RM135.9
-
GOVERNMENT REVENUE =
Ranges from RM334.1 Billion to RM343.1 Billion (75.8% from taxes and 24.2% non-tax/Petronas).
-
TOTAL EXPENDITURE =
Reaches RM419.2 Billion to RM470 Billion.
-
BUDGET ALLOCATION =
RM338.2 Billion is spent on operations (salaries, pensions, subsidies) and only RM81 Billion for infrastructure development.
-
MAIN REASONS FOR BORROWING =
REVENUE COMPLETELY DEPLETED:
Pure operating costs (RM338.2 Billion) directly consume nearly 100% of all incoming government revenue.
-
CHRONIC BUDGET DEFICIT:
The massive gap between revenue and total spending creates a deficit hole of 3.5% to 3.6% of GDP.
-
CHRONIC BUDGET DEFICIT:
The wide gulf between total revenue (~RM343 billion) and total expenditure (~RM419–RM470 billion) creates a budget deficit ranging from 3.5% to 3.6% of the country's GDP. The only way for the MALAYSEWA government to plug this tens-of-billions-of-ringgit funding gap is by ISSUING NEW GOVERNMENT BONDS.
-
SUMBER REFERENSI :
Belanjawan (Budget) Malaysia 2026 serta laporan revisi pendapatan tahun 2025 yang dikeluarkan oleh Kementerian Kewangan Malaysia (Ministry of Finance/MOF)
❌️meriam kecil
BalasHapus❌️no amunisi
❌️kapal kecil
❌️NSM BATAL haha!👎📛🤪
MISKIN = HUTANG BAYAR HUTANG (2026–1998):
BalasHapus-
PENDAPATAN : RM334,1 Miliar
PENGELUARAN : RM470 Miliar
BUDGET MINUS : RM470 – RM334,1 = - RM135,9
--------------------------------------------
2026
Populasi: 36.38 juta
Utang Govt: RM 1.79 Triliun (70.5%)
Utang Household: RM 1.65 Triliun (84.3%)
Beban per Kapita: RM 94,544
-
2025
Populasi: 35.97 juta
Utang Govt: RM 1.30 Triliun (-%)
Utang Household: RM 1.65 Triliun (-%)
Beban per Kapita: RM 81,998
-
2024
Populasi: 34.67 juta
Utang Govt: RM 1.22 Triliun (64.6%)
Utang Household: RM 1.53 Triliun (84.2%)
Beban per Kapita: RM 79,315
-
2023
Populasi: 35.12 juta
Utang Govt: RM 1.17 Triliun (64.3%)
Utang Household: RM 1.45 Triliun (81.2%)
Beban per Kapita: RM 74,587
-
2022
Populasi: 34.69 juta
Utang Govt: RM 1.08 Triliun (60.1%) [1]
Utang Household: RM 1.38 Triliun (80.9%)
Beban per Kapita: RM 70,901 [1]
-
2021
Populasi: 34.28 juta
Utang Govt: RM 979.81 Miliar (63.3%)
Utang Household: RM 1.34 Triliun (89.1%)
Beban per Kapita: RM 67,667
-
2020
Populasi: 33.87 juta
Utang Govt: RM 879.56 Miliar (62.0%)
Utang Household: RM 1.27 Triliun (87.5%)
Beban per Kapita: RM 63,464
-
2019
Populasi: 33.45 juta
Utang Govt: RM 793.00 Miliar (52.4%)
Utang Household: RM 1.22 Triliun (82.5%)
Beban per Kapita: RM 60,179
-
2018
Populasi: 33.00 juta
Utang Govt: RM 741.00 Miliar (52.5%)
Utang Household: RM 1.16 Triliun (82.0%)
Beban per Kapita: RM 57,605
-
2017
Populasi: 32.54 juta
Utang Govt: RM 686.80 Miliar (51.9%)
Utang Household: RM 1.10 Triliun (83.2%)
Beban per Kapita: RM 54,910
-
2016
Populasi: 32.04 juta
Utang Govt: RM 648.50 Miliar (52.7%)
Utang Household: RM 1.04 Triliun (86.1%)
Beban per Kapita: RM 52,699
-
2015
Populasi: 31.52 juta
Utang Govt: RM 630.50 Miliar (55.1%)
Utang Household: RM 985.00 Miliar (86.0%)
Beban per Kapita: RM 51,253
-
2014
Populasi: 30.98 juta
