03 Agustus 2019
Kapal akan dibangun dalam 7 (tujuh) rings yang nantinya akan menjadi 4 (empat) module dikerjakan secara paralel guna mempersingkat durasi pembangunan (photo : Kompas)
PT PAL Bangun 2 Kapal Perang Pesanan TNI AL Senilai Rp 1,6 Triliun
SURABAYA, KOMPAS.com - PT PAL Indonesia (Persero) kembali membangun dua kapal perang jenis Kapal Cepat Rudal (KCR) 60. Kapal perang yang bakal dibangun itu merupakan pesanan Tentara Nasional Angkatan Laut ( TNI AL).
Direktur PT PAL (Persero) Budiman Saleh mengatakan, dua kapal tersebut adalah KCR 5 dan 6. Menurut rencana, dua kapal tersebut bakal rampung pada Mei 2022 mendatang.
KCR 5 dan 6 yang dibangun dengan nilai investasi Rp 1,6 triliun itu, bakal dilengkapi dengan teknologi yang lebih canggih dibandingkan dengan pendahulunya, KCR 1 hingga KCR 4.
"Jadi kita improve stabilitasnya supaya lebih handal dibanding kapal-kapal sebelumnya. Apa yang sudah kita perbaiki di batch dua kita lanjutkan lagi," kata ujar Budiman dalam acara first steel cutting di PT PAL Indonesia, Surabaya, Jumat (2/8/2019).
Menurut Budiman, apabila KCR 1,2 dan 3 hanya memesan platform saja. Sementara itu, sewaco atau persenjataannya baru dilakukan setelah pembangunan kapal selesai.
Namun, untuk KCR 5 dan 6 ini, kata dia, dipesan secara utuh dengan platform beserta sewaco.
"Kita selalu improve tiap batch ini untuk menjadi kapal handal dalam pertempuran. Jadi kelebihan ini (KCR 5 dan 6) itu stabilitasnya makin baik," ujar dia.
Di samping itu, platform dan sewaco itu sekaligus pengadaan pertama kalinya dari Kementerian Pertahanan.
Direktur Direktoran Produksi PT PAL Indonesia (Persero), Turitan Indaryo mengatakan, komponen produksi dalam negeri bakal mendominasi dalam pengadaan KRC 5 dan 6, yakni sebesar 60 persen.
"Dalam negeri secara jumlah 60 persen lebih, tapi secara nilai komponen luar negeri tetap masih lebih 60 persen," kata Turitan.
Untuk diketahui, KCR 5 dan 6 direncanakan bakal memiliki panjang 60 meter, lebar 8,10 meter, tinggi 4,85 meter, sarat 2,60 meter dengan bobot 500 ton dan mampu berlayar hingga kecepatan 28 knots.
Selain itu, KCR 5 dan 6 bakal dilengkapi dengan dengan sistem persenjataan seperti surveillance radar, IFF system, CMS (3 console), Main Gun 57 mm, peluncur surface to surface missile, secondary gun 20 mm, ESM system, serta Decoy Launching system ini mampu berlayar hingga lima hari memiliki fungsi pokok sebagai peperangan anti kapal permukaan, dan offshore patrols di perairan teritorial hingga Zona Ekonomi Ekslusif.
Di sisi lain, kapal ini dapat melakukan aktivitas pengintaian serta search and resuce (SAR).
KCR 5 dan 6 sudah dipesan TNI Angkatan Laut sejak penandatanganan kontrak pada 28 Desember 2018 di Jakarta.
(Kompas)
02 Agustus 2019
Depohar 80, Depo Pemeliharaan Pesawat Tempur Diresmikan Kasau
02 Agustus 2019
Pemeliharaan pesawat BAE Hawk TNI AU (photo : Tempo)
TNI AU. Penlanud Iswahjudi (31/7). Pembentukan Depohar (Depo Pemeliharaan) 80 dan pembentukan Satuan Pemeliharaan (Sathar 81, 82 dan 83) mempunyai nilai efisiensi dan efektifitas dalam program pemeliharaan alutsista pesawat tempur dan fasilitas pendukung penerbangan lainnya dalam rangka mendukung tugas operasi dan latihan TNI Angkatan Udara.
