05 September 2026

G7 Aerospace Kunjungi Infoglobal, Bahas Penguatan Kolaborasi Avionik

05 September 2026

G7 Aerospace Malaysia kunjungi Infoglobal di Surabaya (photos: Infoglobal)

Infoglobal menerima kunjungan G7 Aerospace untuk membahas peluang penguatan kolaborasi di bidang avionik.

Kunjungan ini meliputi diskusi peluang kerja sama jangka pendek, menengah, dan panjang, facility tour dan pemaparan teknologi yang dikembangkan Infoglobal, sebagai bagian dari komitmen bersama dalam menghadirkan solusi avionik yang andal dan berkelanjutan di Asia Tenggara.


Agenda dilanjutkan dengan kunjungan fasilitas dan pemaparan teknologi yang sedang dikembangkan Infoglobal. Melalui pertemuan ini, kedua pihak diharapkan dapat memperkuat sinergi dan mengidentifikasi langkah-langkah kerjasama yang kongkret dalam mendukung ketersediaan, keandalan dan pengembangan sistem avionik pada masa mendatang. Infoglobal berkomitmen untuk terus membangun kolaborasi strategis dengan mitra industri dalam menghadirkan solusi avionik yang andal, relevan dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat rantai pasok avionik di Asia Tenggara.

04 September 2026

PM Thailand Memeriksa Kesiapan Tempur Angkatan Laut Kerajaan Thailand, Termasuk HTMS Chakri Naruebet

04 September 2026

PM Anutin Charnvirakul memeriksa kesiapan tempur Royal Thai Navy (RTN) dalam latihan di provinsi Chonburi. RTN berencana untuk memiliki total 8 unit kapal fregat berkinerja tinggi dalam armadanya hingga tahun 2037, sekarang baru ada 4 (all photos: RTN)

Laksamana Muda Parach Rattanachaiyapan, juru bicara Angkatan Laut Kerajaan Thailand, mengungkapkan bahwa pada hari Kamis, 27 Agustus 2026, Perdana Menteri mengunjungi latihan Satuan Tugas di Teluk Thailand bagian atas dan Lapangan Latihan Angkatan Laut Kerajaan Thailand No. 15 (Haad Yao), Distrik Sattahip, Provinsi Chonburi, untuk menerima pembaruan tentang persiapan dan kesiapan pasukan untuk misi sesuai dengan kebijakan Panglima Angkatan Laut Kerajaan Thailand, yang menetapkan tahun 2026 sebagai "Tahun Kesiapan Tempur Angkatan Laut Kerajaan Thailand."

Inspeksi ini akan menunjukkan kesiapan Angkatan Laut Kerajaan Thailand dalam hal personel, peralatan, dan taktik, serta integrasi kekuatan angkatan laut, kekuatan udara, Komando Korps Marinir, unit perang khusus angkatan laut, dan sistem komando dan kendali, yang memungkinkan misi gabungan yang terkoordinasi dan efektif.


Pada kesempatan ini, Perdana Menteri memeriksa operasi di atas HTMS Chakri Naruebet, menerima pengarahan tentang situasi dan konsep pengerahan pasukan, mengamati dukungan senjata pantai, dan menyaksikan demonstrasi penggunaan pesawat tanpa awak. Latihan ini merupakan bagian dari rencana pengembangan untuk memanfaatkan HTMS Chakri Naruebet sebagai "Carrier UXV," yang berfungsi sebagai basis komando, kendali, dan dukungan untuk operasi pesawat tanpa awak (UAV) multidimensi, termasuk pengintaian, pengawasan, pencarian, dan penunjukan target. Hal ini meningkatkan jangkauan dan kontinuitas operasional, mengurangi risiko terhadap personel, dan meningkatkan efektivitas pasukan tempur utama Angkatan Laut Kerajaan Thailand.

Beberapa UAV yang digunakan dalam latihan ini merupakan hasil penelitian dan pengembangan oleh para peneliti Angkatan Laut Kerajaan Thailand. Mereka telah menggabungkan pengetahuan dan pengalaman dari operasi dunia nyata untuk mengembangkan sistem yang memenuhi persyaratan operasional. Pengujian dalam kondisi pelatihan simulasi akan menghasilkan peningkatan dan pengembangan lebih lanjut dari sistem tersebut, sejalan dengan promosi industri pertahanan dan peningkatan kemandirian.


