06 Februari 2026

PT Pindad & BRIN Jalin Kerja Sama Riset Material Laras Senjata, Perkuat Kemandirian Indhan

06 Februari 2026

Apabila material laras senjata telah dapat dibikin sendiri di dalam negeri maka akan meningkatkan nilai TKDN yang saat ini telah mencapai 60-70% (photo: Pindad)

PT Pindad bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menandatangani perjanjian kerja sama dalam rangkaian kegiatan BRIN Goes to Industry pada Kamis, 5 Februari 2026 berlokasi di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Gedung B.J. Habibie, Jakarta. Penandatanganan dilaksanakan oleh Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad, Prima Kharisma dengan Kepala Pusat Riset Metalurgi BRIN, Ika Kartika. Kerja sama antara PT Pindad dengan BRIN bernilai strategis dalam rangka mengakselerasi hilirisasi riset menuju kemandirian industri strategis nasional.

Penandatanganan perjanjian kerja sama ini mengenai Riset Pengembangan Material untuk Laras Senjata Berbasis Baja Paduan. Tujuan kerja sama ini adalah peningkatan kemandirian industri pertahanan melalui penggunaan material dan proses dalam negeri. Laras merupakan komponen utama dalam senjata api yang memerlukan ketahanan tinggi dari ledakan serta gesekan dengan amunisi yang meluncur.

Mengawali kegiatan, Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, Hendrian menyampaikan bahwa hari ini merupakan momen penandatanganan kerja sama strategis antara BRIN dengan berbagai pihak. 

“Selanjutnya akan ada penandatanganan antara BRIN dengan PT Len Industri (Persero), lalu PT Pindad, PT Pasifik Satelit Nusantara, PT Chroma International dan PT Nuon Digital Indonesia dengan Asosiasi Game Indonesia. Saya juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi, bahwa hari ini kita mengumpulkan periset-periset, universitas hingga industri strategis dan menjalin kerja sama. Kita berharap dengan berbagai kerja sama ini dapat mengakselerasi hilirisasi kemandirian industri strategis nasional.” Ucap Hendrian.

Sekretaris Utama BRIN, Nur Tri Aries Suestiningtyas mewakili Kepala BRIN menyampaikan permohonan maaf karena berhalangan hadir pada penandatanganan kerja sama hari ini. Beliau juga menyampaikan apresiasi terhadap seluruh pihak yang mendorong kemandirian industri strategis nasional. 

“Saya mengucapkan permohonan maaf dari Kepala BRIN yang sedianya hadir pada pagi hari ini namun berhalangan karena ada kegiatan mendesak. Kami menyampaikan apresiasi terhadap seluruh mitra industri, perguruan tinggi, dan asosiasi insinyur professional atas kerja samanya dalam hilirisasi dan komersialisasi riset inovasi terkait industri mineral, industri proses, industri pertahanan maupun industri nuklir.” Jelas Sekretaris Utama BRIN.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad, Prima Kharisma menyampaikan bahwa kerja sama kali ini dengan BRIN bukanlah kali pertama. Beliau juga berharap bahwa hasil penelitian bersama ini dapat memaksimalkan tingkat kandungan dalam negeri terlebih bahan baku yang dibutuhkan ada di Indonesia.

“Sebelumnya, PT Pindad dengan BRIN sudah memiliki rekam jejak kerja sama bernilai strategis yang sudah menjadi produk, antara lain teknologi modifikasi cuaca dan Roket Rhan 122. Kerja sama kali ini juga bersifat strategis karena di Indonesia belum ada yang memproduksi material laras dan Pindad mendapatkan nilai manfaat yang besar. Apabila kita melihat TKDN produk senjata Pindad sudah mencapai 60-70%, dan hasilnya akan lebih maksimal dengan material laras senjata hasil dalam negeri.”  Jelas Prima Kharisma. 

Melalui kerja sama dengan BRIN, PT Pindad memperkuat sinergi antara industri pertahanan dan Lembaga riset nasional dalam mendorong penguasaan teknologi material strategis. Kerja sama ini diharapkan dapat mempercepat hilirisasi riset menjadi produk serta mendukung terwujudnya kemandirian industri pertahanan nasional.

Embraer Positions Thai Aviation Industries for Local Maintenance and Support to the Royal Thai Armed Forces

06 Februari 2026

Embraer ERJ135 of the Royal Thai Navy (photo: Suparat Chairatprasert)

Singapore – Embraer (NYSE: EMBJ / B3: EMBJ3) has advanced discussions with Thai Aviation Industries (TAI) for a potential partnership aimed at establishing TAI as a future local authorized service center. The initiative could enhance in country maintenance capabilities for the Royal Thai Armed Forces’ (RTARF) ERJ135 fleet. The initiative may be implemented by the end of 2026.

