25 Oktober 2022

The Royal Thai Army has Begun Training with the Refurbished Bofors 40mm L/70 OES Anti-Aircraft Artillery

25 Oktober 2022

Bofors 40mm L/70 OES (Opto-Electronic System) (TYPE A upgraded) by Thailand's company Armisys Supply Co.,Ltd. included guns controlling on Local mode and Remote mode (all photos : 2nd Aircraft Artillery Battalion)

2nd Anti-Aircraft Artillery Battalion, 2nd Anti-Aircraft Artillery Regiment) Army Air Defense Command, Royal Thai Army has published images of training within the unit (Unit School) of the use of Bofors 40mm L/70 OES anti-aircraft artillery (TYPE A revised) during 18-20 October 2022 via social media Facebook on October 21, 2012.


The Royal Thai Army Ordnance Department has announced a project to hire and improve the Bofors 40mm L/70 anti-aircraft artillery, set the reference price on February 26, 2020.budget limit 446,500,000 baht ($13,996,873.07), unit price 23.5 million baht ($736,677.53) medium source price (reference price) Armysys Supply Company Limited which documents Thai innovation account Additional edition March 2020 has registered for security equipment, code 13020008, a set of equipment to improve the efficiency of 40mm type L/70 antiaircraft cannons of ARMISYS SUPPLY, Thai company.


The project was therefore a refurbishment and enhancement for the Swedish Bofors 40mm L/70 anti-aircraft artillery, which was the first gun system in service since the 1950s. BAE Systems Bofors Sweden is now a subsidiary of BAE Systems United Kingdom.


The Royal Thai Army has been supplied AA Bofors 40mm L/70, which is used with the Netherlands Flycatcher fire-control radar since the 1980s, enlisted in the Airborne Artillery Battalion, a direct unit of Air Force, including AA 2, Pol. 2, received the latest Bofors 40mm L/70 OES.


The overhaul of the Bofors 40mm L/70 OES, in addition to design development of long-lasting replacement parts and the original source off-line. It also improves the capability of the system to be modern and more efficient by the private sector of Thailand.

(AAG)

24 Oktober 2022

Naval Group Jamin LCS Siap dalam Masa Ditetapkan

24 Oktober 2022

KD Maharajalela kapal LCS pertama (photo : Benarnews)

SHAH ALAM - Naval Group memberi jaminan akan memastikan projek kapal tempur pesisir (LCS) siap sepenuhnya dalam masa yang ditetapkan oleh kerajaan Malaysia.

Kementerian Pertahanan (Mindef) dalam satu kenyataan pada Jumaat memaklumkan, Menteri Kanan Pertahanan, Datuk Seri Hishammuddin Tun Hussein mengarahkan agar pasukan Mindef, Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) dan Lembaga Tabung Angkatan Tentera (LTAT) berbincang secara bersemuka bagi melancarkan lagi proses rundingan dengan pihak berkepentingan khususnya di Eropah.

Menurutnya, Ketua Setiausaha Mindef, Datuk Seri Muez Abd Aziz; Timbalan Panglima Tentera Laut, Laksamana Madya Datuk Abdul Rahman Ayob; Ketua Pegawai Eksekutif LTAT, Datuk Ahmad Nazim Abd Rahman dan beberapa lagi pegawai tertinggi telah melakukan lawatan kerja ke Euronaval di Perancis.

“Pihak Naval Group juga bersetuju untuk meneruskan rundingan dengan syarikat Boustead Naval Shipyard Sdn Bhd (BNSSB) berhubung harga,” katanya.

Ujar kenyataan itu, langkah tersebut merupakan perkembangan yang amat signifikan dan positif dalam projek LCS, sekali gus berupaya memeprkukuh lagi usaha semua pihak khususnya Malaysia.

Jelasnya, ia bagi memastikan projek LCS dapat diteruskan semula dengan sebaik mungkin selari dengan syor beberapa pihak berkepentingan termasuk jemaah menteri, Jawatankuasa Kira-Kira Wang Negara (PAC) dan Jawatankuasa Siasatan Tadbir Urus, Perolehan dan Kewangan Kerajaan (JKSTUPKK).

“Ia juga menunjukkan fasa mobilisasi berjalan lancar dan semua pihak berkaitan melaksanakan peranan masing-masing dengan sebaik mungkin.