Bersamaan dengan itu juga dilantik 8 pejabat baru termasuk Komandan Depohar 80 Kolonel Tek Iwan Agung Djumaeri, S.I.P., Letkol Tek Tri Nugroho, S.T., M.I.Pol., Komandan Sathar 81, Letkol Tek Adi Mulia, S.E., M.I.Pol., Komandan Sathar 82, dan Letkol Tek Anton Firmansyah, S.T., M.A.P., Komandan Sathar 83, selain itu juga dilantik Mayor Lek Iwan Dwi Saputra sebagai Komandan Sathar 24 (Depohar 20 Lanud Iswahjudi), Mayor Lek Muhammad Reza Komandan Sathar 43 (Depohar 40 Lanud Sulaiman Bandung), Mayor Lek Nopriyansyah Komadan Sathar 54 dan Mayor Lek M. Sarwo Edy sebagai Komandan Sathar 55 (Depohar 50 Lanud Adi Soemarmo Surakarta).
Bertempat di Main Apron Lanud Iswahjudi, Kasau dalam Sambutannya mengatakan “Keberadaan Depohar 80 dan beberapa Sathar ini, merupakan hasil usaha dan do’a kita semua, sehingga pada hari yang berbahagia ini, apa yang kita rencanakan telah menjadi kenyataan” Dengan diresmikannya satuan pemeliharaan dibawah jajaran Koharmatau ini, maka kedepan diharapkan dapat bekerja secara maksimal, sehingga kesiapan operasional Alutsista pesawat tempur dan fasilitas pendukung lainnya senantiasa siap dalam kegiatan operasi dan latihan tanpa harus bergantung pada pihak ketiga dan menjadikan Koharmatau sebagai tumpuan dalam pemeliharaan dan perawatan yang dapat mengurangi biaya tinggi.“
Sedangkan untuk Sathar 81, 82, 83 yang merupakan satuan di bawah Depohar 80 nantinya melaksanakan tugas pemeliharaan tingkat berat alutsista pesawat tempur TNI Angkatan Udara. Sathar akan melaksanakan pemeliharaan dan perbaikan tingkat berat engine F 100-PW 220E (pesawat F-16), engine Adour MK 871(pesawat Hawk MK-109/209) dan engine F 404-GE 102 (pesawat T 50i), Sathar 82 bertugas melaksanakan pemeliharaan tingkat berat engine AL-31F seri 23 (pesawat SU 27/30 Sukhoi), engine pesawat pengganti F-5 E/F, engine dan aksesorisnya, sedangkan Sathar 83 akan melaksanakan pemeliharaan tingkat berat komponen engine pesawat tempur, kalibrasi AUP (Alat Ukur Presisi), NDI dan Fabrikasi.
Prosesi upacara yang cukup panjang dimulai dari pemasangan pangkat dan tanda jabatan serta penyerahan tongkat jabatan, pembukaan lambang- lambang satuan, penyerahan lambang-lambang satuan oleh Kasau, penyumpahan, penandatanganan berita acara, dilanjutkan laporan resmi dan diakhiri pembukaan slubung satuan, penandatangan prasasti dan dilanjutkan peletakan batu pertama pembangunan Depohar 80.
(TNI AU)
Pemeliharaan pesawat BAE Hawk TNI AU (photo : Tempo)
TNI AU. Penlanud Iswahjudi (31/7). Pembentukan Depohar (Depo Pemeliharaan) 80 dan pembentukan Satuan Pemeliharaan (Sathar 81, 82 dan 83) mempunyai nilai efisiensi dan efektifitas dalam program pemeliharaan alutsista pesawat tempur dan fasilitas pendukung penerbangan lainnya dalam rangka mendukung tugas operasi dan latihan TNI Angkatan Udara.
Bersamaan dengan itu juga dilantik 8 pejabat baru termasuk Komandan Depohar 80 Kolonel Tek Iwan Agung Djumaeri, S.I.P., Letkol Tek Tri Nugroho, S.T., M.I.Pol., Komandan Sathar 81, Letkol Tek Adi Mulia, S.E., M.I.Pol., Komandan Sathar 82, dan Letkol Tek Anton Firmansyah, S.T., M.A.P., Komandan Sathar 83, selain itu juga dilantik Mayor Lek Iwan Dwi Saputra sebagai Komandan Sathar 24 (Depohar 20 Lanud Iswahjudi), Mayor Lek Muhammad Reza Komandan Sathar 43 (Depohar 40 Lanud Sulaiman Bandung), Mayor Lek Nopriyansyah Komadan Sathar 54 dan Mayor Lek M. Sarwo Edy sebagai Komandan Sathar 55 (Depohar 50 Lanud Adi Soemarmo Surakarta).
