15 Januari 2026

Defend ID Bidik Kontrak Rp132 Triliun di Pasar Asia-Afrika Pada 2026

15 Januari 2026

Tank Harimau Pindad (photo: Pindad)

Bandung (ANTARA) - Holding Industri Pertahanan Defend ID menargetkan perolehan total kontrak senilai Rp132,05 triliun selama 2026 melalui penetapan strategi operasional baru yang menyasar ekspansi pasar di Asia Pasifik hingga Afrika.

Langkah agresif ini diusung dalam peta jalan perusahaan pada 2026, yang diputuskan untuk dijalankan perusahaan, guna memastikan kemandirian industri pertahanan nasional sekaligus memperkuat daya saing, di tengah dinamika ketidakpastian ekonomi global.

Direktur Utama Holding Defend ID Joga Dharma Setiawan dalam keterangan di Bandung, Jawa Barat, Senin, menegaskan bahwa peta jalan menuju 2026 tersebut dirancang tidak hanya untuk bertahan, tetapi untuk bersaing secara kompetitif di tingkat regional dan global.

"Strategi 2026 kami rumuskan ke dalam Corporate Strategic Scenario (CSS) dan diterjemahkan ke dalam tujuh pilar utama, mulai dari penguatan bisnis, inovasi produk dan layanan, hingga transformasi proses bisnis, SDM, dan teknologi informasi sebagai penggerak utama bisnis," ujar Joga yang merupakan Dirut PT LEN tersebut.

Dalam rencana strategis tersebut, perseroan tidak hanya mematok target kontrak jumbo, tetapi juga membidik pendapatan sebesar Rp35,47 triliun serta peningkatan burn rate operasional hingga 26,86 persen.

CN-235 buatan PT DI (photo: PT DI)

Untuk mencapai target tersebut, Defend ID melakukan pembenahan fundamental, salah satunya dengan melakukan streamlining atau perampingan anak usaha.

Langkah ini dinilai krusial untuk menciptakan struktur bisnis yang lebih efisien dan bankable (layak kredit), sehingga kapasitas produksi dan digitalisasi proses bisnis dapat dipercepat.

"Kami juga fokus pada penguatan kapasitas produksi, digitalisasi proses bisnis, serta peningkatan kompetensi SDM agar seluruh lini perusahaan bergerak lebih agile dan produktif," ucap Joga menambahkan.

Lebih lanjut, Joga mengatakan pada 2026 ini Defend ID menitikberatkan pada diversifikasi pasar yang signifikan. Selain memperkuat pasar domestik melalui proyek lintas kementerian, seperti Kementerian Pertahanan, Perhubungan, ESDM, hingga Kominfo, perusahaan kini secara serius melirik potensi pasar internasional yang spesifik.

Joga menjelaskan bahwa pihaknya telah memetakan peluang kontrak pertahanan baru di wilayah yang sedang berkembang pesat kebutuhan pertahanannya.

"Pasar Asia Pasifik dan Afrika menjadi fokus kami, seiring dengan peluang kontrak pertahanan baru dan proyek lintas kementerian," katanya.

LPD buatan PT PAL (photo: PAL)

Namun, manajemen menyadari adanya tantangan eksternal berupa fluktuasi suku bunga dan rantai pasok global. Oleh karena itu, Defend ID menyeimbangkan strategi pertumbuhan agresif ini dengan penguatan fundamental keuangan yang hati-hati.

"Kami menyeimbangkan strategi pertumbuhan dengan penguatan fundamental keuangan. Di sisi lain, tren peningkatan anggaran pertahanan global dan kebutuhan teknologi pertahanan modern menjadi pendorong utama ekspansi pasar ekspor dan penguasaan teknologi kunci," ucap Joga.

Selain sektor pertahanan, holding BUMN ini juga akan menggenjot sektor komersial yang memiliki sinergi dengan kompetensi inti mereka, mencakup energi, transportasi dan sistem elektronik terintegrasi.

Aliansi strategis dengan mitra global juga diposisikan bukan sekadar kerja sama biasa, melainkan sebagai pintu masuk ke rantai pasok global (global supply chain) untuk mendongkrak Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

"Melalui inovasi produk dan layanan, peningkatan kualitas sistem, efisiensi biaya dan kinerja keuangan yang berkelanjutan, kami optimistis dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi pelanggan dan pemegang saham," tutur Joga menambahkan.

13 komentar:

  1. Hartem Aseli
    Hasil Karya Anak Bangsa Kita & Kebab haha!ðŸĨģ😉ðŸĨģ

    kalo si gempi hanyalah temfel stiker & Songlal haha!😂😂😂

    BalasHapus
  2. Utk tank harimau apakah PT.Pindad sudah buat canon sendiri?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau kubah turret mungkin bisa di produksi nanti di Pindad.
      Tapi kalau Canon Larasnya kita belum punya industri pembuatan Laras Canon.
      Padahal kalau kita bisa kuasai efeknya bisa buat Laras tank,meriam.

