30 Januari 2026

KRI Prabu Siliwangi-321 Laksanakan Uji Coba Penembakan Meriam 127 mm

30 Januari 2026

Uji kesiapan tempur fregat KRI Prabu Siliwangi-321 (photos: TNI AL)

TNI AL kembali melaksanakan uji penguatan kemampuan alutsista dan kesiapan tempur melalui structural firing Meriam 127 mm milik KRI Prabu Siliwangi-321 dalam rangkaian pelayaran Sea Going terakhir sebelum bertolak menuju Indonesia, Selasa (27/1/2026).


Kegiatan ini sekaligus menjadi uji coba penembakan perdana Meriam 127 mm sebagai bagian dari pengujian sistem senjata dan struktur kapal. Pencapaian tersebut menandai pertama kalinya kapal perang TNI Angkatan Laut mengoperasikan meriam dengan kategori Large Caliber Gun (kaliber di atas 120 mm) secara operasional, setelah sebelumnya senjata sekelas pernah dioperasikan pada korvet kelas Fatahillah.


Structural firing Meriam 127 mm dilaksanakan untuk memastikan kekuatan dan respons struktur kapal terhadap beban serta getaran akibat tembakan, sekaligus memverifikasi kesiapan sistem senjata dari aspek mekanis, elektrikal, dan keselamatan. Seluruh tahapan kegiatan dilaksanakan secara profesional dengan menerapkan prosedur keselamatan yang ketat serta melibatkan personel sesuai fungsi dan tanggung jawab masing-masing.


Keberhasilan penembakan perdana Meriam 127 mm menjadi bukti kesiapan KRI Prabu Siliwangi-321 sebagai salah satu unsur tempur modern TNI AL, sekaligus mencerminkan profesionalisme prajurit Jalasena dalam mengoperasikan sistem persenjataan utama secara aman, terukur, dan andal.


Pencapaian ini sejalan dengan perintah harian Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali dalam meningkatkan kesiapan operasional terutama alutsista untuk membangun kekuatan laut yang modern, berdaya gentar, dan siap menjaga kedaulatan wilayah perairan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kerajaan Setujui Pemasangan Misil NSM Pada 6 Kapal Kelas KEDAH

30 Januari 2026

Kedah class NGPV saat ini berjumlah 6 kapal dalam armada TLDM (photo: Dvids)

Kerajaan lulus pasang sistem pelancar misil antipermukaan atas 6 kapal TLDM Kelas KEDAH
KUALA LUMPUR: Kerajaan meluluskan pemasangan sistem pelancar misil antipermukaan atau 'Surface to Surface Missiles' (SSM) ke atas semua enam kapal Kelas KEDAH milik Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM).

Menteri Pertahanan, Datuk Sri Mohamed Khaled Nordin, berkata pemasangan itu dirancang secara berfasa, mengambil kira kesiapsiagaan teknikal kapal, keperluan operasi serta implikasi kos.

"Pada masa ini, TLDM sedang melaksanakan tinjauan harga bagi mengenal pasti kos sebenar keseluruhan projek," katanya melalui jawapan bertulis di laman web Parlimen.

Beliau menjawab soalan Nordin Ahmad Ismail (PN-Lumut) mengenai usaha pemasangan peluru berpandu NSM di atas kapal milik TLDM kelas Kedah di bawah Bajet 2026.

Mengulas lanjut, beliau berkata cadangan pemasangan peluru berpandu jenis Naval Strike Missile (NSM) ke atas kapal milik TLDM Kelas KEDAH adalah sebahagian inisiatif peningkatan keupayaan tempur permukaan bagi menangani keperluan operasi semasa dan masa hadapan.

NSM rudal permukaan ke permukaan (photo: Kongsberg)

"Pada peringkat awal, penilaian dan integrasi keupayaan ini memberi tumpuan kepada kapal utama sebagai platform perintis, sebelum dipertimbangkan peluasan kepada kapal-kapal lain dalam kelas yang sama, tertakluk keberkesanan pelaksanaan, keperluan operasi TLDM dan kelulusan peruntukan kerajaan," katanya.