This collaboration marks the next phase of the Memorandum of Understanding between Embraer and TAI, reinforcing the importance of joint contribution to build a solid aerospace and defense ecosystem in Thailand through local industrial engagement and strategic partnerships.


“The ERJ135s continue to be a useful asset to the Thai government and we are impressed by Embraer’s growing portfolio of aircraft,” said Air Chief Marshal Piboon Vorravanpreecha, Managing Director of TAI. “Our partnership with Embraer demonstrates Thailand's growing capabilities in aerospace support services. We're proud to be Embraer's trusted partner in the region and look forward to exploring broader opportunities as our relationship deepens.”

"This partnership with TAI is about building long-term self-reliance and capability in Thailand's aviation industry," said Carlos Naufel, President and CEO, Embraer Services & Support. "By investing in local partnerships, we're creating the foundation for deeper collaboration across our portfolio, including opportunities for future platforms. We see strong potential for the KC‑390 Millennium’s advanced multi‑mission capabilities to support Thailand’s long‑term strategic defense requirements."

In addition to the M346F, the Indonesian Air Force Pilot Training will also be Equipped with the MiG-29C/UB for Agressor Squadron

06 Februari 2026

ESS will provide TNI AU with modernized MiG-29C/UB as agressor squadron (photo: Military Watch Magz)

Indonesia Air Force Pilot Training Modernization
PT E System Solutions (ESS) is proud and honored to deploy Advanced Training System solutions for the Indonesia Air Force and Army Rotary Aircraft Units.

The large modernization plan initiated by the then Ministry of Defense 5 years ago under the leadership of Mr Prabowo Subianto, continued by Mr Sjafrie Sjamsoeddin, focused initialy on the acquisition of 4+ and 5th generation platforms, highlithed the need for advanced training system solutions that are capable to cost effectively train young pilots to fly and develop tactics associated with the introduction of new combat functionalities associated with those new advanced combat platform.

Therefore ESS long term relationship with Leonardo in North Africa and the Middle East, teamed up with Leonardo in order to provide an advanced Lead In Fighter Training full combat capable aircraft with the M-346F Block 20.

ESS jointly with Leonardo will introduce and field this remarquable aircraft to provide the much required training platform associated with a full ground training simulation and logistic support for this aircraft.

Modernized Mig-29C/UB for Agressor Squadron 
ESS Indonesia is working now since 4 years, providing depot level maintenance and upgrade system integration on different platforms in service within the Indonesian Armed forces.

ESS part of the modernization training system of the Indonesia Air Force will also provide a much needed Aggressor Squadron in the form of a mix of modernized Mig-29C/UB associated with Unmanned Aggressor High Subsonic Aerial Target, using Manned /Unmanned Combat Training scenarios.

This will be the first fully dedicated Aggressor Squadron in Indonesia using advanced technologies and software system to teach advanced complex tactical engagement.

(ESS)

05 Februari 2026

ST Engineering Luncurkan EagleStrike Munisi Loitering

05 Januari 2026

Munisi loitering/jelajah EagleStrike dari ST Engineering (photo: Aviation Week)

SINGAPORE - ST Engineering telah meluncurkan amunisi loitering EagleStrike di Singapore Airshow, menawarkan sistem ini sebagai opsi serangan taktis untuk pasukan darat yang beroperasi di lingkungan yang semakin diperebutkan.

Chua Jin Kiat, wakil presiden eksekutif bisnis pertahanan internasional ST Engineering, mengatakan sistem ini mencerminkan kebutuhan medan perang yang berkembang untuk kemampuan bertahan hidup, mobilitas, dan daya tembak organik, seiring dengan perluasan portofolio sistem tak berawak kecil untuk pasukan darat oleh perusahaan pertahanan utama Singapura ini.

EagleStrike adalah amunisi loitering/jelajah bertenaga baling-baling yang diluncurkan dari kendaraan, dilengkapi dengan sensor elektro-optik yang tersedia secara komersial yang dipasangkan dengan algoritma penargetan yang dikembangkan sendiri oleh ST Engineering. Sistem ini memiliki jangkauan yang dinyatakan sejauh 20 km (12 mil) dan daya tahan hingga 30 menit, dengan kecepatan maksimum sekitar 30 m/detik (67 mph).

Munisi loitering/jelajah EagleStrike dari ST Engineering (photo: Jane's)

Jackson Tean, juga dari unit bisnis internasional perusahaan, mengatakan kepada Aviation Week bahwa EagleStrike membawa hulu ledak muatan berbentuk mode ganda 200 g (7 oz.). Muatan tersebut dapat disesuaikan, memanfaatkan kemampuan desain amunisi dan hulu ledak ST Engineering yang lebih luas, tambahnya.

Uji terbang sistem dimulai pada tahun 2025 di lokasi yang dirahasiakan. Tean mengatakan amunisi tersebut telah menunjukkan akurasi yang "tajam", meskipun belum ada data kinerja yang diungkapkan. Sistem ini saat ini dinilai pada Tingkat Kesiapan Teknologi (TRL) 7, yang menunjukkan demonstrasi di lingkungan operasional. Konsep potensi serangan berkelompok akan menjadi salah satu tahap pengembangan selanjutnya.

Belum ada pelanggan peluncuran untuk EagleStrike, namun Chua secara terpisah mengatakan bahwa misi ST Engineering tetap untuk mendukung kebutuhan Angkatan Bersenjata Singapura, dan melalui interaksinya dengan angkatan bersenjata internasional, mengambil pelajaran dan persyaratan untuk mengembangkan sistem senjata yang dapat dipasarkan dan mumpuni.

PTDI Tanda-tangani 2 Kesepakatan dengan ShinMaywa dan FROGS Indonesia

05 Februari 2026

Penanda-tanganan Purchase Agreement PT DI-ShinMaywa Industries (photo: PT DI)

PTDI-ShinMaywa Jepang Teken Kontrak Pengadaan Komponen Aerostructure Untuk Pesawat Komersil
Singapura  – Pada perhelatan Singapore Airshow 2026 hari kedua, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) tanda tangani Purchase Agreement (PA) dengan ShinMaywa Industries, Perusahaan kedirgantaraan asal Jepang yang dikenal sebagai produsen komponen aerostructure dengan kapabilitas engineering dan manufaktur berstandar Original Equipment Manufacturer (OEM) global.

Purchase Agreement ini ditandatangani oleh Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal dan President Aircraft Division ShinMaywa Industries, Hideyuki Mochida, disaksikan langsung oleh Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan di booth PTDI A-L31, Changi Exhibition Center.

Melalui kerja sama ini, PTDI akan berperan sebagai global supply chain dalam program manufacturing part pesawat commercial jet seperti Boeing, Airbus dan Bombadier, dengan memproduksi sejumlah komponen aerostructure berdimensi besar yang menutut tingkat presisi tinggi, serta kepatuhan terhadap standar kualitas dan sertifikasi kedirgantaraan internasional. Keterlibatan PTDI dalam program pesawat jet bisnis kelas long-range ini menunjukkan kepercayaan OEM global terhadap kapabilitas teknis, kualitas sistem manufaktur yang dimiliki PTDI.

“Kolaborasi ini mencerminkan kepercayaan industri global terhadap kapabilitas manufaktur dan engineering aerostructure PTDI, sekaligus memperkuat peran PTDI dalam rantai pasok global OEM terkemuka di industri dirgantara,” ujar Moh Arif Faisal, Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI.

Kerja sama antara PTDI dan ShinMaywa diharapkan dapat menciptakan sinergi kapabilitas teknis dan industrial, sekaligus memperluas kontribusi kedua Perusahaan dalam rantai nilai industri kedirgantaraan global. Kolaborasi ini menjadi langkah strategis yang menegaskan komitmen PTDI untuk terus mengembangkan kolaborasi internasional yang berkelanjutan, mendorong transfer pengetahuan, serta memperkuat kemandirian dan nilai tambah industri kedirgantaraan nasional. (PT DI)

Penanda-tanganan MoU PT DI - FROGS Indonesia (photo: PT DI)

PTDI Gandeng FROGS Indonesia Dorong Ekspansi Drone ke Pasar Ekspor
Singapura (04/02) – PT Dirgantara Indonesia (PTDI) sepakati Memorandum of Understanding (MoU) dengan PT Inovasi Solusi Transportasi Indonesia (FROGS Indonesia) tentang pemasaran dan produksi drone untuk pasar ekspor. MoU tersebut ditandatangani oleh Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal dan Direktur FROGS Indonesia, Asro Nasiri, disaksikan langsung oleh Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan pada hari kedua pelaksanaan Singapore Airshow 2026 di booth PTDI A-L31.

FROGS Indonesia merupakan Perusahaan yang berfokus pada bidang pengembangan dan manufaktur teknologi drone, khususnya untuk sektor pertanian (drone sprayer), pemetaan udara, pengawasan kargo, hingga drone penumpang. Kolaborasi ini sejalan dengan pengalaman PTDI dalam pengembangan platform udara nirawak (drone) untuk berbagai aplikasi, sehingga sinergi kedua belah pihak diharapkan dapat memperkuat pengembangan solusi drone yang aplikatif, adaptif, dan sesuai dengan kebutuhan pengguna. 

Melalui MoU ini, PTDI dan FROGS Indonesia menyepakati kegiatan pemasaran dan promosi bersama produk drone untuk pasar luar negeri, joint manufacturing, transfer teknologi, serta research & development untuk peningkatan kinerja dan kemampuan sistem drone. Kolaborasi ini juga mencakup eksplorasi kapabilitas masing-masing pihak, di mana PTDI akan berperan dalam penguatan pengembangan sistem, pemanfaatan fasilitas manufaktur, serta dukungan jejaring pemasaran internasional, termasuk potensi dukungan KBRI di luar negeri yang membutuhkan pemanfaatan drone di sektor pertanian dan peternakan. 

“Kerja sama ini merupakan langkah strategis PTDI dalam memperluas kapabilitas sistem udara nirawak, khususnya pada aspek pengembangan platform, integrasi sistem, dan kesiapan manufaktur untuk pasar global. Melalui kolaborasi ini, PTDI mendorong pengembangan drone yang tidak hanya unggul secara aeronautika, tetapi juga andal dari sisi performa sistem, fleksibilitas misi, serta kesiapan untuk berbagai kebutuhan operasional, termasuk pengawasan, pemetaan, dan dukungan misi non-tempur. Sinergi ini diharapkan dapat memperkuat kemandirian industri drone nasional sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional,” kata Moh Arif Faisal, Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI.

Kolaborasi PTDI dengan FROGS Indonesia melengkapi rangkaian kapabilitas PTDI dalam pengembangan Unmanned Aircraft System (UAS) di berbagai segmen aplikasi. Sebelumnya, PTDI telah mengembangkan sejumlah platform UAS, di antaranya UAS Wulung dan Unmanned Combat Aerial Vehicle (UCAV) MALE “Elang Hitam”, yang mencerminkan komitmen PTDI dalam membangun kompetensi teknologi wahana udara nirawak secara berkelanjutan.

Melalui berbagai inisiatif tersebut, PTDI mengadopsi pendekatan komprehensif dalam pengembangan UAS, mulai dari aplikasi sipil seperti drone pertanian hingga pengembangan sistem UAS berteknologi lebih lanjut, guna mendukung penguatan ekosistem industri dirgantara nasional. (PT DI)

Singapore dan Epirus Sepakat untuk Mempelajari Kemampuan Counter-UAS dengan High-Power Microwave

05 Februari 2026

Epirus memproduksi "Leonidas" yaitu susunan HPM berbasis galium nitrida (photos: Epirus)

SINGAPORE - Defense Science and Technology Agency (DSTA) Singapore dan Epirus yang berbasis di AS telah menandatangani nota kesepahaman untuk memajukan kemampuan anti-drone gelombang mikro daya tinggi/high-power microwave (HPM).

Pakta ini menandai kolaborasi pertama Epirus di kawasan Asia-Pasifik setelah serangkaian program dengan militer AS.

Berdasarkan perjanjian tersebut, para mitra akan berkolaborasi dalam penelitian, pengujian, dan evaluasi teknologi HPM terhadap ancaman drone canggih dalam berbagai skenario penyebaran. Kedua pihak mengatakan upaya tersebut akan mencakup pengujian terhadap drone yang dipandu serat optik dan yang didukung kecerdasan buatan, yang semakin dirancang untuk menghindari pengacauan frekuensi radio konvensional dan sistem peperangan elektronik.

DSTA menambahkan bahwa teknologi tersebut dapat digunakan untuk “memperkuat kemampuan Singapore dalam penanggulangan elektronik dan perlindungan aset penting.”

Epirus memproduksi susunan HPM berbasis galium nitrida Leonidas, yang dipilih oleh Angkatan Darat AS untuk program Kemampuan Perlindungan Tembakan Tidak Langsung - Gelombang Mikro Daya Tinggi/Indirect Fire Protection Capability-High Power Microwave. Perusahaan ini juga bermitra dengan General Dynamics Land Systems untuk mengintegrasikan Leonidas ke platform bergerak berbasis kendaraan lapis baja Stryker 8x8.