Bertempat di Main Apron Lanud Iswahjudi, Kasau dalam Sambutannya mengatakan “Keberadaan Depohar 80 dan beberapa Sathar ini, merupakan hasil usaha dan do’a kita semua, sehingga pada hari yang berbahagia ini, apa yang kita rencanakan telah menjadi kenyataan” Dengan diresmikannya satuan pemeliharaan dibawah jajaran Koharmatau ini, maka kedepan diharapkan dapat bekerja secara maksimal, sehingga kesiapan operasional Alutsista pesawat tempur dan fasilitas pendukung lainnya senantiasa siap dalam kegiatan operasi dan latihan tanpa harus bergantung pada pihak ketiga dan menjadikan Koharmatau sebagai tumpuan dalam pemeliharaan dan perawatan yang dapat mengurangi biaya tinggi.“
Sedangkan untuk Sathar 81, 82, 83 yang merupakan satuan di bawah Depohar 80 nantinya melaksanakan tugas pemeliharaan tingkat berat alutsista pesawat tempur TNI Angkatan Udara. Sathar akan melaksanakan pemeliharaan dan perbaikan tingkat berat engine F 100-PW 220E (pesawat F-16), engine Adour MK 871(pesawat Hawk MK-109/209) dan engine F 404-GE 102 (pesawat T 50i), Sathar 82 bertugas melaksanakan pemeliharaan tingkat berat engine AL-31F seri 23 (pesawat SU 27/30 Sukhoi), engine pesawat pengganti F-5 E/F, engine dan aksesorisnya, sedangkan Sathar 83 akan melaksanakan pemeliharaan tingkat berat komponen engine pesawat tempur, kalibrasi AUP (Alat Ukur Presisi), NDI dan Fabrikasi.
Prosesi upacara yang cukup panjang dimulai dari pemasangan pangkat dan tanda jabatan serta penyerahan tongkat jabatan, pembukaan lambang- lambang satuan, penyerahan lambang-lambang satuan oleh Kasau, penyumpahan, penandatanganan berita acara, dilanjutkan laporan resmi dan diakhiri pembukaan slubung satuan, penandatangan prasasti dan dilanjutkan peletakan batu pertama pembangunan Depohar 80.
(TNI AU)
Label:
ANGKATAN UDARA,
INDONESIA,
Industri Pertahanan,
TNI-AU
South Korea-Donated PH Navy Ship Set to Sail Home August 5
02 Agustus 2019
BRP Conrado Yap PS-39 (Photo : PN)
MANILA -- The BRP Conrado Yap (PS-39), formerly the South Korean Pohang-class corvette "Chungju" (PCC-762), will sail to the Philippines shortly after handover ceremonies on August 5.
This was disclosed by Department of National Defense (DND) Secretary Delfin Lorenzana when sought for updates on the ship Thursday.
"Yes, the BRP Conrado Yap, a Pohang-class donated by the South Korean government will be handed over to the FOIC (flag officer in command, Vice Admiral Robert Empedrad), (Philippine) Navy on August 5 and will sail for the Philippines immediately thereafter. This is a second-hand, refurbished frigate," he said in a message to the Philippine News Agency.
The South Korean vessel was formally donated to the Philippines in 2014.
In another message, PN spokesperson Captain Jonathan Zata said the BRP Conrado Yap is now undergoing preparations to sail home at Jinhae, Gyeongsang-namdo, South Korea.
He did not give the exact departure time of the ship from South Korea or the port of arrival of the vessel for security reasons.
However, Zata said the BRP Conrado Yap will be escorted home by the strategic sealift vessel, BRP Davao Del Sur (LD-602), which is now on its way to South Korea after attending Russian Navy Day celebrations in Vladivostok last week.
"(BRP) Davao Del Sur will sail with her (on the way home). She is on her way now (to South Korea)," he added. Upon arrival and commissioning by the PN, the BRP Conrado Yap will boost the Navy's anti-submarine and anti-surface capabilities.