Kapal Kelas KEDAH juga dikenali Kapal patrol Generasi Baharu (NGPV) adalah satu daripada lima kelas yang digariskan dalam Perancangan Transformasi 15-to-5 TLDM.

Dengan panjang 91.1 meter dan berat anggaran 1,650 tan, kapal ini mempunyai ruang dan berat simpanan untuk sistem persenjataan tambahan, namun tidak dipasang semasa ditauliahkan.

Ketika ini terdapat enam buah kapal dalam Kelas KEDAH iaitu KD Kedah, KD Pahang, KD Perak, KD Terengganu, KD Kelantan dan KD Selangor.

Dalam pada itu, Mohamed Khaled berkata, pendekatan berperingkat ini mencerminkan usaha Kementerian Pertahanan untuk memastikan peningkatan keupayaan tempur TLDM dilaksanakan secara berhemah, berkeutamaan dan memberikan nilai terbaik kepada kerajaan, selaras keperluan keselamatan maritim dan kemampuan fiskal negara.

29 Januari 2026

Kapal BHO-105 Jalani Sea Trial di Jerman

29 Januari 2026

Kapal bantu hidro-oseanografi berkemampuan ocean going bakal KRI Canopus 936 TNI AL (photos: Marine Traffic, Bernd U)

KRI Canopus (936) adalah sebuah kapal bantu hidro-oseanografi (BHO) milik TNI Angkatan Laut. Pada awal proyek pembangunan, kapal ini sering disebut dengan kode BHO-105.


Kapal ini dibangun di galangan kapal swasta PT. Palindo Marine di Batam dengan asistensi dan desain dari Fassmer, tetapi untuk proses pemasangan sistemnya (fitting out) dilakukan di Jerman melalui galangan kapal Abeking & Rasmussen.


Upacara pemotongan baja pertama (first steel cutting) dilakukan pada 15 September 2023 dan peletakan lunas pertamanya pada tanggal 14 Desember 2023. Lalu pada 25 September 2024 dilakukan proses peluncuran kapal ke badan air di dermaga PT. Palindo Marine di Batam, Kepulauan Riau.


Dengan dimensi panjang yang mencapai 105 meter dan lebar hingga 17,4 meter, KRI ini memiliki kemampuan ocean going atau mampu menjelajahi samudra lepas.

Kini di bulan Desember 2015 dan Januari 2026, kapal ini memasuki tahapan sea trial yang berlangsung di Jerman sebelum dikirimkan ke Indonesia.

TNI AU Siapkan Tiga Skadron untuk Pesawat Tempur Rafale

29 Januari 2026

Pesawat tempur Rafale TNI AU (photos: Swiderek Maciejka)

Jakarta, IDM – TNI Angkatan Udara (TNI AU) bakal menyiapkan tiga skadron udara untuk mengoperasikan pesawat tempur terbaru mereka, Rafale.

Hal tersebut diungkap oleh Panglima Komando Operasi Udara Nasional (Pangkoopsudnas) Marsdya TNI Minggit Tribowo seusai upacara peringatan HUT ke-4 Koopsudnas yang digelar di Lapangan Upacara Makoopsudnas, Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (28/1).


“Sesuai dengan perencanaan dan kedatangan, Rafale ini tidak cuma satu skadron, tapi kita siapkan menjadi tiga skadron,” jelas Minggit kepada awak media.

Meski demikian, Minggit tidak merinci skadron udara mana saja yang akan menjadi home base pesawat produksi pabrikan Prancis, Dassault Aviation.

Namun, salah satu satuan yang telah disiapkan untuk mengoperasikan Rafale adalah Skadron Udara 12 yang bermarkas di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru.


