09 Juni 2018

Kemenhan Ajukan Rp 215 T di 2019, Dapatkan Pagu Indikatif Rp 106 T

09 Juni 2018


Pagu indikatif anggaran 2019 Kemenhan Rp 106 T (photo : Tribun)

Kemenhan Ajukan Rp 215 T di 2019, Termasuk untuk Penanganan Teroris

Jakarta - Kementerian Pertahanan mengajukan anggaran Rp 215 triliun untuk RAPBN tahun 2019. Anggaran yang diajukan ini termasuk untuk penanggulangan terorisme.

Meski begitu, usulan anggaran Kemenhan tak mendapat persetujuan dari Kementerian Keuangan dan Bappenas. Usulan anggaran dipotong menjadi Rp 106 T, namun keputusan pada akhirnya nanti berada di Banggar DPR.

"Sekarang ini baru pagu indikatif. Kita mendapat acuan dari Rp 215 triliun. Pagu indikatif turun Rp 106 triliun yang sudah disetujui. Tapi masih ada proses lagi nanti," kata Dirjen Rencana Pertahanan, Tata Endrataka usai rapat kerja bersama Komisi I DPR RI, di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (7/6/2018).

Dalam rapat kerja ini, turut hadir Menhan Ryamizard Ryacudu, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, KSAD Jenderal Mulyono, KSAU Marsekal Yuyu Sutisna, dan KSAL Laksamana Siwi Sukma Adji. Rapat bersama Komisi I digelar tertutup.

Tata menjelaskan, proses pembahasan anggaran ini masih akan terus berlanjut. Sebab, untuk saat ini belum disepakati soal pagu anggaran, alokasi anggaran. Kemenhan berharap anggaran Kemenhan yang disetujui pemerintah dan DPR nanti bisa sesuai dengan yang mereka ajukan yakni Rp 106 T.

"Prosesnya masih belum kelar sampai sekarang," ujarnya. 

Tata merinci alokasi anggaran tersebut. Anggaran tersebut nantinya dibagi untuk Kemenhan, TNI, Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL), dan Angkatan Udara (AU). 

"Kemhan Rp 19 triliun. TNI Rp 8 triliun. AD Rp 40 triliun. AL Rp 17 triliun. AU Rp 14 triliun," ujarnya. 

Untuk pos pengeluaran, kata Tata, angka pengeluaran terbesar masih soal belanja pegawai yang besarannya hampir 40 persen dari anggaran. Sementara soal alutsista, hal tersebut tetap menjadi satu prioritas dan pos anggarannya selalu dipersiapkan setiap tahun.

"Sejak tahun yang lalu sudah kita rencanakan semua alutsista yang prioritas tadi sudah kita rencanakan semua. Ya ada pesawat, ada kapal, ada tank, ada semuanya," tutur Tata. 

Tata juga mengatakan, dalam anggaran tersebut juga dialokasikan anggaran untuk pemberantasan terorisme. Termasuk anggaran pemberantasan terorisme untuk Komando Operasi Khusus Gabungan (Koopsusgab) dan Polri. 

"Besarannya nanti kita, nanti karena belum sampai DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran) ya. Itu masih indikatif," sebut Tata.

(Detik)

51 komentar:

  1. Dana pertahanan benteng republik lumayan jumbo dan besar broo mudah mudahan dana sebesar gabah tidak di salah gunakan belli alat perang bennar berkualitas gahar bukan ecek 2 berharga gahar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang barang ecek2 yg dimaksud opo sih..#mancingbiarrame..he,he..

      Hapus
    2. Tak sperti beruk maloner.. Ngareppin berita baik dari negaranya yg ada cmn berita hutang negara malonπŸ˜‚πŸ˜‚

      Hapus
    3. Tak sperti beruk maloner.. Ngareppin berita baik dari negaranya yg ada cmn berita hutang negara malonπŸ˜‚πŸ˜‚

      Hapus
    4. aseng silahkan mundur ini urusan mati hidup nya sebuah negara besar dalam negeri pertahanan ...aseng komunis benalu besar dari saman bung besar mulai sering menebar terror ....

