04 April 2018
3 Light Frigate dan 1 Korvet akan ditugaskan di Armada Barat apada akhir April 2018 (photo : S. Jones)
Tingkatkan Kerjasama, Pangarmabar Adakan Kunjungan Kerja ke Pangkohanudnas
Jakarta -- Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar) Laksamana Muda TNI Yudo Margono, S.E., M.M., melaksanakan kunjungan kerja kepada Panglima Komandan Pertahanan Udara Nasional (Pangkohanudnas), Marsda TNI Imran Baidirus, S.E, di Makohanudnas, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Selasa (3/4).
Pangarmabar Laksamana Muda TNI Yudo Margono, S.E., M.M., diterima langsung oleh Pangkohanudnas Marsda TNI Imran Baidirus, S.E, beserta Kepala Staf Kohanudnas Marsekal Pertama TNI Arif Mustofa dan Para Asisten Kohanudnas. Kunjungan kerja tersebut dilaksanakan dalam rangka k untuk meningkatkan koordinasi dan kerjasama antara satuan-satuan operasional TNI Angkatan Udara dan Angkatan Laut, khususnya antara Koarmabar dengan Kohanudnas. Selain itu, kunjungan yang dilaksanakan Pangarmabar ini merupakan kunjungan untuk mempererat silaturahmi serta sekaligus dalam rangka memperkenalkan diri sebagai pejabat baru Pangarmabar.
Dalam pertemuan yang penuh keakraban tersebut Pangkohanudnas menjelaskan secara singkat tugas pokok Kohanudnas serta wilayah kerja yang menjadi tanggung jawab Kohanudnas yang meliputi 4 Komando Sektor (Kosek) dibawah pimpinan Panglima Kosek dengan dukungan satuan radar yang berjumlah 20 satuan radar. Dimana Kohanudnas menggelar operasi sepanjang tahun dengan dukungan unsur dari Matra Darat dan Matra Laut dengan menggunakan alutsista TNI AL yaitu KRI yang memiliki kemampuan pertahanan udara (Hanud). Untuk itu Pangarmabar menyampaikan bahwa interoperability antara unsur Kohanudnas dengan unsur Koarmabar harus dapat terlaksana. “Kendala yang selama ini menjadi hambatan harus dapat diatasi, untuk itu kita berharap bahwa dengan koordinasi yang intensif dan kerjasama yang baik antara kedua belah pihak, dapat mewujudkan pertahanan keamanan atas wilayah udara nasional secara mandiri” ujar Pangarmabar.
Radar Master T Kosekhanudnas-1 Satrad 213 Tanjung Pinang (photo : Kohanudnas)
Kegiatan dilanjutkan dengan mengunjungi fasilitas yang ada di Kohanudnas yaitu Pusat Operasi Pertahanan Udara Nasional (Popunas). Pangarmabar mendapatkan penjelasan secara singkat tentang tugas-tugas serta fasilitas yang dimiliki oleh Popunas. Dimana Popunas Kohanudnas ini dilengkapi dengan sistem Transmisi Data Air Situation (TDAS) dan sistem Thales. “Kerjasama awal sudah terlaksana, dimana Koarmabar setiap harinya melaksanakan sharing informasi dengan Kohanudnas dengan permintaan data Air Picture Compilation yang dimiliki oleh Kohanudnas. Hal ini penting dikarenakan adanya keterlibatan unsur KRI yang berkemampuan pertahanan udara di Kohanudnas” ujar Pangaramabar. Berkaitan dengan hal tersebut maka Pangarmabar dan Pangkohanudnas sepakat akan mengadakan kerjasama yang dinamis dalam bentuk operasi dan latihan bersama guna menciptakan situasi keamanan wilayah perairan barat Indonesia yang kondusif.
Rencana kegiatan kerjasama operasi dan latihan tersebut akan diawali dalam bentuk peningkatan kemampuan sistem komunikasi dalam operasi antara unsur KRI Koarmabar dengan pesawat udara TNI AU/unsur Kohanudnas. ”Akhir April ini, Koarmabar akan diperkuat dengan kehadiran 4 KRI yang memiliki kemampuan pertahanan udara yang mumpuni yaitu 3 Kapal jenis Multi Role Light Freegat (MRLF) dan 1 kapal jenis Korvet. Sehingga kedepan kerjasama akan ditingkatkan dalam bentuk latihan yang lebih dinamis yaitu latihan pertahanan udara anatar KRI dengan pesawat tempur TNI AU” tegas Pangarmabar.