Informasi tersebut disampaikan Komandan Lanud Roesmin Nurjadin Marsma TNI Abdul Haris saat upacara tradisi pelepasan pesawat Hawk 109/209 pada 7 Januari 2026.

“Ke depan, Skadron Udara 12 akan diperkuat dengan kehadiran pesawat tempur Rafale yang direncanakan tiba pada akhir Januari 2026, sebagai bagian dari modernisasi alutsista untuk semakin meningkatkan daya tangkal dan kesiapsiagaan TNI Angkatan Udara,” ujar Marsma TNI Abdul Haris dikutip dari unggahan Instagram @lanud_roesmin_nurjadin.

(IDM)

Pengiriman Kapal LCS-1 Ditunda Hingga Desember 2026

29 Januari 2026

Persiapan akhir LCS 1 untuk tahap sea trial (photos: LUNAS)

Hadir di Dewan Rakyat pada Rabu 28/01 untuk menjawab pertanyaan mengenai status pembangunan Kapal Tempur Pesisir (LCS) 1, yang memang terus menjadi perhatian berbagai pihak.

Pada tanggal 25 Desember 2025, Kementerian diinformasikan oleh Lumut Naval Shipyard (LUNAS) bahwa kemajuan keseluruhan proyek LCS telah mencapai 75,75% aktual dibandingkan dengan 81,57% menurut rencana. Sementara LCS 1 berada di angka 82,9%.

Kapal LCS 1 telah berhasil diluncurkan ke air dan sekarang berada dalam fase instalasi dan integrasi sistem utama. Uji coba laut tingkat galangan kapal dimulai pada tanggal 20 Januari 2026, dengan "first sea going" dijadwalkan pada tanggal 28 Januari 2026 untuk pengujian mesin, pembangkit listrik, pendingin udara, dan sistem propulsi.


Pengiriman LCS 1 telah direvisi menjadi Desember 2026 dengan penundaan sekitar 4 bulan, sementara jadwal pengiriman kapal berikutnya tetap hingga 2029. Nilai total proyek LCS adalah RM11,2 miliar dengan pengeluaran saat ini sekitar RM8,3 miliar atau 74% dari total kontrak.

Kementerian Pertahanan terus melakukan pemantauan ketat dengan Angkatan Laut Malaysia (RMN) sebagai pengguna akhir dan pihak pelaksana untuk memastikan bahwa setiap fase pengembangan, pengujian, dan pengiriman kapal dilakukan sesuai dengan spesifikasi dan persyaratan operasional.

Prioritas Kementerian adalah untuk memastikan bahwa aset yang diterima sepenuhnya aman, berfungsi dengan baik, dan memenuhi kebutuhan pertahanan nasional.

28 Januari 2026

Keel Laying Ceremony for Second MRCV

28 Januari 2026

Keel Laying Ceremony for second Multi-Role Combat Vessel (MRCV) at ST Engineering Marine Limited (photos: RSN)

Today, Chief of Defence Force Vice Admiral (VADM) Aaron Beng officiated the Keel Laying Ceremony for our second Multi-Role Combat Vessel (MRCV) at ST Engineering Marine Limited. The ceremony was also attended by Chief of Navy Rear Admiral (RADM) Sean Wat and senior officials and representatives from the RSN, DSTA and ST Engineering Marine.


The keel laying ceremony is a time-honoured tradition in shipbuilding, commemorating the ‘birth’ of a new ship cradled in its shipyard.


The RSN’s MRCVs will progressively replace our Victory-class Missile Corvettes (MCVs), which have been in service since 1989. The MRCVs are expected to be delivered from 2028 onwards.

(RSN)

KAAN Pakai Mesin TF35000, Turki Jamin Bebas ITAR

28 Januari 2026

KAAN akan memakai mesin TF35000 (photo: IDEF)

Pakai Mesin TF35000, Kontrak 48 Jet KAAN Indonesia Rp 251 Triliun
REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- CEO Turkish Aerospace Industries (TAI/TUSAS) Mehmet Demiroglu menjelaskan tentang penting mengenai proyek Pesawat Tempur Nasional (MMU) KAAN dalam saluran Youtube SAHA Istanbul. Demiroglu menyatakan, prototipe uji pertama KAAN dalam konfigurasi sebenarnya, yang disebut P1, direncanakan melakukan penerbangan perdananya pada akhir April, Mei, atau paling lambat Juni 2026.

