09 Februari 2026

Royal Thai Navy Begins Submarine Crew Recruitment

09 Februari 2026

China State Shipbuilding Corporation (CSSC) S26T submarine is 2,600 ton equipped with Air-independent propulsion (AIP) (photo: CSSC)

The Submarine Squadron, Royal Thai Fleet (RTF), has opened applications for the selection of submarine personnel, instructor training courses, and combat staff training courses under the S26T submarine procurement project to fill 42 vacant positions. Applications will be accepted from December 30, 2025 to January 9, 2026.

The submarine crew consists of 28 personnel, including 11 commissioned officers: Navigation Officer and Third Navigator, and Weapons Officer (5 positions); Second Engineer and Third and Fourth Engineer (3 positions); Medical Officer (2 positions); and Sonar Officer, with ranks between Lieutenant Commander and Lieutenant. And 17 non-commissioned officer positions: 1 Quartermaster, 1 Underwater Weapons Technician, 11 Engineer Technicians, 2 Petty Officers, 1 Radio Operator, and 2 Sonar Operators, with ranks between Chief Petty Officer First Class and Petty Officer First Class.

The instructor training course has 2 positions, including a submarine escape instructor (Safety Training Section, rank of Lieutenant Commander) – 1 position, and a mechanical engineering instructor (Electrical and Electronics Training Section, rank of Lieutenant Commander) – 1 position. There are also 12 positions for the combat staff course, with ranks between Commodore and Lieutenant Commander.

The Wuchang shipyard in Wuhan, China, has completed the construction of the first four of eight Hangor-class submarines for the Pakistan Navy (PN) during the 2024-2025 period. Three submarines are expected to be launched in 2025, and sea trials are currently underway before the first delivery in 2026. It is understood that Wuchang will now have more time, manpower, and resources available to construct the first S26T submarine for the Royal Thai Navy.

Thailand signed an amendment to the contract in September 2025 to accept the CHD620 diesel engine for the generator instead of the German MTU 396. A Thai Navy delegation recently visited China from December 9-19, 2025, to monitor the project's progress. The launching ceremony for the Royal Thai Navy's first S26T submarine may take place sooner than expected if no further problems arise.

(AAG)

18 komentar:

  1. KEBETULAN LON ..... 🔥🔥🔥
    -
    PEKANBARU - KL : 291 KM
    PONTIANAK - SERAWAK : 498 KM
    ---------
    1. RAFALE ± 1852 KM
    2. KF-21 Boramae ± 1.000–1.100 km
    3. F-16C/D Block 50/52 ± 1.000–1.300 km
    4. KAAN ± 1.100–1.400 km
    ---------
    BANNER KONTRAK KAAN =
    BANNER KONTRAK KAAN =
    BANNER KONTRAK KAAN =
    https://www.indomiliter.com/wp-content/uploads/2025/07/Gwx4UFQW4AAHLqg.jpg
    -
    https://static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/_250726191324-889.png
    ---------
    BANNER LOA M346F BUKAN LOI
    BANNER LOA M346F BUKAN LOI
    BANNER LOA M346F BUKAN LOI
    -
    https://www.indomiliter.com/wp-content/uploads/2026/02/Photo_Signing-Ceremony_Letter-of-Award_Indonesia_Leonardo_M-346F.jpg
    -
    https://img-s-msn-com.akamaized.net/tenant/amp/entityid/AA1VIflp.img?w=768&h=432&m=6&x=395&y=259&s=215&d=76
    -
    https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiM_xCoQ3XFRdymrLVwgcKBAjWnMy_8pl7m4Gmyk9T4hEteLXwgKlita-YflWudvDvkNqAe53qX3BNhze7VlNiCH5EoEWknHL7ZqC-p2bFZUUj8X3PoHNMchCnDDJ37nNrGS0FkoXeCPQp8jB_O3K7Q7FME9YNkbk62rsuauglHS6C1x374Zt7foRRirU1x/s567/Photo_Signing%20Ceremony_Letter%20of%20Award_Indonesia_Leonardo_M-346F.jpeg
    ---------
    2025 TAI DAN KEMENHAN RI =
    48 KAAN GEN 5
    48 KAAN GEN 5
    48 KAAN GEN 5
    11 Haziran 2025 tarihinde Endonezya Savunma Bakanlığı ile imzaladığımız ve toplamda 48 adet KAAN uçağına yönelik iş birliğini kapsayan “Devletten Devlete (G2G) Tedarik Anlaşması” doğrultusunda; bu anlaşmanın tüm detaylarını ve teknik eklerini içeren ticari sözleşmenin imza törenini bugün itibarıyla gerçekleştirdik.
    ---------
    42 RAFALE RESMI DASSAULT GEN 4.5
    42 RAFALE RESMI DASSAULT GEN 4.5
    42 RAFALE RESMI DASSAULT GEN 4.5
    42 RAFALE RESMI DASSAULT GEN 4.5
    6 RAFALE SEPTEMBER 2022
    18 RAFALE AGUSTUS 2023
    18 RAFALE JANUARI 2024
    DASSAULT AVIATION = 42 RAFALE
    (Saint-Cloud, le 8 Janvier 2024) – La dernière tranche de 18 Rafale pour l’Indonésie est entrée en vigueur ce jour. Elle fait suite à l’entrée en vigueur, en septembre 2022 et en août 2023, de la première et de la deuxième tranche de 6 et 18 Rafale, et vient ainsi compléter le NOmbre d’avions en commande pour l’Indonésie dans le cadre du contrat signé en février 2022 pour l’acquisition de 42 Rafale.

