29 Desember 2021

Kapal LMS Keempat, KD RENCONG tiba di Kota Kinabalu

29 Desember 2021

KD Rencong 114 (photos : TLDM)

KOTA KINABALU – Kapal Misi Persisir (LMS) keempat Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM), RENCONG telah selamat tiba di Pangkalan TLDM di Kota Kinabalu, hari ini.

Markas Pemerintahan Armada Timur menerusi hantaran di media sosialnya berkata, ketibaan kapal tersebut telah disambut oleh Panglima Armada Timur, Laksamana Madya Datuk Sabri Zali serta barisan kepimpinan tertinggi Armada Timur.


“Kapal LMS Rencong yang dianggotai 45 orang kru selamat tiba di Pangkalan TLDM Kota Kinabalu hari ini setelah majlis penyerahan fizikal kepada Kerajaan Malaysia selesai dilaksanakan pada 18 Disember yang lalu di Qidong, China.

Penggunaan nama Rencong adalah bersempena senjata tradisional Melayu yang turut melambangkan simbol semangat kepahlawanan, perjuangan, keberanian dan kekuatan dalam menentang dan menangkis serangan musuh.

Kapal LMS Rencong mula dibina pada 18 September 2019 dan dilancarkan ke permukaan air pada 16 Disember tahun lepas oleh Pasukan Projek LMS TLDM di Wuhan.


Manakala, penyerahan Rencong kepada Malaysia telah dilaksanakan pada 18 Disember lalu di Qidong, China.

Pada Oktober lepas, TLDM juga telah mentauliahkan kapal LMS yang ketiga, KD Badik di Pangkalan TLDM Kota Kinabalu.

Rencong merupakan kapal LMS keempat TLDM yang akan menyertai Skuadron LMS Ke-11 yang berpangkalan di Pangkalan TLDM Kota Kinabalu. 

PAL akan Gandeng Swasta Revitalisasi Kapal TNI AL

29 Desember 2021

MRO Kapal-kapal TNI AL (photos : PAL)

JAKARTA, investor.id - Industri Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (Iperindo) mengapresiasi PT PAL Indonesia (Persero) yang berencana menggandeng galangan kapal swasta nasional untuk melaksanakan proyek revitalisasi kapal TNI AL.

Sekretaris Jenderal Ikatan Perusahaan Iperindo Akan Naim menjelaskan, rencananya akan ada revitalisasi 40 unit armada TNI AL yang melibatkan galangan swasta nasional yang dipimpin langsung oleh PT PAL.

"Perusahaan galangan kapal anggota Iperindo itu nantinya akan diseleksi. Galangan yang lulus assesment akan menjadi mitra PT PAL untuk bersama-sama mengerjakan proyek revitalisasi armada milik TNI AL, meliputi Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO)," kata Akan Naim dalam keterangannya, Jumat (24/12).

Terhadap proyek itu, Direktur Utama PT PAL Kaharudin Djenod, baru-baru ini telah mengundang para pelaku usaha galangan anggota Iperindo yang mendiskusikan rencana tersebut.


Askan Naim mengatakan, bila rencana mulia PT PAL ini terwujud, maka akan menjadi proyek percontohan, yakni kolaborasi antara BUMN dan swasta. Dengan pola kerja yang inklusif ini diharapkan industri maritim nasional bisa bangkit dari keterpurukan.

Ketua umum Iperindo Eddy Kurniawan Logam menambahkan bahwa ini adalah momentum yang ditunggu selama hampir dua tahun. Program pembangunan dan perbaikan kapal yang transparan seperti ini yang diharapkan para pelaku usaha untuk membangkitkan industri galangan kapal nasional.

Ke depannya, ungkap Eddy,  proyek pembangunan dan pemeliharaan kapal pertahanan dan keamanan jangan lagi dikuasai  segelintir perusahaan galangan, tapi harus dibuka secara transparan dan memberikan kesempatan hidup kepada  semua galangan Nasional yang mampu bekerja.

"Kami dari Iperindo sangat mendukung program PT PAL yang kami nilai ini sangat baik dan transparan untuk kemajuan industri maritim nasional," kata Eddy.

Melalui sinergi seperti ini, lanjut Eddy, akan tercipta pemerataan dan keadilan sekaligus menumbuhkan minat investor untuk menanamkan modalnya di sektor maritim.

DND Signed Contract for 2 New Corvettes

29 Desember 2021

The new corvette design for the Philippine Navy is seen in this rendering image provided by HHI (image : HHI)

Hyundai to build 2 more PH warships

Defense Secretary Delfin Lorenzana on Tuesday inked a P28-billion deal for the Navy’s acquisition of two brand-new corvettes capable of antiship, antisubmarine and antiaircraft warfare.