Dia menekankan, jet tempur generasi 5 itu mewakili titik balik strategis bagi Turki. "Kami memproduksi total tiga prototipe. P0 adalah pesawat uji teknik dan telah melakukan dua penerbangan. Sekarang, dengan P1, kami memulai uji penerbangan dalam konfigurasi sebenarnya. Pesawat kami akan terbang pada akhir April, Mei, atau paling lambat Juni," ucap Demiroglu dikutip dari Aerohaber.

Dia menjelaskan, aktivitas pengujian KAAN berjalan secara paralel. Menurut Demiroglu, prototipe P2 akan melakukan penerbangan pertama pada akhir 2026 dan prototipe P3 dijadwalkan pada akhir 2026 atau awal 2027.

Dia menggarisbawahi, setiap prototipe menjalani setidaknya dua sampai tiga bulan pengujian darat intensif sebelum penerbangan. Demiroglu menekankan, tidak ada penerbangan yang dilakukan sebelum validasi sistem selesai.

Demiroglu mencatat, mesin F110, yang juga digunakan pada jet F-16, akan diutamakan untuk penerbangan uji Blok 10 KAAN. Dia menambahkan, permintaan Turki kepada Kongres Amerika Serikat (AS) untuk 80 mesin untuk produksi serial belum disetujui.

Mesin TEI TF35000 buatan Turki (photo: TEI)

Demiroglu menyatakan, pengujian akan terus dilakukan menggunakan 10 mesin F110 yang dipasok dari AS. Dia pun menyebut, tujuan jangka panjangnya adalah mesin turbofan TF35000 buatan dalam negeri yang sedang dikembangkan oleh TEI, digunakan untuk KAAN.

Menurut Demiroglu, teknologi mesin adalah salah satu bidang yang paling menantang dalam industri pertahanan. Dia merangkum peta jalan untuk TF35000 yang dikembangkan.

"Untuk TF35000, proses pengujian dan produksi akan dimulai pada tahun 2031. Tujuan kami adalah menyelesaikan mesin pada tahun 2032 dan menyelesaikan sebagian besar integrasi pada tahun yang sama," kata Demiroglu.

Fakta bahwa Demiroglu adalah seorang insinyur mekanik yang sebelumnya bekerja di BMC Power dan TEI membuat penilaiannya tentang pengembangan mesin menjadi lebih penting. Demiroglu menjelaskan, mesin TF35000 direncanakan akan digunakan pada versi KAAN yang akan diekspor ke Indonesia.

Dia membagikan detail proyek penjualan 48 unit jet KAAN ke Indonesia. Di antaranya, total nilai proyek 15 miliar dolar AS atau sekitar Rp 251,8 triliun. Demiroglu mengungkapkan, fase pertama kontrak ditandatangani di IDEF, Istanbul pada pertengahan 2025 dan fase kedua diteken pada 2026.

Demiroglu menerangkan, pihak Indonesia meminta mesin bebas ITAR, yang berarti mesin sepenuhnya buatan dalam negeri tanpa batasan ekspor. Dia mencatat bahwa pekerjaan terus berlanjut sesuai dengan persyaratan.

"Pernyataan-pernyataan ini menunjukkan bahwa proyek KAAN telah memasuki fase kritis dalam hal pengujian penerbangan, pengembangan mesin, dan potensi ekspor. Penerbangan prototipe konfigurasi nyata pertama dianggap sebagai salah satu tonggak terpenting dalam tujuan Turki untuk mengembangkan pesawat tempur generasi ke-5," jelas Demiroglu.