Meskipun parameter kinerja terperinci dari sistem Leonidas sebagian besar masih dirahasiakan, Epirus mengungkapkan bahwa pada Agustus 2025 sistem tersebut menunjukkan kemampuan untuk mengalahkan 49 drone dalam satu serangan gelombang mikro berenergi tinggi. Perusahaan ini juga sedang mengembangkan varian pod yang lebih kecil yang dirancang untuk diintegrasikan ke sistem pesawat tanpa awak (UAS), menyediakan opsi anti-drone HPM udara ketinggian rendah.

Kolaborasi ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran atas proliferasi UAS kecil, otonom, dan berkemampuan kawanan/berkelompok/swarm di kawasan Asia-Pasifik, khususnya yang menggunakan metode panduan non-tradisional yang mengurangi kerentanan terhadap serangan elektronik.

Waktu penandatanganan perjanjian ini menyusul akuisisi baru-baru ini oleh Singapore atas sejumlah kendaraan tempur infanteri beroda Terrex s5 8 x 8 dari ST Engineering. Kementerian Pertahanan mengatakan kendaraan tersebut—yang diberi nama Titan—akan dipersenjatai dengan meriam 30mm dan dilengkapi dengan fitur anti-UAS, yang menunjukkan dorongan yang lebih luas untuk mengintegrasikan pertahanan udara berlapis dan kemampuan anti-drone di tingkat taktis.

(Aviation Week)

Menjajaki Teknologi Pertahanan Global, Danmenkav 3 Marinir Kunjungi Yugoimport Serbia

05 Februari 2026

Factory Acceptance Class munisi kaliber 122 mm di Yugoimport, Serbia (photos: Korps Marinir)

TNI AL, Dispen Kormar -- Dalam rangka menjajaki perkembangan teknologi pertahanan global serta memperluas wawasan terkait Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) modern, Danmenkav 3 Marinir Kolonel Mar Fachrul Ahmadi, S.H., mewakili Komandan Pasmar 3 Mayjen TNI (Mar) Andi Rahmat M., melaksanakan kunjungan ke perusahaan industri pertahanan Yugoimport SDPR yang berlokasi di Serbia, Eropa Tenggara, Selasa (03/02/2026).

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya TNI, khususnya Korps Marinir TNI Angkatan Laut, dalam memperoleh gambaran secara langsung mengenai pengembangan teknologi sistem persenjataan, sekaligus pelaksanaan kegiatan Sertifikasi Kelaikan dan Factory Acceptance Test (FAT) munisi kaliber 122 mm.


Dalam kegiatan tersebut, Danmenkav 3 Marinir tergabung dalam Tim Sertifikasi Kelaikan dan FAT Munisi 122 mm yang terdiri dari beberapa perwira lintas instansi, yakni Kolonel Cpl Argo Ponco Yuwono, S.E. selaku Dosen Utama Seskoad, Letkol Kav I Ketut Biomantara, S.T., M.Si. sebagai Kasubbid Kelaikan Fasprodhar Bidang Laik Darat Puslaik Kemhan, Letkol Mar Y.D. Wawan Setiawan, S.Pd. selaku Kabagum Setdis Puslaikmatlamjaal, serta Mayor Cpl Herry Wahyudi, S.T. selaku Penelaah Teknis Kebijakan Subbid Kelaikan Produk dan Hasil Pemeliharaan Bidang Laik Darat Puslaik Kemhan.

Yugoimport SDPR merupakan perusahaan industri pertahanan milik negara Serbia yang didirikan pada tahun 1949 dan secara resmi mulai mengekspor persenjataan pada tahun 1953. Perusahaan yang berkantor pusat di Beograd tersebut bergerak dalam bidang produksi dan perdagangan sistem persenjataan, antara lain kendaraan lapis baja, sistem artileri, pesawat tanpa awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV), serta amunisi kaliber kecil hingga besar.


Ditempat terpisah, Danpasmar 3 dalam keterangannya menyampaikan bahwa keikutsertaan Pasmar 3 dalam kegiatan ini merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan, sekaligus bentuk kepercayaan untuk mewakili Korps Marinir TNI AL dalam kegiatan strategis di bidang pertahanan. Diharapkan, hasil dari kunjungan ini dapat memberikan manfaat positif dalam mendukung peningkatan kemampuan tempur serta modernisasi Alutsista Korps Marinir TNI AL.

Adapun Tim Sertifikasi Kelaikan dan FAT Munisi 122 mm berangkat dari Indonesia menuju Serbia pada tanggal 25 Januari 2026 dan melaksanakan kegiatan selama enam hari. Selanjutnya, tim dijadwalkan kembali ke Indonesia pada tanggal 31 Januari 2026 dengan menggunakan pesawat udara.