The ship was named Conrado Yap to uphold the legacy of a gallant Filipino military leader, who served in the Korean War as part of the Philippine Expeditionary Forces to Korea.
Yap was a captain in the Philippine Army and considered as the most decorated Filipino soldier during the Korean War.
He posthumously received a Philippine Medal of Valor, the country's highest military honor, as well as a US Distinguished Service Cross, for gallantry in action as part of the Tank Company, 10th Battalion Combat Team (10th BCT), Philippine Army.
The ship measures 88.3 meters long, with a beam of 10 meters and draft of 2.9 meters. Displacement is at 1,216 tons full load. The ship is rated for a crew of 118 personnel and can sustain operational presence for 20 days.
The vessel's Combined Diesel or Gas (CODOG) propulsion configuration of Motor Transport Unit (MTU) diesel engines and LM2500 gas turbine with controllable pitch propellers (CPP) enable the ship to move to a maximum speed of 25 knots to a distance of 4,000 nautical miles.
The ship is armed with two Oto Melara 76mm Oto Melara main guns, a 30mm automatic cannons, anti-submarine torpedoes and variety of sensors, including sonars, and radars.
(PNA)
BRP Conrado Yap PS-39 (Photo : PN)
MANILA -- The BRP Conrado Yap (PS-39), formerly the South Korean Pohang-class corvette "Chungju" (PCC-762), will sail to the Philippines shortly after handover ceremonies on August 5.
This was disclosed by Department of National Defense (DND) Secretary Delfin Lorenzana when sought for updates on the ship Thursday.
"Yes, the BRP Conrado Yap, a Pohang-class donated by the South Korean government will be handed over to the FOIC (flag officer in command, Vice Admiral Robert Empedrad), (Philippine) Navy on August 5 and will sail for the Philippines immediately thereafter. This is a second-hand, refurbished frigate," he said in a message to the Philippine News Agency.
The South Korean vessel was formally donated to the Philippines in 2014.
In another message, PN spokesperson Captain Jonathan Zata said the BRP Conrado Yap is now undergoing preparations to sail home at Jinhae, Gyeongsang-namdo, South Korea.
He did not give the exact departure time of the ship from South Korea or the port of arrival of the vessel for security reasons.
However, Zata said the BRP Conrado Yap will be escorted home by the strategic sealift vessel, BRP Davao Del Sur (LD-602), which is now on its way to South Korea after attending Russian Navy Day celebrations in Vladivostok last week.
"(BRP) Davao Del Sur will sail with her (on the way home). She is on her way now (to South Korea)," he added. Upon arrival and commissioning by the PN, the BRP Conrado Yap will boost the Navy's anti-submarine and anti-surface capabilities.
The ship was named Conrado Yap to uphold the legacy of a gallant Filipino military leader, who served in the Korean War as part of the Philippine Expeditionary Forces to Korea.
Yap was a captain in the Philippine Army and considered as the most decorated Filipino soldier during the Korean War.
He posthumously received a Philippine Medal of Valor, the country's highest military honor, as well as a US Distinguished Service Cross, for gallantry in action as part of the Tank Company, 10th Battalion Combat Team (10th BCT), Philippine Army.
The ship measures 88.3 meters long, with a beam of 10 meters and draft of 2.9 meters. Displacement is at 1,216 tons full load. The ship is rated for a crew of 118 personnel and can sustain operational presence for 20 days.
The vessel's Combined Diesel or Gas (CODOG) propulsion configuration of Motor Transport Unit (MTU) diesel engines and LM2500 gas turbine with controllable pitch propellers (CPP) enable the ship to move to a maximum speed of 25 knots to a distance of 4,000 nautical miles.
The ship is armed with two Oto Melara 76mm Oto Melara main guns, a 30mm automatic cannons, anti-submarine torpedoes and variety of sensors, including sonars, and radars.
(PNA)
KF-X Prototype is Set to Fly in 2021
02 Agustus 2019
KF-X C109 series (image : Chosun)
Martin-Baker says the “Mk18 for KF-X is a similar seat to the one currently in competition for the US Air Force new trainer jet, the T-X.”
According Yonhap News, South Korea has completed the preliminary design review (PDR) of the KF-X fighter and the Defense Acquisition Program Administration (DAPA) plans to achieve critical design review (CDR) by September 2019.
