05 Juli 2024

Terma Partners with United Defense Technology Offers to Upgrade Thai LPD and OPV

05 Juli 2024

Terma and UDT proposal to upgrade Chang LPD (photo: UDT)

In June 2024, Danish company Terma partnered with Thai company United Defense Technology to submit a proposal for a project to upgrade the capabilities of two HTMS Pattani-class offshore patrol vessels for a cost of 2,829,554,000 baht ($78,229,302) and a project to increase combat system capabilities for naval operations of large multipurpose landing craft HTMS Chang (3rd ship), floating dock landing craft, Type 071ET LPD (Landing Platform Dock), credit limit 920,000,000 baht ($25,330,406).

According to the announcement document of the Naval Equipment Acquisition Management Office (NAMO), Royal Thai Navy, which was published in May 2024, there were references to the median price sources from many companies from abroad, such as Leonardo-Italy, Thales-Netherlands, Navantia-Spain, Aselsan-Turkey, and many companies from Israel, etc.

The improvement of the Offshore Patrol Vessels HTMS Pattani and HTMS Narathiwat will include inspection, removal, design, improvement, installation, connection, and testing of the Combat Management System (CMS), Surveillance System, Electronic Warfare System (EWS), Fire Control System (FCS), Tactical Data Link and Engine Control System.

Terma and UDT proposal to upgrade HTMS Pattani and HTMS Narathiwat OPV (photo: UDT)

While the capability enhancement of the floating dock landing craft, HTMS Chang (3rd) will include the installation of Combat Management System (CMS), surveillance system, fire control system, weapon system and gyro system, which is understood to be similar to the system installed on the floating dock landing craft, HTMS Angthong (3rd) which is equipped with various Terma systems such as the Scanter 4100 C-Search surface-air surveillance radar and C-Flex combat management system. 

As for weapons, there is only information that it will be equipped with a 30mm machine gun, which is likely to be the same as HTMS Ang Thong, namely the MSI SEAHAWK DS machine gun from the United Kingdom, or another type of 30mm gun that uses the same 30x173mm bullet, while another main weapon is a 76mm naval gun that is likely to be the Leonardo 76/62 family of naval guns. Italy understands that it will have to wait for the next approval because the budget received in 2024 is very limited.

(AAG)

04 Juli 2024

Austal Mulai Mengerjakan Kapal Cape/Evolved Cape-class Australia ke-11 dan ke-12

04 Juli 2024

Kapal patroli kelas Evolved Cape yang kesembilan dan kesepuluh (atau kelas Cape/Evolved Cape ke-11 dan ke-12) yang dipesan untuk Angkatan Laut Australia, terlihat di sini sedang dibangun di Austal (photo: Janes)

Austal telah mulai membangun dua kapal patroli kelas Evolved Cape terakhir yang saat ini dipesan untuk Royal Australian Navy (RAN), perusahaan tersebut telah mengonfirmasinya dengan Janes selama kunjungan baru-baru ini ke galangan kapal.

Logam untuk kapal kelas Cape/Evolved Cape yang ke-11 dan belum diberi nama dari program tersebut dipotong pada bulan November 2023 di fasilitasnya di Henderson, Australia Barat, kata seorang perwakilan perusahaan kepada Janes.

Sementara itu, logam untuk kapal ke-12 dan terakhir dari program tersebut untuk saat ini, yang juga tidak disebutkan namanya, dipotong pada Mei 2024.

Australia pertama kali memberikan kontrak kepada Austal untuk enam kapal patroli kelas Evolved Cape pada Mei 2020. Program ini berupaya mengalihkan personel RAN ke kapal patroli lepas pantai (OPV) kelas Arafura.

Kapal-kapal ini merupakan tambahan dari dua kapal patroli kelas Cape yang dipindahkan dari Australian Border Force (ABF) ke RAN.

