06 Juli 2013
Eksesais Stallion adalah latihan setingkat brigade oleh Angkatan Darat (photos : Dzirhan)
Seramai lima ribu anggota tentera terlibat dalam 'Eksesais Stallion' yang julung kali diadakan di peringkat briged oleh Angkatan Tentera Darat.
Latihan selama 12 hari itu bagi mempersiapkan anggota berkenaan untuk menghadapi sebarang kemungkinan.
Eskesais sejak 23 Jun lalu ini diadakan di kawasan naungan 2 dan 4 divisyen yang bermula dari Tapah, Perak hingga ke Rawang, Selangor.
Latihan yang diadakan meliputi serangan di kawasan terbina, demonstrasi pemindahan udara, serta kenderaan pelancar jambatan berperisai.
Ia kombinasi latihan melibatkan pasukan tempur, bantuan tempur, bantuan khidmat serta dibantu oleh trup medan, tentera darat dan udara.
300 buah kenderaan termasuk kereta kebal dan kereta perisai APC digunakan dalam operasi ini.
Tujuan latihan ini adalah menguji kesiapan brigade dalam peperangan konvensional (photos : TV3)
Objektifnya untuk menguji keupayaan briged dalam operasi peperangan konvensional selain menguji pemahaman dan perlaksanaan strategi daratan.
Bagi anggota yang terlibat, latihan itu amat bermanfaat sebagai pendedahan dan persiapan untuk menghadapi situasi sebenar.
Mejar Jeneral Datuk Suhaimi Mohd Zuki/ Pemangku Panglima Medan Tentera Darat :
"Kita tengok di negara-negara seperti Iraq, di Afghanistan, pertempuran di Chechnya, Bosni, battle of Bosni, dan banyak lagi tempat dan kebanyakannya kawasan-kawasannya adalah meliputi kawasan yang terbina. Dalam konteks itu Tentera Darat telah pun menggariskan untuk mendedahkan anggota".
Kapten Shahrulnizam Mat / Ketua Kompeni A RAMD :
"Ianya lebih menjurus kepada perancangan, pengatur-gerakan anggota di dalam sebuah penempatan terbina dan juga bagaimana mereka mengaplikasikan teknik pergerakan, teknik memegang senjata dan juga kawalan dan perintah".
Zulkarnain Hassan/ Pegawai Waran 2 Kompeni Alpha Batallion ke-4 RAMD :
"Dulu kami tak berapa mahir lah tapi sekarang setelah kedatangan OC saya ni dia menunjuk ajar daripada peringkat bawah sekali hingga ke atas".
(TV3)
06 Juli 2013
TNI AL Bangun Pusat Pelatihan Modern untuk Kapal Selam
06 Juli 2013
Fasilitas gedung Submarine Training Center (STC) yang akan dibangun ini terdiri dari enam macam simulator dan dibangun terintegrasi dalam satu lokasi (photo : Armada Timur)
Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI DR. Marsetio, M.M. meresmikan dimulainya pembangunan gedung Submarine Training Center (STC) hari ini, Jum’at (5/7). Acara peresmian ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Kasal didampingi Pangarmatim Laksamana Muda TNI Agung Pramono, S.H., M. Hum di area pembangunan gedung STC kompleks Komando dan Latihan Koarmatim, Ujung, Surabaya serta dihadiri pejabat teras TNI AL dan sesepuh brevet hiu kencana.
Latar belakang pembangunan gedung STC adalah sebagai fasilitas simulator untuk mempertahankan dan meningkatkan profesionalisme ABK kapal selam dihadapkan pada pembangunan kekuatan TNI AL sampai dengan tahun 2024 guna mewujudkan TNI AL yang handal, kuat dan disegani. Selain itu STC ini dapat digunakan untuk pratikum yang relevan bagi ABK kapal selam maupun calon ABK kapal selam tanpa menggunakan jam operasional kapal selam, sehingga kondisi teknis kapal dapat dilaksanakan secara maksimal dan efisien.
Negara-negara di kawasan regional seperti Malaysia, India dan Australia telah membangun sistem pelatihan awak kapal selam seiring dengan tahap awal pengadaan kapal selamnya, oleh karena itu pembangunan STC ini sangat tepat mengingat Indonesia dalam waktu dekat akan melaksanakan pengadaan tiga kapal selam baru.