“The PDR has been finished successfully to decide whether to proceed to a critical design review (CDR),” Jung Kwang-sun, head of the DAPA’s KF-X Program Group, said. “We plan to complete the detailed design process by September 2019 … and then begin the production of a prototype.”
Korea Aerospace Industries (KAI) aims to roll out the first KF-X prototype in 2021.
Noteworthy as we have reported in April, Martin-Baker’s Mk18 ejection seat has been selected by KAI for the KF-X fighter program.
Martin-Baker says the “Mk18 for KF-X is a similar seat to the one currently in competition for the US Air Force new trainer jet, the T-X.”
The Korea Aerospace Industries KF-X/Indonesian Aerospace IF-X is a joint South Korean and Indonesian program aimed to develop an advanced multirole fighter for the Republic of Korea Air Force (ROKAF) and Indonesian Air Force (TNI-AU). The program is spearheaded by South Korea, holding 80% shares, and Indonesia, the primary partner, holding the remaining minority of 20% of the shares. The KAI KF-X is South Korea’s second domestic jet fighter development program, following the FA-50.
(National Interest)
KF-X C109 series (image : Chosun)
Martin-Baker says the “Mk18 for KF-X is a similar seat to the one currently in competition for the US Air Force new trainer jet, the T-X.”
According Yonhap News, South Korea has completed the preliminary design review (PDR) of the KF-X fighter and the Defense Acquisition Program Administration (DAPA) plans to achieve critical design review (CDR) by September 2019.
“The PDR has been finished successfully to decide whether to proceed to a critical design review (CDR),” Jung Kwang-sun, head of the DAPA’s KF-X Program Group, said. “We plan to complete the detailed design process by September 2019 … and then begin the production of a prototype.”
Korea Aerospace Industries (KAI) aims to roll out the first KF-X prototype in 2021.
Noteworthy as we have reported in April, Martin-Baker’s Mk18 ejection seat has been selected by KAI for the KF-X fighter program.
Martin-Baker says the “Mk18 for KF-X is a similar seat to the one currently in competition for the US Air Force new trainer jet, the T-X.”
The Korea Aerospace Industries KF-X/Indonesian Aerospace IF-X is a joint South Korean and Indonesian program aimed to develop an advanced multirole fighter for the Republic of Korea Air Force (ROKAF) and Indonesian Air Force (TNI-AU). The program is spearheaded by South Korea, holding 80% shares, and Indonesia, the primary partner, holding the remaining minority of 20% of the shares. The KAI KF-X is South Korea’s second domestic jet fighter development program, following the FA-50.
(National Interest)
Label:
INDONESIA,
Industri Pertahanan,
KOREA,
Pesawat Tempur
01 Agustus 2019
F-16 A/B yang Diperbarui Personel TNI AU Segera Diuji Terbang
01 Agustus 2019
Pembaruan pesawat F-16A/B TNI AU (all photos : IDN Times)
Magetan, IDN Times – Satu dari empat pesawat F-16 A/B Block 15 yang sedang menjalani pembaruan alias upgrade di hanggar Skadron Teknik (Skatek) 042 Pangkalan Udara (Lanud) Iswahjudi segera diuji terbang. Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU) Marsekal TNI Yuyu Sutisna mengatakan bahwa flight test direncanakan pada September atau Oktober mendatang.
“Satu sampai dua bulan lagi flight test. Kemudian (yang pesawat yang lain) berurutan,” kata Yuyu usai memimpin upacara peresmian Depo Pemeliharaan (Depohar) 80, Satuan Pemeliharaan (Sathar) 24, 43, 54, 55, 81,82, dan 83 di pelataran pesawat utama Lanud Iswahjudi, Kabupaten Magetan, Rabu (31/7).
Libatkan pihak Lockheed Martin sebagai supervisi
Uji terbang itu untuk mengetahui hasil upgrade pesawat F-16 A/B yang dimulai sejak September 2017. Upaya memperpanjang usia pakai 15 hingga 25 tahun dan peningkatan sistem avionik level berat pada salah satu jet tempur ini dinyatakan hampir rampung.
Meski demikian, para teknisi dari TNI Angkatan Udara, PT Dirgantara Indonesia tetap menjalankan tugasnya hingga sembilan pesawat lain sejenis juga berhasil diperbarui. Kegiatan bernama Enhanced Mid-Life Update (EMLU) – The Falcon Structural Augmentation Rodmap (Falcon STAR) ini bakal berlangsung hingga beberapa waktu ke depan.