Utang Govt: RM 582.80 Miliar (55.0%)
Utang Household: RM 902.00 Miliar (85.1%)
Beban per Kapita: RM 47,927
-
2013
Populasi: 30.42 juta
Utang Govt: RM 547.70 Miliar (54.7%)
Utang Household: RM 821.00 Miliar (82.0%)
Beban per Kapita: RM 44,992
-
2012
Populasi: 29.85 juta
Utang Govt: RM 501.60 Miliar (53.3%)
Utang Household: RM 732.00 Miliar (77.8%)
Beban per Kapita: RM 41,326
-
2011
Populasi: 29.26 juta
Utang Govt: RM 456.10 Miliar (51.8%)
Utang Household: RM 653.00 Miliar (74.2%)
Beban per Kapita: RM 37,904
-
2010
Populasi: 28.65 juta
Utang Govt: RM 407.10 Miliar (52.4%)
Utang Household: RM 581.00 Miliar (74.8%)
Beban per Kapita: RM 34,488
-
2009
Populasi: 28.04 juta
Utang Govt: RM 362.40 Miliar (51.1%)
Utang Household: RM 516.00 Miliar (72.0%)
Beban per Kapita: RM 31,326
-
2008
Populasi: 27.45 juta
Utang Govt: RM 258.00 Miliar (41.3%)
Utang Household: RM 460.00 Miliar (73.0%)
Beban per Kapita: RM 26,155
-
2007
Populasi: 26.86 juta
Utang Govt: RM 266.00 Miliar (41.1%)
Utang Household: RM 414.00 Miliar (64.0%)
Beban per Kapita: RM 25,316
-
2006
Populasi: 26.26 juta
Utang Govt: RM 242.00 Miliar (41.5%)
Utang Household: RM 372.00 Miliar (63.0%)
Beban per Kapita: RM 23,381
-
2005
Populasi: 25.66 juta
Utang Govt: RM 228.00 Miliar (43.8%)
Utang Household: RM 335.00 Miliar (64.0%)
Beban per Kapita: RM 21,940
-
2004
Populasi: 25.06 juta
Utang Govt: RM 217.00 Miliar (45.1%)
Utang Household: RM 298.00 Miliar (62.0%)
Beban per Kapita: RM 20,550
-
2003
Populasi: 24.46 juta
Utang Govt: RM 189.00 Miliar (45.9%)
Utang Household: RM 265.00 Miliar (64.0%)
Beban per Kapita: RM 18,560
-
2002
Populasi: 23.87 juta
Utang Govt: RM 165.00 Miliar (44.9%)
Utang Household: RM 236.00 Miliar (64.0%)
Beban per Kapita: RM 16,798
-
2001
Populasi: 23.28 juta
Utang Govt: RM 146.00 Miliar (42.5%)
Utang Household: RM 207.00 Miliar (60.0%)
Beban per Kapita: RM 15,162
-
2000
Populasi: 22.69 juta
Utang Govt: RM 126.00 Miliar (36.1%)
Utang Household: RM 182.00 Miliar (52.0%)
Beban per Kapita: RM 13,574
-
1999
Populasi: 22.11 juta
Utang Govt: RM 113.00 Miliar (40.4%)
Utang Household: RM 157.00 Miliar (56.0%)
Beban per Kapita: RM 12,210
-
1998
Populasi: 21.53 juta
Utang Govt: RM 98.00 Miliar (35.8%)
Utang Household: RM 135.00 Miliar (49.3%)
Beban per Kapita: RM 10,821
❌️meriam kecil
BalasHapus❌️no amunisi
❌️kapal kecil
❌️NSM BATAL haha!👎📛🤪
NSM BATAALLK❌️
BalasHapusLARANGAN EKSPOR BERAS MALAYSIA = DEFISIT
BalasHapusWITS SALAH INPUT KODE HS : KAPAL TRANSIT
-
KRISIS & LARANGAN EKSPOR BERAS MALAYSIA
• Peraturan hukum bea cukai nasional di bawah Akta Kastam 1967 yang secara berkala diperbarui (seperti Lembaran Warta Kerajaan P.U. (A) 122/2023).
• Kebijakan Re-Ekspor: Larangan keras aktivitas ekspor kembali (re-export) beras impor guna mengatasi defisit konsumsi lokal akibat Rasio Swasembada (Self-Sufficiency Ratio/SSR) yang kritis.
• Sumber Parlemen & Kementerian: Kenyataan Media Bersama KPKM: Asas Pengiraan Baharu Kadar Tahap Sara Diri (SSL) Padi dan Beras Negara, serta laporan dari Jabatan Perangkaan Malaysia (DOSM).
