Korvet Gromky-335 kelas Steregushchiy bobot penuh 2.200 ton dan panjang 104,5m (photo: Kedubes Rusia)
Jakarta (ANTARA) - Satuan kapal Armada Pasifik Angkatan Laut (AL) Federasi Rusia tiba pada Minggu di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, dalam rangka kegiatan bersama TNI-AL, termasuk latihan bersama.
Menurut keterangan tertulis Kedutaan Besar Rusia di Jakarta, satuan kapal Rusia yang tiba di Indonesia dalam kesempatan kali ini terdiri dari korvet Gromky-335, kapal selam Petropavlovsk Kamchatsky B-274, dan kapal tunda Andrey Stepanov.
“Direncanakan latihan bersama dalam bidang manuver dan komunikasi,” menurut Kedubes Rusia di Jakarta dalam pernyataan yang dikonfirmasi pada Minggu.
Adapun upacara penyambutan kapal Rusia di Tanjung Priok dihadiri oleh Wakil Komandan Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) III Brigjen TNI (Mar) Dian Suryansyah dan Wakil Komandan Pasukan dan Kekuatan Timur Laut Armada Pasifik AL Rusia Laksamana Muda Evgeny Myasoedov.
Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergei Tolchenov turut menyambut dan meninjau kapal-kapal AL Rusia yang tiba di Tanjung Priok tersebut.
Turut datang kapal selam Petropavlovsk Kamchatsky B-274 kelas Project 636.3 Improved Kilo bobot penuh 3.950 ton dan panjang 73,8m (photo: Monarki)
Saat upacara kedatangan, kedua pihak sama-sama menyoroti eratnya hubungan kerja sama di bidang angkatan laut yang sudah berlangsung lama.
Kedua pihak juga berkomitmen “untuk terus memperkuat interaksi demi menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan Asia Pasifik,” kata Kedubes Rusia di Jakarta.
Sebelum digelarnya latihan bersama AL Rusia dan TNI-AL, komandan kapal Rusia beserta kru mereka dijadwalkan akan mengikuti pertemuan kerja, kegiatan protokol, serta pertandingan olahraga persahabatan.
Kedubes Rusia turut menyatakan bahwa kapal-kapal tersebut akan dibuka untuk kunjungan masyarakat (open ship) pada Selasa (31/3) pukul 10:00 hingga 16:00 WIB.
Indonesia sebelumnya juga sempat menyambut kedatangan kapal AL Rusia dari Armada Pasifik pada Mei 2025 dalam rangka kunjungan dan latihan bersama, sekaligus dalam momentum peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Rusia.
Kapal-kapal AL Rusia yang sandar di Tanjung Priok kala itu ialah Korvet Aldar Tsidenzhapov-339, Rezkiy-343 dan kapal tanker Pechenga. Ketiga kapal tersebut diketahui ikut serta dalam latihan 5th Multilateral Naval Exercise Komodo 2025 (MNEK) pada Februari 2025.
(Antara)


Lah gak ke seblah haha!๐๐๐
BalasHapusAset Baruw Bulan Maret 2026
BalasHapus✅️Atlas 2
✅️PPA 2
✅️Garibaldi OK๐
✅️kontrak Kendaraan taktis full track dan high speed aerial target
✅️Drass Mini DGK
✅️Drass SDV DS8
✅️Brahmos
✅️PC21
✅️PC24
✅️Boramae otewe
TIAP TAHUN, TIAP BULAN, TIAP M MINGGU $HOPPING & DATANG ASET TERUSZ N⛔️N STOP haha!๐๐ค๐
kahsiyan para warganyet kl, NGAMUK๐ฅ cemburu iri dengki jadi satoe haha!๐ค๐คช๐ค
kalo negri๐ฐkasino genting, isinya
❌️Kensel Hornet Kuwait
❌️Kensel ART
Sepiii & Kicep๐ฅถ haha!๐๐๐
CUKUP 1 JAKARTA .......
BalasHapus1 KOTA MENGALAHKAN 1 NEGARA MALAYDESH
1 KOTA MENGALAHKAN 1 NEGARA MALAYDESH
1 KOTA MENGALAHKAN 1 NEGARA MALAYDESH
-
PERBANDINGAN SKALA: SATU KOTA MELAMPAUI SATU NEGARA
Analisis PDB PPP (Purchasing Power Parity) 2025/2026 mengungkap fakta mengejutkan:
Jakarta: US$ 1,7 Triliun. Sebagai pusat finansial Indonesia (peringkat 6 ekonomi dunia), Jakarta mengonsentrasikan produktivitas yang sangat masif dalam satu wilayah administratif.