Adapun EMLU-Falcon STAR ini merupakan kerjasama antara Pemerintah Indonesia dengan Lockheed Martin (produsen pesawat F-16 asal Amerika. Perwakilan perusahaan dari Negeri Pam Sam terlibat dalam supervisi pelaksaan pekerjaan. “Pekerjaannya tetap di Skatek karena itu proyek dengan Locked Martin sampai selesai,” ujar Yuyu.
Rudal canggih dipasang pada jet tempur ini
Pembaruan yang dijalankan dalam proyek itu di antaranya, pemasangan Rudal Beyond Visual Range (BVR) yang memiliki jangkauan lebih dari 30 kilometer. Selain itu, AMRAAM untuk melepaskan rudal udara ke udara dengan jarak jangka 60 nautical mile atau sekitar 110 kilometer.
Juga, Fire Control Radar dan JDAM (Joint Direct Attack Munitio) yang merupakan bom dengan dilengkapi pemandu laser. “Yang diperbaiki airframe dan avionik,” kata Yuyu kepada sejumlah wartawan.
Jadi kebanggaan personel TNI
Untuk pengadaan sparepart, dalam proyek EMLU-Falcon STAR ini ada dua tipe kontrak. Pertama menggunakan mekanisme dengan mitra alias Direct Commercial Sales (DCS) dan Foreign Military Sales (FMS) atau Government to Government.
Proyek EMLU-Falcon STAR menjadi kebanggan personel TNI terutama para teknisi. Sebab, mampu meningkatkan kemampuan para teknisi TNI Angkatan Udara. Apalagi, pekerjaan yang termasuk level berat itu baru pertama dilakukan di satuan setingkat skadron teknik.
(IDN Times)
Pembaruan pesawat F-16A/B TNI AU (all photos : IDN Times)
Magetan, IDN Times – Satu dari empat pesawat F-16 A/B Block 15 yang sedang menjalani pembaruan alias upgrade di hanggar Skadron Teknik (Skatek) 042 Pangkalan Udara (Lanud) Iswahjudi segera diuji terbang. Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU) Marsekal TNI Yuyu Sutisna mengatakan bahwa flight test direncanakan pada September atau Oktober mendatang.
“Satu sampai dua bulan lagi flight test. Kemudian (yang pesawat yang lain) berurutan,” kata Yuyu usai memimpin upacara peresmian Depo Pemeliharaan (Depohar) 80, Satuan Pemeliharaan (Sathar) 24, 43, 54, 55, 81,82, dan 83 di pelataran pesawat utama Lanud Iswahjudi, Kabupaten Magetan, Rabu (31/7).
Libatkan pihak Lockheed Martin sebagai supervisi
Uji terbang itu untuk mengetahui hasil upgrade pesawat F-16 A/B yang dimulai sejak September 2017. Upaya memperpanjang usia pakai 15 hingga 25 tahun dan peningkatan sistem avionik level berat pada salah satu jet tempur ini dinyatakan hampir rampung.
Meski demikian, para teknisi dari TNI Angkatan Udara, PT Dirgantara Indonesia tetap menjalankan tugasnya hingga sembilan pesawat lain sejenis juga berhasil diperbarui. Kegiatan bernama Enhanced Mid-Life Update (EMLU) – The Falcon Structural Augmentation Rodmap (Falcon STAR) ini bakal berlangsung hingga beberapa waktu ke depan.
Adapun EMLU-Falcon STAR ini merupakan kerjasama antara Pemerintah Indonesia dengan Lockheed Martin (produsen pesawat F-16 asal Amerika. Perwakilan perusahaan dari Negeri Pam Sam terlibat dalam supervisi pelaksaan pekerjaan. “Pekerjaannya tetap di Skatek karena itu proyek dengan Locked Martin sampai selesai,” ujar Yuyu.
Rudal canggih dipasang pada jet tempur ini
Pembaruan yang dijalankan dalam proyek itu di antaranya, pemasangan Rudal Beyond Visual Range (BVR) yang memiliki jangkauan lebih dari 30 kilometer. Selain itu, AMRAAM untuk melepaskan rudal udara ke udara dengan jarak jangka 60 nautical mile atau sekitar 110 kilometer.