      Hapus
    5. Wahhh banyak nya duit indon...106 trillion tu.... boleh pakai guni kalau nak beli barang..πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜† duit besar tapi value kurang.. hahahha

      Hapus
    6. Dein@ keren kan😎😎 itu masih dana apbn klo d tambah dana apbnp tambah meningkat..

      Coba tengok malon..
      Dapat bajet rp 38trilion..πŸ˜‚πŸ˜‚
      38 trilion belanja kagak nambah utang iya..
      Separuh bajej polisi indonesiaπŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

      Hapus
    7. Wkwkwkwk malon bajetnya ciput sangat

      Hapus
    8. Aseng bukan main licik nya pengadu domba busuk gonta ganti nama kadang memaki malaysia dan kadang memaki indo emang binatang .

      Hapus
    9. @ken org Malaysia nya aja suka ngejek dan memaki, kalo lu ngerasa org indo ya pasti lu bela,, kecuali kalo Lo antek asing Aseng nyocot kaga jelas!!

      Hapus
    10. Elgarif@ Betul broo malon sukanya menghina walapun sebenernya level mereka jauh dari negara kita tpi sifat mereka tak lepas dari hobby menghina,angkuh diri,dan sering ngomong kaga jelas..

      Hapus
  2. Balasan
    1. "..Usulan anggaran dipotong menjadi Rp 106 T, namun keputusan pada akhirnya nanti berada di Banggar DPR.."

      Separuh itu yg ditawar Menkeu/Bapenas, masih akan ada tawar naik lagi ama DPR..biasanya akan naik lagi meski ga seberapa.. :p

      Tetep bersyukur kok, karena tetap ada duit buat beli-beli..:)

      "..sudah kita rencanakan semua alutsista yang prioritas tadi sudah kita rencanakan semua. Ya ada pesawat, ada kapal, ada tank.."

      Viper..viper.. :D

      Hapus
    2. Yaa kn ini baru dana apbn...
      Klo d tambah apbnp kn bisa meningkat..
      106 triliun masih bisa belanja kan..
      Dari pada beruk malon dapet bajet 38 triliun..mau belanja apa..?
      Bayar hutung buat belanja alutsista yg sebelumnya masih belum lunas..πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
      Kan mereka ngikuti sistim bayar berangsur alias krefitπŸ˜€πŸ˜€

      Hapus
    3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    5. @ARIZAL PRADARMAN
      APBNP itu perubahan dari APBN berjalan. Jika ditemukan eskalasi harga disaat diberlakukannya APBN dan itu harga satuannya hrs disesuaikan maka besaran APBN hrs dirubah melalui mekanisme Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan yg biasa disingkat APBNP.Biasanya terjadi pada kasus penyesuaian harga minyak (bbm) Jd APBNP dan APBN itu bukan anggaran yg berbeda yg bisa ditambahkan tp merupakan turunan Anggarannya.

      Hapus
    6. Maka dari itu apbn bisa d bilang keputusan awal, sedNgkan apbnp keputusan akhir setelah d lakukan beberapa aspek untuk melakukan keputusan penambahan dana, sperti faktor subsidi, menguatnya atau menambahnya pertukaran rupiah dll yg dapan menambahnya dana apbnp pada intansi terkait meskipun itu 0, sekian persen

      Hapus
    7. @Aruzal Pradarman
      APBN bukan keputusan awal dan APBNP jg bukan keputusan akhir.
      Bisa saja tidak ada APBNP jika APBN yg telah ditetapkan berjalan tanpa ada faktor yg mempengaruhi sampai akhir tahun. APBNP itu merupakan payung hukum utk pemerintah bisa merubah APBN jika dalam berjalannya anggaran ditemukan ada indikator yg tdk sesuai nilai yg dicanangkan dlm APBN . Jd bukan masalah keputusan awal dan akhir

      Hapus
    8. Yaa jika memang bgtu setidaknya ada indikasi penambahan bajet d waktu yg berikutnya dari yg d ajukan bapenas rp 106T sebab itu masih pugu indikatif yg artinya dapat berubah d kemudian hari..

