03 Januari 2022

ASPI : Second-hand Japanese Boats could Rapidly Expand Australia’s Submarine Force

03 Desember 2022

Australia could ask eight JMSDF Oyashio-class submarines (photo : 19fortyfive)

Australia may have a way of very cheaply and quickly expanding its submarine force, improving its defences this decade and preparing for its planned nuclear-powered boats.

Australia’s first nuclear submarine won’t be ready until about 2040 if it’s built in Adelaide. By importing nuclear boats, that might be brought forward to 2031 or even 2030. But that would still leave the submarine force at its current, inadequate level in the 2020s, which are looking increasingly dangerous.

Second-hand Japanese submarines, by contrast, might be acquired very quickly and cheaply, and, having perhaps seven years of life left in them, wouldn’t hang around as doubtful assets into the 2060s.

The Japanese Maritime Self-Defense Force takes delivery of one submarine a year. For any other navy, that would imply a fleet of about 30 boats, since a submarine can typically serve for something like 30 years. But the force is not funded to operate so many and instead retires them early.

Until a few years ago, the fleet comprised 18 submarines. The number is now 23 and soon due to rise to 24, including two training boats.

The submarines we might lay our hands on are contemporaries of the Collins class, the Oyashio class, commissioned between 1998 and 2008.

Their surface displacement is 2,800 tonnes, compared with 3,100 tonnes for the Collins class. Their endurance and range are probably adequate for Australian missions. Their silencing and sensor performance are unlikely to be second-rate, but their crew size is largish at 70.

Australia could ask Japan for the Uzushio and the other eight frontline Oyashios as they leave service at yearly intervals. The purchase price shouldn’t be much above scrap value.

Notice that with this proposal Australia could have 13 diesel submarines in service 25 years earlier than it was planning to have 12 under the cancelled Attack-class contract.

Mission availability of second-hand Oyashios might be better than that of the Collins class, because they would never go into the two-year major refits the Collins boats will undertake.

With Oyashios arriving annually from 2023, time available for training would be short. But the delivery timeframe is so attractively quick that slowish achievement of operational capability would be acceptable.

The government should urgently examine this possibility. And it should insist that the navy and Department of Defence look not just for problems in operating second-hand Japanese submarines but also for solutions.

See full article ASPI The Strategist

02 Januari 2022

PT PAL Terima PMN Rp1,28 Triliun untuk Bangun Kapal Selam

02 Januari 2022

KRI Alugoro 405 (photo : PAL)

JAKARTA - Menteri Keuangan atau Menkeu Sri Mulyani Indrawati resmi menyerahkan Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp 1,28 triliun kepada PT PAL Indonesia (Persero). Anggaran tersebut dialokasikan untuk pembuatan kapal selam. 

Direktur Utama PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod mencatat, pihaknya tengah menyiapkan diri untuk menjawab kebutuhan alutsista nasional, khususnya kapal selam dengan melakukan strategi penguasaan teknologi kapal selam dan pengembangan teknologi kapal selam ke depan, termasuk kapal selam tanpa awak. 

"PAL Indonesia akan bertanggung jawab penuh dalam pengelolaan dana PMN dengan mewujudkan cita-cita pembangunan kapal selam dari sebelumnya berfokus ke Joint Section untuk nantinya mampu melaksanakan Whole Local Production," ujar Kaharuddin di Jakarta, Jumat (31/12/2021).

Alokasi PMN senilai Rp1,28 triliun, lanjut Kaharuddin, digunakan untuk melengkapi kemampuan sumber daya manusia (SDM), fasilitas, dan peralatan yang dibutuhkan agar mampu melaksanakan whole local production. 

Fasilitas kapal selam PT PAL (image : PAL)

Adapun peningkatan kemampuan produksi baik hardware and software melalui fasilitas-fasilitas yang akan dilengkapi di antaranya yaitu pembangunan Ship Lift, Glassfiber Reinforced Plastic (GRP) Shop, Painting Shop, Blasting Shop,

Dari aspek peningkatan kapabilitas SDM diukur dari keikutsertaan pelatihan dan sertifikasi, dari aspek peningkatan kapasitas produksi diukur melalui realisasi pembangunan fasilitas produksi, pengadaan peralatan produksi sehingga mampu melakukan produksi kapal selam secara mandiri.

Sebelumnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam pidatonya di Hari Jadi TNI pada 5 Oktober 2021 menyampaikan bahwa kebijakan belanja pertahanan, harus berubah menjadi investasi pertahanan. Berdasar pernyataan tersebut, pemerintah memberikan kepercayaan yang lebih besar kepada industri pertahanan dalam negeri untuk berkontribusi dalam upaya modernisasi alutsista. 

Pembangunan fasilitas produksi kapal selam memiliki nilai strategis yakni meminimalisir ketergantungan terhadap industri alutsista luar negeri. Harapannya pembangunan serta perawatan kapal selam dapat dilakukan di dalam negeri, sehingga Indonesia mampu secara mandiri dalam menjaga ketahanan matra lautnya. 

PMN yang diberikan pemerintah kepada PAL dan sejumlah BUMN berasal dari APBN Tahun Anggaran 2021. Suntikan dana segar itu untuk menguatkan struktur keuangan BUMN, karena harus melakukan beberapa program pembangunan fundamental.

Delimajaya Selesaikan Rekondisi Ranpur BVP-2 Korps Marinir

02 Januari 2022

Ranpur BVP-2 menjalani uji fungsi (photo : Delimajaya)

Delimajaya Group sebagai perusahaan yang bergerak dalam bidang automotif di kota Bogor mempunyai 3 unit binis masing-masing adalah Delima Jaya sebagai Karoseri kendaraan, Bahtera yang mengerjakan fabrikasi, dan Auto Assembler yang menangani perakitan kendaraan.


Sebagaimana unggahan Delimajaya dalam instagramnya, kedatangan kendaraan BVP-2 milik Korps Marinir TNI AL dilakukan pada tanggal 17 Januari 2021. Terlihat ada 2 kendaraan tank transporter yang masing-masing membawa 1 ranpur BVP-2. 

Kemudian pada tanggal 5 Februari 2021 terlihat pengerjaan BVP-2 di Delimajaya, dilakukan pekerjaan overhaul dan rekondisi untuk mengembalikan lagi ranpur ini agar tetap prima digunakan. Sebagaimana  laporan SIPRI, Indonesia pertama kali menerima kendaraan tempur ini pada tahun 1998, sehingga sudah layak untuk dilakukan rekondisi.


Pengiriman kendaraan ranpur BVP-2 setelah mengalami rekondisi (photo : Delimajaya)

Delimajaya kembali melakukan upload pada tanggal 1 Desember 2021 ketika ranpur ini mengalami uji fungsi. Jika mengacu pada pekerjaan yang sama pada tank PT-76(M) dan BMP-3F maka lingkup uji fungsi akan meliputi uji mesin, uji kedap dan uji arung.

Kemudian pada tanggal 21 Desember 2021 dilakukan pengiriman kembali ranpur Korps Marinir ini menggunakan tank transporter karena pekerjaan telah selesai dan hasil uji fungsi dinyatakan laik. 

Korps Marinir TNI AL memiliki 22 unit BVP-2, ranpur yang mempunyai kanon 2A42 kaliber 30mm ini masuk dalam Batalyon Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) yang terbagi menjadi 2 batalyon masing-masing PasMar 1 yang berada di Jakarta dan PasMar 2 yang berada di Surabaya. Belum tahu apakah ranpur ini akan menyusul juga AMX-10P yang setelah rekondisi di Delimajaya dipindahkan ke PasMar 3 di Sorong, Papua atau tidak. 

(Defense Studies)

DAHANA Uji Coba Rudal Merapi Penembak Pesawat Terbang

02 Januari 2022

PT DAHANA (Persero) bekerjama dengan Pusat Penelitian Center for Integrated Research and Innovation (CIRNOV) Universitas Ahmad Dahlan, melakukan uji coba Peluru Kendali (Rudal) Merapi di Area Weapon Range (AWR) TNI AU, Lumajang, Jawa Timur, 27 – 28 Desember 2021 (photo : Dahana)

Tahun 2021, uji coba Rudal Merapi diberi istilah “Konser Akhir Tahun 2021”, yang berfungsi untuk mengevaluasi performansi tiap-tiap subsistem rudal dalam rangka pematangan penguasaan pembuatan teknologi rudal, peningkatan kemampuan rudal, serta persiapan hasil produksi riset untuk industri. Proses Quality Assurance (QA) selama pembuatan, Rudal Merapi diproduksi dengan sangat ketat dan evaluasi kali ini meliputi performansi roket pendorong, struktur aerodinamik sirip belakang (fin-tail), sirip depan (canard), penjejak (seeker) yang menggunakan teknologi inframerah, peluncur tabung, dan lain-lain.