--------------------------------
Malaysia =
Tahun 2023 (KURANG BERAS : 1,28 Juta Ton)
• Konsumsi: 2,72 Juta Ton
• Produksi: 1,44 Juta Ton
• Defisit: 1,28 Juta Ton
• Swasembada (SSL): 56,2%
• Impor: 43,8%
-
Tahun 2024 (KURANG BERAS : 1,56 Juta Ton)
• Konsumsi: 3,00 Juta Ton
• Produksi: 1,44 Juta Ton
• Defisit: 1,56 Juta Ton
• Swasembada (SSL): 52,9%
• Impor: 47,1%
-
Tahun 2025 (KURANG BERAS : 1,56 Juta Ton)
• Konsumsi: 3,10 Juta Ton
• Produksi: 1,48 Juta Ton
• Defisit: 1,62 Juta Ton
• Swasembada (SSL): 54,3%
• Impor: 45,7%
📌 Sumber Utama: KPKM, DOSM, BERNAMA, BERNAS, dan EPU Malaysia.
--------------------------------
Persentase Negara Asal Beras Impor Malaysia (2023–2025)
• Tahun 2023 (Total Impor: 1,19 Juta Ton)
o Vietnam: 42,4% (Dominan sebagai pemasok komoditas Beras Putih Impor/BPI)
o India: 25,2% (Pemasok utama jenis khusus dan parboiled)
o Pakistan: 18,5% (Alternatif utama beras putih harga terjangkau)
o Thailand: 10,8% (Pemasok reguler stabilitas cadangan stok)
o Kamboja: 3,1% (Kontribusi kuota pelengkap)
-
• Tahun 2024 (Total Impor: 1,41 Juta Ton)
o Vietnam: 40,9% (Memasok 687,6 ribu ton)
o Pakistan: 22,7% (Memasok 382,0 ribu ton)
o India: 19,4% (Memasok 325,7 ribu ton)
o Thailand: 13,0% (Memasok 217,8 ribu ton)
o Kamboja: 4,0% (Memasok 66,9 ribu ton)
-
• Tahun 2025 (Total Impor: 1,42 Juta Ton)
o Vietnam: 40,6% (Pemasok nomor satu)
o Pakistan: 22,5% (Pemasok nomor dua)
o India: 19,2% (Pemasok nomor tiga)
o Thailand: 12,9% (Pemasok nomor empat)
o Kamboja: 4,0% (Pemasok nomor lima)
o Myanmar: 0,85% (Kategori produsen minor baru)
(📌 Sumber Persentase: Analisis Olah Data Gabungan DOSM, KPKM Malaysia, dan Rekapitulasi Bea Cukai/BERNAS)
--------------------------------
RICE CRISES = 1972-73, 1999, 2008, 2020-21,2023 AND 2025
MAID OF LONDON (MALON) has experienced several rice crises, including in 1972-73, 1999, 2008, 2020-21, and 2023. These crises are often caused by imbalances in supply and demand, and are made worse by market speculation.
--------------------------------
KURANG BERAS 50-60%
KURANG BERAS 50-60%
KURANG BERAS 50-60%
Produksi beras di Malaydesh saat ini hanya mencukupi sekitar 40-50% dari kekebutuhanan nasionalnya. Ini berarti Malaydesh mengalami kekurangan beras dan bergantung pada impor untuk memenuhi sisa kekebutuhanan.