Saat jumpa pers usai acara peletakan batu pertama, Kasal menyatakan saat ini Indonesia telah melaksanakan kontrak pembuatan tiga kapal selam dengan Korea Selatan dan direncanakan pada akhir tahun 2016 atau awal 2017 ketiga kapal selam tersebut sudah datang di Indonesia. Untuk pembuatan dua kapal selam dilaksanakan di Korea Selatan, sedangkan untuk pembuatan kapal selam ketiga, Indonesia telah merekrut para teknisi dari PT PAL dalam rangka Transfer of Technology (TOT) di Korea Selatan sehingga kapal ketiga dapat dibangun di PT PAL seperti halnya pembangunan kapal perang jenis Landing Platform Dock (LPD) tahun lalu. Sehingga pada tahun 2017 Indonesia memiliki lima kapal selam termasuk dua kapal selam yang sudah ada yaitu KRI Cakra-401 dan KRI Nanggala-402.
Menurut Kasal, dengan pembangunan STC ini TNI AL akan mempunyai personel awak kapal selam yang benar-benar profesional, sehingga apabila ada kapal selam yang sedang beroperasi ataupun sedang perbaikan di pangkalan, para personelnya masih dapat berlatih di STC. Enam fasilitas simulator akan melengkapi STC ini yang pembangunannya dilakukan secara bertahap. “Dengan demikian apabila TNI Angkatan Laut sewaktu-waktu menghadirkan kekuatan kapal selamnya dimanapun di wilayah NKRI, para personelnya sudah benar-benar siap dan terlatih”, tegas Kasal.
Terkait dengan kekuatan kapal selam yang dimiliki TNI AL, Kasal mengatakan bahwa sesuai dengan pembangunan Minimum Essential Force (MEF) TNI AL, untuk mengamankan wilayah NKRI diperlukan minimal 6 kapal selam dan diharapkan hal ini sudah tercapai pada tahun 2024. Menurut Kasal, pembangungan MEF ini akan terus di up date setiap tahun sesuai dengan anggaran yang dialokasikan ke TNI.
Fasilitas gedung Submarine Training Center (STC) yang akan dibangun ini terdiri dari enam macam simulator dan dibangun terintegrasi dalam satu lokasi sehingga proses pelatihan menjadi lebih efektif.
Keenam fasilitas tersebut yaitu : pertama, Submarine control simulator (SCS) yaitu simulator pelatihan awak kapal selam yang bertugas di ruang kontrol teknis dan digunakan untuk melatih personel dalam olah gerak teknis dan taktis kapal selam.
Kedua, Submarine command and team trainer (SCTT) yaitu sebuah platform yang digunakan sebagai sarana pelatihan tim Pusat Informasi Tempur (PIT) kapal selam dan merupakan sebuah mock-up situasi PIT yang sesungguhnya.
Ketiga, Sonar laboratory (SL) yaitu ruang laboratorium yang memiliki fasilitas simulator sonar yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan operator dalam melaksanakn analisa gelombang akustik.
Keempat, Machinery and propulsion control simulator (MPCS) yaitu fasilitas latihan pengoperasian peralatan utama bagian permesinan dan sistem pendorong bagi awak kapal selam.
Kelima, Fire and damage control simulator (FDCS) adalah sarana latihan penanggulangan kedaruratan pada kapal selam yaitu bahaya kebakaran dan kebocoran.
Terakhir yaitu Submarine escape training tank (SETT) yaitu fasilitas yang digunakan sebagai sarana latihan bagi awak kapal selam untuk melaksanakan penyelamatan diri dalam kondisi darurat.
Usai acara peletakan batu pertama pembangunan gedung Submarine Training Center (STC) ini, Kasal juga akan meresmikan Balai Pertemuan Warga Flat Daerah Basis TNI AL Ujung di kompleks perumahan Flat Koarmatim, Ujung Surabaya. Balai warga dengan ukuran 24 m x 24 m ini mulai dibangun pada tahun 2012 oleh Dinas Fasilitas Pangkalan (Disfaslan) Lantamal V Surabaya.
(Armada Timur)
Fasilitas gedung Submarine Training Center (STC) yang akan dibangun ini terdiri dari enam macam simulator dan dibangun terintegrasi dalam satu lokasi (photo : Armada Timur)
Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI DR. Marsetio, M.M. meresmikan dimulainya pembangunan gedung Submarine Training Center (STC) hari ini, Jum’at (5/7). Acara peresmian ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Kasal didampingi Pangarmatim Laksamana Muda TNI Agung Pramono, S.H., M. Hum di area pembangunan gedung STC kompleks Komando dan Latihan Koarmatim, Ujung, Surabaya serta dihadiri pejabat teras TNI AL dan sesepuh brevet hiu kencana.
Latar belakang pembangunan gedung STC adalah sebagai fasilitas simulator untuk mempertahankan dan meningkatkan profesionalisme ABK kapal selam dihadapkan pada pembangunan kekuatan TNI AL sampai dengan tahun 2024 guna mewujudkan TNI AL yang handal, kuat dan disegani. Selain itu STC ini dapat digunakan untuk pratikum yang relevan bagi ABK kapal selam maupun calon ABK kapal selam tanpa menggunakan jam operasional kapal selam, sehingga kondisi teknis kapal dapat dilaksanakan secara maksimal dan efisien.
Negara-negara di kawasan regional seperti Malaysia, India dan Australia telah membangun sistem pelatihan awak kapal selam seiring dengan tahap awal pengadaan kapal selamnya, oleh karena itu pembangunan STC ini sangat tepat mengingat Indonesia dalam waktu dekat akan melaksanakan pengadaan tiga kapal selam baru.
Saat jumpa pers usai acara peletakan batu pertama, Kasal menyatakan saat ini Indonesia telah melaksanakan kontrak pembuatan tiga kapal selam dengan Korea Selatan dan direncanakan pada akhir tahun 2016 atau awal 2017 ketiga kapal selam tersebut sudah datang di Indonesia. Untuk pembuatan dua kapal selam dilaksanakan di Korea Selatan, sedangkan untuk pembuatan kapal selam ketiga, Indonesia telah merekrut para teknisi dari PT PAL dalam rangka Transfer of Technology (TOT) di Korea Selatan sehingga kapal ketiga dapat dibangun di PT PAL seperti halnya pembangunan kapal perang jenis Landing Platform Dock (LPD) tahun lalu. Sehingga pada tahun 2017 Indonesia memiliki lima kapal selam termasuk dua kapal selam yang sudah ada yaitu KRI Cakra-401 dan KRI Nanggala-402.
Menurut Kasal, dengan pembangunan STC ini TNI AL akan mempunyai personel awak kapal selam yang benar-benar profesional, sehingga apabila ada kapal selam yang sedang beroperasi ataupun sedang perbaikan di pangkalan, para personelnya masih dapat berlatih di STC. Enam fasilitas simulator akan melengkapi STC ini yang pembangunannya dilakukan secara bertahap. “Dengan demikian apabila TNI Angkatan Laut sewaktu-waktu menghadirkan kekuatan kapal selamnya dimanapun di wilayah NKRI, para personelnya sudah benar-benar siap dan terlatih”, tegas Kasal.
Terkait dengan kekuatan kapal selam yang dimiliki TNI AL, Kasal mengatakan bahwa sesuai dengan pembangunan Minimum Essential Force (MEF) TNI AL, untuk mengamankan wilayah NKRI diperlukan minimal 6 kapal selam dan diharapkan hal ini sudah tercapai pada tahun 2024. Menurut Kasal, pembangungan MEF ini akan terus di up date setiap tahun sesuai dengan anggaran yang dialokasikan ke TNI.
Fasilitas gedung Submarine Training Center (STC) yang akan dibangun ini terdiri dari enam macam simulator dan dibangun terintegrasi dalam satu lokasi sehingga proses pelatihan menjadi lebih efektif.
Keenam fasilitas tersebut yaitu : pertama, Submarine control simulator (SCS) yaitu simulator pelatihan awak kapal selam yang bertugas di ruang kontrol teknis dan digunakan untuk melatih personel dalam olah gerak teknis dan taktis kapal selam.
Kedua, Submarine command and team trainer (SCTT) yaitu sebuah platform yang digunakan sebagai sarana pelatihan tim Pusat Informasi Tempur (PIT) kapal selam dan merupakan sebuah mock-up situasi PIT yang sesungguhnya.
Ketiga, Sonar laboratory (SL) yaitu ruang laboratorium yang memiliki fasilitas simulator sonar yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan operator dalam melaksanakn analisa gelombang akustik.
Keempat, Machinery and propulsion control simulator (MPCS) yaitu fasilitas latihan pengoperasian peralatan utama bagian permesinan dan sistem pendorong bagi awak kapal selam.
Kelima, Fire and damage control simulator (FDCS) adalah sarana latihan penanggulangan kedaruratan pada kapal selam yaitu bahaya kebakaran dan kebocoran.
Terakhir yaitu Submarine escape training tank (SETT) yaitu fasilitas yang digunakan sebagai sarana latihan bagi awak kapal selam untuk melaksanakan penyelamatan diri dalam kondisi darurat.