Lorenzana virtually signed the contract with representatives of South Korean shipbuilder Hyundai Heavy Industries, the same company that built the Navy’s most modern ships: the frigates BRP Jose Rizal and BRP Antonio Luna.

Lorenzana told reporters that he expects to also ink deals for the acquisition of 32 Black Hawk helicopters and six offshore patrol vehicles next month as part of the Revised Armed Forces of the Philippines Modernization Program.

“I am very pleased that we were able to meet our target to have the contract for the Philippine Navy Corvette Lot 1 Acquisition Project signed before the year ends despite delays due to the pandemic,” he said.

28 Desember 2021

Menentukan Arah Teknologi Kapal Selam Indonesia

28 Desember 2021

Tiga kapal selam TNI AL beroperasi di Natuna (photo : Submarines)

Penguasaan teknologi kapal selam adalah satu dari tujuh program prioritas nasional industri pertahanan yang dicanangkan sejak era Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kini di masa Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), daftar program itu telah ditambah tiga kegiatan sehingga menjadi 10 program prioritas. Sejak awal program ini dilaksanakan melalui kemitraan industri dengan Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME) Korea Selatan, telah terdapat keraguan di sebagian kalangan tentang kapabilitas DSME dalam teknologi kapal selam. Keraguan itu telah terbukti karena ketiga kapal selam memiliki isu-isu teknis yang menghalangi untuk lebih banyak berlayar di laut daripada terikat di dermaga. Ketiga kapal selam tersebut nampaknya lebih menjadi beban daripada aset bagi Indonesia.

Kebutuhan kapal selam sesuai MEF 2024 adalah delapan (image : Submarines)

Mengingat bahwa penguasaan teknologi kapal selam telah menjadi program prioritas industri pertahanan, hal yang dapat dilakukan saat ini adalah meninjau ulang teknologi kapal selam yang ingin dikuasai oleh Indonesia. Tinjauan ulang harus bersifat obyektif, didorong oleh pertimbangan sains dan teknologi dan tidak didorong oleh kepentingan politik yang berjangka pendek dan absurd. Salah satu absurditas yang perlu dihindari adalah keinginan tidak berdasar untuk menguasai teknologi kapal selam dalam jangka pendek dan menjadi eksportir kapal selam diesel elektrik pada 2030. Terkait dengan tinjauan ulang, beberapa hal perlu menjadi pertimbangan pemerintah.

Fasilitas produksi kapal selam PT PAL (photo : PAL)

Pertama, asal teknologi kapal selam. Pemilihan asal teknologi kapal selam hendaknya mempunyai keterkaitan erat dengan keputusan Kementerian Pertahanan (Kemenhan) untuk membeli kapal selam baru dalam waktu dekat. Saat ini Jerman dan Prancis menjadi kandidat kuat yang nampaknya akan memasok kapal selam ke Indonesia apabila Kemenhan mampu mengatasi masalah pendanaan program tersebut. Sehingga sangat mungkin di masa depan asal teknologi untuk membangun kemampuan indigenous rekayasa kapal selam Indonesia akan berasal dari Jerman atau Prancis.

TKMS Type 214 varian Papanikolis (photo : Arnekiel)

Indonesia dan Jerman sejak 10 Juli 2012 memiliki The German-Indonesian Joint Declaration for a Comprehensive Partnership: Shaping Globalization and Sharing Responsibility yang mencakup pula industri pertahanan. Sementara Indonesia dan Prancis telah menandantangani Indonesia-France Strategic Partnership pada 1 Juli 2011 saat kunjungan Perdana Menteri François Fillon ke Jakarta yang menjadi landasan bagi kerjasama kedua negara di berbagai bidang. Salah satu turunan dari kemitraaan strategi itu adalah penandatanganan Defence Cooperation Agreement pada 28 Juni 2021 yang juga meliputi industri pertahanan. Kesepakatan kerja sama bilateral itu dapat dijadikan payung bilateral bagi Indonesia untuk memperoleh teknologi kapal selam dari salah satu pihak dan kini tergantung bagaimana pemerintah Indonesia mampu melakukan lobi diplomatik agar Jerman atau Prancis menerbitkan izin ekspor teknologi kapal selam ke Indonesia.

Naval Group Scorpene varian Riachuelo (photo : Marmilbr)

Kedua, paket akuisisi teknologi. Sejak beberapa tahun silam Kemenhan telah memiliki peta jalan penguasaan teknologi kapal selam yang mengandalkan offset daripada lisensi. Apabila dicermati lebih jauh, offset adalah potongan-potongan (puzzle) kemampuan yang diberikan suatu negara ke negara lain untuk memproduksi suatu komponen atau menghasilkan suatu kemampuan, namun tidak memberikan semua kemampuan yang dibutuhkan. Untuk penguasaan teknologi secara utuh, offset tidak dapat berdiri sendiri tanpa dikombinasikan dengan metode lainnya.