LARANGAN EKSPOR DATA RESMI TERPERCAYA =
BalasHapusKPKM (Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan) = IMPOR BERAS
DOSM (Jabatan Perangkaan Malaysia) = IMPOR BERAS
EPU / Kementerian Ekonomi Malaysia = IMPOR BERAS
BERNAMA (Kantor Berita Nasional Malaysia) = IMPOR BERAS
-------------------------------
1. KPKM (Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan) - https://kpkm.gov.my
KPKM memegang data hulu produksi pertanian di lapangan. Laporan mereka berbasis volume panen padi mentah (padi mentah bersih) sebelum digiling:
• Tahun 2023:
Produksi Padi Mentah: 2,40 Juta Ton → (Setelah Giling 60% = 1,44 Juta Ton Beras)
Konsumsi: 2,72 Juta Ton
Hasil Akhir (Produksi - Konsumsi): Defisit 1,28 Juta Ton
• Tahun 2023:
Produksi Beras (60%): 1,44 Juta Ton
Konsumsi: 2,72 Juta Ton
Hasil Akhir yang Benar: 1,44 - 2,72 = Defisit 1,28 Juta Ton
• Tahun 2024:
Produksi Beras (60%): 1,44 Juta Ton
Konsumsi: 3,00 Juta Ton
Hasil Akhir yang Benar: 1,44 - 3,00 = Defisit 1,56 Juta Ton
-------------------------------
2. DOSM (Jabatan Perangkaan Malaysia) - https://dosm.gov.my
DOSM menghitung neraca pangan makro melalui Supply and Utilization Accounts (SUA) dan menentukan persentase Tingkat Swasembada (SSL):
• Tahun 2023 (SSL 56,2%):
Produksi Beras Giling: 1,44 Juta Ton
Konsumsi Beras: 2,72 Juta Ton
Hasil Akhir (Produksi - Konsumsi): Defisit Bersih 1,28 Juta Ton
• Tahun 2024 (SSL 52,9%):
Produksi Beras Giling: 1,44 Juta Ton
Konsumsi Beras: 3,00 Juta Ton
Hasil Akhir (Produksi - Konsumsi): Defisit Bersih 1,56 Juta Ton
• Tahun 2025 (SSL 54,3%):
Produksi Beras Giling: 1,48 Juta Ton
Konsumsi Beras: 3,10 Juta Ton
Hasil Akhir (Produksi - Konsumsi): Defisit Bersih 1,62 Juta Ton
-------------------------------
3. BERNAS (Padiberas Nasional Berhad) - https://bernas.com.my
Sebagai pemegang monopoli impor, BERNAS mencatat berapa kuota impor riil yang harus dimasukkan ke Malaysia untuk menutup selisih minus (defisit) pasokan dalam negeri:
• Tahun 2023:
Kekurangan Riil (Produksi - Konsumsi): -1,28 Juta Ton
Realisasi Impor BERNAS: 1,19 Juta Ton (Sisa defisit ditutup menggunakan stok cadangan/stockpile)
• Tahun 2024:
Kekurangan Riil (Produksi - Konsumsi): -1,56 Juta Ton
Realisasi Impor BERNAS: 1,41 Juta Ton (Sisa defisit ditutup menggunakan stok cadangan/stockpile)
• Tahun 2025:
Kekurangan Riil (Produksi - Konsumsi): -1,62 Juta Ton
Realisasi Impor BERNAS: 1,42 Juta Ton (Sisa defisit ditutup menggunakan stok cadangan/stockpile)
-------------------------------
4. EPU / Kementerian Ekonomi Malaysia - https://ekonomi.gov.my
EPU tidak merilis data tahunan berjalan, melainkan menilai target pencapaian (gap) antara kapasitas riil dengan target blueprint Rencana Malaysia (RMK-12):
• Evaluasi Target Akhir 2025:
Target Produksi EPU (Agar SSL 75%): 2,32 Juta Ton Beras
Realisasi Produksi Riil di Lapangan: 1,48 Juta Ton Beras
Selisih Evaluasi EPU: Malaysia gagal memenuhi target produksi sebesar 0,84 Juta Ton Beras, sehingga ketergantungan impor tetap tinggi di atas 45%.
-------------------------------
5. BERNAMA (Kantor Berita Nasional Malaysia) - https://bernama.com
BERNAMA mempublikasikan pernyataan berkala pemerintah mengenai krisis pasokan beras lokal akibat tingginya selisih defisit:
• Rilis Publikasi: Mengabarkan secara resmi bahwa produksi lokal rata-rata hanya berkisar 1,4 Juta Ton Beras, sedangkan kebutuhan warga melonjak hingga 2,7 - 3,1 Juta Ton. BERNAMA menegaskan angka minus sekitar 1,2 hingga 1,6 Juta Ton inilah yang setiap tahun wajib diimpor dari luar negeri dan memastikan pasar RITEL TIDAK KEKURANGAN PASOKAN.
-------------------------------
Sumber referensi =
• Data SSL & Produksi (KPKM & DOSM): Laporan penurunan Tingkat Swasembada (SSL) beras nasional dibahas di The Star.
• Defisit & Kuota Impor (BERNAS): Ulasan mengenai realisasi impor dan target ketahanan pangan dapat dibaca di New Straits Times.
• Target Blueprint Ekonomi (EPU): Dokumen strategi ketahanan pangan jangka panjang tersedia di rilis resmi KPKM Malaysia - NAP 2.0 Blueprint.