Selanjutnya, pemerintah Australia menandatangani kontrak untuk empat kapal kelas Evolved Cape lagi, dua di antaranya ditandatangani pada Maret 2022, sementara dua lainnya ditandatangani pada November 2023.

Kelas Evolved Cape memiliki panjang keseluruhan 58,1 m, lebar keseluruhan 10,6 m, dan berbobot sekitar 400 ton pada beban penuh.

Ditenagai oleh dua mesin diesel Caterpillar 3516C, kapal ini dapat mencapai kecepatan tertinggi 26 knot dan jangkauan standar sekitar 4.000 mil laut pada kecepatan 12 knot.

Kapal ini dapat menampung sekitar 32 personel awak kapal dan dapat menampung sekitar 24 tahanan di dalam fasilitas penahanan yang aman di bawah jembatannya.

PT DI Harap Kontrak Pembelian 24 Black Hawk Efektif Triwulan III 2024

04 Juli 2024

Sikorsky S-70M Black Hawk helicopter (photo: PZL Mielec)

Jakarta (ANTARA) - Perseroan Terbatas Dirgantara Indonesia (PT DI) berharap 24 helikopter Sikorsky S-70M Black Hawk yang rencananya dibeli oleh Pemerintah dari perusahaan asal Amerika Serikat Lockheed Martin dapat kontrak efektif pada Triwulan III 2024.

PT DI dan Lockheed Martin pada tanggal 23 Agustus 2023 telah meneken kesepakatan awal untuk kerja sama produksi dan pemeliharaan (MRO) jika rencana pembelian itu terwujud.

"Kami saat ini monitor untuk kontrak efektif karena ini menggunakan (skema) PLN (pinjaman luar negeri). Pada saat ini proses loan agreement di bawah kewenangannya Kementerian Keuangan, kami monitor terus sampai kontrak ini efektif," kata Gita menjawab pertanyaan wartawan saat jumpa pers bersama jajaran direksi Defend ID di Jakarta, Senin (1/7) malam.

"Harapan kami pada Triwulan III, kontrak itu mudah-mudahan bisa efektif, bisa selesai di Kementerian Keuangan," sambung dia.

Dalam kesepakatan yang telah diteken oleh Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Gita Amperiawan dan Vice President of Global Business Development Sikorsky Lockheed Martin Jeff White di Washington D.C., Amerika Serikat, pada tahun lalu itu Lockheed Martin berkomitmen memberikan izin kepada PT DI untuk merakit sistem utama, operasi (inspection, ground and production flight testing), modifikasi, dan system upgrade helikopter Sikorsky S-70M Black Hawk, kemudian memelihara dan merawat (MRO) helikopter tersebut di dalam negeri.

"Kami yakin kerja sama strategis antara PT DI dan Sikorsky ini akan menghasilkan nilai tambah yang diperoleh atas kemampuan PT DI dalam integrasi, kustomisasi, modifikasi dan peningkatan sistem untuk penyelesaian helikopter," kata Gita dalam siaran resmi PT DI selepas penandatanganan kerja sama dengan Lockheed Martin tahun lalu.

Ia melanjutkan kerja sama itu memungkinkan PT DI untuk melakukan MRO helikopter Sikorsky S-70M Black Hawk berikut sistem dan mesinnya.

"Dengan menjadi pemasok resmi Sikorsky, PT DI juga dapat mengembangkan bisnis aerostructure-nya," ucap Gita Amperiawan.

Sementara itu, Presiden Sikorsky Aircraft Paul Lemmo menyampaikan kerja sama itu menunjukkan komitmen dua pihak mendukung rencana pengadaan 24 unit helikopter S-70M Black Hawk dari Pemerintah Indonesia.

"Black Hawk dirancang dan dibangun dengan standar militer terberat, dan dapat dengan cepat dan andal mengirimkan personel dan pasokan ke populasi yang tersebar secara geografis di wilayah kepulauan besar seperti Indonesia," ujar Paul Lemmo sebagaimana dikutip dari siaran resmi yang sama.