Spek teknis yang diminta TNI AL untuk kapal selam baru adalah mempunyai teknologi AIP dan dapat menembakkan rudal anti kapal dari bawah air (photo : DRDO)

Mengacu pengalaman Indonesia di era Orde Baru dalam penguasaan teknologi tinggi, opsi terbaik untuk akuisisi teknologi adalah melalui lisensi daripada offset. Indonesia sebaiknya membeli lisensi kapal selam dari Eropa agar dapat belajar secara tuntas tentang teknologi kapal selam dibandingkan hanya mengandalkan offset saja. Pembelian lisensi memang mensyaratkan jumlah minimal kapal selam yang harus dibeli, namun hal demikian dapat diproyeksikan untuk memenuhi kebutuhan kapal selam Indonesia hingga 20 tahun ke depan. Perlu dicatat bahwa Korea Selatan membangun kemampuan rancang bangun kapal selam lewat pembelian lisensi kapal selam kelas 209 dari Howaldtswerke-Deutsche Werft pada dekade 1990-an dan bukan offset.

Rudal anti kapal SM-39 Exocet (photo : MBDA)

Ketiga, investasi pemerintah pada program teknologi kapal selam. Pemerintah telah berinvestasi Rp 1,5 triliun melalui APBN 2015 dalam bentuk Penanaman Modal Negara (PMN) untuk mendukung penguasaan teknologi kapal selam dengan outcome yang belum sesuai dengan harapan. Oleh sebab itu perlu dilakukan penyelamatan terhadap investasi tersebut melalui pemilihan mitra yang tepat agar PMN tambahan sebesar Rp 1,28 triliun pada APBN 2021 tidak senasib dengan investasi beberapa tahun lalu. Pemerintah juga perlu melakukan pengawasan dan audit teknologi terhadap industri pertahanan yang menerima PMN untuk mengetahui sejauh mana kesiapan teknologi yang telah dikuasai, begitu pula kapasitas sumberdaya manusia agar PMN tambahan mempunyai outcome lebih baik.

Rudal anti kapal UGM-84 Harpoon (photo : US Navy)

Kritik terhadap kerjasama teknologi kapal selam dengan DSME bukan semata terbatas pada kinerja kapal selam buatan Korsel yang tidak sesuai dengan harapan, tetapi menyangkut pula kesiapan industri pertahanan Indonesia. Industri pertahanan tidak sepenuhnya siap dalam mendukung penguasaan teknologi kapal selam, baik dari sisi industrial maupun sumberdaya manusia. Apakah industri pertahanan BUMN, termasuk galangan kapal, masih menjadi tempat pilihan favorit para insinyur muda dari perguruan tinggi ternama di Indonesia? Perlu dikaji apakah pemerintah perlu berinvestasi dalam menyiapkan sumberdaya manusia industri pertahanan lewat pemberian program beasiswa khusus yang bersifat mengikat.

Rudal anti kapal Brahmos sub-launched (photo : DRDO)

Aspirasi untuk menguasai teknologi kapal selam harus senantiasa bersifat realistis, memperhatikan kondisi politik keamanan internasional dan kemampuan dan kesiapan industri perkapalan domestik. Pemerintah perlu meninjau ulang apakah betul penguasaan teknologi kapal selam dapat dilakukan dengan mengandalkan pada offset saja atau tidak. Pengalaman di masa silam dalam penguasaan teknologi kapal patroli FPB-57 menunjukkan bahwa Indonesia membeli lisensi agar dapat menguasai teknologi rekayasa kapal tipe tersebut. (Alman Helvas)

Sea Trials of the First of Six Evolved Cape-class Patrol Boats

28 Desember 2021

Sea trials of the first of six Evolved Cape-class Patrol Boats (photo : Austal)

Austal Australia has commenced sea trials of the first of six Evolved Cape-class Patrol Boats under construction for the Royal Australian Navy.

Based on Austal’s proven 58 metre aluminium monohull design, the Evolved Capes include a number of enhancements that further extend the capability of the vessel and the fleet.

The Evolved Cape-class patrol boats include modifications determined through the extensive in-service experience of the two RAN and eight Australian Border Force Capes, operating throughout Northern Australia waters.

Crew capacity on the Evolved Capes has been increased by 10 people, and quality-of-life provisions have been enhanced, ensuring those who operate the new patrol boats have connectivity to the outside world.

Austal Australia is on track to deliver this first vessel in the first quarter of 2022, with the remaining five Evolved Capes in various stages of construction at the company’s shipyard in Henderson, Western Australia.