-
Malaydesh: US$ 1,34 Triliun. Secara keseluruhan nasional, volume ekonomi riil Malaydesh justru berada di bawah pencapaian satu kota Jakarta.
-
Implikasi: Jakarta telah menjelma menjadi "Mega City-State" yang kekuatan belanjanya lebih besar daripada gabungan 13 negara bagian di Malaydesh.
--------------------------------------------------
A primary issue for the MAF is its aging and obsolete equipment. The country's defense spending has historically been low, and while recent budgets have seen increases, they are often insufficient to cover the extensive modernization needs.
• Financial Constraints: The 1997 Asian financial crisis had a lasting impact, forcing a de-prioritization of defense spending. Despite recent budget increases, competing priorities like healthcare and education often limit the funds available for military upgrades.
• Corruption and Inefficiency: Past procurement projects, such as the Littoral Combat Ship program, have been plagued by delays, cost overruns, and allegations of corruption, which have wasted funds and resulted in a lack of operational assets.
• Aging Inventory: The MAF relies on a mix of equipment from various countries, making maintenance difficult. For example, the Royal Malaydesh n Air Force (RMAF) has struggled to maintain its Russian-made Sukhoi Su-30MKM fighter jets due to sanctions and a lack of spare parts. The country also retired its MiG-29s without a timely replacement, creating a significant capability gap.
Human Resources ๐ง
Recruitment and personnel issues are another major problem for the MAF, affecting its overall readiness and capability.
• Recruitment Challenges: The military has difficulty attracting and retaining high-quality personnel. This is partly due to low wages and poor living conditions. The quality of candidates has been a concern, with a declining pool of eligible recruits.
• Ethnic Imbalance: There is a significant ethnic disparity in the armed forces, with a very low percentage of non-Malay recruits. This could affect national unity and the military's ability to represent the country's diverse population.
• Personnel Well-being: There are ongoing concerns about the well-being and welfare of military personnel, including work-life balance issues and the need for better mental health support.
Defense Policy and Strategic Challenges ๐บ️
The MAF operates in a complex regional environment with evolving security threats.
• South China Sea Disputes: Malaydesh has overlapping territorial claims with China in the South China Sea. China's increasingly aggressive "grey-zone" tactics—using coast guard vessels and fishing militia to assert its claims—are a major challenge that the MAF is not fully equipped to handle.
• Non-Traditional Threats: While traditionally an army-centric force due to a history of internal counter-insurgency, the MAF must now pivot to address maritime and cyber threats. This requires a re-calibration of its force structure and a focus on new technologies like drones, cyber warfare, and intelligence, surveillance, and reconnaissance (ISR) capabilities.
• Political Instability: Frequent changes in government have led to a lack of continuity in defense policy and the slow implementation of key reforms outlined in the country's first Defence White Paper. This political instability can stall long-term projects and strategic planning.
SpekTek Steregushchiy rada mirip damen pkr kita, ada CIWS pulak..Top haha!๐ฆพ✌️๐ฆพ
BalasHapuskahsiyan gowing lcs seblah, uda NO CIWS eh SALAH FOTONG haha!๐คญ๐๐
warganyet kl, mana brani buka link⬇️dibawah
BalasHapuspasti NGAMUK๐ฅ Tantrum gak terima..kita lanjut SHOPPING haha!๐๐ค๐
ehh mig jadi kan, apa perluw di geber2 ke sebla haha!๐ฌ๐๐ฌ
⬇️⬇️⬇️⬇️
https://www.pilatus-aircraft.com/en/news/pc-24-indonesia?fbclid=IwZXh0bgNhZW0CMTEAc3J0YwZhcHBfaWQPNDA5OTYyNjIzMDg1NjA5AAEe_JKXT0QL049G8fmBJVxt56OfqU1zscazwNZ0BQetuVU3F9guKPflqBIMdQA_aem__6OrihsLwfUOXPuQUS8Blg
Agak aneh pesawat latihnya pakai mesin jet. Pesawat angkut kita padahal pakai propeller. Kecuali 737 dan Dassault Falcon.
HapusEh, setelah baca tulisan kecilnya, ternyata IFR pilot training. Tipe mesin tidak berpengaruh.
HapusLatihan pilot jet AEWC & jet AKS bro....๐คญ๐คซ
HapusLatihan pilot jet Tanker juga...๐๐ค
HapusSiap2 latihan di lautan yg panas dan lembab.๐
BalasHapus