      Hapus
    2. nyoiihh ntuw soal turet bner om tupz,
      tp soal laras meriam repot drpd meledak mending impor aja dr aprika kualitas material meriam mreka aman haha!👍👍👍
      si rewel aja impor sono

      Hapus
    3. Laras belum bisa bikin? Kalau masa pakai habis, beli laras saja atau sekalian turret baru? Dari semua bagian tank, yg paling cepat habis masa pakainya harusnya rantai dan laras. Kalau sering nembak, laras lebih cepat habis.

      Artileri larasnya lebih tahan lama karena tekanan rendah.

      Hapus
  3. MALONDESH BOTOL DAN MISKIN MANA BISA BUAT GINIAN ðŸĪĢðŸĪĢðŸĪĢðŸĪĢðŸĪĢ

    BalasHapus
  4. bell 412 epx ini buatan Subaru jepang yak
    hebat jugak lobi2 nippon yak, bole jual haha!😎😉😎

    kita perna jugak dapet lisensi bell 412, tp blom bole jual...
    kalo eurokopter Super Puma, kita bisa ekspor..ke tetangga kesayangan kl haha!😋😋😋
    kok bisa gt yak, padahal produksi bell 412 kita lebih banyak, skitar 70 bijik

    berhubung Super Puma masi kita produksi & uda apgred avionik,
    kemhan banyakin aja kelas ini daripada nyari heli laen buat teote..ahh buang waktuw haha!ðŸĪ­ðŸ˜ŽðŸĪ­
    skaligus Super Puma bisa jual eksport..
    tentuw bentuknya kita modif dikitlah,

    Koryo aja modal ubah disain dikit jadi dah Surion haha!😂😂😂

    Lobi ke Erbas ajah sama sperti nc 212 yg diberikan kebebasan modif, lama2 full produksi kita
    Fetedei bisa KAAN modif Super Puma pake Pintuw Rampa alias Ramp Door haha!😉ðŸĪ—😉
    Dijamin lakuuuuu..ayo mana Defend Id cuan nich haha!ðŸĪ‘😎ðŸĪ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. pasti ada yg mikir, kenapa gak ec-725? Tentuw gak bisa
      ✅️ituw produk termasyuk agak baruw
      ✅️masi aktip dipabrikannya
      ✅️paling banter lisensi
      ✅️masi laku mreka jual haha!😎ðŸĪ­ðŸ˜Ž
      tak mungkin dilepas erbas haha!😁😂😁

      Hapus
    2. Nah super puma NAS 332 bisa dikembangin kaya surion Korea.
      Kalau Caracal belum bisa itu masih produk utama jualannya Airbus helikopter.. perakitan akhirnya masih di Perancis.
      Sama mesti di beli A 400 MRTT 4 bijik lagi biar CN 235 full produksi di PT.DI..baru order CN 235 yg banyak.

      Hapus
    3. Kalau mau lanjutin super puma, PT.di harus beli lisensinya ke airbus.
      Karena Airbus sudah tidak memproduksi super puma lagi alias discontinew

      Hapus
    4. antara bangga dan miris om tupz,
      kpop nawarin Surion yg notabene turunan as 332 ke kita om Tupz haha!ðŸĪĢ😝ðŸĪĢ
      lah kita aja uda ekspor heli aselinya ke tetangga kesayangan taon 90an haha!😄😄😄

      negri tirai bambu/rrc aja cuman dikasi lisensi dauphin dikembangin jadi harbin z 9
      https://en.wikipedia.org/wiki/Harbin_Z-9

      yg bikin ironis, di industri terbang kita duluan merintis dapet lisensi Super Puma yg Besar drpd dauphin
      tp skarang fetedei sperti lupa jati diri...kurang fokus & tekun..ape gimana gt haha!ðŸĪŠðŸ˜ĪðŸĪŠ

      Hapus
    5. Mungkin karena bell 412 seri EPX ini heli bell inovasi jepang sendiri makanya bisa jual... karena dia gearbox & transmisinya buatan sendiri.
      Buat airframe/main body yg diperkuat juga..secara nggak langsung heli juga lebih berat tapi dengan gearbox & transmisi buatan sendiri membuat heli tetap lincah.

      Kalau PT.DI masih sebatas supply chain ke bell..buat tail boom/ekor,pintu,tiang pintu,pylon,duct/exhaust knalpot.
      Sama perakitan akhirnya bisa di PT.DI.
      Balik lagi bell 412 seri EPI produk andalan jualannya bell..sama kaya caracal di Airbus helikopter.

      Hapus