Selesai Upgrade CMS Mandhala, TNI AL dan Len Uji Tembak KRI Ajak

28 Desember 2021

CMS Mandhala buatan LEN (image : LEN)

BANDUNG – KRI Ajak (653) baru saja rampung dari pemeliharaan depo (hardepo) atau pemeliharaan perbaikan kapal secara menyeluruh pada bulan Desember 2021 ini. PT Len Industri (Persero) dipercaya TNI AL untuk meng-upgrade hardware dan software Combat Management System (CMS) Mandhala, serta mengintegrasikannya dengan sistem senjata, radar dan juga sensor-sensor kapal perang.

Uji penembakan KRI Ajak menggunakan meriam 57mm dan 40mm secara remote dengan CMS Mandhala berjalan dengan baik di Perairan Masalembo, Jawa Timur pada awal Desember 2021.

KRI Ajak kini sudah dilengkapi dengan combat system buatan Len yang terintegrasi dengan senjata meriam 57mm dan 40mm, radar navigasi, radar surveillance, sensor (electro-optical targeting system) EOTS, gyro vertical, speedlog, hingga sensor arah angin.

Direktur Bisnis & Kerjasama Len, Wahyu Sofiadi mengatakan, “Terimakasih atas kepercayaan dari TNI AL. Uji penambakan di Perairan Masalembo pada awal Desember kemarin berjalan dengan baik. Di bidang pertahanan ini memang membutuhkan kemandirian teknologi yang mumpuni agar tidak bergantung dengan asing, dan PT Len Industri selalu siap dalam mendukung hal ini.”

KRI Ajak 653 (photo : LEN)

CMS merupakan brainware yang berfungsi melakukan pengolahan data dari berbagai sensor menjadi informasi navigasi, potensi ancaman, serta reaksi yang dapat dilakukan untuk melumpuhkan ancaman tersebut. CMS juga dapat memberikan visualisasi menyeluruh terhadap situasi taktis pertempuran, menyediakan sarana untuk melakukan reaksi secara efektif dan efisien melalui sistem persenjataan yang dimiliki.

“CMS Mandhala pertama kali digelar di KRI Ajak pada tahun 2014. Sekarang, selain upgrade CMS dan integrasinya dengan sensor dan sistem senjata, Len juga melakukan perbaikan senjata meriam 57mm, 40mm, 20mm, perbaikan radar surveillance, perbaikan dome sonar, dan integrasi pengadaan EOTS,” imbuh Wahyu.

Tentang KRI Ajak (653)

KRI Ajak (653) merupakan jenis Kapal Cepat Torpedo (KCT) yang bertugas sebagai elemen pemukul musuh, baik di permukaan maupun di bawah permukaan (anti submarine warfare), termasuk sebagai kapal pendeteksi anti-kapal selam.

KRI Ajak adalah kapal perang jenis patroli Kelas Andau milik TNI AL selain KRI Singa (651). Pada tahun 1989, KRI yang sebagian lambung kapal dan peralatannya dibuat di Lurssen Jerman ini masuk sebagai bagian dari Satuan Kapal Cepat Armada Timur TNI-AL, Surabaya, dan dipasang di PT PAL.

KRI Ajak memiliki panjang 58,1 meter, lebar 7,6 meter, draught 2,95 meter, memiliki bobot 445 ton pada beban penuh serta memiliki kecepatan maksimal 27 knot dengan daya jelajah 2.200 mil.

(LEN)

Merkel Approved Additional One Type 218SG Submarine to Singapore

28 Desember 2021

With the addition of one submarine, the total order for Singapore's Type 218SG submarine come into five (photo : Stephen Gergs)

Merkel's last-minute approval sees German arms exports peak

After a last-minute approval of arms deals in the billions by Angela Merkel's departing government, Germany's weapons exports reached a record level in 2021, despite the government only acting in an executive capacity at the time.

The former government approved deals worth almost 5 billion euros ($5.6 billion) in its last nine days in office. That brought Germany's total weapons exports to a record 9.04 billion euros for the year, according to the Economics Ministry in response to a lawmaker's question, seen by German press agency dpa.

Egypt is the main recipient of German arms exports, despite criticism for human rights violations and its involvement in conflicts in Yemen and Libya.

Under the last-minute agreements, Thyssenkrupp Marine Systems may deliver three MEKO A-200 EN frigates to Egypt; Diehl Defence has been authorized to deliver 16 IRIS-T SLS/SLX air defense systems to Egypt; and ThyssenKrupp Marine Systems is allowed to export a Type 218 SG submarine to Singapore.

It is now clear that the arms exports to Egypt run to 4.34 billion euros, despite the fact that the government was only acting in an executive capacity, when such major decisions are usually avoided.

See full article Daily Sabah