“Dengan perkembangan tersebut, dijangka semua rundingan akan dapat dimuktamadkan pada penghujung Disember ini.

“Pihak Mindef akan terus memaklumkan perkembangan projek LCS ini kepada umum dari semasa ke semasa,” katanya.

Dahana Sukses Uji Statis Roket Rhan 450 Hasil Kolaborasi dengan Kemenhan dan BRIN

24 Oktober 2022

Uji statis Roket Rhan 450 dengan jarak jangkau ground-to-ground 100 km (photos : Dahana)

TRIBUNJABAR.ID, SUBANG - PT Dahana bersama Badan Riset  Inovasi Nasional (BRIN), serta Balitbang Kementerian Pertahanan Republik Indonesia kembali menggelar uji statis roket Rhan 450.

Kegiatan ini berlangsung di Balai Uji Teknologi & Pengamatan Antariksa dan Atmosfer (BUTPAAG) Pameungpeuk, Garut, Kamis (20/10/ 2022).

Direktur Teknologi dan Pengembangan Dahana, Suhendra Yusuf RPN, menuturkan, Dahana diberikan amanah kembali untuk melanjutkan pengembangan Roket Rhan 450 jarak 100 km.

Dahana juga turut menggandeng Pusat Riset Teknologi Roket ORPA BRIN. Menurutnya, Proyek Rhan 450 memiliki nilai strategis untuk mewujudkan kemampuan industri dalam memenuhi kebutuhan alat utama sistem senjata (alutsista) nasional.


“Kegiatan uji statis ini sangat penting untuk dilakukan untuk melihat konsistensi hasil penelitian dan pengembangan Roket Pertahanan, dimana hal tersebut merupakan komitmen bersama PT Dahana, Balitbang Kemhan, dan BRIN,” ucap Suhendra.

Suhendra menambahkan, uji statis juga dapat menjadi wadah pembentukan kualitas dan kuantitas personel dengan meningkatkan kemampuan teknologi roket, materil, serta sumber daya lainnya. Selain itu, uji statis ini akan memberikan data performa dan karakteristik Rhan 450 yang akan digunakan sebagai pijakan bagi pengembangan ke tahap berikutnya.

Dari proses uji statis terakhir, data menunjukkan adanya peningkatan performa dan karakteristik dari uji statis yang dilaksanakan pada tahun lalu. Suhendra berharap agar Indonesia dapat segera merealisasikan kebutuhan nasional akan roket.

“Secara hasil, alhamdulillah sudah sesuai dengan harapan. Uji statis kali ini telah mengalami perkembangan yang signifikan dan perbaikan dari tahun lalu. Hasilnya sudah sesuai dan sangat baik. Mudah-mudahan kita dapat merealisasikan keinginan bersama untuk memiliki roket ground to ground minimal 100 Km dengan capaian yang baik,” harap Suhendra.


Suhendra menyampaikan harapan pihak-pihak yang terlibat dalam proyek ini agar pemerintah memberikan komitmen anggaran selanjutnya untuk litbang roket.

“Tentunya harapan kami bersama, bahwa ada komitmen anggaran pemerintah agar litbang Rhan 450 bisa dilanjutkan sampai uji dinamis,” kata Suhendra.

Uji statis Rhan 450 kali ini juga disaksikan langsung oleh Kepala Balitbang Kemhan RI Julexi Tambayong; Deputi Bidang Kebijakan Pembangungan BRIN Mego Pinandito; Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa, Robertus Heru Triharjanto; Pejabat eselon III Balitbang Kemhan, serta tamu undangan dari Pussenarmed, Puspalad, ITS, UI, dan Unhan.

Naval Group is Performing its First Contract in the Philippines to Provide Anti-torpedo Defence System Based on CANTO® Countermeasures

24 Oktober 2022

CONTRALTO torpedo countermeasures for surface vessel (images : Naval Group)

On Monday 17th October, the representatives of the Department of National Defence for the Philippine Navy and Naval Group have conducted the Pre-Delivery Inspection (PDI) of CONTRALTO® reaction module in France. This milestone enables the installation of CONTRALTO® into the C-Guard decoy launching system of the two frigates.


On 1st December 2021, Naval Group was notified of its first contract in the Philippines by the Department of National Defence for the Philippine Navy. Naval Group will provide anti-torpedo defence system based on CANTO®/CONTRALTO® countermeasures solution to equip the two Jose Rizal-class frigates.