      Coba perhatikan kalimatnya

      "Sekarang ini baru pagu indikatif. Kita mendapat acuan dari Rp 215 triliun. Pagu indikatif turun Rp 106 triliun yang sudah disetujui. Tapi masih ada proses lagi nanti,"

      "Masih ada proses lagi nnti"

      Artinya masih belum keputusan akhir

      Hapus
    9. Kalo sdh keputusan akhir sdh menjadi APBN bung. Rp. 215T itu pengajuan dr Kemnhan. Tp sementara dikasi Rp. 106T, krn setelah dibagi2 kemampuannya cuma segitu. Kalo toh nanti disahkan menjadi APBN kemungkinan kenaikan tdk sampe 20%. Sedangkan mengenai APBN Perubahan itu tdk mesti hrs menambah budgdt bung, bisa saja hanya pergeseran anggaran saja.

      Hapus
  3. woooooooww... 215 Trilliun rupiah atau kira2 $ 15,4 milliar dollar.. memang sudah waktunya anggaran militer indonesia dinaikkan menjadi 2% dari GDP, atau kalau masih blm mampu dinaikkan bertahap naik dari 1%-1,5%,2%.. Negara utara-selatan ditambah barat juga semakin menggeliat.. mosok Indonesia masih slow2 saja sih.??? jngan sampai PD ke-2 terulang lagi.. negara agresor mudah sekali mendarat di daratan utama indonesia karena pertahanan kita lemah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. om ane mau bertanya..USD 15,4 milliar adakah billion atau million..triliun ane ngerti..

      Hapus
    2. milyar = billion
      juta = million.

      # The Six Million Dollar Man = Si Manusia Enam Juta Dollar. :D

      Hapus
    3. Theng, theng, theng...poso-poso ojo mbukak wadi mas

      Hapus
    4. Om @pedang setan sudah senior banget ya,
      Sepertinya tau bener film the six million dolar man tahun 70an

      Xixixixixi

      Hapus
    5. Lha situ juga tahu.

      Xixixixi

      Kutambahin ya : Bionic Woman, Baba Blackship, Jango, Richie Rich, Rin Tin Tin, Kojack...

      Xixixixi

      Hapus
    6. makasih om @PS atas pencerahannya...

      Hapus
  4. Seharusnya dana untuk pembelian alutsista 3 matra di pisah..dari biaya pemeliharaan,operasional & belanja pegawai.....kalau biaya pembelian alutsista di pecah2 kecil dapatnya...misalnya untuk anggaran ops,har,peg 1% + khusus beli alutsista 1%...itu baru pasti keliatan banget...

    BalasHapus
  5. Dari dana khusus pembelian alutsista di buat skala perioritas & ancaman...misal tahun 1 dana 1% dari APBN,,,AU dapat 0,4%, AL 0,35%,AD 0,25%...dan di rotasi tahun 2 jadi AL perioritas no1,,,dst

    BalasHapus
  6. gak peduli budget berapa...intinya belanja kapan?

    BalasHapus
  7. Biar nda salah tafsir, mencoba menjelaskan...hehehe

    Pagu Indikatif itu artinya pagu sementara yg diberikan kpd setiap Departemen/lembaga yg besarannya berbeda di setiap Departemen/lembaga.Pagu Indikatif diberikan sebagai acuan sementara perhitungan jumlah total pendapatan negara baik dr pajak, maupun hutang serta hasil penjualan sebelum didapat nominal tetapnya.
    Pada saat pengesahan APBN nantilah baru jelas target tetap Pendapatan Negara yg menjadi acuan tetap belanja pd setiap Departenen/lembaga.
    Kalo pagu Indikatif saja sdh dipatok Rp. 106 T maka akan sulit menembus nilai diatas Rp. 200 T. Bersyukur jika anggarannya msh tetap atau bertambah sefikit saja, mengingat defisit anggaran tahun ini jg msh tinggi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penjelasan bagus dari mas CP.. :D