Usai acara peletakan batu pertama pembangunan gedung Submarine Training Center (STC) ini, Kasal juga akan meresmikan Balai Pertemuan Warga Flat Daerah Basis TNI AL Ujung di kompleks perumahan Flat Koarmatim, Ujung Surabaya. Balai warga dengan ukuran 24 m x 24 m ini mulai dibangun pada tahun 2012 oleh Dinas Fasilitas Pangkalan (Disfaslan) Lantamal V Surabaya.
(Armada Timur)
Label:
ANGKATAN LAUT,
INDONESIA,
Kapal Selam,
TNI-AL
05 Juli 2013
TNI AL Menuju Tataran "World Class Navy"
05 Juli 2013
Tiga Kapal Cepat Rudal pesanan TNI AL yang dibuat oleh PT Palindo Marine (photo : Palindo)
Jakarta - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) berhasil masuk ke dalam tataran World Class Navy. Untuk menjadi World Class Navy, TNI AL konsisten melaksanakan inward looking dan outward looking.
Hal itu diungkapkan oleh Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut (Kadispenal), Laksamana Pertama Untung Suropati pada acara Olahraga Bersama Wartawan di Markas Besar Angkatan Laut (Mabesal), Cilangkap, Jumat (5/7) di Jakarta.
Menurut Untung, inward looking merupakan peningkatan kemampuan sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan umum dan militer di dalam dan luar negeri serta penugasan melalui tour of duty. Selain itu, melaksanakan pembangunan kekuatan berbasis kemampuan (capability based) yang mampu menangkal dan menindak setiap ancaman militer dari luar maupun dari dalam negeri.
Untung Suropati menjelaskan, 2013 merupakan tahun keempat dari rencana strategis TNI AL periode 2010-2014. Dalam kurun waktu tersebut, TNI AL berhasil laksanakan pengadaan Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) baru dalam berbagai jenis produksi. Baik itu produksi dalam dan luar negeri yang telah diselesaikan secara bertahap.
Di antaranya 39 kapal perang seperti 2 kapal selam, 2 kapal perusak kawal rudal (PKR), 16 kapal cepat rudal (KCR), dan 8 kapal patroli cepat (PC).
Panser amfibi/pansam BTR-80A (photo : Kaskus Militer)
Untuk pengadaan kendaraan tempur (Ranpur) Marinir sebanyak 84 unit terdiri dari 49 tank BMF-3F, 14 pansam BTR-80A, 5 BVP-2, dan 16 RM-70 kaliber 122mm serta sejumlah persenjataan lainnya.
Dijelaskan, upaya TNI AL mendukung pemerintah memberdayakan industri dalam negeri, pembangunan alutsista baik LST, KCR, dan patroli cepat dilaksanakan di Lampung, Batam, Jakarta, Surabaya dan Banyuwangi.
“Pada masa mendatang akan dibangun kapal selam di dalam negeri sebagai bentuk komitmen untuk mendukung terwujudnya kemandirian nasional dalam upaya pemenuhan alutsista pertahanan,” kata Untung.
Ditambahkan, pembangunan alutsista TNI AL yang sedang dilaksanakan berkaitan erat antara strategic objective, defence capabilities dan anggaran pertahanan. Proyeksi penggunaan kekuatan TNI AL berdasarkan perkiraan strategis lima tahun kedepan meliputimasalah perbatasan dan pulau-pulau kecil terluar, separatisme, terorisme, bencana alam, beragam kegiatan ilegal dan keamanan maritim.
Dari sisi outward looking, berkaitan dengan analisis mendalam terhadap perkembangan lingkungan strategis, khususnya di kawasan Asia Pasifik dan langkah-langkah antisipatif untuk menghadapi setiap bentuk ancaman faktual maupun potensial yang diakibatkannya.
(Berita Satu)
Tiga Kapal Cepat Rudal pesanan TNI AL yang dibuat oleh PT Palindo Marine (photo : Palindo)
Jakarta - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) berhasil masuk ke dalam tataran World Class Navy. Untuk menjadi World Class Navy, TNI AL konsisten melaksanakan inward looking dan outward looking.
Hal itu diungkapkan oleh Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut (Kadispenal), Laksamana Pertama Untung Suropati pada acara Olahraga Bersama Wartawan di Markas Besar Angkatan Laut (Mabesal), Cilangkap, Jumat (5/7) di Jakarta.
Menurut Untung, inward looking merupakan peningkatan kemampuan sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan umum dan militer di dalam dan luar negeri serta penugasan melalui tour of duty. Selain itu, melaksanakan pembangunan kekuatan berbasis kemampuan (capability based) yang mampu menangkal dan menindak setiap ancaman militer dari luar maupun dari dalam negeri.
Untung Suropati menjelaskan, 2013 merupakan tahun keempat dari rencana strategis TNI AL periode 2010-2014. Dalam kurun waktu tersebut, TNI AL berhasil laksanakan pengadaan Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) baru dalam berbagai jenis produksi. Baik itu produksi dalam dan luar negeri yang telah diselesaikan secara bertahap.
Di antaranya 39 kapal perang seperti 2 kapal selam, 2 kapal perusak kawal rudal (PKR), 16 kapal cepat rudal (KCR), dan 8 kapal patroli cepat (PC).
Panser amfibi/pansam BTR-80A (photo : Kaskus Militer)
Untuk pengadaan kendaraan tempur (Ranpur) Marinir sebanyak 84 unit terdiri dari 49 tank BMF-3F, 14 pansam BTR-80A, 5 BVP-2, dan 16 RM-70 kaliber 122mm serta sejumlah persenjataan lainnya.
Dijelaskan, upaya TNI AL mendukung pemerintah memberdayakan industri dalam negeri, pembangunan alutsista baik LST, KCR, dan patroli cepat dilaksanakan di Lampung, Batam, Jakarta, Surabaya dan Banyuwangi.
“Pada masa mendatang akan dibangun kapal selam di dalam negeri sebagai bentuk komitmen untuk mendukung terwujudnya kemandirian nasional dalam upaya pemenuhan alutsista pertahanan,” kata Untung.
Ditambahkan, pembangunan alutsista TNI AL yang sedang dilaksanakan berkaitan erat antara strategic objective, defence capabilities dan anggaran pertahanan. Proyeksi penggunaan kekuatan TNI AL berdasarkan perkiraan strategis lima tahun kedepan meliputimasalah perbatasan dan pulau-pulau kecil terluar, separatisme, terorisme, bencana alam, beragam kegiatan ilegal dan keamanan maritim.
Dari sisi outward looking, berkaitan dengan analisis mendalam terhadap perkembangan lingkungan strategis, khususnya di kawasan Asia Pasifik dan langkah-langkah antisipatif untuk menghadapi setiap bentuk ancaman faktual maupun potensial yang diakibatkannya.
(Berita Satu)
Saab to Deliver Integrated Security Solution for Defence Base Security in Australia
05 Juli 2013
The contract is installation and commissioning Electronic security system for the Ausralian DoD (photo : Saab)
Defence and security company Saab has signed a contract with Watpac Construction Pty Ltd for the installation and commissioning of electronic security systems for the Australian Department of Defence. The contract amounts to MSEK 470 and deliveries will take place 2013-2014.
Watpac has been contracted as the Head Contractor by the Defence Support and Reform Group for the Base Infrastructure Works Project under the Base Security Improvement Program. This program will improve security at 16 priority defence sites. Saab is responsible to the Head Contractor for the integrated security solution based on own and third party products.
“Saab is a leading provider of security systems and our solutions for managing security in complex locations and situations are well proven. We have already completed security management contracts in prisons and Australian Government facilities,” says Gunilla Fransson, Head of Saab’s business area Security and Defence Solutions.
“We have proven our readiness and reliability to meet the most stringent security requirements and are looking forward to working with Watpac to meet Defence’s base protection needs,” says Dean Rosenfield, Managing Director, Saab Systems in Australia.
This project will be carried out by engineering staff already working at Saab’s systems integration facility at Mawson Lakes in Adelaide, Australia.
Saab serves the global market with world-leading products, services and solutions ranging from military defence to civil security. Saab has operations and employees on all continents and constantly develops, adopts and improves new technology to meet customers’ changing needs.
(Saab)
The contract is installation and commissioning Electronic security system for the Ausralian DoD (photo : Saab)
Defence and security company Saab has signed a contract with Watpac Construction Pty Ltd for the installation and commissioning of electronic security systems for the Australian Department of Defence. The contract amounts to MSEK 470 and deliveries will take place 2013-2014.
Watpac has been contracted as the Head Contractor by the Defence Support and Reform Group for the Base Infrastructure Works Project under the Base Security Improvement Program. This program will improve security at 16 priority defence sites. Saab is responsible to the Head Contractor for the integrated security solution based on own and third party products.
“Saab is a leading provider of security systems and our solutions for managing security in complex locations and situations are well proven. We have already completed security management contracts in prisons and Australian Government facilities,” says Gunilla Fransson, Head of Saab’s business area Security and Defence Solutions.
“We have proven our readiness and reliability to meet the most stringent security requirements and are looking forward to working with Watpac to meet Defence’s base protection needs,” says Dean Rosenfield, Managing Director, Saab Systems in Australia.
