25 Juni 2018

Helikopter Dauphin Gantikan BO-105 untuk Misi PBB di Lebanon

25 Juni 2018


Helikopter Dauphin AS 365 N3 nomor HR 3601 Puspenerbal TNI AL (photos : Penerbal)

Puspenerbal Siap Memberangkatkan Helikopter Dauphin AS 365 N3 - HR 3601 Untuk Misi MTF-Unifil di Lebanon

Juanda, Selasa (19/6/18) Maritim Task Force (MTF) Unifil merupakan salah satu tugas TNI AL untuk mendukung misi perdamaian di bawah PBB sebagai langkah politik strategis Pemerintahan negara Republik Indonesia untuk ikut serta dalam mendukung perdamaian dunia di Lebanon. Pada awalnya untuk mewujudkan misi turut serta dalam mendukung ketertiban dunia, Indonesia telah mengirimkan Pasukan penjaga Perdamaian PBB pertama kalinya pada tanggal 8 Januari 1957 ke Mesir. Kemudian seiring dengan perjalanan waktu, dalam meneruskan misi perdamaian dunia, tepatnya pada tanggal 18 April 2009 TNI Angkatan Laut telah mulai mengambil bagian pada misi perdamaian dunia melalui Maritime Task Force (MTF) Unifil XXVIII-A di bawah Commander Task Force (CTF) 448 di Lebanon dengan mengirimkan KRI Dipenogoro-365, dimana pada saat itu dilengkapi dengan Helikopter Bolkow-105 Nv-414 sebagai unsur Senjata Armada terpadu yang melekat dengan KRI. 

Namun seiring dengan perjalan waktu, dalam menjalankan misi tersebut PBB menuntut helikopter yang beroperasi untuk menjalankan misi MTF tersebut harus sesuai dengan standar kualifikasi PBB. Sehingga dalam rangka memenuhi standar kualifikasi tersebut, TNI Angkatan Laut tidak lagi dapat mengirim helikopter jenis BO-105, karena menurut penilaian PBB helikopter tersebut sudah tidak sesuai dengan standar yang dipersayaratkan. 

Untuk itu TNI AL menyiapkan helikopter DAUPHIN AS-365 N3+ HR-3601 sebagai penggantinya. Hal ini merupakan wujud keseriusan dan komitmen dari Indonesia untuk memberikan yang terbaik bagi PBB. Namun demikian untuk dapat menilai apakah helikopter yang disiapkan oleh TNI AL memenuhi kriteria yang disyaratkan oleh PBB, maka PBB mengirimkan delegasinya untuk menilai secara langsung kesiapan helikopter tersebut di Puspenerbal melalui kegiatan Pre Deployment Visit atau PDV.



Kegiatan tersebut dilaksanakan di Ruang Rapat Mako Puspenerbal yang dihadiri oleh Waasops Kasal, Komandan Puspenerbal dan jajaran, perwakilan dari Mabes TNI serta Mr. Martin Lopez Gomez sebagai delegasi dari PBB yang akan menilai kesiapan helikopter DAUPHIN AS-365 N3+ HR-3601 dan memberikan rekomendasi penilaiannya secara profesional ke MTF UNIFIL PBB. 

Sesuai dengan standar yang dipersyaratkan oleh PBB bahwa helikopter DAUPHIN AS-365 N3+ HR-3601 yang akan Onboard di KRI Hasanudin telah dilengkapi dengan 17 peralatan sehingga memiliki 12 kemampuan sebagai berikut: 

1. Mampu beroperasi di siang dan malam hari; 
2. Pengamatan siang hari dan malam hari 
3. Berkontribusi dalam menentukan gambaran situasi udara; 
4. Melaksanakan operasi dengan kapal-kapal MTF yang lain 
5. Mampu melaksanakan evakuasi medis dan angkutan udara; 
6. Mampu melaksanakan angkut ringan pasukan maupun logistik. 
7. Mampu melaksanakan dukungan udara 
8. Mampu melaksanakan pencarian dan pertolongan; 
9. Mampu melaksanakan penerbangan intrument pada siang dan malam hari 
10. Mampu melaksanakan penghindaran darurat 
11. Dilengkapi dengan Transponder mode C dan S 
12. Mampu melaksanakan penerbangan minimal 2 jam per hari.