HTMS Bhumibol Adulyadej, fregat berkinerja tinggi dan salah satu kekuatan tempur utama Angkatan Laut Kerajaan Thailand, berpartisipasi penuh dalam latihan ini untuk menunjukkan kemampuannya dalam pengawasan, identifikasi dan serangan target, komando dan kendali, serta operasi gabungan dengan kapal, pesawat, dan unit lain.

Latihan ini juga mencerminkan peran penting fregat berkinerja tinggi sebagai inti armada, yang mencakup pertahanan udara, peperangan anti-permukaan dan anti-kapal selam, penghubungan data, dan pengendalian operasi maritim. Namun, Angkatan Laut Kerajaan Thailand saat ini memiliki jumlah fregat berkinerja tinggi yang terbatas. Sementara negara-negara tetangga dan berbagai negara di kawasan ini membuat lompatan besar dalam mengembangkan kemampuan angkatan laut dan teknologi militer mereka.


Angkatan Laut Kerajaan Thailand perlu mempercepat peningkatan kemampuannya dengan mengakuisisi fregat berkinerja tinggi tambahan. Hal ini untuk memastikan kapasitas yang cukup untuk misi, rotasi dan pemeliharaan, serta kesiapan berkelanjutan, serta menjaga keseimbangan strategis, melindungi kedaulatan, dan menjaga kepentingan nasional di laut dalam lingkungan keamanan yang berubah dengan cepat.

Pada saat yang sama, latihan ini mendukung pengembangan Kesadaran Domain Maritim (MDA) dengan menghubungkan data dari kapal, pesawat terbang, dan sistem tanpa awak, memungkinkan komandan untuk memiliki gambaran yang akurat dan tepat waktu tentang situasi maritim, yang mengarah pada pengambilan keputusan dan respons yang efektif.


Lebih lanjut, Perdana Menteri dan delegasinya mengunjungi Pusat Komando Insiden (ICC) untuk bantuan bencana skala besar di Lapangan Latihan Angkatan Laut No. 15, dan mengamati demonstrasi kesiapan peralatan dan integrasi antar unit. Ini menunjukkan bahwa kemampuan Angkatan Laut Kerajaan Thailand dapat diterapkan untuk pertahanan nasional, menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional di laut, dan membantu masyarakat selama bencana atau keadaan darurat.

Juru bicara Angkatan Laut Kerajaan Thailand menyatakan bahwa kunjungan ini tidak dimaksudkan untuk memamerkan kesiapan kapal, pesawat terbang, atau sistem senjata individu, tetapi lebih untuk menunjukkan kesiapan Angkatan Laut Kerajaan Thailand "secara keseluruhan," dimulai dari kesadaran situasional. Komando dan kendali, pengerahan pasukan, dukungan logistik, dan bantuan sipil.


“Kesiapan tempur bukan berarti menunggu situasi terjadi, melainkan mempersiapkan personel, peralatan, dan sistem komando dan kendali agar siap melaksanakan tugas segera ketika negara dan rakyatnya membutuhkannya.”

(RTN)

Koarmada II Latihkan Rencana Pergerakan Unsur Pada Sailing Pass Naval Parade HUT Ke-81 TNI

04 September 2026

Gelar Tactical Floor Game dalam pelaksanaan Sailing Pass Naval Parade yang direncanakan digelar di perairan Teluk Jakarta (photos: Koarmada 2)

TNI AL. Koarmada II, ‎Panglima Koarmada II Laksda TNI I G. P. Alit Jaya, S.H., M.Si., memimpin Tactical Floor Game (TFG) Sailing Pass Naval Parade dalam rangka memperingati HUT Ke-81 TNI, bertempat di Gedung Panti Tjahaya Armada (PTA) Koarmada II, Surabaya, Rabu (2/9).
‎TFG dilaksanakan sebagai bagian dari persiapan dan pemahaman seluruh unsur yang terlibat dalam pelaksanaan Sailing Pass Naval Parade yang akan digelar di perairan Teluk Jakarta. Kegiatan ini membahas secara detail manuver unsur KRI, Pesawat udara serta kesiapan seluruh prajurit pendukung demo laut, udara, dan Pasukan Khusus Laut (Pasusla).

‎Dalam arahannya, Pangkoarmada II menekankan pentingnya seluruh peserta memahami rangkaian kegiatan secara menyeluruh, sekaligus menguasai tugas dan tanggung jawab masing-masing unsur.
‎“Secara umum seluruh kegiatan rangkaian harus dipahami, sehingga setiap unsur mengerti tahapan pelaksanaan dan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik,” tegas Pangkoarmada II.


‎Lebih lanjut disampaikan bahwa setiap tim dan unsur, baik KRI, Pesud maupun unsur pendukung lainnya, harus mempersiapkan diri secara matang sehingga tercipta orkestrasi yang tepat dan mampu bekerja sebagai satu kesatuan. Setiap unsur juga dituntut memahami setiap perubahan situasi dan manuver yang telah direncanakan.
‎Pangkoarmada II juga menekankan aspek keselamatan dan kesiapsiagaan. Seluruh unsur, termasuk pesawat yang terlibat, diminta senantiasa dalam kondisi siap dan memastikan seluruh perlengkapan telah diperiksa serta dipersiapkan dengan baik sesuai waktu yang tersedia.
‎Selain kesiapan unsur, komunikasi menjadi salah satu kunci keberhasilan pelaksanaan Naval Parade.


‎Pangkoarmada II mengingatkan agar jaring komunikasi antara Pengendali Utama dengan seluruh unsur demo laut, udara, dan Pasusla dapat terjalin dengan baik serta tidak mengalami kendala maupun kepadatan komunikasi.
‎“Kunci terakhir adalah komunikasi. Pengendali utama harus yakin bahwa komunikasi benar-benar terjalin dengan seluruh unsur,” tegasnya.

DND Ajukan Anggaran P324,6 Miliar untuk Tahun 2027

04 September 2026

Filipina ingin mengoperasikan 8 fregat modern, yang terdiri dari 2 Jose Rizal class dan 6 Miguel Malvar class (photo: AFP)

MANILA, Filipina – Departemen Pertahanan Nasional/Department of National Defense (DND) mengajukan anggaran sebesar P324,6 miliar untuk tahun 2027.

Sebagian besar dari usulan anggaran DND yang totalnya mencapai P324.632.679.000—yaitu sebesar P179.453.324.000—dialokasikan untuk belanja pegawai; P112.507.579.000 untuk pemeliharaan dan biaya operasional lainnya; serta P32.671.776.000 untuk belanja modal (CO).

Usulan anggaran DND ini 6,13% lebih tinggi dibandingkan anggaran tahun 2026, namun jauh lebih rendah daripada usulan anggaran sebesar P572,78 miliar yang sebelumnya diajukan DND kepada Departemen Anggaran dan Manajemen. Komponen belanja modal (CO) dalam usulan anggaran ini nilainya 86,37% lebih rendah daripada jumlah yang sebelumnya diminta oleh instansi tersebut.

Dalam rapat dengar pendapat Komite Alokasi Anggaran DPR mengenai anggaran DND pada hari Selasa, 25 Agustus, Menteri Pertahanan Gilberto “Gibo” Teodoro Jr. meminta bantuan para anggota parlemen terkait pemangkasan belanja modal DND. Permintaan tersebut disampaikan sebagai tanggapan atas pertanyaan ketua panel, Mika Suansing, mengenai program-program krusial DND yang tidak masuk dalam usulan anggaran tahun 2027.

‘Kehadiran’ di Samudra Pasifik
Selama rapat dengar pendapat anggaran tersebut, Teodoro menekankan urgensi pembangunan “pangkalan strategis” agar Filipina dapat memiliki “kehadiran” di Samudra Pasifik.

“Meskipun fokus utama saat ini tentu saja tertuju pada Laut Filipina Barat/West Philippine Sea sebagai wilayah yang diperebutkan, wilayah yang lebih luas sebenarnya adalah Samudra Pasifik/Pacific Ocean dan Philippine Rise. Di wilayah tersebut, kita harus mulai membangun infrastruktur dan pangkalan logistik di area-area sentral yang dapat diakses oleh peralatan yang relevan bagi AFP (Angkatan Bersenjata Filipina), serta melanjutkan pembangunan pangkalan strategis yang memungkinkan kita memiliki kehadiran di wilayah maritim tersebut,” ujar Teodoro dalam paparannya.

Teodoro menegaskan kembali hal ini saat menjawab pertanyaan dari perwakilan partai Akbayan, Dadah Kiram Ismula, terkait isu Laut Filipina Barat.

03 September 2026

Rafale TNI AU KIni Dilengkapi AT730 Triple Ejector Rack

03 September 2026

AT730 Triple Ejector Rack yang melengkapi Rafale TNI AU (photo: Jatosint)

Jet tempur Rafale TNI AU akan memiliki kemampuan membawa persenjataan udara-ke-permukaan dalam jumlah besar berkat penggunaan AT730 Triple Ejector Rack. 

AT730 Triple Ejector Rack (photo: Akela Freedom)

Rak peluncur ini memungkinkan satu titik gantung Rafale membawa hingga tiga amunisi kelas 250 kg, seperti bom berpemandu presisi AASM/HAMMER.

AT730 Triple Ejector Rack tampak dari bawah (photo: Akela Freedom)

Dengan dua rak AT730 di bawah sayap, Rafale dapat membawa hingga enam amunisi hanya menggunakan dua titik gantung.

AT730 Triple Ejector Rack untuk membawa AASM HAMMER (image: Akela Freedom)

Penggunaan AT730 memberikan fleksibilitas lebih besar dalam konfigurasi tempur karena titik gantung lainnya masih dapat digunakan untuk membawa rudal udara-ke-udara, tangki bahan bakar eksternal, maupun persenjataan tambahan. 

AT730 Triple Ejector Rack untuk membawa munisi presisi (image: Akela Freedom)

Selain AASM/HAMMER, AT730 juga dapat dikonfigurasi untuk beberapa jenis bom berpemandu lainnya. Kehadiran sistem ini akan meningkatkan kapasitas serangan presisi Rafale sekaligus memperkuat kemampuan multirole armada tempur TNI AU.

(Garis Depan)

Singapore Conducts Keel Laying Ceremony for Third MRCV

03 September 2026

Keel laying ceremony for third MRCV (photos: RSN)

Earlier today, Permanent Secretary (Defence) Mr Joseph Leong officiated the Keel Laying Ceremony for our third Multi-Role Combat Vessel (MRCV) at ST Engineering. The ceremony was also attended by Chief of Navy Rear Admiral (RADM) Sean Wat and senior officials and representatives from the RSN, DSTA Defence Science and Technology Agency and ST Engineering Marine.


The keel laying ceremony is a time-honoured tradition in shipbuilding, commemorating the ‘birth’ of a new ship cradled in its shipyard.


The RSN’s MRCVs will progressively replace our Victory-class Missile Corvettes (MCVs), which have been in service since 1989. The MRCVs are expected to be delivered from 2028 onwards.

(RSN)

Soal Alutsista TNI yang Menua, Modernisasi Harus Diikuti Strategi Pensiun

03 September 2026

6 Fregat Ahmad Yani class, 2 unit sudah diganti Sigma 105, 2 unit diganti PPA dan 2 unit diganti dengan Arrowhead 140 (photo: TNI AL)

JAKARTA, KOMPAS.com - Pensiunnya KRI Ki Hajar Dewantara-364 menjadi gambaran bahwa modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) Indonesia tak hanya soal mendatangkan armada baru. 

Saat bersamaan, pemerintah juga harus menentukan kapan alutsista lama sudah tak lagi layak dipertahankan dan bagaimana mengakhiri masa pakainya. 

Komisi I DPR menyetujui rencana Kementerian Pertahanan (Kemenhan) melelang eks KRI Ki Hajar Dewantara-364 dalam rapat kerja bersama Kemenhan, Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Panglima TNI, dan Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL), Kamis (27/8/2026).

Kapal yang dibangun pada 1980 itu dinilai sudah tidak memenuhi persyaratan untuk menjalankan tugas pokok TNI AL.

Korvet Fatahillah class, 2 dari 3 kapal telah dilakukan Mid-life Upgrade (photo: TNI AL) 

Usianya juga telah melampaui masa manfaat ekonomis dan teknis.

Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Donny Ermawan Taufanto mengatakan, mempertahankan kapal tersebut justru akan menjadikannya dead stock karena sudah tidak memiliki manfaat operasional.

"Sudah tidak memiliki manfaat operasional akan menyebabkan aset tersebut menjadi dead stock, serta berpotensi menimbulkan biaya penyimpanan dan pemeliharaan tanpa memberikan manfaat yang sebanding," kata Donny saat rapat bersama Komisi I DPR. 

Persetujuan pelelangan diberikan setelah DPR menerima Surat Presiden (Surpres) Nomor R-33/Presiden/07/2026 tertanggal 14 Juli 2026. 

4 Kapal Cepat Rudal Mandau class sudah dipesankan KCR-70 dari Turki (photo: TNI AL)
 
Berkaca kasus KRI Ki Hajar Dewantara yang masuk usia tua kemudian dilelang, lantas seperti apa persoalan pengelolaan alutsista Indonesia selama ini?

Kapan tepatnya alutsista dikatakan sudah usia "uzur" dan siap dipensiunkan?

Usia 30 tahun dinilai mulai jadi titik evaluasi 
Pengamat pertahanan sekaligus Co-founder Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS), Dwi Sasongko, mengatakan usia pakai alutsista, khususnya kapal perang, dipengaruhi oleh dua hal utama, yakni kualitas perawatan dan perkembangan teknologi. 

Kapal yang dirawat dengan baik dapat memiliki usia operasional lebih panjang. Namun, kemampuan fisik kapal bukan satu-satunya ukuran kelayakan.

16 Korvet Anti Kapal Selam Parchim class penggantiinya menunggu keputusan (photo: TNI AL)

"Persoalannya bukan hanya apakah kapal masih bisa berlayar, tetapi untuk misi apa kapal tersebut masih layak digunakan," kata Dwi kepada Kompas.com, Sabtu (29/8/2026). 

Dalam Operasi Militer Perang (OMP), misalnya, kapal dituntut memiliki kemampuan yang sesuai dengan perkembangan teknologi peperangan modern. 

Salah satu faktor penting adalah sistem Command, Control, Communications, Computers, Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance (C4ISR).

Sebuah kapal mungkin masih mampu berlayar, tetapi apabila sistem elektronika, sensor, komunikasi, serta kemampuan integrasi datanya sudah tertinggal, efektivitasnya ketika beroperasi dalam sebuah gugus tugas juga ikut menurun. 

14 unit kapal FPB 57 class sudah diganti secara bertahap dengan KCR-60 (photo: TNI AL)

Dwi mengatakan, secara umum sekitar 30 tahun dapat menjadi patokan masa pakai optimal sebuah kapal perang. 

"Secara umum, 30 tahun dapat dijadikan patokan masa pakai optimal sebuah kapal perang," ungkapnya.

"Di atas usia tersebut kapal masih mungkin dioperasikan, tetapi kemampuan dan efektivitasnya biasanya akan menurun secara bertahap, tergantung kondisi kapal, tingkat perawatan, serta modernisasi yang dilakukan," lanjutnya.

Sebagian kapal TNI AL sudah di atas 30 tahun 
Persoalannya, kondisi alutsista TNI saat ini masih diwarnai sejumlah aset yang telah berusia sangat tua. 

14 unit Frosch class Landing Ship Tank tipe medium, belum ada penggantinya (photo: TNI AL)

Dwi mengatakan, riset ISDS menemukan sekitar 60 persen kapal TNI AL telah berusia lebih dari 30 tahun. 

"Rata-rata alutsista TNI sudah tua. Riset ISDS diantaranya pernah menemukan bahwa usia rata-rata kapal TNI AL 60 persen sudah di atas 30 tahun," beber Dwi. 

Bahkan, menurutnya TNI AL masih mengoperasikan KRI Teluk Amboina yang telah berusia sekitar 65 tahun.

Kondisi serupa juga ditemukan di matra lain. TNI AD, misalnya, masih mengoperasikan meriam Gunung M-48 kaliber 76 milimeter buatan Yugoslavia tahun 1948. 

12 unit LST besar buatan AS dan 6 unit LST buatan Korsel secara bertahap telah diganti dengan LST 117m dan juga kapal LPD (photo: Poros Nusantara) 
 
"Realitasnya, banyak kapal TNI AL sudah uzur. Karena itu, pemerintah perlu melihat persoalan ini secara lebih menyeluruh," ujar Dwi. 

Menurut dia, apabila biaya mempertahankan sebuah alutsista sudah terlalu besar dibandingkan kemampuan yang diberikan, pemerintah harus mulai mempertimbangkan opsi pensiun atau penggantian.

Begitu pula ketika kondisi teknisnya sudah tidak memenuhi standar keselamatan maupun tugas pokok. 

Pensiun alutsista melalui proses berlapis 
Keputusan memensiunkan alutsista juga bukan kewenangan satu lembaga saja.

3 kapal tanker telah selesai dibangun namun kapal tanker kecil tidak diteruskan dan kapal fleet tanker belum ada penggantinya (photo: Lakhtikov Dmitiy)

Dwi menjelaskan, prosesnya dimulai dari Kepala Staf Angkatan yang bersangkutan. Usulan tersebut kemudian diajukan kepada Panglima TNI. 

Panglima TNI selanjutnya meneruskan permohonan kepada Kemenhan untuk diproses lebih lanjut. 

Kemenhan berkoordinasi dengan Kemenkeu sebagai pengelola aset negara. Dokumen tersebut kemudian diteruskan kepada Presiden. 