CANTO® is the latest countermeasure generation in the defence industry. This breakthrough in the field of anti-torpedo defence applies a unique concept to defend the frigate. It is based on the dilution/confusion concept to defend high value and mission essential units by generating a highlevel acoustic signal over 360-degree, covering the full frequency range of the attacking torpedo.


This anti-torpedo system is fitted with its associated reaction module Contralto®, which computes the most appropriate evasive manoeuvre and deployment sequence once a threat is detected.


CANTO® and CONTRALTO® are worldwide references already in service in the French Navy and in many foreign navies.

Jose Rizal class frigates (photo : PN)

Naval Group has announced the opening of its office in Manilla in late 2020. The company’s extensive portfolio opens many opportunities to address the entire range of Philippine naval needs from development of the naval forces to the constitution of a world-class submarine force.

23 Oktober 2022

Mengenang Misi Penerbang Bomber TNI AU Hancurkan Kapal Perang Belanda

23 Oktober 2022

Mitchell B-25 TNI AU mengebom kapal perang Belanda (image : Merdeka)

Merdeka.com - Sebuah misi berbahaya diberikan untuk pilot pesawat pengebom Angkatan Udara Republik Indonesia. Menghancurkan kapal milik angkatan laut milik Belanda yang dijaga ketat.

Pesawat angkut C-47 Dakota mendarat pagi itu di Pangkalan Udara Morotai. Penumpangnya Panglima Komando Regional Udara IV Letnan Kolonel Udara I Dewanto. Dia datang dengan membawa misi khusus dari Panglima Mandala, Mayor Jenderal Soeharto.

Komandan Lanud Morotai Mayor Udara Pedet Soedarman diperintahkan untuk menghancurkan kapal milik Angkatan Laut Belanda di Pulau Gag yang terletak di perairan Irian Barat. Keberadaan kapal perang itu dianggap merintangi misi militer RI merebut Irian Barat.

"Kapan To?" tanya Mayor Pedet pada rekannya itu.

"Sesegera mungkin," jawab Letkol Dewanto.

"Kalau begitu sekarang saja ya," tegas Mayor Pedet.

Bukan tanpa alasan perintah itu diberikan pada Mayor Pedet Soedarman. Pengalaman dan keberaniannya sebagai bomber andalan AURI telah terbukti di berbagai palagan tempur.

Pesawat Pengebom

Segera setelah disetujui, persiapan langsung dilakukan. Pesawat Pengebom B-25 nomor 434 dimuati aneka persenjataan dan siap tinggal landas menjalankan misi.

Sebenarnya sebagian kru Angkatan Udara merasa terkejut. Apalagi misi penting dan berbahaya harus dilakukan hari itu juga. Namun tidak ada komentar yang keluar dari mulut mereka. Semuanya siap melaksanakan tugas tempur.

Peristiwa ini dikisahkan dalam Buku Pedet Soedarman, Pengalaman Heroik Penerbang Bomber.
Mitchell B-25 TNI AU (photo : Joe Evans)

Pulau Gag ketika itu masih berada dalam kekuasaan Belanda. Kapal perang milik Belanda dikawal oleh pesawat patroli Neptune yang siap menghancurkan pesawat pengebom AURI. Dari segi kecepatan, Neptune berada di atas angin daripada B-25.

Kapal Belanda Diberondong Peluru Hingga Hancur

Tanggal 24 Maret 1962, pesawat B-25 meninggalkan lapangan udara Morotai. Mereka harus terbang rendah di atas permukaan laut untuk menghindari radar Belanda yang berada di Sorong.

Setelah menyusuri bagian selatan Pulau Gag, Pedet Soedarman melihat targetnya. Kapal perang Belanda itu berada di sebuah teluk dan tersamar pepohonan.

Pedet membawa pesawatnya naik ke ketinggian 1.000 kaki. Siap mengebom kapal perang itu. Namun niat tersebut diurungkan karena dari ketinggian, target tidak terlihat jelas.

Diputuskannya untuk menggunakan delapan pucuk senjata mitraliur 12,7 mm yang merupakan andalan B-25. Pedet membuang bom ke laut untuk membuat bobot pesawat lebih ringan.

Pesawat berputar dan mulai memberondong kapal Belanda tanpa ampun. Tepat sasaran. Cukup banyak peluru dilepaskan hingga kapal Belanda itu terbakar dan asap hitam mulai mengepul.