(Puspenerbal)

24 komentar:

  1. PBB mensyaratkan spt itu, berarti 17 peralatan itu dibiayai PBB kah.?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bkn seperti itu bro,heli dauphin TNI AL emang dari dulunya dah punya kemampuan seperti yg di minta PBB itu bro

      Hapus
    2. Ealah si Choko Ruskye ini,

      Kayak gitu aja nanya, udah jelas di artikel, dilengkapi dulu alatnya yang 17 itu sampai memenuhi 12 persyaratan pbb.

      Jadi bukan beli peralatan dengan biaya dari pbb.

      PBB hanya makai dan mungkin membiayai operasionalnya saja.

      Hapus
    3. Kalau sudah selesai dalam misi PBB dikembalikan kesatuannya di TNI.

      Kalau pengadaannya dibiayai oleh PBB, maka jika selesai misinya akan dikembalikan lagi ke PBB

      Hapus
    4. Wkkkkkkkk....si Ntung kena dipancing....hehe

      Hapus
  2. kok dauphin yg dikirim bukannya panther wkt ituw uda dikirim jugak?
    apakah ini dauphin basarnas?hmmn gpplah pokoknya kirim yg keren haha!πŸ™„πŸ™„πŸ™„

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya panther yg di kirim om...sebenarnya tipe pesawatnya sama,versi untuk basarnas di sebut dauphin,untuk heli TNI AL di sebut panther

      Hapus
    2. Bener punya basarnas mas.

      Dauphin HR3601 tercatat sebagai milik basarnas

      Hapus
    3. Bedah bro mat rempit....panther milik AL tipe MBe, pake mesin yg power dan kemampuan angkatnya lebih besar dibanding varian sipil/dauphin N3+.

      Tapi keduanya sudah dilengkapi fitur auto hovering 4 sumbu, yg sangat menunjang dlm misi SAR....cuma sayangnya panther versi ASW udah ga muat lg kabinnya utk melakukan winching

      Hapus
    4. Mlastidip punya Basarnas lagi neeh..?

      Qiqiqiqi.. :D

      Hapus
    5. nyoih om woof2, panther penerbal pake kode hs. lama2 ntu heli basarnas jd HM jugak kyknya haha!πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰

      lama2 aw 139, pemilik enduran tertinggi basarnas diangkut buat pkr ama fregat gde iver ato fremm haha!😊😊😊

      Hapus
  3. Kesian malaysia tak pernah kapalnya di minta PBB untuk berkhidmat kerana kapal malaysia banyak yg ompong dan lapok wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. PBB mana mau ditawari burung kakaktua yang suka memclok dijendela, nuri sudah tua giginya tinggal OMPONG

      GAK LEVEEEEEL
      wkwkkwkwkwkwk

      Hapus
  4. klo punya penerbal apakah sudah d lengkapi helras dipping sonar g yaa??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah saya cek ke 12 item diatas....tak ada satupun klausul ttg perburuan kasep mas boy😎

      Hapus
    2. Mas boy....kalo lihat foto paling atas rasanya nyesek😣

      Kenapa heli basarnas yg digunakan utk operasi evakuasi korban kapal tenggelam masih polos, tanpa file/eots dan lampu traka....πŸ€”

      Ini kenapa yg dikirim ke negara orang malah tampil full fitur....

      Hapus
    3. SNI ama SI kan beda mas...ups..😬

      Hapus
  5. Bravo nkri..., tp tetap kalian jangan lupa ancaman dari babi-babi aseng! Mereka musuh dlm selimut. Ketahuilah bahwa sesungguhnya babi-babi aseng itu adalah makhluk-makhluk guoblog. Tetapi mereka punya kepandaian khusus, yaitu nyuap alias nyogok, karena itu saya menyerukan kpd para pejabat dan aparat nkri, jangan mau kena sogokan kaum babi tsb. Sayangi dan cintai saudara2 kalian sesama anggota asli nkri.
    Bravo nkri...!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buba babi buba babi elu yang babi 🐷 🐷 🐷 🐷

      Hapus
  6. Seinget saya Indonesia banyak narok asset di PBB... kalau gak salah ingat ada Heli Mi series juga yg dipakai di PBB, lupa di negara Mali apa ya ? Kalau Anoa sih kayane juga nembus ratusan kale ? cuma gak tahu juga nantinya asset2 ini dibawa pulang atau ditinggal disana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahh ketemu guys..

      3 Heli Mi-17 ternyata...

      ttps://jakartagreater.com/helikopter-mi-17v5-tni-angkatan-darat-di-misi-perdamaian-pbb/

      Hapus
  7. HR-3601 bukannya heli BASARNAS? Koq dikirim ke Lebanon? Pakai ganti cat lagi.

    Panther kita belum ready kah?

    BalasHapus