Helikopter seri Sikorsky S-70M Black Hawk merupakan pesawat multifungsi yang mampu beroperasi dalam berbagai situasi, mulai dari untuk penerbangan malam sampai pada saat kondisi cuaca ekstrem. Helikopter itu dapat digunakan untuk mobilisasi pasukan, operasi SAR dan evakuasi medis, juga membantu operasi pemadaman api.

Helikopter itu mampu mengangkut beban hingga 4.695 kilogram dan terbang dengan kecepatan maksimal 268 kilometer per jam.

China Menawarkan Lagi Kapal Selam S26T Pesanan Thailand ke Indonesia

04 Juli 2024

Model kapal selam S-26T yang ditawarkan China ke Thailand (photo: SCMP)

Pejabat China State Shipbuilding Corporation (CSSC) berada di Jakarta untuk kembali menawarkan kapal selam diesel-listrik (SSK) S26T yang semula dipesan untuk Thailand, ke Indonesia.

Janes dapat mengonfirmasi bahwa para pejabat CSSC berada di kantor Kementerian Pertahanan (MoD) pada tanggal 28 Juni untuk melakukan presentasi mengenai S26T SSK dan bagaimana kapal tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan TNI Angkatan Laut, meskipun kapal tersebut telah melalui proses pembuatan.

Pertemuan tersebut dihadiri secara fisik oleh para pejabat senior Kementerian Pertahanan RI, sedangkan perwakilan Komando Operasi Kapal Selam TNI Angkatan Laut dan Komando Kapal Selam Armada II bergabung melalui tautan video.

Selama presentasi, para pejabat CSSC meyakinkan Kementerian Pertahanan Indonesia bahwa tawaran kapal selam S26T untuk Indonesia tidak akan dihadapkan pada jenis pembatasan ekspor yang sama seperti yang dialami oleh penerima kapal tersebut, Royal Thai Navy (RTN).

YJ-18 (Ying Ji 18) rudal jelajah anti kapal dari kapal selam merupakan versi China dari rudal 3M-54 Klub/Kalibr (photo: GlobalSecurity)

Secara khusus, pejabat CSSC mengemukakan bahwa mereka akan dapat menggabungkan mesin dari vendor pilihan, termasuk MTU, ke dalam S26T SSK.

Dan sebagai upaya untuk mempermanis kesepakatan tersebut, tawaran CSSC untuk Indonesia mencakup paket modifikasi yang memungkinkan S26T SSK untuk mengerahkan dan meluncurkan rudal jelajah anti-kapal yang diluncurkan dari tabung torpedo YJ-18 buatan China.

Selain itu, S26T SSK sebagian besar akan mempertahankan fitur-fitur yang awalnya dipesan untuk RTN, termasuk sistem air independent propulsion (AIP).

Thailand menandatangani kontrak senilai THB13,5 miliar (USD366,5 juta) dengan China Shipbuilding & Offshore International Company (CSOC) untuk S26T SSK, yang pada dasarnya merupakan versi modifikasi dari kelas Yuan Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLAN), pada tahun 2017.

(Jane's)

03 Juli 2024

PT DI Incar Perluas Pasar Afrika untuk NC-212i dan CN-235

03 Juli 2024

Pesawat CN235-220 pesanan Nepalese Army (photo: Kompas)

Jakarta (ANTARA) - PT Dirgantara Indonesia (DI) menjajaki peluang untuk memperluas pasar di Afrika dan Amerika Latin untuk penjualan pesawat NC-212i dan CN-235.

Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Gita Amperiawan meyakini rencana itu dapat terwujud mengingat posisi PT DI yang saat ini menjadi sole manufacturer — produsen satu-satunya yang membuat pesawat NC-212i dan CN-235.

“Penetrasi market yang dituju sekarang oleh PT Dirgantara Indonesia, pertama adalah perluasan di pasar Afrika, kemudian kita juga sudah masuk Amerika Latin, karena sebetulnya sekarang PT DI itu merupakan sole manufacturer untuk pesawat NC-212i dan CN-235,” kata Direktur Utama PT DI pada jumpa pers bersama jajaran direksi Defend ID di Jakarta, Senin.

Dia mengatakan kans untuk memperluas pasar di Afrika dan memperkuat penetrasi pasar Amerika Latin terbuka lebar karena saat ini banyak negara di dua kawasan itu menggunakan pesawat berjenis NC-212 dan CN-235.

“Itu sebetulnya banyak market-nya ada di Amerika Latin, karena keadaannya (pesawat yang ada disana, red) sudah cukup tua, sehingga diperlukan berbagai macam kegiatan upgrade atau kita katakan service life extension program (SLEP),” kata Gita Amperiawan menjawab pertanyaan ANTARA.

Di luar itu, kata Amperiawan, PT Dirgantara Indonesia juga menjajaki pasar di Timur Tengah, kemudian mempertahankan pasar yang terbentuk di kawasan.

NC-212i pesanan Thailand (photo: PT DI)

PT Dirgantara Indonesia sejak 2014 menjadi satu-satunya produsen untuk pesawat NC-212i. PT DI pada 2023 juga kembali mengantongi kontrak pembelian enam unit NC-212i dari Angkatan Udara Filipina, kemudian menyelesaikan MRO (pemeliharaan dan perbaikan operasional) pesawat NC-212i untuk Filipina.

“PT DI juga diberi kesempatan memperpanjang BoA, basic of agreement untuk MRO sampai lima tahun yang akan datang. Jadi, yang tadinya tiga tahun, kami menandatangani untuk mendukung PT DI incar perluas pasar Afrika untuk NC-212i dan CN-235,” kata Gita Amperiawan.

NC-212i merupakan pesawat angkut ringan serbaguna itu tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk latihan dan pengangkut pasukan, tetapi juga evakuasi medis udara, foto udara, modifikasi cuaca atau hujan buatan, dan pelatihan navigasi udara. Pesawat itu, yang merupakan pengembangan dari CASA 212-400 Aviocar, juga dilengkapi dengan ramp door untuk mempermudah loading/unloading muatan.

Pemerintah Indonesia juga merupakan salah satu pengguna NC-212i buatan PT DI. Dari sembilan unit yang dipesan, ada lima pesawat yang telah rampung dibuat dan saat ini telah memperkuat TNI Angkatan Udara, tepatnya Skadron Udara 4 Wing Udara 2 Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur.

Dari lima pesawat yang telah diterima TNI AU itu, pesawat ke-5 memiliki keistimewaan yaitu baling-baling baru berjumlah lima bilah menggantikan model lama empat bilah. Baling-baling baru tersebut buatan MT Propeller, Jerman, yaitu dari jenis MTV-27 yang telah disertifikasi Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA).

Untuk empat pesawat lainnya, PT DI menargetkan bakal rampung pada 2024 dan 2025.

KSAL Ungkap Rencana Tambah LPD dan LST Dalam Renstra 2025–2029

03 Juli 2024

LPD KRI Semarang 594 yang untuk sementara difungsikan sebagai Kapal Rumah sakit (photo: PAL)

KSAL ungkap rencana tambah LPD dan LST untuk perkuat Kolinlamil

Jakarta (ANTARA) - Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali saat puncak peringatan HUT Ke-63 Kolinlamil di Jakarta, Selasa, mengungkap rencana menambah kapal-kapal angkut berjenis LPD dan LST untuk memperkuat armada Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil).

Laksamana Ali menyebut proyeksi penambahan armada Kolinlamil dengan kapal-kapal berjenis landing platform dock (LPD) dan landing ship tank (LST) itu pun masuk dalam Rencana Strategis TNI Angkatan Laut 2025–2029 dan Postur Pembangunan Kekuatan TNI AL 2025–2044.