Belanda berusaha memberikan tembakan balasan, namun berondongan delapan senapan mesin dari moncong B-25 dan empat mitraliur dari sayap pesawat, membuat usaha itu sia-sia.

Dari kokpit pesawatnya, Mayor Pedet bisa melihat pasukan Marinir Belanda yang kocar-kacir akibat serangan tersebut.

Begitu yakin targetnya sudah tak berdaya, Mayor Pedet segera meninggalkan Pulau Gag menuju Lanud Ambon.

Lockheed P-2 Neptune Belanda (photo : Ronaldderoij)

Dikejar Neptune Belanda

Perjalanan pulang mereka tidak mulus. Sebuah pesawat Neptune Belanda ternyata mengejar mereka. Terbang di atas ketinggian 1.000 kaki.

Lockheed P-2 Neptune adalah pesawat buatan Amerika Serikat yang dirancang khusus untuk patroli maritim dan antikapal selam. Seluruh kru AURI tahu pesawat ini sangat berbahaya karena bisa terbang lebih cepat dan dilengkapi senjata kaliber 2 cm.

Suasa tegang terasa di dalam kabin. Pedet memacu pesawatnya hingga kecepatan maksimal 250 mph, sampai terasa bergetar. Dia memerintahkan anak buahnya bersiap menghadapi Neptune itu dengan senapan mesin yang berada di bagian ekor B-25.

Celaka. Baru ditembakan sekali, senjata belakang itu macet dan tidak berfungsi. Neptune terus mengejar dengan kecepatan tinggi. Tak ada pilihan selain menghadapinya langsung.

"Kalau pesawat Neptune kira-kira sudah dekat, saya akan menghadapinya dan menembaknya," kata Pedet kepada kopilot Letnan Muda Udara I Sutarno yang duduk di sampingnya.

Suasana tegang itu tidak berlangsung lama. Awak pesawat di belakang melapor pesawat Neptune tidak melanjutkan pengejarannya. Suasana ceria langsung memenuhi kabin pesawat. Mereka lolos dari pertempuran hidup dan mati.

Di darat, Mayor Pedet mendapat laporan kapal Belanda terbakar, sementara beberapa orang tewas, termasuk dua orang Marinir Belanda.

Operasi pengeboman itu berhasil tanpa korban seorang pun di pihak AURI.

“Eks Kerismas” Babit 23 Kapal Permukaan Capai Sasaran

23 Oktober 2022

Eks Kerismas 2022 (photos : TLDM, Metro)

Ujian kesiapsiagaan Ex Kerismas capai sasaran

Kota Kinabalu: Latihan Eksesais Mega Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) atau Ex Kerismas yang dijalankan selama 21 hari di Pangkalan TLDM Kota Kinabalu dan sekitar Laut China Selatan bermula 3 Oktober lalu berjaya mencapai sasaran.

Panglima Tentera Laut Laksamana Tan Sri Mohd Reza Mohd Sany berkata, eksesais tahunan membabitkan 23 kapal dan 2,073 warga TLDM itu penting bagi menguji tahap kesiagaan serta keupayaan Armada TLDM dalam melaksanakan operasi maritim berintensiti tinggi.

"Latihan ini turut disertai kapal selam, Submarine Rescue Ship, empat helikopter dan dua pesawat Unmanned Aircraft System.

"Ia turut membabitkan elemen Pasukan Khas Laut (Paskal) dan disokong dengan pembabitan tujuh pesawat Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) sekali gus menjadi antara latihan terbesar pernah dilaksanakan TLDM," katanya.


Beliau berkata demikian semasa ditemui selepas penutupan Ex Kerismas di Pangkalan TLDM, di sini, hari ini.

Mohd Reza berkata, kali terakhir eksesais berkenaan dilaksanakan pada 2019 sebelum penularan pandemik Covid-19 mengakibatkan hampir semua aktiviti yang mendukung kepada peningkatan kesiagaan pertahanan terpaksa ditangguhkan.

"Sepertimana pelaksanaan eksesais sebelum ini, Ex Kerismas 27/2022 dibahagikan kepada tiga fasa iaitu fasa pelabuhan, fasa laut dan fasa selesai eksesais.