      Hapus
    2. Sdkit Pengalaman pribadi pak, sering jg di Apbnp ada penambahan anggaran yg lumayan besar untuk belanja modal (kl di dephan ya misal Alutsista, Bangunan dlll) smua tergantung pinter2nya menhan "berkomunikasi dng menkeu, komisi 1, Banggar dan pimpinan. Walaupun dng pagu indikatif 106T memang tidak mungkin saat ditetapkan UU Apbn nanti mjd 200t. Tp kl komunikasi menhan oke dng beliau2 smua dan postur Apbn kita dr sisi pendapatan memungkinkan, atau kl gak ya ada yg bs di geser2 dikit di departemen2 lain (efesiensi) trs dikumpulin buat penambahan anggaran di dephan misalnya. Ya tdk menutup kemungkinan ada penambahan 20-30t di ApbnP sprti Apbn bbrpa tahun yl.

      Hapus
    3. @Prepare War
      Harus bung ingat bahwa bukan menhan saja yg anggarannya ingin naik melalui komunikasi dng menkeu tp semua kementrian jg melakukan hal yg sama kan.? Bahkan ada yg melalui jalur DPR. Itu sdh lumrah. Tp kita jg hrs realistis dng kondisi keuangan negara yg masih besar defisitnya. Dan menkeu pun tdk akan berpihak dlm menentukan besaran anggaran kementrian, arahan dr RI1 lah yg bisa sangat mempengaruhi pada pagu indikatif dan lobi gedung dewanlah yg menentukan besaran Anggaran masing2 kementrian. Itu sdh lumrah. Jd kalo bertambah antara 5T - 15T itu sdh sangat realistis pd situasi kondisi keuangan spt saat ini bung.

      Hapus
  8. Ada statment dr menteri keuangan pemerintah rencanakan kurangi defisit RAPBN 2019.Belanja Rp 823 T utk kementrian/lembaga dalam bentuk pagu indikatif. Sebagai acuan, Tahun 2018 belanja kementrian/lembaga Rp 847.4 T berarti ada penurunan Rp. 24.4 T

    https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/berita/pemerintah-rencanakan-kurangi-defisit-pada-rapbn-2019/

    https://www.kemenkeu.go.id/media/6104/belanja-pemerintah-pusat-apbn2018-03.jpg

    BalasHapus
  9. Gimana bs kuat minta A di kasi ½A aja. Klo tentara, kaya minta sepatu lars sepasang di kasi ½ aja. Jd cuma satu kakinya yg pake sepatu. Repot bener negara.....

    BalasHapus
  10. Biasanya kenaikan sekitar 3% - 5% antara pagu indikatif dng nilai tetapnya pd Anggaran belanja kementrian/lembaga secara keseluruhan. Namun secara masing2 kementrian/lembaga bisa saja naik lebih dr nilai itu atau bahkan ada yg berkurang. Kita lihat saja nanti besaran indikator apa saja yg jd acuan penentuan RAPBN 2019.

    Tenang saja para FBM, kita pasti beli alutsista tahun depan...hehehe....tetap semangat

    BalasHapus
  11. Makanya jngan telat byar pjak, hehehe.
    Ada pejabat korupsi laporkan.
    Biar buat beli alutsista

    BalasHapus
  12. malon hutang nya dah 70% dari gdp nya wkwkwkw menjuju negara bangkrut https://www.nationaldebtclocks.org/debtclock/malaysia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaahhwaahh...πŸ˜€πŸ˜€

      Belum bayar angsuran alutsista tu utangnya da segunung

      Mereka kan suka beli barang kredit makae utange numpuk..