“Nantinya, kami akan memperbanyak unsur-unsur LPD kemudian LST juga ada beberapa sebagian, yang nantinya untuk memperkuat Kolinlamil dan untuk mengangkut pasukan juga,” kata Laksamana Ali menjawab pertanyaan ANTARA saat jumpa pers selepas upacara peringatan HUT Ke-63 Kolinlamil di Markas Komando Kolinlamil, Jakarta, Selasa.

Ali melanjutkan tambahan kapal-kapal baru itu rencananya juga bakal dibuat oleh galangan-galangan kapal di dalam negeri, termasuk di galangan kapal PT PAL Indonesia, Surabaya, Jawa Timur.

LST KRI Teluk Calang 524 (photo: TNI AL)

“Untuk perencanaan jangka panjang dan jangka menengah, TNI Angkatan Laut menyiapkan pembangunan kekuatan khususnya kapal-kapal angkut. Dan, beberapa kapal angkut ini dibuat dalam negeri oleh PT PAL,” kata Ali.

Dalam acara yang sama, Laksamana Ali menekankan kembali pentingnya memperkuat Kolinlamil, karena fungsinya yang tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan militer, tetapi juga untuk membantu pembangunan nasional.

“Pembangunan-pembangunan yang dilaksanakan dari Sabang sampai Merauke banyak diangkut oleh kapal-kapal dari Kolinlamil. Kapal-kapal dari Kolinlamil selain mengangkut pasukan yang digeser ke beberapa tempat di Indonesia, juga mengangkut barang-barang logistik apabila diminta kementerian dan masyarakat,” kata KSAL.

Komando Lintas Laut Militer, yang semula bernama Djawatan Angkutan Laut Militer, terbentuk pada 1 Juli 1961 dan bermarkas di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Kolinlamil sebagai komando utama (kotama) TNI AL bertugas membina kemampuan sistem angkutan laut militer dan membina potensi angkutan laut nasional untuk kepentingan pertahanan negara.

Kolinlamil juga bertugas memindahkan/menggeser pasukan dan peralatan untuk kepentingan operasi, dan ikut memenuhi kebutuhan angkutan untuk kepentinhan pembangunan nasional. Tidak hanya itu, Kolinlamil juga bertugas merencanakan program-program pembinaan kekuatan unsur-unsurnya termasuk kapal-kapal perang dan sarana-prasarana pendukung.

See full article Antara

DTI Thailand Lakukan Pengujian Roket Mk66 Tipe Wrap-around Fin

03 Juli 2024

Pengujuian roket Mk66 type of wrap-around fin (photos: DTI Thailand)

Security Industry Standard Testing Center/Pusat Pengujian Standar Industri Keamanan Defense Technology Institute Thailand melakukan pengujian badan roket udara 2,75 inchi, Mk66 tipe ekor wrap-around (tipe ekor melingkar) untuk Departemen Persenjataan Angkatan Udara.


Dengan menguji badan roket udara 2,75 inchi Mk66 tipe ekor wrap-around, pengujian dilakukan dalam 2 topik sebagai berikut:
1. Pengujian getaran dari helikopter (Helicopter Vibration),
2. Uji getaran dari pesawat (Fixed Wing Vibration).


Pengujian dilakukan bersama Direktur Kelompok Kerja Sains dan Teknologi Departemen Biro Standar Militer untuk Inspeksi dan Pengujian Standar Peralatan Gabungan dan Departemen Persenjataan Angkatan Udara Turut serta mengamati pengujian ini.


Untuk itu pengujian ini guna memastikan kemampuan kerja badan roket udara 2,75 inch Mk66 ekor tipe wrap-around, agar siap dijadikan pertimbangan hasil pengujian untuk sertifikasi standar alutsista Kemhan.

Roket Mk66 Tipe Wrap-around Fin (photo: Wiki)

Pengujian dilakukan pada workshop penelitian dan pengembangan Defense Technology Institute Thailand, Provinsi Nakhon Sawan.