Menurut Direktur Teknologi dan Pengembangan DAHANA, Suhendra Yusuf RPN, DAHANA bertugas untuk membuat bahan propelan untuk roket pendorong pada rudal dengan kaliber 70 mm tersebut, sehingga Rudal Merapi mampu melesat di atas kecepatan 650 kilometer per jam atau bahkan dapat melampaui kecepatan suara.

“Kecepatan rudal mampu untuk merontokkan pesawat baik pesawat tempur, helikoper militer, serta sasaran udara lainnya seperti drone,” ujar Suhendra.

Dengan berat rudal yang cukup ringan yaitu sekitar 10 kg, Rudal Merapi dapat dengan mudah dibawa ke mana-mana oleh tentara. Pada aplikasinya, rudal dimasukkan ke dalam tabung peluncur yang membutuhkan canard dan fin-tail yang dapat dilipat, sehingga setelah rudal ditembakkan dari peluncur, semua sirip-sirip tersebut akan membuka untuk melakukan fungsi aerodinamiknya menuju sasaran.

Rudal besutan anak bangsa ini juga dilengkapi dengan sistem fire and forget, dimana setelah rudal dilepaskan, ia akan mengunci target sasaran secara otomatis, sehingga memudahkan para penembak rudal dalam melakukan manuver selanjutnya setelah melesatkan rudal.

Menurut team leader CIRNOV, Prof. Hariyadi, dari hasil uji tembak yang dilakukan, diperoleh konsistensi yang tinggi mengenai performansi roket pendorong rudal selain jarak jangkau langsung ke sasaran dapat mencapai 3.000 m. Hal ini penting karena akan menjadi salah satu rujukan dasar bagi sinkronisasi subsistem lain dari rudal secara lengkap.  Juga canard dan fin-tail dapat membuka dengan baik setelah keluar tabung peluncur untuk menuju area sasaran yang ditandai dengan flare atau sumber cahaya penghasil sinar inframerah yang dibawa terbang oleh drone.

Selanjutnya performansi sub yang lain berkaitan dengan posisi sasaran, sudut angguk (pitching), geleng (yawing), dan putaran rudal (rolling) termasuk posisi sasaran oleh seeker dapat dimonitor melalui alat telemetry yang dipasang di rudal selama ditembakkan, sehingga diperoleh data secara langsung (real time) dan berterusan untuk evaluasi. Semua komponen rudal mampu menahan hentakan (G-shock) hingga mencapai 20 G yang muncul sewaktu rudal keluar dari peluncur.

Suhendra juga berharap, dengan membuat peluru kendali secara mandiri, Indonesia dapat menghadapi ancaman embargo. Selain memenuhi kebutuhan Alutsista Nasional, produksi rudal Merapi secara masif memiliki potensi untuk menambah finansial negara dengan menawarkannya di pasar persenjataan dunia.

(Dahana)

01 Januari 2022

Angkatan Udara Thailand Mengincar 8 Jet Siluman F-35

01 Januari 2022

Pesawat tempur F-35 Lightning II (image : Lockheed Martin)

Angkatan Udara Kerajaan Thailand sedang mengincar pengadaan delapan jet siluman F-35 buatan AS, pesawat tempur paling canggih di dunia, untuk memperkuat pertahanan nasional, kata panglima tertingginya ACM Napadej Dhupatemiya.

ACM Napadej mengatakan angkatan udara membutuhkan armada jet tempur baru karena pesawat F-5 dan F-16 yang sudah tua telah beroperasi selama lebih dari tiga dekade.

Seiring bertambahnya usia pesawat, biaya perawatan dan risiko keselamatan cenderung meningkat.

Jet F-35, yang diproduksi oleh raksasa pertahanan AS Lockheed Martin, telah muncul sebagai pilihan terbaik sekarang karena biayanya lebih rendah, masing-masing turun menjadi US$82 juta (2,7 miliar baht) dari US$142 juta saat model pertama kali diluncurkan ke pasar, katanya.

Dengan Saab Gripen baru buatan Swedia dengan harga $85 juta per unit, produk Lockheed Martin tidak lepas dari jangkauan, kata ACM Napadej. Tergantung pada negosiasi, harga unit F-35 dapat diturunkan menjadi hanya di atas $70 juta, katanya.

ACM Napadej mengatakan perencanaan anggaran untuk proyek akuisisi F-35 akan dimulai pada tahun fiskal 2023, yang dimulai pada bulan Oktober, dan angkatan udara siap untuk menjawab semua pertanyaan jika memilih untuk melanjutkan pembelian.

Sebuah panel akan dibentuk untuk mempelajari program pengadaan pesawat untuk membenarkan permintaan pendanaan angkatan udara, katanya.

Menurut ACM Napadej, angkatan udara tidak membeli senjata tetapi menerapkan keamanan untuk membela rakyat dan kepentingan bangsa. Dia menyatakan keyakinannya bahwa jika publik berada di halaman yang sama dengan angkatan udara, itu akan mendukung program tersebut.

Program Angkatan Udara Thailand (image : Bangkok Post)

Mengingat keunggulan teknologi mereka, jet F-35 akan sesuai dengan kebutuhan negara untuk meningkatkan kekuatan udaranya, bagian penting dari peperangan modern, katanya.

Angkatan Udara menyadari keterbatasan anggaran yang disebabkan oleh pandemi Covid-19, katanya, mencatat bahwa pihaknya berencana untuk melakukan pembelian secara bertahap dan memilih produk-produk berkualitas tinggi yang datang dengan transfer pengetahuan teknis.

ACM Napadej mengatakan angkatan udara juga tertarik pada operasi udara modern, terutama yang melibatkan Loyal Wingman, sebuah kendaraan udara tak berawak, dalam peperangan.

Dikembangkan oleh angkatan udara Australia dan Boeing, pesawat itu terbang dalam tim dengan pesawat lain untuk memberikan dukungan dan dapat dilengkapi dengan sistem senjata, katanya.

“Kami tidak memerlukan armada penuh jet F-35. Kami mungkin hanya menggunakan delapan hingga 12 dan menggunakan drone untuk terbang bersama pesawat berawak,” kata ACM Napadej.

"Ini akan membantu menghemat biaya. Ini relatif baru tetapi teknologi ini kemungkinan akan berkembang cepat."

“Jika angkatan udara menerima dukungan dari publik, termasuk politisi, dan jika kita mampu, [angkatan udara] akan bergerak untuk meningkatkan dan memperkuat kekuatan udaranya,” katanya, seraya menambahkan proposal akan diajukan kepada Perdana Menteri dan Pertahanan. Menteri Prayut Chan-o-cha untuk dipertimbangkan ketika difinalisasi oleh angkatan udara.

Berdasarkan rencana, jet tempur baru akan dikerahkan dari Wing 1 yang berbasis di Nakhon Ratchasima.

(Bangkok Post)

DAHANA Berhasil Uji Coba Roket Smokeless Propellant

01 Januari 20222

Uji coba perdana roket tanpa asap PT Dahana (photo : Dahana)

PT DAHANA (Persero) menunjukkan keseriusannya dalam pengembangan bidang Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista), terutama di bidang peroketan dengan membangun Roket Smokeless Propellant. Uji coba perdana roket tanpa asap itu dilaksanakan di AWR TNI AU, Lumajang, Jawa Timur, Selasa, 28 Desember 2021.

Direktur Teknologi dan Pengembangan DAHANA Suhendra Yusuf RPN menyebutkan, roket besutan anak bangsa ini merupakan roket inovasi pertama di Indonesia yang memiliki kemampuan dorong tanpa asap (smokeless). Dimana, semua produksi roket dilakukan secara mandiri oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki oleh perusahaan kiblat bahan peledak yang dikelolanya.

"Smokeless Propellant Komposit ini diharapkan mampu dikembangkan pada roket kaliber 70mm atau 80mm serta dapat diintergrasikan dengan warhead cal 70mm yang telah memperoleh sertifikasi sebelumnya sehingga dapat mengurangi ketergantungan impor," ujar Suhendra.

Selain itu, Suhendra juga menambahkan, smokeless propelan komposit dapat diaplikasikan pada roket-roket lain seperti RHAN 122B dan roket lainnya, sehingga roket-roket produksi DAHANA memiliki kemampuan dorong tanpa asap.

Hingga saat ini, DAHANA telah memproduksi berbagai macam kebutuhan Alutsista seperti, kendaraan peluncur dan propelan untuk RHAN 122B, RHAN 450, Roket Senjata Lawan Tank (SLT), Bomb P Live Series dan produk lainnya.

Usaha DAHANA untuk memenuhi Alutsista, merupakan upaya untuk meminimalisir produk impor, sehingga Alutsista Negara dapat mandiri dalam produksi dan tidak terpengaruh terhadap keadaan eksternal, semisal jika terjadi embargo. Selain itu, dengan inovasi-inovasi produk pertahanan, DAHANA menopang target Kementerian BUMN dan Kementerian Pertahanan agar Indonesia masuk ke dalam 50 Industri Pertahanan terbaik dunia.

Suhendra menambahkan, dengan memproduksi Alutsista, hal ini akan membawa keuntungan bagi Negara secara finansial baik dividen maupun peningkatan devisa. Poduk-produk teranyar DAHANA nantinya dapat diproduksi secara massal untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri melalui user TNI dan dijual ke pasar internasional dalam rangka Go Global.

PTDI Selesaikan Pesawat NC212i Ketiga Pesanan Kemhan RI, Mampu Memodifikasi Cuaca

01 Januari 2022

Pesawat NC212i pesanan Kemhan RI untuk TNI AU (photos : PTDI)

BANDUNG, iNews.id - PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menyelesaikan pesawat NC212i pesanan Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI untuk end user TNI Angkatan Udara (AU). 

Pesawat NC212i militer ini memiliki kemampuan memodifikasi cuaca.  Pesawat NC212i dengan tail number AX-2128 ini dikirim dengan konfigurasi rain making yang dapat digunakan untuk melaksanakan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), yakni dengan menyemaikan garam (NaCl) di wilayah tertentu guna mengendalikan curah hujan. 

“Ini pesawat ketiga yang kita deliver dari 9 unit pesanan Kemhan untuk keperluan alutsista TNI AU. Ini merupakan kebanggaan bagi PTDI bisa kembali mengirim pesawat dengan konfigurasi rain making. Tahun depan kami juga berencana mengirimkan 3 pesawat NC212i untuk TNI AU, di mana salah satunya juga dengan konfigurasi rain making," kata Direktur Produksi PTDI Batara Silaban dalam siaran pers, Jumat (31/12/2021).  

Menurut dia, peswat ini merupakan hasil kerja sama semua pihak dari PTDI dengan customer Kemhan. Sehingga pihaknya dapat menyelesaikan pesawat ini lebih baik, lebih cepat dan bisa mewujudkan delivery ini sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.


"Harapan kami kedepannya bisa memberikan produk yang lebih baik lagi, baik dari quality, cost, maupun ketepatan waktu delivery-nya,” kata Batara Silaban. 

Adapun penggunaan pesawat NC212i ini tidak hanya untuk rain making, melainkan dapat tetap digunakan untuk passenger transport, troop/paratroop transport dan foto udara yang dapat dipasang bergantian sesuai dengan kebutuhan operasional TNI Angkatan Udara.  

Pesawat NC212i merupakan pesawat angkut ringan dengan sistem avionik modern full glass cockpit dan autopilot, yang dilengkapi dengan winglet, ramp door dan memiliki ukuran kabin yang luas dibandingkan pesawat sekelasnya. Sejak 2014, PTDI merupakan satu-satunya industri manufaktur pesawat terbang di dunia yang memproduksi pesawat NC212i.

Hingga saat ini terhitung sebanyak 119 unit pesawat NC212 series yang telah diproduksi dan dikirimkan PTDI ke berbagai customer, baik dalam maupun luar negeri, dari total sebanyak 603 unit populasi pesawat NC212 series di dunia.