"Secara keseluruhan, sebanyak 88.7 peratus siri latihan yang dijadualkan berjaya dilaksanakan. Manakala 11 peratus latihan tidak dapat dilaksanakan disebabkan faktor cuaca dan isu kerosakan aset.


"Malah, beberapa siri latihan peperangan maritim empat dimensi juga tidak dapat dilaksanakan pada tahap optimum disebabkan kekangan keupayaan tempur," katanya.

Sementara itu, Mohd Reza berkata, hasil penemuan eksesais berkenaan akan dijadikan sebagai panduan dalam aspek perancangan pembangunan masa hadapan TLDM.

"Walaupun keadaan laut bergelora pada sebahagian tempoh fasa di laut, eksesais ini tetap dilaksanakan demi mencapai objektifnya.


"Tanpa komitmen jitu dan pengorbanan tinggi oleh semua warga TLDM, pasti kejayaan eksesais ini tidak tercapai. Ini menjadi bukti bahawa warga TLDM kekal profesional dalam memainkan peranan tanpa mengira pangkat.

"Kesungguhan dan komitmen warga TLDM harus dijadikan contoh oleh generasi akan datang untuk bersikap positif dan terus iltizam dalam mengoperasikan kapal walaupun berdepan kekangan," katanya.

Menurutnya, pihaknya juga bimbang terhadap kemampuan semasa aset-aset Armada TLDM kerana bukan saja sudah berusia, tetapi bersaiz kecil.


Katanya, seperti skuadron Fast Atack Craft (FAC) yang menjangkau usia lebih 40 tahun dan bersaiz kecil, ia dilihat tidak lagi mampu beroperasi secara efisien di Laut China Selatan.

"Malah, lebih membimbangkan ialah tahap keselamatan aset terlalu berusia ini. Statistik yang terkumpul sepanjang eksesais menunjukkan trend kerosakan secara konsisten dialami oleh kapal yang sudah berusia.

"Inilah cabaran yang perlu didepani, namun TLDM tetap komited untuk terus memastikan kedaulatan Zon Maritim Malaysia (ZMM) kekal selamat dan menggalas tanggungjawab ini sedaya mungkin dengan mengoptimumkan keupayaan aset sedia ada," katanya.

Alternative Supply for Heavy-lift Helicopters from Russia is the US Through the Poland Manufacturer

23 Oktober 2022

PAF Black Hawk helicopter (photo : AUP)

PH's helicopter deal with Russia won't carry through: PBBM

MANILA – The Philippines will not push through with its contract to purchase 16 military heavy-lift helicopters from Russia, President Ferdinand R. Marcos said Thursday.

Marcos made the remark after Russian Ambassador to the Philippines Marat Pavlov urged the Philippines to honor its PHP12.7 billion deal to purchase military helicopters after it was scrapped during the administration of former president Rodrigo Duterte due to fears of possible US sanctions.

“I think it has already been determined. It was already determined by the previous administration that that deal will not carry through, will not go on,” Marcos told reporters in an interview at the Manila Hotel.

He said the Philippines had already sought an “alternative” supply of military helicopters from the US.

“The deal with Russia was for some heavy-lift helicopters and now we have secured an alternative supply from the United States through the manufacturer Poland. In any case, mayroon na tayong kapalit (we now have a replacement),” he said.

In February, the Department of National Defense (DND) signed a PHP32 billion deal to purchase 32 Black Hawk helicopters from Poland-based aerospace manufacturer PZL Mielec.

It was the largest military aircraft acquisition contract signed under the Duterte administration.

“The deal as it stood maybe, at the beginning or in the middle of last year, has already been canceled and we have secured another alternative supply for those helicopters that we need,” the President added.

Meanwhile, Marcos said the government would try to retrieve the PHP1.9 billion down payment the Philippines has made.

“Unfortunately, we made a down payment that we are hoping to negotiate to get at least a percentage of that back,” he said.

Defense officer in charge, Senior Undersecretary Jose Faustino Jr., earlier admitted that the deal "has not been officially canceled" but a contract termination review committee has already been formed to process it.

Faustino said the government is also working to negotiate a refund that was given as advance payment "through diplomatic channels", considering that the project was implemented through government-to-government procurement.

The helicopter purchase agreement with Russia’s Sovtechnoexport was signed in November last year.

Last July, former defense chief Delfin Lorenzana disclosed that he terminated the contract based on the possible impact of several sanctions imposed on Russia due to its war on Ukraine. 

(PNA)