Juga, Fire Control Radar dan JDAM (Joint Direct Attack Munitio) yang merupakan bom dengan dilengkapi pemandu laser. “Yang diperbaiki airframe dan avionik,” kata Yuyu kepada sejumlah wartawan.
Jadi kebanggaan personel TNI
Untuk pengadaan sparepart, dalam proyek EMLU-Falcon STAR ini ada dua tipe kontrak. Pertama menggunakan mekanisme dengan mitra alias Direct Commercial Sales (DCS) dan Foreign Military Sales (FMS) atau Government to Government.
Proyek EMLU-Falcon STAR menjadi kebanggan personel TNI terutama para teknisi. Sebab, mampu meningkatkan kemampuan para teknisi TNI Angkatan Udara. Apalagi, pekerjaan yang termasuk level berat itu baru pertama dilakukan di satuan setingkat skadron teknik.
(IDN Times)
Thailand May Become First Country To Acquire The Supersonic Cruise Missile
01 Agustus 2019
Indian Navy ship fires its Brahmos (Force India)
Thailand is currently in talks with India over importing BrahMos supersonic cruise missiles, The Hindu has reported. If the sale materialises, it will be the first export of the BrahMos missile by India.
While Thailand has held a keen interest in the missiles for some time now, the discussions between the two nations picked up pace in December 2018 following the visit of Thai Navy Chief Admiral Ruddit. The talks are expected to come to fruition next year.
Previously a few other countries had expressed their interest in the BrahMos missile but concrete orders are yet to materialise.
Besides potentially ordering the BrahMos missile, Thailand is seeking India’s help in repair and refurbishment of its Dornier patrol aircraft. Thailand which also seeks to acquire more naval ships has been offered assistance by the Indian Navy in ship design and help in constructing the same at various shipyards in India.
(Swarajya)
Indian Navy ship fires its Brahmos (Force India)
Thailand is currently in talks with India over importing BrahMos supersonic cruise missiles, The Hindu has reported. If the sale materialises, it will be the first export of the BrahMos missile by India.
While Thailand has held a keen interest in the missiles for some time now, the discussions between the two nations picked up pace in December 2018 following the visit of Thai Navy Chief Admiral Ruddit. The talks are expected to come to fruition next year.
Previously a few other countries had expressed their interest in the BrahMos missile but concrete orders are yet to materialise.
Besides potentially ordering the BrahMos missile, Thailand is seeking India’s help in repair and refurbishment of its Dornier patrol aircraft. Thailand which also seeks to acquire more naval ships has been offered assistance by the Indian Navy in ship design and help in constructing the same at various shipyards in India.
(Swarajya)
DBM Releases SARO Worth P3.8B for 3 AFP Modernization Projects
01 Agustus 2019
PMC Light Armor Vehcicle (photo : olibuli)
The Department of Budget and Management (DBM) approved and released a Special Allotment Release Order (SARO-BMB-D-19-0008070) with amount of PHP3,875,727,389.00 on July 26 for three projects under Revised Armed Forces of the Philippines (AFP) Modernization Program.
The three projects are:
a) Light Armor System Upgrade Acquisition Project (P711,542,889.00);
b) Acquisition of 310 units 2 1/2 Ton Truck/Cargo Troop Carrier Project (P1,859,984,500.00);
c) Del Pilar Class Frigate Upgrade Acquisition Project (P1,304,200,000.00).
(Mintfo)
PMC Light Armor Vehcicle (photo : olibuli)
The Department of Budget and Management (DBM) approved and released a Special Allotment Release Order (SARO-BMB-D-19-0008070) with amount of PHP3,875,727,389.00 on July 26 for three projects under Revised Armed Forces of the Philippines (AFP) Modernization Program.
The three projects are:
a) Light Armor System Upgrade Acquisition Project (P711,542,889.00);
b) Acquisition of 310 units 2 1/2 Ton Truck/Cargo Troop Carrier Project (P1,859,984,500.00);
c) Del Pilar Class Frigate Upgrade Acquisition Project (P1,304,200,000.00).
(Mintfo)
Label:
ANGKATAN LAUT,
Kendaraan Tempur,
MARINIR,
PHILIPPINES
Langganan:
Postingan (Atom)