Setelah itu, pemerintah dan Panglima TNI melakukan pembahasan bersama Komisi I DPR untuk mendapatkan persetujuan dalam proses pemindahtanganan atau penghapusan aset.

9 kapal penyapu ranjau kelas Kondor II telah datang penggantinya 2 unit dari Jerman (photo: Antara)

Dengan mekanisme tersebut, alutsista yang sudah tidak layak operasional tidak serta-merta bisa dihapus atau dijual. 

Ada proses administratif yang harus dilalui untuk memastikan status aset negara tersebut dapat dipertanggungjawabkan. 

KRI Ki Hajar Dewantara menjadi salah satu contoh bagaimana proses tersebut berjalan. 

Setelah dinilai tidak lagi memenuhi kebutuhan operasional dan telah melewati masa manfaat ekonomis maupun teknis, pemerintah mengajukan pemindahtanganannya melalui mekanisme lelang hingga akhirnya memperoleh persetujuan Komisi I DPR. 

BTR50 dan PT-76 Korps Marinir telah bertahap dibelikan LVT-7 dan BMP-3F namun jumlahnya belum mencukupi (photo: Antara)
 
Tak harus berakhir jadi besi tua 
Alutsista yang memasuki masa pensiun juga tidak selalu harus berakhir sebagai besi tua. 

Untuk aset tertentu yang memiliki nilai sejarah, pemerintah dapat mempertahankannya sebagai bagian dari museum, monumen, atau sarana pendidikan. 

Alutsista yang masih memiliki nilai guna tertentu juga dapat dialihfungsikan untuk kepentingan nonoperasional setelah melalui proses demiliterisasi dan perubahan status. 

Pilihan tersebut membuka kemungkinan agar aset yang sudah tidak layak digunakan untuk perang tetap memberikan manfaat. 

8 unit NC-212 seri angkut dan patroli maritim kini sebagian telah didatangkan dengan seri CN-235 (photo: Puspenerbal)

Namun, untuk aset yang sudah tidak memiliki nilai operasional maupun historis, pelelangan dapat menjadi pilihan.

Dwi menilai langkah pemerintah melelang eks KRI Ki Hajar Dewantara merupakan terobosan karena aset yang sudah tidak digunakan masih dapat memberikan nilai ekonomi bagi negara. 

"Selama ini, alutsista yang sudah tidak digunakan sering kali hanya dipotong-potong atau dijadikan sasaran tembak dalam latihan. Dengan mekanisme penjualan atau lelang, aset yang sudah tidak digunakan masih memiliki nilai ekonomi dan dapat memberikan penerimaan bagi negara," ujarnya. 

Jangan menunggu sampai benar-benar uzur 
Bagi Dwi, persoalan utama bukan hanya bagaimana menyelesaikan alutsista yang sudah pensiun, tetapi bagaimana pemerintah mengantisipasi masa pensiun tersebut sejak jauh hari.

KRI Cakra 401 telah dipesankan dua kapal selam Scorpene LIB namun karena selesainya lama dibutuhkan kapal selam interim (photo: Antara)

Alutsista yang mendekati akhir masa pakainya perlu dievaluasi secara berkala. 

Evaluasi mencakup kondisi teknis, sisa usia pakai, kemampuan operasional, kebutuhan modernisasi, hingga biaya pemeliharaan. 

Dari evaluasi tersebut, pemerintah dapat menentukan apakah sebuah alutsista masih layak dipertahankan, dimodernisasi, diperpanjang usia pakainya, atau mulai disiapkan untuk dipensiunkan. 

"Strateginya harus dimulai dari pemeliharaan yang disiplin dan perencanaan sejak dini," kata Dwi.

Korvet latih KRI Ki Hajar Dewantara 364, perhatikan bahwa sebagai kapal latih mempunyai 2 bridge (photo: TNI AL)

Menurut dia, anggaran pemeliharaan juga harus diawasi agar benar-benar digunakan sesuai peruntukan. 

"Anggaran pemeliharaan juga harus dijaga agar benar-benar digunakan sesuai peruntukannya dan tidak disalahgunakan oleh oknum, karena menyangkut langsung keselamatan prajurit dan kesiapan pertahanan," ujarnya. 

Alutsista yang sudah tua pun tidak boleh dipaksakan beroperasi di luar kemampuan teknisnya. 

Sebab, mempertahankan alutsista hanya demi mengejar jumlah justru dapat meningkatkan risiko kecelakaan dan kerusakan.