      Baca komennya nih biar terhiburπŸ˜‚πŸ˜‚
      http://defense-studies.blogspot.com/2018/02/bae-proposes-uk-government-financing-to.html?m=1

      Hapus
  13. Kl sy pribadi yakin anggaran kemenhan saat nanti disahkanya UU Apbn 2019 ada di kisaran angka 120-122t. Persoalannya dr angka trsbt berapa % yg akn dialokasikan untuk penambahan alutsista dan jenis apa sj yg akn mnjd prioritas th 2019 mulai dibeli. Apakah pengadaan Rudal Hanud jarak jauh sdh bisa dimulai pengadaannya di tahun 2019, apa Real fregat bisa jg di mulai di tahun 2019 (krn pasti smua itu multi years) dll dll.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua matra sdh punya prioritas pengadaan utk th 2019 yg biasa disebut ditandai dng tanda bintang di DPR.
      Berdasarkan MEF2 sdh tersusun apa yg jd prioritas di masing2 matra bung. Jd gak mungkin urutannya tertukar...hehe

      Hapus
  14. Dana MEF 1 (2010 - 2014) adalah 156 T terdiri dari
    Dana renstra 99 T.
    Dana on top 57 T.

    Dana MEF 2
    Dana renstra 417 T, belakangan karena kurs naik jadi 532 T.
    Dana on top 120 T.

    Dari dana on top 120 T itu, yang sebagian untuk beli alutsista, prediksi sekitar 81 T. Sisanya untuk pembelian suku cadang plus ongkos upgrade.

    Dari 532 T itu hanya sebagian yang untuk beli alutsista, jumlah biayanya gue kagak tahu. Prediksi saya 50-60%.

    Dana pembelian alutsista tahunan dari APBN paling hanya sekian belas triliun per tahun.

    Ini adalah penjelasan sok tahu gue. Jadi kalian jangan percaya.

    πŸ˜‚

    BalasHapus
  15. Iya dalam 1 periode paling tidak kasih lah 1 tahunnya anggarannya 2% masa ndak bisa...1 tahun khusus untuk kuatin militer sisanya 4 tahun kan bisa untuk ekonomi....semua masalah niat...kalau mintanya 20% dari APBN untuk kekuatan militer itu baru nggak realistis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. 2% itu maksudnya dari PDB...dodol,
      Bukan 2 % dari APBN,
      FYI : APBN Indonesia berkisar 1700 T sampai 1800 T
      Pos untuk keamanan sekitar 108 T
      Itu sudah besar hitungan-nya,
      Dephan dapat porsi departemen no 2 yang terbanyak dapat alokasi dana.
      Similar dengan 6% dari pos APBN,
      Yg jadi masalah
      APBN indonesia gak sinkron dengan PDB Indonesia, seharusnya penerimaan dari sektor pajak bisa lebih di push...melihat besaran angka dari PDB

      Hapus
  16. 200T jumlah minimum yang harus tercapai untuk pertahanan NKRI... sikap agresor PLA yang menjadi ancaman ke depan...

    BalasHapus
  17. Denger komentar kasal di tv.. thn 2019 AKAN diupayakan pengadaan 2 PKR dan 2 destroyer...

    Kalau gw bilang sih pengadaan alutsista TNI AD (leopard dan apache berikut rudal) sudah cukup bagus, TNI AU juga sudah dapat yg bagus di armada FALCON, next SU35, A400M dan Herky. Tahun 2019 prediksi saya giliran TNI AL yg akan belanja agak besaran sesuai motto pemerintah skrg yg targetnya thn 2020 jadi poros maritim dunia.

    Tambahan kasel dan destro bisa jadi state of the artnya penutup pengadaan bagi AL nantinya. Jadi semua matra tempur sudah memiliki alutsista kelas dunia.

    Imho.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kemungkinan seperti itu bung, gilirannya AL...hehehe

      Hapus
  18. bersyukur taon lalu pemerintah uda menunaikan kewajibannya, anggaran 120 T, walo 2 tahap, satu dr apn-p haha!πŸ˜‹πŸ˜‹πŸ˜‹

    kalo tahun depan, pelan2 disesuaikan begtichu haha!😎😎😎

    BalasHapus
  19. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus