03 September 2026

263 Unit TEDUNG dan KALA akan Diserahkan kepada ATM

03 September 2026

Tedung HMV (photo: Agrale)

KUALA LUMPUR – Angkatan Bersenjata Malaysia (ATM) akan menerima 263 unit aset mobilitas tinggi baru, yang mencakup TEDUNG dan KALA, dengan nilai total RM164,91 juta untuk memperkuat kemampuan pergerakan taktis dan pengintaian di berbagai medan operasi.

Menteri Pertahanan, YB Dato’ Seri Mohamed Khaled bin Nordin, meluncurkan aset-aset tersebut setelah meresmikan Upacara Peluncuran Bulan Kebangsaan dan Pengibaran Jalur Gemilang 2026 tingkat Kementerian Pertahanan di Dataran Wisma Pertahanan, hari ini.

TEDUNG adalah platform Kendaraan Mobilitas Tinggi (High Mobility Vehicle) berbasis Agrale Marruá AM250 Double Cab yang dikembangkan untuk menawarkan ketahanan, fleksibilitas, dan kemampuan manuver di berbagai lingkungan operasi.

Sebanyak 163 unit TEDUNG akan dipasok, yang terdiri dari 80 unit Kendaraan Pembawa Senjata (KPS) AGL dan 83 unit KPS HMG, dengan total nilai kontrak sebesar RM92,91 juta.
TEDUNG ditenagai oleh mesin diesel Cummins F3.8 Intercooled Turbo yang menghasilkan tenaga maksimum 170 cv (125 kW) dan torsi 600 Nm, serta dilengkapi dengan sistem penggerak 4×4 *full-time*. Kendaraan ini juga memiliki jarak terendah ke tanah (*ground clearance*) sebesar 350 milimeter, sudut datang (*approach angle*) 58 derajat, dan kemampuan menanjak hingga 60 persen di jalan beraspal serta 40 persen di medan *off-road* (lintas alam).

Kala HMV (photo: Agrale)

Sementara itu, KALA adalah Kendaraan Pengintai Mobilitas Tinggi (*High Mobility Reconnaissance Vehicle* atau HMRV) yang dikembangkan untuk memberikan mobilitas taktis, kelincahan, dan kemampuan melintasi berbagai medan guna mendukung beragam kebutuhan operasi.

Sebanyak 100 unit KALA akan dipasok melalui kontrak senilai RM72 juta. KALA ditenagai oleh mesin Rotax 900cc ACE *Turbocharged* dengan tenaga hingga 200 HP serta dilengkapi dengan sistem penggerak 2WD/4WD, pengunci diferensial depan, dan suspensi khusus medan *off-road*. KALA juga memiliki jarak bebas ke tanah (*ground clearance*) sebesar 330 milimeter dan mampu melintasi genangan air sedalam 500 milimeter, mengatasi rintangan vertikal setinggi 300 milimeter, serta melintasi parit selebar 500 milimeter. Kendaraan ini memiliki kapasitas untuk mengangkut seorang pengemudi dan tiga orang awak lengkap.

Pengadaan kedua aset ini juga memungkinkan TEDUNG dikonfigurasi ke dalam berbagai varian sesuai kebutuhan misi, termasuk KPS, *Fitted for Radio* (FFR), Kendaraan Penarik Meriam (KPM), dan Kendaraan Komando.

Langkah ini mencerminkan upaya berkelanjutan ATM untuk memperkuat kemampuan dan kesiapan aset guna memenuhi kebutuhan operasional saat ini maupun di masa depan. 

(ATM)

02 September 2026

RSN and JMSDF Successfully Conclude Exercise Singapan

02 September 2026

Singapore-Japan on Exercise Singapan 2026 (photos: Sing Mindef)

The Republic of Singapore Navy (RSN) and the Japan Maritime Self-Defense Force (JMSDF) concluded Exercise Singapan, a bilateral naval exercise between the two countries.


The Republic of Singapore Navy (RSN) and the Japan Maritime Self-Defense Force (JMSDF) concluded Exercise Singapan, a bilateral naval exercise between the two countries. Held from 27 to 28 August 2026 in the waters off Japan in the Pacific Ocean, the exercise saw the participation of the RSN’s Formidable-class frigate RSS Steadfast and the JMSDF’s Asagiri-class destroyer JS Hamagiri and Akizuki-class destroyer JS Teruzuki.


During the exercise, both sides exchanged sea riders and conducted a series of conventional warfare serials. These included gunnery firings, communication exercises, and manoeuvring serials. Personnel from both sides also engaged in exercise planning and ship visits ashore.


Commander First Flotilla, Colonel (COL) Carlin Song, and Commander Surface Warfare Squadron Nine, Captain (CAPT) Iwade Yohei, co-officiated at the opening ceremony at Yokosuka Naval Base on 27 August 2026. Highlighting the importance of continued cooperation, COL Song said, “The RSN and JMSDF share a warm and friendly relationship, built on professional exchanges, exercises, and ship visits. This bilateral exercise reflects our commitment to deepening cooperation and strengthening friendships.”


RSS Steadfast recently hosted Navy at Tokyo from 21 to 22 August 2026, before the commencement of Exercise Singapan.

Peresmian Batalyon Armed 22/Kesumawira

02 September 2026

Rudal balistik taktis Khan/ITBM-600 berjangkauan 280 km melengkapi YonArmed 22 (photos: YonArmed 22, Polri)

Kutai Kartanegara, Pada tanggal 19/08/2026 Panglima Kodam VI/Mulawarman, Mayjen TNI Krido Pramono, S.H., M.Si., secara resmi meresmikan Batalyon Armed 22/Kesumawira yang bertempat di Desa Jembayan, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Kegiatan peresmian turut dihadiri oleh sejumlah pejabat TNI dan Polri serta unsur Forkopimda di antaranya Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Danpussenarmed, Danrem 091/ASN, Danrem 092/MRL, Bupati Kutai Kartanegara, unsur Muspida, serta para Mitra satuan.


Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Mayjen TNI Krido Pramono, S.H., M.Si., secara resmi melaksanakan penyerahan Tunggul Batalyon Armed 22/Kesumawira kepada Letkol Arm Novihardi, S.E., M.H.I., selaku Komandan Batalyon Armed 22/Kesumawira.

Penyerahan Tunggul tersebut menjadi simbol resmi berdirinya Batalyon Armed 22/Kesumawira sekaligus menjadi tonggak awal dalam pelaksanaan tugas dan pengabdian satuan di wilayah Kalimantan Timur.


Dengan diresmikannya Batalyon Armed 22/Kesumawira, diharapkan satuan ini mampu meningkatkan kesiapsiagaan dan profesionalisme prajurit serta memberikan kontribusi nyata dalam mendukung tugas pokok TNI Angkatan Darat.

Sebagai satuan baru, Batalyon Armed 22/Kesumawira akan terus membangun soliditas, meningkatkan kemampuan dan profesionalisme prajurit, serta memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, TNI-Polri, dan seluruh komponen masyarakat.


Momentum peresmian ini menjadi awal perjalanan pengabdian Batalyon Armed 22/Kesumawira dalam menjaga kehormatan satuan, melaksanakan setiap tugas dengan penuh tanggung jawab, serta memberikan pengabdian terbaik bagi bangsa dan negara.

Royal Thai Army Conducted Live-fire Test of Hard Kill UAV System

02 Agustus 2026

Live-fire Test of Hard Kill UAV System at Khao Phu Lon Artillery Range, Lopburi (photos: Royal Thai Army)

On August 27, 2026, Maj. Gen. Rawee Tangpitakkul, Director of the Army Research and Development Office (ARDO), and his team observed a live-fire test. The system being tested—an anti-UAV (Unmanned Aerial Vehicle) turret—was developed through a joint research project involving Assoc. Prof. Dr. Chana Raksiri and a research team from Kasetsart University, in collaboration with the Royal Thai Army, ArmySys Co., Ltd., and Thai Rung Co., Ltd. The test took place at the Khao Phu Lon Artillery Range, Artillery Center, Lopburi Province.


This live-fire test utilized a 12.7mm machine gun against an aerial target (a drone towing a balloon). The objective was to evaluate the performance of the turret's control and command software across two developed configurations:
1. Vehicle-mounted turret (Mobile type)
2. Ground-based turret (Stationary type)


Test results demonstrated that the turret could automatically track targets detected by EO/IR cameras and accurately destroy moving targets—as designed in the Automatic Tracking and Fire Control software. This developed platform serves as a crucial foundation, ready to be adapted for broader anti-drone and moving-target defense systems capable of handling various engagement ranges and mission profiles.

01 September 2026

KRI Makassar-590 Laksanakan Latihan SBO Heli Trimatra

01 September 2026

Latihan Ship Board Operation (SBO) heli Bell 412 dari TNI AD, H 3218 Superpuma dari TNI AU, dan AS565 MBe Panther dari TNI AL (photos: Satfib Koarmada2)

KRI Makassar-590, bagian dari Satuan Kapal Amfibi Koarmada II, melaksanakan latihan Ship Board Operation (SBO) Heli pada 26 Agustus 2026 untuk meningkatkan kemampuan operasional penerbangan helikopter dari kapal. 

Latihan ini melibatkan TNI Angkatan Darat, Laut, dan Udara dengan KRI Makassar-590 berfungsi sebagai kapal Landing Platform Dock (LPD).


Tiga jenis helikopter yang digunakan adalah Bell 412 dari TNI AD, H 3218 Superpuma dari TNI AU, dan AS565 MBe Panther dari TNI AL. Kegiatan ini merupakan bagian dari Naval Parade untuk merayakan Hari Ulang Tahun TNI dan bertujuan meningkatkan koordinasi, interoperabilitas, dan integrasi operasi. 

Latihan ini juga menguji kesiapan personel dan prosedur operasi. KRI Makassar-590 berperan penting dalam mendukung operasi amfibi dan siaga untuk menjaga keamanan wilayah Indonesia.


KRI Makassar-590 siap mendukung operasi dan latihan gabungan TNI secara profesional dan terintegrasi.

Coast Guard Radar Station in Pangutaran, Sulu Reaches 100% Completion

01 September 2026

Coast Guard radar station at Pangutaran, Sulu (photos: PCG)

 The CGWCEIS Sulu personnel successfully installed the radar scanner, including the obstruction light (OB Light), at the top of the Coast Guard Radar Tower at Coast Guard Radar Station Pangutaran, Sulu, today August 26, 2026.

This significant milestone marks the completion of the remaining installation works, bringing the Coast Guard Radar Station Pangutaran project to 100% completion.

The newly completed facility will further enhance maritime domain awareness, safety, security, and monitoring capabilities within the area.

(PCG)

Proyeksi Perdagangan Pertahanan Indonesia-Amerika Serikat

01 September 2026

TNI AU masih memerlukan tambahan C-130J-30 guna menggantikan C-130B maupun L-100-300 (photo: Antara)

Perdagangan pertahanan Indonesia dan Amerika Serikat mengalami kemunduran sejak era Presiden Joko Widodo setelah mengecap arus pasang pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Parameter yang digunakan dalam menilai pasang surut aktivitas tersebut ialah pembelian peralatan pertahanan utama (major defense equipment) yang mencakup wahana beserta subsistem pendukung.

Akuisisi sistem senjata seperti AH-64E, F-16C/D Blok 25 dan sejumlah rudal bagi TNI Angkatan Udara dan TNI Angkatan Darat selama Minimum Essential Force (MEF) tahap pertama menandai menggeliatnya kembali kegiatan perdagangan kedua negara pascapencabutan embargo Amerika Serikat terhadap Indonesia pada 2005. Sedangkan pada MEF fase kedua, pengadaan signifikan oleh Indonesia terhadap produk pertahanan Amerika Serikat hanya berupa lima C-130J yang didanai oleh sindikasi sebuah bank BUMN dan sebuah bank asal Prancis.

Saat MEF babak ketiga dieksekusi, tidak ada program pembelian peralatan pertahanan utama buatan Amerika Serikat yang dilaksanakan oleh Indonesia. Program akuisisi beberapa rudal bagi F-16 dicoret dari Blue Book, sementara rencana mengimpor F-15EX juga hilang dari Daftar Rencana Pinjaman Luar Negeri Jangka Menengah 2020-2024.

Selain itu, sebuah kontrak pembelian sistem senjata asal Amerika Serikat tidak dapat dieksekusi sebab terjadi perubahan pemikiran di Kementerian Pertahanan. Padahal pada MEF tahap ketiga, Kementerian Keuangan menyediakan alokasi Pinjaman Luar Negeri untuk Kementerian Pertahanan nyaris lima kali lipat daripada MEF fase kedua.

Ketika Indonesia memasuki Optimum Essential Force (OEF) 2025-2029, sulit mengharapkan akan ada pembelian dengan nilai kontrak yang besar dari Amerika Serikat. Seumpama akal sehat masih mewarnai dalam pengambilan keputusan, Indonesia setidaknya harus melakukan pengadaan munisi bagi F-16 dan AH-4E, termasuk rudal dan kit bom pintar agar armada jet tempur dan helikopter serang itu siap tempur dan tidak hanya siap untuk acara seremonial saja.

Tentu menjadi pertanyaan mengapa Jakarta tidak bersemangat untuk berbelanja peralatan perang dari Washington walaupun beberapa tahun lalu Menteri Pertahanan Prabowo Subianto pernah menyatakan bahwa prioritas belanja peralatan pertahanan Indonesia adalah pada negara-negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB.

Terhadap pertanyaan demikian, beberapa hal berikut patut diduga berkontribusi pada arus surut perdagangan pertahanan Indonesia dan Amerika Serikat. Pertama, perencanaan akuisisi. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa perencanaan pembelian sistem senjata tidak dilakukan secara matang, bahkan ada pihak yang menilai bahwa tidak ada perencanaan sama sekali.

Persenjataan F-16 standar Viper (photo: Reddit)

Padahal seandainya perencanaan dilaksanakan secara matang, faktor-faktor seperti geopolitik, ekonomi maupun kondisi peralatan pertahanan yang digunakan saat ini, besar kemungkinan akan mempengaruhi keputusan mengenai akuisisi pertahanan. Sebagai contoh, perencanaan yang matang tidak akan membuat suatu wahana yang dioperasikan nyaris kekurangan munisi dan suku cadang karena tidak ada pembelian baru.

Kedua, aturan perdagangan pertahanan. Aturan perdagangan pertahanan Amerika Serikat yang ketat, di mana produsen senjata negara itu dapat dikenai denda oleh Departemen Kehakiman apabila melanggar aturan, membuat aktivitas perdagangan dengan Amerika Serikat tidak menarik bagi Indonesia.

Walaupun terdapat skema Direct Commercial Sales (DCS) bagi sejumlah sistem senjata, skema tersebut terhitung cukup ketat, meskipun tidak sekeras skema Foreign Military Sales (FMS). Misalnya, DCS tidak dapat mengakomodasi peran makelar dalam ekspor senjata Amerika Serikat ke negara lain, selain nilai fee bagi mitra lokal firma pertahanan Amerika Serikat telah diatur.

Ketiga, daya saing harga jual. Penjualan sistem senjata Amerika Serikat ke luar negeri selalu dirangkai dengan paket Integrated Logistics System (ILS) atau dikenal juga sebagai initial spare minimal hingga dua tahun ke depan agar pembeli dapat memakai secara optimal dalam jangka waktu tertentu. Biaya pengadaan akan menjadi lebih mahal lagi seumpama Indonesia meminta paket offset sebagai implementasi dari aturan yang berlaku.

Kedua hal itu dapat membuat harga yang ditawarkan oleh Amerika Serikat lebih mahal daripada yang disodorkan oleh pesaing, sebab kompetitor dapat saja mengurangi paket ILS agar harga yang diajukan lebih murah. Selama ini Indonesia kurang memberikan perhatian khusus pada paket ILS dalam akuisisi sistem senjata, antara lain tercermin dalam pembelian Rafale F4i.

Bertolak dari situasi sekarang, bagaimana proyeksi perdagangan pertahanan Indonesia dan Amerika Serikat sampai akhir dekade ini? Apakah Indonesia akan menyisihkan sebagian kecil anggaran modernisasi kekuatan pertahanan guna dibelanjakan di Amerika Serikat? Pertanyaan itu tidak mencakup pembelian rutin untuk suku cadang sejumlah produk pertahanan Amerika Serikat yang saat ini dioperasikan oleh Indonesia.

Kemhan dapat mempertimbangkan tambahan AH-64E jika hendak meningkatkan kesiapan operasional helikopter serang (photo: Antara)

Memperhatikan secara seksama dinamika kerjasama pertahanan saat ini, apalagi setelah kedua belah pihak menyepakati Major Defense Cooperation Partnership yang mencakup pula modernisasi militer dan pembangunan kapasitas, proyeksi perdagangan pertahanan Indonesia dan Amerika Serikat ialah sebagai berikut.

Pertama, kemungkinan pembelian C-130J-30. Bila mengacu pada rencana kebutuhan TNI Angkatan Udara, matra tersebut masih memerlukan tambahan C-130J-30 guna menggantikan sejumlah C-130B yang dipensiunkan maupun C-130H dan L-100-300 yang mengalami total loss akibat kecelakaan.

Apalagi saat ini TNI Angkatan Udara sudah mempunyai tiga skadron udara untuk pesawat angkut buatan Lockheed Martin, di mana terdapat jumlah standar C-130 yang harus dipenuhi pada setiap skadron udara. Pengadaan C-130J-30 dapat menggunakan skema DCS, namun Amerika Serikat tidak dapat mengakomodasi peran makelar dalam ekspor pesawat turboprop itu ke Indonesia.

Kedua, peluang pengadaan munisi dan kit bom pintar. Apabila Indonesia benar-benar menyiapkan sistem senjata seperti AH-64E dan F-16 siap tempur dan bukan hanya bisa fly past di acara-acara seremonial, akuisisi rudal seperti AIM-9X, AIM-120C-7, AGM-65K2 dan AGM-114R-3 beserta kit bom pintar wajib dilakukan.

Terdapat dugaan terdapat ketidakseimbangan antara kebutuhan munisi dengan jumlah wahana yang dipunyai sehingga berpotensi menjadi masalah besar jika terhadap konflik bersenjata di kawasan Indo Pasifik. Memperhatikan karakteristik rudal dan kit tersebut, satu-satunya skema yang tersedia seumpama Indonesia hendak membeli adalah FMS, sehingga menutup rapat kemungkinan Indonesia memanfaatkan jasa makelar.

Di luar impor F-15EX yang pintunya telah tertutup rapat sesudah Indonesia tidak menandatangani Letter of Offer and Acceptance pada Desember 2025, Jakarta perlu mempertimbangkan tambahan AH-64E jika hendak meningkatkan kesiapan operasional pesawat sayap putar buatan Boeing itu berdasarkan siklus operasi dan pemeliharaan sistem senjata.

Sebenarnya terdapat kebutuhan TNI Angkatan Darat terhadap tambahan helikopter serang tersebut, namun apakah akan dipenuhi tergantung pada Kementerian Pertahanan. Sebagaimana rudal, pengadaan AH-64E kurang menarik sebab hanya bisa lewat skema FMS yang bebas makelar. (Alman Helvas Ali)