    BalasHapus
    Balasan
    1. RADAR PHANTOMSTRIKE = 100+ KM
      NO AMRAAM = OTAK ADA TANGAN TIDAK SAMPAI
      -
      1. Masalah Teknis: "Otak" Ada, "Tangan" Tidak Sampai
      Varian FA-50PL (Block 20) yang dipesan Polandia sebenarnya sudah dilengkapi dengan radar canggih PhantomStrike AESA buatan Raytheon (AS). Radar ini mampu melacak target dari jarak jauh dengan sangat akurat.
      • Masalahnya: Radar tersebut bisa "melihat" musuh sejauh 100+ km, tetapi tanpa rudal AMRAAM, FA-50 tidak punya senjata untuk menyerang target tersebut.
      • Ketergantungan pada AS: Karena AMRAAM adalah teknologi sensitif Amerika, meskipun pesawatnya buatan Korea Selatan (KAI), izin integrasi perangkat lunak (source code) dan izin ekspor rudal tetap harus datang dari Washington. Hingga awal 2026, izin ini belum turun.
      -
      2. Kesenjangan Kemampuan Tempur
      Tanpa AMRAAM, FA-50 hanya bisa mengandalkan rudal jarak pendek seperti AIM-9 Sidewinder (jangkauan sekitar 10–20 km). Dalam skenario perang modern di Eropa Timur:
      • Kalah Jangkauan: Jet tempur Rusia (Su-35 atau Mig-31) membawa rudal R-77 yang jangkauannya melebihi 100 km.
      • Risiko Tinggi: FA-50 harus mendekat sangat dekat ke pesawat musuh untuk menembak, yang artinya mereka akan ditembak jatuh lebih dulu oleh musuh sebelum bisa membalas. Inilah alasan mengapa pesawat ini disebut "ompong" untuk misi superioritas udara.
      -
      3. Biaya Integrasi yang Membengkak
      Salah satu alasan mengapa "restu" dari AS sulit didapat adalah masalah biaya dan hak intelektual.
      • Pemerintah AS dan perusahaan Lockheed Martin meminta biaya integrasi sistem senjata yang sangat mahal kepada pihak Korea dan Polandia.
      • Polandia merasa biaya tambahan ini tidak masuk akal jika dibandingkan dengan harga awal kontrak, sehingga terjadi kebuntuan negosiasi.
      -
      4. Perubahan Strategi: Dari "Striker" Menjadi "Pelatih"
      Karena ketidakpastian senjata jarak jauh ini, Kementerian Pertahanan Polandia mengambil keputusan pahit pada akhir 2025:
      • Pembatalan Upgrade: 12 unit pertama (FA-50GF) yang awalnya ingin ditingkatkan ke standar tempur penuh, dibatalkan rencananya.
      • Fungsi Latih (LIFT): Pesawat-pesawat ini kini difokuskan untuk tugas Lead-In Fighter Trainer (LIFT). Artinya, FA-50 hanya digunakan untuk melatih pilot agar terbiasa dengan sistem kokpit digital sebelum mereka pindah ke jet tempur "sungguhan" seperti F-16 atau F-35.
      • Patroli Ringan: Pesawat ini tetap bisa digunakan untuk patroli udara wilayah dalam kondisi damai (Air Policing) guna mencegat helikopter atau pesawat sipil yang melanggar batas, tetapi tidak untuk bertempur di garis depan melawan jet tempur musuh.

      Hapus
  2. KEBETULAN ..... VETO US AMRAAM 120
    -
    FA50MURAH = OMPONG
    FA50MURAH = OMPONG
    FA50MURAH = OMPONG
    -
    https://www.indomiliter.com/dibalik-veto-as-mengapa-fa-50-malaydesh-terancam-ompong-tanpa-rudal-aim-120-amraam/#more-114705
    Dinamika industri pertahanan global kembali dikejutkan oleh ketidakpastian yang menyelimuti armada jet tempur ringan FA-50 Fighting Eagle. Kabar terbaru menyebutkan bahwa Korea Aerospace Industries (KAI) tetap optimis dalam menjanjikan integrasi rudal udara-ke-udara jarak menengah AIM-120 AMRAAM untuk armada FA-50 pesanan Angkatan Udara Malaydesh (RMAF).
    Namun, janji ini muncul di tengah situasi yang kontradiktif, mengingat sebelumnya Amerika Serikat secara mengejutkan menjatuhkan veto terhadap upaya serupa yang diajukan oleh Polandia. Kasus ini menegaskan sebuah realitas pahit dalam perdagangan senjata internasional bahwa kecanggihan sebuah platform tempur tetap sangat bergantung pada restu politik dan lisensi dari negara pemilik teknologi inti.
    Keputusan Washington untuk memveto integrasi AMRAAM pada varian FA-50GF milik Polandia didasari oleh alasan yang sangat kompleks, mulai dari perlindungan teknologi hingga strategi bisnis. AS sangat menjaga eksklusivitas rudal AMRAAM yang dianggap sebagai “permata mahkota” dalam pertempuran jarak jauh (Beyond Visual Range).
    Ada kekhawatiran bahwa jika jet tempur ringan yang lebih murah seperti FA-50 diberi kemampuan setara jet tempur kelas berat, hal itu akan menggerus pangsa pasar F-16 Viper di pasar global. Selain itu, integrasi rudal ini menuntut pembukaan kode sumber (source code) radar dan sistem komputer misi yang sangat sensitif—sebuah wilayah teknis di mana AS dikenal sangat protektif, bahkan terhadap sekutu dekatnya sekalipun.
    Dampak dari veto tersebut terasa sangat menyakitkan bagi Warsawa. Polandia terpaksa membatalkan rencana peningkatan untuk 12 unit jet FA-50GF miliknya karena menemui jalan buntu di Pentagon. Tanpa kemampuan meluncurkan rudal AMRAAM, jet tempur yang awalnya diproyeksikan sebagai penopang utama pertahanan udara itu kini mengalami degradasi fungsi dan dinilai lebih cocok sekadar menjadi pesawat latih tingkat lanjut atau jet serang darat ringan.
    Situasi di atas menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah program akuisisi alutsista tidak hanya ditentukan oleh kesepakatan antara penjual dan pembeli, tetapi juga oleh “tangan tidak terlihat” dari negara penyedia lisensi persenjataan strategis yang terpasang di dalamnya.
    Ketergantungan terhadap restu negara asal teknologi ini kini menciptakan posisi sulit bagi Malaydesh yang telah memesan 18 unit FA-50 Block 20. Meski KAI berargumen bahwa konfigurasi untuk Malaydesh memiliki jalur integrasi yang berbeda dengan milik Polandia, para analis tetap bersikap skeptis. Selama sertifikasi akhir dari pihak Amerika Serikat belum dikantongi, kemampuan BVR (Beyond Visual Range) pada FA-50 Malaydesh masih merupakan janji di atas kertas

    BalasHapus
  3. Macan koran 🤣 last last kensel 🤣

    BalasHapus
  4. “INI SEBAB MENGAPA RAKYAT PERLU TAHU! PMX AKAN ULANGI SEJARAH NAJIB?”
    https://youtu.be/1DaZ-yZHKYk

    ANWAR EPSTEIN 😂😂😂😂😂

    BalasHapus
  5. wahh WuHaN lagi...sodaranya si LeMeS haha!😋🤭😋

    BalasHapus
  6. VETO AIM-120 AMRAAM
    -
    Hambatan integrasi rudal AIM-120 AMRAAM pada armada FA-50PL Polandia adalah contoh nyata bagaimana teknologi militer digunakan sebagai instrumen geopolitik dan ekonomi. Analisis mengenai fenomena ini dapat diurai menjadi tiga dimensi utama:
    -
    1. Strategi "Segmentation and Locking" (Segmentasi Pasar)
    Amerika Serikat (melalui Lockheed Martin) ingin memastikan bahwa setiap pesawat tempur memiliki "kasta" yang jelas.
    • Menghindari Kanibalisasi: Jika FA-50 (yang jauh lebih murah) diberi kemampuan rudal jarak jauh (BVR) yang setara dengan F-16, maka nilai jual F-16 Viper akan merosot. Banyak negara akan memilih membeli dua atau tiga unit FA-50 daripada satu unit F-16 jika keduanya memiliki daya pukul yang sama.
    • Kendali Jarak Jauh: Dengan menahan izin integrasi AMRAAM, AS secara efektif "mengunci" FA-50 pada peran serangan darat atau patroli udara jarak dekat saja. Hal ini memaksa negara seperti Polandia untuk tetap bergantung pada F-16 atau F-35 untuk misi supremasi udara yang lebih kritis.
    -
    2. Kedaulatan Digital dan "Black Box" Technology
    Masalah source code (kode sumber) adalah inti dari hambatan teknis ini.
    • Proteksi Kekayaan Intelektual: Sistem radar dan komputer misi F-16 atau F-35 adalah rahasia negara paling berharga bagi AS. Membuka kode tersebut agar bisa "berbicara" dengan rudal AMRAAM di platform buatan Korea Selatan (KAI) berisiko membocorkan algoritma sensitif kepada pihak ketiga.
    • Veto Teknis: AS menggunakan source code sebagai "rem" strategis. Tanpa akses ke kode ini, integrasi senjata menjadi tidak mungkin atau sangat mahal karena harus melibatkan kontraktor AS secara penuh. Ini memberi AS kekuatan veto atas kemampuan tempur yang dimiliki oleh negara pembeli, bahkan setelah pesawat tersebut dibayar lunas.
    -
    3. Geopolitik Rantai Pasok (Supply Chain Dependency)
    Polandia berada dalam posisi sulit karena mereka membutuhkan pesawat dengan cepat untuk menggantikan MiG-29, namun mereka terjebak dalam ketergantungan teknologi AS.
    • Pelajaran bagi Pembeli Lain: Kasus Polandia mengirimkan pesan kepada pasar global (seperti Malaysia atau Thailand) bahwa membeli FA-50 tidak otomatis memberikan kemampuan tempur "standar NATO" secara penuh tanpa restu eksplisit dari Washington.

    BalasHapus
  7. Dibalik Veto AS: Mengapa FA-50 Malaysia Terancam ‘Ompong’ Tanpa Rudal AIM-120 AMRAAM?

    https://www.indomiliter.com/dibalik-veto-as-mengapa-fa-50-malaysia-terancam-ompong-tanpa-rudal-aim-120-amraam/

    BalasHapus
  8. Kapal buat Thailand bukannya sudah sebagian besar jadi? Atau kapal tersebut sudah jadi dijual ke customer lain?

    BalasHapus
  9. VETO USA
    -
    Hingga 2026, terdapat laporan bahwa Amerika Serikat belum memberikan izin (veto de facto) untuk integrasi rudal AIM-120 AMRAAM pada armada FA-50 milik Polandia.
    Berikut adalah poin-poin utama mengenai situasi tersebut:
    -
    1. Masalah Integrasi pada FA-50PL
    Polandia memesan 48 unit jet FA-50, yang terdiri dari 12 unit varian FA-50GF (sudah dikirim) dan 36 unit varian FA-50PL (sedang diproduksi). Meskipun varian FA-50PL dirancang untuk memiliki kemampuan tempur penuh (Block 20), integrasi rudal jarak menengah AMRAAM terhambat karena:
    • Ketiadaan Izin AS: Pemerintah AS dilaporkan belum memberikan persetujuan ekspor dan integrasi untuk penggunaan AMRAAM pada platform FA-50 di Polandia.
    • Biaya dan Teknis: Biaya integrasi tidak termasuk dalam kontrak awal tahun 2022, dan studi kelayakan teknis diperkirakan memakan waktu beberapa tahun.
    -
    2. Pembatalan Upgrade FA-50GF
    Akibat ketidakpastian integrasi AMRAAM, pada Desember 2025, Polandia memutuskan untuk membatalkan rencana peningkatan (upgrade) 12 unit FA-50GF menjadi standar FA-50PL.
    • Pemerintah Polandia menilai bahwa tanpa kemampuan rudal BVR (Beyond Visual Range) seperti AMRAAM, pesawat ini lebih efisien digunakan sebagai pesawat latih lanjut daripada dipaksakan menjadi jet tempur gardu depan.
    -
    3. Solusi Sementara: AIM-9X Sidewinder
    Berbeda dengan AMRAAM, AS telah menyetujui integrasi rudal jarak pendek AIM-9X Sidewinder untuk FA-50PL. Kontrak dukungan integrasi AIM-9X ini baru saja ditandatangani pada Januari 2026, yang memungkinkan FA-50PL setidaknya memiliki kemampuan pertahanan udara jarak dekat yang modern.
    -
    4. Perbandingan dengan Jet Lain
    Sebagai catatan, AS telah menyetujui penjualan besar AMRAAM (varian AIM-120D-3) untuk armada F-16 dan F-35 Polandia. Hal ini menunjukkan bahwa "veto" atau hambatan tersebut spesifik pada platform FA-50
    -
    Kesimpulan: Saat ini FA-50 Polandia masih dianggap "ompong" dalam hal pertempuran jarak jauh karena belum adanya restu dari AS untuk memasang AMRAAM, yang memicu Polandia mengubah strategi penggunaan pesawat tersebut menjadi platform pelatihan

    BalasHapus
  10. ADA APA NIH C-390 BISA NGADEM DI SKU 17 😃😃😃

    BalasHapus
  11. AMRAAM versi brosurr guys...😂😂🤣😋🤪

    ====
    "...Selama sertifikasi akhir dari pihak Amerika Serikat belum dikantongi, kemampuan BVR (Beyond Visual Range) pada FA-50 Malaysia masih merupakan janji di atas kertas..."

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita punya AMRAAM...dan tak lama lagi METEOR...
      Orang kayaaaa....😁🤟

      Hapus
    2. KALO YANG MSIKIN MACAM MALONDESH PUNYA APA OM PS......🤣🤣🤣🤣🤣

      Hapus
  12. Raja minyak ikut kita, jaminan proyek aman..😁🤟

    https://www.airspace-review.com/2026/02/09/bendera-arab-saudi-menempel-di-model-jet-tempur-kaan-turkiye-kesepakatan-bisa-terwujud-tahun-ini/?_gl=1*11zslfq*_ga*MTgzNzIzOTQ1MC4xNzY5MDAzODMz*_ga_118PZWW9EX*czE3NzA2MjAzMDgkbzE3JGcwJHQxNzcwNjIwMzA4JGo2MCRsMCRoMA..

    BalasHapus
  13. KEBETULAN .... VETO US AMRAAM 120
    -
    FA50MURAH = OMPONG
    FA50MURAH = OMPONG
    FA50MURAH = OMPONG
    -
    https://www.indomiliter.com/dibalik-veto-as-mengapa-fa-50-malaydesh-terancam-ompong-tanpa-rudal-aim-120-amraam/#more-114705
    Dinamika industri pertahanan global kembali dikejutkan oleh ketidakpastian yang menyelimuti armada jet tempur ringan FA-50 Fighting Eagle. Kabar terbaru menyebutkan bahwa Korea Aerospace Industries (KAI) tetap optimis dalam menjanjikan integrasi rudal udara-ke-udara jarak menengah AIM-120 AMRAAM untuk armada FA-50 pesanan Angkatan Udara Malaydesh (RMAF).
    Namun, janji ini muncul di tengah situasi yang kontradiktif, mengingat sebelumnya Amerika Serikat secara mengejutkan menjatuhkan veto terhadap upaya serupa yang diajukan oleh Polandia. Kasus ini menegaskan sebuah realitas pahit dalam perdagangan senjata internasional bahwa kecanggihan sebuah platform tempur tetap sangat bergantung pada restu politik dan lisensi dari negara pemilik teknologi inti.
    Keputusan Washington untuk memveto integrasi AMRAAM pada varian FA-50GF milik Polandia didasari oleh alasan yang sangat kompleks, mulai dari perlindungan teknologi hingga strategi bisnis. AS sangat menjaga eksklusivitas rudal AMRAAM yang dianggap sebagai “permata mahkota” dalam pertempuran jarak jauh (Beyond Visual Range).
    Ada kekhawatiran bahwa jika jet tempur ringan yang lebih murah seperti FA-50 diberi kemampuan setara jet tempur kelas berat, hal itu akan menggerus pangsa pasar F-16 Viper di pasar global. Selain itu, integrasi rudal ini menuntut pembukaan kode sumber (source code) radar dan sistem komputer misi yang sangat sensitif—sebuah wilayah teknis di mana AS dikenal sangat protektif, bahkan terhadap sekutu dekatnya sekalipun.
    Dampak dari veto tersebut terasa sangat menyakitkan bagi Warsawa. Polandia terpaksa membatalkan rencana peningkatan untuk 12 unit jet FA-50GF miliknya karena menemui jalan buntu di Pentagon. Tanpa kemampuan meluncurkan rudal AMRAAM, jet tempur yang awalnya diproyeksikan sebagai penopang utama pertahanan udara itu kini mengalami degradasi fungsi dan dinilai lebih cocok sekadar menjadi pesawat latih tingkat lanjut atau jet serang darat ringan.
    Situasi di atas menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah program akuisisi alutsista tidak hanya ditentukan oleh kesepakatan antara penjual dan pembeli, tetapi juga oleh “tangan tidak terlihat” dari negara penyedia lisensi persenjataan strategis yang terpasang di dalamnya.
    Ketergantungan terhadap restu negara asal teknologi ini kini menciptakan posisi sulit bagi Malaydesh yang telah memesan 18 unit FA-50 Block 20. Meski KAI berargumen bahwa konfigurasi untuk Malaydesh memiliki jalur integrasi yang berbeda dengan milik Polandia, para analis tetap bersikap skeptis. Selama sertifikasi akhir dari pihak Amerika Serikat belum dikantongi, kemampuan BVR (Beyond Visual Range) pada FA-50 Malaydesh masih merupakan janji di atas kertas

    BalasHapus