Diakhir kunjungan, kedua pejabat melaksanakan pertukaran cinderamata dan sesi foto bersama. Kunjungan ditutup dengan pelaksanaan makan siang bersama. Dalam kunjungannya tersebut, Pangarmabar didampingi oleh Kepala Staf Guspurlaarmabar, Asisten Operasi (Asops) Pangarmabar, Asisten Intelijen (Asintel) Pangarmabar dan Koorsmin Pangarmabar.
04 April 2018
UNSW-EC0 cubesat in Earth’s orbit. (photo : Australian Defence)
The Defence Materials Technology Centre (DMTC) will develop new UAS and small satellite sensor payloads which will provide enhanced navigation for the RAN.
The $1.1 million project will develop miniaturised, high frequency sensor systems for deployment on cubesats and UAS, and will advance passive radar technologies for the processing of line-of-sight and reflected GPS signals in real time.
“The initial application of this technology could enable Defence to deploy unmanned aerial vehicles to accurately estimate sea-state conditions, leading to improved safety, speed and fuel consumption for Navy vessels,” Minister for Defence Industry Christopher Pyne said in a statement.
The project is the first of four to be progressed under DMTC’s High Altitude Sensor Systems program that was launched by Minister Pyne in September 2017, and involves new DMTC partners Seaskip Pty Ltd and UNSW Sydney’s Australian Centre for Space Engineering Research (ACSER).
(ADBR)
04 April 2018
Tim Taifib di KN Tanjung Datu 1101 (all photos : MyLesat)
Setelah sukses melumpuhkan sekawanan perompak di perairan Ambon, satu tim Pasukan Intai Amfibi Korps Marinir TNI AL melakukan pengamanan dan pengawalan terhadap kapal yang telah berhasil dibebaskan.
Simulasi digelar di atas geladak KN Tanjung Datu-1101 yang sedang berlayar di perairan Laut Aru (1/4/2018).
Kegiatan ini merupakan lanjutan dari simulasi latihan Visit Boarding Search and Seizure (VBSS) yang digelar di Ambon.
Dalam salah satu sesi latihan, terlihat dua perahu menempel di lambung kapal. Namun dengan cepat, dua prajurit Taifib di geladak tengah memberondong perahu yang ditumpangi perompak dengan rentetan tembakan.
Hanya terdengar tiga kali tembakan balasan dari pihak lawan, kedua perahu itu segera kabur menjauh meninggalkan kapal.
(MyLesat)
03 April 2018
Chengdu F-7M Airguard - Myanmar Air Force (photo : Wim Callaert)
Pilot dies in Myanmar military plane crash
YANGON (AFP) - A Myanmar pilot died on Tuesday (April 3) after a "technical failure" caused his military jet fighter to plummet into a paddy field in the centre of the country, the army said.
A live video on Facebook showed flames billowing up from the crash site near Kyunkone village about an hour away from the capital Naypyidaw.
Local people found the unconscious body of the pilot attached to his parachute nearby and tried to drag him away from the scattered debris for medical help.
The army chief's office later confirmed on its Facebook page that the crash was due to a "technical failure" and that the pilot died of his injuries on the way to a military hospital in nearby Taungoo town.
"An investigation is ongoing," the post added.
Police told AFP that the single-seater F-7 jet fighter went down around 10am on Tuesday morning while a military source said the pilot, Major Arkar Win, was in his mid-30s.
The F-7 is a Cold War era fighter jet - a Chinese made variant of the Soviet Union's MiG-21.
Myanmar has seen a spate of aviation accidents in recent years, including a devastating military plane crash in June last year in which 122 people were killed.
Bad weather caused the Chinese-built Shaanxi Y8, which was carrying dozens of soldiers and more than 70 relatives of servicemen, including 15 children, to plummet into the Andaman Sea.
It took days for rescue workers to pull bodies and parts of the aircraft, including the black box, from the sea.
(StraitsTimes)
03 April 2018
Gaia AMIR 6x6 with 30mm turret (photo : ToyotaWars)
The Israeli projected Gaia Amir 6x6 + Elbit UT30 unmanned turret, being offered to the Philippine Army for the "Horizon 2" new AFV program after the Marawi lessons. (Toyota Wars)
Gaia 6x6 AMIR Basic Configuration
The 6X6 AMIR is the latest addition to the AMIR family the vehicle combine the highest level of survivability and mine protection with elements of tactical capability and the advantages of modern combat vehicles.