This project will be carried out by engineering staff already working at Saab’s systems integration facility at Mawson Lakes in Adelaide, Australia.
Saab serves the global market with world-leading products, services and solutions ranging from military defence to civil security. Saab has operations and employees on all continents and constantly develops, adopts and improves new technology to meet customers’ changing needs.
(Saab)
Nipress Battery Siap Memproduksi Baterai Kapal Selam untuk TNI
05 Juli 2013
Baterai kapal selam Type 209 (image : enersys)
Nipress Kembangkan Aki untuk Tank dan Pesawat
Bogor, KompasOtomotif – PT Nipress Tbk, produsen merek aki NS juga sedang mengembangkan baterai untuk kendaraan militer. "Visi kami berubah sejak 2008. Kami tak ingin hanya disebut pemroduksi aki mobil dan sepeda motor, tetapi all about batteries. Selain baterai lithium untuk mobil listrik, kami juga sedang mengembangkan baterai untuk kendaraan militer,” Richard Tandiono, Direktur Operasional, beberapa hari lalu.
Tank dan Kapal Selam
Saat ini, Nipress sudah menjadi penyedia baterai motive battery (baterai yang menggerakkan alat) selain untuk kendaraan sehari-hari. Di samping golf car, Richard menyebut pihaknya sudah berkolaborasi dengan TNI AL untuk mengembangkan baterai kapal selam. Produksinya sudah berjalan dan rencananya pada 2025 sudah selesai memroduksi 18 baterai masing-masing seberat 240 ton untuk 18 kapal selam.
Kerjasama juga dijalin dengan TNI AD dan AU dengan penyediaan baterai khusus untuk tank, kendaraan amfibi, dan pesawat terbang. "Kami juga dipercaya memroduksi baterai untuk menggerakkan torpedo yang akan kami realisasikan di 2016. Sedangkan baterai untuk helikopter dan pesawat di 2015,” tegas Richard.
Selain itu, perusahaan juga mengembangkan stationary battery (baterai untuk penyimpanan energi), misalnya cadangan energi untuk emergency lighting gedung, BTS berbagai provider, atau untuk mem-back up energi di data centre yang tak boleh sekali pun berkedip. Nipress juga sudah siap dengan penyediaan baterai untuk energi terbarukan seperti peranti penyimpan energi matahari atau pun angin.
Di industri otomotif sendiri (mobil dan sepeda motor), aki NS sudah berhasil meraih pangsa pasar 20 persen.
(Kompas)
Baterai kapal selam Type 209 (image : enersys)
Nipress Kembangkan Aki untuk Tank dan Pesawat
Bogor, KompasOtomotif – PT Nipress Tbk, produsen merek aki NS juga sedang mengembangkan baterai untuk kendaraan militer. "Visi kami berubah sejak 2008. Kami tak ingin hanya disebut pemroduksi aki mobil dan sepeda motor, tetapi all about batteries. Selain baterai lithium untuk mobil listrik, kami juga sedang mengembangkan baterai untuk kendaraan militer,” Richard Tandiono, Direktur Operasional, beberapa hari lalu.
Tank dan Kapal Selam
Saat ini, Nipress sudah menjadi penyedia baterai motive battery (baterai yang menggerakkan alat) selain untuk kendaraan sehari-hari. Di samping golf car, Richard menyebut pihaknya sudah berkolaborasi dengan TNI AL untuk mengembangkan baterai kapal selam. Produksinya sudah berjalan dan rencananya pada 2025 sudah selesai memroduksi 18 baterai masing-masing seberat 240 ton untuk 18 kapal selam.
Kerjasama juga dijalin dengan TNI AD dan AU dengan penyediaan baterai khusus untuk tank, kendaraan amfibi, dan pesawat terbang. "Kami juga dipercaya memroduksi baterai untuk menggerakkan torpedo yang akan kami realisasikan di 2016. Sedangkan baterai untuk helikopter dan pesawat di 2015,” tegas Richard.
Selain itu, perusahaan juga mengembangkan stationary battery (baterai untuk penyimpanan energi), misalnya cadangan energi untuk emergency lighting gedung, BTS berbagai provider, atau untuk mem-back up energi di data centre yang tak boleh sekali pun berkedip. Nipress juga sudah siap dengan penyediaan baterai untuk energi terbarukan seperti peranti penyimpan energi matahari atau pun angin.
Di industri otomotif sendiri (mobil dan sepeda motor), aki NS sudah berhasil meraih pangsa pasar 20 persen.
(Kompas)
KRI Malahayati Akan Lakukan Latihan Penembakan Chaff
05 Juli 2013
KRI Malahayati 362 (photo : wiki)
Laksanakan Operasi Tameng Hiu, KRI Malahayati-362 Sebagai Kapal Markas
Mengawali pelaksanaan Operasi Tameng Hiu-13 KRI Malahayati-362 melaksanakan loading chaff sebanyak 5 roket di dermaga Arsenal Batuporon Madura Kamis (4/7). Selanjutnya KRI Malahayati-362 akan melaksanakan penembakan chaff di laut Jawa selama pelaksanaan lintas laut menuju daerah operasi di perairan Karang Unarang.
Komandan KRI Malahayati, Letkol laut (P) Moch. Irchamni dalam pesannya menyampaikan bahwa penembakan chaff yang dilaksanakan oleh KRI Malahayati-362 merupakan bentuk profesionalisme prajurit Koarmatim, khususnya satuan kapal Eskorta. Hal ini, merupakan bukti bahwa para prajurit selain berhasil menjaga kesiapan material juga selalu siap dalam menghadapi tugas operasi.
Sesuai rencana, KRI Malahayati akan melaksanakan Operasi bersandi Tameng Hiu-13 dan dijadikan sebagai kapal markas dibawah kendali Komandan Gugus Tempur Laut Armatim selama 2 bulan. Puasa dan Lebaran bukan menjadi penghalang bagi seluruh prajurit KRI Malahayati-362 untuk melaksanakan tugas mulia, menjadi garda bangsa di daerah perbatasan.
(Armada Timur)
KRI Malahayati 362 (photo : wiki)
Laksanakan Operasi Tameng Hiu, KRI Malahayati-362 Sebagai Kapal Markas
Mengawali pelaksanaan Operasi Tameng Hiu-13 KRI Malahayati-362 melaksanakan loading chaff sebanyak 5 roket di dermaga Arsenal Batuporon Madura Kamis (4/7). Selanjutnya KRI Malahayati-362 akan melaksanakan penembakan chaff di laut Jawa selama pelaksanaan lintas laut menuju daerah operasi di perairan Karang Unarang.
Komandan KRI Malahayati, Letkol laut (P) Moch. Irchamni dalam pesannya menyampaikan bahwa penembakan chaff yang dilaksanakan oleh KRI Malahayati-362 merupakan bentuk profesionalisme prajurit Koarmatim, khususnya satuan kapal Eskorta. Hal ini, merupakan bukti bahwa para prajurit selain berhasil menjaga kesiapan material juga selalu siap dalam menghadapi tugas operasi.
Sesuai rencana, KRI Malahayati akan melaksanakan Operasi bersandi Tameng Hiu-13 dan dijadikan sebagai kapal markas dibawah kendali Komandan Gugus Tempur Laut Armatim selama 2 bulan. Puasa dan Lebaran bukan menjadi penghalang bagi seluruh prajurit KRI Malahayati-362 untuk melaksanakan tugas mulia, menjadi garda bangsa di daerah perbatasan.
(Armada Timur)
Label:
ANGKATAN LAUT,
INDONESIA,
Korvet,
Latihan Perang,
TNI-AL
Handover of Brigade 954 Naval Aviation
05 Juli 2013
DHC-6 Twin Otter (photo : tienphong)
QĐND Online - On 3/7, in Division 372 Air Force, Department of Defense held a ceremony to hand over Regiment 954 from the Air Force PK-KQ to the Navy and announced its decision to set up a helicopter Regiment 930, under Division 372 (the Air PK-KQ). Lieutenant General Vo Van Tuan, Deputy Chief of Staff of Vietnam People's Army commanders and leaders of Navy, the Air PK-KQ, the commander of Military Region 5 and Da Nang City People's Committee to attend.
Ka-28 ASW helicopter (photo : ttvnol)
Brigade 954 Air Force was handed over to the Navy on 25-6-2013 2215/QD Decision of the Minister of Defense. Earlier, Defence Minister signed Decision dated 22-5-2013 1681/QD-BQP reorganization of Regiment 964 Brigade 954 of the Air Force.
EC-225 helicopter (photo : malaysianwings)
Based on the basic functions and current capability, Naval Aviation Brigade 954 can perform the following tasks: the war submarine hunting, military transport, reconnaissance, aerial observation, on the ground , on the water, search and rescue at sea, on land and rescue, salvage and flood prevention.
Establish the Regiment 930 Helicopter
Mi-171 of the Regiment 930 (photo : toquoctrongtoi)
Once established, Regiment 930 helicopter flying observation missions; directive target reconnaissance aerial, ground and surface water; duty military transport Central Region - Southern Highlands and Gulf Tonkin special flights for the leaders of the Party and the Army and participate in search and rescue, salvage, flood control, ready to perform combat tasks and assist synergistic fire air force for the army forces when ordered, organized transfer of flight training for student helicopter pilots of the Army Air Force Officers ...
Speaking at the ceremony, Lieutenant General Vo Van Tuan emphasized that today is a historic day marked the development of the Army in general and the Navy in particular. From this, the Navy has added the Air Force. On behalf of the head of the General Staff, I suggest the Air PK-KQ and direct Navy Naval Aviation Brigade 954 and Regiment 930 Air Force helicopters perform a number of tasks in mind the following: Firmly Resolution of the Minister of Defense of the transfer of the Brigade 954 Air Force and Navy re-established Air Force Helicopter Regiment 930 of 372 Division KQ, the Air PK-KQ.
Mi-8 of the Regiment 930 (photo : Aeroprints)
Two units need to quickly strengthen the organization, staffing force, ready to take on and complete the task right from the first day, first week and always uphold the spirit of revolutionary vigilance, ready to fight , strictly abide by the orders and directives of their superiors; synergistic initiative to coordinate closely with other units in the course of performing the tasks assigned to focus on building units have formal discipline, observance of military discipline, the State law, building Party organizations TSVM, VMTD units; uphold the spirit of unity, unity between the two units; often uphold the spirit of self-reliance, urgently stable accommodation, accommodation, activities and encourage the team to overcome difficulties ensuring full mode, standards and constantly improve the material and spiritual life for the team ...
(QDND)
QĐND Online - On 3/7, in Division 372 Air Force, Department of Defense held a ceremony to hand over Regiment 954 from the Air Force PK-KQ to the Navy and announced its decision to set up a helicopter Regiment 930, under Division 372 (the Air PK-KQ). Lieutenant General Vo Van Tuan, Deputy Chief of Staff of Vietnam People's Army commanders and leaders of Navy, the Air PK-KQ, the commander of Military Region 5 and Da Nang City People's Committee to attend.
Ka-28 ASW helicopter (photo : ttvnol)
Brigade 954 Air Force was handed over to the Navy on 25-6-2013 2215/QD Decision of the Minister of Defense. Earlier, Defence Minister signed Decision dated 22-5-2013 1681/QD-BQP reorganization of Regiment 964 Brigade 954 of the Air Force.
EC-225 helicopter (photo : malaysianwings)
Based on the basic functions and current capability, Naval Aviation Brigade 954 can perform the following tasks: the war submarine hunting, military transport, reconnaissance, aerial observation, on the ground , on the water, search and rescue at sea, on land and rescue, salvage and flood prevention.
Establish the Regiment 930 Helicopter
Mi-171 of the Regiment 930 (photo : toquoctrongtoi)
Once established, Regiment 930 helicopter flying observation missions; directive target reconnaissance aerial, ground and surface water; duty military transport Central Region - Southern Highlands and Gulf Tonkin special flights for the leaders of the Party and the Army and participate in search and rescue, salvage, flood control, ready to perform combat tasks and assist synergistic fire air force for the army forces when ordered, organized transfer of flight training for student helicopter pilots of the Army Air Force Officers ...
Speaking at the ceremony, Lieutenant General Vo Van Tuan emphasized that today is a historic day marked the development of the Army in general and the Navy in particular. From this, the Navy has added the Air Force. On behalf of the head of the General Staff, I suggest the Air PK-KQ and direct Navy Naval Aviation Brigade 954 and Regiment 930 Air Force helicopters perform a number of tasks in mind the following: Firmly Resolution of the Minister of Defense of the transfer of the Brigade 954 Air Force and Navy re-established Air Force Helicopter Regiment 930 of 372 Division KQ, the Air PK-KQ.
Mi-8 of the Regiment 930 (photo : Aeroprints)
Two units need to quickly strengthen the organization, staffing force, ready to take on and complete the task right from the first day, first week and always uphold the spirit of revolutionary vigilance, ready to fight , strictly abide by the orders and directives of their superiors; synergistic initiative to coordinate closely with other units in the course of performing the tasks assigned to focus on building units have formal discipline, observance of military discipline, the State law, building Party organizations TSVM, VMTD units; uphold the spirit of unity, unity between the two units; often uphold the spirit of self-reliance, urgently stable accommodation, accommodation, activities and encourage the team to overcome difficulties ensuring full mode, standards and constantly improve the material and spiritual life for the team ...
(QDND)
Langganan:
Postingan (Atom)











.jpeg)