Improved mobility
-GVW 13 ton
-Independent Suspension
-Differential Lockers
-Anti IED armoring
-Extra armoring options against missiles
02 April 2018
TKMS is number one globally in conventional submarines (photo : elsnorkel)
Thyssenkrupp, a leading global industrial engineering company based in Germany, has expressed strong interest to participate in the country’s defense modernization program, particularly on military shipbuilding.
Heinrich Hiesinger, chairman of the executive board, said that being one of companies that is now focusing on defense side for military have expressed this interest to the government but said they are just on a standby for government decision.
“You know it’s your government’s choice, we as a company we have decided to focus very much on the defense side because commercial side in recent years has become so competitive that it’s primarily China and Korea,” he said.
By far, Hiesinger said, thyssenkrupp is number one globally in conventional submarines. They have expertise in frigates and submarines.
“We have very strong offering on defense side and if your government wants to grow that then definitely we are very interested to participate because partnership is even longer,” he said.
He explained that if ever they will be given the chance to participate in this project, the German firm will build it locally because it is a taxpayers’ money that government will be using and as such there should also be jobs that must be generated locally.
This means that if they receive an order for shipbuilding for defense, they will find a local shipyard for the construction of the military vessel.
He reiterated though that it is up to government to make decision because that would need a state budget.
“This is a sensitive topic. We never push because it is up for the government to make a decision. So we will just wait and if government makes a decision, we are standing aside because it belongs to sovereign decision of the state and country. If we are called, we very much respect the sovereign decision of the nation and country,” he stressed.
Hiesinger added that he is a very optimistic person and the main reason of his visit, aside from the opening of its regional hub in BGC, was to assess the state of opportunities in the country.
“The reason I did come is you know large organizations have tendency to underestimate opportunities,” he said noting that he once headed an organization here in another company and experienced how difficult to convince global CEOs of opportunities in booming markets like the Philippines.
“You cannot explain countries but need to visit countries, not just theory. To grab a bit of flavor you have to come,” he said. On this visit, he discovered that the business he saw several years ago has now turned into a big one.
(Manila Bulletin)
02 April 2018
Faslabuh akan berfungsi sebagai pangkalan terdepan (photo : RRI)
KBRN. Ranai : Keberadaan TNI AL diwilayah utara NKRI yakni Natuna memiliki arti penting bagi pertahanan dan keamanan negara dari berbagai macam gangguan yang mungkin saja terjadi. Dalam hal ini, TNI telah membangun berbagai sistem pertahananya bagi 3 matra TNI , di Natuna.
Saat ini kesemua pembangunan itu telah selesai 90 persen. Untuk pembangunan di TNI AL, selain membangun Yon Komposit, juga membangun Faslabuh yang difungsikan sebagai lokasi sandarnya Kapal milik TNI.
Komandan Lantamal IV Tanjung Pinang, Laksamana TNI Ribut Eko. S dalam kunjungan kerjanya di Natuna, Jum'at (30/3/2018) kepada RRI mengungkapkan Faslabuh TNI, nantinya akan berfungsi sebagai pangkalan terdepan, pangkalan aju, unsur- unsur yang berada dilaut Natuna.
“Ini sudah dibangun pada tahun anggaran 2017 lalu, secara bertahap. Insya Allah ini akan bermanfaat sebagai pangkalan terdepan, pangkalan aju unsur- unsur yang berada diwilayah Natuna Utara,” jelas Danlantamal IV, Ribut Joko, S, di Paslabuh TNI AL, Selat Lampa.
Selesainya pembangunan TNI ini akan segera disusul dengan penempatan personil disetiap satuan . Danlantamal IV mengungkapkan selain penambahan personil TNI AL, juga akan dilakukan penambahan armada kapal patroli disetiap pangkalan TNI AL baik di Lanal Ranai maupun Lanal Tarempa.
“kemaren kita sudah dapat KAL di Lanal Tarempa, kemudian Ranai juga akan dapat KAL. Kemudian untuk KRI, penguatan operasi kita ke utara, kalo sekarang bulan April cuaca sudah mulai membaik, untuk kapal besar juga kan kita harus diploy kesini,” tambahnya.
Nantinya KRI yang beroperasi di Natuna akan langsung dibawah koordinasi Komandan Gugus Tempur Laut (Danguspurla) serta Komandan gugus Keamanan Laut (Danguskamla).
“Nanti akan dibawah Danguspurla atau Danguskamla,tinggal melihat nanti, kepentingannya apa Law enforcement atau Purla,” tandas Danlantamal IV.
(RRI)